Anda di halaman 1dari 10

Refraktometer ABBE

FRISKA NOVALITA ANGGRAENI (140310080072)


Jurusan Fisika FMIPA Universitas Padjadjaran
29 Maret 2010

ABSTRAK
Indeks bias adalah kemampuan cahaya merambat dalam suatu zat berdasarkan molekul
molekul penyusun dari zat tersebut. Sedangkan berdasarkan persamaan matematis, indeks bias
adalah perbandingan cepat rambat cahaya di udara dengan cepat rambat cahaya ketika melalui
suatu zat. Yang menjadi tujuan adalah menenetukan indeks bias minyak pada suhu kamar serta
menentukan indeks bias air suling pada berbagai suhu dimana digunakan refraktometer ABBE
yakni alat pengukur indeks bias suatu zat cair yang mempunyai indeks bias antara 1,3 dan 1,7.
Prinsip kerja alat ini didasarkan pada sifat sudut kritis.

I.PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa cahaya memiliki berbagai macam sifat,adapun
sifat-sifat tersebut diantaranya adalah bahwa cahaya dapat memantul, membias, merambat,
membelok, dan masih banyak lagi sifat cahaya lainnya. Sementara itu kemampuan cahaya
dalam merambat pada dua atau lebih medium yang berbeda disebut dengan indeks bias
cahaya. Dimana perambatan yang terjadi berlangsung pada medium-medium yang dilalui
cahaya. Pada maslah ini sala satu factor yang mempengaruhi indeks bias adalah suhu pada
masing-masing medium yang dilewati cahaya.
1.2. Identifikasi Masalah
Kemampuan cahaya dalam merambat pada suatu bidang adalah indeks bias. Perambatan
cahaya dapat terjadi pada medium padat,cair dan gas. Untuk percobaan kita kali ini yang
akan kita lakukan adalah mempelajari indeks bias pada zat cair dan pengaruh suhu terhadap
indeks bias zat cair yang kita amati.



1.3. Tujuan Percobaan
1. Mempelajari prinsip kerja alat Refraktometer ABBE.
2. Mengukur indeks bias suatu cairan.
3. Mengetahui pengaruh suhu terhadap indeks bias.
4. Menentukan dispersi nf nc.

TEORI DASAR
Refraktormeter ABBE adalah alat pengukur indeks bias suatu zat cair yang mempunyai
indeks bias antara 1,3 dan1,7. Prinsip kerja alat ini didasarkan pada sifat sudut kritis.
Refraktometer ABBE terdiri dari sebuah teleskop dengan dua prisma pembias P dan P,
dua prisma amici K
1
dan K
2,
dan cermin datar sebagai pemantul. Objek yang akan diukur
indeksnya diletakkan diantara prisma P dan P. Tiap sistem prisma K
1
dan K
2
terdiri dari
masing-masing tiga prisma yang ditempelkan. Sistem ini dinamakan kompensator. Tiga
prisma ini terdiri dari dua buah lensa korona dan satu buah lensa flinta. Kompensator
berfungsi untuk menjadikan sinar polikromatik menjadi (spektrum) sinar monokromatik dari
suatu sumber cahaya.



K
1


K
2



P P

cermin

Indeks bias zat cair yang akan diamati harus lebih kecil dari indeks bias n. Besar n
tergantung daripada panjang gelombang cahaya monokromatik yang digunakan. Cahaya
yang digunakan adalah cahaya kuning. Cahaya kuning yang melewati kompensator akan
diteruskan tanpa mengalami deviasi. Dispersi dapat menjadi nol, bila alas kedua prisma amici
ini sejajar dan saling terbalik. Tiap kali pengukuran n, kompensator disetel sedemikian rupa
sehingga batas terang dan gelap dalam teleskop tidak terlihat adanya warna lagi. Bila suatu
bahan dengan indeks bias n ditempelkan pada gelas prisma yang mempunyai indeks bias n
g

dan sudut bias A, seperti ditunjukkan pada gambar :






