Anda di halaman 1dari 7

Tumbuhan Rendah

BRYOPHYTA (TUMBUHAN LUMUT)

Bryophyta merupakan tumbuhan peralihan antara tumbuhan bertalus dan tumbuhan berkormus. Tumbuhan bertalus adalah tumbuhan yang tidak memiliki akar, batang, dan daun. Sedangkan kormus adalah tumbuhan yang telah memiliki akar, batang, dan daun sejati. Tumbuhan lumut mempunyai pergiliran keturunan dari fase sporofit ke fase gametofit. Pada fase sporofit yang diploid (2n) terjadi meiosis untuk memproduksi spora (n). Spora tumbuh menjadi tumbuhan fase gametofit (n). Gametofit memproduksi gamet melalui pembelahan secara mitosis. Hasilnya ovum (n), dan sperma (n). Terjadi fertilisasi menghasilkan zigot (2n). Zigot tumbuh menjadi fase sporofit. I. Ciri-ciri Bryophyta 1. Bersifat autotrof. 2. Tubuh memiliki klorofil. 3. Higrofit, terdapat pada tempat-tempat yang lembab. 4. Mengalami metagenesis dalam kehidupannya. 5. Terdapat individu gametofit dan sporofit. 6. merupakan vegetasi perintis 7. Organ : Daun, terdiri dari satu lapis sel Batang, belum memiliki pembuluh angkut (xilem dan floem). Akar, bukan merupakan akar yang sebenarnya (rhizoid). Sumber : Tjitrosoepomo, G. TAKSONOMI TUMBUHAN, hal: 166-171 Syamsuri, I. BIOLOGI SMA kelas X, hal: 235-240

II. Klasifikasi Bryophyta Tumbuhan lumut (Bryophyta) dibedakan dalam dua kelas dengan ciri-ciri yang jelas yaitu : Hepaticae (Lumut Hati) Musci (Lumut Daun) Ad. 1. Hepaticae (Lumut Hati) Lumut hati berbentuk lembaran, hidup menempel di atas permukaan tanah yang lembab atau terapung di atas air. Bereproduksi secara Vegetatif dan generatif. Vegetatif : Membentuk kuncup (gemma), dan Fragmentasi Generatif : Membentuk Antheridium dan Arkegonium Contoh : Marchantia polymorpha, dan Ricciocarpus natans Sumber : Tjitrosoepomo, G. TAKSONOMI TUMBUHAN, hal: 173 Syamsuri, I. BIOLOGI SMA kelas X, hal: 235-240

Note : Y Lumut hati (Hepaticae) merupakan lumut berumah dua, yaitu lumut yang dalam satu individu hanya terdapat sebuah alat kelamin saja (jantan atau betina). Y Pada metagenesis lumut hati tidak ditemukan protonema. Y Gerak sperma lumut menuju telur yang terdapat di dalam arkeosit merupakan gerak kemotaksis. Y Sporangium (kotak spora) dapat pecah bila suhu lingkungan sangat kering, dan akhirnya spora berhamburan ke luar. Y Dalam reproduksinya, lumut sangat memerlukan bantuan air sebagai mediumnya. Ad. 2. Musci (Lumut daun) Ciri-ciri : 1. Tumbuh di tanah, dan tempat-tempat yang terbuka. 2. Batangnya tegak, bercabang-cabang, dan berdaun kecil-kecil. 3. Reproduksi vegetatif dengan membentuk kuncup pada cabang-cabang batang. 4. Mengalami metagenesis dari fase sporofit ke fase gametofit. 5. Spora yang jatuh di tempat lembab tumbuh menjadi tumbuhan yang dikenal sebagai protonema. 6. Pada musci alat-alat kelamin terkumpul pada ujung batang atau pada ujung cabangcabangnya, dan dikelilingi oleh daun-daun yang letaknya paling atas. Sumber : Tjitrosoepomo, G. TAKSONOMI TUMBUHAN, hal: 188 Syamsuri, I. BIOLOGI SMA kelas X, hal: 238-240

