Anda di halaman 1dari 7

NERACA SUMBER DAYA ALAM

1. Penghitungan Sumber Daya Alam


Penghitungan sumber daya alam dan lingkungan semakin mendapatkan perhatian dari berbagai pihak baik didalam negeri maupun di luar negeri. Namun demikian pemahaman mengenai konsep dan metode penghitungannya masih bervariasi, terutama apabila penghitungan itu mencakup penilaian dalam arti uang. Banyak negara yang sudah menghitung sumber daya alamnya, tetapi dalam arti fisik saja, tetapi banyak pula yang sedang mencoba untuk menghitungnya dalam arti uang. Beberapa pendekatan penghitungan sumber daya alam dan lingkungan yang dapat dibedakan menjadi: Pendekatan pendapatan, pendekatan kesejahteraan, baik dengan penghitungan fisik dan penghitungan moneter. Pada dasarnya penghitungan sumber daya alam dan lingkungan di mulai dari menyajikan besarnya atau volume persediaan sumber daya alam pada awal tahun, dikurangi dengan volume pengambilan, kerusakan dan kehilangan ditambah dengan pertumbuhan baik alami maupun karena usaha manusia atau penemuan baru. Dalam tahap ini tidak seluruhnya mudah dikerjakan, terutama untuk persediaan atau cadangan sumber daya alam, baik sumber daya alam yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui. Data yang relatif mudah didapat adalah data mengenai volume atau banyaknya pengembalian sumber daya alam, karena volume pengambilan sama artinya dengan volume produksi barang sumber daya itu. Selanjutnya volume pertumbuhan dan penemuan baru karena tindakan manusia lebih mudah diketahui, sebab volume tersebut akan memperluas atau menambah cadangan sumber daya alam. Volume pertumbuhan alami biasanya didasarkan pada perkiraan atas dasar penelitian sebelumnya. Demikian pula besarnya kehilangan atau kebakaran sulit diketahui secara pasti, apalagi bila dimaksudkan untuk membuat perkiraan dimasa yang akan datang. Mengenai pencemaran lingkungan data yang diperoleh didasarkan pada perkiraan banyaknya emisi atau buangan limbah cair yang dihasilkan oleh setiap jenis industri. Angka yang pasti juga sulit didapat tetapi dengan menggunakan estimasi dan perhitungan tertentu,

akan dapat diketahui volume pencemaran yang terjadi. Setelah diberikan nilai terhadap volume pencemaran terjadi, akan didapat perolehan tingkat penurunan atau degradasi lingkungan dalam arti finansial. Selanjutnya dengan memasukan nilai deplisi sumber daya alam dan depresiasi sumber daya alam ke dalam nilai Produk Domesti Regional Bruto (PDRB) akan diperoleh nilai Produk Domestik Neto I. Kemudian dengan memasukkan nilai degradasi lingkungan ke dalam nilai Produk Domestik Neto akan diperoleh nilai Produk Domestik Neto yang disesuaikan (Produk Domestik Neto II) Perbedaan dalam penghitungan ini lebih didasarkan dalam latar belakang dan tujuan penghitungan dan sumber daya alam dan lingkungan itu sendiri. Penghitungan sumber daya alam ada yang dimaksudkan sebagai dasar bagi pengelolaan sumerdaya alam dan lingkungan yang dimiliki oleh suatu negara. Sedangkan ada yang dimaksudkan untuk melengkapi informasi sehingga nilai penyusutan sumber daya alam dan degradasi lingkungan dapat diperhitungan dalam nilai Produk Domestik Regional Bruto.

2. Produk Domesti Regional Bruto (PDRB) Hijau


PDRB hijau adalah dana yang potensial didapat atau dikeluarkan bila suatu aktivitas dilakukan. Konsep ini berkaitan erat dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan. Suatu contoh PDRB hijau sebenarnya tidak terlalu sulit. PDRB yang dihitung oleh BPS sebenarnya, seringkali disebut dengan PDRB coklat karena warna uang cenderung coklat. Sedangkan PDRB hijau adalah PDRB yang berkaitan dengan sumber daya alam. Suatu contoh penggalian sirtu (pasir batu), dimana penggalinya akan mendapat uang sebagai upah, juragan akan mendapat uang sebagai laba, dan Pemda akan mendapatkan uang sebagai retribusi atau pajak galian. Nah, uang itu yang masuk dalam perhitungan PDRB oleh BPS (PDRB coklat), yang riil. Sebenarnya, ada satu jenis PDRB lagi, yaitu biaya yang harus dikeluarkan untuk memulihkan kondisi alam yang berubah karena eksploitasi yang dilakukan. Nah, ini yang biasanya disebut sebagai PDRB hijau. Dalam kondisi sekarang, banyak Pemerintah Daerah (Pemda) yang mempersilakan untuk dilaksanakan eksploitasi didaerahnya untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD). Padahal, belum tentu biaya yang didapat sekarang akan lebih profitable daripada biaya untuk memulihkan kerusakan lingkungan yang terjadi.

Pemda harus waspada agar eksploitasi yang dilakukan tidak merusak ekosistem yang ada. Eksploitasi secara berlebih justru akan merusak lingkungan, dan biaya untuk memulihkan lingkungan yang rusak bisa jadi lebih besar daripada PAD yang disumbangkan. Memang sulit untuk menahan godaan rezim kekuasaan yang hanya berumur 5 tahunan, sehingga peningkatan PAD merupakan alat kampanye yang pas untuk jualan. Di sisi lain, instrumen untuk menghitung PDRB hijau juga masih terbatas, sehingga relatif sulit untuk mengetahui berapa potential loss yang dihadapi. Jalan terbaik untuk saat ini adalah

mencoba untuk mengontrol eksploitasi agar tidak berlebihan sekaligus mencoba menyusun instrumen untuk menghitung PDRB hijau.

3. Menentukan Instrumen Penilaian


Dalam setiap kegiatan atau kebijakan selalu timbul adanya biaya dan manfaat sebagai akibat atau kebijakan tersebut. Sebagai dasar untuk menyatakan bahwa suatu kegiatan atau kebijakan itu layak atau tidak layak diperlukan suatu indikasi yang menunjukan suatu nilai atau suatu rasio. Untuk itu diperlukan suatu penilaian atau valuasi ekonomi terhadap dampak suatu kegiatan (kebijakan) terhadap lingkungan. Dampak suatu kegiatan dapat bersifat langsung ataupun tidak langsung, dapat juga dampak itu dinyatakan sebagai dampak primer dan dampak sekunder. Dampak langsung atau dampak primer merupakan dampak yang timbul sebagai akibat dari tujuan utama dari kegiatan atau kebijakan tersebut baik itu berupa biaya ataupun manfaat. Valuasi ekonomi terhadap dampak lingkungan suatu kegiatan atau suatu kebijakan sangat diperlukan, khususnya dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Dalam AMDAL ataupun studi mengenai kelayakan dari suatu kegiatan atau kebijakan pertama kali harus diusahakan untuk memprakirakan dampak fisik apa saja yang secara potensial akan terjadi, yaitu menyusun daftar potensi dampak. Jenis dampak ini akan meliputi dampak fisik-kimia, dampak biologis, dampak sosial ekonomi, dan kesehatan masyarakat. Pendekatan yang dipakai dapat berupa pendekatan sebelum dan sesudah adanya proyek. Dalam prakteknya studi AMDAL masih belum sampai pada perkiraan nilai uang dari suatu dampak, melainkan hanya sampai pada pernyataan apakah dampak itu penting atau tidak penting.

