Anda di halaman 1dari 4

JATIM TINGKATKAN PRODUKSI KEDELAI

(Edisi: Edisi Juni - 18/03/2011 12:59:50)

Menyikapi turunnya angka produksi kedelai di Jatim, Dinas Pertanian (Distan) Jatim mencoba solusi baru tingkatan produksi. Salah satunya dengan menggandeng Dinas Kehutanan dan LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) dengan memanfaatkan lahan hutan untuk ditanami kedelai. Selain itu, Distan kini juga tengah berupaya mengembangkan varietas kedelai baru yang memiliki biji lebih besar, yakni jenis Grobakan, Baluran, dan Anjasmoro. Targetnya, dengan pengembangan intensifikasi lahan tanam kedelai hingga pemanfaatan lahan baru seperti lahan di hutan. Ini dilakukan agar Jatim dapat memenuhi kebutuhan stok konsumsi kedelai. Kepala Distan Jatim, Ir Wibowo Ekoputro menjelaskan, kebutuhan konsumsi masyarakat Jatim pada kedelai masih cukup tinggi. Dampak anomali cuaca juga membuat hasil tanam kedelai jadi berkurang. Dengan begitu, solusi pengembangan varietas biji besar dan tanaman di sekitar hutan bisa menjadi alternatif. Adapun penanaman kedelai jenis khusus dengan biji besar itu telah dikembangkan di Banyuwangi, Jember, Lumajang, Pasuruan, dan Malang. Kualitas kedelai biji besar pun diyakininya tak kalah baiknya dengan kedelai impor yang selama ini masuk ke pasar Jatim. Jika sukses dikembangkan, maka kedelai siap dipasarkan ke luar Jatim. Namun sebelum itu, pihaknya masih menargetkan untuk swasembada kedelai yang hanya untuk memenuhi kebutuhan stok konsumsi kedelai di Jatim. Dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik, produksi kedelei Jatim pada 2010 sebesar 339,491 juta ton biji kering. Angka produksi tersebut lebih kecil dari produksi tahun 2009 yang mencapai 355,26 ribu ton. Sedangkan kebutuhan kedelai diprediksi mencapai 1,3 juta ton per tahun. Untuk kontribusi kedelai biji besar terhadap keseluruhan produksi di Jatim secara rinci, selama tahun 2010 menyumbang antara 25 persen hingga 30 persen hasil produksi kedelai Jatim. Kendati hingga lima tahun ke depan Jatim masih sulit menjadi penyuplai kedelai di tanah air, namun secara bertahap diyakininya itu bisa ditata kembali dengan terus membina petani. Tahun 2011 ini Distan menargetkan kontribusi kedelai Jatim bisa memenuhi minimal 40 persen dari kebutuhan dari total hasil produksi. Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jatim, Ir Nur Falaqi menambahkan, implementasi penanaman kedelai jenis khusus dengan biji besar juga masih mengalami kendala proses penanaman dan perawatan yang cukup sulit. Sehingga, petani pun kini juga masih cenderung menanam kedelai jenis biasa. Langkah penanamannya harus dilaksanakan secara teliti. Bahkan, peletakan benih harus tepat baik jarak kedalamannya maupun lokasi penanamannya. "Syarat penanamannya memang harus di dataran medium atau tinggi. Kalau tidak dilakukan hasil panennya tidak maksimal," ungkapnya. Menurut dia, pengembangan kedelai biji besar ini sudah lama digagas dan dilakukan. Namun hingga kini masih belum maksimal produksinya karena masih varietas baru sehingga petani kesulitan dalam menanam. Tapi kami optimistis ini nanti akan berhasil dan Jatim kembali menjadi penghasil kedelai terbesar di tanah air lagi," harapnya. Untuk proses pemasaran hasil produksi, menurut dia tak akan mengalami kesulitan yang berarti. Kendati konsumen dan pasar di Jatim masih terbiasa dengan kedelai biasa berbiji kecil, namun selama ini kedelai impor yang masuk adalah berbiji besar. Sehingga, diyakninya proses pemasaran akan mudah diterima oleh masyarakat, karena kedelai juga merupakan kebutuhan pangan pokok. (afr) -----------

HIBAH UNTUK PETANI DITAMBAH Kepedulian Pemprov Jatim pada petani kian konkret. Setelah memberikan bantuan hibah berupa cooper atau mesin perontok dan granulator atau mesin pembuat pupuk organik, lantai jemur, dan rice milling unit (RMU) atau alat giling padi pada 2010, tahun 2011 bantuan hibah itu kembali ditambah. Untuk cooper dan granulator, pemprov melalui Dinas Pertanian Jatim bakal menghibahkan lagi 40 unit. Penambahan ini merupakan implementasi dari program hibah yang dicanangkan Gubernur Jatim, Dr Soekarwo guna menambah penghasilan petani. Dengan hibah itu, para petani dapat menekan ongkos produksi, karena tak perlu lagi membeli pupuk kimia buatan pabrik. Hibah ini cukup efektif dan sangat membantu petani. Respon dari petani pun cukup bagus dan kini banyak yang telah memanfaatkannya. Data menunjukkan ketergantungan petani pada pupuk kimia kian turun hingga 32 persen karena beralih menggunakan pupuk organik. Artinya, 32 persen petani pengguna pupuk kimia, kini beralih ke pupuk organik. Sebanyak 42 persen petani di Jatim telah menggunakan pupuk organik. Meningkatnya jumlah petani pengguna pupuk organik itu, karena lebih menguntungkan. Selain itu, pupuk tersebut juga ramah lingkungan dan cara pembuatannya pun relatif mudah. Dengan bahan dasar kotoran ternak saja, satu unit granulator bisa membuat 500 kilogram butiran pupuk organik dalam waktu satu jam. Adapun pembuatan satu unit alat tersebut senilai Rp 30 juta, dimana pada tahun 2010 telah dianggarkan Rp 18 miliar yang ditargetkan menghasilkan sekitar 668 unit.. Pada tahun 2009 pemprov telah membagikan alat sebanyak 660 unit. Dengan jumlah itu, tiap kecamatan di Jatim kini telah memiliki tiga unit alat untuk mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia. Pihaknya juga melakukan program pendampingan dengan memanfatkan penyuluh pertanian yang antara lain dilakukan dalam bentuk pelatihan kooperatif, Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) serta pelatihan penggunan alat tersebut. Program itu akan terus dilakukan sampai pemanfaatan dan penggunan pupuk organik akan kembali menjadikan kualitas lahan pertanian di Jatim kembali subur hanya dengan zat hara dan kualitas pH tanaman di atas lima persen. Untuk itu, dengan adanya upaya penambahakn unit granulator atau alat pembuat pupuk organik ini, target Pemprov sebesar 30-40 persen kini telah tercapai. Ini dilakukan secara bertahap dan penggunaan pupuk kimia harus dapat direduksi. Targetnya, hingga beberapa tahun mendatang, secara keseluruhan petani Jatim dapat menggunakan pupuk organik, ujar Gubernur Jatim Dr H Soekarwo beberapa saat lalu. Untuk hibah lantai jemur yang dimanfaatkan untuk membantu mengeringkan gabah kering panen (GKP) hingga menjadi gabah kering giling (GKG) ini juga mampu akan meningkatkan pendapatan petani dari hasil penjualan gabah. Selama musim kemarau basah ini pendapatan petani Jatim tidak optimal, karena petani langsung menjual hasil panen padi dalam bentuk GKP. Jika hasil GKP bisa dikeringkan hingga menjadi GKG, maka pendapatan petani dapat meningkat, karena harga gabah pun menjadi lebih mahal. Di Jatim selama setahun terakhir sekitar 65-68 persen panen padi masuk pada musim hujan. Untuk itu, tahun ini pemprov akan kembali menghibahkan lantai jemur sebanyak 44 unit yang akan disebarkan di 38 kabupaten/kota se-Jatim. Lantai Jemur

Sebelumnya, pada 2010 telah dihibahkan lantai jemur sebanyak 29 unit dan jangkauannya juga masih untuk 29 kabupaten/kota saja. Dengan ditambahkannya lantai jemur tahun ini, pihaknya berharap agar dapat lebih membantu petani Jatim mengatasi kendala pengeringan gabah selama musim kemarau basah ini. Bentuk dari lantai jemur ini berupa lantai berbentuk cembung yang digunakan untuk menjemur GKP. Di atasnya bisa ditutup dengan terpal untuk menutupi gabah saat hujan. Dengan posisi cembung, maka air hujan bisa langsung mengalir sehingga tak sampai masuk dan membasahi gabah. Jika tak menggunakan lantai jemur, di musim kemarau basah ini sangat meungkinkan gabah akan mudah lembab dan menjamur. Kalau gabah menjamur maka kualitas beras hasil gilingan akan menjadi kuning dan jelek, sehingga harganya pun akan turun drastis. Hal ini yang biasa merugikan petani. Untuk memaksimalkan program hibah lantai jemur ini, Soekarwo juga sempat menyatakan keinginannnya agar nilai tukar produksi pertanian naik di tingkatan petani. Petani jangan hanya menjual hasil panen dalam bentuk gabah kering panen, namun menjual dalam bentuk gabah kering giling atau bahkan beras. Bersamaan dengan dihibahkannya lantai jemur Pemprov Jatim juga menghibahkan alat penggiling padi (RMU/Rice Milling Unit) sebanyak 15 unit. Hibah RMU ini dilakukan guna melengkapi bantuan bagi petani di Jatim untuk meningkatkan penghasilan dari hasil panen padi. Hibah RMU ini telah dilakukan sejak 2010. Tahun lalu jumlah RMU yang dihibahkan sebanyak 29 unit untuk 29 kabupaten/kota dan tahun ini menurun hanya 15 unit. Penurunan jumlah itu dilakukan karena bantuan tahun ini akan diperbanyak pada hibah lantai jemur. Adapun RMU yang akan dihibahkan berupa dua alat yakni husker dan polisher. Untuk husker adalah alat untuk memecah gabah kering giling (GKG) hingga menjadi beras pecah kulit. Selanjutnya, beras yang sudah pecah dimasukkan dalam polisher untuk dapat menghasilkan beras yang siap untuk dijual. Terbatasnya jumlah RMU yang dihibahkan, maka tiap husker dan polisher akan diberikan pada gabungan kelompok tani (gapoktan) yang paling membutuhkan. Untuk penentuannya, kini Dinas Pertanian Jatim masih memetakan, gapoktan mana yang akan memeprolehnya. Tentunya, penerima RMU itu bukanlah gapoktan yang telah menerima RMU tahun lalu dan juga akan diberikan pada gapoktan di daerah berbeda dari sebelumnya. Diharapkan, bantuan RMU dapat membantu meningkatkan penghasilan petani pascapanen. Artinya, padi gabah kering panen (GKP) dapat diolah secara mandiri oleh petani menjadi GKG melalui proses pengeringan menggunakan lantai jemur dan setelahnya digiling dengan RMU. Ini karena harga jual GKP dengan GKG dan beras yang telah digiling berbeda dan mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan usai diproses. Adapun penjualan gabah oleh petani kini masih meggunakan acuan dari Inpres No 7/2009. Dari Inpres itu, harga GKP terendah yakni Rp 2.640/kg dan bisa naik hingga Rp 3.200 tergantung dari kualitas gabah. GKP ini adalah gabah yang telah dipanen langsung dijual. Kandungan air dalam gabah masih mencapai 23-25 persen, sehingga harga jualnya pun murah. Sedangkan acuan harga GKG terendah yakni sebesar Rp 3.300/kg dan tertinggi bisa mencapai Rp 4.000. GKG ini adalah gabah yang telah dijemur dan memiliki kadar air sebesar 14 persen, sehingga saat digiling kemungkinan pecah atau hancur sangat kecil. Kisaran harga itu juga telah disesuaikan dengan HPP (harga pembelian pemerintah). Setelah menjadi beras atau pasca digiling dengan RMU, maka harga pun menjadi lebih tinggi dan bisa mencapai Rp 6.000/kg. Nilai tukar produksi pertanian pun bisa naik di tingkat petani. Petani tak hanya menjual hasil

panen dalam bentuk gabah kering, namun dalam bentuk gabah kering giling atau bahkan beras. Dengan begitu, petani tentu akan memeperoleh tambahan penghasilan. (afr)