III. Istilah-istilah penting pada Bryophyta 1. Protonema : merupakan bentukan yang terjadi apabila spora jatuh pada Tempat yang sesuai dan tumbuh. 2. Rhizoid : Akar yang bukan sebenarnya, terdiri dari sederetan sel-sel Yang tidak memiliki berkas pembuluh angkut. 3. Sporangium : Kotak spora 4. Gemma : Kuncup 5. Homotalus : Lumut yang dalam satu talus menghasilkan anteridium dan Arkegonium. 6. Heterotalus : Lumut yang dalam satu talus hanya terdapat anteridium atau arkegonim saja. 7. Arkegonium : Alat kelamin betina / penghasil telur. 8. Anteridium : Alat kelamin jantan / penghasil sperma. 9. Seta : Penopang sporangium (kotak spora). Sumber : Syamsuri, I. BIOLOGI SMA kelas X, hal: 238-240 Vidyarthi, R. D. A TEXT BOOK OF BOTANY, hal:519

PTERIDOPHYTA (TUMBUHAN PAKU)

Pteridophyta (Tumbuhan Paku) merupakan suatu Divisi yang warganya telah jelas mempunyai kormus yaitu mempunyai akar, batang, dan daun yang sebenarnya. Artinya Akar, batang, dan daunnya telah memiliki pembuluh angkut berupa xilem dan Floem. I. Ciri-ciri Tumbuhan Paku 1. Akar, merupakan sistem perakaran serabut. 2. Umumnya batang terdapat di dalam tanah (Rizom), ada juga yang tumbuh tegak di atas permukaan tanah. 3. Memiliki Pembuluh angkut berupa xilem dan floem. 4. Batang bercabang-cabang menggarpu (dikotom). 5. Berkembang biak dengan spora. 6. Spora dihasilkan oleh kotak spora (Sporangium). 7. Daun yang masih muda biasanya menggulung. 8. Daun majemuk menyirip penghasil spora dan untuk fotosintesis. 9. Hidup higrofit, hidrofit, epifit, dan saprofit. 10. Terdapat pergiliran keturunan (Metagenesis). Sumber : Tjitrosoepomo, G. TAKSONOMI TUMBUHAN, hal: 205-206 Syamsuri, I. BIOLOGI SMA kelas X, hal: 241-243 Tjitrosomo, S. S. BOTANI UMUM 3, hal: 107-118

II. Klasifikasi Tumbuhan Paku Dalam Taksonomi, Pteridophyta termasuk juga yang telah punah, dibedakan dalam beberapa kelas yaitu: Kelas Psilophytinae (Paku Purba) Kelas Lycopodiinae (Paku Kawat atau Paku Rambat) Kelas Equisetinae (Paku Ekor Kuda) Kelas Filicinae (Paku Sejati) Sumber : Tjitrosoepomo, G. TAKSONOMI TUMBUHAN, hal: 212

Ad. 1. Kelas Psilophytinae (Paku Purba) Ciri-ciri : 1. Merupakan Paku Telanjang (Tidak berdaun) atau hanya memiliki daun-daun kecil (mikrofil) yang belum terdiferensiasi. 2. Paku Purba bersifat Homospor. 3. Diantara anggotanya ada yang belum memiliki akar. Contoh : Psilotum nudum Sumber : Tjitrosoepomo, G. TAKSONOMI TUMBUHAN, hal: 212

Ad. 2. Kelas Lycopodiinae (Paku Kawat atau Paku Rambat) Ciri-ciri : Batang dan akar-akarnya bercabang-cabang menggarpu. Daun kecil-kecil (mikrofil). Tidak bertangkai. Selalu bertulang satu saja. Daun-daun sangat banyak dan tersusun rapat menurut garis spiral. Sporangium muncul di ketiak daun dan berkumpul membentuk strobilus. Batangnya seperti kawat. Contoh : Selaginella sp, Lycopodium, dan Isoetes