Pada dasarnya sudah ada suatu kriteria apakah suatu dampak itu dikatakan penting atau tidak penting. Suatu dampak terhadap lingkungan dikatakan penting apabila: Manusia yang terkena dampak besar jumlahnya, Wilayah penyebaran dampaknya cukup luas, Dampak yang terjadi sukup lama berlangsung, Intensitas dampak cukup tinggi, Banyak komponen lingkungan lainya yang terkena dampak, Terdapat sifat kumulatif dari dampak tersebut, Dampak itu mengakibatkan tidak dapat dikembalikannya lingkungan ke bentuk atau keadaan asalnya. Pada tingkat makro nilai manfaat dan kerusakan yang timbul dari suatu proyek dapat dinyatakan dalam presentase tertentu dari nilai Produk Domestik Bruto Hijau, sehingga dapat digunakan untuk menyatakan layak atau tidaknya proyek tersebut dari segi ekonomi makro secara keseluruhan. Pada tingkat mikro perhitungan biaya dan manfaat suatu proyek sangat menentukan layak atau tidaknya suatu proyek bagi pelaksana ekonomi / pemrakarsa / sebagai investor individual dan juga bagi masyarakat pada umumnya.

4. Metode Menghitung Nilai Lingkungan


Penentuan nilai atau harga terhadap sumber daya alam dan lingkungan merupakan esensi atau pokok dari ekonomika lingkungan. Tanpa dapat memberikan nilai terhadap lingkungan baik yang berupa manfaat ataupun berupa kerugian atau kerusakan. Usaha dalam mengelola lingkungan sulit dapat dikatakan efisien atau tidak efisien. Untuk mengetahui tingkat efisiensi harus digunakan suatu indikator tertentu, apakah suatu proyek menciptakan manfaat lebih besar daripada biayanya, ataukah proyek yang bersangkutan menghasilkan nilai sekarang neto (net present value = NPV) yang positif; atau menghasilkan interval rate of returns (IRR) yang lebih besar dari tingkat bunga pinjaman investasi atau telah terjadi deplesi sumber daya alam dan degradasi lingkungan. Guna mendapatkan kesimpulan di atas semua dampak yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan baik itu dampak positif maupun dampak negatif sebaiknya dapat dinyatakan dalam

nilai rupiah atau mata uang tertentu. Tanpa menyatakannya dalam nilai uang (rupiah atau dolar) akan sangat sulit untuk menilai layak tidaknya proyek. Ada berapa langkah yang harus ditempuh dalam melakukan valuasi ekonomi terhadap sumber daya alam dan lingkungan: a. Langkah pertama dalam melakukan penilaian adalah mengidentifikasikan dampak penting dari suatu kegiatan atau kejadian. b. Langkah kedua mengkuantifikasi besarnya dampak tersebut; misalnya berapa besar tingkat erosi tanah yang terjadi, berapa volume produksi pertanian yang hilang dan atau berapa energi listrik yang hilang, sehubungan denagn perubahan tingkat erosi tersebut; atau berapa banyak hilangnya produksi ikan karena pendangkalan di pantai akibat erosi tersebut. c. Langkah ketiga, dampak kuantitatif dinyatakan dalam nilai uang (harga). Ini merupakan langkah yang paling sulit dalam proses penilaian lingkungan. d. Langkah keempat, membuat analisis ekonomi, misalnya dengan menggunakan analisis biaya dan manfaat yang diperluas (extended benefit-cost analysis), atau analisis PDRB Hijau.

5. Mengkuantifikasi Dampak Fisik Lingkungan Banyak cara untuk memberikan nilai pada unsur-unsur yang terkena dampak lingkungan dengan diketahuinya nilai dampak lingkungan berupa besarnya pungutan pencemaran yang akan dikenakan terhadap pencipta pencemaran sesuai denganpolutter pays principle. Pada sektor pertambangan energi dapat terjadi dalam beberapa jenis kegiatan, antara lain : Kegiatan pertambangan pada umumnya dibedakan menjadi pertambangan terbuka dan pertambangan tertutup. Manfaat dari kegiatan pertambangan umumnya berupa meningkatnya produksi bahan tambang, penciptaan lapangan kerja dan penciptaan pendapatan baik untuk perusahaan untuk pemerintah maupun untuk para pekerja. Dampak negatif seperti rusaknya bentang lahan yang biasanya berupa hilangnya vegetasi di atas areal pertambangan tersebut. Kegiatan pertambangan selalu melibatkan ala-alat berat dan menggunakan bahan peledak (dinamit), sehingga akan terjadi polusi kebisingan dan mengganggu ketenangan dan pendengaran. Demikian juga sering terjadi limbah

