Anda di halaman 1dari 9

Moratorium Deforestasi dan Disparitas antar Daerah

Dr. Roy Rahendra, S.T., M.T. Rakhmindyarto, S.E., M.Sc. Ahmad Komarulzaman, S.E., M.Sc. Irlan Adiyatma Rum, S.T., M.Sc. Ade Maulana R H

LATAR BELAKANG Perubahan iklim kini telah menjadi sebuah issue global yang harus disikapi oleh setiap negara. Sebagai bagian dari masyarakat dunia, komitmen Indonesia untuk perubahan iklim menjadi semakin kuat sejak tahun 2007 ketika Indonesia menjadi tuan rumah konferensi UNFCCC ke 13 di Bali. Pada pertemuan tingkat tinggi menteri keuangan saat itu Indonesia mengeluarkan Rencana Aksi Nasional untuk Perubahan Iklim. Rencana ini dibuat bertujuan untuk memberikan guidelines kepada pemerintah untuk melakukan langkah dan membuat kebijakan yang terkoordinasi dan terintegrasi terkait dengan perubahan iklim. Kebijakan perubahan iklim di Indonesia menjadi semakin penting secara nasional karena termasuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2009-2014 yang disusun oleh Bappenas pada tahun 2009. Kebijakan perubahan iklim tersebut meliputi sektor kehutanan, pertanian, dan kelautan, serta peningkatan dan pengembangan kapasitas institusional menyangkut perubahan iklim sebagai prioritas utama. Dalam pertemuan para pemimpin Negara-negara G20 bulan Oktober 2009 di Pittsburgh, presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan komitmen Indonesia pada tahun 2020 untuk mengurangi emisi gas CO2 sebesar 26% secara business as usual dan sebesar 41% apabila Negaranegara maju memberikan dukungan financial. Pengurangan tersebut adalah yang terbesar dilakukan oleh sebuah Negara berkembang. Oleh karena itu pernyataan presiden SBY tersebut mendapat apresiasi dari dunia internasional. Pada saat ini pemerintah sedang berusaha untuk mewujudkan komitmen pengurangan emisi tersebut dengan membuat kebijakan nasional yang disebut Rencana Aksi Nasional untuk pengurangan Gas Rumah Kaca (RAN-GRK). Sektor Kehutanan merupakan sektor penyumbang terbesar emisi Gas Rumah Kaca. Stern (2006) mengatakan bahwa antara 18-20 persen emisi gas rumah kaca berasal dari dampak deforestasi dan degradasi hutan yang berasal dari Negara-negara berhutan tropis. Tiga Negara yaitu Brasil, Indonesia, dan China adalah tiga negara tropis terbesar di dunia. Indonesia, dengan

kepemilikan kawasan hutan sekitar 132 juta hektar, diharapkan oleh dunia internasional untuk dapat memainkan peranan yang signifikan dalam menjaga kestabilan perubahan iklim. Fluktuasi deforestasi di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor kebutuhan atas lahan pertanian dan infrastruktur, dorongan pasar yang muncul dari dinamika harga dan kesempatan di sektor pertanian (seperti coklat dan sawit) dan pertambangan (khususnya batubara). Laju deforestasi dalam kurun waktu 15-20 tahun terakhir mencapai 1.17 juta hektar pertahun.Meskipun secara spesifik tidak dimaksudkan untuk menggambarkan emisi GRK, tren ini menginformasikan gambaran umum tentang penyebab deforestasi. Bencana kebakaran hutan dan lahan gambut yang sangat luas dalam periode 1997-98 telah menyumbang emisi yang sangat signifikan. Sebagai langkah nyata untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, Presiden Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut. Inpres tersebut dikeluarkan SBY mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan dengan tujuan untuk menyeimbangkan dan menselaraskan pembangunan ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan serta upaya penurunan emisi gas rumah kaca yang dilakukan melalui penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (Inpres No. 10/2011). Penundaan selama 2 tahun untuk semua konsesi baru untuk konversi gambut dan hutan alam akan menjadi instrumen kuat untuk mencegah kegiatan eksploitasi dari hutan alam dan lahan gambut. Moratorium tidak akan mampu menahan laju deforestasi, namun lebih untuk menyediakan waktu bernafas bagi Pemerintah RI untuk mengevaluasi dan mengatur kembali pembangunan ekonomi dan proses perencanaan pengelolaan hutan untuk menempatkan ekonomi pada jejakan yang lebih berkelanjutan. Waktu istirahat ini akan menyediakan waktu bagi Pemerintah RI untuk mendapatkan data-data yang dibutuhkan dan menciptakan mekanisme untuk mengkoordinasi sejumlah Kementerian dan Badan Pemerintahan untuk mengembangkan rencana pembangunan yang rinci dan selaras. Moratorium semestinya tidak dipandang sebagai tujuan untuk mencapai sasaran pengurangan emisi seperti yang dicanangkan Presiden. Moratorium adalah alat untuk menciptakan keadaan yang memungkinkan perbaikan tata kelola hutan dan lahan gambut yang diperlukan untuk menunjang strategi pembangunan dalam jangka panjang. Moratorium dapat membuka jalan bagi keberhasilan pembaruan kebijakan jauh melampaui masa berlakunya yang hanya dua tahun.

