Anda di halaman 1dari 102

DISTRIBUSI KARBONAT FORMASI SANTUL BERDASARKAN DATA LOG DAN SEISMIK PULAU TARAKAN, CEKUNGAN TARAKAN, PROPINSI KALIMANTAN

TIMUR

SKRIPSI

Oleh : OKTAVIANTO SAPUTRA NIM. 111.102.009

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN YOGYAKARTA 2011 i

HALAMAN PENGESAHAN

DISTRIBUSI KARBONAT FORMASI SANTUL BERDASARKAN DATA LOG DAN SEISMIK PULAU TARAKAN, CEKUNGAN TARAKAN, PROPINSI KALIMANTAN TIMUR

SKRIPSI

Oleh : OKTAVIANTO SAPUTRA NIM. . 111.102.009 Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Geologi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Yogyakarta,

September 2011

Menyetujui,

Pembimbing I

Pembimbing II,

Ir.Bambang Triwibowo,MT NIP.19550605 198903 1 001

Dr.Ir.Hendaryono,DEA NIP.19571201 198703 1 001

Mengetahui, Ketua Jurusan

Ir. Sugeng Raharjo,M.T NIP.19581208 199203 1 001

ii

HALAMAN PERSEMBAHAN
Kupersembahkan Skripsi ini Kepada:

Bapak dan Ibuku Tersayang di rumah Yang tanpa lelah memberikan semangat, nasehat, doa, dan motivasi yang tak henti-hentinya dalam penyelesaian skripsi ini.

Saudari-saudariku (Mbak Yayu, Mbak Endah, Wiwin) Terimakasih atas dorongan dan dukungannya.

Sahabat-sahabatku di EME (English Made Easy) Atas bantuan, motivasi dan dorongannya untuk menyelesaikan skripsi ini.

Teman-teman Mahasiswa Teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta Atas pengalaman dan kebersamaan di kampus.

Sahabat-sahabatku di kotaku tercinta Pendopo Terimakasih sahabat.

iii

KATA PENGANTAR
Segala puja dan puji hanyalah milik Allah SWT, karena limpahan rahmat, dan hidayah-Nya penulis diberikan kesempatan dan kemampuan untuk melaksanakan penelitian Tugas Akhir dengan judul DISTRIBUSI

KARBONAT FORMASI SANTUL BERDASARKAN DATA LOG DAN SEISMIK PULAU TARAKAN, CEKUNGAN TARAKAN, PROPINSI KALIMANTAN TIMUR. Mudah-mudahan ini semua bisa menjadi suatu amal ibadah hamba kepada-Mu ya Allah. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang succees leader pembawa cahaya kebenaran Islam. Tiada hal yang patut terucap selain rasa hormat, cinta dan bangga penulis kepada Orang Tua tercinta, yang tak henti-hentinya mendoakan dan memberi dukungan baik moril maupun materiil sehingga penulis bisa tetap semangat dan berjuang keras manggapai harapan dan cita-cita. Semoga penulis bisa segera membalas apa yang telah kalian berikan. Tidak lupa penulis juga sampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Bapak Ir.Bambang Tiwibowo,MT dan Bapak Dr.Ir.Hendaryono,DEA selaku dosen pembimbing penulis dalam penelitian ini, terima kasih banyak pak atas waktu dan bimbingannya. 2. Pak Feriyanto (PT. Medco E & P Indonesia) selaku pembimbing di perusahaan, terima kasih banyak atas segala waktu dan bimbingan yang telah diberikan kepada penulis.

3. Seluruh staff dosen dan staff tata usaha Jurusan Teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta atas segala bantuan dan dukungannya. 4. Sahabat-sahabat saya di EME (English Made Easy) yang selalu memberi dukungan, motivasi dan bantuan, kalian lah yang selalu memberiku keceriaan, memberikan arti persahabatan sejati, semoga kita bisa meraih sukses bersama. 5. Seluruh teman-teman mahasiswa Teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta. iv

6. Rekan-rekan senasib seperjuangan Geologi 2003, semoga kita akan terus kompak. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran yang konstruktif sangat penulis harapkan untuk perbaikan laporan ini. Terakhir penulis berharap laporan ini bisa memberikan membutuhkan. manfaat bagi kalangan ilmiah maupun pihak-pihak yang

Yogyakarta, Agustus 2011

Oktavianto Saputra

SARI
Lokasi penelitian berada di Pulau Tarakan, Formasi Santul, Cekungan Tarakan, Kalimantan Timur. Secara fisiografi, Cekungan Tarakan adalah daerah rendahan sebelah utara Cekungan Kutai, di bagian timur Pulau Kalimantan. Batas Cekungan Tarakan di sebelah utara adalah Tinggian Semporna, di sebelah barat Tinggian Kuching, di sebelah selatan Punggungan Mangkalihat dan cekungan ini terbuka ke arah timur sampai ke Laut Sulawesi. Luas cekungan secara keseluruhan sampai ke daerah lepas pantai Laut Sulawesi adalah 40.000 km2. Cekungan Tarakan terbentuk bersamaan dengan pembentukan Laut Sulawesi yang disebabkan oleh rifting Sulawesi Utara dan Barat dari Kalimantan Timur. Struktur utama di Cekungan Tarakan dan lokasi penelitian adalah lipatan dan sesar yang umumnya berarah baratlaut-tenggara dan timurlaut-baratdaya. Pada penelitian ini menggunakan 7 data log sumur (sumur Mj-1, Mj-2, Mj-3, Mj-4, Mj-5, Mj-7, Mj-8), data mud log, dan data seismik (8 line seismik). Objek penelitian adalah Formasi Santul dengan litologi penyusunnya batupasir, batulempung, dan batugamping. Berdasarkan pola log diketahui bahwa pada daerah telitian terbentuk pada lingkungan pengendapan delta, yaitu daerah garis pantai yang menjorok ke laut, terbentuk oleh adanya sedimentasi sungai yang memasuki laut, danau atau laguna dan pasokan sedimen lebih besar daripada kemampuan pendistribusian kembali oleh proses yang ada pada cekungan pengendapan. Delta terbentuk karena adanya suplai material sedimentasi dari sistem fluvial. Ketika sungai-sungai pada sistem fluvial tersebut bertemu dengan laut, perubahan arah arus yang menyebabkan penyebaran air sungai dan akumulasi pengendapan yang cepat terhadap material sedimen dari sungai mengakibatkan terbentuknya delta. Pola log pada umumnya menunjukkan pola log funnel, yang menunjukkan pola mengkasar ke atas. Bentuk pola ini diasosiasikan sebagai hasil endapan delta front (Serra 1989). Berdasarkan peta kedalaman struktur, struktur yang berkembang pada daerah penelitian adalah sesar-sesar normal atau sesar turun. Berdasarkan peta ketebalan karbonat, di sebelah utara lapisan karbonat tebal dan menipis ke arah selatan. Sumber material berasal dari arah utara menuju selatan.

vi

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................... HALAMAN PENGESAHAN ................................................................ HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................. KATA PENGANTAR ............................................................................ SARI ....................................................................................................... DAFTAR ISI ..................................................................... DAFTAR GAMBAR ........................................................ i ii iii iv vi vii x

BAB I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Penelitian ............................... 1.2.Maksud dan Tujuan Penelitian ...................... 1.3.Waktu dan Lokasi Penelitian ......................... 1.4.Kegunaan Penelitian ....................................... 1 2 2 2

BAB II. KAJIAN PUSTAKA 2.1.Geologi Regional Cekungan Tarakan ............. 2.2.Tektonik Cekungan Tarakan ........................... 2.2.1.Struktur................................................. 2.2.2.Patahan ................................................. 2.2.3.Antiklin ................................................ 2.3.Stratigrafi Cekungan Tarakan ......................... 2.3.1.Pra-Tersier ............................................ 2.3.2.Eosen..................................................... 2.3.3.Oligosen Awal........................................ 2.3.4.Oligosen Akhir-Miosen.......................... 2.4.Geologi Daerah Penelitian ................................ 2.5.Stratigrafi Daerah Penelitian.............................. 2.6.Dasar Teori......................................................... 2.6.1.Pengertian Log ....................................... 4 5 6 7 8 11 11 12 13 13 16 17 18 18

vii

2.6.2.Log Untuk Analisis Lingkungan Pengendapan 2.6.3.Seismik ............................................................ 2.6.3.1.Seismik Fasies ........................................... 2.6.3.2.Stratigrafi Seismik .................................... 2.7.Batuan Karbonat .......................................................... 2.7.1. Klasifikasi Batuan Karbonat ........................... 2.7.2.Fasies Karbonat ............................................... 2.7.3.Lingkungan Pengendapan Karbonat ................ 2.8.Korelasi ........................................................................ 2.9.Fasies dan Lingkungan Pengendapan .......................... 2.9.1.Fasies ................................................................ 2.9.2.Lingkungan Pengendapan ................................ 2.10.Pemetaan Bawah Permukaan ..................................... 2.10.1.Pengertian ...................................................... 2.10.2.Peta Isopach ...................................................

22 25 25 26 26 26 31 32 33 35 35 36 36 36 37

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1.Metode Penelitian ......................................................... 3.2.Tahapan Penelitian ....................................................... 3.2.1.Tahap Pendahuluan .......................................... 3.3.Tahap Analisis dan Pengintegraian .............................. 3.4.Tahap Evaluasi ............................................................. 3.5.Tahap Penyusunan Laporan ......................................... 38 38 38 39 41 42

BAB IV. PENYAJIAN DATA 4.1.Data Primer .................................................................. 4.1.1.Peta Dasar Daerah Telitian .............................. 4.1.2.Data Log Sumur ............................................. 4.2.Data Sekunder .............................................................. 4.2.1.Data Seismik ................................................... 4.2.2.Data Time-Depth Table ................................... 43 43 44 45 45 45

viii

BAB V. ANALISIS DAN PEMBAHASAN 5.1.Analisis Data Log Sumur ............................................. 5.1.1.Analisis Data Log .......................................... 5.1.1.1.Interpretasi Litologi ................................ 5.1.2.Interpretasi Lingkungan Pengendapan .......... 5.2.Korelasi ...................................................................... 5.2.1.Korelasi Struktur ........................................... 5.2.2.Korelasi Stratigrafi ........................................ 5.3.Interpretasi Seismik ................................................... 47 47 47 57 63 63 64 72

5.3.1. Pengikatan Seismik Dengan Sumur (Well Seismik Tie) 73 5.3.2. Picking Horizon dan Struktur......................... 5.4.Pembuatan Peta Bawah Permukaan ............................. 5.5.Interpretasi Geologi Daerah Penelitian ......................... 5.5.1.Sedimentasi Daerah Telitian ............................ 5.5.2.Peta Isopach Karbonat ..................................... 73 82 85 85 87

BAB VI. KESIMPULAN ...............................................................

88

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................

90

ix

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1. : Peta daerah penelitian ............................................... Gambar 2.1. : Elemen-elemen Tektonik dan Tampilan Cross Section Pulau Kalimantan dan Sulawesi (Tongkul, 1991 & Rangin, 1991) .......................................................................... Gambar 2.2. : Peta Geologi Tarakan (Netherwood & Wight 1993) Gambar 2.3. : Peta Tektonik Cekungan Tarakan (BEICIP, 1985).... Gambar 2.4. : Stratigrafi Cekungan Tarakan (Achmad & Samuel, 1984) Gambar 2.5. : Tektonik dan Litostratigrafi Sub-cekungan Tarakan (Biantoro dkk, 1996) .................................................. Gambar 2.6. : Stratigrafi Daerah Penelitian Berdasarkan Sumur Mj-8 (Modifikasi PT Medco E&P 2011)........ Gambar 2.7. : Pola log GR untuk analisis lingkungan pengendapan (Serra,1989).. Gambar 2.8. : Principle carbonate grain types . Gambar 2.9. : Model Lingkungan Pengendapan Karbonat (Reeckmann, 1982).. Gambar 3.1. : Bagan Alir Penelitian ................................................. Gambar 4.1. : Peta Lokasi Sumur ...................................................... Gambar 4.2. : Contoh Log Sumur MJ-1 ............................................ Gambar 4.3. : Contoh Lintasan Seismik Line_151 .. Gambar 5.1. : Log MJ-1 ....................................................................... Gambar 5.2. : Log MJ-2 ....................................................................... Gambar 5.3. : Log MJ-3 ....................................................................... Gambar 5.4. : Log MJ-4 ....................................................................... Gambar 5.5. : Log MJ-5 ....................................................................... Gambar 5.6. : Log MJ-7 ....................................................................... Gambar 5.7. : Log MJ-8 ....................................................................... Gambar 5.8. : Interpretasi Lingkungan Pengendapan Sumur MJ-2.. Gambar 5.9. : Interpretasi Lingkungan Pengendapan Sumur MJ-1.. 33 42 43 44 46 50 51 52 53 54 55 56 59 60 24 28 19 17 9 10 11 15 3

Gambar 5.10.:Interpretasi Lingkungan Pengendapan Sumur MJ-5 ..

