Anda di halaman 1dari 4

Soal diskusi: Tn.

C 65 tahun (usia lanjut) didiagnosis dokter mengalami hipertensi dengan tekanan darah 170/80 diterapi Nifedipin 3 x 10mg. Bagaimana menurut Anda? Jelaskan alasan farmakologinya! NIFEDIPINE

Struktur kimia Nifedipine Nifedipine merupakan salah satu obat antihipertensi golongan antagonis kalsium. Sejak JNC-IV (1988) dan WHO/ISH (1989), antagonis kalsium telah menjadi salah satu golongan antihipertensi tahap pertama. Sebagai monoterapi, antagonis kalsium memberikan efektivitas yang sama dengan obat antihipertensi lain. Antagonis kalsium terbukti sangat efektif pada hipertensi dengan kadar rennin yang rendah seperti pada usia lanjut. Selain itu, antagonis kalsium tidak mempunyai efek samping metabolik, baik terhadap lipid, gula darah, maupun asam urat sehingga relatif lebih aman untuk pasien usia lanjut. Nifedipine termasuk dalam antagonis kalsium golongan dihidropiridin yang bersifat vaskuloselektif. Golongan ini merupakan penghambat kanal Ca2+ yang selektif bekerja terhadap kanal Ca2+ (90-100%). Sifat vaskuloselektif ini juga menguntungkan karena mempunyai efek langsung pada nodus AV dan SA yang minimal, dapat menurunkan resistensi perifer tanpa penurunan fungsi jantung yang berarti, serta relatif lebih aman dalam kombinasi dengan -blocker. Indikasi: Pengobatan dan pencegahan insufisiensi koroner (terutama angina pektoris setelah infark jantung) dan sebagai terapi tambahan pada hipertensi. Kontra Indikasi: - Hipersensitivitas terhadap nifedipine. - Karena pengalaman yang terbatas, pemberian nifedipine pada wanita hamil hanya

dilakukan dengan pertimbangan yang hati-hati. Farmakologi: Nifedipine merupakan antagonis kalsium (calcium channel blocker) yang berefek mengurangi konsumsi oksigen jantung, memperbaiki toleransi latihan pada pasien angina pektoris, mengurangi kebutuhan nitrogliserin dan mengurangi perubahan iskemik jantung saat beristirahat dan beraktivitas. Pada percobaan terhadap hewan, menunjukkan perbaikan perfusi pada miokardium yang iskemik. Pada angina Printzmetal dimana nyeri dada disebabkan oleh spasme koroner, nifedipine terbukti merupakan terapi yang efektif. Nifedipine merupakan anti hipertensi poten, dimana responnya lebih bermakna pada tekanan darah inisial yang lebih tinggi. Pada individu dengan normotensif, tekanan darahnya hampir tidak turun sama sekali. Pada pasien hipertensi, nifedipine menurunkan resistensi perifer serta tekanan darah sistolik dan diastolik, meningkatkan volume per menit dan kecepatan jantung, dan juga mengurangi resistensi koroner, meningkatkan aliran koroner dan menurunkan konsumsi oksigen jantung. Efek antihipertensi dari nifedipine dalam dosis tunggal oral memberi onset sangat cepat dalam waktu 15 - 30 menit dan berlangsung selama 6 - 12 jam. Nifedipine cocok untuk terapi hipertensi ringan, sedang dan berat. Terapi dapat dikombinasi dengan betha-bloker, diuretik, metildopa atau klonidin. Pada kasus resistensi pada betha-bloker atau terapi kombinasi betha-bloker dan diuretik, respon positif dapat diperoleh dengan penambahan nifedipine dalam terapi. Penambahan nifedipine secara oral pada krisis hipertensi akan menurunkan tekanan darah dengan cepat dan efektif. Nifedipine juga digunakan untuk terapi hipertensi nefrogenik, hiperaldosteronisme dan feokromositoma. Berbeda dengan betha-bloker, nifedipine dapat digunakan untuk pasien penderita asma karena tidak meningkatkan disposisi obstruksi bronkial, juga tidak mengganggu sirkulasi perifer tetapi sebaliknya memiliki aksi vasodilatasi. Nifedipine juga cocok digunakan untuk pasien dengan klaudikasi atau sindrom Renaud yang diperburuk oleh betha-bloker. Nifedipine tidak memberi efek ntiaritmia. Pemberian nifedipine secara oral akan diabsorbsi dengan baik, 92 - 98% terikat oleh protein plasma dan diekskresi dalam bentuk metabolit tidak aktif melalui urin. Nifedipine dalam dosis tunggal diekskresi sebesar 80% dalam waktu 24 jam. Insufisiensi ginjal tidak berpengaruh secara signifikan terhadap farmakokinetik nifedipine. Dosis: - Dosis tunggal: 5 - 10 mg. - Dosis rata-rata: 5 - 10 mg, 3 kali sehari. Interval di antara 2 dosis pemberian tidak kurang dari 2 jam. Peringatan dan Perhatian: Pemberian nifedipine pada pasien dengan stenosis aorta atau pasien yang sedang diberikan betha-bloker atau obat depresan miokardium lainnya dapat menyebabkan