Dengan menggunakan Hukum Snellius didapatkan :
n
u
sin i = n
g
sin r
dengan n
u
= indeks bias udara =1 ,maka :
sin i = n
g
sin r
Dari hukum Snellius :
n sin o = n
g
sin |
Dengan perhitungan geometri :
A + C = 180
0
A = r + |
| + r + C = 180
0
| = A - r
| adalah sudut kritis, sedang n < ng, maka o = 90
0

n sin 90
0
= n
g
sin |
n = n
g
sin |
n = n
g
sin (A - r)
n = n
g
sin A cos r - n
g
cos A sin r
cos r = (1 - sin
2
r)
1/2
dan n
g
sin r = sin i, maka :
n = n
g
sin A (1 - sin
2
r)
1/2
- cos A sin i
n = sin A { (n
g
2
- sin
2
r) - cos A sin I }

Penentuan dispersi n
f
- n
c

Dengan mencatat pembacaan skala d dan kompensator, dapat digunakan untuk
menentukan dispersi suatu zat yaitu selisih indeks bias garis korona dan garis flinta dari
hidrogen. Selain dengan grafik, dapat pula ditentukan dengan rumus empiris :
(Air) n
f
- n
c
= 4.10
-7
d
3
3,7.10
-5
d
2
+ 9.10
-5
d + 0,0465
(Minyak) n
f
- n
c
= 4.10
-7
d
3
3,5.10
-5
d
2
+ 8.10
-5
d + 0,0435

Koreksi
Temperatur prisma dalam refraktormeter tidak sama, maka perlu adanya koreksi untuk harga-
harga nd dengan persamaan :
nd
kor
= nd + R x 10
-5
, dengan :
R = 29,5 A (T1- 20) + 0,094 [ (0,04525 / A ) n ] [ ( T2-20) d ]
Dengan nd
kor
= indeks bias hasil koreksi
nd = indeks bias yang dikoreksi
R x 10
-5
= nilai koreksi
A = Konstanta yang terdapat pada persamaan penentuan dispersi
T1 = temperatur prisma ABBE
T2 = temperatur prisma kompensator


III . PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan Percobaan
1. Refraktometer ABBE beserta grafik nf-nc
Refraktometer ABBE berfungsi sebagai alat untuk mengukur indeks bias suatu zat cair.
Grafik nf-nc berfungsi sebagai acuan untuk menentukan nilai nf-nc setelah diketahui
harga drumer (d) dan indeks biasnya (n
d
).
2. Lampu natrium beserta power supply 110 V.
Berfungsi sebagai sumber cahaya dan sumber tegangan untuk menyalakan lampu.
3. Bejana air beserta pompa, pemanas dan pipa-pipa penghubung
Berfungsi sebagai alat yang digunakan sebagai sarana percobaan.
4. Termometer
Berfungsi sebagai alat untuk mengukur suhu.
Output ke
bejana Input dari
pompa
1
3
2
4
P
P
5. Minyak dan air
Berfungsi sebagai zat cair yang akan diukur indeks biasnya.
3.2 Prosedur Percobaan
Persiapan
1. Menyalakan lampu natrium dengan menggunakan sumber tegangan 110V, menunggu
selama 5 menit.
2. Memasang termometer pada refraktometer.
3. Menghubungkan pipa-pipa pada Refraktometer ABBE (seperti pada gambar dibawah).
Pipa dari pompa dihubungkan pada lubang masukan pada Refraktometer ABBE. Lubang
3 dan 4 dihubungkan dengan pipa ke bejana. Memasang termometer pada Refraktometer
ABBE.





