Anda di halaman 1dari 15

BAB II LAPORAN KASUS I.

Identitas Nama Umur Jenis kelamin Agama Pekerjaan Alamat Tanggal masuk RS Tanggal pemeriksaan : Tn. S : 27 tahun : Laki-laki : Islam : Wiraswasta : Palimanan : 03 Februari 2012 : 08 Januari 2012

II. Anamnesis (Autoanamnesis tanggal 28 Januari 2012) Keluhan utama Keluhan tambahan : Nyeri pada paha kaki kiri : Bengkak pada paha kiri, sulit berdiri dan berjalan.

Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang ke poiklinik bedah RSUD Arjawinangun dengan keluhan nyeri pada paha kaki kiri sejak > 3 bulan SMRS. Keluhan ini berawal dari kecelakaan lalu lintas yang menimpa pasien pada tgl 18 Oktober 2011. Nyeri yang di dirasakan ini sangat hebat terutama saat di tekan dan saat di gerakkan sehingga membuat pasien tidak bisa berdiri dan tidak bisa berjalan, namun pasien masih bisa menggerakkan kaki bagian bawah. Keluhan ini juga di sertai bengkak pada paha, namun tidak disertai memar maupun luka terbuka di sekitar area yang dikeluhkan. Menurut keluarga pasien saat kejadian, sepeda motor yang dikendarai pasien tertabrak mobil dari arah samping belakang dan langsung mengenai kaki kiri pasien, pasien sempat pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit, keluhan mual dan muntah disangkal. Buang air kecil dan besar pasien lancer. Perdarahan yang keluar dari kepala, hidung dan telinga disangkal. Setelah mendapatkan perawatan sehari di RS keluarga pasien membawa pasien pulang untuk mencari pengobatan alternative, namun pengobatan tersebut tidak membuahkan hasil akhirnya pasien kembali dibawa ke RS untuk dirawat.

Riwayat penyakit dahulu Pasien tidak pernah mengalami patah tulang sebelumnya Riwayat penyakit hipertensi sebelumnya disangkal Riwayat penyakit gula disangkal

Riwayat penyakit keluarga Tidak ada dalam keluarga yang menderita keluhan seperti ini

III. Pemeriksaan Fisik Status generalis Keadaan umum Kesadaran Vital sign : TD : Tampak sakit sedang : Compos mentis : 140/90 mmHg

Nadi : 88 x/menit RR S : 26 x/ menit : 36,5 C

Kepala : Normocephal Mata : Conjunctiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, pupi bulat isokor, refleks pupil +/+ normal Leher Thoraks Cor : Inspeksi Palpasi Perkusi : Ictus cordis tidak terlihat : Ictus cordis teraba pada sela iga 5 linea mid clavicula sinistra : Batas jantung normal : Trakea ditengah, pembesarak KGB (-)

Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-) Pulmo : Inspeksi : Pergerakan hemitoraks dalam keadaan statis dan dinamis simetris kanan dan kiri Palpasi : Fremitus vocal dan taktil hemitoraks kanan dan kiri simetris, tidak teraba massa dan tidak ada nyeri tekan

Perkusi

: Sonor di seluruh lapang paru

Auskultasi : Vesikuler, Rhonki -/-, Wheezing -/Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi : Tampak datar simetris : Supel , NT/NL/NK : -/-/- ; hepar dan lien tidak teraba besar : Tympani pada seluruh kuadran abdomen

Auskultasi : Bising usus (+ ) normal

Ekstremitas atas Ekstremitas bawah

: Akral hangat, edema -/-, sianosis -/: Akral hangat, edema -/-, sianosis -/-

Status lokalis : a/r Femoralis sinistra Look : Terlihat paha kiri terbalut elastic verband dari os femur proksimal sinistra sampai ke genu sinistra. Feel : Arteri dorsalis sinistra teraba, sensibilitas baik, suhu lebih hyperthermia dibandingkan tungkai atas sebelahnya Move : Nyeri (+), abduksi (+) terbatas, adduksi (+) terbatas, tungkai bawah kiri dapat digerakan terbatas, ankle joint kanan dapat digerakan rasa nyeri (+), dorso dan plantar fleksi (+) rasa nyeri (-), Jari jari kaki kanan dapat bebas digerakan nyeri (-)

IV.

Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium Darah rutin Hb Ht Leukosit Trombosit Lymphosi 3 Februari 2012 13, 3 g/dl 40, 3 vol% 10,4 x 103/ l 181 x 103/ l 1,6 x 103/ l 5 Februari 2012 10,4 g/dl 31,5 vol% 11,8 x 103/ l 130 x 103/ l 1,5 x 103/ l

Monosit Granulosit RBC MCV MCH MCHC RDW MPV PCT PDW

1,3 x 103/ l 7,5 x 103/ l 4,61 x 106/ l 87,4 m3 28,9 pg 33,0 g/dl 15,9 % 7,6 m
3

0,7 x 103/ l 9,5 x 103/ l 3,58 x 106/ l 88,0 m3 29,1 pg 33,0 g/dl 15,3 % 8,2 m3 0,107 % 15,1 %

0,138 % 13,0 %

Kimia Klinik 18 Februari 2012 GDS Ureum Kreatinin Natrium Kalium Clorida Calsium : 83 mg/dl : 14,7 mg/dl : 0,73 mg/dl : 147 mmol/L : 4,20 mmol/L : 109 mmol/L : 10,05 mmol/L

Golongan darah : AB Bleeding Time : 2 Clouting Time : 4

Foto Radiologi femur : (Pre op) Kesan : Tampak fraktur os femur 1/3 medial sinistra.

(Post op) Kesan

: Posisi dan kedudukan plate san 7 screw baik Belum tampak remodeling pada femur kiri 1/3 medial Fraktur femur kiri 1/3 distal sqa Belum jelas pembentukan kallus Tidak tampak tanda tanda osteomielitis

V.

Diagnosis Kerja POD V a/i Neglected close fracture os femur 1/3 tengah sinistra

VI. Penatalaksanaan Infus RL 20 gtt/menit Ceftriakson 3x1 g IV Ketorolac 2x1 amp Immobilisasi dengan pemasangan spalk Operatif : Open reduction fraktur + fiksasi internal

VII.

Prognosis

Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam : ad bonam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI TULANG FEMUR Persendian panggul merupakan bola dan mangkok sendi yaitu acetabulum dengan bagian dari femur, terdiri dari : kepala, leher, bagian terbesar dan kecil, trokhanter dan batang, bagian terjauh dari femur berakhir pada kedua kondilas. Kepala femur masuk acetabulum. Sendi panggul dikelilingi oleh kapsula fibrosa, ligamen dan otot. Suplai darah ke kepala femoral merupakan hal yang penting pada faktur hip. Suplai darah ke femur bervariasi menurut usia. Sumber utamanya arteri retikuler posterior, nutrisi dari pembuluh darah dari batang femur meluas menuju daerah tronkhanter dan bagian bawah dari leher femur.

FRAKTUR FEMUR A. DEFINISI Fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang. Patahan tadi mungkin tak lebih dari suatu retakan, suatu pengisutan atau perimpilan korteks; biasanya patahan itu lengkap dan fragmen tulang bergeser. Bilamana tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit atau kulit diatasnya masih utuh ini disebut fraktur tertutup (atau sederhana), sedangkan bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit yang cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi ini disebut fraktur terbuka. Rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang / osteoporosis.

