Anda di halaman 1dari 60

66

BAB IV
KOPLING

28. Umum. Kopling adalah suatu elemen mesin yang berfungsi
sebagai penerus putaran dan daya dari poros penggerak ke poros
yang digerakkan,di mana sumbu kedua poros tersebut terletak pada
satu garis lurus atau dapat sedikit berbeda sumbunya. Dalam
permesinan kopling dibedakan menjadi 2(dua) jenis, yaitu kopling
tetap dan kopling tidak tetap.

29. Kopling tetap. Kopling tetap adalah suatu elemen
mesin yang berfungsi sebagai penerus putaran dan daya dari poros
penggerak ke poros yang digerakkan secara pasti (tanpa. terjadi
slip), di mana sumbu kedua poros tersebut terletak pada satu garis
lurus atau dapat sedikit berbeda sumbunya. Hal-hal penting dalam
perencanaan kopling tetap. Dalam merencanakan suatu kopling
tetap, hal-hal berikut ini menjadi pertimbangan.
a. Pemasangan yang mudah dan cepat.
b. Ringkas dan ringan.
c. Aman pada putaran tinggi; getaran dan tumbukan kecil.
d. Tidak ada atau sesedikit mungkin bagian yang
menjorok (menonjol).
e. Dapat mencegah pembebanan lebih.
67

f. Terdapat sedikit kemungkinan gerakan aksial pada
poros sekiranya terjadi pemuaian karena panas, dll.
Ada berbagai macam dan type dari kopling tetap diantaranya:
a. Kopling Kaku. Kopling kaku dipergunakan bila kedua
poros segaris. Kopling ini dipakai pada poros mesin dan
transmisi umum. Kopling flens kaku terdiri atas naf dengan
flens yang terbuat dari besi cor atau baja cor, dan dipasang
pada ujung poros, diberi pasak serta diikat dengan baut pada
flensnya. Naf dipasang pada poros dengan sambungan pres
atau kerut. Pada waktu pemasangan, sumbu kedua poros
harus segaris dengan tepat sebelum baut-baut flens
dikeraskan. Tata cara perencanaan disusun sebagai diagram
aliran perencanaan dan bisa diubah-ubah lebih sederhana atau
secara lebih terperinci. Pertama perlu diketahui besarnya daya
dan putaran yang akan diteruskan poros penggerak. Periksa
sifat dari daya yang akan diteruskan, tetukan faktor koreksi dan
daya rencana, dan hitunglah momen rencana. Bila bahan poros
ditentukan, maka kekuatannya dapat diketahui dengan jelas.
Tetapi jika bahan tersebut ditentukan sebagai baja liat, maka
ambillah harga kadar karbon terendah sebesar 0,2 (%) dari
kadar yang dimungkinkan antara 0,2 dan 0,3 (%), lalu kalikan
dengan 100 dan tambahkan 20 pada hasil perkalian untuk
memperoleh harga kekuatan tarik
B
o dari bahan yang
68

bersangkutan. Selanjutnya pilih Sf
1
sebesar 6 atau 5,6, dan
tentukan Sf
2
dengan memperhatikan apakah ada alur pasak
atau tangga pada poros, untuk memperoleh tegangan geser
yang diizinkan
ba
t (kg/mm
2
). Kemudian tentukan faktor koreksi
K. Jika tidak akan ada elemen yang dipasang pada poros yang
dapat memberikan momen lentur, maka faktor koreksi lenturan
C
b
= 1, dan jika ada kemungkinan mengganti kopling dengan
sabuk-V atau alat transmisi lain yang menimbulkan lenturan
maka harga C
b
diambil antara 1,2 hingga 2,3. Diameter poros
d
s
(mm) selanjutnya dapat diambil dari harga-harga dalam
Tabel tentang diameter poros.





69


Diagram alir untuk memilih kopling tetap jenis flens
70




Gambar 4-1. Macam-macam kopling tetap
71

.


Jika kopling akan dipasang pada poros dengan menggunakan
pasak, tentukan diameter luar kopling sehingga harga diameter
poros yang diperoleh dari perhitungan terletak antara harga diameter

Tabel 4-1. Ukuran kopling flens ( JIS BV 1451-1926)


72

lubang maksimum dan minimum dari Tabel tentang ukuran kopling.
Selanjutnya hanya perlu dilakukan pemeriksaan pada diameter baut
serta jumlahnya, dan tebal flens. Bahan kopling dari standar yang
ada mencakup SS41B untuk baut dan mur, FC20, SC42, SF45, dsb.
untuk flens, cill. Dalam hal ini telah diambil faktor keamanan yang
cukup besar sehingga akan lulus dari hampir semua pemeriksaan.
Namun demikian jika temyata masih kurang kuat, dapat diambil
bahan baut yang mempunyai kadar karbon yang lebih tinggi, atau
ambil bahan lain untuk flensnya. Untuk dapat menyetel lurus kedua
sumbu poros secara mudah, permukaan flens yang satu dapat
dibubut ke dalam dan permukaan flens yang menjadi pasangannya
dibubut menonjol sehingga dapat saling mengepas. Bagian yang
perlu diperiksa adalah baut. Jika ikatan antara kedua flens dilakukan
dengan baut-baut pas, di mana lubang-lubangnya dirim, maka
meskipun diusahakan ketelitian yang tinggi, distribusi tegangan
geser pada semua baut tetap tidak dapat dijamin seragam. Makin
banyak jumlah baut yang dipakai, makin sulit untuk menjamin
keseragaman tersebut.





73



Dalam perhitungan dianggap bahwa hanya 50 (%) saja dari seluruh
baut yang berjumlah n buah menerima seluruh beban secara merata.
Jika jumlah baut efektif jang menanggung beban dinyatakan dengan
n
e
maka, dengan besarnya tegangan geser pada baut dapat dihitung
sbb.
) . (
2 4
2
mm kg
B
n d T
e b b
t
t
=
Tabel 4-2. Bahan untuk flens dan baut kopling tetap

74

) . (
8
2
mm kg
B n d
T
e b
b
t
= t
ba b
t s t

ba
t adalah suatu harga yang diperoleh dari membagi kekuatan tarik
41 (kg/mm
2
) dari bahan SS41 dengan faktor keamanan Sf
b
= 6.
Bagian yang mengalami konsentrasi tegangan seperti bagian ulir
harus dijauhkan dari permukaan kontak dari kopling. Maka
ba
t harus
dikalikan dengan faktor K
b
yang dipilih antara 1,5 dan 3. Bagian
yang keropok peka terhadap tumbukan, maka faktor koreksi K
F

harus diambil sebesar 2 atau 3 dan dikalikan pada
F
t . Perhitungan
perencanaannya sebagai berikut:
2
C
CF T
F
t t = maka
F C
T
F
2
2
t
= t
Fa F
t s t
Jika baut pas dipakai, gesekan atara kedua flens dapat meneruskan
momen tetapi diabaikan. Ada juga flens yang ditempa menjadi satu
dengan poros pada ujung poros dan disebut poros flens tempa.
Keuntungannya diameter flens dapat dibuat kecil karena tidak me-
merlukan naf. Ujung poros mesin yang digerakkan seringkali lebih
pendek dari panjang naf kopling standar. Dengan demikian ukuran
kopling standar harus dirubah. Disini perlu diperhatikan bahwa pasak
juga akan menjadi lebih pendek. Didalam JIS B1451, diameter luar
maksimum kopling standar adalah 355 (mm). Diameter poros
75

terbesar adalah 100 (mm). Jika suatu poros harus dibuat lebih besar
dari yang diperlukan, maka kopling perlu direncanakan tersendiri.
Untuk melakukan perencanaan tersebut, pengetahuan dasar dan
tata cara standar seperti yang diuraikan di atas tetap dapat dipergu-
nakan.
Contoh .
Pilihlah suatu kopling flens kaku yang dihubungkan dengan poros
baja liat dengan sebuah pasak untuk meneruskan daya sebesar 65
(PS) pada 180 (rpm), dan periksalah kekuatan baut dan flens.
76


b. Kopling karet ban. Mesin dihubungkan dengan peng-
geraknya melalui kopling kaku dan kedua sumbu poros yang
saling dihubungkan dapat menjadi satu garis lurus. Selain itu,

77

getaran dan tumbukan yang terjadi dalam penerusan daya
antara penggerak dan yang digerakkan tidak dapat diredam,
sehingga dapat memperpendek umur mesin serta menimbulkan
bunyi berisik. Untuk menghindari kesulitan di atas dapat
dipergunakan kopling karet ban. Kopling ini dapat bekerja
dengan baik meskipun kedua sumbu poros yang dihubung-
kannya tidak benar-benar lurus. Selain itu kopling ini juga dapat
meredam tumbukan dan getaran yang terjadi pada transmisi.
Meskipun terjadi kesalahan pada pemasangan poros, dalam
batas-batas tertentu seperti terlihat pada gambar 4.2.
Pemasangan dan pelepasan juga dapat dilakukan dengan
mudah karena hubungan dilakukan dengan jepitan baut pada
ban karetnva. Variasi beban dapat pula diserap oleh ban karet,
sedangkan hubungan listrik antara kedua poros dapat dicegah.

Karena keuntungannya dernikian banyak, pemakaian kopling
ini sernakin luas. Meskipun harganya lebih tinggi dibandingkan
dengan kopling flens kaku, namun keuntungan yang diperoleh
Gambar 4.3. Daerah kesalahan yang diperbolehkan pada kopling karet ban
78

dari segi lain lebih besar. Beberapa produsen kopling ini
menyediakan ukuran-ukuran standar. Untuk merencanakan
atau melakukan pemilihan, perlu diketahui besarnya daya yang
akan diteruskan, putaran poros, mesin yang dipakai,
persyaratan kerja, dll., seperti pada perencanaan kopling flens.
Setelah tipe yang sesuai dipilih, kemudian diperiksa kekuatan
bagian-bagiannya serta bahan yang dipakai. Ada beberapa hal
penting yang harus diperhatikan seperti pada kopling flens
kaku. Salah satunya adalah taksiran variasi momen puntir,
sebagai tambahan atas momen Yang dihitung dari daya dan
putaran poros. Misalkan momen puntir yang diteruskan
bervariasi. Garis putus-putus menyatakan momen puntir T
m

(kg.mm) Yang dihitung dari daya nominal P (kW) dan ptitaran n
1

(rpm) darl suatu motor listrik. Motor tersebut mampu
memberikan daya tambahan yang cukup besar sesuai dengan
permintaan di atas daya rata-rata yang sesungguhnya.

Gambar 4.4. Susunan kopling karet
ban
Gambar 4.4. Variasi momen puntir
79



Bila terdapat variasi momen, kalikan harga T
m
dengan faktor koreksi
f
c
untuk tumbukan dan umur ban. Bila variasi momen sangat besar
kalikan harga (kg-mm) yang terbesar dalam satu putaran dengan
faktor koreksl yang sama f
c.

Pilih hingga momen T
d
(kg-mm) lebih rendah dari momen normal
maksimum dari kopling standar T
u
(kg - mm). Perlu juga diperiksa
apakah momen awal yang dikenakan beberapa kali dalam sehari
juga lebih rendah dari harga T
d
ini.
Untuk perhitungan diameter poros, faktor koreksi K
t
poros sudah
tercakup di dalam T
d
. Faktor koreksi lenturan C
b
ditentukan atas
dasar perkiraan apakah kopling tersebut di masa mendatang akan
diganti dengan alat lain yang menimbulkan momen lentur pada
poros. Biasanya perhitungan didasarkan atas harga C
b
= 1, yaitu
dengan anggapan tidak akan ada penggantian kopling dengan alat
lain. Dengan demikian rumus untuk diameter poros adalah

Diameter poros dari motor induksi yang tertutup dan didinginkan
dengan kipas. Selanjutnya, perhitungan kekuatan geser dari bagian
80

permukaan ban yang menempel pada logam pemasang. Bagian
yang menempel dapat dibagi atas bagian piringan dan bagian
silinder. Luas tempelan S
1
dan S
2
(mm
2
) untuk ukuran-ukuran yang
bersangkutan.




Tabel 4.3. Faktor koreksi f
c

81



Jika diameter luar dari bagian piringan dan silinder adalah d
1
dan d
2

(mm), maka tegangan geser
t
t (kg/mm
2
) yang timbul pada bagian
yang menempel:

Tabel 4.4. Diameter poros motor induksi tiga fasa (tertutup seluruhnya,
didinginkan dengan kipas.

Gambar 4.5. Lambang-lambang pada
kopling karet ban

82

Tegangan geser
ta
t antara ban kopling dan logam pemasangan
adalah 0,04 (kg/mm
2
).




Jika pada kopling karet ban, karena flens dilkat dengan baut tanam,
maka momen yang diteruskan dapat dianggap terbagi rata pada
sernua baut. Dengan pemakaian baut tanam ini, tegangan geser
terjadi pada ulir baut sehingga konsentrasi tegangan sebesar 3,0.
Maka besarnya tegangan geser yang diizinkan pada baut adalah:

Jika diameter inti dibaut adalah d
r
, maka

Tabel 4.5. Ukuran-ukuran dasar dan kapasitas kopling karet ban.
83

Jika jumlah puncak momen tiap putaran adalab v, dan putaran poros
adalah n
1
(rpm), maka frekwensi variasi momen puntir adalah vn
1

besarnya frekwensi adalah 2n
1
. Momen inersia poros yang
digerakkan dinyatakan dengan I
l
(kg . cm-s
2
). Jika GD
l
2
(kg-m
2
)
diberikan, maka I
l
= 10
4
x GD
l
2
(4 x 980). Ini adalah jumlah momen
inersia beban dan 1/2 dari momen inersia kopling. Momen inersia
dari satu flens dapat diperoleh dari Tabel yang besarnya adalah se-
tengah dari selisih antara momen inersia logam pernasang dan
momen inersia badan kopling. Momen inersia dari motor induksi
dapat diperoleh dari GD
m
2
dari Tabel.
Dan dari 10
4
x GD
m
2
/(4 x 980 ) dan dari momen inersia kopling
adalah I
m.





Tabel 4.6 Momen inersia Kopling kaet ban

84




Jika roda. gigi reduksi dipakai antara motor dan kopling, maka GD
2

dari motor dan pinyon harus dikalikan dengan kuadrat dari
perbandingan reduksi i (i > 1). Hasil perkalian tersebut setelah
ditambah dengan GD
2
dari roda gigi dan dikalikan dengan (10
4
/4 x
980). Jika konstanta pegas kopling ban adalah k (kg-cm/ rad), maka
harga ukuran seperti yang tertera dalam tabel. Dengan sistim poros
seperti dalam gambar dibawah, putaran kritisnya n
c
(rpm) adalah:

Adalah suatu hal yang dapat dipandang baik jika frekwensi variasi
momen puntir vn1 tidak lebih dari 0,8 n
c.




