Anda di halaman 1dari 14

ACARA V UJI KESUKAAN RANKING

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Uji kesukaan pada dasarnya merupakan pengujian yang panelisnya mengemukakan responnya yang berupa senang tidaknya terhadap sifat bahan yang diuji. Pada pengujian ranking ini digunakan panelis yang belum terlatih. Pada pengujian ini panelis diminta untuk mengemukakan pendapatnya secara spontan, tanpa membandingkan dengan sample standar atau sample-sampel yang diuji sebelumnya. Pengujian ini dipakai untuk menguji reaksi konsumen terhadap suatu bahan atau mengetahui reaksi konsumen terhadap sample yang diujikan. Maka sebaiknya cara penyajian secara berurutan, dan tidak disajikan bersama-sama. Panelis yang digunakan sebaiknya diambil dalam jumlah besar yang mewakili populasi masyarakat tertentu. Dalam dunia ekonomi, konsumen adalah semua yang membeli dan menggunakan produk sesuai kebutuhan mereka. Seringkali seorang konsumen dapat menjadi sebuah organisasi atau intuisi daripada seseorang. Sehingga kenyamanan dan kesukaannya sangat perlu diperhatikan. Dalam uji kesukaan-rangking ini digunakan bahan berupa yogurt. Yogurt yang disajikan dalam praktikum ini terdiri dari 4 varian rasa

yogurt. Hal ini digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaan terhadap selera konsumen pada produk makanan yang diuji. 2. Tujuan Tujuan dari praktikum uji Indrawi pada acara uji kesukaan/ranking adalah agar mahasiswa mampu melakukan uji kesukaan dengan metode ranking.

Hardhani P Hakiki Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret

B. TINJUAN PUSTAKA 1. Tinjaun Bahan Yoghurt (atau kadang penulisannya yogurt) yang juga dikenal sebagai susu asam merupakan hasil fermentasi dari susu. Yoghurt sendiri mengandung 2 jenis probiotik, yaitu lactobacillus dan bifidobachterium. Jadi, pembuatan yoghurt ini bukannya tanpa alasan, kandungan gizi yang terdapat pada yoghurt merupakan alasan mengapa kita perlu

mengkonsumsinya.Yoghurt atau yogurt adalah sebuah produk susu yang dihasilkan oleh bakteri fermentasi susu. Fermentasi dari laktosa menghasilkan asam laktat yang bekerja pada protein susu sehingga membuat yoghurt lebih padat serta memiliki tekstur dan aroma yang khas. Umumnya yoghurt dibuat menggunakan susu sapi, namun ada beberapa yoghurt juga menggunakan susu kedelai. Yoghurt telah dikonsumsi selama lebih dari 4500 tahun dan telah terkenal di seluruh dunia dewasa ini. Yoghurt memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk kesehatan. Beberapa di keunggulan yoghurt adalah kaya protein, memiliki kandungan kalsium, riboflavin, vitamin B6 dan vitamin B12 (Anonim1,2011). Susu asam (yogurt) merupakan sejenis produk susu terkoagulasi yang diperoleh dari fermentasi asam laktat melalui aktivitas bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilluss dan

mikroorganisme dalam produk akhirnya harus hidup aktif dan berlimpah. Paduan kedua bakteri ini akan hidup dengan baik pada suhu 37C 45C sehingga proses fermentasinya harus dijaga pada suhu tersebut. Di samping itu agar susu menjadi susu asam dan siap untuk dikonsumsi, maka pH-nya diatur antara 4 sampai 4,5. Biasanya susu asam juga diberi tambahan aroma buah-buahan dan pewarna legal. Problem utama pembuatan susu asam adalah bagaimana menjaga parameter suhu agar sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Karena tidak mungkin melakukan pengamatan secara manual dalam jangka waktu yang lama, terutama untuk produksi jumlah besar, sehingga diperlukan suatu instrumen kendali yang dapat memberikan informasi secara terus menerus
Hardhani P Hakiki Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret

tanpa harus disertai kehadiran manusia sebagai pengamat. Secara khusus akan dirancang instrumen kendali yang dapat menjaga agar parameter suhu dapat dipertahankan (Anonim2,2011).
Kemampuan bakteri asam laktat (BAL) untuk memproduksi substansi antimikroba telah menyebabkannya digunakan untuk pengawetan makanan selama bertahun-tahun. Kurangnya aplikasi praktek-praktek sanitasi dan higiene yang baik dan benar memungkinkan kontaminasi bakteri patogen ke dalam susu selama penanganan di peternakan maupun selama pengolahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kemampuan antagonistik kultur starter yang digunakan pada pembuatan yogurt dan kefir terhadap bakteri Escherichia coli Enteropatogenik (EPEK) sebagai indikator pencemaran selama proses fermentasi dan penyimpanan dingin (52C). Penelitian ini dilakukan melalui penambahan isolat EPEK ke dalam tiga jenis susu fermentasi berbeda, yaitu yogurt (YT) yang terbuat dari kultur starter Streptococcus thermophilus (ST) dan Lactobacillus delbrueckii subsp. bulgaricus (LB); yogurt probiotik (YP) yang terdiri atas kultur starter yogurt dan Bifidobacterium longum (BL); dan kefir (Kf) yang terbuat dari kultur kerja kefir. Perlakuan diulang sebanyak tiga kali dan peubah diamati setiap 4 jam sekali selama 24 jam proses fermentasi pada 37C untuk yogurt dan yogurt probiotik dan 281C untuk kefir, serta setiap 2 hari selama penyimpanan dingin (11 hari). Perbedaan dalam data populasi bakteri, nilai pH dan total asam tertitrasi (TAT) antar perlakuan dengan kontrol dibandingkan dengan analisis keragaman satu faktor pada tingkat signifikansi 95% menggunakan program MINITAB 14 dan Statistix 8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi BAL untuk semua perlakuan meningkat selama proses fermentasi, tetapi menurun pada jam ke-24 sampai akhir penyimpanan 11 hari. Populasi EPEK juga meningkat selama proses fermentasi dan menurun tajam mencapai 2,33 log10 cfu/ml untuk perlakuan YT+EC dan 0,70 log10 cfu/ml untuk YP+EC pada akhir penyimpanan dingin (hari ke-11). EPEK mampu bertahan dalam jumlah yang cukup besar pada perlakuan Kf+EC selama proses fermentasi dan penyimpanan dingin, sedangkan kultur starter yogurt probiotik memiliki aktivitas antagonistik yang lebih baik

Hardhani P Hakiki Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret

terhadap EPEK dibandingkan kultur starter yogurt dan kefir. Kontaminasi EPEK dalam jumlah tinggi pada tahap prefermentasi lebih beresiko terhadap kesehatan dibandingkan dengan kontaminasi pasca fermentasi (Syaifulina, 2008).

2. Tinjauan Teori Daya terima makanan adalah kesanggupan seseorang untuk menghabiskan makanan yang disajikan. Daya terima atau preferensi makanan dapat didefinisikan sebagai tingkat kesukaan atau ketidaksukaan individu terhadap suatu jenis makanan. Diduga tingkat kesukaan ini sangat beragam pada setiap individu. Sehingga akan berpengaruh terhadap konsumsi pangan. Kesukaan terhadap makanan didasari oleh sensorik, sosial, psikologi, agama, emosi, budaya, kesehatan, ekonomi, cara persiapan dan pemasakan makanan, serta faktor-faktor terkait lainnya. Penilaian seseorang terhadap kualitas makanan berbeda-beda tergantung selera dan kesenangannya. Perbedaan suku pengalaman, umur dan tingkat ekonomi seseorang mempunyai penilaian tertentu terhadap jenis makanan, sehingga standar kulitas makanan sulit untuk ditetapkan. Walaupun demikian ada beberapa aspek yang dapat dinilai yaitu persepsi terhadap cita rasa makanan, nilai gizi dan higiene atau kebersihan makanan tersebut (Anonim3, 2011). Suatu bahan makanan sebelum diuji di pasaran perlu diuji lebih dahulu, baik uji cicip laboratoris maupun uji cicip konsumen. Uji laboratoris biasanya dilakukan di tempat produksi melalui berbagai jenis uji, sedang pada uji konsumen bahan makanan yang telah mengalami uji cicip laboratoris dicobakan pada sekelompok orang awam yang kiranya dapat mewakili konsumen dengan uji kesukaan dan uji penerimaan (Winarno,1989). Uji organoleptik dilakukan untuk mengetahui, mengukur,

