Anda di halaman 1dari 37

RESILIENSI

DISUSUN OLEH: KELOMPOK IX :

RIDWAN RAMADHAN KAMALIA MUSLIMAH MUTIARA RAHMADHANI PUTRI REYNI GUSDANINTA TRESNI WIDYAWATI

PEMBAHASAN

1. Pengertian Resiliensi
Pendapat para ahli :
Grotberg (1995: 10) menyatakan bahwa resilieni adalah

kemampuan seseorang untuk menilai, mengatasi, dan meningkatkan diri ataupun mengubah dirinya dari keterpurukan atau kesengsaraan dalam hidup.
Reivich dan Shatte (1999: 26), bahwa resiliensi adalah

kapasitas untuk merespon secara sehat dan produktif ketika menghadapi kesulitan atau trauma, dimana hal itu penting untuk mengelola tekanan hidup sehari-hari.

Pendapat para ahli


Riley dan Masten juga mendefinisikan resiliensi sebagai pola

adaptasi yang positif pada konteks keadaan yang menekan baik masa lalu maupun saat ini. Ada dua kondisi yang dibutuhkan dalam rangka menjelaskan resiliensi pada kehidupan individu yaitu: a) terjadinya adaptasi dan perkembangan pada significant adversity (kesengsaraan yang signifikan) atau ancaman; dan b) fungsi dan perkembangan tetap berjalan dengan baik meskipun a) terdapat significant adversity (kesengsaraan yang signifikan).
Menurut Luthar dkk. (dalam McCubbin, 2001) resilience refers

to a dynamic process encompassing positive adaption within the context of signifikan adversity, pengertian ini diartikan oleh Luthar dkk. resiliensi sebagai proses dinamis yang merupakan adaptasi yang positif dalam kondisi yang menekan (significant adversity).

Kesimpulan
Beberapa definisi di atas cukup beragam, namun terdapat beberapa hal yang menjadi titik tekan dari setiap peneliti yaitu adaptasi yang positif dan kondisi yang menekan atau mengancam. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa resiliensi adalah suatu kapasitas atau kemampuan individu untuk beradaptasi dantetap bertahan dan juga tetap teguh ketika dalam keadaan sulit dan mengancam dan kembali pulih (recovery) dari kondisi tekanan.

2. Sumber Pembentukan Resiliensi

BACK

BACK

BACK

BACK

BACK

BACK

3. LEVEL RESILIENSI
Succumbing (mengalah)

Survival (bertahan), Recovery (pemulihan)


Thriving (berkembang dengan pesat)

BACK

merupakan istilah untuk menggambarkan kondisi yang menurun dimana individu mengalah (succumbs) atau menyerah setelah menghadapi suatu ancaman atau kondisi yang menekan. Level ini merupakan kondisi ketika individu menemukan atau mengalami kemalangan yang terlalu berat bagi mereka

BACK

pada level ini individu tidak mampu meraih atau mengembalikan fungsi psikologis dan emosi yang positif setelah saat menghadapi tekanan. Efek dari pengalaman yang menekan sangat melemahkan mereka yang membuat gagal untuk kembali berfungsi secara wajar (recovery)

BACK

merupakan kondisi ketika individu mampu pulih kembali (bounce back) pada fungsi psikologis dan emosi secara wajar dan dapat beradaptasi terhadap kondisi yang menekan, meskipun masih menyisihkan efek dari perasaan yang negatif.

pada kondisi ini individu tidak hanya mampu kembali pada level fungsi sebelumnya setelah mengalami kondisi yang menekan, namun mereka mampu mengatasi kondisi yang menekan dan menantang hidup yang membuat individu menjadi lebih baik

4. FAKTOR RESILIENSI

I have
Faktor I Have merupakan dukungan eksternal dan sumber dalam meningkatkan daya lentur.
1) 2) 3) 4) 5)

Trusting relationships (mempercayai hubungan) Struktur dan aturan di rumah Role models Dorongan agar menjadi otonom Akses pada kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, dan layanan keamanan.

