Anda di halaman 1dari 15

TINJAUAN PUSTAKA

Malam (Lilin Lebah) Ada tiga jenis lilin yang dikenal di alam, yakni yang berasal dari hewan, tumbuhan dan petrolium atau mineral. Lilin asal hewan yakni malam (beewax) adalah salah satu lilin yang kimianya stabil dan terkenal sepanjang sejarah perdagangan dunia (Sihombing, 1992). Terdapat dua golongan kualitas malam yaitu: 1) Malam kualitas pertama, diperoleh dari sarang lebah yang masih baru dan belum pernah diisi madu atau tepung sari oleh penghuninya. Malam yang diperoleh dari sarang demikian ini warnanya putih dan bersih, 2) Malam kualitas kedua yaitu malam yang diperoleh dari sarang lebah yang telah diisi madu serta telah diambil madunya (Hardiwiyoto, 1978).

Pembuatan Lilin Lebah Lilin lebah diperoleh dengan merebus sarang lebah pada suhu 65 oC, lilin lebah akan mengapung di permukaan air. Kemudian lilin lebah tersebut dipindahkan pada wadah perebus lain dan direbus lagi pada suhu 90 oC dan didinginkan sehingga diperoleh lilin lebah yang lebih murni dan bersih (Selvita, 2011). Cara mendapatkan lilin lebah adalah dengan merebus sarang lebah dalam panci aluminium sampai mendidih. Semua kotoran yang mengapung harus dibuang setelah lilin lebah dibersihkan dari segala kotoran kemudian didinginkan dengan demikian jadilah lilin lebah atau malam (Warisno, 1996).

4
Universitas Sumatera Utara

Komposisi Lilin Lebah Lilin lebah merupakan lilin yang kompleks dibentuk dari campuran beberapa komponen meliputi hidrokarbon 14%, monoester 35%, diester 14%, triester 3%, hidroksi monoester 4%, hidroksi poliester 8%, asam ester 1%, asam poliester 2%, asam bebas, alkohol bebas 1%, dan 6% sisanya tidak diketahui. Komponen utama dari lilin lebah adalah palmitat, palmitoleat, hidroksi palmitat dan ester oleat yang berantai panjang (C30 -C32) dari alkohol aliphatic. Perbandingan triacontanil palmitat (CH3(CH2)29O-CO-(CH2)14CH3 dengan asam serotik (CH3(CH2)24COOH, yaitu 6:1 (Enslikopedia, 2007). Lilin lebah ini berada dalam bentuk triester dan diester. Sebagai senyawa tersier, lilin lebah merupakan ester dari asam lemak berantai panjang dengan alkohol berantai panjang (sterol/fatty alcohol) dan asam hidroksilat, berupa senyawa diester dari alkanadiol atau asam hidroksilat (Kalattukudy, 1976). Titik lebur lilin lebah murni berkisar antara 61-69oC (142-156oF), indeks refraksinya 1,44. Tahanan dielektrisnya 2,9 dan berat jenis pada suhu 20oC adalah 0,96 lebih ringan dari air. Tidak larut dalam air dan sedikit larut dalam alkohol dingin. Benzen chloroform, karbon disulfida, eter dan beberapa minyak yang mudah menguap melarutkan malam komplit. Bau dan rasanya khas dan terbakar dengan nyala kuning bersih dan mengeluarkan aroma unik. Malam sering terkontaminasi dengan sedikit polen, propolis, dan madu yang meningkatkan berat jenis dan warnanya (Sihombing, 1992). Dari sudut pandang kimia, wax didefinisikan sebagai ester dari asam lemak dengan alkohol monohydrat dengan berat molekul tinggi. Ini dibedakan dari lemak yang merupakan ester dari asam lemak dengan alkohol trihidrat

Universitas Sumatera Utara

(biasanya glycerol) dengan berat molekul rendah, dan bisa ditambahkan bahwa apa yang disebut dengan minyak tetap atau minyak lemak dalam kenyataannya adalah lemak yang dicairkan pada temperatur biasa (Greene, 1999). Adapun rumus kimia lilin lebah adalah sebagai berikut: O C13H27C-O-C26H53 Gambar 1. Rumus Kimia dari Lilin Lebah (Central Food Technological Reseach Institute, 1977).