Tabel 4.7 GD
2
m
dari motor nduksi tiga fasa (tertutup seluruhnya,
didinginkan dengan kipas) (kg/mm
2
)
Momen inersia Kopling kaet ban

85

Contoh.
Sebuah kompresor menimbulkan variasi momen puntir dalam satu
putaran poros, digerakkan oleh sebuah motor induksi sebesar 5,5
(kW) pada 960 (rpm). Pilihlah kopling karet ban untuk menghubung-
kan kedua mesin tersebut. Motor tersebut mempunyai poros
berdiameter 42 (mm), GD
2
sebesar 0,22 (kgm
2
), dan 6 buah kutup,
sedangkan kompresor mempunyai GD
2
0,12 (kg-m
2
). Ukuran kopling
dsb. terdapat dalam tabel .












Gambar 4.6. Pendekatan suatu
sistem poros.
Gambar 4.7. Variasi momen puntir dari
contoh diatas.
86



Diagram alir untuk memilih kopling tetap jenis karet ban
87

88



c. Kopling fluida. Bila suatu impeler pompa dan suatu
raner turbin dipasang saling berhadapan, di mana keduanya
berada di dalam ruangan yang berisi minyak, maka jika poros
input yang dihubungkan dengan impeler pompa diputar, minyak
yang mengalir dari impeler tersebut akan menggerakkan raner
turbin yang dihubungkan dengan poros output. Momen puntir
yang diteruskan adalah berbanding lurus dengan pangkat lima
dari diameter luar kopling dan kuadrat dari putaran. Dalam
keadaan bekerja normal, putaran poros output adalah lebih
rendah dari pada putaran poros input.
89


besarnya slip antara 2 - 5 (%) dari putaran poros input. Dalam
keadaan slip sebesar ini efisiensi kopling mencapai harga
maksimumnya. Cocok untuk mentransmisikan putaran tinggi dan
daya besar. Keuntungan dari kopling ini adalah getaran dari sisi
penggerak dan tumbukan dari sisi beban tidak saling diteruskan.
Demikian pula pada waktu terjadi pembebanan lebih, penggerak
mulanya tidak akan terkena momen yang melebihi batas
kemampuan. Umur mesin dan peralatan yang dihubungkannya
akan menjadi lebih panjang, diameter poros lebih kecil, start
lebih mudah dan percepatan dapat berlangsung dengan halus,
karena kopling dapat diatur sedemikian rupa hingga penggerak
mula diputar dahulu sampai mencapai momen maksimumnya
dan setelah itu momen diteruskan kepada poros yang
digerakkan. Distribusi beban merata di antara mesin-mesin
penggerak mula dapat diperoleh dengan mudah. Banyak dipakai
Gambar 4.8. Bagan kopling
fluida.

90

sebagai penerus daya pada alat-alat besar, lokomotip, dsb., baik
yang cligerakkan oleh motor listrik maupun oleh motor bakar.
Jika gaya tahanan pada sabuk yang menarik adalah F (kg),
diameter puli adalah D (m), dan kecepatan konveyor adalah V
(m/min), maka momen puntir tahanan T (kg.m) adalah :

Putaran n
p
(rpm) dari puli penggerak adalah :

Dengan efisiensi mekanis sebesar , daya rata rata yang
diperlukan adalah

Pilihlah untuk sementara daya P
MA
(kW) dan jurnlah kutup (p) dari
suatu motor standar yang lebih besar dari daya di atas, dan carilah
GD
2
motor tersebut dari tabel. Bagilah bagian-bagian bergerak
yang akan dipercepat dari 0 hingga mencapai kecepatan V pada
waktu start, bagian yang bergerak lurus dan berputar. Tentukan
harga GD
2
(kg.m
2
) dari masing-masing bagian dalam bentuk momen
inersia sudut untuk menghitung jumlah harga GD
2
pada poros puli.
Harga tersebut kemudian dibagi dengan 4 x 9,8 untuk mendapatkan
momen inersia ekivalen I
e
(kg.m.s
2
) dari sistem.

91



Diagram alir untuk memilih kopling fluida.
92

Jika kecepatan sudut = 2tn
1
/60 (rad/s) dicapai dalam
jangka waktu percepatan t
ae
(s), maka besarnya percepatan sudut
(rad/sl) adalah

Jika momen percepatan adalah T
a
(kg.m) maka

Keadaan pembebanan maksimum, momen puntir diperlukan untuk
start adalah

Jika output nominal motor adalah P
M
(kW) pada n
1
(rpm), maka
besarnya mo men pada beban penuh T
F
(kg.m) adalah :

Jika jumlah start dalam sehari hanya beberapa kali saja maka daya
yang diperlukan adalah :

di mana T (kg.m) momen diperlukan, n
1
(rpm) adalah putaran, dan
adalah efisiensi mekanis. Untuk ini harus dipilih motor dengan output
nominal P
m
(kW) yang lebih besar dari P di atas.
93

Jika motor sering distart, maka T
d
adalah lebih besar dari pada T.
Dengan menganggap T
d
(1,25 -1,5) T
F
> T maka daya motor yang
dipilih adalah:



Gambar 4.9. Kopling fluida.
94



Gambar 4.10. Diagram kapasitas kopling fluida.
95


Contoh.
Sebuah konveyor sabuk untuk memindahkan benda tertentu sering
distart dan dihentikan. Diameter puli penggerak D = 500 (mm),
kecepatan sabuk V = 120 (m/min), tahanan rata-rata dalam keadaan
berbeban F = 420 (kg), efek roda gaya dari bagian yang bergerak
lurus dan berputar GD
2
= 3200 (kgm
2
). Carilah kapasitas motor
induksi 50 (Hz), 6 kutup (p) dihubungkan langsung, untuk mencapai
putaran penuh dalam 5 detik (s) dari start. Carilah juga kapasitas
motor untuk persyaratan yang sama tetapi dipasang dengan
perantaraan kopling fluida. Kurva karakteristik motor induksi, kurva
Gambar 4.11. Dimensi kopling fluida.
96

momen puntir beban dari konveyor, dan karakteristik gabungan
antara kopling fluida dan motor.



97


Gambar 4.12. Diagram untuk contoh diatas.
98


99


100




30. Kopling Tak Tetap. Kopling tak tetap adalah suatu elemen
mesin yang menghubungkan poros yang digerakkan dan poros
penggerak, putarannya sama, meneruskan daya, serta dapat me-
lepaskan hubungan kedua poros tersebut baik dalam keadaan diam
Gambar 4.13. Contoh kurva karakteristik kopling fluida.

101

maupun berputar. Sedangkan untuk kopling tak tetap ada beberapa
macam jenis, diantaranya:
a. Kopling Cakar. Kopling ini meneruskan momen
dengan kontak positip (tidak dengan perantaraan gesekan)
hingga tidak dapat slip. Dua bentuk kopling cakar, kopling
cakar persegi dan kopling cakar spiral. Kopling cakar pesegi
dapat meneruskan momen dalam dua arah putaran, tetapi
tidak dapat dihubungkan keadaan berputar. Dan tidak dapat
sepenuhnya berfungsi sebagai kopling tak tetap yang se-
benarnya. Kopling cakar spiral dapat dihubungkan dalam
keadaan berputar, tetapi hanya baik untuk satu arah putaran.
Namun demikian, karena timbulnya tumbukan yang besar jika
dihubungkan dalarn keadaan berputar, cara menghubung-
kanya dilakukan jika poros penggerak mempunyai putaran
kurang dari 50 (rpm).


Gambar 5.1. Kopling tak tetap
102

Jika daya diteruskan P (kW) dan putaran poros n
1
(rpm),
faktor koreksi f
c
dan bahan poros dipilih, maka diameter poros
dapat dihitung. Sebuah alur pasak untuk menggeserkan cakar
tentu saja harus disediakan. Diameter dalam D
1
, (mm), dia-
meter luar D
2
(mm), dan tinggi h (mm) dari cakar untuk
diameter poros d
s
(mm) dapat ditentukan secara empiris
dibawah.





Jika luas akar dari cakar adalah 1/2 dari ) ) ( (
2
1
2
2
4 D D t/ , maka
tegangan geser t (kg/mm
2
) yang timbul pada akar cakar adalah
Gambar 5.2. Simbol untuk kopling cakar
103

( ) ( )
2
1
2
2
8 D D F
t
t = t / /
Momen lentur yang bekerja pada. cakar adalah ( ) , . / h n F
1
jika F
1

dikenakan pada ujung cakar, di mana n adalah jumlah cakar.
Alas dari penampang cakar segi empat adalah (D
2
D
1
)/2 dan
tingginya adalah ( ) | |( ) n D D / / t + 4
2 1
, sehingga momen tahanan
lenturnya adalah



Jika harga ini lebih besar, maka D
1
, D
2
, h, dsb. harus disesuaikan.
Contoh:
Sebuah kopling cakar untuk putaran dua arah akan dihubungkan
dengan sebuah poros baja liat untuk meneruskan daya sebesar 1,5
(kW) pada 120 (rpm). Tentukan diameter luar, diameter dalam dan
tinggi cakar dengan mengambil jumlah cakar 3 buah.
104


Diagram alir untuk menrencanakan kopling cakar
105



b. Kopling Plat. Kopling plat adalah suatu kopling yang
menggunakan satu plat atau lebih yang dipasatig di antara
kedua poros serta membuat kontak dengan poros sehingga
terjadi penerusan daya melalui gesekan antara sesamanya.
Konstruksi kopling ini sederhana dan dapat dihubungkan dan
dilepaskan keadaan berputar. Kopling plat dapat dibagi atas
kopling plat tunggal dan kopling plat banyak, yaitu berdasarkan
106

atas banyaknya plat gesek yang dipakai. Juga dapat dibagi
atas kopling basah dan kering, serta atas dasar cara
pelayanannya (manual, hidrolik, numatik, dan elektromagnetis).
Pemakaian tergantung pada tujuan, kondisi kerja, lingkungan,
dsb.



