Anda di halaman 1dari 3

Teknik Organogenesis dan Embriogenesis Somatik pada Durian Unggul (Durio zibethinus L. cv.

Matahari) untuk Mendapatkan Efisiensi Pembentukan Embriosomatik 50%

Abstrak Ringkasan eksekutif Durian (Durio zibethinus L., D. zibethinus Murray, atau sinonim dengan, D. acuminatissima Merr.) merupakan buah yang berasal dan sangat terkenal di Asia Tenggara, terbukti dengan masih banyak dijumpai durian liar di Kalimantan dan Sumatera. Indonesia mempunyai plasma nutfah durian yang sangat beragam karena tergolong wilayah center of origin dari durian. Masyarakat Indosesia juga sangat menyenangi durian karena cita rasanya yang enak dan unik, walaupun aromanya dinilai terlalu menyengat oleh sebagian bangsabangsa lain. Masalah utama dalam pengembangan kebun durian di Indonesia adalah masalah ketersediaan bibit bermutu. Pembibitan secara konvensional dengan penyambungan sangat tergantung pada kemampuan produksi batang atas (entres). Pertumbuhan batang atas dipengaruhi oleh musim dan faktor lingkungan lainnya sehingga entres belum tentu tersedia sepanjang waktu. Pengambilan entres yang berlebihan dapat merusak pohon induk. Disamping itu, perbanyakan secara konvensional juga beresiko penyebaran penyakit akibat biji ataupun entres yang tidak bebas penyakit. Oleh karena itu perlu diupayakan suatu teknologi yang dapat menjamin produksi bibit sehat dan berkualitas sepanjang musim. Cara alternatif untuk menghasilkan bibit durian adalah melalui kultur jaringan. Dalam kultur jaringan, bahan tanaman (eksplan) diinduksi untuk beregenerasi dan bermultiplikasi sehingga menghasilkan individu tanaman baru. Keunggulan teknik ini adalah dapat menghasilkan tanaman baru dalam jumlah banyak dalam jangka waktu relativ singkat dan bebas patogen. Regenerasi tanaman dalam kultur jaringan dapat dilakukan melalui jalur organogenesis atau embriogenesis somatik. Organogenesis merupakan proses pembentukan organ seperti tunas atau akar sedangkan embryogenesis somatic merupakan proses pembentukan embrio dari sel-sel somatik. Jalur regenerasi tanaman melalui organogenesis pada durian dapat dimanfaatkan dalam upaya perbanyakan batang atas (entres) sedangkan jalur embriogenesis somatik dapat

dimanfaatkan untuk perbanyakan batang bawah ataupun untuk perbanyakan entres. Keuntungan mikropropagasi melalui jalur embriogenesis somatik adalah potensi laju propagasi yang sangat tinggi karena setiap sel berpotensi menjadi satu tanaman jika kondisi yang optimal dapat diberikan pada eksplan. Dengan demikian, penggunaan teknik in vitro dalam propagasi tanaman durian dapat lebih efisien. Pengembangan protokol embriogenesis somatik dan organogenesis memerlukan riset jangka panjang. Untuk tahap awal diajukan proposal untuk 3-5 tahun penelitian. Untuk tahun pertama dilakukan 3 kelompok penelitian, yaitu 1) Organogenesis dan Multiplikasi Tunas dari Pucuk/Tunas Aksilar; 2). Induksi Embriogeneis Somatik dari Eksplan Pucuk Muda; 3). Pengaruh Media dan Picloram terhadap Embriogeneis Somatik dari Embrio Zigotic Durian. Penelitian tahun pertama ini memberikan hasil yang cukup baik dan dapat dijadikan dasar untuk penelitin selanjutnya. Tunas dapat terbentuk pada eksplan satu buku yang mengandung meristem pucuk dari durian Matahari 10 minggu setelah tanam. Tunas terbanyak terbentuk pada media dengan konsentrasi BA 44.4M. Penggunaan thidiazuron (TDZ) dengan konsentrasi lebih dari 0.5 mg/L menghambat pembentukan tunas. Tunas yang terbentuk pada ekplant dengan media mengandung TDZ 0.1 dan 0.5 mg/L berukuran kecil dan daunnya mudah rontok. Sedangkan eksplan daun muda belum berhasil membentuk tunas aksilar pada media dan zat pengatur tumbuh yang dicoba. Eksplan daun/pucuk muda mempunyai respon yang sangat lambat terhadap media induksi embriogenesis somatik. Sampai saat ini belum ada respon pembentukan proembrio somatik dari eksplan daun muda. Pada penggunaan eksplan embrio zigotik dewasa terlihat bahwa durian varietas Cane lebih responsif dibanding varietas Montong dalam pembentukan kalus putih pada media induksi. Pada subkultur pertama pada media yang sama eksplan varietas Montong menjadi lebih responsif dibanding eksplan varietas Cane. Kalus terbanyak pada eksplan Cane terbentuk pada media WPM dengan 4 ppm picloram dan pada eksplan Montong pada media MS dengan 5 ppm picloram. Pada subkultur kedua pada media MS dengan penambahan BAP 1 ppm dan picloram 3-4 ppm menyebabkan eksplan memberikan respon terbaik dalam penambahan diameter kalus, bobot dan skor kalus. Sebagian kalus yang terbentuk mempunyai ciri sebagai kalus embriogenik terutama kalus yang terbentuk pada media WPM dengan penambahan picloram 3 ppm. Sebagian lain kalus adalah kalus kompak dan kalus yang berbentuk seperti kapas yang tidak mempunyai karakter kalus embriogenik. Beberapa masalah yang membatasi penelitian ini terjadi karena kondisi alam dan kondisi tanaman calon explant. Musim berbunga dan berbuah durian varietas Matahari telah lewat ketika proposal penelitian ini dinyatakan diterima untuk didanai sehingga dalam pelaksanaannya tidak dapat dilakukan penelitian dengan eksplan embrio zigotik (baik embrio

muda maupun tua) dari varietas Matahari. Untuk itu, eksplan untuk penelitian embryogenesis somatik ini terpaksa diganti dengan embrio masak dari durian varietas Cane dan Montong yang masih tersedia. Penggunaan eksplan embrio zigotik muda dari putik durian tidak dapat dilakukian karena semua varietas durian telah melewati masa putik. Biji durian tua dari durian montong dan pucuk yang berasal dari bibit sambungan in vivo sulit disterilisasi sehingga tingkat kontaminasi tinggi. Sebagai tanaman tahunan berkayu, respon eksplan durian baik eksplan embrio zigotik tua maupun eksplan pucuk muda sangat lambat, sehingga waktu terlihatnya pengaruh perlakuan juga sangat lambat. Kendala lain adalah banyaknya senyawa fenol yang dihasilkan oleh daun/biji menyebabkan sebagian eksplan mengalami pencoklatan (browning), dan terjadinya gugur daun pada tunas in vitro. Lokasi penelitian : Dep. Agronomi dan Hortikultura IPB, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian Bogor Tahun penulisan : 2010 Peneliti utama : Darda Efendi Anggota : Dewi Sukma Ragapadmi Purnamningsih