resiko gagal jantung. Efek Samping: - Dose dependent disebabkan oleh dilatasi vaskular seperti: sakit kepala atau perasaan tertekan di kepala, flushing, pusing, gangguan lambung, mual, lemas, palpitasi, hipotensi, hipertensi ortostatik, edema tungkai, tremor, kram pada tungkai, kongesti nasal, takikardia, tinitus, reaksi dermatologi. - Sangat jarang terjadi, dilaporkan pada pemakaian nifedipine jangka panjang terjadi hiperplasia gusi dan segera kembali ketika pemakaian nifedipine dihentikan. - Efek samping berat yang memerlukan penghentian pengobatan relatif jarang terjadi. Interaksi Obat: - Penggunaan nifedipine bersamaan dengan betha-bloker mempotensi efek antihipertensi nifedipine. - Penggunaan nifedipine bersamaan dengan betha-bloker pada pasien dengan insufisiensi jantung, terapi harus dimulai dengan dosis kecil dan pasien harus dimonitor dengan sangat hati-hati. - Penggunaan nifedipine bersamaan dengansimetidin (tidak pada ranitidin) meningkatkan konsentrasi plasma dan efek antihipertensi nifedipine. Overdosis: Intoksikasi nifedipine jarang dijumpai. Dosis 210 mg menyebabkan hipotensi berat dan blok atrioventrikular total. Terapi hipertensi dan blok atrioventrikular dianjurkan dengan infus simpatomimetik (isoprenalin, dopamin) yang memberikan aksi yang berlawanan dengan nifedipine dengan meningkatkan perfusi kalsium ke dlam sel miokardium. Larutan kalsium glikonat 10% dapat diberikan dengan dosis inisial 10 - 20 mlditingkatkan sesuai respon.
Antagonis Kalsium sebagai Obat Hipertensi Antagonis kalsium (AK) bekerja dengan cara menghambat masuknya kalsium ke dalam sel melalui chanel-L. AK dibagi 2 golongan besar, yaitu AK non-dihidropiridin (kelas fenilalkilamin dan benzotiazepin) dan AK dihidropiridin (1,4-dihidropiridin). Golongan dihidropiridin terutama bekerja pada arteri sehingga dapat berfungsi sebagai OAH, sedangkan golongan non-dihidropiridin mempengaruhi system konduksi jantung dan cenderung melambatkan denyut jantung, efek hipertensinya melalui vasodilatasi perifer dan penurunan resistensi perifer. Penelitian yang membandingkan efek antihipertensi AK dengan obat lain menunjukkan efek antihipertensi yang sama baiknya pada pasien dengan hipertensi ringan dan moderat. Efek anti hipertensi AK berhubungan dengan dosis, bila dosis ditambah maka efek antihipertensi semakin besar dan tidak menimbulkan efek toleransi. AK tidak dipengaruhi asupan garam sehingga berguna bagi orang yang tidak mematuhi diet garam.3 Menurut beberapa studi penggunaan AK dalam hipertensi secara umum tidak berbeda dalam efektivitas, efek samping, atau kualitas hidup dibandingkan dengan OAH lain. Ditinjau dari mortalitas, tidak ada perbedaan bermakna antara diuretik, AK dan penghambat ACE dalam pengobatan hipertensi.4 Hanya mungkin ada sedikit perbedaan dalam respons terapi sesuai usia dan kelompok suku bangsa atau warna kulit. AK sebagai OAH banyak dipakai pada pasien dengan hipertensi esensial, pasien dengan hipertensi renovaskular, hipertensi pada pasien kulit hitam (dimana respons penyakit terhadap blocker atau ACE biasanya kurang memuaskan) dan pasien hipertensi

dengan diabetes mellitus, hipertensi dengan asma bronkhial, serta hipertensi dengan hipertrofi ventrikel kiri. AK mempunyai efek tambahan yang menguntungkan pasien. AK dan penghambat ACE lebih baik dari penghambat beta dan diuretik dalam mengurangi kejadian hipertrofi ventrikel kiri yang merupakan risiko independen pada hipertensi.5,6 Banyak studi menunjukkan AK mempunyai efek proteksi vaskular dengan mengurangi remodelling vascular dan memperbaiki faal endothelium.7,8 Beberapa studi jangka panjang pada penggunaan AK (kelompok diltiazem) sebagai OAH menunjukkan hasil bahwa AK dapat mengurangi kejadian stroke sampai 20%.9

Calcium Channel Blocker/ Antagonis Kalsium (Nifedipine) Sejak JNC-IV (1988) dan WHO/ISH (1989), antagonis kalsium telah menjadi salah satu golongan antihipertensi tahap pertama. Sebagai monoterapi, antagonis kalsium memberikan efektivitas yang sama dengan obat antihipertensi lain. Antagonis kalsium terbukti sangat efektif pada hipertensi dengan kadar rennin yang rendah seperti pada usia lanjut. Selain itu, antagonis kalsium tidak mempunyai efek samping metabolik, baik terhadap lipid, gula darah, maupun asam urat sehingga relatif lebih aman untuk pasien usia lanjut. Nifedipine termasuk dalam antagonis kalsium golongan dihidropiridin yang bersifat vaskuloselektif. Golongan ini merupakan penghambat kanal Ca2+ yang selektif bekerja terhadap kanal Ca2+ (90-100%). Sifat vaskuloselektif ini juga menguntungkan karena mempunyai efek langsung pada nodus AV dan SA yang minimal, dapat menurunkan resistensi perifer tanpa penurunan fungsi jantung yang berarti, serta relatif lebih aman dalam kombinasi dengan -blocker. Mekanisme kerja: