Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum Biokimia Klinis

Hari/Tanggal Waktu PJP Asisten

: Rabu, 7 Maret 2012 : 13.00-16.00 WIB : Dimas Andrianto, M.Si : Yuanita Nugrahani K. Dewi Eriyanti Dita Meisyara Shelly

KALSIUM DARAH
Kelompok 9

Azra Zahrah Nadhirah Ikhwani Prio Sulistyatno Mina Ervani Suteria L.

G84090082 G84090043 G84090083

DEPARTEMEN BIOKIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2012

Pendahuluan Tubuh untuk tetap dapat hidup membutuhkan zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur atau pelindung. Zat tenaga terdiri atas protein, karbohidrat, dan lemak, sedangkan zat pembangun terdiri atas vitamin, mineral, dan air. Zat-zat ini semuanya dapat kita peroleh dari makanan (Suharjo & Kusharto 1987). Sebagian besar bahan makanan, yaitu sekitar 90% terdiri atas bahan organik dan air, sisanya terdiri dari unsur-unsur mineral. Salah satu jenis mineral yang paling banyak dalam tubuh adalah kalsium (Winarno 1995). Kalsium merupakan unsur terbanyak kelima dan kation terbanyak di dalam tubuh manusia, yaitu sekitar 1.5-3% dari keseluruhan berat tubuh. Sebagian besar kalsium, yaotu sekitar 99% terkonsentrasi dalam tulang rawan dan gigi, sedangkan sisanya 1% terdapat dalam cairan tubuh dan jaringan lunak. Kalsium ini juga ditemukan pada darah. Kadar kalsium dalam sirkulasi darah normalnya pada manusia sekitar 10 mg/100 mL. Adapun kadar kalsium darah dalam serum pada keadaan normal adalah 9-11 mg/dL (Linder 1992). Kalsium tersebut terdapat dalam serum dapat berikatan dengan protein (albumin dan globulin) ataupun sebagai ion Ca2+ dan sejumlah kecil kalsium merupakan kompleks dengan asam organik dan anorganik (Muchtadi 1989). Kebutuhan kalsium untuk manusia dewasa diperkirakan sekitar 800 mg/hari, sedangkan untuk wanita hamil dan menyusui dibutuhkan kalsium sekitar 1200 mg/hari. Banyak kalsium dibutuhkan selama pertumbuhan bayi dan anak, sekurang-kurangnya dibutuhkan 2-3 gelas susu tiap harinya. Defisiensi maupun kelebihan kalsium ini tentunya dapat mengganggu sistem kesetimbangan dan kesimbangan tubuh. Dengan demikian, kebutuhan kalsium harus tercukupi dengan baik (Miller 1996). Secara klinis, pemeriksaan kadar kalsium dapat dilakukan dengan menggunakan serum atau plasma. Ada berbagai metode pengukuran kadar kalsium dalam serum atau plasma yang digunakan hingga kini. Salah satu metode tersebut adalah metode Clark & Collip yang dilanjutkan dengan spektrofotometri. Spektrofotometri berdasarkan absorbsi ini merupakan metode yang terbilang lebih cermat di antara metode lainnya (Hide et al. 1977).

Tujuan Percobaan kalsium darah yang dilakukan bertujuan memberikan pengertian prinsip biokimia yang digunakan pada analisis kalsium darah. Selain itu, percobaan ini bertujuan memberikan kemampuan pada praktikan dalam melakukan analisis kalsium darah dan memberikan pengetahuan manfaat analisis kalsium darah untuk mengetahui keadaan fungsi tubuh.

Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan pada percobaan morfologi darah ialah tabung sentrifus, pipet mohr, batang pengaduk, Vortex, mikrosentrifus, kertas saring, dan penangas air. Adapun bahan-bahan yang digunakan ialah serum darah sapi, akuades, amonium oksalat, amonia 2%, H2SO4 1 N, dan larutan KMnO4 1 N.

Prosedur Percobaan Penentuan kalsium dari serum/plasma menggunakan metode Clark & Collip. Empat buah tabung sentrifus disiapkan, satu untuk blanko dan tiga untuk sampel. Tabung blanko diisi dengan 4 mL akuades dan 1 mL amonium oksalat. Tabung sampel diisi dengan 2 mL serum, 2 mL akuades, dan 1 mL amonium oksalat. Isi tabung blanko dan sampel diaduk hingga terbentuk endapan menggunakan batang pengaduk kecil, bila perlu dicampurkan kembali dengan Vortex. Setelah pengadukan, kesemua tabung didiamkan selama 30 menit. Selanjutnya, keempat tabung tersebut disentrifus pada kecepatan 1500 rpm selama 5 menit. Selesai sentrifus, cairan dibunag dan tabung diletakkan terbalik di atas kertas saring selama 10 menit (cairan pada mulut tabung juga dikeringkan dengan kertas saring). Setiap tabung ditambahkan amonia 2% sebanyak 3 mL dan setelahnya diaduk juga dikocok. Kemudian, keempat tabung disentrifus kembali dengan kecepatan dan waktu yang sama. Selanjutnya, cairan hasil sentrifus dibuang dan pengeringan dilakukan kembali. Selesai itu, tiap-tiap tabung ditambah dengan H2SO4 1 N sebanyak 2 mL. Lalu, isi setiap tabung diaduk hingga endapan larut dan segera setelahnya dimasukkan ke dalam penangas air 700C. Kemudian, blanko dan ketiga sampel tersebut dititrasi dalam keadaan hangat dengan larutan KMnO4 0.01 N hingga titik akhir berwarna merah jambu.

Kadar kalsium darah pun dapat dihitung setelah mengetahui volume terpakai dari titrasi yang dilakukan.

Hasil Percobaan Tabel 1 Kalsium darah


Tabung Blanko 1 2 3

Vol KMnO4 0.01 N


Vawal (mL) 6.5 6.7 0.0 1.0 Vakhir (mL) 6.7 7.8 1.0 1.9 Vterpakai (mL) 0.2 1.1 1.0 0.9

Kadar Kalsium (mg %) 8

Perhitungan:

Kadar Ca = (x- Vterpakai blanko) 10 mg % = (1 mL 0.2 mL) 10 mg % = 0.8 mL 10 mg % = 8 mg %

Pembahasan Penentuan kadar kalsium yang dilakukan dalam percobaan yang telah dilakukan adalah menggunakan metode Collin & Clark. Sampel yang digunakan adalah serum dari sapi. Kadar kalsium yang didapatkan dari hasil percobaan adalah 8 mg%. Kadar kalsium sapi menurut literatur adalah 8.10 10.60 mg/100 mL. Hasil yang didapat memang tidak termasuk range kadar kalsium menurut literatur, tetapi hanya lebih rendah sedikit dari literatur. Jadi, hasil penentuan kadar Ca ini dapat dikatakan tidak berbeda nyata dengan literatur (Arifin et al. 1999). Metode Collin & Clark yang digunakan dalam penentuan kadar kalsium memiliki prinsip pengendapan kalsium menjadi kalsium oksalat. Endapan tersebut terbentuk karena adanya penambahan asam (H2SO4) yang menghasilkan ion oksalat, kemudian dititrasi dengan KMnO4. Titik akhir titrasi ini berwarna merah muda. Pengerjaan metode ini harus memerhatikan beberapa hal, antara lain serum harus sesegera mungkin dipisahkan dari bekuan darah, sehingga konsentrasi dalam serum menurun karenan cenderung untuk berdifusi, amonium oksalat yang

digunakan harus tidak terdapat endapan, dan suhu pada waktu titrasi harus di atas 700C. Bila suhunya tidak di atas 700C, reaksi antara oksalat dan permanganat tidak stoikiometri dan hasilnya lebih rendah. Adapaun penambahan amonium oksalat dimaksudkan terbentuknya endapan kalsium oksalat (Hide et al. 1977). Kelebihan dan kekurangan kalsium dalam tubuh dapat menyebabkan terganggunya metabolisme. Kelebihan kalsium atau hiperkalsemia dapat disebabkan kelebihan pemecahan tulang, hiperparatisordisme, penyakit ganas atau terkadang imobilitas, dan yang tersering adalah metastasis osteolitik di dalam tulang. Hiperkalsemia ini dapat menyebabkan kelemahan otot gejala-gejala gastrointestinalis, giddiness, haus berat disertai poliuria, hiperkalsiuria, dan kalkulus renalis. Hiperkalsemia yang sudah kronis dapat membawa resiko berhentinya jantung (cardiac arrest). Adapun kekurangan kalsium atau hipokalsemia disebabkan oleh defisiensi asupan atau absorbsi kalsium. Hal tersebut dapat dikarenakan hipoparatirodisme, kehilangan kalsium berlebih melaui ginjal pada kerusakan tubulus atau asidosis. Hipokalsemia ini merupakan bagian dari kegagalan ginjal kronik, kadang juga pankreatitis. Hipokalsemia dapat juga disebabkan oleh makanan berfosfat tinggi yang mengikat kalsium di dalam usus yang disebut neonetus. Penyakit lainnya dari defisiensi kalsium adalah osteomalasia dan osteoporosis yang menunjukkan kadar mineral dan kepadatan tulang menurun, tanpa atau dengan diikuti oleh penurunan bahan organic tulang. Osteomalasia biasanya terjadi pada usia muada, misalnya defiensi kalsium saat kehamilan. Defisiensi kalsium ini disebabkan susunan zat pada tulang tidak memiliki konsentrasi kalsium dan fosfat yang cukup untuk proses pengerasan tulang, sehingga tulang menjadi lebih lunak. Adapun osteoporosis adalah kegagalan pertumbuhan tulang yang dapat mengakibatkan satu atau lebih patah tulang dengan gejala trauma minimal (Schuette & Linkswiler 1988). Kalsium yang diserap dari makanan jumlahnya tergantung pada proporsi relatif dari zat pengkilasi. Dua hormon yang terlibat dalam metabolisme kalsium adalah hormon paratiroid dan kalsitonin (McDowell 1992). Dalam keadaan akut, konsentrasi kalsium darah secara homeostatik dikontrol oleh gabungan aliran Ca2+ ke dalam atau keluar darah dan resorpsi Ca2+ urin. Kontrol utama aliran Ca2+ keluar kompartemen cairan tulang ekuilibrium dengan kalsium fosfat yang amorf.

Hal ini terjadi melalui aktivitas hormon paratiroid (PTH) yang mengontrol pengaktifan vitamin D menjadi bentuk hormonnya dan kedua hormon berinteraksi dengan meningkatkan kalsium darah. Aktifnya vitamin D membuat PTH meningkatkan resorpsi tulang dan retensi kalsium oleh tubuli ginjal, juga merangsang penyerapan kalsium makanan dalam usus halus. Sekresi kalsitonin tiroid cenderung menurunkan konsentrasi kalsium darah dengan jalan kebalikan dari pengaruh aliran kalsium tulang dan menyebabkan peningkatan deposito mineral tulang secara keseluruhan (Linder 1992). Selama pencernaan, kalsium dan fosfor terpisah pada makanan yang dimakan dan terserap melalui dinding usus halus ke dalam aliran darah yang membawa mineral tersebut ke bagian-bagian tubuh yang memerlukan mineral (McDowell 1992). Kalsium dalam tubuh berfungsi untuk mengaktifkan enzim lipase. Selain itu, kalsium diperlukan dalam proses kontraksi otot dan fungsi saraf yang

berhubungan dengan proses penghantar rasangan. Peranan kalsium dalam tubuh ini dapat juga dibagi menjadi dua, yaitu membantu membentuk tulang dan gigi juga mengukur proses biologi dalam tubuh. Kebutuhan kalsium terbesar terjadi pada waktu pertumbuhan, tetapi keperluan kalsium masih diteruskan hingga dewasa. Kalsium yang terdapat pada tulang dan gigi memberi struktur tulang dan gigi. Tulang dan gigi tersebut berfungsi sebagai sumber kalsium bagi tubuh (Winarno 1989).

Kesimpulan Kalsium dalam tubuh paling banyak ditemukan pada tulang. Namun, kalsium juga dapat ditemukan pada darah. Kadar kalsium dapat ditentukan dengan mengukurnya dari serum. Percobaan yang dilakukan menggunakan serum darah sapi untuk penentuan kadar kalsium dengan metode Collin & Clark. Kadar kalsium yang didapat senilai 8 mg%. Nilai ini tidak berbeda jauh dengan nilai normal kadar Ca sapi menurut literatur.

Daftar Pustaka Arifin Z et al. 1999. Konsentrasi mineral makro (Ca, Mg dan P) dalam serum sapi selama masa kebuntingan. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner: 315-317. Hide W et al. 1977. Analytica l Toxicology Methods Manual. Iowa State: University Press. Linder MC. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme dengan Pemakaian Secara Klinis. Jakarta: UI Press. McDowell LR. 1992. Minerals in Animal and Human Nutrition. San Diego: Academic Press. Miller DD. 1996. Food Chemistry 3rd ed. New York: Cornell University. Muchtadi D. 1989. Evaluasi Nilai Gizi Pangan. Bogor: IPB Press. Schuette SA, Linkswiler HM. 1988. Pengetahuan Gizi Mutakhir: Mineral. Jakarta: Gramedia. Suharjo, Kusharto CM. 1987. Prinsip-prinsip Ilmu Gizi. Bogor: IPB Press. Winarno FG. 1995. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.