Anda di halaman 1dari 9

LOKALITAS DALAM ARSITEKTUR ARS 427

(SEMESTER Gasal)

RANGKUMAN PEMAHAMAN LOKALITAS DALAM ARSITEKTUR BERDASARKAN SUMBER ALTERNATIF

DISUSUN OLEH: RICHOLLUS MPJP KELAS: A DOSEN: Ir. Bachtiar Fauzy , MT 2008420015

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK JURUSAN ARSITEKTUR


BANDUNG DESEMBER 2011

Lokalitas Dalam Arsitektur

Memaknai Lokalitas dalam Arsitektur Lokalitas bukanlah sebuah `gerakan` baru dalam dunia arsitektur kemunculannya menjadi terasa seiring gencarnya gerakan modernitas dalam dunia ini. Lokalitas telah dianggap sebagai senjata yang tepat untuk menahan lajunya ruang-ruang kapitalis yang telah menyusup dalam kehidupan manusia di dunia modern ini. Alexanander Tzonis mengungkapkan bahwa seharusnya Lokalitas bukanlah sebuah Tema Gerakan tetapi lebih kepada conceptual device yang kita pilih sebagai alat untuk melakukan analisis dan sintesis. Lokalitas membantu kita untuk menempatkan identitas sebagai prioritas ketimbang intervensi internasional atau pun dogma yang bersifat universal. Lokalitas dalam hal ini adalah juga sebuah `perbedaan` yang secara spatiality memang terbentuk dari dimana Lokalitas itu tumbuh atau ditumbuhkan. Ini membawa pengertian bahwa ada perbedaan antara Lokalitas yang satu dengan yang lain. Meminjam Lewis Mumford, maka ada lima point dalam kita memandang nilai KeLokalitas-an : 1. Lokalitas bukan hanya terpaku dari kebesaran sejarah, seperti misalnya banyak bangunan bersejarah yang diidentifikasikan sebagai `vernacular brick tradition`. Bagi Mumford bahwa bentuk-bentuk yang digunakan masyarakat sepanjang peradabannya telah membentuk struktur koheren yang melekat dalam kehidupannya. Sebuah kekeliruan ketika mencoba meminjam sejarah dari sebuah tradisi yang langsung ditranfer dalam sebuah ruang yang kosong ruang yang dihasilkan adalah ruang yang tidak memiliki jiwa. Mumford menekannkan bahwa tugas kita tidak hanya membuat imitasi sebuah masa lampau tetapi mencoba mengerti dan memahaminya, lalu mungkin suatu saat kita berhadapan dan menyetujuinya dalam kesamaaan semangat kekreatifan. Tugas kita bukan hanya meminjam material atau meng-copy sebuah contoh kontruksi dari sesuatu satu atau dua abad yang lalu, tetapi seharus mulai mengetahui tentang diri kita, tentang lingkungan untuk mengkreasikan sebuah arsitektur yang bertradisi lokal. 2. Lokalitas adalah tentang bagaimana melihat bahwa seharus sebuah tempat memiliki sentuhan personal, untuk sebuah keindahan yang tidak terduga. Yang terpenting dari semua yang kita lakukan adalah membuat orang-orang merasa seperti dirumah dalam lingkungannya. Lokalitas harus dimunculkan karena memang dibutuhkan sebagai sebuah jawaban terhadap kebutuhan manusia. Ada kebutuhan social ekonomi bahkan politik serta lingkungan dalam jiwa Lokalitas itu sendiri. 3. Lokalitas dalam perkembangannya harus memanfaatkan teknologi yang berkelanjutan, dan ini menjadi penting dalam membangun sebuah tradisi baru. Dalam dunia yang semakin carut-marut ini, sebuah tradisi harus selalu ditempatkan dalam konteks tentang hidup di dunia. Sebuah tradisi adalah tinggal kenangan apabila tradisi itu tidak dapat bernegosiasi dengan mesin-mesin teknologi

yang memang menebarkan candu. Membuat Lokalitas menjadi pintar adalah membuat Lokalitas yang dapat berkelanjutan dalam teknologi yang tepat guna. 4. Lokalitas harus memberikan kegunaan terhadap penggunanya, modifikasi terhadap Lokalitas harus dibuat bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan. Lokalitas setidaknya harus dapat dikaji dalam nilai keteraturannya, kooperatif, kekuatannya, kesensifitasannya, juga terhadap karakter dari komunitas dimana Lokalitas ingin ditempatkan. 5. Global dan Lokalitas bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan tetapi mereka saling melengkapi, Mumford menekankan perlu ada keseimbangan diantara mereka. Keseimbangan dimana Global men-print mesin-mesin kapitalis sedang Lokal memprint komunitas. Lokalitas perlu menempatkan dirinya sebagai sesuatu yang utama dalam nilai keuniversalan. Memaknai Lokalitas artinya memaknai tentang bagaimana kita melakukan pembelajaran tentang sejarah bangunan, material, latar belakang social, isu-isu konservasi, konstruksi bangunan yang pada akhirnya keunikan sebuah Lokalitas dalam arsitektur adalah tentang bagaimana material lokal teknologi dan formasi social dapat ditranfer dalam bahasa arsitektur yang segar. Sumber : milist IAI Arsitektur Sebuah Bagan Kebudayaan Berpangkal pada teori informasi Van Peursen melihat kebudayaan sebagai siasat manusia mnghadapi hari depan, maka dapat berarti juga bahwa kebudayaan merupakan ceritera tentang perubahan-perubahan riwayat manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada. Irama perjalanan kehidupan kita yang makin cepat tentu saja mempengaruhi perubahan tersebut, satu kebudayaan yang dapat menggambarkan perkembangan dari jaman dulu ke hari depan. Dengan melukiskan perkembangan kebudayaan dapat diperoleh keterangan mengapa kebudayaan mempunyai wujud seperti sekarang ini. Koentjaraningrat memberikan batasan tentang wujud kebudayaan sebagai berikut: 1. Wujud kebudayaan sebagai satu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, normanorma, peraturan, dan sebagainya; 2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitet kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat; dan 3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Maka arsitektur dapat diletakkan pada wujud kebudayaan sebagai benda fisik hasil karya manusia. Meskipun sebenarnya kalau kita urutkan arsitektur akan mencakup ketiga wujud kebudayaan tersebut di atas. Pada bagian lain Herman Sorgel (1918), mengimplikasikan konsep pemikiran kebudayaan pada transformasi fisik perencanaan arsitektur, dan mencoba membedakan kebudayaan sebagai berikut: 1. Filosofi (filsafat), dihubungkan dengan jalan pikiran; 2. Kepercayaan, dihubungkan dengan jiwa; dan

3. Seni, dihubungkan dengan perasaan. Arsitektur sebagai salah satu hasil karya budaya, dapat dijadikan petunjuk bagi perkembangan budaya suatu bangsa. Maka kebudayaan menyangkut sekelompok manusia yang memiliki susunan nilai-nilai dan kepercayaan tentang gambaran suatu dunia, yang mewujudkan sesuatu yang ideal. Parmono Atmadi mengatakan, perkembangan arsitektur masa lampau yang tidak ditemukan keterangannya melalui tulisan yang otentik, hanya dapat ditelusuri melalui penelitian. Apakah itu berupa pengaruh kepercayaan, budaya ataupun politik, dan memang kalau kita lihat perkembangan arsitektur pada umumnya tercermin pada bangunan-bangunan peninggalan. Hal ini pun dapat terlihat pada bangunan candi Borobudur (Budha) dan candi Prambanan (Hindu), masing-masing mempunyai ciri atau karakter sendiri. Pada hakekatnya pembagian fungsi sudah dicanangkan waktu itu dan sudah digariskan sejak awal untuk dikagumi oleh pihak yang mengerti, karena arsitektur dan unsurunsurnya selalu berkembang. Berkembang dalam perencanaan dan perancangan demikian juga pada fungsinya, dan akan mencakup bidang sosial-ekonomi, kebudayaan-seni dan kerekayasaan. Sumber : blog.zith.web.id Metafora Sebagai Pendekatan dalam Mencapai Geometri

Seperti yang dinyatakan Karatani, arsitektur dapat dipahami sebagai suatu bentuk komunikasi yang selalu terkait dengan hal-hal lain di luar dirinya. Sebagai suatu bentuk komunikasi, arsitektur sering dikaitkan dengan suatu sistem bahasa. Dengan pemahaman bahwa arsitektur sering sekali dipahami sebagai suatu sistem bahasa yang menyampaikan makna tertentu, maka metafora juga menjadi suatu hal yang sering dipakai sebagai pendekatan mendisain arsitektur, terutama dalam proses menemukan bentuk geometrinya. Pendekatan metafora dalam mendisain biasanya dilakukan dengan analogi. Dalam mencari bentuk arsitektur ketika merancang, tidak jarang kita akan menggunakan analogi dari sebuah benda untuk diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk arsitektur. Dengan melakukan ini, kita seolah memindahkan karakter pada benda yang sebelumnya ke dalam arsitektur, sehingga bentuk arsitektur yang muncul adalah penggambaran dari karakteristik tersebut. Metode ini dilakukan dengan mengambil suatu makna tertentu yang akan dibawa oleh suatu bentuk arsitektur. Seringkali kemudian, bentuk arsitektural yang muncul melambangkan makna yang dikenakan padanya tersebut. Sumber : geometryarchitecture.wordpress.com

Memahami Metafora (dalam) Arsitektur Metafora dalam arsitektur dapat kita nikmati melalui sebuah proses pemikiran yang arsitektural. Metafora dalam arsitektur dibangun melalui perwujudan konsep desain. Melalui pengejewantahan desain, konsep tersebut dipindahkan ke dalam ruang tiga dimensi. Tekstur, bentuk dan warna dirancang untuk menghasilkan kualitas visual ruang yang unik, meliputi lantai, dinding, atap dan sebagainya. Ruang-ruang unik inilah yang kemudian membawa makna-makna khusus sebagai ekspresi metaforik. Menurut Anthony C. Antoniades, 1990 dalam Poethic of Architecture Suatu cara memahami suatu hal, seolah hal tersebut sebagai suatu hal yang lain sehingga dapat mempelajari pemahaman yang lebih baik dari suatu topik dalam pembahasan. Dengan kata lain menerangkan suatu subyek dengan subyek lain, mencoba untuk melihat suatu subyek sebagai suatu yang lain. Ada tiga kategori dari metafora: 1. Intangible Metaphor (metafora yang tidak diraba) yang termasuk dalam kategori ini misalnya suatu konsep, sebuah ide, kondisi manusia atau kualitas-kualitas khusus (individual, naturalistis, komunitas, tradisi dan budaya) 2. Tangible Metaphors (metafora yang dapat diraba) Dapat dirasakan dari suatu karakter visual atau material 3. Combined Metaphors (penggabungan antara keduanya) Dimana secara konsep dan visual saling mengisi sebagai unsur-unsur awal dan visualisasi sebagai pernyataan untuk mendapatkan kebaikan kualitas dan dasar. Sumber : www.girinarasoma.com Sumber : calonarsitek.wordpress.com Langgam Arsitektur Langgam Arsitektur adalah bagian dari budaya sedangkan budaya adalah hasil karya dari manusia. langgam itu bahasa indonesia dari kata 'style', atau kata 'gaya' kadang bertabrakan arti dengan 'force', contoh 'gaya berat' dll. Sejak post modern, para arsitek banyak memperdebatkan tentang langgam ini yang berarti hal yang terkait dengan suatu ciri, bisa berupa budaya, tokoh, peristiwa sejarah, dan lain-lain. sebuah karya arsitektur bisa berlanggam eropa, cina maupun nusantara. bisa berlanggam 'le corbusier' yang disebut dengan 'corbusian', bisa berlanggam 'era kemerdekaan indonesia', dan seterusnya. 1. Langgam Klasik Langgam Arsitektur klasik adalah gaya bangunan dan teknik mendesain yang mengacu pada zaman klasik Yunani atau Romawi, seperti yang digunakan di Yunani kuno pada periode Helenistik dan Kekaisaran Romawi. Dalam sejarah arsitektur, Arsitektur Klasik ini juga nantinya terdiri dari gaya yang lebih modern dari turunan gaya yang berasal dari Yunani. Saat orang berpikir tentang arsitektur klasik, umumnya mereka berpikir sebuah bangunan yang terbuat dari kayu, batu, dll. Dalam beberapa kasus hal tersebut benar, namun