Kalangan pengusaha mengungkapkan kekhawatirannya bahwa dengan membatasi peluang pembangunan berbasis lahan, moratorium akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Mereka menegaskan bahwa moratorium dapat membahayakan strategi pembangunan yang mampu menciptakan lapangan kerja dan yang berpihak pada rakyat miskin. Mengingat bahwa kebijakan moratorium kehutanan diperkirakan akan menimbulkan dampak terhadap ekonomi baik dampak positif maupun negatif, maka penting untuk dibuat sebuah policy brief yang dapat menganalisis dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh kebijakan moratorium tersebut dan memberikan solusi kebijakan untuk mengatasi dampak negatif kebijakan moratorium tersebut dengan penanganan yang benar.

TUJUAN Policy brief ini dibuat dengan tujuan untuk memberikan analisis mengenai dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh kebijakan moratorium deforestasi dan memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah untuk mengatasi dampak negatif yang timbul karena kebijakan moratorium tersebut. METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam policy brief ini adalah metodologi kuantitatif dengan menggunakan model IRSA-INDONESIA 5 (Inter-Regional of System Analysis for Indonesia-5 Regions). Model tersebut dikembangkan sebagai bagian dari Analyzing Pathway to Sustainability in Indonesia (APSI) Project yang didukung oleh CSIRO, Bappenas, AusAid, dan the World Bank. IRSA-INDONESIA 5 dibuat sebagai sebuah analytical tool bagi para pembuat kebijakan untuk memahami dengan lebih baik tentang dampak-dampak yang ditimbulkan oleh dikeluarkannya sebuah kebijakan, baik dampak secara nasional maupun regional. Dalam melakukan simulasi model tersebut dibuat dua skenario yaitu skenario optimis dan skenario pesimis. Skenario optimis dibuat dengan asumsi bahwa kebijakan moratorium dapat berjalan dengan efektif sehingga dapat menghambat laju deforestasi secara optimal sebesar 1,8 juta hektar. Di sisi lain, skenario pesimis juga dibuat dengan asumsi bahwa efektifitas moratorium hanya berada dalam level 50% dalam menghambat laju deforestasi. PEMBAHASAN a. Hasil Simulasi Moratorium Deforestation

1. Dampak Moratorium terhadap Penggunaan Lahan Secara umum terjadi penurunan jumlah penggunaan lahan secara signifikan baik itu di sektor tanaman perkebunan (ESTCR) dan juga di sektor kehutanan (FORES). Kebijakan moratorium tersebut memberikan dampak penurunan penggunaan lahan perkebunan terbesar di wilayah Sumatera (R1) sebesar 254.181,6 HA (o) atau 126.974 ha (p). Untuk sektor kehutanan dampaknya berpengaruh besar terhadap daerah timur Indonesia (R5) dengan penurunan penggunaan lahan hutan sebesar 529.794,2 HA (o) atau 264.297 ha (p) (lihat table 1). Tabel 1 : Dampak Moratorium terhadap Pengunaan Lahan dan Luas Hutan Alam
R1 (Sumatera) R2 (Jawa) R3 (Kalimantan) R4 (Sulawesi) R5 (Indonesia Timur)