Badan A dipasang tetap pada poros sebelah kiri, dan badan B
dipasang pada poros di sebelah kanan serta. dapat bergeser secara
aksial pada poros tersebut sepanjang pasak luncur. Bidang gesek C
pada badan B didorong ke badan A hingga terjadi penerusan putaran
dari poros penggerak di sebelah kiri ke poros sebelah kanan.
Pemutusan hubungan dapat dilakukan dengan meniadakan gaya
dorong hingga gesekan akan hilang. D
1
diameter dalam, dan D
2

Gambar 5.3. Kopling plat (satu bidang gesek)
107

diameter luar bidang gesek. Karena bagian bidang gesek yang
terlalu dekat pada sumbu poros hanya mempunyai pengarull yang
kecil saja pada pemindahan momen, maka besarnya perbandingan
D
1
/D
2
jarang lebih kecil dari 0,5. Besarnya tekanan pada permukaan
bidang gesek tidak terbagi rata pada seluruh permukaan tersebut
makin jauh dari sumbu poros, tekanannya semakin kecil. Jika
besarnya tekanan rata-rata pada bidang gesek adalah p (kg/mm
2
),
maka besarnya gaya yang menimbulkan tekanan ini adalah

Jika koefisien gesekan adalah , dan seluruh gaya gesekan
dianggap bekerja pada keliling rata-rata bidang gesek, maka momen
gesekan adalah

Harga dan harga tekanan yang diizinkan p
a
(kg/mm
2
) dilihat dalam
tabel.
Diperhatikan pula GD
2
dari poros yang digerakkan yang harus
dipercepat pada waktu kopling dihubungkan. Faktor keamanan
kopling dihitung dengan memperhatikan macam penggerak mula
yang dipakai, variasi beban, besarnya GD
2
, dan ada tidaknya
tumbukan.
Tabel 5.1. Harga dan p
a

108


Suatu contoh perhitungan sederhana akan diberikan di bawah ini
tanpa suatu diagram.
Contoh :
Rencanakan sebuah kopling plat tunggal untuk meneruskan daya
sebesar 7,5 (kW) pada 100 (rpm). Anggaplah besarnya
perbandingan diameter D
1
/ D
2
= 0,8, koefisien gesekan = 0,2, dan
tekanan permukaan yang diizinkan pada bidang gesek p
a
= 0,02
(kg/mm
2
).

109

Dalam contoh ini, ukuran kopling hanya ditentukan dari perhitungan
momen saja. Tetapi, dalam praktek karena percepatan dll. turut
menentukan, maka perhitungan seperti di atas tidak cukup. Di bawah
ini akan diberikan cara yang lebih lengkap.
a. Tentukan cara pelayanan pada mesin yang akan
dipakai seperti: manual atau otomatik, langsung atau jarak jauh,
serta macam pelayanan seperti: manual, hidrolik, numatik, atau.
magnitik.
b. Tentukan macam kopling menurut besarnya momen
yang akan diteruskan, plat tunggal. atau plat banyak.
c. Pertimbangkan macam dan karakteristik momen dari
penggerak mula. Jika variasi momennya besar, suatu kopling
kering dapat dipakai dengan plat luar macam roda gigi, atau
kopling basah tanpa bentuk plat luar yang demikian. Jika
kopling akan dikenai beban tumbukan berat, ada baiknya
dipakai kopling numatik.
d. Untuk jangka waktu penghubungan sebesar 0,2 sampai
1 detik (s).
e. Untuk jumlah penghubungan kurang dari 20 kali/menit.
f. Jika lingkungan kerja tidak baik, pakailah kopling
basah, dan jika pemakaian kopling kering tak dapat dihindari,
pasanglah kopling tersebut di dalam kotak yang tertutup rapat
dan kedap.
110

g. Untuk penempatan yang menyulitkan pemeriksaan dan
pemeliharaan, lebih cocok jika dipakai cara pelayanan hidrolik,
numatik, atau elektro magnitik.
h. Jika diingini umur yang panjang, pemakaian kopling
basah sangat sesuai.
Dari petunjuk-petunjuk di atas dapat dibuat suatu diagram
pemilihan kopling plat diagram, dengan rumus-rumus untuk
perhitungan seperti diberikan di bawah ini.

111


a. Momen puntir.
1) Momen yang dihitung dari daya penggerak mula.
Jika daya penggerak mula adalah P (kW), faktor
koreksi f
c
dan putaran poros kopling n
1
(rpm), maka
momen puntir T (kg.m) pada poros kopling adalah

2) Momen yang dihitung dari beban. Jika gaya
yang ditimbulkan oleh beban adalah F (kg), kecepatan
beban adalah V(m/min), putaran poros kopling adalah
n
1
(rpm), dan efisiensi mekanis , maka momen beban
T
l
(kg.m) dapat dinyatakan oleh

Jika beban berat sudah bekerja sejak permulaan
dan harganya tidak diketahui, maka momen T (kg.m)
Gambar 5.4. Penggolongna kopling menurut cara kerjanya
112

yang dihitung dari daya motor nominal dapat dipakai
secara efektif. Jika momen start adalah T
l1
(kg.mm),
maka

Momen maksimum pada kecepatan penuh
kemudian dapat dianggap T
l2
(kg.mm). Jika efek iotal
roda gaya terhadap poros kopling adalah GD
2

(kg.mm2), kecepatan relatif adalah n
r
= n
1
-n
2
(rpm), di
mana beban berputar dengan n
2
(rpm), dan jangka
waktu penghubungan (dari saat kopling dihubungkan
hingga kedua poros mencapai putaran yang sama)
adalah t
a
(s), persamaan gerak dari seluruh benda yang
berputar sbb:

di mana T = momen dari luar (kg.m), J = momen inersia
(kg.m.s
2
), g = 9,8 (m/s
2
),
0
= kecepatan sudut awal
(rad/s),
f
= kecepatan sudut akhir (rad/s).
Jika momen percepatan yang diperlukan untuk
mencapai jangka waktu penghubungan yang
direncanakan t
e
(s) adalah T
a
(kg.m), maka karena
momen luar T = T
a
T
l1.