Aplikasi Lilin Lebah Manfaat lilin lebah adalah untuk bahan membatik, lilin penerang, industri kosmetik, cold cream, lipstick, dan berbagai lotion, juga bisa digunakan sebagai campuran pembuatan sabun natural yang berbahan dasar minyak. Pada industri farmasi, lilin lebah digunakan untuk bahan pembuatan plester atau kain pembalut, obat-obatan luar, campuran bahan-bahan tahan air/water proof, selain itu juga bisa digunakan sebagai campuran tinta, pensil, semir serta sebagai zat pengkilat (Lamar, et al., 1976). Untuk pencegahan terhadap pembusukan buah, sehingga pembusukan pada buah dapat diperkecil. Salah satu caranya adalah dengan melapisi buah dengan lilin. Tujuan pelapisan lilin adalah untuk mencegah penguapan atau kehilangan air terlalu banyak, mempertahankan kesegaran dalam waktu yang cukup lama, mencegah kelayuan, serta memperindah kulit buah (Selvita, 2011). Sebagian penyalutan permukaan sama seperti permukaaan buah alami yang mengandung lilin dimana lilin tersebut merupakan penghalang yang baik untuk uap air. Ini mengurangi laju penguapan air dari permukaaan buah dan dengan demikian memperlambat kehilangan berta yang dapat dijual. Pada banyak

Universitas Sumatera Utara

buah, ini juga bisa memperlambat kehilangan air buah dan serangan awal layu yang dapat dilihat, yang melindungi hasil bumi dari kehilangan nilai karena penurunan kualitas. Kecendrungan kehilangan air bisa ditandai dengan kehilangan berat segar dalam kondisi standar (Lopez, 1975). Setelah panen, tetapi sebelum buah atau sayuran dikemas dan dikirim ke supermarket, buah atau sayuran dicuci berulang kali untuk membersihkan kotoran dan tanah. Pencucian ekstensif sedemikian juga menghilangkan lilin alami. Karena itu, lilin digunakan pada sebagian hasil bumi di tempat pengemasan untuk menggantikan lilin alami yang hilang. Lilin digunakan untuk: 1) membantu menahan air di dalam buah dan sayuran selama pengiriman dan pemasaran, 2) membantu menghambat pertumbuhan jamur, 3) melindungi buah dan sayuran dari memar, 4) mencegah kerusakan fisik lainnya dan penyakit, 5) meningkatkan tampilan. Dengan melindungi terhadap kehilangan air dan kontaminasi, penyalutan lilin membantu buah dan sayuran segera mempertahankan keutuhan dan kesegarannya. Penyalutan lilin tidak meningkatkan kualitas buah atau sayuran berkualitas rendah, namun penyalutan lilin bersama-sama dengan penanganan yang tepat memberi kontribusi dalam pemelihataan produk yang sehat (Extension, 1998).

Pompa Tekanan Tinggi (Homogenizer) Homogenizer adalah sejenis alat yang digunakan untuk mendispersikan suatu cairan didalam cairan lainnya, alat ini cocok digunakan untuk membuat emulsi dengan kestabilan tinggi, Karena dapat menghasilkan emulsi yang berukuran partikel lebih kecil dari satu micron serta seragam. Didalam industri