menganalisis dan mengintrepretasikan atribut pangan melalui sensori manusia. Uji organoleptik yang dilakukan adalah uji afektif secara kuantitatif yaitu uji rangking hedonik dan uji rating hedonik (uji
Hardhani P Hakiki Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret

penerimaan konsumen) . Uji rangking hedonik dilakukan untuk menentukan produk yang paling disukai. Pada tahap ini panelis diminta untuk mengurutkan sampel yang diuji menurut perbedaan tingkatan mutu sensori. Urutan pertama menyatakan sampel yang paling disukai sedangkan urutan terakhir merupakan sampel yang paling tidak disukai menurut kategori atribut masing-masing. Data yang didapatkan dari uji tersebut kemudian diolah dan ditranformasikan sehingga dapat dianalisis dengan uji Friedman untuk melihat perbedaan signifikan antar sampel yang diuji (Anonim4,2011). Cara memberi peringkat dapat juga digunakan untuk masalah korelasi. Cara koefisien peringkat Spearman yang akan diuraikan dalam pasal ini merupakan cara pemberian peringkat dalam statistika yang telah sejak tahun 1904 digunakan. Seperti cara pemberian peringkat lain, korelasi peringkat khususnya menguntungkan bila salah satu atau kedua himpunan pengamatan yang diteliti itu dapat hanya dalam urutan peringkart, bukan dalam satuan kuantatif (Miler,1991). Dalam pengujian ranking panelis diminta untuk mengurutkan intensitas sifat yang dinilai. Uji ranking dapat digunakan untuk mengurutkan intensitas, mutu, atau kesukaan konsumen dalam rangka memilih yang terbaik atau menghilangkan yang terjelek. Pada uji ranking ini digunakan panelis terlatih atau digunakan panelis tak terlatih (Kartika, 1988). Pada penelitian ini dilakukan pembuatan Cake pisang dari tepung terigu dengan penambahan lumatan pisang kukus. Pisang yang digunakan adalah pisang tanduk karena pisang ini mengandung kadar pati yang tinggi, serat kasar dan Vitamin C. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh proporsi tepung terigu : pisang tanduk kukus dan penambahan telur pada kualitas produk cake dan menentukan perlakuan terbaik yang menghasilkan cake dengan kualitas yang baik dan dapat diterima konsumen. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap pola factorial dengan dua faktor. Faktor I adalah proporsi tepung terigu :
Hardhani P Hakiki Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret

pisang tanduk kukus (90:10,80:20, dan 70:30) sedangkan Faktor II adalah penambahan telur (75,100,dan 125 g). Berdasarkan hasil penelitian, perlakuan terbaik adalah perlakuan proporsi tepung terigu:pisang tanduk kukus = 80:20 dengan penambahan telur 125 gr yang menghasilkan cake pisang dengan nilai ranking kesukaan warna 130, rasa 104, tekstur 73,5; aroma 81 dan mempunyai kadar air 21,4837%, kadar protein 6,902%, kadar lemak 27,518%, kadar pati 31,6964%, kekerasan 35,5 mm/gt.dt dan volume pengembangan 93,576%. Perhitungan analisa finansial industri pembuatan Cake menunjukkan nilai NPV sebesar Rp 112.693.097,-; PP selama 4,5 tahun ; nilai gross B/C = 1,0049 ; nilai BEP sebesar 24,62% dan nilai IRR 22,47% yang berarti layak didirikan (Akhiriningsih,2010).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan bakso dari daging yang berbeda dengan pengujian statistik melalui pendekatan berbeda. Sebagai perlakuan empat macam bakso yang dibuat dari daging sapi (shank), ayam (whole karkas), kelinci (whole karkas) dan domba (shank), masingmasing berjenis kelamin jantan, sedangkan sebagai ulangan digunakan 15 orang panelis agak terlatih. Panelis dikelompokan sebagai ulangan Pada Uji Friedman dan Rancangan Acak Kelompok (RAK), sedangkan pada Uji Kruskal Wallis dan Rancangan Acak Lengkap (RAL), panelis diasumsikan sebagai ulangan yang seragam. Peubah yang diukur adalah tingkat kesukaan, yaitu sangat suka, suka, agak suka, biasa, dan tidak suka. Hasil penelitian menunjukan, bahwa tingkat kesukaan rasa, bau dan kekenyalan bakso dari daging sapi dan domba lebih disukai panelis, kemudian diikuti bakso dari daging ayam dan kelinci. Pendekatan statistik dengan uji Friedman, uji Kruskall Wallis, Rancangan Acak Lengkap dan Rancangan Acak Kelompok terhadap tingkat kesukaan umumnya tidak berbeda nyata, hanya pengujian rasa melalui uji Friedman menghasilkan perbedaan yang nyata (P< 0.05) (Suradi, 2011).

