Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam masyarakat terdapat berbagai golongan dan aliran. Namun, walaupun golongan dan aliran itu beranekaragam dan masing-masing mempunyai kepentingan sendiri-sendiri, akan tetapi kepentingan bersama harus mengharuskan adanya ketertiban dalam kehidupan masyarakat itu. Adapun orang yang memimpin kehidupan bersama yang mengatur tingkah laku manusia dalam masyarakat ialah peraturan hidup. Agar dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dengan aman dan tentram tanpa gangguan, maka bagi tiap manusia perlu adanya suatu tata (orde = ordnung). Tata ini berwujud aturan-aturan yang menjadi pedoman bagi segala tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup, sehingga kepentingan masing-masing dapat terpelihara dan terjamin. Setiap anggota masyarakat mengetahui hak dan kewajiban masingmasing. Tata itu lazim disebut Kaedah (berasal dari bahasa arab) atau Norma (berasal dari bahasa latin) atau Ukuran-Ukuran. Norma itu mempunyai dua macam isi, dan menurut isinya berwujud: a. Perintah adalah keharusan bagi seseorang untuk berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang baik. b. Larangan adalah keharusan bagi seseorang untuk tidak berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang tidak baik. Selain masalah di atas, di kalangan masyarakat saat ini baik di Indonesia maupun di luar negeri kita sering mendengar diberbagai media massa tentang terjadinya gejolak-gejolak sosial. Dalam arus perubahan sosial yang amat deras yang berakibat pada munculnya tuntutan-tuntutan dan penyesuaianpenyesuaian baru, maka bila tuntutan dan penyesuaian baru tersebut kurang atau bahkan tidak diterima dan tidak dilakukan akan menimbulkan goncangan-goncangan sosial di masyarakat.

Apabila goncangan-goncangan tersebut juga dibiarkan akan berakibat buruk pada masyarakat tersebut yaitu munculnya disintegrasi sosial. Maka dalam rangka meredam dan mngurangi berbagai gejolak kekacauan tersebut diperlukan adanya suatu tindakan sosial yaitu Akomodasi atau Akomodatif. 1.2 Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. Apa yang dimaksud dengan kaidah sosial? Apa saja jenis-jenis Kaidah Sosial itu? Apa pengertian dari akomodatif? Bagaimana hubungan akomodatif sebagai upaya penyelesaian konflik dan menjaga kesinambungan masyarakat? 5. Apa saja bentuk-bentuk akomodatif yang dapat mengurangi konflik sosial?

1.3 Tujuan Penulisan 1. 2. 3. 4. Mengetahui dan memahami tentang pengertian dari Kaidah Sosial. Mengetahui macam-macam dari kaidah sosial. Mengetahui pengertian dari akomodatif. Mengetahui bahwa akomodatif penting sebagai upaya penyelesaian konflik dan menjaga kesinambungan masyarakat. 5. Mengetahui bentuk-bentuk akomodatif yang dapat mengurangi konflik sosial 1.4 Manfaat Penulisan Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak khususnya kepada mahasiswa yang menempuh mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD) untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang kaidah sosial dan bentuk-bentuk akomodatif yang dapat mengurangi konflik sosial. Manfaat lain dari penulisan makalah ini adalah diharapkan dapat memberikan acuan tentang bentuk akomodatif yang perlu dilakukan sesuai dengan konflik yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kaidah Sosial Kaedah sosial pada hakikatnya merupakan perumusan suatu pandangan mengenai perilaku atau sikap yang seyogyanya dilakukan. Hal ini telah dijelaskan oleh Purnadi Purbacaraka dan Soekanto bahwa Kaedah adalah patokan atau ukuran ataupun pedoman untuk berperikelakuan atau sikap tindak dalam hidup. Sifat kaidah sosial yaitu deskriptif, preskriptif dan normatif; sedangkan kaidah sosial itu terdiri dari kaidah agama, kaidah kesusilaan, kaidah kesopanan dan kaidah hukum. Dalam masyarakat sifat hubungannya adalah saling membutuhkan, pengaruh mempengaruhi dan tergantung satu sama lain. Hidup bermasyarakat agar kepentingan pribadi dan sosial terpenuhi dan terlindungi. Kedamaian dalam masyarakat terealisasi apabila ada ketenteraman dan ketertiban. Perilaku yang biasa dilakukan dalam kurun waktu yang lama dan diterima masyarakat dapat menjadi kaidah. Kaidah hukum perumusannya tegas dan disertai sanksi yang tegas dan dapat dipaksakan oleh instansi resmi. Orang bunuh diri