Universitas Sumatera Utara

pangan, homogenizer banyak digunakan untuk mereduksi ukuran globula lemak didalam susu segar system emulsinya lebih stabil (Nguyen, 2010). Homogenizer yang digunakan di dalam industri tersebut terdapat didalam banyak model dan kapasitas.perbedaan model tersebut terdapat dalam banyak model dan kapasitas. Perbedaan model tersebut umumnya terletak pada konstrukis lubang dan alat pengatur pengeluaranya (Nguyen, 2010). Kebanyakan tekanan tinggi homogenizers digunakan untuk homogenisasi diadaptasi dari peralatan komersial yang dirancang untuk menghasilkan emulsi dan homogenat dalam industri makanan dan farmasi. Mereka menggabungkan tekanan tinggi dengan katup pelampiasan. Mereka dengan rating tekanan maksimum 10.000 psi pecah sekitar 40% dari sel pada single pass, 60% pada lulus kedua dan 85% setelah empat lewat. Kapasitas homogenizers terus bervariasi dari 55 sampai 4.500 liter / jam pada 10-17% b / v konsentrasi sel. Dengan mesin berkapasitas lebih besar beberapa melewati diperlukan untuk mencapai hasil yang tinggi gangguan. Panas yang cukup dapat dihasilkan selama operasi ini homogenizers dan karena itu penukar panas terpasang ke port outlet penting (Yacko, 2004).

Emulsi Sistem emulsi Emulsi adalah suatu system heterogen, yang terdiri dari tidak kurang dari sebuah fase cair yang tidak bercampur, yang terdispersi dalam fase cair lainnya, dalam bentuk tetesan-tetesan, dengan diameter secara umum, lebih dari 0,1 m. Secara umum, emulsi merupakan system yang terdiri dari dua fase cair yang tidak bercampur, yaitu fase dalam (internal) dan fase luar (eksternal). Komponen

Universitas Sumatera Utara

emulsi: 1) Fase dalam (internal), 2) Fase luar (eksternal), 3) Emulsifiying Agent (emulgator) (King, 1984). Selanjutnya menurut Bird, et al., (1983), emulsi dapat dibedakan atas dua tipe, yaitu emulsi dengan sistem o/w (oil in water) dan emulsi dengan sistem w/o (water in oil). Kondisi tergantung dari bagian yang menjadi fase kontinu atau bagian yang menjadi fase diskontinu. Contoh umum untuk emulsi o/w adalah air susu dan mayonaise, sedangkan contoh emulsi w/o adalah margarin dan mentega. Komponen yang paling penting dalam pembentukan emulsi adalah minyak, karena minyak menentukan apakah bentukan emulsi adalah o/w atau w/o. Jenis dan jumlah minyak yang ditambahkan berpengaruh terhadap kestabilan emulsi. Lemak atau minyak yang mengandung asam lemak jenuh lebih sukar diemulsikan daripada lemak atau minyak yang mengandung lemak tidak jenuh dengan satu atau dua ikatan rangkap dengan jumlah atom karbon yang sama (Christian and Saffle, 1967). Trietanolamina Trietanolamina, sering disingkat sebagai TEA, adalah senyawa kimia organik yang merupakan sebuah amina tersier dan triol satu. triol adalah molekul dengan tiga kelompok alkohol. Seperti amina lainnya, trietanolamin merupakan basis kuat karena pasangan elektron mandiri pada atom nitrogen. Trietanolamina juga dapat disingkat sebagai TEOA, yang dapat membantu untuk

membedakannya dari trietilamina. Sekitar 150.000 metrik ton diproduksi pada tahun 1999. Trietanolamina dihasilkan dari reaksi etilen oksida dengan amonia air, juga diproduksi etanolamin dan Dietanolamina. Rasio produk dapat dikontrol dengan mengubah stoikiometri dari reaktan. Trietanolamina digunakan terutama

Universitas Sumatera Utara

10

sebagai emulsifier dan surfaktan. Hal ini juga berfungsi sebagai penyeimbang pH di banyak produk kosmetik yang berbeda - mulai dari pembersihan krim dan susu, lotion kulit, gel mata, pelembab, shampoo, dll (Ensiklopedia, 2009). Asam oleat Asam oleat adalah monounsaturated omega-9 asam lemak yang ditemukan dalam berbagai hewan dan lemak nabati. Ia memiliki rumus CH 3 (CH CH (CH
2) 7 2) 7