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Sumber : Tjitrosoepomo, G. TAKSONOMI TUMBUHAN, hal: 217-218

Ad. 3. Kelas Equisetinae (Paku Ekor Kuda) Ciri-ciri : 1. Memiliki batang bercabang dan beruas-ruas. 2. Susunan sporofil merupakan suatu badan berbentuk gada atau kerucut yang terletak pada ujung batang atau cabang. 3. Memiliki spora peralihan antara paku homospor dan heterospor. 4. Protalium berwarna hijau dan berkembang di luar Contoh : Equisetum debile, Equisetum diffusum, Equisetum orvense. Sumber : Tjitrosoepomo, G. TAKSONOMI TUMBUHAN, hal: 234-235

Ad. 4. Kelas Filicinae (Paku Sejati) Ciri-ciri : 1. Anggota Filicinae (Paku sejati) memiliki daun besar (makrofil) dengan tulang tangkai daun telah memiliki mesofil. 2. Daun yang masih muda menggulung pada ujungnya dan pada sisi bawah terdapat banyak sporangium. 3. Banyak tumbuh di tempat-tempat yang teduh dan lembab. 4. Ada beberapa jenis dari kelas ini yang berguna untuk obat-obatan Sumber : Tjitrosoepomo, G. TAKSONOMI TUMBUHAN, hal: 242

Filicinae dapat dibedakan dalam 3 anak kelas, yaitu : 1. 2. 3. Eusporangiatae Leptosporangiatae Hydropterides Ad. 1. Anak kelas Eusporangiatae

Ciri-ciri : 1. Berupa herba. 2. Protalium di bawah tanah dan tidak berwarna atau, atau di atas tanah dan berwarna hijau. 3. Protalium selalu memilikicendawan endofitik. 4. Sporangium memiliki dinding tebal dan kuat yang terdiri atas bebrapa lapis sel, spora sama besar. Contoh : Botrychium daucifolium

Ad. 2. Anak kelas Leptosporangiatae (filices) Ciri-ciri : 1. Terdapat di daerah tropika. 2. Berupa pohon, batangnya dapat mencapai besar satu mlengan atau lebih. 3. Batang umumnya tidak bercabang dan pada ujungnya terdapat suatu rozet daun. 4. Daun yang masih muda selalu menggulung. Contoh : Polypodium trilobum

Ad. 3. Anak kelas Hydropterides (Paku Air) Ciri-ciri : 1. 2. 3. 4. 5. Bersifat heterospor. Makrosporangium dan mikrosporangium berdinding tipis. Tidak mempunyai anulus (cincin). Berupa tumbuhan air atau tumbuhan rawa. Spora diliputi oleh perispotium dengan bentuk susunan yang aneh. Contoh : Semanggi (Marsilea crenata).

Pelontaran spora dari sporangium melalui 2 tahapan Pada tahap pertama Sporangium membuka perlahan-lahan dengan sebagian besar sporanya melekat pada daerah dinding yang terjauh dari tangkainya. Pada tahap kedua, anulus berlaku seperti pegas, tiba-tiba meletik ke muka kembali sehingga spora-sporanya terlempar ke udara. Terbukanya sporangium terjadi dengan bantuan anulus. Dinding-dinding sebelah luar dan sisinya tipis dan lentur, tetapi dinding sebelah dalam yang mengarah tegak dan radial sangat tebal. Sumber : Tjitrosomo, BOTANI UMUM 3, hal: 116-117.

III. Istilah-istilah penting pada Pteridophyta 1. Sori : Setiap kelompok sporangia yang tumbuh di permukaan bawah daun yang berwarna coklat atau hitam yang berbentu bintik (Bintik buah). Indusia : Bentuk tipis dan berkulit, yang merupakan pertumbuhan ke luar dari permukaan daun. Bentuk ada yang bulat dan ada juga yang berbentuk ginjal, melekat pada daun melalui

2.

3.

4. 5. 6. 7. 8. 9.

tangkai di tengahnya. Dimorfisme : Yaitu pada satu tanaman paku terdapat dua macam daun, yaitu sporofil (daun penghasil spora) dan Tropofil (daun yang hanya berfungsi untuk berfotosintesis). Sporangium : Yaitu kotak spora. Juriat : Yaitu generasi yang saling berlawanan. Tropofil : Merupakan daun steril yang berfungsi untuk melakukanj fotosintesis. Sporofil : Merupakan daun fertil yang berfungsi untuk menghasilkan spora. Anulus : Barisan sel berdinding tebal, yang terdapat pada sporangium. Berperan dalam proses terlepasnya spora dari kotak spora. Prothalium : Perkembangan dari spora tumbuhan paku yang jatuh pada tempat yang sesuai.

Sumber : Tjitrosomo, S. BOTANI UMUM 3, hal: 116 Syamsuri, I. BIOLOGI SMA kelas X, hal: 241-243 Tjitrosoepomo, G. TAKSONOMI TUMBUHAN, hal: 205

LUMUT KERAK Lumut kerak terdiri dari dua jenis organisme, yaitu jamur dan ganggang yang hidup bersimbiosis mutualisme. Mereka bersimbiosis sangat erat membentuk talus sehingga seakanakan menyatu menjadi satu organisme. Lumut kerak merupakan simbiosis antara jamur dari golongan Ascomycota atau Basidiomycota dengan Chlorophyta atau Cyanobacteria bersel satu. Talus lumut kerak yang hidup menempel pada batang pohon biasanya berbentuk lembaran tipis, seperti kerak. Talus ini tersusun atas miselium yang kompak di sebelah luar, dan hifa yang tidak kompak di sebelah dalam. Diantara hifa tersebut terdapat sel-sel ganggang. Seperti yang telah diketahui, jamur hidup secara heterotrof, sedangkan ganggang hidup secara autotrof. Jamur memperoleh makanan dari hasil fotosintesis ganggang. Cyanobacteria dalam lumut kerak juga berfungsi sebagai pengikat nitrogen. Sedangkan jamur menyediakan air, mineral, melakukan pertukaran gas dan perlindungan terhadap ganggang. 1. Cara Bereproduksi Reproduksi seksual lumut kerak dilakukan sendiri-sendiri. Artinya, baik jamur maupun ganggang melakukan reproduksinya sendiri. Jamur membentuk askokarp atau basidiokarp, yang di dalamnya terdapat spora. Reproduksi aseksual lumut kerak dilakukan dengan cara fragmentasi. Fragmen (potongan) lumut kerak induk terlepas , jika jatuh di tempat yang cocok akan tumbuh menjadi individu baru. Reproduksi aseksual juga dilakukan dengan membuat struktur khusus yang disebut soredia, yakni beberapa sel ganggang yang terbungkus oleh hifa yang terdapat pada permukaan talus lumut kerak. Soredia berbentuk seperti serbuk memutih seperti tepung.

2. Tipe-tipe lumut kerak

Berdasarkan bentuk pertumbuhannya, lumut kerak terbagi menjadi tiga tipe, yaitu krustosa, foliosa, dan frutikosa. o Krustosa, jika talus terbentuk seperti kerak (kulit keras) dan melekat erat pada substratnya. Contoh: Physcia. o Foliosa, jika talus berbentuk seperti daun. Contoh: Parmelia o Frutikosa, jika talus tegak seperti semak atau menggantung seperti jumbai atau pita. Contoh: Usnea Sumber : Syamsuri, I. BIOLOGI SMA kelas X, hal: 225

o o o o

3. Manfaat lumut kerak Lumut kerak memiliki beberapa manfaat bagi kehidupan manusia di antaranya: Dapat dibuat obat Dapat digunakan sebagai penambah rasa dan aroma Pigmen yang dihasilkannya dapat dibuat kertas lakmus celup, indikator pH Pada daerah berbatu-batu, lumut kerak memulai pembentukan tanah dengan melapukkan permukaan bebatuan dan menambahkan kandungan zat-zat yang dimilikinya :