b. I am
Faktor I Am merupakan kekuatan yang berasal dari dalam diri sendiri. Faktor ini meliputi perasaan, sikap, dan keyakinan di dalam diri anak. Ada beberapa bagian-bagian dari faktor dari I Am yaitu
Perasaan dicintai dan perilaku yang Mencintai, empati, dan altruistik Bangga pada diri sendiri Otonomi dan tanggung jawab Harapan, keyakinan, dan kepercayaan

menarik

c. I can
I can adalah kemampuan yang dimiliki individu untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran dalam berkomunikasi dengan orang lain, memecahkan masalah dalam berbagai seting kehidupan (akademis, pekerjaan, pribadi dan sosial) dan mengatur tingkah laku, serta mendapatkan bantuan saat membutuhkannya. Ada beberapa aspek yang mempengaruhi faktor I can yaitu :
1) Berkomunikasi 2) Pemecahan

masalah 3) Mengelola berbagai perasaan dan rangsangan 4) Mengukur temperamen diri sendiri dan orang lain. 5) Mencari hubungan yang dapat dipercaya

5. Karakteristik individu yang memiliki resiliensi

BACK

BACK

BACK

BACK

BACK

BACK

NEXT6.

6.

a. Overcoming
Dalam kehidupan terkadang manusia menemui

kesengsaraan, masalah-masalah yang menimbulkan stres yang tidak dapat untuk dihindari. Oleh karenanya manusia membutuhkan resiliensi untuk menghindar dari kerugian-kerugian yang menjadi akibat dari hal-hal yang tidak menguntungkan tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menganalisa dan mengubah cara pandang menjadi lebih positif dan meningkatkan kemampuan untuk mengontrol kehidupan kita sendiri. Sehingga, kita dapat tetap merasa termotivasi, produktif, terlibat, dan bahagia meskipun dihadapkan pada berbagai tekanan di dalam kehidupan.

b. Steering through
Setiap orang membutuhkan resiliensi untuk menghadapi

setiap masalah, tekanan, dan setiap konflik yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang resilien akan menggunakan sumber dari dalam dirinya sendiri untuk mengatasi setiap masalah yang ada, tanpa harus merasa terbebani dan bersikap negatif terhadap kejadian tersebut. Orang yang resilien dapat memandu serta mengendalikan dirinya dalam menghadapi masalah sepanjang perjalanan hidupnya. Penelitian menunjukkan bahwa unsur esensi dari steering through dalam stres yang bersifat kronis adalah self-efficacy yaitu keyakinan terhadap diri sendiri bahwa kita dapat menguasai lingkungan secara efektif dapat memecahkan berbagai masalah yang muncul.

c. Bouncing back
Beberapa kejadian merupakan hal yang bersifat traumatik dan

menimbulkan tingkat stres yang tinggi, sehingga diperlukan resiliensi yang lebih tinggi dalam menghadapai dan mengendalikan diri sendiri. Kemunduran yang dirasakan biasanya begitu ekstrim, menguras secara emosional, dan membutuhkan resiliensi dengan cara bertahap untuk menyembuhkan diri. Orang yang resiliensi biasanya menghadapi trauma dengan tiga karakteristik untuk menyembuhkan diri. Mereka menunjukkan task-oriented coping style dimana mereka melakukan tindakan yang bertujuan untuk mengatasi kemalangan tersebut, mereka mempunyai keyakinan kuat bahwa mereka dapat mengontrol hasil dari kehidupan mereka, dan orang yang mampu kembali ke kehidupan normal lebih cepat dari trauma mengetahui bagaimana berhubungan dengan orang lain sebagai cara untuk mengatasi pengalaman yang mereka rasakan.

d. Reaching out
Resiliensi, selain berguna untuk mengatasi

pengalaman negatif, stres, atau menyembuhkan diri dari trauma, juga berguna untuk mendapatkan pengalaman hidup yang lebih kaya dan bermakna serta berkomitmen dalam mengejar pembelajaran dan pengalaman baru. Orang yang berkarakteristik seperti ini melakukan tiga hal dengan baik, yaitu: tepat dalam memperkirakan risiko yang terjadi; mengetahui dengan baik diri mereka sendiri; dan menemukan makna dan tujuan dalam kehidupan mereka.

7. Penelitian terkini
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN RESILIENSI PADA SISWA PENGHUNI RUMAH DAMAI
Oleh: Ana Setyowati M2A605003

Kesimpulan penelitian
Ada hubungan positif antara kecerdasan emosional

dengan resiliensi pada siswa penghuni Rumah Damai. Adanya hubungan positif tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan positif antara kecerdasan emosional dengan resiliensi pada siswa penghuni Rumah Damai diterima. Semakin tinggi kecerdasan emosional, maka semakin tinggi resiliensinya. Sebaliknya, semakin rendah kecerdasan emosional, maka semakin rendah resiliens