CH =

COOH. Ini adalah tidak berwarna, tidak berbau minyak, walaupun

sampel komersial mungkin kekuningan. Para isomer trans dari asam oleat disebut asam elaidic (maka nama elaidinization untuk reaksi yang switch isomer cis untuk isomer trans). Istilah "oleat" berarti berkaitan dengan atau berasal dari, minyak atau zaitun. Sebagai eksipien di farmasi, asam oleat digunakan sebagai agen pengemulsi atau pelarut dalam produk aerosol (Ensiklopedia, 2010). Stabilitas emulsi Sifat emulsi ditentukan oleh sistem gaya yang terbentuk oleh

komposisinya, jenis bahan yang membentuk emulsi dan interaksi antara bahanbahan tersebut. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan emulsi menurut Griffin, (1954) dapat dibedakan menjadi lima yaitu ukuran partikel, jenis dan jumlah pengemulsi, perbedaan densitas antara kedua fase, pergerakan partikel, serta viskositas fase eksternal. Penggabungan partikel dapat dihambat dengan menambahkan bahan pengemulsi yang mempunyai aksi pelindung koloid dan meningkatkan viskositas fase eksternal. Ketidakstabilan emulsi dapat disebabkan oleh banyak hal diantaranya; tidak sesuainya rasio antar fase minyak dan air, jumlah dan pemilihan emulsifier yang salah, ketidakmurnian di dalam fase air, minyak atau emulsifier, pemanasan

Universitas Sumatera Utara

11

yang berlebihan, pembekuan serta waktu dan kecepatan pencampuran yang tidak tepat atau cocok (Bennet, 1964). Dasar teori kestabilan emulsi menurut Petrowski, (1976) adalah keseimbangan antara gaya tarik dan gaya tolak partikel. Gaya tolak elektrostatik bersifat menstabilkan karena gaya ini cenderung mempertahankan butiran-butiran yang terpisah. Sebaliknya gaya tarik menurunkan kestabilan emulsi, tetapi jika agregat terbentuk maka sifat fisik dan mekanik lainnya akan tetap mencegah tahap lanjut pengrusakan kestabilan partikel-partikel yang bergabung. Zat aktif permukaan diarahkan pada suatu cara khusus pada antar muka. Bagian hidrofilik berada dalam fase air sedangkan bagian lipofiliknya berada dalam fase minyak. Selanjutnya zat aktif permukaan berorientasi pada antarmuka adalah berkurangnya sedikit demi sedikit tegangan permukaan dengan berjalannya waktu seiring dengan penambahan zat aktif permukaan sampai dicapai suatu harga konstan. Sifat ini melukiskan bahwa molekul-molekul zat aktif permukaan berdifusi melalui air sampai mencapai antarmuka dimana molekul-molekul tersebut diadsorbsi membentuk sistem yang stabil (Lachman, et al., 1994). Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan emulsi adalah sebagai berikut : 1) Perbedaan berat jenis antara kedua fase, 2) Kohesi fase terdispersi, 3) Persentase padatan didalam emulsi. 4) Temperatur luar yang ekstrim, 5) Ukuran butiran fase terdispersi, 6) Viskositas fase kontinyu. 7) Muatan fase terdispersi, 8) Distribusi ukuran butiran fase terdispersi. 9) Tegangan interfasial antara kedua fase (Nguyen, 2010). Stabilitas emulsi adalah sifat emulsi tanpa adanya koalesen dari fase intern, kriming dan terjaganya rupa yang baik, bau, warna dan sifat-sifat fisis yang

Universitas Sumatera Utara

12

lainnya. Peneliti lain mendefenisikan bahwa ketidakstabilan fisis suatu emulsi adalah adanya agglomerasi dari fase intern dan terjadi pemisahan produk (Anief, 1999). Creaming adalah proses yang bersifat reversible, berbeda dengan proses pecahnya emulsi yang bersifat irreversible. Flokul cream dapat mudah didispersi kembali, dan terjadi campuran homogen bila digojok perlahan-lahan, karena butirbutir tetesan tetap dilingkupi dengan film pelindung. Sedangkan koalesen, dengan pengojokan sederhana akan gagal untuk mensuspensi kembali butir-butir tetesan dalam bentuk emulsi yang stabil, karena film yang meliputi partikel sudah rusak (Anief, 1999).

Analisa Sifat Fisik Emulsi Beberapa sifat fisik yang mempengaruhi emulsi diantaranya adalah stabilitas relatif emulsi, viskositas dan ukuran globula (partikel). Stabilitas relatif emulsi Dasar teori stabilitas emulsi adalah keseimbangan antara gaya tolak dan gaya tarik menarik yang bekerja dalam sistem. Stabilitas emulsi akan mencapai maksimum apabila gaya tolak antara globula-globula fase tidak kontinyu mencapai maksimum. Sebaliknya gaya tarik-menarik mencapai minimum. Gaya tolak menolak berasal dari lapisan ganda dan gaya tarik menarik berasal dari gaya Van der Waals (Petrowski, 1976). Kestabilan koloid ini disebabkan karena adanya gerak emulsi. Meskipun telah sampai ke dasar wadah, partikel koloid dapat naik kembali dan terus bergerak dalam mediumnya. Penyebab lainnya karena umumnya partikel koloid mengadsorpsi ion. Partikel koloid yang sama akan mengadsorpsi ion-ion yang

Universitas Sumatera Utara

13

sejenis, sehingga partikel-partikel koloid itu saling tolak-menolak karena pengaruh ion sejenis yang telah diadsorpsi (Wanibesak, 2011) Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami creaming, koaleser dan eracking. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, dimana yang satu mengandung fase dispers lebih banyak daripada lapisan yang lain. Creaming bersifat reversibel artinya bila dikocok perlahan-lahan akan terdispersi kembali, Koaleser dan eracking (breaking) yaitu pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen (menyatu). Sifatnya irreversibel (tidak bisa diperbaiki). Hal ini dapat terjadi karena peristiwa kimia, seperti penambahan alkohol, perubahan pH, serta peristiwa fisika. Seperti pemanasan, penyaringan, pendinginan dan pengadukan (Sarmoko, 2010). Gerak brown adalah gerak tidak beraturan atau gerak acak atau gerak zigzag partikel koloid. Hal ini terjadi karena adanya benturan tidak teratur dari partikel koloid denga medium pendispersi. Dengan adanya gerak Brown ini maka partikel koloid terhindar dari pengendapan karena terus-menerus bergerak, sehingga koloid menjadi stabil. Gerak zig-zag partikel koloid disebut gerak Brown, sesuai dengan nama penemunya Robert Brown (Wanibesak, 2011). Ukuran partikel Ukuran dari partikel ini tergantung dari tipe dan konsentrasi dari pengemulsi, perlakuan mekanik seperti penggunaan koloid mill, homogenizer, cara dan waktu penyimpanan produk. Kebanyakan emulsi mempunyai ukuran droplet lebih kecil dari 0,25 m diameternya. Untuk droplet paling besar mempunyai diameter sekitar 50 m. Beberapa metoda yang dapat dilakukan untuk memperkirakan droplet adalah dengan menggunakan light scattering, sedimentasi

Universitas Sumatera Utara

14

atau dengan menggunakan lubang khusus untuk mengukur besar partikel (Fennema, 1985). Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown yang terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam campuran heterogen zat cair dengan suspensi zat padat (Wanibesak, 2011). Pengecilan ukuran partikel dibutuhkan untuk meningkatkan kelarutan, meningkatkan homogenitas dan memudahkan dalam pencampuran serta kenyamanan dalam penggunaan. Mekanisme pengecilan ukuran partikel dapat dilakukan dengan cara : a) Impact : pengecilan ukuran partikel akibat tenaga tumbukan yang tiba-tiba yang tegak lurus pada permukaan partikel/aglomerat, b) Attrition : pengecilan ukuran partikel dengan mengaplikasikan tenaga paralel pada permukaan partikel, c) Compression : pengecilan ukuran partikel dengan mengaplikasikan tenaga secara perlahan (lebih kecil dibandingkan impact) pada permukaan partikel (pada bagian pusat dari partikel), d) Cutting : pengecilan ukuran partikel dengan mengaplikasikan pembagian/sharring partikel (memotong partikel) (Sarmoko, 2010). Penampakan emulsi ini pada dasarnya dipengaruhi oleh ukuran pertikel emusi dan perbedaan indeks bias antara fase terdispersi dan medium terdispersi. Pada prinsipnya emulsi yang tampak jernih hanya mungkin terbentuk bila indeks bias kedua fasenya sama atau ukuran partikel terdispersinya lebih kecil dari panjang gelombang cahaya sehingga terjadi refraksi, dapat dilihat pada table 1.

Universitas Sumatera Utara

15

Table 1. Hubungan antara ukuran partikel emulsi dengan penampakannya Ukuran Partikel Makroglobula > 1 mikron 0.1 1 mikron 0.05 0.1 mikron < 0.05 mikron
Sumber : Nguyen (2010)

Penampakan Kedua fasenya dapat dibedakan Tampak putih seperti susu Tampak biru keputihan Abu-abu agak transparan Transparan

Viskositas Peningkatan rasio minyak/air berarti penurunan fase pendispersi dan meningkatnya fase terdispersi. Penurunan fase pendispersi ini mengakibatkan viskositas akan semakin meningkat. Jadi apabila konsentrasi fase terdispersi ditingkatkan maka akan diikuti oleh peningkatan (Jost, et al., 1986). Viskositas emulsi dipengaruhi oleh perubahan komposisi adanya hubungan linear antara viskositas emulsi dan viskositas fase kontinyu, makin besar volume fase dalam, makin besar pula viskositas nyatanya. Untuk mengatur viskositas emulsi, ada tiga faktor inetraksi yang harus dipertimbangkan, yaitu : a) Viskositas emulsi o/w dan w/o dapat ditingkatkan dengan mengurangi ukuran partikel fase terdispersis, b) Kesetabilan emulsi ditingkatkan dengan pengurangan ukuran partikel, c) Flokulasi atau pemggumpalan yang cenderung membentuk fase dalam yang dapat meningkatkan efek penstabil (Sarmoko, 2010). Faktor faktor yang mempengaruhi viskositas suatu emulsi adalah viskositas medium dispersi, persentase volume medium dispersi, ukuran partikel fase terdispersi dan jenis serta konsentrasi emulsifier/stabilizer yang digunakan. Semakin tinggi viskositas dan persentase medium disperse, maka makin tinggi viskositas emulsi. Demikian juga semakin kecil ukuran partiker suatu emulsi, viskositas yang dihasilkan

Universitas Sumatera Utara

16

maka

semakin

tinggi

viskositasnya

dan

makin

tinggi

konsentrasi

emulsifier/stabilizer yang digunakan (Nguyen, 2010). Faktor penyimpanan juga mempengaruhi viskositas dari emulsi. Semakin lama produk disimpan makin rendah viskositasnya. Hal ini disebabkan karena adanya protonisasi hal ini menyebabkan penurunan pada daya pengikat dari bahan penstabil dan menunjang terbukanya konfigurasi polimer (Jost, et al., 1986).