Skenario Optimis C_LANDAREA ESTCR FORES C_NFORAREA C_LANDAREA

-254.1816 -185.309 -147.4136 -79.2568 401.5951 264.5659

-51.5492 -376.6996 428.2488

-75.0845 -87.8092 162.8937

-36.2953 -529.4989 565.7942

Skenario pesimis

-126.974 -93.2671 -73.8248 -38.9646 FORES 200.7987 132.2317 C_NFORAREA (dalam ribu hektar)
ESTCR

-25.87 -188.1486 214.0186

-37.6048 -43.8122 81.417

-18.3686 -264.297 282.6656

Berdasarkan hasil simulasi sebagaimana terlihat dalam table 1 di atas, luas hutan alam meningkat secara signifikan dengan peningkatan luas hutan terbesar di wilayah timur Indonesia sebesar 565.794,9 HA (o) atau 282.665,6 ha (p). 2. Dampak terhadap Emisi Karbon Secara nasional, kebijakan moratorium berhasil mengurangi jumlah emisi karbon secara signifikan, yaitu sebesar 214.320.000 tonCO2e (o) atau 107.215.000 tonCO2e (p) (lihat table 2). Tabel 2: Pengurangan Emisi Karbon

Emisi (dalam 000 TCO2e) skenario optimis skenario pesimis

Nasional

R1 (Sumatera)

R2 (Jawa)

R3 (Kalimantan)

R4 (Sulawesi) -24.403,6765 -12.218,5954

R5 (Indonesia imur)

- 214.320 -96.576,4 - 107.215 -48.243,1 158,3548 -25.384,167 -21.527,7 343,9839 -50.698,833 -42.985

3. Dampak terhadap Harga Domestik Tabel 3: Harga Domestik


Harga Domestik R1 (Sumatera) R2 (Jawa) R3 (Kalimantan) R4 (Sulawesi) R5 (Indonesia Timur)

skenario optimis PADDY FOREST ESTCR WOODS FOODB

-0.4202 4.1775 1.1707 0.3396 -0.0562

0.3533 5.0837 2.2566 0.3358 0.0481

-0.0037 3.5799 1.5436 0.2142 -0.0329


skenario pesimis

-0.1107 4.8923 1.0146 0.3889 -0.0467

-0.1891 4.6646 2.0825 0.5412 -0.0293

-0.2066 0.1644 PADDY 1.9764 2.3627 FOREST 0.5479 1.0421 ESTCR 0.1602 0.1587 WOODS -0.0273 0.0227 FOODB (Dalam persentasi perubahan)

-0.0021 1.6946 0.721 0.1016 -0.0157

-0.0525 2.3105 0.4716 0.1833 -0.0222

-0.089 2.1935 0.9735 0.2544 -0.0139

Harga domestik konsumen untuk komoditas padi di wilayah Sumatera mengalami penurunan terbesar dibanding wilayah lainnya yaitu 0,42% (o) atau 0,2% (p); Kenaikan terbesar untuk harga domestik konsumen komoditas kehutanan terjadi di wilayah Jawa (R2) sebesar 5,08% (o) atau 2,36% (p); Kenaikan juga dialami oleh harga domestik konsumen komoditas tanaman perkebunan sebesar 2,25% (o) atau 1,04% (p); Selain itu, harga domestik konsumen untuk industri barang kayu, rotan dan bambu (WOODS) mengalami kenaikan terbesar di wilayah Indonesia timur (R5) sebesar 0,54% (o) atau 0,25% (p);

Sedangkan, harga domestik konsumen untuk industri makanan dan minuman terjadi penurunan namun tidak terlalu signifikan yaitu sebesar 0,056% (o) atau 0,027% (p)