B. EPIDEMIOLOGI Klasifikasi alfanumerik pada fraktur, yang dapat digunakan dalam pengolahan komputer, telah dikembangkan oleh (Muller dkk., 1990). Angka pertama menunjukkan tulang yaitu : 1. Humerus 2. Radius/Ulna 3. Femur 4. Tibia/Fibula

Sedangkan angka kedua menunjukkan segmen, yaitu : 1. Proksimal 2. Diafiseal 3. Distal 4. Maleolar Untuk fraktur femur yang terbagi dalam beberapa klasifikasi misalnya saja pada fraktur collum, fraktur subtrochanter femur ini banyak terjadi pada wanita tua dengan usia lebih dari 60 tahun dimana tulang sudah mengalami osteoporotik, trauma yang dialami oleh wanita tua ini biasanya ringan (jatuh terpeleset di kamar mandi) sedangkan pada penderita muda ditemukan riwayat mengalami kecelakaan. Sedangkan fraktur batang femur, fraktur supracondyler, fraktur intercondyler, fraktur condyler femur banyak terjadi pada penderita laki laki dewasa karena kecelakaan ataupun jatuh dari ketinggian. Sedangkan fraktur batang femur pada anak terjadi karena jatuh waktu bermain dirumah atau disekolah.

C. ETIOLOGI Bila terkena kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang terkena; jaringan lunak juga pasti rusak. Pemukulan (pukulan sementara) biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya; penghancuran kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas. Bila terkena kekuatan tak langsung tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena kekuatan itu; kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak ada. Fraktur akibat peristiwa trauma tunggal Kekuatan dapat berupa : 1. Pemuntiran (rotasi), yang menyebabkan fraktur spiral 2. Penekukan (trauma angulasi atau langsung) yang menyebabkan fraktur melintang 3. Penekukan dan Penekanan, yang mengakibatkan fraktur sebagian melintang tetapi disertai fragmen kupu kupu berbentuk segitiga yang terpisah

4. Kombinasi dari pemuntiran, penekukan dan penekanan yang menyebabkan fraktur obliq pendek 5. Penatikan dimana tendon atau ligamen benar benar menarik tulang sampai terpisah Tekanan yang berulang-ulang Retak dapat terjadi pada tulang, seperti halnya pada logam dan benda lain, akibat tekanan berulang ulang. Kelemahan abnormal pada tulang Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah (misalnya oleh tumor) atau kalau tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit paget)

D. KLASIFIKASI Klasifikasi fraktur femur dapat dibagi dalam : a. Fraktur collum femur : Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung yaitu misalnya penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak langsung yaitu karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah, dibagi dalam :

Fraktur intrakapsuler (Fraktur collum femur) Fraktur extrakapsuler (Fraktur intertrochanter femur)

b. Fraktur subtrochanter femur : Ialah fraktur dimana garis patahnya berada 5 cm distal dari trochanter minor, dibagi dalam beberapa klasifikasi tetapi yang lebih sederhana dan mudah dipahami adalah klasifikasi Fielding & Magliato, yaitu : tipe 1 : garis fraktur satu level dengan trochanter minor tipe 2 : garis patah berada 1 -2 inch di bawah dari batas atas trochanter minor tipe 3 : garis patah berada 2 -3 inch di distal dari batas atas trochanterminor c. Fraktur batang femur (dewasa)

Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas dikota kota besar atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam shock, salah satu klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan daerah yang patah. Dibagi menjadi : Tertutup

Fraktur femur kanan 1/3 distal spiraldisplaced tertutup

Fraktur femur kanan 1/3 proksimal kominutif displaced tertutup

Terbuka, ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah dengan dunia luar dibagi dalam tiga derajat, yaitu ; Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar. Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dari luar.

Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak banyak yang ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah) d. Fraktur supracondyler femur : Fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior, hal ini biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot otot gastrocnemius, biasanya fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus atau varus dan disertai gaya rotasi. e. Fraktur intercondyler femur : Biasanya fraktur intercondular diikuti oleh fraktur supracondular, sehingga umumnya terjadi bentuk T fraktur atau Y fraktur. f. Fraktur condyler femur : Mekanisme traumanya biasa kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi disertai dengan tekanan pada sumbu femur keatas.

E. GAMBARAN KLINIK Riwayat Biasanya terdapat riwayat cedera, diikuti dengan ketidakmampuan menggunakan tungkai yang mengalami cedera, fraktur tidak selalu dari tempat yang cedera suatu pukulan dapat menyebebkan fraktur pada kondilus femur, batang femur, pattela, ataupun acetabulum. Umur pasien dan mekanisme cedera itu penting, kalau fraktur terjadi akibat cedera yang ringan curigailah lesi patologik nyeri, memar dan pembengkakan adalah gejala yang sering ditemukan, tetapi gejala itu tidak membedakan fraktur dari cedera jaringan lunak, deformitas jauh lebih mendukung. Tanda tanda local : a) Look : Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal, angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah kulit itu utuh; kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera terbuka

b) Feel : Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal dari fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan c) Movement : Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih penting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi sendi dibagian distal cedera.

F. DIAGNOSIS Terdapat tanda klinis yang menunjang adanya fraktur Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan dengan sinar x harus dilakukan dengan 2 proyeksi yaitu anterior posterior dan lateral, kekuatan yang hebat sering menyebabkan cedera pada lebih dari satu tingkat karena itu bila ada fraktur pada kalkaneus atau femur perlu juga diambil foto sinar x pada pelvis dan tulang belakang

G. PENATALAKSANAAN 1. Terapi konservatif : o Proteksi o Immobilisasi saja tanpa reposisi o Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips o Traksi Penyembuhan fraktur bertujuan mengembalikan fungsi tulang yang patah dalam jangka waktu sesingkat mungkin Metode Pemasangan traksi: Traksi Manual Tujuan : Perbaikan dislokasi, Mengurangi fraktur, Pada keadaan Emergency. Dilakukan dengan menarik bagian tubuh. Traksi Mekanik Ada dua macam, yaitu :

Traksi Kulit

Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk struktur yang lain, misalnya: otot. Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5 kg. Untuk anak-anak waktu beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai fraksi definitif, bila tidak diteruskan dengan pemasangan gips. Traksi Skeletal

Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction. Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal atau penjepit melalui tulang/jaringan metal. Kegunaan pemasangan traksi Traksi yang dipasang pada leher, di tungkai, lengan atau panggul, kegunaannya : o Mengurangi nyeri akibat spasme otot o Memperbaiki dan mencegah deformitas o Immobilisasi o Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi). o Mengencangkan pada perlekatannya.

2. Terapi operatif o ORIF (Open Reduction internal fixation) Indikasi ORIF : o Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair necrosis tinggi o Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup o Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan o Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi

H. KOMPLIKASI

Early : Lokal : Vaskuler : compartement syndrome Trauma vaskuler Neurologis : lesi medulla spinalis atau saraf perifer Late : Malunion : Bila tulang sembuh dengan fungsi anatomis abnormal (angulasi, perpendekan, atau rotasi) dalam waktu yang normal Delayed union : Fraktur sembuh dalam jangka waktu yang lebih dari normal Nonunion : Fraktur yang tidak menyambung dalam 20 minggu Sistemik : emboli lemak Crush syndrome Emboli paru dan emboli lemak

DAFTAR PUSTAKA

1. Sabiton, David C. Buku Ajar Bedah. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta. 1994 2. Sjamsuhidajat. R, Wim De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah ed 2. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.2005 3. Schwartz. Intisari Prinsip Prinsip Ilmu Bedah ed 6. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta 2000 4. Doherty G M. Current Surgical Diagnosis and Treatment. USA : MC Graw Hill. 2006 5. Reksoprodjo, Soelarto. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal 457-484. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta. 6. Klasifikasi fraktur femur dan penanganannya yang diunduh dari website www.scrib.com pada tanggal 9 Februari 2012. 7. Traksi dan metode pemasangannya yang diunduh dari halaman website www.emedicine.medscape.com pada tanggal 9 Februari 2012.