Hardhani P Hakiki Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret

C. METODOLOGI 1. Alat a. Gelas saji b. Sendok c. Tissue d. Nampan 2. Bahan a. Yogurt dengan 4 varian rasa b. Air putih 3. Cara Kerja a. Penyaji Menyiapkan sampel yang akan digunakan yaitu yogurt dengan rasa jambu, herbal,rempah dan strawberry Memberi label kode pada masing-masing sampel, rasa jambu (546); rasa rempah (713); rasa herbal (901); dan rasa strawberry (382) Menyiapkan air mineral yang digunakan sebagai penetral

Mengatur air mineral dan gelas berisi sampel dalam nampan

Menyiapkan borang penilaian

Menyajikan kepada panelis

Hardhani P Hakiki Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret

b. Panelis Menuliskan dalam borang penilaian nama panelis, tanggal pengujian dan produk yang diuji.

Membaca instruksi yang ada dalam borang penilaian dengan teliti, kemudian memeriksa kelengkapan sampel yang ada dihadapan panelis. Jika belum lengkap, meminta pada tim penyaji untuk melengkapinya.

Memulai menguji sampel sesuai instruksi yang ada dalam borang penilaian. Menuliskan hasil penilaian pada kolom yang tersedia.

Memeriksa kembali hasil pengujian yang sudah ditulis seluruhnya saat pengujian telah selesai. Bila sudah lengkap, menyerahkan borang penilaian yang sudah diisi kepada tim penyaji.

Hardhani P Hakiki Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret

D. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 4.1 Data Hasil Uji Kesukaan Ranking No Panelis Sampel 546 713 901 1 Q. Uyun 2 1 3 2 Hana Eka P 3 2 4 3 Enggar WN 3 1 2 4 Syifa N 3 1 4 5 Dani R 2 1 3 6 Zhulfani L 4 1 2 7 Branca FS 3 1 2 8 Rahajeng TN 3 2 4 9 Ikrimah NL 2 1 4 10 Novia R 3 2 1 11 Fidya AS 3 1 4 12 Hardhani PH 1 2 4 13 Subur P 1 4 3 14 Prita FN 3 1 4 15 Fitri MI 3 1 2 16 Rakhmi H 2 1 4 17 Fajriatul M 3 1 4 18 Dea Hida P 3 2 4 19 Frederica 2 1 3 20 Mislachah 3 1 4 21 Ririn H 4 1 2 22 Ganang PS 4 1 2 23 Nensi A 2 4 3 Jumlah 62 34 72 Sumber : Laporan Sementara

382 4 1 4 2 4 3 4 1 3 4 2 3 2 2 4 3 2 1 4 2 3 3 1 62

Praktikum Uji Kesukaan Ranking ini menggunakan sampel berupa yogurt dengan 4 varian rasa. Varian rasa tersebut adalah rasa jambu (546), rasa rempah (713), rasa herbal (901) dan rasa strawberry (382). Keempat sampel tersebut diujikan kepada 23 panelis semi terlatih. Cara pengujian atau mekanisme pengujian adalah penyaji menyajikan 4 macam sampel kepada masing-masing panelis. Panelis kemudian diminta untuk menilai berdasarkan kesukaan panelis terhadap sampel tersebut. Penilaian yang dilakukan berdasarkan pada uji ranking yaitu dalam penilaian tidak boleh ada nilai yang sama. Dalam pemberian penilaian, panelis diminta untuk mengurutkan intensitas sifat sampel yang dinilai. Nilai 1 untuk sampel yang paling disukai,