arsitektur klasik juga banyak memiliki nafas modern dan desain gedung yang rumit. Misalnya, atap, tiang, bahkan struktur batu atau marmer dibuat dengan detail sempurna. Langgam Arsitektur Klasik muncul bersamaan dengan dimulainya peradaban tulisan secara formal. Belum ditemukan secara spesifik kapan era ini dimulai maupun berakhir. Namun, jenis langgam ini banyak dijumpai di benua Eropa. Dalam beberapa alasan, jenis arsitektur dan dibangun dengan tiga tujuan: sebagai tempat berlindung (fungsi rumah tinggal, sebagai wadah penyembahan Tuhan (fungsi rumah peribadatan) dan tempat berkumpul (balai kota, dsb). Untuk alasan kedua dan ketiga inilah bangunan ini dibuat sedetail mungkin dan seindah mungkin dengan memberi ornamen-ornamen hiasan yang rumit. Bentuk-bentuk arsitektur klasik masih eksis hingga saat ini dan diadopsi dalam bangunan-bangunan modern. Pilar-pilar besar, bentuk lengkung di atas pintu, atap kubah, dsb adalah sebagian ciri Arsitektur Klasik. Ornamen-ornamen ukiran yang rumit dan detail juga kerap menghiasi gedung-gedung yang dibangun di masa sekarang. 2. Langgam Arsitektur Modern (Cubism, de stijl, Bauhauss, dan International Style). Arsitektur modern merupakan Internasional Style yang menganut Form Follows Function (bentuk mengikuti fungsi). Bentukan platonic solid yang serba kotak, tak berdekorasi, perulangan yang monoton, merupakan ciri arsitektur modern. Arsitektur modern mempunyai pandangan bahwa arsitektur adalah olah pikir dan bukan olah rasa (tahun 1750), dan permainan ruang dan bukan bentuk. Ciri ciri dari arsitektur modern adalah : Satu gaya Internasional atau tanpa gaya (seragam) Merupakan suatu arsitektur yang dapat menembus budaya dan geografis. Berupa khayalan, idealis Bentuk tertentu, fungsiona Bentuk mengikuti fungsi, sehingga bentuk menjadi monoton karena tidak diolah. Less is more Semakin sederhana merupakan suatu nilai tambah terhadap arsitektur tersebut. Ornamen adalah suatu kejahatan sehingga perlu ditolak. Penambahan ornamen dianggap suatu hal yang tidak efisien. Karena dianggap tidak memiliki fungsi, hal ini disebabkan karena dibutuhkan kecepatan dalam membangun setelah berakhirnya perang dunia II. Singular (tunggal) Arsitektur modern tidak memiliki suatu ciri individu dari arsitek, sehingga tidak dapat dibedakan antara arsitek yang satu dengan yang lainnya (seragam). Nihilism Penekanan perancangan pada space, maka desain menjadi polos, simple, bidangbidang kaca lebar. Tidak ada apaapanya kecuali geometri dan bahan.

3. Langgam Post Modern Ciri ciri umum Arsitektur post modern : Untuk lebih memperjelas pengertian arsitektur post modern, Charles Jencks memberikan daftar ciriciri sebagai berikut : Ideological Suatu konsep bersistem yang menjadi asas pendapat untuk memberikan arah dan tujuan. Jadi dalam pembahasan Arsitektur post modern, ideological adalah konsep yang memberikan arah agar pemahaman arsitektur post modern bisa lebih terarah dan sistematis. Stylitic (ragam) Gaya adalah suatu ragam (cara, rupa, bentuk, dan sebagainya) yang khusus. Pengertian gaya gaya dalam arsitektur post modern adalah suatu pemahaman bentuk, cara, rupa dan sebagainya yang khusus mengenai arsitektur post modern: Design Ideas (Ide-Ide Desain) Ide-ide desain adalah suatu gagasan perancangan. Pengertian ide-ide desain dalam Arsitektur Post Modern yaitu suatu gagasan perancangan yang mendasari Arsitektur Post Modern. Contextual Urbanism and Rehabilitation Kebutuhan akan suatu fasilitas yang berkaitan dengan suatu lingkungan urban.

4. Langgam Purna Modern Purna Modern merupakan pengindonesiaan dari sebutan post-modern versi Charles Jencks. Ditandai dengan munculnya ornamen, dekorasi dan unsur-unsur kuno (dari Pra Modern) tetapi dengan melakukan transformasi atas yang kuno. Menyertakan warna dan tekstur menjadi eleman arsitektur yang penting yang ikut diproses dengan bentuk dan ruang. Tokohnya antara lain Robert Venturi, Michael Graves, Terry Farrell. Langgam Arsitektur purna modern ini yang lebih di tonjolkan dalam fungsinya adalah fungsifungsi metaforit (simbolik) dan historical. Arsitektur purna modern dimana bentuk-bentuk tersebut menempati posisi yang lebih dominan dari pada ruang. Arsitektur purna modern memiliki kepedulian yang besar kepada masa silam (The Past). 5. Dekonstruksi Arsitektur Dekonstruksi tidak mengikatkan diri ke dalam salah satu dimensi Waktu (Timelessness). Pandangan seperti ini mengakibatkan timbulnya pandangan terhadap Dekonstruksi yang berbunyi Ini merupakan kesombongan dekonstruksi. Dekonstruksi tidak ada yang dominan, tidak ada yang tidak dominan, bentuk dan ruang memiliki kekuatan yang sama.

Dekonstruksi yang dikomunikasikan adalah : unsur-unsur yang paling mendasar, esensial, substansial yang dimiliki oleh arsitektur. Kemampuan maksimal untuk berarsitektur dari elemen-elemen yang essensial maupun substansial. Dekonstruksi menunjuk pada kejujuran yang sejujur-jujurnya. Sumber : mbenkroom.blogspot.com

Akulturasi Dalam Arsitektur Akulturasi adalah fenomena yang timbul sebagai hasil jika kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu dan mengadakan kontak secara langsung dan terus-menerus; yang kemudian menimbulkan perubahan dalam pola kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau kedua-duanya Dari definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa akulturasi sama dengan kontak budaya yaitu bertemunya dua kebudayaan yang berbeda melebur menjadi satu menghasilkan kebudayaan baru tetapi tidak menghilangkan kepribadian/sifat kebudayaan aslinya. Sumber : 3gplus.wordpress.com

Studi Akulturasi Budaya Cina, Arab Dan Melayu Pada Arsitektur Vernakular Di Kota Cirebon Bangunan hunian manusia (dwelling) adalah perwujudan dari budaya material yang dimaknai oleh manusia penggunanya. Berangkat dari kebutuhan atau fungsi, elemen-elemen yang terwujud pada bangunan memiliki makna sebagai cerminan keadaan manusia penghuninya. Bangunan rumah toko Pecinan dalam hal ini merupakan perwujudan kebutuhan terhadap shelter dari para imigran Cina yang datang ke daerah-daerah di Pulau Jawa. Para imigran Cina tersebut datang dengan karakteristik kebutuhannya tersendiri yang dilatarbelakangi oleh budaya Cina dan dimotivasi oleh kebutuhan ekonomi yaitu berdagang. Oleh karena itu lahirlah wujud rumah toko pecinan, yang berbeda dari hunian masyarakat dari latarbelakang budaya lainnya di Indonesia Kawasan Pecinan atau sering disebut juga Chinatown banyak ditemukan di kota-kota Pulau Jawa, demikian juga di kota Cirebon. Pecinan merupakan kawasan yang awalnya didirikan oleh orang-orang dari daratan Cina yang datang ke Pulau Jawa untuk berdagang pada abad ke-14, yang berarti bangsa tersebut telah hadir sebelum kedatangan VOC di Indonesia. Kawasan Pecinan yang sedianya digunakan untuk tempat persinggahan sementara kapal berlabuh di pantai, digunakan pula untuk berdagang dan kemudian berkembang menjadi daerah yang penting bagi perputaran roda ekonomi daerah setempat. Pecinan biasanya ditandai dengan adanya klenteng, sekelompok bangunan persegi yang cukup padat, digunakan untuk hunian sekaligus berdagang yang terletak pada ruas jalan tegak lurus garis pantai. Lazimnya, daerah Pecinan berada di sebelah barat kota, atau pada posisi-posisi