113


Bila GD
2
dan momen beban adalah kecil pada
penghubungan, dan momen beban berat dikenakan
setelah terjadi hubungan, serta jika momen beban
maksimum adalah T
l2
, dimana

maka kopling tersebut dapat dianggap bekerja dengan
momen gesekan statis. Dalam keadaan demikian,
pilihlah kopling dengan T
o
sebagai kapasitas momen
gesekan statis dalam daerah berikut:

sebaliknya meskipun beban berat dikenakan kemudian
jika

dan, bila momen beban berat dikenakan dari
permulaan, maka pilihlah kopling dengan T
so
sebagai
kapasitas momen gesekan dinamis dalam daerah
berikut:

114

Untuk kopling elektromagnit plat tunggal kering,
momen gesekan statisnya diberikan dalam tabel, dan
momen gesekan dinamisnya dalam gambar. Faktor
keamanan f

liberikan dalam tabel.




Gambar 5.5. Kopling elektromagnit dengan plat tunggal kering

Tabel 5.2. Contoh momen puntir gesek statis untuk kopling elektromagnit
plat tunggal kering
115










Gambar 5.6. Karakteristik momen puntir gesek dinamis terhadap putaran
relatif dari kopling elektomagnit dengan plat tunggal kering.
116












Tabel 5.3. Faktor keamanan untuk memilih kopling tak tetap
117



Diagram alir untuk memilih kopling elektro magnit
118

b. Kerja Penghubungan. Setelah pemilihan kapasitas
momen, perlu dibahas, panas gesekan atau kerja
penghubungan oteh slip pada waktu berlangsung proses
penghubungan. Untuk kopling dengan kapasitas momen yang
dipilih, kerja penghubungan yang dijinkan diberikan menurut
jumlah penghubungan dalam jangka wakta tertentu.
1) Pada waktu percepatan. Kerja yang dilakukan bila
beban yang telah berputar dengan putaran n
2
(rpm)
dipercepat menjadi n
1
(rpm) setelah dihubungkan dengan
poros penggerak yang mempunyai putaran n
1
(rpm) dalam
arah yang sama. Kerja untuk satu kali hubungan dapat di-
nyatakan dengan satuan (kg.m/hb).
Kerja yang dilakukan dalam jangka waktu penghubungan
yang sesungguhnya t
ae
(s) dari kecepatan sudut
2
(rad/s)
menjadi
1
(rad/s) dengan kapasitas momen T
d0
(kg.m)
adalah perkalian antara sudut yang ditempuh oleh putaran
poros dalam jangka waktu t
ae
, sebesar (
1
-
2
)/2 kali t
ae
,
dengan T
dO
jadi

dari kedua persamaan diatas,
119


Bila beban dalam keadaan diam, maka n
r
= n
1

2) Jika sisi beban berputar berlawanan dengan arah
putaran poros penggerak. Jika jangka waktu yang
diperlukan untuk perlambatan dari n
2
(rpm) menjadi nol
adalah t
1
(s), dan jangka waktu untuk percepatan dari nol
menjadi n
1
(rpm) adalah t
2
(s), maka persamaan gerak dari
benda yang berputar adalah

Jumlah penghubungan terhadap keda penghubungan
yang diizinkan untuk kopling elektromagnit plat tunggal
kering diperlihatkan dalam gambar.
120



c. Waktu Pelayanan Dan Penghubungan (Waktu
Kerja). Pada permulaan perhitungan, momen percepatan yang
diperlukan untuk memenuhi waktu penghubungan t
e
yang
direncanakan dicari lebih dahulu, dan momen puntir serta
nomor kopling ditentukan. Kemudian momen percepatan oleh
kopling dan waktu penghubungan yang sesungguhnya t
ae
dapat
dihitung. Karena T
do
menjadi lebih besar maka t
ae
menjadi Iebih
kecil dari pada t
e
. Meskipun demikian perlu diperiksa untuk
meyakinkannya.
Rumus yang diperoleh dalam (2) dapat chsusun sebagai
berikut.
Gambar 5.7. Kerja penghubungan yang diperbolehkan untuk kopling
elektromagnit dengan plat tunggal kering
121

1) Pada percepatan

2) Bila sisi beban berputar berlawanan dengan arah
putaran poros penggerak

Waktu yang diambil sejak dari permulaan pelayanan
hingga tercapai hubungan adalah waktu penghubungan
yang sesungguhnya t
ae
seperti tersebut di atas ditambah
waktu t
o
yang diambil sejak operator memulai pelayanan
sampai saat gaya mulai bekerja pada badan kopling.