61 62 64 65 66 67 68 69 70 71 72 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84

Gambar 5.11.:Interpretasi Lingkungan Pengendapan Sumur MJ-8 .. Gambar 5.12.:Lintasan Korelasi Struktur ............................................. Gambar 5.13.:Lintasan Korelasi Stratigrafi ........................................... Gambar 5.14.:Korelasi Struktur Well Section A .................................... Gambar 5.15.:Korelasi Struktur Well Section B .................................... Gambar 5.16.:Korelasi Struktur Well Section C .................................... Gambar 5.17.:Korelasi Stratigrafi Well Section A .................................. Gambar 5.18.:Korelasi Stratigrafi Well Section B .................................. Gambar 5.19.:Korelasi Stratigrafi Well Section C ................................... Gambar 5.20.:Peta Line Seismic ............................................................. Gambar 5.21.:Interpretasi Seismik Line-101 ......................................... Gambar 5.22.:Interpretasi seismik Line-105 .......................................... Gambar 5.23.:Interpretasi Seismik Line-107 .......................................... Gambar 5.24.:Interpretasi Seismik Line-112 .......................................... Gambar 5.25.:Interpretasi Seismik Line-115 .......................................... Gambar 5.26.:Interpretasi Seismik Line-125 .......................................... Gambar 5.27.:Interpretasi Seismik Line-128 ........................................... Gambar 5.28.:Interpretasi Seismik Line-151 ........................................... Gambar 5.29.:Peta Depth StrukturTop Karbonat ..................................... Gambar 5.30.:Peta Depth Struktur Bottom Karbonat ............................... Gambar 5.31. Peta Isopach Karbonat .......................................................

xi

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Penelitian Industri minyak dan gasbumi dewasa ini terus mengalami perkembangan

dan kemajuan yang sangat pesat. Berbagai pemasalahan yang menyangkut eksplorasi dan produksi hidrokarbon memiliki aspek serta kendala tertentu yang mendorong pesatnya perkembangan penelitian dan pengoptimalan studi cekungan, dalam usaha untuk menemukan lapangan minyak baru atau dalam usaha pengembangan dan optimalisasi produksi pada lapangan yang sudah ditemukan. Dalam beberapa waktu yang lalu metode yang sering dipakai dalam pengembangan lapangan minyak adalah litostratigrafi yang hanya mendasarkan pada karakteristik fisik dari litologi yang memungkinkan ketidaktepatan dalam interpretasi penyebaran fasies secara vertikal maupun lateral. Sikuen stratigrafi memberikan konsep baru dalam menentukan distribusi fasies secara lateral maupun vertikal dengan melakukan pendekatan secara genetik. Sikuen stratigrafi adalah suatu pendekatan berorientasi pada proses untuk menginterpretasi paket sedimenter. Pengetahuan ini memberikan pemahaman atas proses-proses pengendapan dan faktor-faktor yang secara langsung

mempengaruhinya. Oleh karena itu bermanfaat untuk menjelaskan dan menafsirkan kejadiannya, penyebarannya, dan geometri fasies sedimenter tersebut. Stratigrafi sekuen membantu dalam pengenalan dan penafsiran petroleum system meliputi fasies batuan induk, batuan resevoar dan batuan tudung yang pada akhirnya akan mengurangi resiko eksplorasi dan memperbaiki korelasi satuan-satuan reservoir untuk eksploitasi. Untuk bisa menerapkan konsep sikuen stratigrafi diperlukan berbagai data meliputi data well log, seismik, biostratigrafi, maupun data core (batu inti). Metode-metodenya adalah metode terpadu

(integrated) berupa penggabungan berbagai hasil analisis dari tiap-tiap data di atas.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka pada tugas akhir ini masalah yang diangkat adalah DISTRIBUSI KARBONAT FORMASI SANTUL

BERDASARKAN DATA LOG DAN SEISMIK PULAU TARAKAN, CEKUNGAN TARAKAN, PROPINSI KALIMANTAN TIMUR.

1.2.

Maksud dan Tujuan Penelitian Maksud dari kegiatan penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan teori-

teori yang didapat dari perkuliahan dalam industri minyak dan gas bumi. Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah memperoleh distribusi karbonat berdasarkan data log dan seismik di wilayah Pulau Tarakan, Cekungan Tarakan Propinsi Kalimantan Timur.

1.3.

Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan. Waktu penelitian

dilaksanakan pada tanggal 3 Desember 2007 sampai dengan 1 Februari 2008. Sedangkan untuk lokasi penelitiannya dilaksanakan di PT Medco E&P Indonesia di Jakarta (Gambar 1.1).

1.4.

Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat menambah bekal ilmu dan pengetahuan

bagi penulis dalam rangka mempersiapkan diri sebelum terjun ke dunia kerja sebagai seorang ahli geologi. Selain itu, diharapkan hasil penelitian ini mampu memberikan masukan bagi perusahaan dalam penentuan zona prospek hidrokarbon selanjutnya untuk pengembangan lapangan.

Gambar 1.1. Peta Lokasi Daerah Penelitian

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI


Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa kajian pustaka dari hasil penelitian terdahulu serta menggunakan beberapa teori yang digunakan sebagai landasan dalam penelitian ini.

Kajian Pustaka 2.1. Geologi Regional Cekungan Tarakan Cekungan Tarakan merupakan salah satu dari 3 (tiga) Cekungan Tersier utama yang terdapat di bagian timur continental margin Kalimantan (dari utara ke selatan : Cekungan Tarakan, Cekungan Kutai dan Cekungan Barito), yang dicirikan oleh hadirnya batuan sedimen klastik sebagai penyusunnya yang dominan, berukuran halus sampai kasar dengan beberapa endapan karbonat. Secara fisiografi, Cekungan Tarakan adalah daerah rendahan di sebelah utara Cekungan Kutai di bagian timur Pulau Kalimantan yang bersama dengan berbagai cekungan lainnya menjadi pusat pengendapan sedimen dari bagian timur laut Sunda Land selama zaman Kenozoikum. Batas Cekungan Tarakan di bagian barat dibatasi oleh lapisan Pra-Tersier Tinggian Kuching dan dipisahkan dari Cekungan Kutai oleh kelurusan timur-barat Tinggian Mangkalihat (Gambar 5.2). Proses pengendapan Cekungan Tarakan di mulai dari proses

pengangkatan. Transgresi yang diperkirakan terjadi pada Kala Eosen sampai Miosen Awal bersamaan dengan terjadinya proses pengangkatan gradual pada Tinggian Kuching dari barat ke timur. Pada Kala Miosen Tengah terjadi penurunan (regresi) pada Cekungan Tarakan, yang dilanjutkan dengan terjadinya pengendapan progradasi ke arah timur dan membentuk endapan delta, yang menutupi endapan prodelta dan batial. Cekungan Tarakan mengalami proses penurunan secara lebih aktif lagi pada Kala Miosen sampai Pliosen. Proses sedimentasi delta yang tebal relatif bergerak ke arah timur terus berlanjut selaras dengan waktu.

Cekungan Tarakan berupa depresi berbentuk busur yang terbuka ke timur ke arah Selat Makasar atau Laut Sulawesi yang meluas ke utara Sabah dan berhenti pada zona subduksi di Tinggian Semporna dan merupakan cekungan paling utara di Kalimantan. Tinggian Kuching dengan inti lapisan Pra-Tersier terletak di sebelah baratnya, sedangkan batas selatannya adalah Punggungan Suikersbood dan Tinggian Mangkalihat. Ditinjau dari fasies dan lingkungan pengendapannya, Cekungan Tarakan terbagi menjadi empat sub cekungan, yaitu Tidung Sub-basin, Tarakan Sub-basin, Muara Sub-basin dan Berau Sub-basin. 1. Tidung Sub-basin Terletak paling utara, terisi sedimen berumur Oligosen sampai Miosen Akhir. Dipisahkan dengan Berau sub-basin di bagian selatan oleh Sekatak Ridge. 2. Berau Sub-basin Terletak pada bagian selatan, terisi oleh sedimen berumur Eosen Akhir sampai Miosen Akhir. 3. Tarakan Sub-basin Terletak pada bagian tengah dan merupakan sub cekungan paling muda. Perkembangan paling utara ke arah lepas pantai dan terisi dengan Formasi Tarakan-Bunyu yang berumur Miosen Akhir. 4. Muara Sub-basin Merupakan deposenter paling selatan dan perkembangan sedimennya ke arah lepas pantai di utara Tinggian Mangkalihat. Dipisahkan dengan Berau sub-basin, di utaranya oleh Suikerbrood Ridge yaitu suatu Tinggian yang berarah Barat- Timur.

2.2.

Tektonik Cekungan Tarakan Cekungan Tarakan terbentuk bersamaan dengan pembentukan Laut

Sulawesi yang disebabkan oleh rifting Sulawesi Utara dan Barat dari Kalimantan Timur (Hamilton, 1979). Laut Sulawesi tersusun oleh kerak samudra Pasifik Tua, yang terperangkap oleh belokan Pulau Sulawesi ke arah barat hasil spear-heading

naik ke arah barat sepanjang sistem sesar transform Sorong. Di bagian barat pinggiran laut Sulawesi, sesar-sesar normal dan lembah-lembah membentuk lereng (slope) kontinental Kalimantan (Hamilton, 1979), termasuk di dalamnya adalah bagian timur dari Cekungan Tarakan. Terbukanya Laut Sulawesi diinterpretasikan mempunyai kesamaan dengan periode tektonik terbukanya Laut Cina Selatan (Rangin, 1991). Meskipun demikian, sampai saat ini belum pernah dipublikasikan bukti-bukti pengaruh langsung terbukanya Laut Cina Selatan pada geologi daerah Tarakan. Peregangan (extension) dan penurunan (subsidence) dimulai Eosen Tengah sampai Akhir dan berhenti pada akhir Miosen Awal. Fase tektonik ektensional ini membuat Cekungan Tarakan membuka ke arah timur, ditunjukkan oleh keberadaan en-enchelon block faulting yang mempunyai kemiringan ke timur (Gambar 2.1). Tektonik Cekungan Tarakan menjadi lebih stabil mulai Miosen Tengah Atas sampai Pliosen dengan pengendapan sedimen deltaik yang berasal dari sebelah barat melalui beberapa sistem drainase. Selama fase ini kombinasi penurunan cekungan dan gravity-induced listric-faulting telah memperbesar ruang akomodasi cekungan sehingga dapat mengendapkan volume sedimen deltaik yang signifikan. Fase tektonik terakhir adalah reaktifisasi dari pergerakan transform sepanjang wrench fault yang memotong Selat Makasar mulai Pliosen Atas dan berlanjut sampai saat ini. Transgresi selama periode ini menghasilkan pembentukan busur-busur (arches) Sebatik, Ahus, Bunyu, Tarakan, dan Latih. Dari data Ro, porositas dan seismik, diperkirakan 1000-1500 m struktur inversi telah terjadi selama pembentukan busur.

2.2.1. Struktur Struktur utama di Cekungan Tarakan adalah lipatan dan sesar yang umumnya berarah baratlaut-tenggara dan timurlaut-baratdaya. Terdapat pola deformasi struktur yang meningkat terutama sebelum Miosen Tengah bergerak ke bagian utara cekungan. Struktur-struktur di Sub-cekungan Muara dan Berau mengalami sedikit deformasi, sementara di Sub-cekungan Tarakan dan Tidung

lebih intensif terganggu (Ahmad dkk, 1984). Sub-cekungan Berau dan Muara didominasi oleh struktur-struktur regangan yang terbentuk oleh aktifitas tektonik semasa Paleogen, sementara intensitas struktur di Sub-cekungan Tarakan dan Tidung berkembang oleh pengaruh berhentinya peregangan di Laut Sulawesi yang diikuti oleh aktifitas sesar-sesar mendatar di fasa akhir tektonik Tarakan (Fraser dan Ichram, 1999).

2.2.2. Patahan Di Cekungan Tarakan terdapat 3 sinistral wrench fault yang saling sejajar dan berarah baratlaut-tenggara, yakni: Sesar Semporna yaitu sesar mendatar yang berada di bagian paling utara, memisahkan kompleks vulkanik Semenanjung Semporna dengan sedimen neogen di Pulau Sebatik. Sesar Maratua sebagai zona kompleks transpresional membentuk batas Subcekungan Tarakan dan Muara Sesar Mangkalihat Peninsula, yang merupakan batas sebelah selatan SubCekungan Muara bertepatan dengan garis pantai utara Semenanjung Mangkalihat dan merupakan kemenerusan dari Sesar Palu-Koro di Sulawesi. Struktur sesar tumbuh (growth fault) paling umum terdapat di Sub-cekungan Tarakan dengan arah utara-baratlaut (di selatan) dan timurlaut (di utara) dengan perubahan trend yang diperlihatkan oleh perubahan orientasi garis pantai pada mulut Sungai Sesayap, dari utara-baratlaut di selatan Pulau Tarakan ke arah timurlaut di utara Pulau Bunyu (Wight, dkk. 1993). Kelompok sesar yang berarah utara lebih menerus dan mempunyai offset terbesar. Di daerah daratan (onshore), yang melingkupi sub-sub cekungan Tidung, Berau, dan Tarakan, peta geologi permukaan menunjukkan adanya 2 rejim struktur yang berbeda antara daerah Sekatak-Bengara (Sub-cekungan Berau) dengan daerah Simenggaris (Sub-cekungan Tidung). Di Sekatak-Bengara sesarsesar turun dan mendatar berarah utara dan baratlaut mendominasi terutama karena yang tersingkap di permukaan umumnya adalah endapan-endapan paleogen. Sementara di daerah Simenggaris sesar-sesar turun dan mendatar

berarah timurlaut mendominasi permukaan geologi yang ditempati oleh endapanendapan Neogen. Di sebelah timur Pulau Tarakan terdapat trend struktur sesar tumbuh yang berarah utara-selatan dan makin ke timur lagi terdapat zone shale diapir dan thrusting. Jalur seismik regional yang menerus sampai ke lepas pantai memperlihatkan tipe struktur dari rejim ekstensional dan sistem sesar utara-selatan tersebut. Progadasi delta ke arah timur dan forced-regression selama turunnya muka laut mengendapkan batuan reservoar di daerah lereng kontinental dalam suatu rejim sesar-anjak di muka delta (toe-thrusting system).