Cara Pembuatan Lilin dan Emulsi Lilin Madu disaring atau disentrifus dari sel sarang madu, kemudian sel sarang dipanaskan pada suhu 66-71oC (150-160oF) malam akan melebur dan mengapung diatas sisa madu, dan setelah didinginkan malam mudah diperoleh (Sihombing, 1992). Sarang lebah yang sudah tua direndam di dalam air selama beberapa jam dibersihkan untuk melarutkan material-material dari dalam sel sarang. Jika tahap ini tidak berjalan dengan baik, lilin akan menyerap kotoran dan juga warna. Setelah sel sarang dibersihkan, dicairkan pada air panas. Cairan lilin akan mengapung pada bagian permukaan dan material-material asing yang ada dalam sel sarang akan larut dalam air panas tersebut. Setelah dingin lilin akan terbentuk pada bagian atas air (Abrol, 1997). Lilin diberikan dalam bentuk emulsi. Penggunaan emulsi lilin dalam air lebih aman dibandingkan pelarut jenis lain yang mudah terbakar. Emulsi lilin hendaknya menggunakan air suling/aquadest tidak boleh menggunakan air sadah karena garam-garam yang terkandung dalam air sadah akan merusak emulsi lilin. Bahan pengemulsi yang biasa digunakan adalah trietanolamin (TEA) dan asam oleat (Lolit Jeruk, 2004).

Universitas Sumatera Utara

17

Penelitian Sebelumnya Konsentrasi lilin yang digunakan untuk buah jeruk berkisar 4%-12%. Pembuatan emulsi dengan pengemulsi trietanolamin (TEA) dan asam oleat menggunakan perbandingan lilin : TEA : asam oleat, 6:2:1. Misalnya untuk pembuatan emulsi lilin 6%, dibutuhkan 60 g lilin, 20 ml TEA dan 10 ml asam oleat. Jumlah air (aquadest) yang ditambahkan adalah hasil pengurangan 1000 ml (60+20+10) = 910 ml aquadest (Lolit Jeruk, 2004). Menurut Ginting, (1995) pada pembuatan emulsi lilin 12% digunakan sebanyak 1 liter aquadest, kemudian emulsi lilin ini dapat diencerkan sesuai dengan konsentrasi yang diinginkan. Sebanyak 120 ml dipanaskan sampai mencair di dalam beaker glass. Kemudian ke dalam 25 ml air panas ditambahkan 40 ml trietanolamin. Sebelumnya ke dalam mortar dimasukkan air panas supaya mortar ini menjadi panas. Setelah mortar panas airnya dibuang. Kemudian ke dalam mortar tersebut dimasukkan lilin dengan asam oleat yang sudah dicampur secara perlahan-lahan diaduk sampai terjadi emulsi lilin. Kemudian ditambahkan sisa air panas sebanyak 795 ml sehingga terbentuk emulsi sebanyak 1 liter. Kemudian emulsi dapat diencerkan sesuai dengan konsentrasi yang diinginkan. Homogenizer umunya terdiri dari pompa yang menaikkan tekanan dispersi pada kisaran 500 sampai 5000 psi, dan suatu lubang yang dilalui cairan dan mengenai katup penghomogenan yang terdapat pada tempat katup dengan suatu spiral yang kuat. Ketika tekanan meningkat, spiral ditekan dan sebagian dispersi tersebut bebas di antara katup dan tempat ( dudukan ) katup. Pada titik ini, energi yang tersimpan dalam cairan sebagian tekanan dilepaskan secara spontan sehingga produk menghasilkan turbulensi yang kuat dan shear hidroulik. Cara kerja

Universitas Sumatera Utara

18

homogenizer ini cukup efektif sehingga bisa didapatkan diameter partikel rata-rata kurang dari 1 mikron tetapi homogenizer dapat menaikkan temperatur emulsi sehingga dibutuhkan pendinginan (Sarmoko, 2010).

Universitas Sumatera Utara