menggambarkan, bagi yang bersangkutan sanksi dari kaidah kesusilaan lebih berat dibanding sanksi yang berasal dari kaidah hukum. Apa yang kita lihat sebagai suatu tatanan dalam masyarakat yaitu yang menciptakan hubungan-hubungan yang tetap dan teratur antara anggota-anggota masyarakat, sesungguhnya tidak merupakan suatu konsep yang tunggal yang kita lihat sebagai tatanan dari luar, pada hakikatnya di dalamnya terdiri dari suatu kompleks tatanan. Kita biasa menyebut tentang adanya suatu tatanan yang terdiri dari sub-sub tatanan. Sub-sub tatanan itu ialah : kebiasaan, hukum dan kesusilaan. Dengan demikian, maka ketertiban yang terdapat dalam masyarakat itu didukung oleh ketiga tatanan tersebut, yaitu: 1. Tatanan Kebiasaan yang terdiri dari norma-norma yang dekat sekali kenyataan. Kaidah ini tidak lain diangkat dari dunia kenyataan juga. Apa yang biasa dilakukan orang-orang kemudian menjelma menjadi norma
3

kebiasaan,melalui ujian keteraturan , keajegan dan kesadaran untuk menerimanya sebagai kaidah oleh masyarakat. 2. Tatanan Hukum yang berpegangan kepada tatanan yang mulai menjauh daari pegangan kenyataan sehari-hari. Namun, proses penjauhan dan pelepasan diri itu belum berjalan secara seksama. Pada proses pembuatan hokum ini kita mulai melihat,bahwa tatanan ini didukung oleh normanorma yang secara sengaja dan sadar dibuat untuk menegakkan suatu jenis ketertiban tertentu dalam masyarakat. Kehendak manusia merupakan faktor sentral yang memberikan ciri kepada tatanan hukum. Sebagai unsur pengambil keputusan, maka kehendak manusia ini bisa menerima dan juga bisa menolak. 3. Tatanan Kesusilaan yang sama mutlaknya dengan kebiasaan hanya saja dalam kedudukannya terbalik. Kalau tatanan kebiasaan mutlak

berpegangan pada kenyataan tingkah laku orang-orang, maka kesusilaan justru berpegangan pada ideal yang masih harus diwujudkan dalam masyarakat. Ideal-lah yang merupakan tolak ukur tatanan ini bagi menilai tingkah laku anggota-anggota masyarakat. Adapun perbedaan antara kesusilaan dan hukum terletak pada otoritas yang memutuskan apa yang akan diterima sebagai norma. Norma kesusilaan bukanlah sesuatu yang diciptakan oleh kehendak manusia, melainkan yang tinggal diterima begitu saja olehnya. Berbeda dengan hukum, maka bagi tatanan kesusilaan tidak ada unsur-unsur yang harus diramu. Sedangkan hukum mengikatkan diri kepada masyarakat sebagai basis sosialnya. Berarti ia harus

memperhatikan kebutuham dan kepentingan-kepentingan anggota-anggota masyarakat serta memberikan pelayanan kepadanya. Dalam rangka proses memberikan perhatian terhadap penciptaan keadilan dalam masyarakat serta memberikan pelayanan terhadap kepentingan-kepentingan

masyarakat. Hukum tidak selalu bisa memberikan keputusannya dengan segera. Ia membutuhkan waktu untuk menimbang-nimbang yang biasanya memakan waktu lama sekali.