d. Perhitungan panas. Kerja penghubungan pada
kopling akan menimbulkan panas karena gesekan hingga
temperatur kopling akan naik. Temperatur permukaan plat
gesek biasanya naik sampai 200(C) dalam sesaat. Tetapi
untuk seluruh kopling umumnya dijaga agar suhunya tidak lebih
tinggi dari pada 80(C). Jika kerja penghubungan untuk satu kali
pelayanan direncanakan lebih kecil dari kerja penghubungan
yang diizinkan, perneriksaan temperatur tidak diperlukan lagi.

e. Umur plat gesek. Umur plat gesek kopling kering
kurang lebih sepersepuluh umur kopling basah. Karena laju
122

keausan plat gesek sangat tergantung pada macam bahan
geseknya, tekanan kontak, kecepatan Wiling, temperatur, dll.,
agak sukar untuk menentukan umur secara teliti. Sekalipun
demikian, taksiran kasar dapat diperoleh dari rumus berikut ini.

di mana E = kerja penghubungan untuk satu kali hubungan
(kg.m/hb), w = laju keausan permukaan bidang gesek
(cm
2
/(kg.m)) (tabel), dan L
3
= volume keausan yang diizinkan
dari plat gesek (cm
3
) (tabel).






Tabel 5.4. Laju keausan permukaan pelat gesek
Tabel 5.5. Batas keausan rem dan kopling elektromagnit pelat tunggal
kering
123

c. Kopling Friwil. Dalam permesinan sering kali
diperlukan kopling yang dapat lepas dengan sendirinya bila
poros penggerak mulai berputar lebih lambat atau dalam arah
berlawanan dari poros yang digerakkan. Kopling friwil adalah
kopling yang dikembangkan untuk maksud tersebut. Kopling
ini hanya dapat meueruskan momen dalam satu arah putaran,
sehingga putaran yang berlawanan arahnya akan dicegah
atau tidak diteruskan. Cara kerjanya dapat berdasarkan atas
efek baji dari bola atau rol.
Seperti diperlihatkan dalam gambar (a), bola-bola atau
rol-rol dipasang dalam ruangan yang bentuknya sedemikian
rupa hingga jika poros penggerak (bagian dalam) berputar
searah jarum jam, maka gesekan yang timbul akan
menyebabkan rol itau bola terjepit di antara poros penggerak
dan cincin luar, sehingga cincin luar bersama poros yang
digerakkan akan berputar meneruskan daya.

Gambar 5.8. Kopling friwil

124

Jika poros penggerak berputar berlawanan arah jarum jam, atau jika
poros yang digerakkan berputar lebih cepat dari pada poros
penggerak, maka bola atau rol akan lepas dari jepitan hingga tidak
tedadi penerusan momen lagi. Kopling ini sangat banyak gunanya
dalam otomatisasi mekanis. Suatu bentuk lain dari kopling semacam
ini, menggunakan bentuk kam (nok) sebagai pengganti bola atau rol
dan disebut kopling kam terlihat dalam gambar (b).

31. Evaluasi.
a. Pilihlah suatu kopling flens kaku yang dihubungkan
dengan poros baja liat dengan sebuah pasak untuk
meneruskan daya sebesar 75 (PS) pada 170 (rpm), dan
periksalah kekuatan baut dan flens.
b. Sebuah kompresor menimbulkan variasi momen puntir
dalam satu putaran poros, digerakkan oleh sebuah motor
induksi sebesar 6,5 (kW) pada 760 (rpm). Pilihlah kopling karet
ban untuk menghubungkan kedua mesin tersebut. Motor
tersebut mempunyai poros berdiameter 40 (mm), GD
2
sebesar
0,22 (kgm
2
), dan 6 buah kutup, sedangkan kompresor mem-
punyai GD
2
0,12 (kg-m
2
). Ukuran kopling dsb. terdapat dalam
tabel.

125

c. Sebuah konveyor sabuk untuk memindahkan benda
tertentu sering distart dan dihentikan. Diameter puli penggerak
D = 550 (mm), kecepatan sabuk V = 125 (m/min), tahanan rata-
rata dalam keadaan berbeban F = 420 (kg), efek roda gaya dari
bagian yang bergerak lurus dan berputar GD
2
= 3200 (kgm
2
).
Carilah kapasitas motor induksi 50 (Hz), 6 kutup (p)
dihubungkan langsung, untuk mencapai putaran penuh dalam 4
detik (s) dari start. Carilah juga kapasitas motor untuk
persyaratan yang sama tetapi dipasang dengan perantaraan
kopling fluida. Kurva karakteristik motor induksi, kurva momen
puntir beban dari konveyor, dan karakteristik gabungan antara
kopling fluida dan motor.
d. Rencanakan sebuah kopling cakar untuk putaran dua
arah akan dihubungkan dengan sebuah poros baja liat untuk
meneruskan daya sebesar 2,25 (kW) pada 135 (rpm). Tentukan
diameter luar, diameter dalam dan tinggi cakar dengan meng-
ambil jumlah cakar 4 buah.
e. Rencanakan sebuah kopling plat tunggal untuk
meneruskan daya sebesar 6,5 (kW) pada 150 (rpm). Anggaplah
besarnya perbandingan diameter D
1
/ D
2
= 0,8, koefisien
gesekan = 0,3, dan tekanan permukaan yang diizinkan pada
bidang gesek p
a
= 0,025 (kg/mm
2
).