Pengambilan Data
a. Menentukan indeks bias minyak pada suhu kamar
1. Membuka prisma dengan hati-hati, kemudian meneteskan satu tetes minyak diatas
prisma. Menutup dan menguncikan hingga teguh.
2. Mengatur cermin pemantul cahaya agar garis silang terlihat dengan jelas.
3. Mengatur tombol kompensator sehingga tampak batas terang dan gelap terletak pada
perpotongan garis silang.
4. Mengatur tombol alhidad sehingga batas bayangan terang dan gelap terletak pada
perpotongan garis silang.
5. Mencatat skala yang terlihat pada kaca benggala yang menunjukkan harga indeks bias
minyak (n
d
) dan skala yang terlihat pada kompensator yang menunjukkan harga drumer
(d).
6. Mencatat suhu ruangan dan suhu refraktometer.
7. Menentukan nilai nf-nc dengan bantuan grafik.

b. Menentukan indeks bias air suling pada berbagai suhu
1. Mengeringkan minyak pada prisma dengan tisu halus, hati-hati jangan terlalu keras.
Meneteskan satu tetes air suling pada prisma tersebut.
2. Menutup kembali prisma tersebut.
3. Menyalakan heater dan pompa.
4. Pada suhu 25C melakukan percobaan 2 s/d 5 pada prosedur a. Mengamati suhu input
dan outputnya.
5. Melakukan percobaan 4 untuk variasi suhu antara 25
o
C s.d. 60
o
C.
6. Menentukan nilai nf-nc pada masing-masing variasi suhu.

IV DATA dan ANALISA

4.1 data
Menentukan indeks bias minyak pada suhu kamar
Tinput Toutput n
d
D n
f
-n
c
25 25 1,47 39 0.0140
25 25 1,47 41 0.0159
25 25 1,47 40 0.0158

Menentukan indeks bias air suling pada berbagai suhu
Tinput Toutput n
d
D n
f
-n
c
26 26 1,335 44 0.0129
29 26 1,331 50 0.0075
31,6 26,5 1,332 51 0.0070
34,8 27 1,333 56 0.0069
37,8 27 1,332 61 0.0040
41 27,5 1,331 65 0.0010
44,4 27,5 1,332 61 0.0040
47,4 28 1,331 50 0.0080
50 28 1,331 51 0.0074
52,8 28 1,332 50 0.0079
55 28,5 1,331 54 0.0051
57 29 1.331 56 0.0062
59 29 1.330 52 0.0069






Perhitungan
1. Menghitung nilai terbaik indeks bias minyak pada suhu kamar
47 . 1
3
41 . 4
1
= =
=

=
d
n
i
i
d
n
n
nd
n

2. Menghitung indeks bias koreksi beserta KSRnya
5
10

+ = R n n
d dkor

d T n
D
T D R
d
) 20 (
04525 , 0
094 , 0 ) 20 ( 5 , 29
2 1
|
.
|

\
|
+ =
Contoh : Untuk data ke-1, n
d
= 1,51; d = 45; D = 0,043503590
42304 . 7 49 ) 20 27 ( 549 . 1
043503590 , 0
04525 , 0
094 , 0 ) 20 27 )( 043503590 , 0 ( 5 , 29 = |
.
|

\
|
+ = R
54892577 , 1
) 10 42304 . 7 ( 549 , 1
10
5
5
=
+ =
+ =

dkor
dkor
d dkor
n
n
R n n

Dengan cara yang sama maka akan didapatkan hasil sebagai berikut :

Tinput Toutput n
d
d n
f
-n
c
R n
dkor
25 25 1,47 39 0.0140 -14,56228894 1,50985438
25 25 1,47 41 0.0159 -16,77061194 1,50983229
25 25 1,47 40 0.0158 -15,66645044 1,50984334

% 66 . 0
% 100
5 , 1
5 , 1 5569 , 1
% 100
=

=
KSR
KSR
n
n n
KSR
lit
lit dkor












3. Menghitung nilai nf-nc berdasarkan teori dan membandingkannya dengan hasil percobaan
D Cd Bd Ad n n
c f
+ + + =
2 3

Ket : A = 0,000000385
B = -0,000034480
C = 0,000083965
D = 0,043503590
Contoh : Untuk data ke-1, n
d
= 1,51; d = 45