strategis dalam kota. Pertumbuhan kawasan pecinan selanjutnya tidak hanya ditemukan pada kota-kota pada garis pantai Pulau Jawa saja, tetapi juga pada daerah Pulau Jawa yang lebih dalam, biasanya lokasi yang dipilih adalah dekat dengan sungai. Pada saat VOC berkuasa, bangsa Cina dibatasi geraknya guna mengurangi saingan dalam perdagangan. Mereka harus bermukim pada daerah Pecinan, tidak boleh diluarnya, dan bila ingin bepergian keluar dari daerahnya, mereka harus meminta ijin (pass permit) sehingga menyulitkan untuk berkomunikasi dan berdagang. Namun disisi lain, aturan VOC ini membentuk karakteristik khusus pada Pecinan menjadi semakin solid, yang barangkali membedakannya dengan kawasan Pecinan di pulau lainnya. Kawasan Pecinan pada masa VOC juga seringkali dijadikan sebagai buffer area antara area orang Eropa dengan penduduk pribumi. Pada perkembangan selanjutnya, penghuni kawasan Pecinan yang hidupnya sudah lebih makmur memilih untuk bertempat tinggal di luar Pecinan, namun tetap menggunakannya sebagai tempat usaha. Sampai saat ini kawasan pecinan di Cirebon masih terus digunakan dan cukup besar perannya dalam sistem perekonomian kota. Kota Cirebon sendiri dalam perkembangan sejarahnya diwarnai oleh pengaruh berbagai bangsa, dan kebudayaan yang dibawa serta oleh berbagai bangsa tersebut bercampur satu sama lain membentuk corak kebudayaan masyarakat Cirebon sehingga menjadi seperti saat ini. Dengan segala fungsi kawasan Pecinan dan menilik sejarah perkembangan keadaan sosial politik yang terjadi pada kota Cirebon, amatlah menarik untuk mengetahui keterkaitan wujud bangunan rumah toko di kawasan Pecinan Cirebon. Hal yang menarik adalah pada bangunan rumah toko di Pecinan adalah pada perubahan-perubahan wujud yang terjadi sesuai dengan keadaan penghuni, yaitu masyarakat keturunan Tionghoa, dalam pemenuhan kebutuhan dengan fungsi hunian dan berdagang. Dalam pemenuhan kebutuhan hunian dan dagang tersebut, terciptalah rumah toko yang wujudnya khas, akibat adanya penyesuaian dan proses adaptasi dengan lingkungan dan masyarakat Cirebon. Sumber : komunitasweg.wordpress.com

Kesimpulan Lokalitas merupakan kajian sebap akibat suatu pola aktivitas manusia yang senantiasa berubah dan membudaya dari waktu ketahun. Sebagai mana ditekankan bahwa arsitektur merupakan media rekaman sejarah perkembangan peradaban manusia, demikian pula budaya berarsitektur kang senantiasa menggambarkan berbagai aspek yang terkait dengan pola budaya penggunanya Bukan hanya berbicara mengenai ilustrasi tradisi, namun juga mengenai aspek asing yang memprakarsai, baik fisik, non fisik, alam, maupun pisikologi, bahkan memungkinkan interaksi antar sesama pengguna maupun hasil adaptasi pengguna asing yang menyesuaikan diri dengan budaya setempat. Tepatnya, lokalitas merupakan bukti bagaimana manusia mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Richollus MPJP - 2008420015