2.2.3. Antiklin Selain struktur sesar, di Cekungan Tarakan berkembang 5 buah arch (busur) atau antiklin besar terutama di bagian barat. Dari utara ke selatan busurbusur tersebut dinamakan Busur Sebatik, Ahus, Bunyu, Tarakan dan Latih. Busurbusur tersebut sebenarnya adalah tekukan menunjam (plunging flexure) yang besar berarah tenggara dibentuk oleh transpresi timurlaut-baratdaya dan berorientasi utara baratlaut selatan tenggara. Umur dari kompresi makin muda ke arah utara. Intensitas lipatan juga meningkat ke arah utara dimana busur yang makin besar di lepas pantai menghasilkan lipatan yang tajam dan sempit di daratan, yaitu di daerah Simenggaris. Busur Latih dan antiklin-antiklin kecil yang berkembang di bagian selatan dari Cekungan Tarakan (Sub-cekungan Muara) juga mempunyai orientasi baratlaut-tenggara. Antiklin-antiklin minor di selatan ini merupakan struktur inversi, dimana di bagian intinya ditempati oleh lempung laut dalam Eosen sampai Miosen Akhir dan batugamping turbidit yang ketat (Wight dkk., 1993).

Gambar 2.1. Elemen-elemen Tektonik dan Tampilan Cross Section Pulau Kalimantan dan Sulawesi (Tongkul 1991&Rangin, 1991)

Gambar 2.2. Peta Geologi Tarakan (Netherwood & Wight 1993)

10

Gambar 2.3. Peta Tektonik Cekungan Tarakan (BEICIP, 1985) 2.3. Stratigrafi Cekungan Tarakan Stratigrafi di Cekungan Tarakan diendapkan di atas batuan Pra-Tersier dan terdiri dari beberapa siklus transgresi-regresi, yang pada dasarnya dapat dibagi menjadi 2 daerah utama, yaitu daerah Berau-Muara dan Tidung-Tarakan. Masingmasing siklus dimulai dengan batuan sedimen tertua (Paleosen sampai Eosen Akhir) yang tersingkap di Sub-cekungan Berau, diakhiri oleh vulkanisme, pengangkatan dan ketidakselarasan (Gambar 2.4). Semua post rift sekuen stratigrafi umumnya terdiri lingkungan yang mendangkal ke atas dimulai dengan endapan klastik Eosen sampai karbonat Oligosen dan menjadi makin klastik kembali selama Miosen sampai Pleistosen. Beberapa genang laut menandai bagian tengah dari masing-masing siklus. 2.3.1. Pra-Tersier (Formasi Danau Bengara) Batuan dasar Pra-Tersier disebut sebagai Formasi Danau, terdiri dari sedimen yang termetamorfkan dan kemungkinan berumur Pra-Tersier (Gambar 2.4).

11

Batuan Pra-Tersier ini terdiri dari selang-seling batupasir mikaan dengan batusabak abu-abu gelap dan napal serta mengandung sejumlah lapisan chert di bagian atasnya. Batuan ini tersingkap di daratan bagian barat tepi cekungan. Sampai sekarang belum ditemukan adanya mineral yang komersial dan potensi hidrokarbon di batuan dasar ini. Selain Formasi Danau di Sub-cekungan Tidung, basementnya tersusun juga oleh Formasi Bengara yang terdiri dari unit batuan yang termetamorfkan, ada slickeinsides dan kaya urat kwarsa. Formasi ini terdiri dari batupasir vulkanik dan lempung lanauan.

2.3.2. Eosen (Formasi Sembakung dan Sujau) Di atas batuan dasar diendapkan secara tidak selaras sedimen berumur Eosen Awal sampai Eosen Tengah yang dikenal sebagai Formasi Sembakung, terdiri dari material klastik perselingan batupasir, batulempung lanauan dan batuan vulkanik yang diendapkan dalam rift setting. Formasi Sembakung secara tidak selaras ditutupi oleh Formasi Sajau berumur Miosen Akhir, yang terdiri dari endapan klastik kasar, yaitu batupasir basalt berukuran kasar dengan reservoar buruk. Formasi Sembakung adalah unit sedimen berumur Eosen yang terdiri dari material klastik dan vulkanik yang diendapkan dalam setting syn rift. Di Sub-cekungan Tidung ditemukan fasies batugamping foraminifera dengan selang-seling batupasir dan serpih, yang menunjukkan lingkungan paparan laut dangkal. Batugamping Seilor diendapkan terutama di sub-cekungan Muara. Sedimen Eosen Akhir diwakili oleh Formasi Sujau yang terletak secara tidak selaras pada formasi-formasi yang lebih tua (Danau atau Sembakung). Tersusun oleh klastik kasar (konglomerat, batupasir dan vulkanik) yang diperkirakan lebih dari 1000 meter tebalnya dalam singkapan. Formasi ini terlipat kuat dan tersingkap di Sub-cekungan Tidung. Lapisan batubara, berselingan dengan batugamping tipis dan napalan sangat umum dijumpai. Keberadaan Foraminifera planktonik dari bagian atas sikuen mengindikasikan umur Eosen Akhir.

12

2.3.3. Oligosen Awal (Seilor, Mangkabua) Batupasir basalt kasar dengan sifat reservoar yang buruk dari Formasi Sujau menberikan jalan secara vertikal kepada serpih marine dan akhirnya kepada regional karbonat mikritik dan dolomitik dari Formasi Seilor. Karbonat ini secara vertikal dan lateral masuk ke dalam serpih basinal dan napal dari Formasi Mangkabua. Ketidakselarasan Oligosen Akhir mengerosi beberapa bagian atas dari sikuen Oligosen Bawah. Interval Oligosen dan Eosen Akhir umumnya tertektonik meskipun samasekali bukan sebagai paket Eosen Awal (BEICIP, 1985). Sedimen karbonat shelf dari Formasi Seilor didistribusikan di bagian selatan dan barat dari Cekungan Tarakan. Batugamping Seilor terutama terdiri dari batugamping mikritik dan berubah ke atas dan ke arah dalam cekungan menjadi napal masif tebal dari Formasi Mangkabua (Achmad & Samuel, 1984). Keberadaan Nummulites, Eulipidina dan Lepidocyclina pada Formasi Seilor Menunjukkan dengan jelas umur Oligosen Awal (Tcd). Endapan basinal Formasi Mangkabua secara lokal terdapat di bagian timur, di mana terdiri dari perselingan serpih, batulanau dan sedikit napal dengan batulanau karbonatan, packstone, dan boundstone. Jauh ke selatan Mangkabua ekivalen dengan Formasi Sembulu di sepanjang batas utara dari Cekungan Kutai. Lensa batugamping Lepidocyclina terdapat di sebagian Formasi Seilor, berupa batugamping berfosil, wackstone sampai packstone yang mengandung algae, foraminifera dan masif koral keras. Batugamping terumbu kristalin dengan porositas rendah berada di tempat ini (Rustam, 1971). Meskipun endapan klastik darat tidak umum ditemukan, beberapa lava dan endapan piroklastik ditemukan di sebelah barat disuplai dari Sekatak-Berau Ridge.

2.3.4. Oligosen Akhir-Miosen (Formasi Jelai, Tempilan, Tabalar, Birang, Naintupo, Mesaloi) Di bagian barat endapan vulkaniklastik dari Formasi Jelai terakumulasi selama Oligosen Akhir. Lebih jauh material vullkanik ditransportasi ke arah dalam cekungan menghasilkan batupasir basalt vulkanik dan batubara dari Formasi

13

Tempilan yang diendapkan pada ketidakselarasan Oligosen Akhir. Secara lateral berubah ke arah selatan menjadi Formasi Tabalar, sebuah sikuen karbonat platform yang menghasilkan marker regional seismik yang bagus. Breksi vulkanik dari Formasi Jalai ditemukan di bagian barat dari sub-cekungan Tidung, mempunyai umur antara Oligosen Akhir sampai Miosen Awal (Hidayat,et al, 1992). Selang seling tuff dan lava terdapat dalam formasi ini. Unit breksi terdiri dari fragmen batuan beku basaltik dengan batulanau dan matriks batupasir tufaan. Sumber material ini berasal dari busur gunung api vulkanik Dent. Formasi Tempilan terdiri dari selang-seling lapisan tipis batubara, tuff, serpih dan lapisan batubara yang diendapkan secara tidak selaras di atas formasi yang lebih tua (Achmad & Samuel, 1984). Secara lokal ditemukan di bagian tepi cekungan sebelah barat. Foraminifera besar (Lepidocyclina, Heterostegina) yang ada dalam formasi ini menunjukkan umur Oligosen Akhir (Van Der Vlerk, 1925). Formasi Tabalar diwakili sekuen karbonat platform dengan lokal terumbu dan diendapkan secara selaras di atas Formasi Tempilan dan secara lokal kemungkinan diendapkan tidak selaras di atas Formasi Seilor. Formasi Tabalar didominasi oleh batugamping mikritik yang berumur Oligosen Akhir-Miosen Awal, Formasi ini menyebar luas di atas hampir semua di daerah daratan dan pantai terutama bagian selatan Cekungan Tarakan.

14

Gambar 2.4. Stratigrafi Cekungan Tarakan (Achmad & Samuel, 1984)

15

2.4.

Geologi Daerah Penelitian Pulau Tarakan berada kira-kira 1 sampai 2 kilometer dari Kalimantan

sebelah Timur Laut. Pulau Tarakan terletak di Barat-Tengah dari Cekungan Tarakan yang berisi mungkin 10.000 meter sedimen tersier. Perkembangan struktur-struktur di Sub-cekungan Tarakan, Cekungan Tarakan berlangsung dalam beberapa tahapan yang mempengaruhi pengendapan sedimen pada area tersebut. Konfigurasi secara struktural sudah dimulai oleh rifting sejak Eosen Awal, menyebabkan perkembangan dari graben-graben dan horst-horst yang

tersesarkan. Pada graben-graben ini terdapat sedimen-sedimen tertua pada subcekungan ini, seperti Formasi Sembakung yang terkompaksi kuat. Meskipun sedimen-sedimen Pra-Tersier tidak terpenetrasi pada banyak sumur yang dibor pada daerah tersebut, seismik yang dilakukan dapat mendeteksi keberadaan sedimen-sedimen tersebut (Biantoro dkk., 1996). Aktivitas Tektonik pada Pliosen Akhir-Pleistosen bersifat kompresif dan menghasilkan sesar-sesar strike-slip (Gambar 2.5). Di beberapa tempat, kompresi ini menginversikan sesar-sesar normal menjadi sesar-sesar naik (Biantoro dkk., 1996). Sedimen di Pulau Tarakan diawali dengan pengendapan Formasi Sesanip pada kala Miosen. Litologinya terdiri atas dominan lempung/serpih tebal dengan beberapa sisipan tipis batugamping, batupasir ukuran halus sampai sedang dan batulanau yang terendapkan pada lingkungan laut sampai transisi. Di atasnya diendapkan Formasi Tarakan pada kala Pliosen yang merupakan endapan progradasi delta dari arah barat (dari sungai Sesayap) menebal ke arah timur. Litologinya didominasi oleh pasir kwarsa ukuran sedang sampai kasar dengan sisipan-sisipan marker batubara dan lapisan tipis lempung. Struktur geologi di Pulau Tarakan didominasi oleh struktur sesar yang diakibatkan oleh aktivitas tektonik pada kala Plio-Pleistosen. Sesar-sesar tersebut mempunyai arah umum utara-selatan membentuk pola struktur enecholon. Pada umumnya sesar yang ada merupakan sesar turun.

16

Gambar 2.5. Tektonik dan Litostratigrafi Sub-cekungan Tarakan (Biantoro dkk, 1996)

2.5.

Stratigrafi Daerah Penelitian Stratigrafi daerah telitian terdiri dari Formasi Santul dan Formasi Tarakan.

