Anda di halaman 1dari 57

Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida

Departemen Teknik Kimia 2010


1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
1. Mempelajari sifat-sifat aliran fluida dalam beberapa jenis ukuran pipa.
2. Memperoleh pengertian tentang perubahan tekanan yang terjadi pada aliran
fluida.
3. Mempelajari karakteristik tekanan alat pengukur flow rate

1.2 Batasan Masalah
Dalam percobaan ini, praktikan mengamati pressure drop pada:
1. Orificemeter
2. Venturimeter
3. Berbagai macam fitting, seperti:
a. Elbow
b. T-junction, dan
c. gate valve
4. Pipa-pipa dengan diameter 1 in dan 0.75 in

1.3 Metode Penulisan
Laporan akhir praktikum ini dibuat berdasarkan hasil dari praktikum yang telah
praktikan lakukan dan sebelumnya dilakukan pemilihan data percobaan yang
menunjukkan hasil yang terbaik, serta analisa-analisa yang diambil berdasarkan
literatur yang ada.

Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
2
BAB II
ISI

2.1 Pengertian Fluida
Fluida adalah suatu zat yang dapt mengalir akibat adanya shear stess atau shear
forces. Fluida terbagi menjadi dua tipe yaitu gas dan cairan.

2.2 Sifat-sifat fluida
Ada beberapa sifat fluida yamg berpengaruh pada mekanika aliran fluida.
Dibawah ini adalah sifat-sifat fluida yang perlu diperhatikan :
1. Density (rapat massa)
V
m
= (1)
2. Spesific weight (berat jenis)
3. Spesific volume
n
V
V atau
m
V
V = =

(2)
4. Spesific gravity (SG)
tertentu tekanan dan suhu pada air densitas
densitas
SG = (3)
5. Kompresibilitas
6. Viskositas
dy
dV
t
= ; viskositas (4)

= v ; viskositas kinematik (5)


7. Tekanan uap
8. Tegangan permukaan



Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
3
2.3 Aliran Laminer dan Turbulen
Apabila suatu fluida mengalir dalam suatu saluran dengan kecepatan yang cukup
kecil, maka aliran akan terlihat berlapis-lapis yang bergerak secara sliding relatif terhadap
lapisan didekatnya. Aliran ini disebut aliran laminer, yaitu aliran yang paling sederhana
dari ketiga jenis aliran fluida. Aliran ini memiliki bilangan Reynold kurang dari 2000.
Bila kecepatan aliran diperbesar, gerakan partikel fluida semakin tidak teratur, sehingga
terjadi pusaran-pusaran arus (eddy current). Aliran semacam ini disebut aliran
turbulen.aliran turbulen memiliki bilangan Reynold diatas 10000. Pada suatu kecepatan
dimana aliran tidak laminer tetapi tidak juga turbulen (antara laminer dan turbulen )
disebut aliran transisi. Aliran transisi memiliki bilangan Reynold antara 2000 hingga
4000.

2.4 Gradien Kecepatan






Gambar 2.1Fenomena Aliran Fluida di antara Dua Plat Paralel

Pada gambar 2.1 terlihat dua buah plat dengan luas A, berjarak y, diantaranya
terdapat fluida. Plat atas dibuat diam, sedangkan plat atas ditarik oleh gaya F sehingga
bergerak dengan kecepatan u. Adanya gaya kohesi menyebabkan fluida ikut bergerak
searah F. Apabila jarak y cukup kecil, fluida seakan bergerak secara berlapis-lapis dengan
kecepatan berbeda atau dikatakan terdapat gradien kecepatan. Dari eksperimen
didapatkan bahwa :
y
u A
F
.
= (6)


u
Y
F
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
4
Apabila u / y diganti dengan gradien kecepatan du / dy, diperoleh :
dy
du
A
F
t = (7)
disebut tegangan geser (shear stress). Hubungan antara dan du / dy
menunjukkan sifat reologi fluida seperti terlihat pada gambar 1.2 berikut :


Gambar 2.2Grafik Sifat Reologi Fluida

Hubungan yang paling sederhana ditunjukkan oleh kurva A fluida yang mengikuti
kurva A disebut Newtonian fluida, yang mempunyai bentuk persamaan :
dy g
du
c
.
t = (8)
adalah koefisien viskositas atau viskositas dinamik atau viskositras absolut.
Fluida yang tidak mengikuti kurva A disebut Non-Newtonian Fluid.

2.5 Bilangan Reynold
Pada fluida yang mengalir, bekerja gaya-gaya seperti: gaya gravitasi, gaya
tekanan, gaya viskositas,gaya inersia, gaya tegangan permukaan, dll. Untuk fluida yang
mengalir melalui saluran yang terisi penuh, gaya-gaya yang paling berpengaruh adalah
gaya inersia dan gaya viskositas. Perbandingan antara gaya inertia dan gaya viskositas ini
disebut bilangan reynold. Untuk saluran berbentuk pipa bilangan reynold adalah:

du/dy
D
A
C
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
5

v D
N
R
. .
= (9)
N
R
= bilangan Reynold
D = diameter pipa
= density fluida
= Viskositas absolut
Dengan suatu experimen diperoleh bahwa bilangan reynold dibawah 2000
menunjukkan aliran dalam laminer.

2.6 Energi Fluida
Pada fluida yang mengalir terdapat 3 bentuk energi :
1. Energi Potensial : energi yang dimiliki oleh fluida tersebut karena ketinggiannya
relatif terhadap datum.
2. Energi Kinetik : energi yang dimiliki oleh fluida tersebut karena kecepatannya.
3. Energi Tekanan : energi yang dimiliki fluida tersebut karena dalam keadaan
bertekanan.
Pada fluida yang mengalir akan terdapat kehilangan energi yang disebabkan oleh
gesekan. Hubungan antara energi-energi diatas dapat membentuk persamaan
energimekanik.

2.7 Kehilangan Energi karena Friksi
Telah disinggung diatas bahwa fluida yang mengalir akan selalu mendapatkan
tahanan yang disebabkan oleh friksi antara partikel-partikel fluida maupun friksi antara
partikel fluida dengan permukaan saluran. Friksi merupakan kerugian energi mekanik
sehingga tekanan di downstream menjadi berkurang.
Parameter-parameter yang berhubungan dengan faktor friksi adalah :
Diameter pipa
Kecepatan rata-rata fluida
Densitas fluida
Viskositas fluida
Kekasaran pipa
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
6
Pemanasan akibat friksi per unit massa

Besarnya kehilangan energi karena friksi menurut persamaan Darcy-Weisbach
adalah sebagai berikut :
c
L
g D
LV
f h
2
2
= (10)
f = friction factor (blasius-darcy friction factor)
L = panjang pipa
D = diameter dalam pipa
V = flowrate
g
c
= konstanta konversi

2.8 Hubungan Faktor Friksi dan Bilangan Reynold
Hagen-poiseuille melalui eksperimennya mengenai aliran laminer pada pipa
menemukan hubungan sbb :
V
D
L
g
h
c
L
2
32

= (11)

Bila persamaan dapat disusun kembali sbb:
c
L
g
V
D
L
V D
h
2
2 32
2

= (12)
c
L
g
V
D
L
V D
h
2
64
2

= (13)
c r
L
g
V
D
L
N
h
2
64
2
= (14)

Persamaan diatas menunjukkan hubungan linier antara f dan NR pada aliran
laminer yang berlaku untuk NR dibawah 2000. pada dasarnya kehilangan energi pada
aliran laminer hanya disebabkan oleh vicous drag saja, sedangkan pada aliran turbulen
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
7
disebabkan oleh gerakan turbulen dari arus eddy. Oleh karena itu friction factor untuk
aliran turbulen disamping bergantung pada NR juga pada kekerasan permukaan pipa.
f = (N
R.
/D) (15)
/D adalah kekasaran relatif, yaitu perbandingan antara tingginya tonjolan dalam
dinding pipa dibagi diameter dalam pipa. Hubungan antara f dengan N
R
dan /D dapat
diperoleh dari chart standard yang disebut Friction Factor Chart.

Gambar 2.3 Friction Flow Chart


2.9 Profil Kecepatan Pada Aliran dalam Pipa
Pada aliran dalam pipa, partikel-partikel fluida bergerak dengan kecepatan yang
berbeda. Partikel yang berada pada dinding piap mempunyai kecepatan nol, sedangkan
partikel yang berada pada sumbu pipa mempunyai kecepatan maksimum. Hal ini
disebabkan karena perubahan momentum dan gesekan-gesekan yang terjadi anytar
lapisan. Untuk aliran laminer lapisan-lapisan fluida terdapat dari dinding pipa sampai
sumbu pipa (center line) sehingga profil kecepatan partikel-partikel fluida berbentuk
parabola seperti terlihat pada gambar.
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
8

Gambar 2.4Profil Kecepatan Fliuda pada Aliran Laminer

Semakin besar bilangan reynold, momentum yang berpindah antar lapisan fluida
semakin besar kenaikan bilangan reynold sampai melewati batas kritisnya akan
menyebabkan aliran menjadi turbulen dan terjadi dua regional aliran, yaitu daerah
laminer dekat dinding pipa dan daerah turbulen mulai dari batas daerah alirn laminer
sampai sumbu pipa. Akibatnya profil aliran tidak parabola lagi seperti terlihat pada
gambar dibawah.

Gambar 2.5Profil Aliran Kecepatan Fluida pada Aliran Turbulen

Daerah laminer akan semakin tipis dengan kenaikan bilangan reynold dan
semakin mempunyai arti dibandingkan dengan kekasaran dinding pipa, sehingga efek
kekasaran dinding pipa semakin dirasakan oleh pokok aliran. Itulah sebabnya faktor friksi
pada aliran laminer hanya bergantung pada bilangan reynold dan bergeser semakin
bergantung pada kekesaran dinding pipa untuk aliran laminer.

2.10 Kehilangan Energi pada Fitting
Kehilangan energi pada fittings dan kerangan-kerangan secara umum dapat
digambarkan dengan persamaan :
c
L
g
V
k h
2
2
=
(16)

Dimana
D
Le
f k = (17)

Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
9
Dimana Le = panjang ekivalen dari fitting

Berikut adalah tabel tipe-tipe fitting dan panjang ekivalennya:
Tabel 1.1Panjang Ekivalen untuk Berbagai Jenis Fitting
Type of fitting Equivalent length L/D
(dimensionless)
Globe valve, wide open 340
Angle valve, wide open 145
Gate valve, wide open 113
Check valve (swing type) 135
90
o
standar elbow 30
45
o
standar elbow 16
90
o
long-radius elbow 20


2.11 Pengukur Aliran Fluida
Pengukur Aliran Fluida yang paling banyak digunakan untuk mengukur aliran
adalah beberapa jenis meteran tinggi tekan - variabel dan meteran penampang aliran
(area meter). Yang termasuk meteran tinggi tekan - variabel adalah meteran venturi,
meteran orifice, dan tabung pitot. Sedangkan dalam meteran penampang aliran adalah
rotameter dengan berbagai rancangan. Yang akan dibahas di sini adalah meteran venture
dan meteran orifice untuk incompressible fluid.

a. Venturi Flow Meter
Contoh meteran venturi dapat dilihat pada gambar berikut.


Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
10



Gambar 2.6 Venturi flow meter

A : bagian masuk E : lubang ke ruang piezometer
B : bagian leher F : lubang sadap tekanan hulu
C : bagian keluar H : pelapis
D, G : ruang piezometer I : lubang sadap tekanan hilir

Meteran ini terbuat dari bagian masuk A yang mempunyai flens, yang terdiri dari
bagian pendek berbentuk silinder dan kerucut terpotong; bagian leher B berflens; dan
bagian keluar C, juga berflens, dan terdiri dari kerucut terpotong yang panjang. (Flens =
penyambung potongan-potongan pipa).
Pada bagian hulu, pada persambungan antara bagian silinder dan bagian yang
berbentuk kerucut, terdapat ruang annulus D dan beberapa lubang kecil E yang dibor dari
bagian dalam tabung sampai ke ruang annulus itu. Cincin annulus dan lubang-lubang
kecil itu merupakan cincin piezometer (piezometer ring), yang fungsinya ialah untuk
merata-ratakan tekanan-tekanan yang disalurkan oleh setiap lubang kecil. Tekanan rata-
rata itu lalu ditrensmisikan melalui sambungan untuk tekanan hulu F.
Pada bagian leher ada lagi sebuat cincin piezometer yang dibentuk dengan ruang
annulus integral G dan pelapis H. Pelapis tersebut dibor pula dengan teliti dan
diselesaikan hingga membentuk diameter tertentu, karena ketelitian meteran itu akan
berkurang bila leher itu tidak dibuat dengan toleransi yang sangat ketat. Tekanan leher itu
lalu ditransmisikan melalui penyadap tekanan I. Sebuah manometer atau alat lain untuk
mengukur tekanan lalu dipasang di antara lubang sadap F dan I.
Dalam meteran venturi, kecepatan fluida bertambah dan tekanannya berkurang di
dalam kerucut sebelah hulu. Penurunan tekanan di dalam kerucut hulu itu lalu
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
11
dimanfaatkan, sebagaimana diuraikan di bawah nanti, untuk mengukur laju aliran melalui
instrumen itu. Kecepatan fluida kemudian berkurang lagi dan sebagian besar tekanan
awalnya kembali pulih di dalam kerucut sebelah hilir. Agar pemulihan tekanan itu besar,
sudut kerucut hilir C dibuat kecil, sehingga pemisahan lapisan-batas dapat dicegah dan
gesekan pun minimum. Oleh karena pada bagian yang penampangnya mengecil tidak ada
pemisahan, maka kerucut hulu dapat dibuat lebih pendek daripada kerucut hilir.
Gesekannyapun di sini kecil. Dengan demikian ruang dan bahanpun dapat dihemat.
Walaupun meteran venture dapat digunakan juga untuk mengukur gas, namun alat ini
biasanya digunakan untuk mengukur zat cair, terutama air, pengolahan di bawah ini
terbatas pada fluida incompressible.

Laju aliran massa dan laju aliran volumetrik pada venturimeter
Besaran yang dicari biasanya bukanlah kecepatan melalui leher venturi V
b.
Laju
aliran yang lebih penting adalah laju aliran massa atau laju aliran volumetrik melalui
meteran itu. Laju aliran massa dihitung dengan mennsubstitusi persamaan 4 ke dalam
persamaan kontinuitas untuk aliran melalui suatu tabung arus berhingga dimana
kecepatan dalam satu penampang tidak sama, yaitu :

m =
a
.V
a
. S
a
=
b
.V
b
. S
b
= VS
sehingga diperoleh

|
) ( 2
1
.
4
b a c
b v
b b
p p g
S C
S V m

= =
Laju aliran volumetrik diperoleh dengan membagi laju aliran massa dengan densitas, atau

( )

b a c b v
p p g S C m
q

= =
2
1
4

Dengan m = laju aliran massa
S
b
= luas leher
q = laju aliran volumetrik

Pemulihan tekanan pada venturimeter
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
12
Jika aliran melalui meteran venturi itu benar-benar tanpa gesekan, tekanan fluida
meninggalkan meteran tentu persis sama dengan tekanan fluida masuk meteran, dan
penempatan meteran di dalam jalur pipa tidaklah akan menyebabkan terjadinya
kehilangan tekanan secara permanen. Penurunan tekanan pada kerucut hulu, p
a
-p
b
akan
dipulihkan kembali di dalam kerucut hilir. Tetapi gesekan (friction) tentulah tidak dapat
dihilangkan secara total, dan di dalam jalur tersebut terdapat kerugian tekanan secara
permanen (friction loss) serta kerugian daya yang diakibatkannya. Oleh karena sudut
kerucut divergen cukup kecil, rugi-tekanan permanen dari meteran venturi ersebut
relative kecil. Dalam meteran yang dirancang baik, rugi-tekanan itu hanyalah kira-kira
10% dari differensial venturi p
a
-p
b,
dan hampir 90% dari diferensial itu dapat dipulihkan.

b. Orifice Flow Meter
Meteran Venturi mempunyai kelemahan tertentu dalam praktek pabrik pada
umumnya. Alat ini cukup mahal, mengambil tempat cukup besar, dan rasio diameter
leher terhadap diameter pipa tidak dapat diubah-ubah. Untuk meteran tertentu dengan
sistem manometer tertentu pula, laju aliran maksimum yang dapat diukur terbatas,
sehingga apabila laju aliran berubah, diameter leher mungkin menjadi terlalu besar untuk
memberikan bacaan yang teliti, atau terlalu kecil untuk dapat menampung laju aliran
maksimum yang baru. Meteran orifice dapat mengatasi kelemahan meteran venture,
tetapi konsumsi dayanya lebih tinggi.

Contoh orifice berpinggir tajam terlihat pada gambar berikut


Gambar 2.7. Orifice meter

Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
13

Gambar 2.8 Profil kecepatan pada orifice flow meter

Peralatan ini terdiri dari plat yang dilubangi dan dikerjakan dengan mesin secara
teliti, dan dipasang di antara dua flens sehingga lubang tersebut konsentrik dengan pipa
tempat memasangnya. Lubang plat itu dapat dibuat miring ke sisi hilir. Penyadap
tekanan, satu di hulu dan satu di hilir orifice tersebut dipasang dan dihubungkan dengan
manometer atau peralatan pengukuran tekanan lainnya. Posisi lubang sadap dapat
dipasang sembarang, dan koefisien meteran tersebut bergantung pada letak lubang sadap
itu.
Tiga cara yang biasa digunakan untuk menempatkan lubang sadap disajikan pada
table berikut:

Tabel 1. Data penyadap tekanan Orifice
Jenis sadap Jarak penyadap hulu dari muka-
hulu orifice
Jarak penyadap hilir dari muka-
hilir orifice
1. Flens
2. Vena kontrakta

1 in.
1 diameter pipa (inside
diameter sebenarnya)
1in.
0,3 sampai 0,8 diameter pipa,
bergantung pada |
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
14
3. Pipa 2,5 kali diameter nominal pipa 8 kali diameter nominal pipa

Pipa sadap yang terlihat pada gambar 2 adalah pipa sadap vena kontrakta.
Prinsip meteran orifice identik dengan prinsip venture. Penurunan penampang
arus aliran melalui orifice menyebabkan tinggi-tekan kecepatan meningkat tetapi tinggi
tekan tekanan menurun, dan penurunan tekanan antara kedua titik sadap diukur dengan
manometer.
Ada suatu kesulitan pokok yang terdapat pada meteran orifice yang tidak terdapat
pada venturi. Oleh karena orifice itu tajam, arus fluida tersebut memisah di sebelah hilir
plat orifice dan membentuk jet aliran-bebas di dalam fluida di sebelah hilir. Seperti
terlihat pada gambar 2, terbentuk vena kontrakta. Jet tersebut tidak dipengaruhi oleh
dinding padat, seperti halnya pada venture, dan luas penampang jet tersebut bervariasi
antara besarnya lubang orifice dan vena kontrakta. Standar-standar rancang yang
terperinci sudah tersedia secara luas di dalam literature, yang harus diikuti dengan ketat
agar kerja meteran tersebut dapat diramalkan dengan teliti tanpda kalibrasi. Tetapi
sebagai pendekaran, persamaan di bawah ini cukup memadai untuk digunakan.

( )

|
b a c o
o
p p g C
u

=
2
1
4

ket. u
o
: kecepatan melalui orifice
| : rasio diameter orifice terhadap diameter pipa
p
a
, p
b
: tekanan pada bagian a dan b
C
o
: koefisien orifice
Pada persamaan diatas, C
o
adalah koefisien orifice tanpa termasuk kecepatan datang.
Koefisien ini memberikan koreksi atas kontraksi jet fluida antara orifice dan vena-
kontrakta, juga terhadap gesekan dan terhadap o
a
dan o
b.
C
o
selalu ditentukan dari
percobaan. Nilainya cukup bervariasi sesuai dengan perubahan | dan angka Reynold
pada orifice, N
Re,o
. Angka Reynolds tersebut didefinisikan sebagai

t

. .
4 . .
Re,
o
o o
o
D
m u D
N = =
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
15

Ket. D
o
: diameter orifice
N
Re,o
: angka Reynold pada orifice

Pada perancangan, C
o
hampir konstan dan tidak bergantung pada | selama
N
Re,o
>20000. Pada kondisi ini, C
o
dapat dianggap 0,61 untuk lokasi sadap dif lens maupun
di vena kontrakta. Terlebih lagi, jika |<0,25 maka
4
1 | dapat dianggap bernilai 1.
sehingga persamaan 7 menjadi
( )

b a c
o
p p g
u

=
2
61 , 0
Laju aliran massa dapat ditulis:
) ( 2 . 61 , 0
b a c o o o
p p g S S u m = =
ket. S
o
: luas penampang orifice
dimana
( )
( )
2
2
2
2
2
4
4 /
2
|
t t
a
a
o a
a
o a
o
D
D
D D
D
S D
S = = =
Dengan mensubstitusikan persamaan diatas diperoleh
( ) t
|
b a c a
p p g D
m

=
2 61 , 0
4
2
2

Dalam system orifice ini penting sekali adanya bagian pipa lurus di bagian hulu
dan bagian hilir orifice untuk menjamin agar pole aliran yang normal dan tidak terganggu
oleh perlengkapan sambung pipa, katup, dan peralatan lain. Sebab, jika tidak, distribusi
kecepatan akan menjadi tidak normal, dan koefisien orifice akan terganggu dengan cara
yang tidak dapat diramalkan. Mengenai penjang minimum bagian pipa lurus ini, yang
harus terdapat pada bagian hulu dan bagian hilir orifice untuk mendapatkan distribusi
kecepatan yang normal, sudah tersedia datanya. Terkadang , jika panjang pipa lurus tidak
mencukupi, maka di bagian hulu dipasang sudu-sudu pelurus.

Pemulihan Tekanan pada orifice meter
Barhubung dengan besarnya rugi gesekan yang disebabkan oleh pusaran-pusaran
yang dibangkitkan oleh jet yang berekspansi di hilir vena-kontrekta, pemulihan tekanan
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
16
di dalam meteran orifice biasanya kurang baik. Rugi daya yang diakibatkannya
merupakan salah satu kelemahan dari meteran orifice. Fraksi differensial orifice yang
hilang secara permanent bergantung pada nilai|, dan hibingan antara rugi bagian itu
(friction loss) dapay dilihat pada gambar berikut ini


Gambar 2.9 Rugi-tekanan menyeluruh pada meteran Orifice

Untuk nilai | sebesar 0.5, rugi tinggi-tekan itu adalah kira-kira 73% dari differensial
orifice.
Perbedaan tekanan yang diukur dengan sadap pipa, dimana sadap hilir
terletak delapan kali diameter pipa di sebelah hilir, sebenarnya merupakan pengukuran
rugi permanen dan bukan harga differensial orifice.


Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
17
BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN


3.1 Skema alat percobaan















3.2 Percobaan I
Mengkalibrasi Sight Gage pada tangki
a. Menggunakan gelas ukur 1000ml sebagai wadah volume terukur 900ml dan
memcatat waktu yang dibutuhkan untuk mencapai volume terukur tersebut untuk
mengkalibrasikan skala penunjuk ukuran(sight gage) pada tangki.
b. Membuat kurva kalibrasi (skala vs pengukuran) dan melihat kemungkinan
penyimpangan yang terjadi pada sight gage.
c. Membuat grafik yang menggambarkan waktu vs flowrate yang menyatakan
ekivalensi penyimpangan.


52

orifice

venturi
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
18
3.3 Percobaan II
Karakteristik Sharp Edge Orifice Flowmeter
a. Setelah tangki diisi dan manometer dapat dipakai praktikan mengatur control valve
untuk aliran sbb: menutup valve 45, 44, 48, 50, dan 52 sedangkan yang lainnya
dibuka. Menggunakan valve 45 sebagai pengotrol untuk pengeluaran melalui pipa
46.
b. Menyambung manometer pada 40 dan 41 untuk mengukur perbedaan tekanannya.
c. Menjalankan pompa dan membuka valve 45 perlahan-lahan
d. Mengukur aliran yang melalui orifice yang besarnya sama dengan jumlah air yang
keluar dari tangki. Dengan mencatat waktu yang dibutuhkan utnuk mengeluarkan 1
gallon air dari tangki, dapat diperoleh flowrate. Secara serentak praktikan mencatat
perbedaan headnya.
e. Mengulangi pengukuran untuk beberapa flowrate dengan mengubah bukaan valve
45 dan sebelumnya jangan lupa untuk mengisi tangki sebelumnya untuk setipa
percobaan.
f. Mengeplot Pressure losses 40-41 vs flowrate ( gph )

3.4 Percobaan III
Karakteristik Venturimeter
a. Mengulang prosedur,cara pengukuran dan analisa matematik seperti pada
percobaan 2 kecuali pengukuran pada venturi 38-39 sebagai flow measuring
instrument. Praktikan akan menemukan lebih banyak perbedaan karakteristik pada
venturi daripada orifice.
b. Membuat sebuah grafik untuk mengkonversikan venturi ke orifeci flowmeter.

3.5 Percobaan IV
Pipe Fitting
a. Dengan energi loss dario sebuah fitting menentukan panjang pipa ekivalen dengan
ukuran nominal yang sama dengan ukuran fittingnya yang memiliki karakteristik
akibat internal friction yang sama. Menggunakan venturi sebagai flowmeter dan
mencatat hasil pengukuran pada beberapa buah kecepatan aliran.
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
19
b. Melakukan percobaan ini untuk 3 jenis fitting yaitu elbow, T-junction dan valve,
c. Menyusun data yang berisikan nilai pengamatan dan perhitungan serta menyebut
dasar-dasar asumsi membuat perbandingan panjang pipa ekivalen.

3.6 Percobaan V
Friction Factor
a. Menentukan f (dimentionless frition factor ) untuk pipa D=1 in dan D=0,75 in
dengan kecepatan aliran yang berbeda.
b. Menggunakan persamaan friksi untuk mendapatkan nilai f dari setiap point.






















Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
20
BAB IV
PENGOLAHAN DATA


4.1 Kalibrasi Sight Gage
Dari hasil percobaan diperoleh data-data sebagai berikut.
Tabel 1. Perhitungan Kalibrasi Sight Gage

Bukaan
V
tangki

(ml)
V
tangki

(L)
1 1050 1,05
2 1045 1,045
3 1040 1,04
4 1060 1,06
5 1080 1,08
6 1040 1,04
x = 6,32
1,05

Dimana,
05 . 1
6
32 . 6
= =
E
=

n
x
x
rata rata

Artinya 1 liter air pada Sight Gage sama dengan 1.05 liter air pada gelas ukur. Angka ini
menunjukan pengukuran volume sudah cukup akurat.

4.2 Karakteristik Sharp Edge Orifice Flow Meter
Persamaan-persamaan yang digunakan dalam percobaan II:
P
o
= .g.H
orifice

A
|
=
/ P 2 S
1 Q
C
o o
4
o

61 . 0
in 025 . 1
in 625 . 0
D
D
a
b
= = = |
Dimana Db merupakan diameter kerongkongan orifice dan Da adalah diameter dalam
pipa.
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
21
air = 1000 kg/m
3
, g = 9,8 m/s
2

2 4 2 2 2
10 979 . 1 ) 0254 . 0 625 . 0 .(
4
1
4
1
m x m x D S
o o

= = = t t
928 . 0 1
4
= |
n
C
C
o
o

=


Tabel 2 . Pengolahan data karakteristik orifice flow meter
Bukaan H orifice (in) H Orifice (m) Q (Lt/s) Q (m
3
/s) Po (Kg/m.s
2
) Co
1/6
6
0.152 0.20952 0.0002095 1493.52 0.5686
2/6
7.625
0.194 0.21719 0.0002172 1898.015 0.5228
3/6
8.625
0.219 0.22727 0.0002273 2146.935 0.5144
4/6
8.625
0.219 0.30000 0.0003000 2146.935 0.6790
5/6
8.75
0.222 0.26126 0.0002613 2178.05 0.5871
6/6
8
0.203 0.28333 0.0002833 1991.36 0.6659

ECo 3.5379

Corata-rata 0.5897

Dari data di atas, diplot grafik hubungan antara p
orifice
terhadap laju alir air (Q) pada
Grafik 2 serta grafik hubungan antara laju alir air dengan koefisien orifice.


Grafik 2. Hubungan pressure loss dengan flowrate pada orifice flow meter

y = 4E+06x + 917.25
R = 0.37
0
500
1000
1500
2000
2500
0.00000 0.00005 0.00010 0.00015 0.00020 0.00025 0.00030 0.00035

P
o

Q
Grafik Q vs P
o
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
22

Grafik 3. Hubungan laju alir dengan Co

4. 3 Karakteristik Venturi Flow Meter
Perhitungan pada percobaan ini sama seperti perhitungan pada orifice flow meter di atas.
Karena diameter kerongkongan venturi sama dengan diameter dalam orifice, maka S
v

sama dengan S
o
.
Tabel 3 .Pengolahan data karakteristik venturi flow meter
Bukaan H Venturimeter (in) H Venturimeter (m) Q (Lt/s) Q (m
3
/s) Pv (Kg/m.s
2
) Cv
1
5.5
0.140 0.20952 0.0002095 1369.06 0.594
2
6.5
0.165 0.21719 0.0002172 1617.98 0.566
3
5.5
0.140 0.22727 0.0002273 1369.06 0.644
4
7.5
0.191 0.30000 0.0003000 1866.9 0.728
5
7
0.178 0.26126 0.0002613 1742.44 0.656
6
8
0.203 0.28333 0.0002833 1991.36 0.666

ECv 3.855

Corata-rata 0.642


y = 1684x + 0.169
R = 0.8108
0.0000
0.1000
0.2000
0.3000
0.4000
0.5000
0.6000
0.7000
0.8000
0.00000 0.00005 0.00010 0.00015 0.00020 0.00025 0.00030 0.00035
C
o

Q
Grafik Q vs Co
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
23

Grafik 4. Hubungan pressure loss dengan flowrate pada venturi flow meter


Grafik 5. Hubungan laju alir dengan Cv

4.4 Perbandingan karakteristik venturi flow meter dengan orifice flow meter:

Tabel 4. Perbandingan koefisien karakteristik venturi dan orifice
Q (Lt/s) Cv Co Cv/Co
0.20952 0.594 0.5686 1.0445
0.21719 0.566 0.5228 1.0831
0.22727 0.644 0.5144 1.2523
y = 6E+06x + 151.19
R = 0.7691
0
500
1000
1500
2000
2500
0.00000 0.00005 0.00010 0.00015 0.00020 0.00025 0.00030 0.00035

P
v

Q
Grafik Q vs Pv
y = 1384.8x + 0.2966
R = 0.822
0.000
0.100
0.200
0.300
0.400
0.500
0.600
0.700
0.800
0.00000 0.00005 0.00010 0.00015 0.00020 0.00025 0.00030 0.00035
C
v

Q
Grafik Q vs Cv
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
24
0.30000 0.728 0.6790 1.0724
0.26126 0.656 0.5871 1.1180
0.28333 0.666 0.6659 1.0000

ECv/Co 6.5702

Cv/Co
rata-rata
1.0950


Grafik 6. Hubungan Cv terhadap Co


4. 5 Perhitungan Pipe Fitting
Tabel 5. Perhitungan fitting (elbow)
Bukaan
Hv
(in)
Hv
(m)
Pv
(Kg/m.s2)
Q
(m3/s)
Helbow
(in)
Helbow
(m)
Po
(Kg/m.s2)
v
(m/s)
Re fR hL Le (m)
1 5.5 0.1397 1369.0592 0.000207 6.125 0.156 1524.634 0.389 10650.45 0.0480 0.361 10.9234
2 6.5 0.1651 1617.9791 0.000320 7.875 0.200 1960.244 0.601 16453.11 0.0410 0.735 6.8897
3 5.5 0.1397 1369.0592 0.000263 7.375 0.187 1835.784 0.494 13521.15 0.0440 0.533 8.9024
4 7.5 0.1905 1866.8989 0.000273 7.875 0.200 1960.244 0.513 14049.71 0.0405 0.529 9.5651
5 7 0.1778 1742.4390 0.000304 8.125 0.206 2022.474 0.572 15648.34 0.0410 0.665 7.8583
6 8 0.2032 1991.3589 0.000419 8 0.203 1991.359 0.788 21576.34 0.0405 1.249 4.1201

Tabel 6. Perhitungan fitting (valve)
Bukaan
Hv
(in)
Hv
(m)
Pv
(Kg/m.s2)
Q (m3/s)
Hvalve
(in)
Hvalve
(m)
P
(Kg/m.s2)
v (m/s) Re f hL Le (m)
1 5.5 0.140 1369.059 0.000202 8.5 0.216 2115.819 0.381 10418.50 0.0480 0.345 15.4521
2 6.5 0.165 1617.979 0.000321 8.75 0.222 2178.049 0.604 16526.56 0.0410 0.742 7.4008
3 5.5 0.140 1369.059 0.000275 9 0.229 2240.279 0.517 14148.02 0.0440 0.583 9.6787
y = 0.6316x + 0.2701
R = 0.5981
0.000
0.100
0.200
0.300
0.400
0.500
0.600
0.700
0.800
0.0000 0.1000 0.2000 0.3000 0.4000 0.5000 0.6000 0.7000 0.8000
C
v

Co
Grafik Co vs Cv
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
25
4 7.5 0.190 1866.899 0.000264 9.25 0.235 2302.509 0.497 13600.35 0.0405 0.496 11.6952
5 7 0.178 1742.439 0.000280 8.625 0.219 2146.934 0.528 14438.73 0.0410 0.566 9.5574
6 8 0.203 1991.359 0.000293 8.75 0.222 2178.049 0.552 15101.19 0.0405 0.612 8.9733


Persamaan-persamaan yang digunakan dalam perhitungan di atas:
- v = Q/A, dimana A (m
2
) merupakan luas penampang pipa yang berdiameter 1.025 in
dan Q (m
3
/s) adalah laju aliran.
A = (1.025)
2
= 0.825 in
2
= 0.000532358 m
2
- c/D merupakan faktor kekasaran pipa. Asumsi pipa terbuat dari bahan cast iron
sehingga c = 0,01 in. D merupakan diameter pipa bagian dalam.
- Bilangan Renould N
Re
diperoleh dari persamaan:

. .
Re
v D
N
pipa
= dimana D merupakan diameter pipa bagian dalam (m), v merupakan
kecepatan aliran fluida (m/s), merupakan masa jenis fluida ( =1000 kg/m
3
) dan
adalah viskositas fluida ( = 9,5 x 10
-4
kg/ms pada 30
o
C)
- Dengan menggunakan grafik di bawah untuk nilai c/D dan N
Re
dapat diperoleh nilai
faktor friksi f.


Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
26
- Panjang ekuivalen Le dihitung dengan persamaan:
2
.
. . . 2
v f
D h g
Le
pipa fitting
A
=

Grafik 7. Hubungan flowrate terhadap friction factor pada fitting


Grafik 8. Hubungan laju alir dengan panjang ekivalen fitting

4. 6 Friction Factor
Untuk mencari faktor friksi pada aliran laminar (Re < 2000) digunakan persamaan
berikut:
y = -3.4802x + 0.1035
R = 0.9364
y = -4.9377x + 0.1039
R = 0.9789
0.102
0.1021
0.1022
0.1023
0.1024
0.1025
0.1026
0.1027
0.1028
0.1029
0.103
0.00000 0.00005 0.00010 0.00015 0.00020 0.00025 0.00030 0.00035 0.00040 0.00045
f

Q
Grafik Q vs f
elbow
y = -16076x + 8.1607
R = 0.9687
y = -37066x + 14.506
R = 0.9735
0.000
1.000
2.000
3.000
4.000
5.000
6.000
7.000
8.000
0.00000 0.00005 0.00010 0.00015 0.00020 0.00025 0.00030 0.00035 0.00040 0.00045
L
e

Q
Grafik Q vs Le
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
27
Re
16
N
f =
Dengan:

V D
N
. .
Re
=
Sedangkan untuk aliran turbulen
2
4
.
2
2 2
v
D
L
f
D
v L
f h
f
= =
Sedangkan secara umum, persamaan yang menghubungkan faktor friksi dengan diameter
dan panjang pipa adalah:

|
|
.
|

\
|
= =
A

2
4
2
v
D
f
L
h
L
P
f

(diambil dari persamaan 6.22 buku Fluid Mechanics for Chemical Engineers, McGraw Hill)

Maka
2 2
1
. . 2
. .
. 2 . .
.
v l
D P g
v L
D P
f
c

A
=
A
=

Karena H g P A = A . . , maka

2
1
2
. .
v L
D H g
f
A
=
Keterangan
f : Faktor friksi
c
g : faktor konversi
P A : perbedaan tekanan, diwakili oleh
pipa
H A (kg/ms
2
)
D : diameter pipa (m)
L : panjang pipa (m)
v : kecepatan rata-rata aliran (m/s)
: densitas fluida; 2 . 998 =
air

3
m
kg

Nilai v di sini bergantung pada diameter pipa: v = Q/A = Q/(1/4D
2
)



Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
28
Tabel 8. Perhitungan friction factor pipa D = 1 in dan L = 1.52 m
Pipa 1 Q (m
3
/s) h1 (in) h1 (m) P1 (Pa) v (m/s) Re f
L= 1.52 m 0.0002315 8.25 0.20955 2053.59 0.457012 12219.06 0.082236

0.0002238 8.25 0.20955 2053.59 0.441952 11816.39 0.087936

0.0002111 9 0.2286 2240.28 0.416844 11145.1 0.107834
D = 1 in 0.0002744 8.75 0.22225 2178.05 0.541747 14484.61 0.062069

0.0002786 7.5 0.1905 1866.9 0.550178 14710.01 0.051584

0.0003191 7 0.1778 1742.44 0.630168 16848.7 0.036698

Tabel 9. Perhitungan friction factor pipa D = 3/4 in dan L = 1.52 m
Pipa 2 Q (m
3
/s) h2 (in) h2 (m) P2 (Pa) v (m/s) Re f
L= 1.52 m
0.0002315 7 0.1778 1742.44 0.457012 9164.293 0.052332
0.0002238 6.5 0.1651 1617.98 0.441952 8862.295 0.051962
0.0002111 5.875 0.149225 1462.405 0.416844 8358.828 0.052794
D = 0,75 in
0.0002744 5.25 0.13335 1306.83 0.541747 10863.46 0.027931
0.0002786 3.875 0.098425 964.565 0.550178 11032.51 0.019989
0.0003191 3.25 0.08255 808.99 0.630168 12636.53 0.012779


Grafik 9. Hubungan bilangan Reynould dengan laju alir

0
2000
4000
6000
8000
10000
12000
14000
16000
18000
0.0000000 0.0001000 0.0002000 0.0003000 0.0004000
R
e

Q (m
3
/s)
Grafik Q vs Re
Pipa 1
Pipa 2
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
29

Grafik 10. Hubungan faktor friksi dengan flowrate


Grafik 11. Hubungan laju alir dengan perbedaan ketinggian manometer


4.7 Percobaan Aliran Laminer Dan Turbulen
Dari percobaan didapatkan data sebagai berikut:
Tabel 10. Data Percobaan Nre
Bukaan
Q (m
3
/s) v (m/s) Re aliran
1 0.000231 1.181084 19643.3 turbulen
2 0.000224 1.142163 30537.83 turbulen
3 0.000211 1.077277 28802.98 turbulen
0
0.02
0.04
0.06
0.08
0.1
0.12
0.0000000 0.0001000 0.0002000 0.0003000 0.0004000
f

Q
Grafik Q vs f
Pipa 1
Pipa 2
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
0.00000 0.00005 0.00010 0.00015 0.00020 0.00025 0.00030 0.00035
h

Q
Grafik Q vs h
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
30
4 0.000274 1.400071 37433.47 turbulen
5 0.000279 1.421858 38015.99 turbulen
6 0.000319 1.628582 43543.13 turbulen

Dari data hasil percobaan tersebut dapat terlihat bahwa jenis aliran tersebut semakin
meningkat nilai Re-nya seiring dengan meningkatnya besar bukaan. Terlihat bahwa
semua aliran pada semua bukaan bersifat turbulen karena nilai Re-nya lebih besar dari
2000 dimana bentuk alirannya bisa terlihat pada gambar di bawah ini.

BAB V
ANALISIS

5.1 Analisis Percobaan
5.1.1. Percobaan Kalibrasi Sight Gage Pada Tangki
Percobaan kalibrasi sight gage pada tangki ini dilakukan untuk mengecek apakah
skala sight gage pada tangki sudah sama dengan skala ukuran standar, yaitu volume gelas
ukur. Awalnya tangki diisi sampai penuh dengan air dari keran sampai skala yang mudah
terbaca oleh mata. Berdasarkan tujuan percobaan ini, praktikan harus mengukur berapa
besar volume pengurangan air pada skala sight gage tangki dan mengukur volume air
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
31
pada gelas ukur dalam interval waktu yang sama dengan variasi bukaan valve dengan
masing-masing 1 kali pengukuran. Dalam percobaan ini, praktikan menggunakan interval
waktu 3 sekon tiap kali pengukuran dengan variasi bukaan 1/6, 1/3, , 2/3, 5/6, 1. Variasi
ini bukaan ini digunakan agar hasil datanya lebih akurat. 1/6 artinya 1 putaran dari 6
putaran, sedangkan 1 artinya 6 putaran. Jadi akan lebih mudah bagi praktikan untuk
menyesuaikan bukaan valvenya.
Idealnya, skala sight gage pada tangki sama dengan volume ukuran standar.
Namun, karena beberapa hal, misalnya karena pengaruh kondisi alat, dan kondisi sistem
yang mungkin sebenarnya belum steady, serta ketidakakuratan dalam hal pengukuran,
skala sight gage pada tangki tidak sama dengan volume gelas ukur.
Rasio antara volume air pada gelas ukur dengan volume air pada sigth gage
tangki disebut sebagai faktor kalibrasi (x). Dari pengolahan data percobaan ini didapatkan
faktor kalibrasi sebesar 1,0901yang berartisatu liter air yang terbaca pada tanki sight
gagesama dengan 1,0901 kali volume yang terdapat pada gelas ukur.
Faktor kalibrasi yang didapatkan ternyata mendekati nilai 1 yang merupakan hasil
yang ideal. Jadi, kita bisa mengasumsikan faktor kalibrasi yang dihasilkan telah cukup
akurat. Faktor kalibrasi ini bisa digunakan untuk mengukur volume air yang sebenarnya
yang terukur pada sight gage tangki. Namun, pada percobaan-percobaan selanjutnya,
praktikan tidak mengukur volume air pada sight gage tangki, tetapi hanya mengukur
volume air pada gelas ukur.

5.1.2. Percobaan Karakteristik Sharp Edge Orificemeter
Percobaan kedua bertujuan untuk mengukur pressure drop yang mengalir pada
orifice flowmeter, yaitu pressure drop antara titik yang mengalami penyempitan aliran
(konvergen) dengan titik yang divergen. Pressure drop pada percobaan ini diukur dengan
mengukur ketinggian cairan (air) yang terbaca pada manometer. Jadi, manometer harus
disambungkan ke orifice pada titik konvergen dan titik divergen. Lalu dijalankan pompa
untuk membuang terlebih dahulu udara yang terdapat dalam manometer agar tidak
mengganggu pengukuran skala terbaca pada manometer. Setelah itu, praktikan baru dapat
melakukan pengukuran laju alir yang keluar dari sirkuit, serta ketinggian cairan (tekanan)
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
32
yang terbaca pada manometer. Pengukutan ketinggian cairan ini harus ditunggu dahulu
sampai cairan berada pada ketinggian tertentu secara stabil.
Dari percobaan tersebut, praktikan mengamati adanya perbedaan tekanan antara
titk konvergen dengan divergen. Perbedaan ini terjadi karena adanya perbedaan diameter
antara titik konvergen dengan titik divergen. Untuk debit air yang sama, Q, hubungan
antara luas penampang aliran dengan laju alir ditunjukkan oleh persamaan di bawah ini:

Gambar 5.1. Aliran pada orifice

Q
1
= Q
2

A
1
.v
1
= A
2
. v
2
Titik 1 : divergen
Titik 2 : konvergen
Dari persamaan tersebut, kita dapat melihat bahwa laju alir berbanding terbalik
dengan luas penampang aliran. Ketika aliran berada pada titik 1, area konvergen
(penyempitan atau luas penampang aliran mengecil), maka laju alirnya akan membesar,
sedangkan ketika aliran berada pada titik 2, area divergen (pembesaran atau luas
penampang aliran membesar), maka laju alirnya akan mengecil. Jadi:
v
1
> v
2.
Untuk mengetahui hubungan antara pressure dropdan laju alir, kita bisa
menggunakan hukum kekekalan energi mekanik yang menyatakan bahwa energi mekanik
di tiap titik adalah sama, termasuk pada titik konvergen dan juga divergen. Berikut ini
adalah hubungannnya:
EM
1
= EM
2

Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
33
EP
1
+ EK
1
+ P
1
/g= EP
2
+ EK
2
+ P
2
/g
0 + EK
1
+ P
1
/g = 0 + EK
2
+ P
2
/g
m.v
1
2
+ P
1
/g = m.v
2
2
+ P
2
/g
EP pada titik pertama dan kedua bernilai nol karena titik pertama dan kedua
berada pada ketinggian yang sama. Dengan v
1
yang lebih besar dari v
2
(v
1
>v
2
) maka P
1

lebih kecil dari P
2
(P
1
<P
2
).
Selain mencari nilai pressure drop, percobaan kedua ini juga memiliki tujuan
mencari nilai koefisien karakteristik (faktor koreksi) orifice yaitu Co. Nilai Co akan
menunjukkan kinerja orifice yang digunakan. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada
analisis perhitungan.Dengan memvariasikan bukaan valve akan diperoleh Co rata-rata
sebesar 0,993922. Nilai Co yang praktikan dapat dari pengolahan data percobaan ini telah
mendekati nilai 1 yang merupakan nilai Co yang ideal.
Nilai faktor koreksi, Co, seharusnya semakin besar ketika bukaan valve (laju alir)
semakin besar. Hal ini dapat dilihat pada hubungan yang dinyatakan dalam persamaan di
bawah ini:
A
|
=
/ P 2 S
1 Q
C
o o
4
o

Hal ini terjadi karena adanya tumbukan antara aliran air dengan orifice di bagian hulu.
Semakin besar laju alir, maka tumbukan semakin akan keras dan gesekan dengan orifice
pun semakin besar. Energi yang berasal dari energi kinetik dan energi tekanan dari aliran
sebagian berubah bentuk menjadi energi kalor sehingga mengurangi energi gerak dari
aliran di dalam sirkuit.Namun, pada percobaan ini, data yang diperoleh oleh praktikan
tidak sesuai dengan konsep hubungan Co dan Q. Hal ini terlihat dari grafik Q Vs. Co
pada bagian pengolahan data. Adanya keanehan data ini akan dibahas pada bagian
analisis kesalahan.

5.1.3. Percobaan Karakteristik Venturi Flowmeter
Tahapan percobaan dan variabel yang diukur pada venturi tidak jauh berbeda
dengan orifice. Perbedaannya hanyalah manometer pada percobaan ini disambungkan ke
venturi pada dua titik yang memiliki perbedaan diameter luas penampang. Percobaan ini
bertujuan untuk mencari nilai koefisien karakteristik (faktor koreksi) dari venturimeter
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
34
yaitu Cv, yang menunjukkan secara langsung kinerja dari venturimeter.Nilai Cv yang
ideal adalah 1.
Pada percobaan ini, diperoleh rata-rata nilai Cv sebesar 1,4510. Berbeda 0,4510 dari
nilai idealnya. Menurut praktikan, nilai ini cukup akurat. Nilai Cv ternyata lebih besar
dibanding Co. Hal ini disebabkan oleh energy loss pada venturi lebih kecil dibanding
orifice. Pada venturi, kehilangan energi karena friksi dengan dinding venturi dapat
diabaikan karena dinding venturi sangat halus.
Ketika aliran memasuki corong menyempit pada venturimeter, energi kinetik aliran
akan semakin besar secara perlahan (tidak seperti pada orifice dimana perubahan
kecepatan aliran terjadi secara tiba-tiba sehingga terdapat kehilangan energi) sehingga
saat memasuki kerongkongan venturi (tabung slinder) kecepatannya mencapai
maksimum.
Membesarnya energi kinetik ini terlihat dari bertambahnya kecepatan alir di
kerongkongan sehingga mengakibatkan tekanan pada kerongkongan venturi menjadi
rendah. Perbedaan tekanan terhadap posisi sebelum memasuki venturi dapat dihitung.
Metode pengukuran tekanannya sama seperti dengan percobaan sebelumnya, yaitu
menggunakan manometer dengan mengukur ketinggian fluida (air) dalam manometernya.
Oleh karena itu, semakin besar kecepatan alirnya, maka perbedaan ketinggiannya cairan
dalam manometer pun akan semakin besar.
Pada venturimeter, Cv ~ Q dan Cv ~
P A
1
. Semakin besar bukaan valve, maka
laju alir semakin besar dan P juga semakin besar. Tetapi walaupun P semakin besar,
nilai Cv tetap akan naik.
Hubungan antara nilai Cv dengan Q sebenarnya serupa dengan hubungan antara
nilai Co dengan Q. Seharusnya, Q berbanding lurus dengan Cv. Namun, dari pengolahan
data percobaan ini terjadi hal yang sebaliknya, Q berbanding terbalik dengan Cv
(ditunjukkan oleh grafik Q Vs. Cv). Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang akan
dijelaskan pada bagian analisis kesalahan.

5.1.4. Percobaan Karakteristik Fitting
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
35
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan panjang ekivalen pada elbow, T-
junction, dan gate valve. Pada percobaan ini manometer disambungkan kepada
komponen yang ingin diukur pressure drop dan flowratenya, yaitu elbow kemudian T-
junction, dan yang terakhir pada gate valve. Panjang ekivalen merupakan panjang pipa
lurus yang dilewati oleh aliran fluida yang energinya sebanding dengan energi dari aliran
fluida yang melalui fitting. Aliran fluida di dalam fitting akan mengalami perubahan
karakteristik dari dari keadaan awalnya yaitu akan mengalami pressure drop karena friksi
antar partikel dengan permukaan pipa bertambah. Friksi yang terjadi berasal dari gesekan
fluida dengan dinding dan juga friksi karena gesekan antar partikel fluida.
Jika bukaan valvenya semakin besar kecepatan fluidanya juga semakin besar
sehingga pressure drop-nya akan semakin kecil.
Pada saat aliran melewati gate valve, arah aliran tidak berubah arah, sedangkan
pada saat melewati elbow dan T-junction, arah aliran berbelok dan menyebabkan adanya
gesekan dengan sudut fitting tersebut. Gesekan karena adanya sudut pada elbow dan T-
junction ini menyebabkan pressure drop yang lebih besar. Sedangkan pada gate valve,
aliran tidak melewati sudut, dan hanya lewat tanpa pembelokan, yang mengakibatkan
pressure drop yang terjadi tidak sebesar pada saat melewati elbow dan T-junction.
Pengaruh panjang pipa terhadap friksi aliran berkaitan dengan jumlah fluida yang
melewati pipa. Semakin panjang pipa berarti fluida yang melewati pipa akan lebih
banyak dan friksi dari aliran yang terjadi juga semakin besar sehingga terjadi energy loss
yang semakin besar pula. Dari percobaan yang praktikan lakukan, fenomena ini terjadi
pada elbow, dan valve, tapi tidak pada T-junction (dapat dilihat pada tabel perhitungan
pipefitting), tetapi pada praktikum ini hal tersebut tidak terjadi. Hal tersebut akan dibahas
pada bagian analisis kesalahan.
Panjang ekivalen Le sebanding dengan h
fitting
( Le ~ h
fitting
) dan berbanding
terbalik secara kuadratik dengan laju alir v (h ~ 1/v
2
). Hal ini sesuai dengan rumus:
2
.
. . . . 2
v f
D H g
Le
pipa fitting
A
=

Semakin besar laju alir maka kecepatan v juga semakin besar, maka Le akan semakin
kecil. Hubungan antara Q (yang sebanding dengan v) dengan Le dari masing-masing
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
36
fitting (elbow, T-junction, dan gate valve) juga dapat dilihat pada grafik perbandingan Q
vs Le pada elbow, T-Junction, valve.

5.1.5. Percobaan Friction Factor
Percobaan ini bertujuan untuk mengukur faktor friksi dari dua buah pipa dengan
diameter yang berbeda. Praktikan memilih pipa yang diobservasi berukuran 0,0254 m (1
in) dan 0,019 m (3/4 in). Sama dengan percobaan-percobaan sebelumnya, percobaan ini
menggunakan variasi bukaan valve agar hasil yang didapat lebih akurat. Variabel terukur
dalam percobaan ini adalah laju alir dan pressure drop yang kemudian dalam tahap-tahap
perhitungannya digunakan untuk mencari nilai faktor friksi.
Berdasarkan teori dasar yang ada semakin kecil diameter pipa, laju alir akan
semakin besar. Aliran pada pipa yang berdiameter in akan lebih turbulen jika
dibandingkan dengan aliran pada pipa 1in pada laju alir (Q) yang sama sebagaimana
ditunjukkan pada grafik masing-masing. Hal ini disebabkan karena pada laju alir yang
sama, kecepatan pada sumbu pipa yang berdiameter lebih besar dari pada kecepatan
pada sumbu pipa berdiameter 1 in. Perbedaan kecepatan ini disebabkan karena perbedaan
luas radial pipa.
Dari pengolahan data, nilai faktor friksi cenderung menurun jika laju alir
bertambah. Hal ini karena karena fberbanding terbalik dengan v secara kuadratik
walaupun terjadi kenaikan Ah pada pipa, sebagaimana terlihat pada persamaan:
2
1
.
2
. .
v L
D H g
f
A
=
Dari percobaan ini, nilai f pada pipa 1 in nilainya selalu lebih kecil daripada nilai f
pada pipa in pada bukaan valve yang sama. Friksi pada kedua aliran pipa terjadi
dikarenakan gesekan dengan dinding pipa dan juga friksi karena tumbukan antar partikel
aliran. Pada pipa 1 in, friksi yang timbul oleh gesekan dengan dinding penampang pipa
lebih besar dibandingkan friksi karena gesekan pada pipa berdiameter in. Hal ini
karena gradien kecepatan secara radial pada pipa 1 in lebih besar daripada pada pipa
in. Sedangkan pada pipa berdiameter in, friksi karena tumbukan antar partikel fluida
lebih besar daripada friksi yang serupa pada pipa berdiameter 1 in.

Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
37
5.1.6. Percobaan Aliran Laminer Dan Turbulen
Pada percobaan kali ini dilakukan pengamatan terhadap profil laju alir untuk
mengetahui apakah aliran tersebut termasuk dalam jenis aliran laminer, transisi, dan
turbulen. Pengamatan menentukan jenis aliran ini dilakukan secara visual (hanya dengan
mata), sehingga keakuratannya amat mungkin meragukan, karena putaran air tidak
terlihat secara kasat mata dengan mudahnya. Namun, praktikan kemudian dapat
mengecek kebenaran hasil observasi visual praktikan dengan perhitungan. Melalui tahap
perhitungan yang ada kemudian didapatkan aliran yang terjadi adalah turbulen untuk
semua bukaan pada kedua jenis pipa.
Fluida dalam percobaan ini yaitu air, mengalir dalam suatu saluran, dalam
percobaan ini melalui saluran pipa menuju Visual Flow Box, pada awalnya berada pada
laju alir dengan bukaan valve kecil yaitu 1/6. Kecepatan aliran pada bukaan ini besar,
gerakan fluida semakin tidak teratur, sehingga terjadi pusaran-pusaran arus (Eddy
current). Lalu bukaan semakin diperbesar akibatnya laju alirnya meningkat dan semakin
mengarah kepada profil aliran turbulen.

5.2. ANALISIS DATA / PERHITUNGAN
5.2. 1 Kalibrasi
Tujuan dari proses kalibrasi ini sendiri adalah untuk mengetahui keakuratan dari
skala sight gage pada tangki. Caranya adalah dengan membandingkan nilai volume air
yang didapatkan dari hasil pengukuran dengan menggunakan gelas ukur, dibandingkan
dengan nilai skala yang tertera pada sight gage tangki . Perbandingan antara volume air
dalam gelas ukur dengan volume air pada sight gage dikenal sebagai faktor kalibrasi.
Dari hasil perhitungan sebelumnya, didapatkan faktor kalibrasi untuk berbagai
macam bukaan valve (1/6, 1/3, , 2/3, 5/6, dan 1). Perhitungan kalibrasi ini
menggunakan persamaan:
gki
ukur
V
V
x
tan
=
Setelah itu kita mencari rata-rata dari faktor kalibrasi dengan menggunakan
persamaan:
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
38
n
x
x
rata rata
E
=


Lalu dari hasil perhitungan didapatkanlah nilai faktor kalibrasi rata-rata sebesar 1,0901.
Artinya, satu liter air yang terbaca pada tangki sight gage sama dengan 1,0901 kali
volume yang terdapat pada gelas ukur. Nilai ini mendekati angka 1 (nilai ideal), sehingga
dapat dikatakan bahwa volume sight gage (tangki) relatif sama dengan volume gelas
ukur.
Fungsi dari faktor kalibrasi ini sendiri adalah untuk menentukan besar volume air
sebenarnya pada percobaan-percobaan selanjutnya, di mana seharusnya pengukuran laju
alir dilakukan dengan bantuan pembacaan skala pada sight gage. Namun, pada
perhitungan untuk percobaan-percobaan selanjutnya, nilai volume yang digunakan untuk
menentukan laju alir adalah volume gelas ukur.

5.2. 2 Percobaan Karakteristik Sharp Edge Orificemeter
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui cara kerja orificemeter dan
mencari koefisien karakteristik orifice (C
o
), caranya adalah dengan mengukur pressure
drop yang mengalir pada orifice flowmeter, yaitu pressure drop antara titik yang
mengalami penyempitan aliran (konvergen) dengan titik yang divergen. Perbedaan
tekanan antara kedua titik tersebut terjadi karena adanya perbedaan diameter antara titik
konvergen dengan titik divergen. Pada debit Q yang sama, jika diameter lingkaran
berubah maka luas lingkaran juga akan berubah mengikuti persamaan :
A = 1/4D
2
Seperti yang kita ketahui, persamaan untuk mengukur laju alir adalah
Q = A.v
Sehingga bila luas lingkarannya berubah, maka laju alirnya pun berubah (pada debit
tetap), sehingga :
Q
1
= Q
2
A
1
.v
1
= A
2
.v
2

Keterangan : titik 1 : divergen
titik 2 : konvergen
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
39
Jika A kecil maka nilai v besar, begitu pula sebaliknya. Pada titik 1, A
1
> A
2

berarti v
1
< v
2
. Jadi terdapat perbedaaan velocity pada kedua titik (konvergen dan
divergen).
Hukum Kekekalan Energi menyatakan bahwa energi mekanik di tiap titik adalah
sama.
EM
1
= EM
2

EP
1
+EK
1
+P
1
/g = EP
2
+EK
2
+P
2
/g
0+EK
1
+P
1
/g = 0+EK
2
+P
2
/g
1/2m.v
1
2
+P
1
/g =1/2m.v
2
2
+P
2
/g
Dengan v
1
yang lebih kecil dari v
2
(v
1
<v
2
) maka P
1
lebih besar dari P
2
(P
1
>P
2
).
Persamaan-persamaan yang digunakan dalam percobaan II:
P
o
= .g.H
orifice

A
|
=
/ P 2 S
1 Q
C
o o
4
o

61 . 0
in 025 . 1
in 625 . 0
D
D
a
b
= = = |
Dimana Db merupakan diameter kerongkongan orifice dan Da adalah diameter dalam
pipa.
air = 1000 kg/m
3
, g = 9,8 m/s
2

2 4 2 2 2
10 979 . 1 ) 0254 . 0 625 . 0 .(
4
1
4
1
m x m x D S
o o

= = = t t
928 . 0 1
4
= |
n
C
C
o
o

=


Tabel 2 . Pengolahan data karakteristik orifice flow meter
bukaan
valve
h orifice
(in)
h orifice
(m)
Q (L/s) Q (m
3
/s) p
orifice
(kg/ms
2
) p
orifice
^0.5 Co
1/6 0.9 0.02286 0.251916667 0.000251917 224.028 14.96756493 1.76517
1/3 7.4 0.18796 0.397116667 0.000397117 1842.008 42.91862067 0.970405
1/2 12.8 0.32512 0.415266667 0.000415267 3186.176 56.44622219 0.771566
2/3 13.25 0.33655 0.415266667 0.000415267 3298.19 57.42987028 0.758351
5/6 12.5 0.3175 0.451566667 0.000451567 3111.5 55.78082108 0.84902
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
40
1 12.5 0.3175 0.451566667 0.000451567 3111.5 55.78082108 0.84902

5.963531
rata-rata 0.993922

Dari pengolahan data h yang didapatkan melalui percobaan, dapat dihitung nilai
Co. Nilai Co menunjukkan kinerja orifice yang digunakan. Kinerja ideal atau maksimum
adalah ketika Co = 1. Pada percobaan ini, diperoleh nilai Co dengan rata-rata 0,993922.
Nilai Co yang lebih rendah dari 1 ini disebabkan oleh adanya pressure drop dan energi
loss.
Pada percobaan ini dapat dilihat bahwa nilai Co cenderung menurun dari bukaan
1/6 hingga 2/3. Setelah itu baru naik pada bukaan 5/6 dan konstan pada bukaan 1. Bila
kita teliti dari persamaan-persamaan yang digunakan dalam perhitungan, seharusnya
dengan bertambahnya laju alir, maka nilai koefisien karakteristik orifice, Co, semakin
besar. Hal ini terjadi karena adanya tumbukan antara aliran air dengan orifice di bagian
hulu. Semakin besar laju alir, maka tumbukan semakin keras dan gesekan dengan orifice
pun semakin besar. Energi yang berasal dari energi kinetik dan energi tekanan dari aliran
sebagian berubah bentuk menjadi energi kalor sehingga mengurangi energi gerak dari
aliran di dalam sirkuit. Fenomena ini dapat dilihat pada grafik hubungan pressure vs
flowrate orifice. Penyimpangan ini nantinya akan dibahas lebih lanjut pada analisis
kesalahan.


5.2.3 Percobaan Karakteristik Venturi Flow Meter
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui cara kerja venturimeter dan
mencari koefisien karakteristik venturi (C
v
). Cara yang digunakan sama dengan pada
pengukuran orifice.
Tabel 3 . Pengolahan data karakteristik venturi flow meter
bukaan
valve
h
venturi
(in)
h venturi
(m)
Q (m
3
/s) p
venturi
(kg/ms
2
)
p
venturi
^0.5 Cv
1/6 0.2 0.00508 0.000251917 49.784 7.055777774 3.744490897
1/3 6 0.1524 0.000397117 1493.52 38.64608648 1.077688789
1/2 8.45 0.21463 0.000415267 2103.374 45.86255553 0.949619433
2/3 8.75 0.22225 0.000415267 2178.05 46.66958324 0.933198262
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
41
5/6 9 0.2286 0.000451567 2240.28 47.33159621 1.000579262
1 9 0.2286 0.000451567 2240.28 47.33159621 1.000579262
jumlah 8.706155904
rata-rata 1.451025984

Dari pengolahan data h yang didapatkan melalui percobaan, dapat dihitung nilai
Cv. Nilai Cv menunjukkan kinerja venturi yang digunakan. Kinerja ideal atau maksimum
adalah ketika Cv = 1. Pada percobaan ini, diperoleh nilai Cv dengan rata-rata
1,451025984. Nilai Cv yang lebih besar dari 1 ini disebabkan oleh pada bukaan valve
1/6, nilai Cv-nya sangat besar yakni 3,7444. Hal ini mungkin disebabkan oleh pada
bukaan 1/6 (bukaan terkecil), laju alirnya cenderung kurang konstan sehingga
mempengaruhi nilai h yang tertera pada venturi. Akibatnya nilai ini juga mempengaruhi
hasil (Cv).
Pada percobaan ini dapat dilihat bahwa nilai Co cenderung menurun dari bukaan
1/6 hingga 2/3. Setelah itu baru naik pada bukaan 5/6 dan konstan pada bukaan 1. Bila
kita teliti dari persamaan-persamaan yang digunakan dalam perhitungan, seharusnya
dengan bertambahnya laju alir, maka nilai koefisien karakteristik orifice, Co, semakin
besar. Semakin besar laju alir, maka kecepatan aliran v melewati kerongkongan venturi
semakin besar dan tekanan di kerongkongan semakin kecil sehingga pressure drop
semakin besar. Fenomena ini dapat dilihat pada grafik hubungan pressure vs flowrate
venturi. Penyimpangan ini nantinya akan dibahas lebih lanjut pada analisis kesalahan.

5.2.4 Perbandingan Karakteristik Venturi Flow Meter Dengan Orifice Flow Meter
Tabel 4. Perbandingan koefisien karakteristik venturi dan orifice
Q (m
3
/s) Co Cv Cv/Co
0.000251917 1.765169937 3.744490897 2.121320344
0.000397117 0.970405234 1.077688789 1.110555417
0.000415267 0.771565789 0.949619433 1.230769231
0.000415267 0.758350554 0.933198262 1.23056317
0.000451567 0.849019657 1.000579262 1.178511302
0.000451567 0.849019657 1.000579262 1.178511302
Jumlah 8.050230764
rata-rata 1.341705127

Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
42
Bila dibandingkan, nilai koefisien karakteristik dari venturi lebih besar daripada
nilai koefisien karakteristik orifice. Hal ini juga dapat dilihat pada nilai perbandingan
Cv/Co yang lebih dari 1 (1,3417). Lebih besarnya nilai koefisien karakteristik dari venturi
disebabkan karena bentuk throat orifice yang tajam, sehingga ketika aliran arus melewati
throat, kecepatannya berubah secara drastis menjadi lebih cepat dan tekanannya berubah
menjadi lebih rendah sehingga pressure drop yang terjadi tinggi. Sebenarnya hal yang
sama berlaku pula pada venturi, akan tetapi karena throat venturi lebih landai, perubahan
kecepatan, tekanan, dan pressure dropnya tidak sedrastis yang terjadi pada orifice.
Lebih besarnya nilai koefisien karakteristik venturi juga menandakan bahwa
kinerja venturimeter sebagai alat ukur laju alir (flowrate) lebih baik dari pada kinerja
orifice. Hal ini juga disebabkan karena kehilangan energi yang terjadi pada venturimeter
lebih kecil dibandingkan kehilangan energi pada orifice. Venturi juga merupakan alat
pengukur laju alir yang lebih sensistif terhadap laju alir fluida dalam jumlah banyak
dibandingkan orifice yang sensitivitasnya lebih sensitif untuk laju alir yang lebih kecil.
Hal ini dikarenakan jika pada orifice flowmeter diberikan laju alir fluida masukan yang
besar, maka akan terjadi aliran fluida balik karena bertumbukan dengan dinding orifice
yang berubah menjadi semakin curam ke dalamnya. Sedangkan dinding venturi lebih
landai, sehingga tumbukan yang menyebabkan fluida berbalik lebih kecil dan mungkin
tidak ada.


5.2.5 Perhitungan Pipe Fitting
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan panjang ekuivalen pada
elbow, T junction, dan valve, dengan ukuran nominal yang sama dengan ukuran
fittingnya, yang memiliki karakteristik akibat internal friction yang sama, dengan
memanfaatkan energi loss dari sebuah fitting. Panjang ekuivalen adalah panjang pipa
lurus yang dilewati oleh aliran fluida yang energinya sebanding dengan energi dari aliran
fluida yang melalui fitting. Aliran fluida di dalam fitting akan mengalami perubahan
karakteristik dari aliran fluida awalnya yaitu akan mengalami pressure drop karena friksi
antar partikel dengan permukaan pipa bertambah. Friksi yang terjadi berasal dari gesekan
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
43
dengan dinding dan juga friksi karena gesekan antar partikel fluida. Berikut data-data Le
untuk masing-masing fitting :
Tabel 6. Perhitungan fitting (elbow)
bukaan
valve
Q (m
3
/s) h elbow
(in)
h elbow
(m)
Po (kg/ms
2
) v (m/s) N Re F Le
1/6 0.000251917 0.5 0.0127 124.46 0.473297774 12953.4128 0.0105 2.751534
1/3 0.00039712 0.5 0.0127 124.46 0.746102931 20419.6592 0.0101 1.151103
1/2 0.00041527 0.125 0.003175 31.115 0.780202871 21352.9207 0.01 0.265802
2/3 0.00041527 0.125 0.003175 31.115 0.780202871 21352.9207 0.01 0.265802
5/6 0.000451567 0.125 0.003175 31.115 0.848396476 23219.272 0.0099 0.22706
1 0.000451567 0.125 0.003175 31.115 0.848396476 23219.272 0.0099 0.22706
Le rata2 0.814727

Tabel 7. Perhitungan fitting (T-junction)
bukaan
valve
Q (m
3
/s) h junction
(in)
h junction
(m)
Po (kg/ms
2
) v (m/s) N Re F Le
1/6 0.000251917 2.525 0.064134965 628.5226606 0.473297774 12953.4128 0.0105 13.89524
1/3 0.00039712 2.725 0.069214963 678.3066337 0.746102931 20419.6592 0.0101 6.273509
1/2 0.00041527 2.725 0.069214963 678.3066337 0.780202871 21352.9207 0.01 5.794478
2/3 0.00041527 2.725 0.069214963 678.3066337 0.780202871 21352.9207 0.01 5.794478
5/6 0.000451567 2.725 0.069214963 678.3066337 0.848397115 23219.2895 0.0099 4.949893
1 0.000451567 2.725 0.069214963 678.3066337 0.848397115 23219.2895 0.0099 4.949893

Le rata2 6.942915

Tabel 8. Perhitungan fitting (valve)
bukaan
valve
Q (m
3
/s) h valve
(in)
h valve (m) Po (kg/ms
2
) v (m/s) N Re F Le
1/6 0.000251917 0.5 0.012699993 124.4599328 0.473297774 12953.4128 0.0105 2.751533
1/3 0.00039712 0.125 0.003174998 31.1149832 0.746102931 20419.6592 0.0101 0.287776
1/2 0.00041527 0.375 0.009524995 93.34494959 0.780202871 21352.9207 0.01 0.797405
2/3 0.00041527 0.375 0.009524995 93.34494959 0.780202871 21352.9207 0.01 0.797405
5/6 0.000451567 0.375 0.009524995 93.34494959 0.848397115 23219.2895 0.0099 0.681178
1 0.000451567 0.375 0.009524995 93.34494959 0.848397115 23219.2895 0.0099 0.681178

Le rata2 0.999412

Seharusnya, jika bukaan valvenya semakin besar diperoleh P A yang juga
semakin besar karena kecepatan fluidanya juga semakin besar. Adanya perubahan
kecepatan fluida ini juga menyebabkan perubahan arah aliran. Perubahan arah aliran ini
dapat menyebabkan heat loss karena terjadinya friksi.
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
44
Berdasarkan literatur, semakin panjang Le (panjang ekuivalen), maka pressure
dropnya juga semakin besar. Hal ini terjadi karena semakin panjang pipa berarti fluida
yang melewati lebih banyak dan friksi dari aliran yang terjadi juga semakin besar
sehingga terjadi heat loss yang semakin besar pula. Namun, hasil yang diperoleh dari
perhitungan tidaklah demikian. Hal ini akan dibahas lebih lanjut pada analisisis
kesalahan.
Dari data pengolahan, pressure drop terkecil terjadi pada elbow, urutannya adalah
elbow < valve < T-junction. Seharusnya yang terkecil adalah gate valve, sehingga
urutannya valve < elbow < T-junction. Hal ini disebabkan oleh kehilangan energi yang
dialami oleh T-junction paling besar, sehingga pressure dropnya pun paling besar.
Urutan pressure drop ini (valve < elbow < T-junction) disebabkan oleh pada saat
aliran melewati gate valve, arah aliran tidak berubah arah, sedangkan pada saat melewati
elbow dan T-junction, arah aliran berbelok dan menyebabkan adanya gesekan dengan
sudut fitting tersebut. Gesekan karena adanya sudut pada elbow dan T-junction ini
menyebabkan pressure drop yang cukup besar. Sedangkan pada gate valve, aliran tidak
melewati sudut, dan hanya lewat tanpa pembelokan, yang mengakibatkan pressure drop
yang terjadi tidak sebesar pada saat melewati elbow dan T-junction.
Panjang ekivalen Le sebanding dengan h
fitting
( Le ~ h
fitting
) dan berbanding
terbalik secara kuadratik dengan laju alir v (h ~ 1/v
2
). Hal ini sesuai dengan rumus:
2
.
. . . . 2
v f
D H g
Le
pipa fitting
A
=

Semakin besar laju alir maka kecepatan v juga semakin besar, maka Le akan semakin
kecil. Hubungan antara Q (yang sebanding dengan v) dengan Le dari masing-masing
fitting (elbow, T-junction, dan gate valve) dapat dilihat pada grafik perbandingan Q vs Le
pada masing-masing tempat (Elbow, T-Junction, Valve)

5.2.6 Percobaan Friction Factor
Tabel 8. Perhitungan friction factor pipa D = 1 in dan L = 1.52 m
Pipa 1 Bukaan
valve
Q (m3/s) v (m/s) h pipa (m) Re Sifat
Aliran
f
D = 1 in =
0.0254 m
1/6 0.00025192 0.4968777 0.02539999 13261.03 turbulen 0.008424
1/3 0.00039712 0.7832742 0.05079997 20904.58 turbulen 0.00678
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
45
1/2 0.00041527 0.819073 0.07365996 21860.01 turbulen 0.00899
2/3 0.00041527 0.819073 0.07619996 21860.01 turbulen 0.0093
5/6 0.00045157 0.8906647 0.07619996 23770.7 turbulen 0.007865
1 0.00045157 0.8906647 0.07619996 23770.7 turbulen 0.007865




Tabel 9. Perhitungan friction factor pipa D = 3/4 in dan L = 1.52 m
Pipa 2 Bukaan
valve
Q (m3/s) v (m/s) h pipa (m) Re Sifat
Aliran
f
D= 3/4 in =
0.019 m
1/6 0.00025192
0.8870317
0.04444998
17708.7
turbulen 0.004626
1/3 0.00039712
1.3983099
0.02984498
27915.86
turbulen 0.00125
1/2 0.00041527
1.4622183
0.02476499
29191.73
turbulen 0.000948
2/3 0.00041527
1.4622183
0.01587499
29191.73
turbulen 0.000608
5/6 0.00045157
1.5900246
0.01587499
31743.25
turbulen 0.000514
1 0.00045157
1.5900246
0.01587499
31743.25
turbulen 0.000514

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan f (dimentionless friction
factor) dari dua buah pipa dengan diameter berbeda. Dari pengolahan data terlihat bahwa
semakin kecil diameter suatu pipa, maka akan semakin besar laju alir. Hal ini disebabkan
karena pada laju alir yang sama, kecepatan pada sumbu pipa yang berdiameter lebih
besar dari pada kecepatan pada sumbu pipa berdiameter 1 in. Perbedaan kecepatan ini
disebabkan karena perbedaan luas radial pipa.
Bila ditinjau lebih lanjut, aliran pada pipa yang berdiameter in lebih turbulen
jika dibandingkan dengan aliran pada pipa 1in pada laju alir (Q) yang. Hal ini dapat
dilihat dari hasil pengolahan data di atas.
Dari pengolahan data, nilai faktor friksi cenderung menurun jika laju alir
bertambah. Hal ini karena karena f berbanding terbalik dengan v secara kuadratik
walaupun terjadi kenaikan Ah pada pipa, sebagaimana terlihat pada persamaan:
2
1
.
2
. .
v L
D H g
f
A
=
Dari percobaan ini, nilai f pada pipa 1 in sebagian besar nilainya lebih kecil
daripada nilai f pada pipa in. Friksi pada kedua aliran pipa terjadi dikarenakan gesekan
dengan dinding pipa dan juga friksi karena tumbukan antar partikel aliran. Pada pipa 1 in,
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
46
friksi yang timbul oleh gesekan dengan dinding penampang pipa lebih besar
dibandingkan friksi karena gesekan pada pipa berdiameter in. Hal ini karena gradien
kecepatan secara radial pada pipa 1 in lebih besar daripada pada pipa in. Sedangkan
pada pipa berdiameter in, friksi karena tumbukan antar partikel fluida lebih besar
daripada friksi yang serupa pada pipa berdiameter 1 in.

5.2.7 Percobaan Aliran Laminer Dan Turbulen
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis aliran berdasarkan
profil kecepatan yang ditunjukkan oleh aliran tersebut. Pada percobaan kali ini dilakukan
pengamatan terhadap profil laju alir untuk mengetahui apakah aliran tersebut termasuk
dalam jenis aliran laminer, transisi, dan turbulen.
Tabel 10. Data Percobaan Nre
Bukaan valve Q (m3/s) v (m/s) Re Sifat
Aliran
f Pengamata
n
1/6 0.0002519
2
0.496877
7
13261.0
3
turbulen 0.00842
4
laminer
1/3 0.0003971
2
0.783274
2
20904.5
8
turbulen 0.00678 laminer
1/2 0.0004152
7
0.819073 21860.0
1
turbulen 0.00899 turbulen
2/3 0.0004152
7
0.819073 21860.0
1
turbulen 0.0093 turbulen
5/6 0.0004515
7
0.890664
7
23770.7 turbulen 0.00786
5
turbulen
1 0.0004515
7
0.890664
7
23770.7 turbulen 0.00786
5
turbulen

Pengamatan dalam menentukan jenis aliran ini dilakukan hanya dengan
menggunakan penglihatan visual dengan mata saja, sehingga keakuratannya amat
mungkin meragukan, karena putaran air tidak terlihat secara kasat mata dengan
mudahnya. Pada pengamatan, didapatkan hasil bahwa pada bukaan 1/6 dan 1/3, aliran
fluidanya adalah laminar dan pada bukaan , 2/3, 5/6, dan 1 aliran fluidanya adalah
turbulen. Fluida, dalam percobaan ini air, yang mengalir dalam suatu saluran, dalam
percobaan ini melalui saluran pipa menuju Visual Flow Box, pada awalnya berada pada
laju alir dengan bukaan valve paling kecil yaitu 1/6, sehingga aliran terlihat seperti aliran
laminer. Untuk bukaan valve 1/3, aliran juga terlihat seperti aliran laminer.
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
47
Berikutnya, bukaan valve semakin diperbesar yaitu mencapai bukaan 2/3. Pada
bukaan ini dengan kecepatan aliran yang semakin besar, gerakan fluida semakin tidak
teratur, sehingga terjadi pusaran-pusaran arus (Eddy current). Aliran pada bukaan 2/3 ini
menunjukan profil aliran turbulen, dimana kecepatan aliran yang tinggi membentuk
pusaran-pusaran pada fluida tersebut dan hal ini terus berlangsung hingga bukaan 1
(penuh).
Semakin cepat aliran fluida, maka semakin besar bilangan Reynold-nya, maka
momentum yang berpindah antar lapisan fluida semakn membesar. Kenaikan bilangan
Reynold sampai melewati batas kritisnya akan menyebabkan aliran menjadi turbulen dan
terjadi dua bagian region, yaitu bagian laminer di dekat dinding pipa dan bagian turbulen
mulai dari batas laminer sampai sumbu pipa. Akibat dari adanya dua daerah ini, profil
aliran tidak parabola lagi.
Berdasarkan data pengamatan dari percobaan yang telah dilakukan, terlihat bahwa
jenis aliran fluida dipengaruhi oleh besarnya laju alir yang dikontrol oleh besarnya
bukaan valve. Semakin besar bukaan valve maka semakin besar laju alirnya dan semakin
mengarah kepada turbulen profil aliran yang terbentuk. Begitu pula sebaliknya.
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
48
5.3 Analisis Grafik
5.3.1 Kalibrasi
Dari data pengamatan volume yang tertera pada sight gage dengan volume pada gelas
ukur, kita dapat memplot grafik V
ukur
vs V
tangki
sebagai berikut :


Grafik 1. Perbandingan volume ukur dan volume tanki


Pada grafik dapat kita lihat bahwa garisnya hampir membentuk garis lurus dengan regresi
sebesar 0,983 (mendekati 1). Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa nilai volume
yang tertera pada sight gage relatif sama dengan volume pada gelas ukur (sebenarnya).
Selain itu, bila kita perhatikan garisnya naik ke atas. Artinya, semakin besar volume ukur,
maka semakin besar pula volume yang tertera pada sight gage (berbanding lurus).

5.3.2 Karakteristik Sharp Edge Orifice Flow Meter
Dari data-data pada perhitungan di atas, diplot grafik hubungan antara p
orifice
terhadap
laju alir air (Q) pada Grafik 2 serta grafik hubungan antara laju alir air dengan koefisien
orifice.
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
49

Grafik 2. Hubungan pressure loss dengan flowrate pada orifice flow meter

Dari grafik di atas, didapatkan hubungan semakin besar laju alir, maka semakin
besar pula pressure drop yang terjadi. Hal ini disebabkan karena dengan semakin
besarnya laju alir, maka gesekan yang terjadi dan energi kinetik yang dihasilkan pun
semakin besar. Seperti yang kita ketahui, energi mekanik di setiap titik adalah sama. Oleh
karena itu, semakin kecil energy kinetik yang dihasilkan, semakin kecil tekanan yang
dihasilkan, sehingga P-nya semakin besar.


Grafik 3. Hubungan laju alir dengan Co
Dari grafik di atas diperoleh hubungan bahwa dengan bertambahnya laju alir, maka
nilai Co cenderung menurun. Namun, fenomena ini tidak terjadi pada semua bukaan.
Nilai Co cenderung menurun dari bukaan 1/6 hingga 2/3. Setelah itu baru naik pada
bukaan 5/6 dan konstan pada bukaan 1. Bila kita teliti dari persamaan-persamaan yang
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
50
digunakan dalam perhitungan, seharusnya dengan bertambahnya laju alir, maka nilai
koefisien karakteristik orifice, Co, semakin besar. Penyimpangan ini nantinya akan
dibahas lebih lanjut pada analisis kesalahan.

5.3.3 Karakteristik Venturi Flow Meter

Grafik 4. Hubungan pressure loss dengan flowrate pada venturi flow meter
Dari grafik di atas, didapatkan hubungan semakin besar laju alir, maka semakin
besar pula pressure drop yang terjadi. Hal ini disebabkan karena dengan semakin
besarnya laju alir, maka gesekan yang terjadi dan energi kinetik yang dihasilkan pun
semakin besar. Seperti yang kita ketahui, energi mekanik di setiap titik adalah sama. Oleh
karena itu, semakin kecil energy kinetik yang dihasilkan, semakin kecil tekanan yang
dihasilkan, sehingga P-nya semakin besar.


Grafik 5. Hubungan laju alir dengan Cv
Dari grafik di atas diperoleh hubungan bahwa dengan bertambahnya laju alir, maka
nilai Cv cenderung menurun. Namun, fenomena ini tidak terjadi pada semua bukaan.
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
51
Nilai Cv cenderung menurun dari bukaan 1/6 hingga 2/3. Setelah itu baru naik pada
bukaan 5/6 dan konstan pada bukaan 1. Bila kita teliti dari persamaan-persamaan yang
digunakan dalam perhitungan, seharusnya dengan bertambahnya laju alir, maka nilai
koefisien karakteristik venturi, Cv, semakin besar. Penyimpangan ini nantinya akan
dibahas lebih lanjut pada analisis kesalahan.

5.3.4 Perbandingan Karakteristik Venturi Flow Meter Dengan Orifice Flow Meter

Grafik 6. Hubungan Cv terhadap Co
Dari grafik dapat dilihat bahwa karakteristik venturi dengan orifice flow meter
berbanding lurus. Jika nilai karakteristik venturi flow meter semakin besar, maka nilai
karakteristik orifice flow meter juga semakin besar.

5.3.5 Perhitungan Pipe Fitting

Grafik 7. Hubungan flowrate terhadap friction factor pada fitting elbow
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
52
Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa laju alir berbanding terbalik dengan
friction factor pada fitting elbow. . Bila kita kaji, hal ini sesuai dengan persamaan :
2
1
.
2
. .
v L
D H g
f
A
=
Sehingga, nilai dari f itu sendiri berbanding terbalik dengan v.



Grafik 8. Hubungan laju alir dengan panjang ekivalen fitting

Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa panjang ekivalen Le berbanding terbalik
dengan laju alir. Hal ini sesuai dengan persamaan:
2
.
. . . . 2
v f
D H g
Le
pipa fitting
A
=

Semakin besar laju alir maka kecepatan v juga semakin besar, maka Le akan
semakin kecil.
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
53
5.3.6 Friction Factor

Grafik 9. Hubungan bilangan Renould dengan laju alir
Dari grafik di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin besar laju alir fluida,
maka semakin besar pula bilangan Re-nya yang artinya alirannya semakin turbulen. Hal
ini berlaku pada kedua macam diameter. Bila diperhatikan, grafik untuk diameter pipa
0,75 in berada di atas grafik untuk diameter pipa 1 in. Hal ini terjadi karena semakin kecil
diameter pipa, maka semakin besar laju alirnya (dengan debit yang sama), akibatnya nilai
Re-nya pun akan semakin besar.


Grafik 10. Hubungan faktor friksi dengan flowrate
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
54
Secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa laju alir berbanding terbalik dengan
faktor friksi. Hal tersebut dapat terlihat dari kurva yang semakin menurun. Bila kita kaji,
hal ini sesuai dengan persamaan :
2
1
.
2
. .
v L
D H g
f
A
=
Sehingga, nilai dari f itu sendiri berbanding terbalik dengan v.


Grafik 11. Hubungan laju alir dengan perbedaan ketinggian manometer

Seharusnya, bentuk grafik yang diperoleh adalah naik ke atas karena semakin
besar ketinggian pipa, maka semkin besar pula pressure drop yang terjadi. Seperti yang
telah diketahui sebelumnya, semakin besar laju alir, maka semakin besar pula pressure
drop yang terjadi. Hal ini disebabkan karena dengan semakin besarnya laju alir, maka
gesekan yang terjadi dan energi kinetik yang dihasilkan pun semakin besar. Seperti yang
kita ketahui, energi mekanik di setiap titik adalah sama. Oleh karena itu, semakin kecil
energy kinetik yang dihasilkan, semakin kecil tekanan yang dihasilkan, sehingga P-nya
semakin besar.
Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa semakin besar laju alir, maka semakin
besar ketinggian pipa. Penyimpangannya akan dibahas lebih lanjut pada analisis
kesalahan.

Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
55
5.4 Analisis Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut:
1. Pompa digunakan untuk membuat fluida mengalir dari tangki umpan ke pipa
2. Storage tank digunakan sebagai wadah untuk menampung air yang mengalir
dari keran untuk kemudian dialirkan ke pipa.
3. Pipa sebagai tempat mengalirnya air, diameter pipa yang bervariasi ini
digunakan dalam percobaan faktor friksi.
4. Orificemeter dan venturimeter digunakan untuk mengukur laju alir
berdasarkan sifat mekanika fluida.
5. Manometer digunakan untuk mengukur tekanan pada venturimeter,
orificimeter, elbow, valve, dan T-junction
6. Valve untuk mengatur bukaan sehingga laju alirnya akan bervariasi
7. Stopwatch untuk mengukur selang waktu dalam prosedur percobaan yang ada.

5.5 Analisis Kesalahan
Pada bagian analisis data perhitungan, terdapat berbagai keanehan data yang terjadi
yang tidak sesuai dengan teori dasar. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang ada
selama percobaan berlangsung, yaitu:
1. Kesalahan paralaks dalam mengamati perubahan skala manometer yang sangat sulit
untuk diamati karena terkadang fluidanya tidak terlihat ada pada skala berapa, dan
manometer juga sulit sekali untuk distabilkan.
2. Terkadang masih ada sedikit udara dalam manometer sehingga pengukuran tekanan
menjadi kurang akurat.
3. Bukaannya kurang akurat sesuai dengan nilai yang ditentukan pada prosedur
percobaan praktikum.
4. Kerusakan alat, misalnya adanya kebocoran pada bagian tertentu pada pipa.
Ketidakakuratan dalam percobaan kalibrasi, misalnya dalam pengukuran penurunan
volume air pada tangki dan pengukuran volume air pada gelas ukur.
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
56
BAB V
KESIMPULAN


Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan ada beberapa kesimpulan yang dapat
diambil yaitu:
- Volume yang ditunjukkan oleh tanki sight gage sangat dekat dengan volume ukur
sebenarnya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai faktor koreksi yang besarnya 1.0901.
- Semakin besar laju alir, maka pressure drop pada orifice dan venturimeter juga
semakin besar.
- Semakin besar laju alir, maka Co dan Cv semakin kecil.
- Pressure drop pada venturi lebih kecil daripada pada orifice untuk laju alir yang
sama.
- Koefisien karakteristik venturi lebih besar daripada koefisien karakteristik orifice
sehingga dapat dikatakan kinerja venturi sebagai alat ukur flow rate lebih baik dari
orifice.
- Pada fitting terjadi kehilangan energi yang disebabkan karena adanya friksi baik antar
partikel fluida maupun antara partikel fluida dengan permukaan dalam pipa.
- Nilai faktor friksi cenderung menurun jika laju alir bertambah.
Profil aliran yang terjadi pada kedua pipa untuk semua bukaan adalah turbulen.
Laporan Praktikum UOP 1: Sirkuit Fluida


Departemen Teknik Kimia 2010
57
DAFTAR PUSTAKA

De Nevers, Noel. 1991. Fluid Mechanics for Chemical Engineers.Singapore: McGraw-
Hill Book, Co.
Anonim. 1989. Petunjuk Praktikum Proses dan OperasiTeknikI. Depok: Teknik Gas dan
Petrokimia, FTUI.