pertambangan (tailings) yang mempengaruhi kualitas sumber daya air. Hilangnya hutan dan buangan limbah pertambangan akan mengganggu keanekaragaman hayati yang pada akhirnya berdampak lingkungan. Pabrik semen yang diketahui mencemari udara karena debu dan partikel-partikel yang dihasilkan melalui emisi udaranya. Dengan adanya emisi debu dan partikel-partikel tersebut akan menimbulkan gangguan kesehatan seperti penyakit saluran pernapasan. Untuk mengetahui nilai pencemaran itu sebagai biaya lingkungan (environmental cost) harus di hitung beban/penderitaan yang ditanggung masyarakat sebagai akibat pencemeran udara tersebut. Nilai total pencemaran lingkungan karena adanya pabrik semen akan dapat dihitung dengan mengalikan nilai jumlah anggota dalam populasi. Disamping hal tersebut di atas, pabrik semen juga banyak menggali batugamping dan tanah liat sehingga diperlukan juga valuasi ekonomi untuk produk ekstraktif tersebut dengan unit rent masing-masing. Indonesia merupakan negara yang memiliki lautan yang cukup luas. Aktifitas pertambangan dan transportasi minyak dengan kapal tangker sering menggunakan perairan laut, dapat terjadi tumpahan minyak ke laut karena pecahnya kapal tangker atau karena sebab lainnya. Minyak yang tumpah tersebut mencemari air laut dan membutuhkan waktu lama untuk penguraiannya. Akibat terakhir dari tumpahan minyak ke laut berupa penghasilan masyarakat dan kesempatan kerja akan merosot. Dalam proyek pembangkit listrik tenaga uap panas bumi, energi yang digunakan terutama adalah tenaga uap yang berasal dari dalam bumi. Setelah melalui proses tertentu sehingga uap air akan menjadi tenaga pembangkit listrik yang utama. Dari segi sumbernya uap air karena panas bumi itu bersifat dapat diperbarui (renewable) sehingga dapat dikatakam tidak ada habisnya. Bersama uap air tersebut selalu mengandung zat belerang dalam kadar tertentu, bila tersebar melalui udara akan mengganggu pernafasan yang membuat manusia dan hewan mengalami gangguan saluran pernafasan. Uap panas bumi dihasilkan akibat dilakukan pengeboran yang sangat dalam. Kegiatan pemboran akan ada biaya alternatif dari lahan yang dipakai sebagai wilayah pengeboran dan operasional proyek listrik tenaga uap tersebut.

6. Kata Akhir

Pemikiran mengenai penghitungan sumber daya alam dan lingkungan berkaitan dengan semakin meningkatnya perhatian dunia terhadap masalah kelangkaan sumber daya alam dan degradasi lingkungan. Pentingnya dilaksanakan penghitungan sumber daya alam dan lingkungan untuk menjamin tercapainya pembangungan yang berkelanjutan. Eksploitasi sumber daya alam akan memberikan dampak positif begitu juga dampak negatif. Identifikasi awal terhadap dampak negatif suatu kegiatan dapat tercermin dari hasil AMDAL. Mengurangi dampak negatif yang kemudian merubah dampak negatif tersebut menjadi dampak positif, itu yang patut dilakukan oleh pelaksana kegiatan dalam mengeksploitasi sumber daya alam. Perlu diingat, bumi ini bukan milik kita, tetapi merupakan pinjaman dari anak cucu kita.