Formasi Santul berumur Miosen Tengah-Miosen Akhir. Formasi Tarakan berumur Pliosen-Miosen Tengah. Hasil analisis dan interpretasi log dan mud log pada sumur mj-2, didapatkan : 1. Formasi Santul (Miosen Tengah-Miosen Akhir) Formasi Santul terdiri dari batupasir (Batupasir; fine-medium grained, hard, calcareous, fair porosity), claystone dan limestone (Limestone; grey, brittle, forams). Dilihat dari pola log dan litologi, Formasi ini diendapkan di lingkungan pengendapan delta plain-delta front (Gambar 2.6).

17

2. Formasi Tarakan (Pliosen-Miosen Tengah) Formasi Tarakan terdiri dari batupasir (Batupasir; very fine grainedmedium grained, uncosolidated, carbonaceaous) dan konglomerat (white qtz grs & rock fragmens, gy-grn ss, mdium, prly srtd, angular-rounded) dengan lapisan batubara dan claystone (Claystone; little grey-little brown, foram, silty). Dilihat dari litologi dan pola log, Formasi Tarakan ini diendapkan di lingkungan pengendapan fluvial dan delta plain.

18

Gambar 2.6. Stratigrafi Daerah Penelitian Berdasarkan Sumur Mj-8 (Modifikasi PT Medco E&P 2011) 19

1.6.

Dasar Teori Teori-teori yang menjadi dasar dalam penelitian ini meliputi pengertian

log, dan jenis-jenis log.

1.6.1. Pengertian Log Log adalah suatu grafik kedalaman (bisa juga waktu) dari satu set data yang menunjukkan parameter yang diukur secara berkesinambungan di sebuah sumur (Harsono,1997) serta memiliki dua fungsi utama yaitu : a. b. Mempelajari korelasi dan stratigrafi. Evaluasi litologi dan fluida pada formasi.

Logging adalah suatu kegiatan pengukuran parameter-parameter fisika dari batuan. Sedangkan data yang dihasilkan berupa log yang berarti suatu gambar kedalaman (kadang-kadang terhadap waktu) dari suatu perangkat kurva yang mewakili parameter-parameter yang diukur secara menerus di dalam suatu sumur (Schlumberger, 1986). Parameter-parameter yang diukur dalam logging : 1. Sifat kelistrikan batuan (Spontaneous Potential). Daya hantar listrik. Tahanan jenis batuan.

2. Sifat keradioaktifan. 3. Sifat kemenerusan gelombang suara (sonic/akustik). Sedangkan parameter-parameter yang mempengaruhi proses logging : 1. Porositas dan permeabilitas. 2. Kejenuhan air. 3. Tahanan jenis batuan. Jenis-jenis log yang sering digunakan antara lain : 1. Log Spontaneous Potential (SP). Pada zona lempung kurva SP menunjukkan garis lurus yang disebut Shale base line. Pada formasi yang permeabel kurva SP menjauh dari garis lempung dan pada zona permeabel yang cukup tebal, kurva SP mencapai suatu garis konstan.

20

2. Log Gamma Ray (GR).


Log Gamma Ray digunakan untuk mendeteksi lempung pada suatu formasi, karena sebagian besar unsur radioaktif terkonsentrasi di mineral lempung. Formasi lempung yang kedap mempunyai sifat radioaktivitas tinggi dan kurva lognya kearah kanan. 3. Log Resistivitas. Log ini digunakan untuk :

Mendeteksi kandungan fluida dalam batuan reservoar (hidrokarbon atau air). Mengidentifikasi zona permeable. Menentukan porositas. Log induksi Short Normal. Log Induksi Dual Induction Focused Log.

Tipe-tipe log resistivitas :

Log Elektroda. Lateralog. Microspherically Focused Log (MSFL). Microlog (ML). Microlateralog (MLL) dan Proximity Log (PL).

4. Log Densitas
Merupakan suatu log porositas yang mengukur densitas elektron suatu formasi. Log ini berguna untuk :

Menentukan porositas. Identifikasi litologi : dengan cara penggabungan log densitas, netron, sonik dalam cross plot, M N (AK) atau M/D. Identifikasi adanya kandungan gas : dengan penggabungan log densitas dan log netron. Adanya sparasi positif (D > N) yang lebar antara log densitas dan netron menunjukkan adanya kandungan gas.

21

Menentukan densitas hidrokarbon.

5. Log Netron.
Merupakan tipe log porositas yang mengukur konsentrasi ion hydrogen dalam suatu formasi. Didalam suatu formasi bersih yang diisi air atau minyak, log netron mencatat porositas yang diisi cairan. Log ini berguna untuk :

Menentukan porositas : mendeteksi kandungan air dalam partikelpartikel lempung sebagai porositas. Identifikasi litologi : dengan penggabungan log densitas, netron dan sonik dalam cross plot M N atau M/D. Identifikasi adanya gas : dengan penggabungan log netron dan densitas. Adanya gas ditunjukkan harga porositas densitas (d) yang jauh lebih besar dari porositas netron (n).

6. Log Sonik.
Merupakan suatu log porositas yang mengukur interval waktu lewat (t) dari suatu gelombang suara kompresional untuk melalui suatu feet formasi. Interval waktu lewat dengan satuan mikrodetik per kaki merupakan kebalikan kecepatan gelombang suara kompresional (feet per detik). Harga (t) tergantung pada litologi dan porositas.

Log ini berguna untuk : Menentukan porositas. Identifikasi litologi

2.6.2. Log Untuk Analisis Lingkungan Pengendapan Log yang digunakan untuk analisis lingkungan pengendapan adalah log Gamma Ray (GR). Menurut Serra (1989) data log sumur dapat dikenali dari pola dasar yang berkaitan atau bahkan merupakan karakterisitik dari suatu fasies dan lingkungan pengendapannya. Adapun bentuk-bentuk pola (Gambar 2.7) dapat dibedakan menjadi 5, yaitu:

22

1.

Pola Log Blocky (cylinder) Bentuk pola log blocky merupakan bentuk pola yang

mempresentasikan homogenitas reservoar dengan sifatnya yang ideal. Bentuk seperti ini diasosiasikan dengan endapan sediment braided channel, eustarine, sub-marine channel fill, anastomosed channel dan eolian dune. 2. Pola Log Serrated Bentuk pola log yang mempresentasikan heterogenitas reservoar. Bentuk pola log ini diasosiasikan dengan endapan sedimen alluvial plain, flood plain, tidal sand, shelf atau back barrier. 3. Pola Log Bell Pola log bell merupakan bentuk pola dengan gradasi menghalus ke atas. Pada kisaran ukuran butir yang sama, dapat terlihat bentuk pola seperti ini apabila semakin ke arah atas dijumpai kandungan lempung yang memiliki tingkat radioaktif tinggi. Bentuk pola seperti ini diasosiasikan sebagai hasil endapan point bar, tidal deposit, transgressive shelf sand, submarine channel atau turbidit. 4. Pola Log Funnel Bentuk pola log funnel merupakan bentuk pola yang berkebalikan dengan bentuk pola bell, di mana bentuk ini diasosiasikan sebagai gradasi butir mengkasar ke atas. Pada kisaran ukuran butir yang relatif sama, dapat menunjukkan pola gradasi mengkasar ke atas apabila pada bagian bawah dijumpai kandungan lempung dengan tingkat radioaktifitas tinggi. Bentuk pola seperti ini diasosiasikan sebagai hasil endapan delta front, distributary mouth bar, creavasse splay, beach, barrier beach, strain plain, shoreface, progading shelf atau submarine fan lobe. 5. Pola Log Symmetrical-asymmetrical Bentuk symmetrical merupakan keserasian bentuk bell dengan funnel. Kombinasi ini dapat dihasilkan dari endapan shelf sand, sub marine fan, ataupun sandy offshore bars. Sedangkan bentuk asymmetrical merupakan ketidakserasian secara proposional dari kombinasi bell dengan funnel, yang

23

dapat juga dihasilkan dari lingkungan pengendapan yang sama dengan bentuk symmetrical.

Gambar 2.7. Pola log GR untuk analisis lingkungan pengendapan (Serra,1989) 24

2.6.3. Seismik Pada pekerjaan seismic cukup sederhana. Dimana energi yang dihasilkan dari sumber yang dipancarkan kedalam bumi sebagai gelombang seismic pada saat bertemu dengan bidang pelapisan berfungsi sebagai reflector dan akan kembali memantul ke permukaan dan kemudian dideteksi oleh geophone yang terdapat dipermukaan bumi. Jenis seismic ada 2 macam, yaitu : 1. Seismik bias ( refraction ), digunakan untuk penelitian yang dangkal (< 30 km). 2. Seismik pantul ( reflection ), digunakan untuk penelitian yang dalam (> 30 km). 2.6.3.1. Seismik Facies Adalah unit dimana seismic refleksi mempunyai ciri ciri: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kontinuitas refleksi. Konfigurasi refleksi. Geometri luar. Amplitudo dalam bentuk gelombang. Frekuensi. Kecepatan interval.
Konfigurasi refleksi adalah bentuk permukaan yang memberikan refleksi. Teknik interpetasi mencakup:

o o o

Korelasi dengan sumur pengikat. Penentuan horizon yang dipetakan. Tracing atau mengikuti lapisan yang dipetakan sepanjang data seismic yang diberi warna tertentu.

Seluruh garis seismik yang telah ditrace, harga two way travel time (TWT) yang didapatkan diplot pada peta dasar seismic dan titik yang sama akan dihubungkan untuk memberikan garis kontur.

25

2.6.3.2. Stratigrafi Seismik Yaitu cabang dari stratigrafi yang mempelajari pola pengendapan berdasarkan data seismik. Kenampakankenampakan yang dipakai dalam seismic stratigrafi adalah : o Terminasi reflector seismic : onlap, downlap, toplap, erosional truncation. o Karakter reflector seismic seperti : Kontinuitas , flat, dipping, cliniform.

2.7.

Batuan Karbonat Pengontrol Pengendapan Karbonat : a. Letak geografis dan iklim Carbonate deposits banyak diendapkan pada lingkungan di sekitar equatorial, yaitu pada aliran air hangat beriklim tropis, mencakup wilayah 40 Lintang Utara sampai 40 Lintang Selatan. Karbonat dapat terbentuk pada iklim subtropik apabila terdapat aliran air hangat (gulf stream). b. Penetrasi cahaya dan pengaruh sedimen asal darat Intensitas cahaya matahari yang cukup dapat membantu organisme laut untuk melakukan fotosintesis dengan baik. Cahaya matahari yang masuk ke dasar laut erat hubungannya dengan kedalaman dan kejernihan air laut. Pada kedalaman laut yang besar (lebih dari 200m) dan kondisi air yang keruh akan mengurangi kemampuan cahaya untuk mencapai dasar lautan. Pengendapan karbonat tidak berlangsung dengan baik apabila terpengaruh oleh sedimen klastik asal darat, karena akan mempengaruhi kejernihan air. c. Salinitas Keanekaragaman dan kelimpahan organisme penyusun karbonat sangat dipengaruhi oleh derajat keasaman air laut. Derajat keasaman air laut yang tinggi dan tekanan rendah akan meningkatkan proses pertumbuhan organik dan penambahan konsentrasi karbonat.

26

Batuan karbonat adalah batuan dengan kandungan material karbonat lebih dari 50 % yang tersusun atas partikel karbonat klastik yang tersemenkan atau karbonat kristalin hasil presipitasi langsung (Rejers & Hsu, 1986). Bates & Jackson (1987) mendefinisikan batuan karbonat sebagai batuan yang komponen utamanya adalah mineral karbonat dengan berat keseluruhan lebih dari 50 %. Sedangkan batugamping menurut definisi Reijers &Hsu (1986) adalah batuan yang mengandung kalsium karbonat hingga 95 %. Sehingga tidak semua batuan karbonat adalah batugamping. Menurut Tucker (1991), komponen penyusun batugamping dibedakan atas non skeletal grain, skeletal grain, matrix dan semen (Gambar 2.8). 1. Non Skeletal grain, terdiri dari : a. Ooid dan Pisoid. Ooid adalah butiran karbonat yang berbentuk bulat atau elips yang punya satu atau lebih struktur lamina yang konsentris dan mengelilingi inti. Inti penyusun biasanya partikel karbonat atau butiran kuarsa (Tucker, 1991). Ooid memiliki ukuran butir < 2 mm dan apabila memiliki ukuran > 2 mm maka disebut pisoid. b. Peloid adalah butiran karbonat yang berbentuk bulat, elipsoid atau merincing yang tersusun oleh mikrit dan tanpa struktur internal.

Ukuran peloid antara 0,1 0,5 mm. Kebanyakan peloid ini berasala dari kotoran (faecal origin) sehingga disebut pellet (Tucker 1991). c. Agregat dan Intraklas.Agregat merupakan kumpulan dari beberapa macam butiran karbonat yang tersemenkan bersama-sama oleh semen mikrokristalin atau tergabung akibat material organik. Sedangkan intraklas adalah fragmen dari sedimen yang sudah terlitifikasi atau setengah terlitifikasi yang terjadi akibat pelepasan air lumpur pada daerah pasang surut atau tidal flat (Tucker,1991).