006949737 , 0 =
c f
n n
Tinput Toutput n
d
d n
f
-n
c
n
f
-n
c
koreksi
25 25 1,47 39 0.0140 0.019778225
25 25 1,47 41 0.0159 0.015946155
25 25 1,47 40 0.0158 0.01633419

1. Menghitung besarnya n
d
koreksi beserta KSRnya untuk n
d
air suling pada setiap variasi suhu
5
10

+ = R n n
d dkor

d T n
D
T D R
d
) 20 (
04525 , 0
094 , 0 ) 20 ( 5 , 29
2 1
|
.
|

\
|
+ =
Contoh :
82 ` 67 , 6 ) 55 )( 20 25 ( 496 , 1
046535811 , 0
04525 , 0
094 , 0 ) 20 24 )( 046535811 , 0 ( 5 , 29 = |
.
|

\
|
+ = R
495933282 , 1 ) 10 67182 . 36 ( 496 , 1
5
= + =

dkor
n
Tinput Toutput n
d
d n
f
-n
c
R nd kor
26 26 1,335 44 0.0129 0,382990008 1,33500383
29 26 1,331 50 0.0075 3,348065166 1,33103348
31,6 26,5 1,332 51 0.0070 5,792405031 1,33205792
34,8 27 1,333 56 0.0069 8,202511101 1,33308203
37,8 27 1,332 61 0.0040 11,12922072 1,33211129
41 27,5 1,331 65 0.0010 13,62199979 1,33113622
44,4 27,5 1,332 61 0.0040 18,76261866 1,33218763
47,4 28 1,331 50 0.0080 24,22776782 1,33124228
50 28 1,331 51 0.0074 27,3457695 1,33127346
52,8 28 1,332 50 0.0079 31,12028971 1,3323112
55 28,5 1,331 54 0.0051 32,57466012 1,33132575
57 29 1.331 56 0.0062 33,80325681 1,33133803
59 29 1.330 52 0.0069 37,80647458 1,33037806
) 49 )( 000083965 , 0 ( ) 49 )( 000034480 , 0 ( ) 49 )( 000000385 , 0 (
2 3
+ + =
c f
n n
) 043503590 , 0 ( +
2% 11,1904044
% 100
5 , 1
33 , 1 1,33214393 1
% 100
=

=
KSR
KSR
n
n n
KSR
lit
lit dkor



2. Menghitung nf-nc untuk setiap variasi suhu dan membandingkannya dengan hasil
percobaannya
D Cd Bd Ad n n
c f
+ + + =
2 3

Ket : A = 0,000000431
B = -0,00003878
C = 0,000087686
D = 0,046535811
Contoh : Untuk data ke-1, n
d
= 1,331; d = 53


013241 , 0 =
c f
n n
Tinput Toutput n
d
d n
f
-n
c
perco n
f
-n
c
perhitu
26 26 1,335 44 0.0129 0,013241
29 26 1,331 50 0.0075 0,009627
31,6 26,5 1,332 51 0.0070 0,009174
34,8 27 1,333 56 0.0069 0,007689
37,8 27 1,332 61 0.0040 0,007713
41 27,5 1,331 65 0.0010 0,009014
44,4 27,5 1,332 61 0.0040 0,007713
47,4 28 1,331 50 0.0080 0,009627
50 28 1,331 51 0.0074 0,009174
52,8 28 1,332 50 0.0079 0,009627
55 28,5 1,331 54 0.0051 0,008118
57 29 1.331 56 0.0062 0,007689
59 29 1.330 52 0.0069 0,00877

) 44 )( 000087686 , 0 ( ) 44 )( 00003878 , 0 ( ) 44 )( 000000432 , 0 (
2 3
+ + =
c f
n n
) 046535811 , 0 ( +

y = -8E-05x + 1.335
R = 0.442
1.329
1.330
1.331
1.332
1.333
1.334
1.335
1.336
0 10 20 30 40 50 60 70
I
n
d
e
k
s

B
i
a
s

Suhu (C)
Grafik Indeks Bias Terhadap Suhu

Anda mungkin juga menyukai