2.2 Jenis-jenis Kaidah Sosial Norma-norma yang mengatur segala macam hubungan antar-individu dalam masyarakat ada 3 macam, yaitu sebagai berikut: 1. Kaidah Agama atau kaidah kepercayaan yaitu kaidah social yang asalnya dari Tuhan dan berisikan larangan-larangan, perintah-perintah dan anjuran-anjuran. Kaidah ini merupakan tuntunan hidup manusia untuk menuju ke arah yang baik dan benar. Kaidah agama mengatur tentang kewajiban-kewajiban manusia kepada Tuhan dan kepada dirinya sendiri. kaidah yang berpangkal pada kepercayaan adanya Yang Maha Kuasa. Pelanggaran terhadap kaidah agama berarti pelanggaran terhadap perintah Tuhan, yang akan mendapat hukum di akhirat kelak. Agama dalam arti sempit adalah hubungan antara Tuhan dan manusia. Hubungan itu mengandung kewajiban-kewajiban terhadap Tuhan,sebagai cinta terhadap Tuhan, dan percaya kepada Tuhan. Kewajiban-kewajiban itu benar-benar bersifat keagamaan sejati, yang karena isinya,diperbedakan baik dari kewajiban moril maupun dari kewajiban-kewajiban hukum. Tetapi hubungan antara Tuhan dan manusia, membawa juga kewajiban untuk menuruti kehendak Tuhan. Karena itu maka agama meliputi lapangan yang lebih luas daripada semata-mata hubungan antara Tuhan dan manusia. Kaidah agama terbagi dua, yaitu agama wahyu (samawi, samai, langit) dan agama budaya. Agama Wahyu adalah suatu ajaran Allah yang berisi perintah,larangan,dan kebolehan yang disampaikan kepada umat manusia berupa wahyu melalui Malaikat dan Rasul-Nya. Sedangkan agama budaya adalah ajaran yang dihasilkan oleh pikiran dan perasaan manusia secara kumulatif. Pada garis besarnya dan pada umumnya isi norma agama terdiri dari 3 hubungan, yakni: pertama peratura-peraturan yang memuat tata hubungan manusia dengan Tuhan secara vertical. Kedua, peraturan-peraturan yang memuat tata hubungan manusia dengan sesama manusia secara horizontal.

Ketiga, peraturan-peraturan yang memuat tata hubungan manusia dengan alam sekitar. Tujuan dari kaidah kepercayaan ialah untuk menyempurnakan hidup manusia dan melarang manusia berbuat jahat/dosa. Kaidah ini hanya membebani kewajiban menurut perintah Tuhan dan tidak memberi hak. Kaidah Agama merupakan tuntunan hidup manusia untuk menuju kepada perbuatan dan kehidupan yang baik dan benar. Ia mengatur tentang kewajibankewajiban manusia kepada Tuhan dan pada dirinya sendiri.

Contoh-contoh kaidah agama adalah sebagai berikut: jangan menyekutukan Allah. Laksanakan shalat. Hormati dan berbaktilah kepada ibu-bapakmu. Jangan berlaku zalim di muka bumi. Jangan membunuh. Jangan berbuat cabul. Dan lain-lain.

2. Kaidah Kesusilaan adalah kaidah/peraturan hidup yang berpangkal pada hati nurani manusia sendiri, yang membisikkan agar melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tercela, oleh karenanya kaidah kesusilaan bergantung pada setiap individu manusia masing-masing. Manusia itu berbuat baik atau berbuat buruk karena bisikan suara hatinya. Pelanggaran terhadap norma susila berarti melanggar perasaan baiknya sendiri yang berakibat penyesalan. Perbuatan yang tidak mengindahkan norma susila disebut asusila. Kaidah Kesusilaan ini ditujukan kepada sikap batin manusia, asalnya dari manusia itu sendiri,dan ancaman atas pelanggaran kaidah kesusilaan adalah dari batin manusia itu sendiri berupa rasa penyesalan. Oleh sebab itu kaidah kesusilaan bersifat Otonom, bukan meruppakan paksaan dari luar dirinya. Kesusilaan memberikan peraturan-peraturan kepada manusia agar ia menjadi manusia yang sempurna. Hasil dari perintah dan larangan yang

timbul dari norma kesusilaan itu pada manusia bergantung pada pribadi orang-seorang.Isi hatinya akan mengatakan perbuatan mana yang jahat. Hati nuraninya akan menentukan apakah ia akan melakukan sesuatu perbuatan. Misalnya: Hendaknya engkau berlaku jujur, hendaklah engkau berbuat baik terhadap sesama manusia, dll. Kaidah ini merupakan kaidah yang tertua dan menyangkut kehidupan pribadi manusia,bukan dalam kualitasnya sebagai makhluk sosial. Kaidah Kesusilaan ini bertujuan agar manusia memiliki akhlak yang baik demi mencapai kesempurnaan hidup manusia itu sendiri. Penerapan sanksinya berasal dari dalam diri manusia itu sendiri, bukan paksaan dari luar. Suara hati manusia menentukan perilaku mana yang baik dan perilaku mana yang tidak baik untuk dilakukan, sehingga kaidah kesusilaan ini bergantung pada pribadi manusia. Kaidah Kesusilaan mendorong manusia untuk berahklak mulia, juga melarang manusia mencuri, berbuat zina, dsb. Ia berasal dari dalam diri manusia sendiri, maka ancaman atas pelanggaran kaidah sosial adalah batin manusia. Agar manusia menjadi makhluk sempurna maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mematuhi dan mentaati peraturanperaturan yang bersumber dari hati sanubari. Akan tetapi tiap setiap yang keluar dari hari nurani dapat diakui sebagai norma kasusilaan, sebab hanya norma-norma kehidupan yang berupa bisikan hati sanubari (insan kamil) yang diakui dan diinsyafi oleh semua orang sebagai pedoman sikap dan perbuatan sehari-hari.kesusilaan memberikan peraturan-peraturan kepada manusia agar menjadi manusia yang sempurna. 3. Kaidah kesopanan adalah peraturan hidup yang timbul atau diadakan dalam suatu masyarakat, yang mengatur sopan santun dan perilaku dalam pergaulan hidup antar-sesama anggota masyarakat tertentu. Kaidah kesopanan ini didasarkan pada kebiasaan, kepantasan, atau kepatuhan yang berlaku dalam suatu masyarakat. Oleh karena itu kaidah kesopanan dinamakan pula kaidah sopan santun tata karma atau adat. Orang yang melakukan pelanggaran terhadap norma kesopanan akan dicela oleh sesame anggota masyarakatnya. Celaan itu tidak selalu dengan mulut, tetapi bisa dengan cara lain dan bentuk lain. Misalnya dibenci, dijauhi,

dipandang tidak tahu tata karma, dll. Landasan kaidah kesopanan adalah kepatutan, kepantasan, dan kebiasaan yang berlaku pada masyarakat yang bersangkutan. Oleh sebab itu kaidah kesopanan seringkali disamkan dengan kaidah sopan santun, tata karma, atau adat, walaupun ada pakar hukum yang tidak mau menyamakan pengertian kebiasaan dengan adat dan sopan santun. Kaidah ini ditujukan pada sikap lahir manusia (sama dengan kaidah hukum) yang ditujukan pada pelakunya agar terwujud ketertiban masyarakat dan suasana keakraban dalam pergaulan.

Tujuannya, pada hakikatnya bukan pada manusia sebagai pribadi, melainkan manusia sebagai makhluk sosial yang hidup bersama dalam kelompok masyarakat. Contoh-contoh kaidah kesopanan misalnya: Orang muda wajib menghormati orang yang lebih tua. Jika seseorang akan memasuki rumah orang lain harus minta izin lebih dahulu. Mempersilahkan duduk seorang wanita hamil yang berada dalam kendaraan umum yang sarat penumpang. Mengenakan pakaian pantas jika menghadiri pesta. Dan lain lain.

4. Kaidah Hukum adalah peraturan-peraturan yang dibuat atau yang dipositifkan secara resmi oleh penguasa masyarakat atau penguasa Negara, mengikat setiap orang dan berlakunya dapat dipaksakan oleh aparat masyarakat atau aparat Negara, sehingga berlakunya kaidah hukum dapat dipertahankan. Kaidah hukum ditujukan kepada sikap lahir manusia atau perbuatan konkrit yang dilakukan oleh manusia. Kaidah hukum tidak mempersoalkan apakah apakah sikap batin seseorang itu baik atau buruk, yang diperhatikannya adalah bagaimana perbuatan lahiriah orang itu. Kaidah hukum tidak akan member sanksi kepada seseorang yang mempunyai sikap batin yang buruk, tetapi yang akan diberi sanksi oleh kaidah hukum adalah perwujudan sikap batin yang buruk itu menjadi

perbuatan nyata atau perbuatan konkrit. Namun demikian kaidah hukum tidak hanya memberikan kewajiban saja tetapi juga memberikan hak. Asal mula dan sanksi bagi pelanggar kaidah hukum dating dari luar diri manusia maka heteronom sifatnya. Misalnya: Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masingmasing agamanya dan kepercayaannya (ps. 2 ayat 1 UU No. 1/1974). Barang siapa sengaja merampas nyawa orang lain tanpa hak, diancam karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun (ps. 338 KUHP) Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lamalima tahun atau denda paling banyak enam puluh juta rupiah (ps. 362 KUHP). Dan lain-lain.

Ditinjau dari segi isinya kaidah hukum dapat dibagi dua, yaitu: a. Kaidah hukum yang berarti perintah, yang mau tidak mau harus di ja;ankan atau di taati seperti misalnya ketentuan dalam pasal 1 UU no.1 tahun 1947 yang menentukan, bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membenmtuk keluarga yang berbahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang maha Esa. b. Kaidah hukum yang berisi larangan , seperti yang tercantum dalam pasal 8 UU no.1 tahun 1974 mengenai larangan perkawinan antara dua orang lakilaki dan perempuan dalam keadaan tertentu.

Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, SH menggolongkan ke empat macam kaidah sosial di atas menjadi dua golongan yaitu: a. Tata kaidah dengan aspek pribadi, termasuk kelompok ini adalah kaidah agama atau kepercayaandan kaidah kesusilaan. b. Tata kaidah dengan aspek kehidupan antarpribadi, termasuk di dalamnya adalah kaidah kesopanan dan kaidah hukum. Apabila diperhatikan tentang rumusan pengertian dan contoh-contoh masingmasing kaidah sosial tersebut mengandung arti adanya tingkatan mengenai sanksi yang diterima oleh pelanggar kaidah-kaidah sosial itu. Dan akan dipaparkan juga contoh-contoh lengkap dengan latar belakang, tujuan, akibat dan hukuman bagi pelanggar kaidah-kaidah sosial yang ada di Indonesia yang akan dijelaskan pada bab yang selanjutnya. Kaidah agama atau kepercayaan sanksinya akan diterima oleh pelanggar kaidah ini nanti di akhirat, sehingga sanksi ini kurang berpengaruh kepada mereka yang tidak menganut agama atau kepercayyan tertentu. Kaidah kesusilaan sanksisanksinya akan dialami oleh pelanggarnya bila kemudian sadar bahwa ia melanggar kesusilaan, sehingga sanksi kaidah kesusilaanpun kurang berpengaruh bagi mereka yang tidak sadar akan perbuatannya.Kaidah kesopanan sanksinya memang dapat dialami oleh pelanggar kaidah ini, karena mereka yang melanggar kaidah kesopanan akan dikucilkan oleh masyarakat di mana mereka bertempat tinggal. Namun bagi mereka yang tidak perduli akan sanksi demikian tidak akan terpengaruh oleh sanksi tersebut sehinggga perbuatan mereka tidak akan diperbaiki. Oleh karena ketiga kaidah sosial tersebut di atas sanksinya kurang tegas maka kurang dapat menjamin ketertiban dan keteraturan masyarakat. Oleh karena itu sangat diperlukan kaidah hukum. Masalah yang diatur dalam kaidah hukum lebih lengkap jika dibandingkan dengan hal-hal yang diatur dalam ketiga kaidah sosial lainnya. Sanksi dari kaidah hukum relativ lebih tegas dan dapat dipaksakan oleh penguasa, sehingga kaidah sosial terakhir ini diharapkan dapat menjamin terciptanya ketertiban dan keadilan dalam masyarakat. Dengan adanya

10

kaidah hukum diharapkan keamanan dan ketentraman masyarakat dapat diwujudkan. 2.3 Pengertian Akomodatif Akomodasi atau akomodatif merupakan suatu proses penyesuaian sosial dalam interaksi sosial antara pribadi dengan kelompok-kelompok manusia untuk meredakan pertentangan. Akomodatif mempunyai 2 aspek pengertian, yaitu: 1. Upaya untuk mencapai penyelesaian dari suatu konflik atau pertikaian. Jadi mengarah kepada prosesnya. 2. Keadaan atau kondisi selesainya suatu konflik atau pertikaian tersebut. Jadi mengarah kepada suatu kondisi berakhirnya pertikaian.

Akomodatif didahului oleh adanya dua kelompok atau lebih yang saling bertikai. Masing-masing kelompok dengan kemauannya sendiri berusaha untuk berakomodatif menghilangkan gap atau barier yang menjadi pangkal

pertentangan, sehingga konflik mereda. Sebagai hasil akhir dari kondisi akomodatif idealnya akan terjadi asimilasi diantara kelompok-kelompok yang bertikai tadi.

Adapun pengertian akomodatif menurut para ahli, yaitu :

1) Menurut Soerjono Soekanto Istilah akomodatif digunakan dalam dua arti, yaitu sebagai suatu keadaan dan suatu proses. Sebagai suatu keadaan, akomodatif berarti adanya kenyataan suatu keseimbangan (equilibrium) hubungan antar individu atau kelompok dalam berinteraksi dalam sehubungan dengan norma-norma sosial dan kebudayaan yang berlaku. Sebagai suatu proses, akomodatif berarti sebagai usaha manusia untuk meredakan atau menghindari konflik dalam rangka mencapai kestabilan. 2) Menurut Gillin dan Gillin Akomodatif adalah suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang mengarah kepada adaptasi sehingga antar individu atau kelompok
11

terjadi hubungan saling menyesuaikan untuk mengatasi keteganganketegangan.

2.4 Akomodatif

sebagai

Upaya

Penyelesaian

konflik

dan

Menjaga

Kesinambungan Masyarakat Akomodatif memiliki hubungan yang penting dalam upaya penyelesaian konflik berdasarkan tujuan akomodatif secara sosiologi dan adanya pengaturan konflik menurut Ramlan Surbakti (1983) sehingga dengan adanya penyelesaian konflik secara akomodatif maka akan terjaga kesinambungan masyarakat.

Adapun tujuan Akomodatif secara Sosiologis : 1. Untuk mengurangi konflik antar individu atau kelompok sebagai akibat perbedaan paham. Sehingga akomodatif disini bertujuan untuk

mendapatkan suatu sintesa antara kedua pendapat tersebut agar memperoleh suatu pola baru. 2. Untuk mencegah meledaknya konflik. 3. 4. antar kelompok-kelompok sosial yang saling terpisah. Mengusahakan peleburan antar kelompok-kelompok sosial yang terpisah, seperti dengan perkawinan campuran atau asimilasi.

Menurut Ramlan Surbakti (1992), ada dua jenis konflik di masyarakat, yaitu : 1. Konflik horizontal, adalah konflik antar individu atau kelompok yang diakibatkan adanya kemajemukan horizontal. Seperti konflik antar suku, agama, ras, daerah, kelompok, profesi dan tempat tinggal. 2. Konflik vertikal, adalah konflik antar individu atau kelompok miskin dan kaya (kekayaan) dan antara rakyat dan penguasa (kekuasaan).

Menurut Ramlan Surbakti (1983), pengaturan konflik akan bisa berlangsung secara efektif apabila terdapat tiga persyaratan, yaitu : 1. Kedua belah pihak yang berkonflik harus menyadari akan adanya situasi konflik diantara mereka, oleh karenanya mereka harus menyadari pula

12

perlunya melaksanakan prinsip-prinsip keadilan secara jujur bagi semua pihak. 2. Adanya organisasi bagi kelompok yang berkonflik. Artinya, pengaturan konflik hanya akan mungkin apabila mereka yang berkonflik masingmasing telah terorganisir secara jelas. Kalau kekuatan-kekuatan yang berkonflik itu berada dalam situasi tidak terorganisir (diffuse), maka pengaturan konflik tidak akan efektif. 3. Adanya aturan permainan (rule of the game) yang disepakati dan ditaati bersama. Apabila akomodatif dilakukan untuk menyelesaikan konflik di masyarakat dengan memenuhi tiga hal seperti disebutkan Ramlan Surbakti diatas, maka proses akomodatif akan berlangsung lancar dan lebih mudah.

2.5 Bentuk-bentuk Akomodatif yang Dapat Mengurangi Konflik Sosial Konflik yang dibiarkan akan semakin melebar baik dalam wilayah maupun ketajaman konflik. Dalam arti, konflik kecil yang dibiarkan semakin lama akan semakin besar jumlah orang atau kelompok yang terlibat. Serta intensitas konflik juga akan semakin sengit dan tajam. Tindakan penyelesaian terhadap adanya konflik dibedakan menjadi dua hal, yaitu: 1. Penyelesaian Menang Kalah (win-lose solution), pola penyelesaian ini adalah pola penyelesaian yang hanya menguntungkan satu kelompok sedangkan kelompok yang satunya lagi dirugikan. Pola penyesuaian ini terjadi apabila : a) Kedua kelompok yang berkonflik sama-sama tidak mau mengurangi tuntutannya, sedangkan kondisi kekuatan masing-masing berbeda dimana yang satu kelompok lebih kuat sehingga menang dan kelompok satunya lagi lemah kekuatannya sehingga kalah. b) Salah satu dari kedua kelompok tidak mau mengurangi tuntutan, sedangkan yang satunya bersedia mengurangi tuntutannya. 2. Penyelesaian Menang-menang (win-win solution), pola penyelesaian ini adalah pola penyelesaian yang menguntungkan semua pihak yang terlibat

13

konflik. Pola semacam ini terjadi bila semua kelompok yang berkonflik rela mengurangi tuntutannya dengan duduk satu meja mencari pemecahan bersama secara adil.

Menurut Soerjono Soekanto (1992), akomodasi atau akomodatif sebagai upaya penyelesaian konflik memiliki delapan bentuk, antara lain : 1. Coersion, suatu bentuk akomodatif yang prosesnya dilaksanakan karena adanya paksaan. Hal ini terjadi disebabkan salah satu pihak berada dalam keadaan yang lemah sekali bila dibandingkan dengan pihak lawan. Contohnya: perbudakan. 2. Compromise, yaitu suatu bentuk akomodatif dimana-mana pihak yang terlibat masing-masing mengurangi tuntutannya agar dicapai suatu penyelesaian terhadap suatu konflik yang ada. Sikap untuk dapat melaksanakan compromise adalah sikap untuk bersedia merasakan dan mengerti keadaan pihak lain. Contohnya: kompromi antara sejumlah partai politik untuk berbagi kekuasaan sesuai dengan suara yang diperoleh masing-masing. 3. Arbitration, yaitu cara mencapai compromise dengan cara meminta bantuan pihak ketiga yang dipilh oleh kedua belah pihak atau oleh badan yang berkedudukannya lebih dari pihak-pihak yang bertingkai. Contohnya: konflik antara buruh dan pengusaha dengan bantuan suatu badan penyelesaian perburuan Depnaker sebagai pihak ketiga. 4. Mediation, yaitu cara menyelesaikan konflik dengan jalan meminta bantuan pihak ketiga yang netral. Pihak ketiga ini hanyalah mengusahakan suatu penyelesaian secara damai yang sifatnya hanya sebagai penasehat. Sehingga pihak ketiga ini tidak mempunyai wewenang untuk memberikan keputusan-keputusan yang mengikat secara formal. 5. Conciliation, yaitu suatu usaha mempertemukan keinginan-keinginan pihak-pihak yang bertikai untuk mencapai persetujuan bersama.

Contohnya: pertemuan beberapa partai politik di dalam lembaga legislative (DPR) untuk duduk bersama menyelesaikan perbedaanperbedaan sehingga dicapai kesepakatan bersama.

14

6. Toleration, sering juga dinamakan toleran-participation yaitu suatu bentuk akomodatif tanpa adanya persetujuan formal. Contohnya: beberapa orang atau kelompok menyadari akan pihak lain dalam rangka menghindari pertikaian. Dalam masyarakat Jawa dikenal dengan istilah tepa selira atau tenggang rasa agar hubungan sesamanya bisa saling menyadari kekurangan diri sendiri masing-masing. 7. Statlemate, adalah suatu bentuk akomodatif dimana pihak-pihak yang bertikai atau berkonflik karena kekuatannya seimbang kemudian berhenti pada suatu titik tertentu untuk tidak melakukan pertentangan. Dalam istilah lain dikenal dengan Moratorium yaitu kedua belah pihak berhenti untuk tidak saling melakukan pertikaian. Namun, moratorium bisa dilakukan antara dua belah pihak yang kurang seimbang kekuatannya. 8. Adjudication, pengadilan. adalah suatu bentuk penyelesaian konflik melalui

Kedelapan bentuk akomodatif diatas bisa dipilih untuk dilakukan dalam menyelesaikan konflik di masyarakat yang sangat beragam. Hal ini diperlukan agar proses konflik khususnya yang terjadi pada masyarakat dengan tingkat kemajemukan tinggi seperti Indonesia, tidak bisa mengarah pada situasi disintegrasi bangsa.

15

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Dari semua penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa: Banyak sekali aturan-aturan, norma-norma ataupun kaidah- kaidah yang dapat dijadikan sebagai seumber dari hukum nasional. Karena

bagaimanapun semua aturan atau hukum nasional berasal dari kebiasaan masyarakat. Dan sebuah hukum suatu negara tidaklah dapat berjalan apabila tidak sesuai dengan karakter dan sifat- sifat masyarakat dari suatu negara tersebut, karena dalam hal ini masyarakat merupakan objek dari hukum tersebut. Disamping itu ada beberapa hukum adat / kaidah sosial yang telah benar- benar disahkan oleh pemerintah menjadi sebuah hukum tetulis di Negara Indonesia. Diantaranya adalah larangan mengenai masalah rokok, untuk saat ini pemerintah telah menetapkan pasal akan larangan merokok di tempat umum dan bagi anak- anak. Selain itu tentang masalah peminta- minta yang sering kita jumpai dijalan- jalan, beberapa perda saat ini telah mengesahkan bahwa dilarang memberi peminta- minta dijalanan. Begitu juga dengan masalah sampah, pemerintah telah mengeluarkan hukum tertulis mengenai pengelolaan sampah. Akan tetapi semua itu tidaklah bisa berjalan apabila kita sebgai masyarakat yang menjdi subyek hukum tersebut tidak mematuhi hukum- hukum tersebut. Kesadaran akan hukum sangat diperlukan dalam melancarkan proses penegakan hukum di Indonesia, demi mewujudkan ketertiban dan kenyamanan bersama. Pengertian Akomodatif secara umum adalah suatu proses penyelesaian sosial dalam interaksi sosial antara pribadi dan kelompok-kelompok manusia untuk meredakan pertentangan

16

Akomodatif memiliki hubungan yang penting dalam upaya penyelesaian konflik berdasarkan tujuan akomodatif secara sosiologi dan adanya pengaturan konflik menurut Ramlan Surbakti (1983) sehingga dengan adanya penyelesaian konflik secara akomodatif maka akan terjaga kesinambungan masyarakat.

Tindakan penyelesaian terhadap adanya konflik dibedakan menjadi dua, yaitu penyelesaian menang-kalah dan penyelesaian menang-menang. Bentuk-bentuk akomodatif yang dapat mengurangi konflik sosial menurut Soerjono Soekarto (1992) adalah coercion, compromise, arbitration, mediation, conciliation, toleration, statlemate, adjudication.

Salah satu peristiwa konflik yang menuju akomodatif di Indonesia adalah konflik Poso yang menghasilkan Deklarasi Malino.

3.2 Saran Mengingat perlunya langkah cepat dan tepat dalam menyelesaikan konflik sosial maka perlu diketahui tentang informasi yang sebanyak-banyaknya tentang pengaturan konflik dan bentuk-bentuk akomodatif untuk mengurangi konflik sosial. Perlu mengembangkan keyakinan dan rasa optimis dalam usaha akomodatif untuk mengurangi konflik sosial.

17

DAFTAR PUSTAKA

Mas, Marwan. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Ghalia Indonesia, 2004. Syahrani, Riduan. Rangkuman Intisari Ilmu Hukum Edisi Revisi. Bandung: Citra Aditya Bakti, 2008. Machmudin, Dudu Duswara. Pengantar Ilmu Hukum (sebuah sketsa). Bandung: Refika Aditama, 2003. Sudarsono. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Rineka Cipta, 2001. Kansil, C.S.T. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1983. Daliyo, J.B., S.H. dkk. Pengantar Ilmu Hukum Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996. Mertokusumo, Sudikno. Mengenal Ilmu Hukum. Yogyakarta: Lyberty, 1986. Rohman,Arif, Drs, dkk. 2003. Sosiologi, Klaten : Intan Pariwara

18

Beri Nilai