Hardhani P Hakiki Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret

nilai 2 untuk sampel yang memiliki tingkat kesukaan kedua dan nilai 3 untuk sampel yang tidak disukai dan 4 untuk paling tidak disukai. Dari hasil yang diperoleh jumlah penilai panelis terhadap sampel rasa jambu (546) sebesar 62, pada sampel rasa rempah (713) sebesar 34, pada sampel rasa herbal (901) sebesar 74, dan sampel rasa strawberry (382) sebesar 62. Sehingga sampel dengan ranking tertinggi (paling disukai) adalah sampel rasa rempah (713) dengan jumlah nilai terendah karena data menunjukkan banyak angka 1 yang berarti paling disukai. Urutan berikutnya adalah rasa jambu (546), rasa strawberry (382) dan rasa terakhir rasa herbal (901).

Tabel 4.2 Output Oneway Descriptives Ranking N Mean Std. Std. 95% Confidence Deviation Error Interval for Mean Lower Bound -.3595 .4230 -.7170 -.4581 -.1580 Upper Bound .1134 .9614 -.1525 .1894 .1580

Minimum Maximum

.54674 .1230 713 23 .6922 .62256 901 23 .65272 .4348 382 23 .74878 .1343 Total 92 .0000 .76274 Sumber: Laporan Sementara

546

23

.11400 .12981 .13610 .15613 .07952

-1.03 -1.03 -1.03 -1.03 -1.03

1.03 1.03 1.03 1.03 1.03

Output bagian pertama (group statistics) dari analisis varian (ANOVA) ini menunjukkan deskripsi atau ringkasan statistik dari keempat sampel yang digunakan. Berdasarkan output ini dapat diketahui besarnya nilai rata-rata (mean), standar deviasi, standar error, jangkauan atau interval ratarata, nilai minimum dan nilai maksimum. Tabel 4.3 Test of Homogenity of Variances Ranking Levene Statistic df1 df2 Sig. 1.660 3 88 .182 Sumber : Laporan Sementara Output bagian kedua adalah Test of Homogenity of Variances. Analisis ini bertujuan untuk menguji berlaku tidaknya asumsi untuk ANOVA,

Hardhani P Hakiki Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret

yaitu apakah rata-rata tingkat kesukaan ketiga sampel tersebut memiliki varians yang sama. Hipotesis untuk uji ini adalah: Ho = keempat varian populasi adalah identik Hi = keempat varian populasi adalah tidak identik Sedangkan dasar pengambilan keputusan adalah: Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak Berdasar output yang diperoleh nilai probabilitas sebesar 0.182, sehingga nilai probabilitas > 0,05 yang berarti Ho di terima. Sehingga keempat varian tersebut adalah homogen (identik) sehingga bisa dilanjutkan ke one way ANOVA. Tabel 4.4 Anova Ranking Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 16.131 3 5.377 12.854 .000 Within Groups 36.811 88 .418 Total 52.941 91 Sumber:Laporan Sementara Output bagian ketiga (ANOVA) digunakan untuk menguji apakah keempat sampel memiliki rata-rata (mean) yang sama. Hipotesis untuk uji ini adalah: Ho = keempat rata-rata populasi adalah identik Hi = keempat rata-rata populasi adalah tidak identik Dasar pengambilan keputusan adalah : Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak Dari output yang telah diperoleh dapat terlihat bahwa F hitung adalah 12.854 dengan probabilitas 0,000. Karena probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak. Hal ini berarti rata-rata dari populasi keempat sampel memang berbeda nyata (tidak identik).

Hardhani P Hakiki Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret

Tabel 4.5 Post Hoc Tests Homogeneous Subsets sampel N Subset for alpha = 0.05 1 2 901 23 -.4348 382 23 -.1343 546 23 -.1230 713 23 .6922 Sig. .126 1.000 Means for groups in homogeneous subsets are displayed Sumber: Laporan Sementara Output bagian keempat adalah Post Hoc Tests dengan