4. Dampak terhadap Ekspor-Impor Kebijakan moratorium ternyata memberikan dampak yang berbeda-beda terhadap ekspor komoditas. Untuk komoditas padi dan makanan-minuman mengalami kenaikan, sementara untuk komoditas hasil hutan, perkebunan dan kayu mengalami penurunan. Sebaliknya, pada Impor Nasional secara umum mengalami kenaikan kecuali pada impor makanan yang mengalami penurunan sebesar 0,09% (o). Tabel 4: Ekspor-Impor
National Export skenario optimis PADDY FOREST ESTCR WOODS FOODB National Import

0.536 -19.4269 -6.9397 -2.2471 0.1073


skenario pesimis

1.4502 5.5657 4.2122 0.7074 -0.099 0.6776 2.6248 1.948 0.3336 0.0536

0.2575 -9.7965 FOREST -3.3111 ESTCR -1.0672 WOODS 0.0536 FOODB (Dalam persentase)
PADDY

5. Dampak terhadap GDP dan Angka Kemiskinan GDP Nasional mengalami penurunan sebesar 0,109% (o) atau 0,05% (p), dengan penurunan GDRP terbesar terjadi di wilayah Sulawesi sebesar 0,20% (o) atau 0,09% (p).

Tingkat kemiskinan penduduk di pedesaan mengalami kenaikan sebesar 20,4% dengan jumlah tingkat kemiskinan terbesar terjadi di wilayah Indonesia Timur sebesar 32%.

Tingkat kemiskinan penduduk di perkotaan mengalami kenaikan sebesar 12,4% dengan jumlah tingkat kemiskinan terbesar terjadi di wilayah Indonesia Timur sebesar 22,6% (o) atau 22,4% (p).

Tabel 5: GDP dan Angka Kemiskinan


National GDP (GDPMP) Poverty Incidence (HHR) Poverty Incidence (HHU) GDP (GDPMP) Poverty Incidence (HHR) Poverty Incidence (HHU) R1 (Sumatera) R2 (Jawa) R3 (Kalimantan) R4 (Sulawesi) R5 (Indonesia Timur)

skenario optimis

-0.1091 20.4213 12.4762 -0.0514 20.4083

-0.1282 18.295 15.0125 -0.0617 18.4867 15.0033

-0.1029 21.0128 12.1607


skenario pesimis

-0.0608 12.9272 8.0427 -0.0295 12.9659 8.0466

-0.2019 20.8285 7.8622 -0.0962 20.8607 7.8245

-0.1128 32.4102 22.6149 -0.0534 32.1737 22.4196

-0.0479 20.9212 12.0855

12.4142 (GDP dalam persen)

Analisis dan Pembahasan Hasil simulasi model menyimpulkan bahwa terdapat 4 sektor/bidang yang terpengaruh secara langsung oleh kebijakan Moratorium berdasarkan Inpres 10/2011. Dalam bidang perkebunan (sawit) masalah yang dihadapi bukan pada ketersediaan lahan (penyebab deforestasi). Luas lahan yang telah disediakan untuk pengembangan kelapa sawit masih sangat luas. Pemerintah sendiri pada 2001 telah menyediakan 9,13 juta hektar untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit. Dari luas lahan yang tersedia tersebut baru 2.79% atau 255 ribu hektar lahan yang telah dimanfaatkan. Masalah utama terletak pada : rendahnya produktivitas tanaman, kurangnya dukungan riset/lembaga riset yang memadai untuk pengembangan produksi maupun produk turunannya, kurangnya promosi di pasar internasional, standarisasi dan sertifikasi bibit

yang belum sempurna, terbatasnya pabrik pengolahan CPO, dan kurang berkembangnya industri hilir. Dalam bidang pertanian, kebijakan regionalisasi bisa diterapkan, dengan membagi-bagi daerah berdasarkan potensi alamnya. Misalnya menjadikan Sulawesi sebagai lumbung padi baru, bukan Kalimantan. Dalam bidang kehutanan, sebenarnya juga tidak ada hambatan mengingat cadangan lahan untuk hutan produksi juga masih sangat luas. Yang harus dilakukan adalah bagaimana pelaku industri di bidang kehutanan ini menerapkan prinsip-prinsip tata kelola (manajemen) hutan yang baik Sustainable Forest Management. Dalam bidang pertambangan, kami melihat permasalahan utama terletak pada kebijakan pengelolaan sumberdaya alam nasional yang belum mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat (keuntungan terbesar untuk swasta), pengelolaan industri pertambangan yang tidak memperhatikan keselamatan lingkungan, dan masalah tenurial (tumpang tindih perijinan). Indonesia memiliki lebih dari 30 juta hektar lahan kritis (degraded land) untuk mendukung industri di Indonesia. Sebagai dampak dari pembangunan yang belum berkelanjutan, Indonesia memiliki lebih dari cukup lahan kritis yang tersedia bagi pertumbuhan industri ke depan. Penggunaan lahan kritis, dikombinasikan dengan peningkatan produktivitas, akan melindungi hutan Indonesia sambil tetap memacu kegiatan ekonomi yang lebih jauh. Oleh karena itu, pemetaan luas dan lokasi lahan kritis akan menjadi bagian tak terpisahkan dari pembaharuan peta tutupan hutan dan lahan gambut selama masa moratorium. Isi dari Inpres Moratorium belum menggambarkan adanya terobosan dalam upaya penyelamatan hutan. Mekanisme yang berjalan sebenarnya masih menggambarkan kondisi business as usual di mana yang dilakukan penundaan hanya pemberian ijin baru, dengan banyak celah pengecualian. Selain itu Inpres tersebut juga tidak mengenakan sanksi apapun atas pelanggaran yang mungkin terjadi. Akibatnya yang terjadi adalah deforestasi dan konversi hutan akan tetap terus terjadi seolah Inpres Moratorium tidak pernah ada. Untuk itu hal-hal yang bisa menjadi kunci perbaikan adalah: 1. Pembenahan Tata Ruang 2. Pembenahan tata kelola pemberian ijin baru (dalam bidang kehutanan, pertambangan, perkebunan, pertanian, dll.)

3. Kebijakan penerapan insentif/dis-insentif dalam pengelolaan keempat bidang tersebut. 4. Pembenahan Peraturan dan Penegakan hukum

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kebijakan moratorium deforestasi yang dilakukan pemerintah telah memberikan dampak yang positif terhadap penurunan emisi karbon dan penurunan pengalihan fungsi kawasan hutan. Di samping dampak positif tersebut, di sisi lain kebijakan tersebut ternyata juga memberikan dampak negatif terhadap beberapa sector ekonomi secara makro. Untuk mengatasi dampak negatif akibat kebijakan moratorium deforestasi, kebijakan yang dapat dijalankan oleh pemerintah adalah sebagai berikut: dalam bidang perkebunan, pemerintah hendaknya dapat meningkatkan produktifitas industry hulu dan memberikan insentif di sector hilir. Dalam bidang pertanian, kebijakan aglomerasi bisa diterapkan, dengan membagi-bagi daerah berdasarkan potensi alamnya. Misalnya menjadikan Sulawesi sebagai lumbung padi baru, bukan Kalimantan. Dalam bidang kehutanan, yang harus dilakukan adalah bagaimana pelaku industri di bidang kehutanan ini menerapkan prinsip-prinsip tata kelola (manajemen) hutan yang baik Sustainable Forest Management. Dalam bidang pertambangan, kepentingan negara dan masyarakat agar lebih diutamakan, pengelolaan industri pertambangan yang memperhatikan keselamatan lingkungan, dan penyelesaian masalah tenurial (tumpang tindih perijinan). Terhadap efektifitas pelaksanaan moratorium, agar kebijakan tersebut dapat berjalan secara optimal, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah perbaikan sebagai berikut: pembenahan tata ruang hutan, Pembenahan tata kelola pemberian ijin baru (dalam bidang kehutanan, pertambangan, perkebunan, pertanian, dll.), kebijakan penerapan insentif/dis-insentif dalam pengelolaan keempat bidang tersebut, dan pembenahan peraturan dan penegakan hukum.