Anda di halaman 1dari 2

BAB I PENDAHULUAN

Ginjal merupakan salah satu organ yang memegang peranan penting dalam menjaga homeostasis tubuh. Salah satu fungsi vital ginjal ialah sebagai pengatur volume dan komposisi kimia darah dan lingkungan dalam tubuh dengan mengekskresikan solute dan air secara selektif. Fungsi vital ginjal dilakukan dengan filtrasi plasma darah melalui glomerulus diikuti resorbsi sejumlah solute dan air dalam jumlah yang tepat di sepanjang tubulus ginjal. Kelebihan solute dan air akan diekskresikan keluar tubuh sebagai urin melalui sistem pengumpul.1 Gangguan pada ginjal dapat menyebabkan gangguan homeostasis tubuh yang dapat bermanifestasi secara sistemik. Salah satu penyakit yang dapat menyebabkan gangguan pada ginjal ialah sindrom nefrotik. Sindrom nefrotik merupakan salah satu manifestasi klinik glomerulonefritis (GN) ditandai dengan edema anasarka, proteinuria masif 3,5 g/hari, hipoalbuminemia < 3,5 g/dl, hiperkolesterolemia, dan lipiduria.2 Secara keseluruhan, prevalensi sindrom nefrotik mencapai 2-5 kasus per 100.000. Sindrom nefrotik primer merupakan 90% dari keseluruhan sindrom nefrotik. Prevalensi sindrom nefrotik primer mencapai 16 per 100.000 orang. Menurut tinjauan dari Robson pada lebih dari 1400 kasus, beberapa jenis glomerulonefritis primer merupakan penyebab dari 78% sindrom nefrotik pada orang dewasa dan 93% pada anak-anak. Pada 22% orang dewasa keadaan ini disebabkan oleh gangguan sistemik (terutama diabetes, amiloidosis, dan trombosis vena renalis) dimana ginjal terlibat secara sekunder atau karena mengalami respon abnormal terhadap obat atau allergen lainnya. Mekanisme yang menerangkan terjadinya edema pada sindrom nefrotik adalah teori underfilling dan teori overfilling. Teori underfilling menjelaskan bahwa edema timbul karena rendahnya albumin serum yang menyebabkan penurunan tekanan onkotik plasma yang diikuti peningkatan transudasi cairan dari intravaskuler ke ruang ekstravaskuler. Teori overfilling mengemukakan retensi air dan natrium sebagai defek utama ginjal

menyebabkan peningkatan cairan ekstravaskuler sehingga hukum Starling terganggu dan terjadi edema.2 Pada umumnya penderita sindrom nefrotik datang ke Rumah Sakit dengan edema sebagai keluhan utama. Oleh karena itu, perlu pemahaman mengenai patofisiologi untuk dapat membantu menegakkan diagnosis sindrom nefrotik. Adanya perubahan-perubahan patofisiologi yang ditemukan sangat penting untuk diketahui agar penatalaksanaan sindrom nefrotik dapat bertumpu pada perubahan patofisiologi yang ada. Berikut akan disajikan laporan kasus mengenai seorang laki-laki, Tn.I, 16 tahun dengan sindrom nefrotik. Kasus ini diangkat sebagai pembelajaran dalam menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan yang baik.