27

Gambar 2.8. Principle carbonate grain types 2. Skeletal Grain. Skeletal grain adalah butiran cangkang penyusun batuan karbonat yang terdiri dari seluruh mikrofosil, butiran fosil, maupun pecahan dari fosil-fosil makro. Cangkang ini merupakan allochem yang paling umum dijumpai dalam batugamping (Boggs, 1987). Komponen cangkang pada batugamping juga merupakan penunjuk pada distribusi invertebrata penghasil karbonat sepanjang waktu geologi (Tucker, 1991). 3. Lumpur Karbonat atau Mikrit. Mikrit merupakan matriks yang biasanya berwarna gelap. Pada batugamping hadir sebagai butir yang sangat halus. Mikrit memiliki ukuran butir kurang dari 4 mikrometer. Pada studi mikroskop elektron menunjukkan bahwa mikrit tidak homogen dan menunjukkan adanya ukuran kasar sampai halus dengan batas antara kristal yang berbentuk planar, melengkung, bergerigi ataupun tidak teratur. Mikrit dapat mengalami alterasi dan dapat tergantikan oleh mozaik mikrospar yang kasar (Tucker, 1991).

28

4. Semen. Semen terdiri dari material halus yang menjadi pengikat antar butiran dan mengisi rongga pori yang diendapkan setelah fragmen dan matriks. Semen dapat berupa kalsit, silika, oksida besi ataupun sulfat.

2.7.1. Klasifikasi Batuan Karbonat 1. Klasifikasi Dunham (1962) Klasifikasi ini didasarkan pada tekstur deposisi dari batugamping, karena menurut Dunham dalam sayatan tipis, tekstur deposisional merupakan aspek yang tetap. Kriteria dasar dari tekstur deposisi yang diambil Dunham (1962) berbeda dengan Folk (1959). Kriteria Dunham lebih condong pada fabrik batuan, misal mud supported atau grain supported bila bandingkan dengan komposisi batuan. Variasi kelas-kelas dalam klasifikasi didasarkan pada perbandingan kandungan lumpur. Dari perbandingan lumpur tersebut dijumpai 5 klasifikasi Dunham (1962). Nama-nama tersebut dapat dikombinasikan dengan jenis butiran dan mineraloginya. Batugamping dengan kandungan beberapa butir (<10%) di dalam matriks lumpur karbonat disebut mudstone dan bila mudstone tersebut mengandung butiran yang tidak saling bersinggungan disebut wackestone. Lain halnya apabila antar butirannya saling bersinggungan disebut packstone / grainstone. Packstone mempunyai tekstur grain supported dan punya matriks mud. Dunham punya istilah Boundstone untuk batugamping dengan fabrik yang mengindikasikan asalusul komponen-komponennya yang direkatkan bersama selama proses deposisi. Dasar yang dipakai oleh Dunham untuk menentukan tingkat energi adalah fabrik batuan. Bila batuan bertekstur mud supported diinterpretasikan terbentuk pada energi rendah karena Dunham beranggapan lumpur karbonat hanya terbentuk pada lingkungan berarus tenang. Sebaliknya grain supported hanya terbentuk pada lingkungan dengan energi gelombang kuat sehingga hanya komponen butiran yang dapat mengendap.

29

2. Klasifikasi Mount (1985) Proses pencampuran batuan campuran silisiklastik dan karbonat

melibatkan proses sedimentologi dan biologi yang variatif. Proses tersebut dapat dikelompokkan menjadi 4 kategori : a. Punctuated Mixing Pencampuran di dalam lagoon antara sedimen dan silisiklastik di dalam lagoon yang berasal dari darat dengan sedimen karbonat laut. Proses pencampuran ini terjadi hanya bila ada energi yang kuat melemparkan material karbonat ke arah lagoon. Energi yang besar ini dapat terjadi padaa saat badai. Proses ini dicirikan oleh adanya shell bed yang merupakan lapisan yang mebngandung intraklas-intraklas cangkang dalam jumlah yang melimpah. b. Facies Mixing Percampuran yang terjadi pada batas-batas fasies antara darat dan laut. Suatu kondisi fasies darat berangsur-angsur berubah menjadi fasies laut memungkinkan untuk terjadinya pencampuran silisiklastik dan karbonat. c. Insitu Mixing Percampuran terjadi di daerah sub tidal yaitu suatu tempat yang banyak mengandung lumpur terrigenous. Kondisi yang memungkinkan terjadinya percampuran ini adalah bila lingkungan tersebut terdapat organisme perintis seperti algae. Apabila algae mati maka akan menjadi suplai material karbonat. d. Source Mixing Proses percampuran ini terjadi karena adanya pengangkatan batuan ke permukaan sehingga batuan tersebut dapat tererosi. Hasil erosi batuan karbonat tersebut kemudian bercampur dengan material silisiklastik. Klasifikasi Mount (1985) merupakan klasifikasi deskriptif. Menurutnya sedimen campuran memiliki 4 komponen, yaitu : - Silisiklastik sand (kuarsa, feldspar dengan ukuran butir pasir). - Mud, yaitu campuran silt dan clay. -Allochem, batuan karbonat seperti pelloid, ooid dengan ukuran butir > 20 mikrometer.

30

- Lumpur karbonat / mikrit, berukuran < 20 mikrometer. 3. Klasifikasi Embry dan Klovan (1971) Embry dan Klovan membagi batugamping menjadi batugamping allocthonous dan autocthonous. Batugamping allocthon dibagi menjadi Floatstone dengan komponen butir >10% didukung oleh matrik dan Rudstone dengan komponen saling menyangga. Batugamping autochton dibagi menjadi bafflestone dengan komponen organisme yang menyerupai cabang, bindstone dengan komponen organisme yang berbentuk pipih dan framestone dengan komponen organisme yang berbentuk masif. 4. Klasifikasi Folk (1959) Folk mengklasifikasikan tekstur batugamping berdasarkan rasio antara mikrit dengan sparit dan sebagai komponen utamanya adalah allochem (fosil, ooid, pellet dan intraklas). Tekstur menurut Folk antara lain, biosparit, oomikrit, pelmiksparit, intramikrit dan biolitit.

2.7.2. Fasies Karbonat Fasies didefinisikan sebagai kumpulan keterangan keterangan dari atribut sedimen, seperti karakteristik litologi, tekstur, kandungan fosil, struktur sedimen, warna dan sebagainya (Tucker, 1990). Dunbar dan Rodger mendefinisikan fasies yang berarti aspek-aspek umum dari suatu batuan, litologi dan biologis, termasuk struktur atau tektonik. Aspek tersebut merefleksikan kondisi lingkungan di mana batuan diendapkan, sehingga dapat disebut dengan istilah fasies pengendapan. Fasies pengendapan merupakan suatu masa batuan yang dapat ditentukan dan dibedakan dengan lainnya oleh geometri, litologi, struktur sedimen, pola arus purba dan fosilnya (Selley, 1970). Fasies pengendapan menggambarkan variasi proses kimia, biologi dan fisika yang berlangsung pada suatu lingkungan pengendapan yang berhubungan dengan lithofacies dan atau biofacies. Litofasies adalah fasies pengendapan karbonat yang terdiri dari mineralogi, kelimpahan

31

butiran, tipe butiran, struktur sedimen dan tekstur. Biofasies terdiri dari kumpulan skeletal yang merupakan kontributor terbesar dalam pembentukan sistem karbonat. Fasies pengendapan adalah produk dari suatu lingkungan pengendapan tertentu, sehingga lingkungan dan fasies tidak dapat dicampur aduk. Dengan menentukan fasies pengendapan, maka kita dapat menginterpretasikan di mana fasies tersebut diendapkan. Pemodelan fasies yang digunakan dalam penelitian ini adalah fasies model dan lingkungan pengendapan menurut Reeckman dan Friedman (1982).

2.7.3. Lingkungan Pengendapan Karbonat Lingkungan pengendapan didefinisikan sebagai kondisi geografik yang ada pada saat sedimen terakumulasi (Reeckmann,1982). Sedimen tersebut digolongkan sebagai kelompok yang mempunyai parameter biologi, fisika dan kimia sendiri. Interaksi dari parameter di atas menghasilkan perbedaan tipe sedimen atau fasies yang mewakili kondisi lingkungan yang berbeda. Lingkungan pengendapan dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu marine dan non marine dimana keduanya dipisahkan oleh shoreline (garis pantai). Sedimen dari lingkungan nonmarine secara umum sangat dipengaruhi oleh meteoric water dan kondisi tersebut akan menyebabkan terjadinya proses diagenesa pada batuan karbonat. Lingkungan marine dapat dikelompokkan ke dalam subdivisi menjadi shelf, basin slope dan deep ocean basin. Kedalaman air dari lingkungan shelf berkisar antara 0 200 m. Break of slope membatasi lingkungan shelf dari deep ocean basin yang kedalamannya bisa mencapai lebih dari 1000 m. Lingkungan shelf dapat dikelompokkan lagi menjadi beberapa subdivisi berdasarkan karakteristik morfologi, sirkulasi air, salinitas dan daya tembus cahaya. Variasi dan interaksi dari komponen tersebut adalah sebagai pengontrol pertumbuhan karbonat pada lingkungan shelf. Lingkungan shelf dibagi menjadi inner shelf yang lebih dekat dengan kontinen dan outer shelf yang lebih dekat

32

dengan basin. Beberapa fasies pengendapan pada lingkungan ini antara lain, fasies supratidal dan intertidal atau fasies tidal flat, fasies subtidal atau fasies lagoonal, fasies barrier reef terdiri dari fasies back reef, fasies reef bank. Dan fasies fore reef.

Gambar 2.9. Model Lingkungan Pengendapan Karbonat (Reeckmann, 1982) 2.8. Korelasi Korelasi adalah penghubungan titik-titik kesamaan waktu atau

penghubungan satuan-satuan stratigrafi dengan mempertimbangkan kesamaan waktu (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996). Menurut Koesoemadinata (1982), korelasi adalah suatu operasi dimana satu titik dalam suatu penampang stratigrafi disambungkan dengan titik-titik yang lain pada penampang-penampang stratigrafi lainnya dengan pengertian bahwa titik-titik tersebut terdapat dalam bidang perlapisan yang sama. Menurut Koesoemadinata (1971) dikenal dua metode korelasi yaitu : 1. Metode Organik Metode korelasi organik merupakan pekerjaan menghubungkan satuansatuan stratigrafi berdasarkan kandungan fosil dalam batuan (biasanya foraminifera planktonik), yang biasanya digunakan sebagai marker dalam 33

korelasi organik adalah asal munculnya suatu spesies dan punahnya spesies lain, zona puncak suatu spesies, fosil indeks, kesamaan derajat evolusi dan lain-lain. 2. Metode Anorganik Pada metode korelasi organik penghubungan satuan-satuan stratigrafi tidak didasarkan pada kandungan organismenya (data organik). Beberapa data yang biasa dipakai sebagai dasar korelasi antara lain : a. Key Bed (lapisan penunjuk) Lapisan ini menunjukkan suatu penyebaran lateral yang luas, yang mudah dikenal baik dari data singkapan, serbuk bor, inti pemboran maupun data log mekanik. Penyebaran vertikalnya dapat tipis maupun tebal. Lapisan yang dapat dijadikan sebagai key bed antara lain: abu vulkanik, lapisan tipis batugamping terumbu, lapisan tipis serpih (shale break), lapisan batubara/lignit. b. Horison dengan karakteristik tertentu karena perubahan kimiawi pada massa air akibat perubahan pada sirkulasi air samudera seperti zonazona mineral tertentu, suatu kick dalam kurva resistivitas yang khusus dari suatu lapisan yang tipis. c. Korelasi dengan cara meneruskan bidang refleksi pada penampang seismik. d. Korelasi atas dasar persamaan posisi stratigrafi batuan. e. Korelasi atas dasar aspek fisik/litologis. Metode korelasi ini merupakan metode yang sangat kasar dan hanyan akurat diterapkan pada korelasi jarak pendek. f. Korelasi atas dasar maximum flooding surface, maximum flooding surface merupakan suatu permukaan lapisan yang lebih tua dari lapisan yang lebih muda yang menunjukkan adanya peningkatan kedalaman air secara tiba-tiba. Korelasi dibagi menjadi dua yaitu korelasi struktur dan korelasi stratigrafi. Korelasi struktur dibuat dengan cara menempatkan lapisan pada keadaan yang sekarang, sehingga akan memberikan gambaran posisi batuan setelah mengalami

34

aktivitas tektonik (misalnya struktur sesar dan perlipatan), sedangkan korelasi stratigrafi dibuat dengan cara menempatkan atau menggunakan lapisan penunjuk (marker bed) pada kedudukan yang sama (sebagai datum). Korelasi dilakukan untuk yaitu: Mengetahui dan rekontruksi kondisi bawah permukaan (struktur dan stratigrafi). Mengetahui penyebaran lateral maupun vertikal dari zona hidrokarbon. Menafsirkan kondisi geologi yang mempengaruhi pembentukan, migrasi dan akumulasi hidrokarbon. Menyusun sejarah geologi daerah telitian.

2.9.

Fasies dan Lingkungan Pengendapan

2.9.1. Fasies Walker dan James (1992), menyatakan fasies adalah suatu tubuh batuan yang dipersatukan berdasarkan litologi, struktur fisik dan biologinya, yang menjadikannya berbeda antara lapisan di atas dan di bawahnya dan juga lapisan batuan yang berhubungan secara lateral di dekatnya. Dalam pengelompokan fasies, biasanya dikelompokkan berdasarkan asosiasi fasies yang berhubungan dan berubah secara genetis, sehingga asosiasi fasies ini memiliki arti lingkungan pengendapan. Ada dua tipe utama perubahan fasies secara vertikal yaitu (Serra 1989): 1. Coarsening-Upward Succession Coarsening-Upward Succession menunjukkan suatu perubahan ukuran butir mengkasar ke atas dari suatu dasar yang tajam. Perubahan ini mengindikasikan adanya peningkatan kekuatan arus transportasi pada saat proses sedimentasi. 2. Finning-Upward Succession Finning-Upward Succession menunjukkan adanya perubahan penurunan arus transportasi pada saat proses sedimentasi, yang ditunjukkan adanya perubahan ukuran butir menghalus ke atas.

35

Geometri dan penyebaran batuan di suatu daerah sangat dipengaruhi oleh lingkungan pengendapan, sehingga mekanisme pengendapan akan berpengaruh terhadap bentuk, ukuran serta orientasi reservoar. Geometri suatu lapisan batuan dikontrol oleh topografi sebelum pengendapan baik berupa tinggian ataupun rendahan, pada saat post-depositional akan mengubah bentuk lapisan sesuai dengan bentuk baru yang terjadi. Perubahan ini dapat diakibatkan oleh adanya proses struktur geologi sekunder.

2.9.2. Lingkungan Pengendapan Lingkungan adalah suatu istilah umum yang dipakai oleh seorang ahli geomorfologi atau seorang ahli kelautan untuk membagi fisografi atau merfologi (seperti pada daerah gunung, padang pasir, delta, paparan benua, dan laut dalam). Suatu lingkungan pengendapan dibatasi secara geografis pada permukaan bumi, yang secara mudah dapat dibedakan dari batas-batas area oleh kondisi fisik, kimia, biologi serta pengaruh atau kekuatan dari tempat di mana material sedimen tersebut terakumulasi (Krumbein dan Sloss, 1963; Selley, 1970; Reineck dan Singh, 1975; Blatt et al., 1980 dalam Serra, 1989). 2.10. Pemetaan Bawah Permukaan

2.10.1. Pengertian Peta bawah permukaan dalah peta yang menggambarkan bentuk maupun kondisi geologi bawah permukaan yang bersifat kuantitatif (menggambarkan suatu garis yang menghubungkan titik-titik yang bernilai sama atau garis iso) dan bersifat dinamis. Pembuatan peta bawah permukaan bertujuan untuk mengetahui kondisi bawah permukaan yang sebenarnya. Beberapa peta yang akan dibuat, antara lain : Peta Isochore Interval Karbonat Isochore interval karbonat ditentukan berdasarkan ketebalan masingmasing interval formasi yang dianalisa lingkungan pengendapannya. Interpretasi garis kontur disesuaikan dengan pola penyebaran lingkungan pengendapan karbonat pada daerah telitian.

36

2.10.2. Peta Isopach Peta isopach merupakan peta yang menggambarkan ketebalan-ketebalan dari suatu lapisan atau seri lapisan yang dinyatakan dengan garis-garis kontur ketebalan. Gross isopach map, yaitu peta yang menggambarkan penyebaran satuan yang dianggap prospek sebagai daerah yang mampu menghasilkan hidrokarbon. Net isopach map, yaitu peta yang menggambarkan total ketebalan lapisan reservoar yang porous dan permeable. Porosity isopach map, yaitu peta yang menunjukkan harga porositas dari lapisan reservoar. Nilai porositas yang digunakan dalam pembuatan peta merupakan hasil dari perhitungan porositas gabungan atau neutron density.

37

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1.

Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-

analitik. Metode diskriptif adalah menjelaskan data-data yang digunakan kemudian dilakukan analisa terhadap data-data tersebut. Untuk mencapai metode tersebut dilakukan beberapa tahapan.

3.2.

Tahapan Penelitian Tahap ini merupakan tahap awal sebelum melakukan kegiatan penelitian.

Kegiatan yang termasuk dalam tahapan ini adalah kegiatan yang dilakukan sebelum pengambilan data yang dibutuhkan di PT Medco E&P Indonesia sesuai dengan permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini.

3.2.1. Tahap Pendahuluan Tahap pendahuluan ini adalah tahap persiapan yang dilakukan sebelum menganalisis data, meliputi : a. Penyusunan Proposal Penelitian dan Kelengkapan Administrasi Tahap ini dilakukan pertama kali sebelum melakukan skripsi di PT Medco E&P Indonesia. b. Studi Pustaka Melakukan studi pustaka yang menunjang penelitian mengenai geologi regional Cekungan Tarakan dan stratigrafi pada daerah telitian, analisis data log dan data seismik maupun teori-teori dasar geologi lainnya. c. Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini telah disediakan oleh perusahaan yang meliputi : Data log sumur (7 sumur), dan data seismik (8 line seismik).

38

1. Data log sumur (well log) Data log sumur terdiri dari kurva log gamma ray (GR), log spontaneous potential (SP), log resistivitas, serta log porositas (log densitas, log netron, dan log sonik). Data log merupakan data utama untuk interpretasi litologi, korelasi sumur, dan penentuan lingkungan pengendapan. 2. Data seismik Data ini menggunakan program Petrel 2003, dan untuk menentukan sinthetik seismogram menggunakan software HRS. Data seismik yang tersedia adalah berupa seismik yang telah diakusisi. 3. Data time-depth table Data seismik harus dilengkapi dengan data time-depth table untuk mengubah dari kedalaman (ft) menjadi waktu (msec) atau sebaliknya.

3.3.

Tahap Analisis dan Pengintegrasian Dalam tahap analisis dan pengintegrasian hasil analisis juga melewati

beberapa tahapan untuk mendapatkan hasil akhir berupa fasies karbonat di Pulau Tarakan. Tahap-tahap ini meliputi : a. Data sumur Analisis data sumur meliputi interpretasi data log, untuk interpretasi data log pada 7 sumur. Dalam interpretasi ini, dibagi menjadi 3 well section yaitu well section A terdiri dari : Well MJ-1, MJ-3, MJ-4, MJ-7, MJ-8, well section B terdiri dari : Well MJ-2, MJ-3, MJ-4, MJ-7, MJ-8, dan well section C, terdiri dari : Well MJ-5, MJ-7, MJ-8. b. Korelasi Dalam korelasi marker dan batas-batas korelasi antar log sumur didasarkan atas karakteristik bentuk log dan litologi. Tujuan korelasi adalah untuk mengetahui dan rekontruksi kondisi bawah permukaan

(struktur dan stratigrafi).

39

Prosedur korelasi yang dilakukan meliputi : 1. Menentukan horison atau marker dengan cara membandingkan log mekanik dari semua sumur yang didapat dan mencari bentuk-bentuk atau pola-pola log yang sama atau hampir sama. 2. Setelah bentuk atau pola yang relatif sama didapatkan dan telah diyakini bahwa bentuk atau pola log tersebut mewakili perlapisan yang sama, selanjutnya dilakukan pekerjaan menghubungkan bentuk-bentuk kurva yang sama atau hampir sama antar log dari bagian atas ke arah bawah. Korelasi secara top down dihentikan jika korelasi tidak bisa dilakukan lagi, kemudian korelasi dilakukan secara bottom up. Adanya zona-zona yang tidak bisa dikorelasikan dapat ditafsirkan karena pengaruh struktur (patahan, ketidakselarasan) atau stratigrafi

(pembajian, channel up, pemancungan, perubahan fasies). 3. Setelah korelasi selesai dilakukan akan didapatkan penampang melintang, baik penampang struktur ataupun penampang stratigrafi. Dalam pembuatan penampang stuktur, datum diletakkan pada posisi seperti keadaan saat ini (sea level sebagai datum) dan dalam penampang stratigrafi datum diletakkan pada posisi marker. c. Mengikat data sumur ke seismik (well tie to Seismic) Mengikat data log ke dalam penampang seismic (well tie to seismic) berdasarkan data time-depth table. Selain itu juga mengecek dan mengikatkan interpretasi struktur sesar dalam data log sumur ke dalam data seismik apabila terdapat tanda-tanda pendukung adanya sesar dalam penampang seismik yang melalui penampang sumur. d. Picking horizon dan penarikan sesar Picking horizon dilakukan setelah pengikatan data sumur ke dalam data seismik. Pengikatan interpretasi sesar dari data log sumur dalam penampang seismik harus dicek kembali. Adanya sesar dapat dikenali dengan ketidakmenerusan refleksi gelombang seismik pada penampang seismik maupun dengan menggunakan peta atribut seismic dari nilai koherensinya yang rendah.

40

e. Pemetaan bawah permukaan Pembuatan peta bawah permukaan bertujuan untuk mengetahui kondisi bawah permukaan yang sebenarnya. Beberapa peta yang akan dibuat, antara lain : Peta Kontur Struktur Peta kontur merupakan peta yang menunjukkan kedalaman dari zona lapisan batuan yang sama, dibuat berdasarkan data-data yang diperoleh dari sumur pemboran eksplorasi, baik selama atau setelah dilakukan pemboran. Peta ini memperlihatkan kondisi struktur puncak (top) dan dasar (base) dari zona batuan reservoar. Peta ini dibuat berdasarkan data-data korelasi yang dilakukan pada setiap sumur-sumur pemboran. Peta Isopach Interval Karbonat Isopach interval karbonat ditentukan berdasarkan ketebalan masing masing interval formasi yang dianalisa lingkungan pengendapannya. Interpretasi garis kontur disesuaikan dengan pola penyebaran lingkungan pengendapan karbonat pada daerah telitian. Peta Fasies dan Lingkungan Pengendapan Metode pembuatan peta fasies dan lingkungan pengendapan mengacu pada hasil pembuatan penampang korelasi stratigrafi. Bagian yang akan dipetakan adalah zonasi yang memiliki variasi lingkungan pengendapan yang beragam, sehingga akan diperoleh pola penyebaran lingkungan pengendapan pada kedalaman tertentu.

3.4.

Tahap Evaluasi Hasil analisis dan interpretasi data dari setiap tahapan dievaluasi lagi untuk

mendapatkan hasil akhir yang maksimum.

41

3.5.

Tahap Penyusunan Laporan Dari hasil analisis yang diperoleh, kemudian hasil tersebut disajikan dalam

bentuk buku laporan skripsi. Hasil analisis yang telah dituangkan dalam bentuk tulisan, kemudian dipresentasikan.

Gambar 3.1. Bagan Alir Penelitian

42

BAB IV PENYAJIAN DATA


Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari PT.Medco E&P Indonesia. Data yang diperoleh peneliti berupa data log sumur, dan data seismik (Gambar 4.1) yang disajikan sebagai berikut :

4.1.

Data Primer Data primer adalah data yang diteliti langsung oleh peneliti. Data ini

memberikan kontribusi terbesar dalam penelitian. Data-data tersebut antara lain :

4.1.1. Peta Dasar Daerah Telitian Peta dasar ini diperlukan sebagai dasar untuk memilih lintasan seismik dan juga sebagai lembar pembuatan peta bawah permukaan (Gambar 4.1).

Gambar 4.1. Peta Lokasi Sumur

43

4.1.2. Data Log Sumur Data log ini disajikan dalam skala kedalaman Measure Depth (MD) dan True Vertikal Depth-Sub Sea (TVDSS). Dalam studi ini menggunakan data log sebanyak 7 sumur meliputi sumur MJ-1, sumur MJ-2, sumur MJ-3, sumur MJ-4, sumur MJ-5, sumur MJ-7, sumur MJ-8. Data log ini disajikan dalam bentuk penampang dan terdiri dari kumpulan kurva-kurva log gamma ray (GR), log spontaneous potential (SP), log resisitivitas (LLD,MSFL) serta log porositas (RHOB dan NPHI) (Gambar 4.2).

Gambar 4.2. Contoh Log Sumur MJ-1

44

4.2.

Data Sekunder Data sekunder yang dimaksudkan adalah data yang telah diteliti oleh

peneliti terdahulu. Data sekunder yang dipakai dalam penelitian ini adalah data seismik (Gambar 4.3). 4.2.1. Data Seismik Data seismik dimulai dari line_105, line_107, line_115, line_125, line_151, line_101, line_112, line_128 (Gambar 4.1). 4.2.2. Data Time-Depth Table Data seismik juga dilengkapi dengan data time-depth table untuk mengubah dari kedalaman (ft) menjadi waktu (msec) atau sebaliknya.

45

Gambar 4.3. Contoh Lintasan Seismik Line_151

46

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Penelitian yang dilakukan termasuk dalam Cekungan Tarakan. Analisis dan pembahasan yang akan dibahas meliputi analisis data sumur yaitu interpretasi litologi, lingkungan pengendapan, korelasi, dan analisis data seismic meliputi interpretasi sesar.

5.1.

Analisis Data Sumur

5.1.1. Analisis Data Log Data log yang digunakan dalam penelitian ini adalah log gamma ray (GR), LLD, SP, RHOB, NPHI. Data log ini digunakan untuk keperluan interpretasi litologi, penentuan lingkungan pengendapan, dan korelasi. 5.1.1.1.Interpretasi Litologi Interpretasi litologi pada sumur MJ-1, sumur MJ-2, sumur MJ-3, sumur MJ-4, sumur MJ-5, sumur MJ-7, sumur MJ-8, dilakukan secara kualitatif berdasarkan kurva log. Litologi penyusunnya adalah batupasir, batu lempung, batubara, dan limestone. Kurva log akan memperlihatkan defleksi yang berbeda pada setiap litologi. Batupasir akan memperlihatkan nilai gamma ray rendah dikarenakan sedikitnya kandungan mineral radioaktif. Selain itu batupasir akan menunjukkan resistivitas yang relatif lebih tinggi dikarenakan adanya kandungan fluida yang menjadi isolator sifat kelistrikan. Untuk respons kurva log pada litologi batulempung memperlihatkan nilai log gamma ray yang menunjukkan defleksi ke kanan akibat adanya kandungan radioaktif dalam lempung, sedangkan kurva log resistivitas akan semakin kecil dikarenakan mineral radioaktif lebih dapat sebagai konduktor, selain itu resistivitas kecil dikarenakan sedikitnya kandungan dalam lempung dan kurva log porositas densitas akan relatif kecil untuk nilai porositas akan kecil dikarenakan sedikitnya rongga dalam batulempung.

47

Pola log pada litologi batugamping memperlihatkan nilai log gamma ray relatif kecil/rendah, pola kurva cenderung seragam, serta terjadi separasi positif antara log densitas dan neutron. Interpretasi litologi pada sumur-sumur daerah telitian dilakukan dengan menggunakan data log GR dibantu dengan log-log lainnya sebagai penunjang. Pada umumnya daerah penelitian yang merupakan Formasi Santul terdiri dari litologi batulempung, batugamping, dan batupasir. Interpretasi litologi dilakukan berdasarkan log yang merespons perubahan potensial listrik (log SP), kandungan radioaktif (Log GR), resistivitas yang terekam dalam kandungan fluida (Log Resistivitas) serta porositas yang berkembang pada Log Porositas (Neutron dan Density). Interpretasi litologi batupasir berdasarkan pola Log SP yang menjauhi shale base line, kemudian nilai log GR yang rendah, resistivitas yang relatif tinggi dikarenakan adanya kandungan fluida pada pori batupasir dan adanya separasi antara log densitas dan neutron yang menjelaskan jenis fluidanya. Pada batulempung, pola SP menjauhi shale base line dan memiliki nilai GR yang tinggi karena pada batulempung menyimpan radioaktif alam. Kecilnya porositas pada batulempung menyebabkan nilai resisitivitas yang rendah sehingga separasi yang terbentuk adalah separasi negatif. Pada batugamping (lapisan telitian), pola log yang berkembang adalah pola di mana nilai log SP rendah (mendekati shale base line) dengan nilai GR yang rendah dengan kisaran antara 26-60 gAPI dan terjadi separasi antara Log Densitas dan Log Neutron, yang menyebabkan terbentuknya separasi positif. Pada sumur MJ-1 lapisan telitian terdapat pada lapisan interval 1603.45-1774.79 feet. Pada sumur MJ-2 lapisan telitian terdapat pada lapisan interval 2058.06-2088.68 feet. Pada sumur MJ-3 lapisan telitian terdapat pada lapisan interval 1257.63-1270.17 feet. Pada sumur MJ-4 lapisan telitian terdapat pada lapisan interval 1335.43-1346.50 feet.

48

Pada sumur MJ-5 lapisan telitian terdapat pada lapisan interval 1211.07-1222.94 feet. Pada sumur MJ-7 lapisan telitian terdapat pada lapisan interval 1463.50-1495.49 feet. Pada sumur MJ-8 lapisan telitian terdapat pada lapisan interval 1602.80-1641.02 feet.

49

Gambar 5.1. Log MJ-1

50

Gambar 5.2. Log MJ-2

51

Gambar 5.3. Log MJ-3

52

Gambar 5.4. Log MJ-4

53

Gambar 5.5. Log MJ-5

54

Gambar 5.6. Log MJ-7

55

Gambar 5.7. MJ-8

56

5.1.2. Interpretasi Lingkungan Pengendapan Sebagai langkah awal, interpretasi litologi dilihat dari bentukan log Gamma Ray dan SP untuk membedakan jenis litologinya. Berdasarkan kandungan radioaktifnya, batugamping lebih rendah dibandingkan dengan litologi lainnya. Kemudian dilanjutkan dengan interpretasi jenis batuan yang didukung oleh datadata log yang lain yaitu log resistivitas, log densitas, dan log neutron. Interpretasi ini dilakukan dengan melihat bentukan pola log dari masingmasing sumur yang memenuhi syarat-syarat suatu litologi atau yang merupakan sifat khas dari suatu litologi, seperti misalnya harga kurva gamma ray rendah, harga densitas besar dan adanya separasi antara kurva log densitas dan neutron cenderung berhimpit atau agak berhimpit dikategorikan sebagai batugamping, dan seterusnya. Penentuan lingkungan pengendapan pada daerah telitian terutama sekali pada Lapangan MJ menggunakan beberapa data yaitu: Data-data kajian pustaka Interpretasi litologi Data Mud Log Penentuan fasies atau lingkungan pengendapan dengan menggunakan data log dilakukan dengan mengenali motif atau bentuk log yang ada pada daerah telitian serta litologi penyusunnya. Dengan asumsi bahwa log yang mempunyai bentuk yang sama akan memiliki fasies dan lingkungan pengendapan yang sama pula. Selanjutnya penentuan lingkungan pengendapan sangat ditentukan oleh sejauh mana pengenalan motif log dapat dilakukan dan dikenali dengan seksama. Berdasarkan peniliti terdahulu, sedimen Formasi Tabul berumur Miosen Tengah sampai Miosen Akhir terdiri dari kompleks delta yang progadasi ke arah timur, terletak selaras di atas Formasi Meliat. Formasi Tabul didominasi oleh shale prone mengandung batupasir dan diselingi batulanau. Penyebarannya

terbatas sampai Sub-cekungan Tarakan dan sebagian Tidung. Didaerah Pulau Mandul, ketebalannya lebih dari 1500 m dan cenderung meningkat ke arah timur. Nama Tabul pertama digunakan oleh Leopold tahun 1928 untuk sikuen sedimen Miosen Tengah-Akhir yang ditemukan di Sub-cekungan Tidung bagian utara.

57

Berdasarkan Baggelaar (1951), dalam beberapa laporan Tabul bagian atas ekivalen dan dibedakan sebagai unit terpisah dinamai Santul Beds. Saat ini nama Formasi Santul digunakan beberapa operator aktif, terutama di Sub-cekungan Tarakan untuk mengindentifikasi selang-seling batupasir, serpih dan batubara dari endapan delta front-delta plain. Ke bagian dalam cekungan, baik Formasi Tabul maupun Formasi Santul secara lateral berubah menjadi batu lumpur karbonatan, serpih, napal dan batugamping fasies pro delta atau marine yang dapat disebandingkan dengan Formasi Menumbar bagian atas di bagian selatan cekungan (Sub-cekungan Muara).

58

Gambar 5.8. Interpretasi Lingkungan Pengendapan Sumur MJ-2

59

Gambar 5.9. Interpretasi Lingkungan Pengendapan Sumur MJ-1

60

Gambar 5.10. Interpretasi Lingkungan Pengendapan Sumur MJ-5

61

Gambar 5.11. Interpretasi Lingkungan Pengendapan Sumur MJ-8

62

5.2.

Korelasi Korelasi log dibuat berdasarkan korelasi struktur dan korelasi stratigrafi.

Korelasi struktur bertujuan untuk mengetahui struktur bawah permukaan. Korelasi stratigrafi dilakukan dengan menggunakan metode litostratigrafi yaitu

menghubungkan lapisan batuan yang dianggap mempunyai kesamaan litologi.

5.2.1. Korelasi Struktur Korelasi struktur dilakukan setelah interpretasi litologi dari masing-masing sumur didapatkan. Batas-batas penarikan korelasi ini berdasarkan pola log yang sama, yang menunjukkan adanya kesamaan litologi. Tujuannya adalah untuk dijadikan sebagai pedoman kemenerusan dari lapisan, karena apabila lapisan tersebut menerus maka diperkirakan lapisan tersebut terendapkan pada waktu pengendapan yang sama. Korelasi struktur ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana struktur yang berkembang dilihat dari ada atau tidaknya lapisan yang menghilang atau menipis, serta terjadi atau tidaknya perulangan lapisan yang sama. Lintasan yang diambil untuk korelasi struktur ini ada 3 lintasan, dengan arah utara selatan pada Lintasan 1: MJ-1, MJ-3, MJ-4, MJ-5. Kemudian lintasan 2 dengan arah barat timur: MJ-2, MJ-5, MJ-8, MJ-7. Dan lintasan 3 dengan arah barat timur: MJ-5, MJ-8, MJ-7.

63

Gambar 5.12. Lintasan Korelasi Struktur 5.2.2. Korelasi Stratigrafi Korelasi stratigrafi merupakan korelasi yang dilakukan untuk mengetahui penyebaran lapisan di bawah permukaan. Topografi bawah permukaan dan morfologi bawah permukaan serta proses pengendapan dilihat dari sumber suplai materialnya dan dominasi lapisan yang terdapat pada daerah telitian. Oleh karena itu datum korelasi stratigrafi menggunakan lapisan penunjuk yang diperkirakan proses pengendapannya terjadi pada satu waktu pengendapan. Lintasan yang diambil untuk korelasi stratigrafi ini ada 3 lintasan, dengan arah utara selatan pada Lintasan 1: MJ-1, MJ-3, MJ-4, MJ-5. Kemudian lintasan 2 dengan arah barattimur: MJ-2, MJ-5, MJ-8, MJ-7. Dan lintasan 3 dengan arah barattimur: MJ-5, MJ-8, MJ-7.

64

Gambar 5.13. Lintasan Korelasi Stratigrafi Dari korelasi ini didapatkan bahwa proses pembentukan daerah telitian terjadi pada lingkungan delta-pro delta dilihat dari litologi yang terdapat pada setiap kurva log yang ada yang menunjukkan litologi serpih, lempung, dan batugamping.

65

Gambar 5.14. Korelasi Struktur Well Section A

66

Gambar 5.15. Korelasi Struktur Well Section B

67

Gambar 5.16. Korelasi Struktur Well Section C

68

Gambar 5.17.Korelasi Stratigrafi Well Section A

69

Gambar 5.18. Korelasi Stratigrafi Well Section B

70

Gambar 5.19. Korelasi Stratigrafi Well Section C

71

5.3.

Interpretasi Seismik Seismik merupakan metode geofisika yang memanfaatkan gelombang

pantul (refleksi) dari batas-batas lapisan batuan bawah permukaan. Data yang dimanfaatkan dari gelombang pantul ini adalah waktu datang dan velocity (kecepatan rambat gelombang). Metode seismik memiliki keunggulan dalam memberikan gambaran penyebaran litologi (reservoar) secara lateral beserta struktur-struktur geologi yang terjadi, tetapi memiliki kelemahan-kelemahan dalam hal ketepatan penentuan kedalaman dan jenis litologi.

Gambar 5.20. Peta Line Seismic

72

5.3.1. Pengikatan Seismik Dengan Sumur (Well Seismik Tie) Sebelum melakukan interpretasi seismik (picking horizon), penting sekali dilakukan pengikatan antar penampang horizon seismik dengan penampang vertikal log untuk mengetahui dasar-dasar yang digunakan dalam penarikan seismik refleksi tersebut serta untuk meletakkan horizon seismik (skala waktu) pada posisi kedalaman sebenarnya agar dapat dikorelasikan. Dalam proses pengikatan itu ada beberapa metode atau teknik yang digunakan dalam pengikatan tersebut, yaitu seismogram sintetik, check shot, dan vertical seismic profile (VSP). Untuk metode seismogram sintetik menggunakan survei kecepatan (velocity survey) dan densitas yang berasal dari log. Seismogram sintetik dibuat dengan cara memadukan wavelet yang ada pada seismik dengan data koefisien refleksi yang didapatkan dari hasil perhitungan impedansi akustik dengan melihat data-data log sonik dan log densitas (RHOB). Wavelet yang digunakan memiliki frekuensi yang sama dengan penampang seismik. Dan untuk metode check shot menggunakan data time-depth table.

5.3.2. Picking Horizon dan Struktur Dalam menentukan picking horizon sangatlah susah untuk menentukan kemenerusan lapisannya karena kondisi gelombang reflektor yang dihasilkan tidak dinamis dan dapat berubah karena dipengaruhi oleh kedalaman, porositas batuan, fluida yang terdapat pada lapisan tersebut juga akan mempengaruhi kemenerusan reflektor seismiknya, sehingga peneliti harus dapat membedakan bagaimana kondisi reflektor yang dipengaruhi oleh sesar atau struktur lain. Picking horizon sendiri terbantu oleh adanya pola gamma ray yang dapat ditampilkan pada seismik ini, sehingga memudahkan dalam menentukan pelamparan lapisan yang akan diteliti.

73

Gambar 5.21. Interpretasi Seismik Line-101

74

Gambar 5.22. Interpretasi seismik Line-105

75

Gambar 5.23. Interpretasi Seismik Line-107

76

Gambar 5.24. Interpretasi Seismik Line-112

77

Gambar 5.25. Interpretasi Seismik Line-115

78

Gambar 5.26. Interpretasi Seismik Line-125

79

Gambar 5.27. Interpretasi Seismik Line-128

80

Gambar 5.28. Interpretasi Seismik Line-151

81

5.4.

Pembuatan Peta Bawah Permukaan Merupakan tahapan yang dilakukan setelah semua analisa data primer

telah dilakukan. Pembuatan peta bawah permukaan ini menggunakan hasil analisa dari data primer yang pembuatannya dilakukan menggunakan software Petrel 2003 dan surfer.

Gambar 5.29. Peta Depth Struktur Top Karbonat

82

Gambar 5.30. Peta Depth Struktur Bottom Karbonat

83

Top(feet) Bottom(feet) Tebal(feet) 1603.45 1774.79 171.34 2058.06 2088.68 30.62 1257.63 1270.17 12.54 1335.43 1346.5 11.07 1211.07 1222.94 11.87 1463.5 1495.49 31.99 1602.80 1641.02 38.22 Tabel 5.1. Data Ketebalan Limestone Pada Lapangan MJ
mj1 mj2 mj3 mj4 mj5 mj7 mj8

Sumur

Gambar 5.31. Peta Isopach Karbonat

84

5.5.

Interpretasi Geologi Daerah Telitian Geologi daerah telitian sangat dibutuhkan sebelum dilakukannya

eksploitasi. Interpretasi yang dilakukan pada daerah telitian dapat dilihat dengan menggunakan bentukan kurva log (sumur), korelasi antar sumur, bentukan pola kontur yang didapatkan dari ketebalan serta litologi yang diendapkan dan dilihat dari lingkungan pengendapan di sekitar formasi daerah telitian.

5.5.1. Sedimentasi Daerah Telitian Penentuan lingkungan pengendapan pada daerah telitian pada Formasi Santul, Lapangan MJ, pada Cekungan Tarakan, Pulau Tarakan, Kalimantan Timur menggunakan beberapa data, yaitu: Literatur dari penelitian terdahulu Berdasarkan hasil penelitian terdahulu didapatkan bahwa Formasi Santul merupakan endapan yang memiliki ciri khas yaitu sering dijumpai lapisan batubara tipis yang berinterkalasi dengan batupasir, batulanau, dan batulempung, dan juga dijumpai batugamping tipis yang diendapkan di lingkungan delta plain sampai delta front pada Miosen Akhir. Hasil Interpretasi wireline log yang berupa litologi Interpretasi awal menggunakan data wireline log, yaitu dengan cara melihat bentukan kurva log sumur. Dilihat dari bentukan kurva log sumur memperlihatkan bahwa litologi yang berkembang adalah batupasir dengan sisipan batubara, batulempung, dan batugamping. Hal ini menunjukkan bahwa Formasi Santul, khususnya daerah telitian diendapkan pada daerah delta plain-delta front, karena dilihat dari litologinya yaitu terdapatnya dominasi batulempung, silt, batupasir dan terdapat juga batubara dan batugamping klastik. Endapan formasi ini adalah hasil dari proses fluvial dan marine. Pada endapan delta plain didominasi oleh clay dan silt, karena menurut Boggs (1987), delta diartikan sebagai suatu endapan yang terbentuk oleh proses sedimentasi fluvial yang memasuki tubuh air yang tenang. Dataran delta menunjukkan daerah di belakang garis pantai dan dataran delta bagian atas didominasi oleh proses sungai dan dapat

85

dibedakan dengan dataran delta bagian bawah didominasi oleh pengaruh laut, terutama penggenangan tidal. Delta terbentuk karena adanya suplai material sedimentasi dari sistem fluvial. Ketika sungai-sungai pada sistem fluvial tersebut bertemu dengan laut, perubahan arah arus yang menyebabkan penyebaran air sungai dan akumulasi pengendapan yang cepat terhadap material sedimen dari sungai mengakibatkan terbentuknya delta. Korelasi antar sumur Dari hasil korelasi yang didapatkan dari korelasi struktur dan korelasi stratigrafi memperlihatkan kemenerusan dari arah NW-SE. Litologi yang berkembang adalah litologi yang memiliki ukuran butir halus yaitu batulempung, sehingga diinterpretasikan bahwa supply material berasal dari arah NW. Disamping itu juga, struktur yang berkembang adalah sesar-sesar yang arah umumnya utara-selatan. Pada umumnya sesar yang ada merupakan sesar turun.

Berdasarkan

interpretasi

dari

data-data

analisa,

maka

penulis

menyimpulkan bahwa Formasi Santul ini terendapkan pada lingkungan pengendapan delta plain. Litologi yang berkembang adalah batubara, batupasir, batulanau, batulempung dan juga terdapatnya batugambing klastik. Delta plain merupakan bagian daratan dari delta dan terdiri atas endapan sungai yang lebih dominan daripada endapan laut dan membentuk suatu daratan rawa-rawa yang didominasi oleh material sedimen berbutir halus, seperti serpih organik dan batubara. Daerah telitian termasuk ke dalam Cekungan Tarakan. Cekungan Tarakan merupakan salah satu 3 (tiga) cekungan tersier utama yang terdapat di bagian timur continental margin Kalimantan. Daerah telitian merupakan daerah rendahan di sebelah utara cekungan Kutai di bagian timur Pulau Kalimantan dan menjadi pusat pengendapan sedimen dari bagian timur laut Sundaland selama zaman Kenozoikum. Batas Cekungan Tarakan di bagian barat dibatasi oleh lapisan praTersier Tinggian Kuching dan dipisahkan dari Cekungan Kutai oleh kelurusan

86

timur-barat Tinggian Mangkalihat. Proses pengendapan di mulai dari proses pengangkatan. Transgresi yang diperkirakan terjadi pada kala Eosen sampai Miosen awal bersamaan dengan terjadinya proses pengangkatan gradual pada Tinggian Kuching dari barat ke timur. Pada kala Miosen Tengah terjadi penurunan (regresi) pada Cekungan ini, yang dilanjutkan dengan terjadinya pengendapan progradasi ke arah timur dan membentuk endapan delta, yang menutupi endapan prodelta dan batial.

5.5.2. Peta Isopach Karbonat Peta isopach karbonat dibuat untuk mengetahui ketebalan pada lapisan yang diteliti. Peta ini dibuat dengan cara mengukur ketebalan yaitu mengurangkan top lapisan karbonat dengan lapisan bottom karbonat. Pada penelitian kali ini, peneliti menggunakan software surfer. Harga dari ketebalan lapisan karbonat dimasukkan ke dalam basemap yang telah dibuat sebelumnya. Kemudian di dapat harga ketebalan batuan karbonat pada daerah telitian berdasarkan ketebalan lapisan tersebut pada masing-masing sumur. Berdasarkan peta isopach karbonat, Lapangan MJ, Formasi Santul ini diketahui bahwa semakin ke selatan lapisan karbonat semakin menipis. Dan diketahui pula bahwa sumber material dari batuan karbonat klastik ini berasal dari arah utara yang kemudian diendapkan ke arah selatan.

87

BAB VI KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengolahan data dan interpretasi yang dilakukan pada penelitian ini, maka penulis dapat membuat kesimpulan sebagai berikut : 1. Formasi Santul pada Lapangan MJ disusun oleh litologi batupasir, batulempung, dan batugamping klastik yang diendapkan pada lingkungan delta. Formasi Santul ini berumur Miosen Tengah-Miosen Akhir. 2. Dari hasil pembuatan peta ketebalan karbonat disimpulkan bahwa lapisan karbonat paling tebal terdapat pada sebelah utara dan semakin ke selatan lapisan karbonat semakin tipis dengan arah suplai material dari utara ke selatan. 3. Dari hasil korelasi stratigrafi dan korelasi struktur disimpulkan bahwa struktur yang berkembang pada daerah penelitian adalah sesar-sesar normal atau sesar turun. 4. Berdasarkan pola log, lingkungan pengendapan daerah penelitian adalah delta, dengan litologi batupasir, batulempung, batubara, dan batugamping klastik. Litologi tersebut adalah penciri endapan delta. 5. Pola log pada sumur-sumur MJ pada umumnya menunjukkan pola log funnel, di mana pola log funnel merupakan pola log yang menunjukkan pola gradasi mengkasar ke atas. Bentuk pola ini diasosiasikan sebagai hasil endapan delta front. 6. Menurut Galloway (1975), berdasarkan proses yang berpengaruh didalamnya, delta pada daerah penelitian merupakan fluvial dominated delta, terjadi jika gelombang, arus pasang surut, dan arus sepanjang pantai lemah, volume sedimen yang dibawa dari sungai tinggi, maka akan terjadi progradasi yang cepat ka arah laut dan akan berkembang suatu variasi karakteristik dari lingkungan pengendapan yang didominasi sungai. Pasir delta front memperlihatkan banyaknya pengaruh sungai dalam pengendapan distribusi lingkungan mouth bar. Progradasi ke arah laut

88

yang sangat cepat membuat delta tipe ini memiliki sekuen coarsening upward (mengkasar ke atas). 7. Struktur yang berkembang di Lapangan MJ, Cekungan Tarakan yaitu struktur geologi yang didominasi oleh struktur sesar yang diakibatkan oleh aktivitas tektonik pada Kala Plio-Pleistosen. Sesar-sesar tersebut mempunyai arah umum utara-selatan. Pada umumnya sesar yang ada merupakan sesar turun.

89

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Z. & Samuel, L., 1984, Stratigraphy and Depositional Cycles in the N.E. Kalimantan Basin, IPA 13th Annual Convention Proceeding. Biantoro, E., Kusuma, Indra.M., Rotinsulu, Lindy.F., 1996, Tarakan Sub-basin Growth Faults, North-East Kalimantan: Their Roles in Hydrocarbon Entrapment, IPA, 2006-25th Annual Convention Proceedings. Friedman, Gerald M., and Reeckmann, Anne., 1982, Exploration for Carbonate Petroleum Reservoirs, Department of Geology Rensselaer Polytechnic Institute, New York. Galloway, W.E.,1975, Deltas: Models for Exploration, Houston Geological Society. Hamilton, W., 1979, Tectonic of Indonesian Region, US. Geological Survey, Professional Paper 1078. Harsono, A., 1994, Pengantar Evaluasi Log, Schlumberger Data Services, Kuningan, Jakarta. Netherwood, R. & Wight, A., 1993, Structurally Controlled Linear Reefs in a Pliocene Delta-Front Setting, Tarakan Basin, Northeast Kalimantan, in Carbonate Rocks and Reservoirs of Indonesia, IPA Core Workshop Notes. Nordeck, R.E., 1974, Geology and Stratigraphy of Tarakan Basin and Tarakan Island, Pertamina. Pertamina/BEICIP, 1985, Hydrocarbon Potential of Western Indonesia (Second Edition), BEICIP, Paris. Pertamina, 1995, Petroleum Geology Of Indonesian Basins (Volume V Tarakan Basin Northeast Kalimantan). Rustam, S., 1977, Laporan Penyelidikan Geologi Daerah Simenggaris SubCekungan Tidung, Cekungan Tarakan, Kalimantan Timur, Pertamina Unit EP IV Eksplorasi (Unpblished).

90

Rangin, C., 1991, The Phillipine Mobile Belt: a Complex Plate Boundary, Journal of Southeast Asian Earth Sciences, v. 6, no.3/4. Schlumberger, 1987, Log Interpretation Principles/Applications, Houston, Texas. Serra, O., 1989, Sedimentary Environment From Wireline Logs, Second Edition, Schlumberger. Sukmono,S., 1999, Interpretasi Seismik Stratigrafi, Jurusan Teknik Geofisika, Institut Teknologi Bandung. Sukmono,S., 1999, Seismik Stratigrafi, Jurusan Teknik Geofisika, Institut Teknologi Bandung. Walker, R.G., & James, N.P., 1992, Facies Models; Response To Sea Level Change, Geological Assosiation of Canada, Canada. Widada, S., 2005, Petunjuk Praktikum Geologi Migas, Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional

Veteran, Yogyakarta. Wight, A.W.R., Hare, L.H., & Reynolds, J.R., 1993, Tarakan Basin, NE Kalimantan, Indonesia: a Century of Exploration and Future Potential, Geological Society of Malaysia, Bulletin 33.

91