Homogeneous Subsets. Pada bagian ini dicari grup/subset yang mana saja yang mempunyai perbedaan rata-rata yang tidak berbeda secara signifikan. Dari hasil yang diperoleh dapat diketahui bahwa keempat sampel terbagi menjadi dua subset. Pada subset 1, terlihat sampel dengan rasa herbal (901) , rasa strawberry (382) dan rasa jambu (546) . Sedangkan pada subset 2 hanya terdapat sampel rasa rempah (713). Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa sampel rasa rempah mempunyai perbedaan dengan yang lainnya (berbeda nyata). Sampel pada subset yang sama menunjukkan tidak ada beda nyata pada ketiga sampel tersebut. Pada tabel terakhir ini dapat terlihat pula kandungan antar sampel berdasar peringkatnya. Sampel rasa rempah (713) memiliki kandungan sebesar 0.6922 terbesar dibanding sampel lain yaitu sampel rasa jambu (546) sebesar -0.1230, sampel rasa strawberry sebesar -0.1343 dan sampel rasa herbal (901) sebesar -0.4348 yang merupakan sampel dengan kandungan terendah.

Hardhani P Hakiki Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret

E. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum acara Uji Kesukaan Ranking antara lain sebagai berikut: 1. Uji kesukaan ranking merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui tingkat penerimaan konsumen terhadap suatu produk. 2. Berdasarkan hasil uji kesukaan ranking, sampel yang paling disukai adalah sampel rasa rempah (713) diikuti rasa jambu (546), rasa strawberry (382) dan
terakhir rasa herbal (901).

3. Berdasarkan output Oneway Descriptives dapat diketahui besarnya nilai ratarata (mean), standar deviasi, standar error, jangkauan atau interval rata-rata, nilai minimum dan nilai maksimum. 4. Berdasarkan output Test of Homogenity of Variances, Ho diterima sehingga but adalah homogen (identik) sehingga bisa dilanjutkan ke one way ANOVA. 5. Berdasarkan output bagian ketiga (ANOVA), Ho ditolak sehingga rata-rata dari keempat sampel memang berbeda nyata (tidak identik). 6. Berdasarkan output Post Hoc Test Homogeneous Subset, sampel rasa rempah (713) mempunyai perbedaan dengan yang lainnya (berbeda nyata) karena berada pada subset yang berbeda. 7. Urutan kandungan sampel adalah rasa rempah (713) sebesar 0.6922, rasa jambu (546) sebesar -0.1230, sampel rasa strawberry sebesar -0.1343 dan sampel rasa herbal (901) sebesar -0.4348.

Hardhani P Hakiki Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret

DAFTAR PUSTAKA

Akhiriningsih, Prapti. 2010. Pengaruh Proporsi tepung Terigu : Pisang Tanduk Kukus dan Penambahan telur terhadap Kualitas Cake. scirbd.com. Diakses pada hari Kamis 26 Mei 2011 pada pukul 19.38 WIB. Anonim1.2011. Yogurt untuk Kesehatan. kumpulan.info/sehat/artikel-kesehatan/. Diakses pada hari Kamis 26 Mei 2011 pada pukul 19.00 WIB. Anonim2.2011. Proses Pembuatan Yogurt. http://ichan-rizkan.com/prosespembuatan-yogurt/. Diakses pada hari Kamis 26 Mei 2011 pada pukul 19.30 WIB. Anonim3. Daya Terima Makanan. http://jurnaldanmajalah.wordpress.com. Diakses pada hari Kamis 26 Mei 2011 pada pukul 19.12 WIB. Anonim4. Uji organoleptik. http://jurnaldanmajalah.wordpress.com. Diakses pada hari Kamis 26 Mei 2011 pada pukul 19.15 WIB. Syaifulina, Trias. 2008. Aktivitas Antagonistik Kultur Starter Yogurt dan Kefir terhadap Bakteri Escherichia coli Enteropatogenik Selama Proses Fermentasi dan Penyimpanan Dingin. repository.ipb.ac.id. Diakses pada hari Kamis 26 Mei 2011 pada pukul 19.34 WIB. Kartika, Bambang. 1988. Pedoman Uji Inderawi Bahan Pangan. UGM. Yogyakarta. Miller, JC. 1991. Statistika Untuk Kimia Analitik. ITB Bandung. Bandung. Suradi, Kusmajadi. 2011. Tingkat Kesukaan Bakso dari Berbagai Jenis Daging Melalui Beberapa Pendekatan Statistik. scribd.com. Diakses pada hari Kamis 26 Mei 2011 pada pukul 19.48 WIB. Winarno. 1989. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia. Jakarta.

Hardhani P Hakiki Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret