Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah Media massa yang ada pada saat ini kegunaannya tidak hanya sebagai saluran komunikasi, tetapi posisinya juga bisa sebagai institusi ekonomi (bisnis), sosial budaya, dan politik (media sebagai tempat kampanye atau bisa dijadikan sebagai alat propaganda). Media massa menjadi objek utama dalam studi komunikasi massa. Komunikasi massa itu sendiri adalah proses komunikasi yang menggunakan media oleh si komunikator, media tersebut digunakan untuk menyebarluaskan pesanpesan secara terus menerus sehingga menciptkan makna-makna, serta diharapkan dapat mempengaruhi khalayak yang besar dan beragam dengan melalui berbagai cara1. Perkembangan teknologi pada saat ini, memang memberikan media alternatif lain untuk berkomunikasi. Munculnya media cetak, media siar, buku, telepon, bahkan menghasilkan media baru seperti internet yang memberikan pengaruh yang bermacam-macam. Di satu sisi, media baru tersebut memberikan efek positif yaitu untuk sarana informasi namun disisi lain ada efek negatif yang harus dihindari oleh manusia, misalnya salah satunya efek kecanduan. Internet adalah jaringan komputer yang terhubung secara internasional dan tersebar di seluruh dunia. Jaringan ini meliputi jutaan pesawat komputer yang terhubung satu dengan yang lainnya dengan memanfaatkan jaringan telepon (baik kabel maupun gelombang elektromagnetik). Setiap jaringan komputer ini memiliki satu aplikasi induk atau provider, serta dibutuhkan beberapa aplikasi lainnya dalam jaringan internet dengan dukungan software dan hardware yang dibutuhkan. Melalui internet, bentuk kecanggihan komunikasi semakin berkembang, akses ke seluruh dunia menjadi mudah walaupun memiliki efek negatif bagi para pemakainya. 1.2 Rumusan Permasalahan Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam makalah ini adalah: 1. Mengapa orang menggunakan media massa? 2. Mengapa orang menggunakan media yang berbeda-beda? 3. Apa saja fungsi sosial dari media massa? 4. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi reaksi khalayak pada komunikasi massa?

DeFleur & McQuail, 1985, McQuail, 2000

5. Apa saja efek dari komunikasi massa? 6. Adakah contoh yang relevan dengan kasus addicted internet? 7. Internet sebagai salah satu new media dan merupakan salah satu perkembangan dari teknologi komunikasi, apa saja implikasi dari munculnya teknologi komunikasi baru tersebut? 8. Apa saja daya tarik dari isi sebuah media massa khususnya Internet? 9. Bagaimana pengaruh pemakaian Internet di kalangan remaja?

1.3 Tujuan Penelitian Dari rumusan masalah di atas, tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk mengetahui apa saja penyebab seorang individu menggunakan media massa dalam kehidupan sehari-harinya dan mengapa penggunaan media di setiap individu berbeda-beda. Untuk mengetahui fungsi sosial dari media massa itu sendiri. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi reaksi khalayak pada komunikasi massa yang akan dijelaskan dalam bentuk beberapa teori komunikasi yang ada. Selain itu, untuk mengetahui efek dari komunikasi massa itu sendiri dan untuk mengetahui pengaruh munculnya media baru (Internet) dalam perkembangan teknologi komunikasi serta mengetahui apa daya tarik dari Internet itu sendiri yang banyak memberi pengaruh bagi individu yang memakainya khususnya di kalangan remaja. 1.4 Sistematika Penulisan Makalah ini terbagi atas empat bab, dan masing-masing bab terdapat beberapa sub bab, berikut penjelasannya: BAB I : merupakan bab pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah,

perumusan masalah, tujuan penelitian, kerangka pemikiran dan sistematika penulisan. BAB II BAB III BAB IV : merupakan bab pembahasan yang terdiri dari teori dan analisis masalah. : merupakan bab penutup yang terdiri atas simpulan dan saran. : merupakan bab referensi atau daftar pustaka.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Penggunaan Media Massa bagi Manusia Setiap individu atau setiap manusia pasti menggunakan media massa. Dimana setiap masingmasing individu tersebut pasti mempunyai alasan tersendiri mengapa dia memakai dan menggunakan media massa dalam pemenuhan kebutuhan kehidupan sehari-harinya. Ada bebearapa alasan yang mempengaruhi individu untuk memakai media massa, antara lain; Pertama, karena adanya situasi konsumsi atau penggunaan media itu sendiri. Kedua, Jeffres membedakan antara media seeking dan content seeking. Media seeking adalah situasi dimana kita menggunakan media karena adanya tindakan konsumsi tersebut (baik dalam hal membaca, menonton, mendengar) lebih penting daripada isi (yang dibaca, yang ditonton, yang didengar). Media seeker adalah orang atau pelaku yang memakai media tersebut. Sedangkan content seeking adalah menggunakan media karena isinya. Bisa terjadi information seeking, dimana individu tersebut benar-benar menyeleksi isi media, hanya yang benar-benar menilai informasi atau yang penting saja yang dikonsumsi (proses pemilihan). Selain itu, fungsi media bagi individu lainnya adalah; Pertama, adanya pengawasan atau pencarian informasi. Individu mencari media guna memenuhi kebutuhannya untuk mendapatkan informasi yang baru, manfaat media untuk kebutuhan informasi. Kedua, media digunakan sebagai tempat atau untuk pengembangan diri. Ketiga, terbentuknya fasilitas dalam hubungan sosial. Melalui media, manusia dapat mengkonstruksi atau dapat membentuk hubungan sosial, sehingga media berfungsi bagi kehidupan manusia dalam memfasilitasi hubungan sosial. Contohnya, ketika ada acara Reuni Akbar di sebuah SMA, diumumkan melalui media lewat iklan, sehingga terbentuklah hubungan sosial dimana alumnus dari SMA tersebut mengetahui acara yang akan diadakan itu lewat media. Keempat, adanya subsitusi dalam hubungan sosial. Kelima, media membantu melegakan emosi atau afeksi. Misalnya ketika individu merasa dalam keadaan tertekan atau sedih, dengan menggunakan media dia dapat menonton film komedi misalnya, dengan menonton film komedi tersebut individu merasa dapat terhibur. Keenam, media dipakai sebagai sarana pelarian dari ketegangan dan keterasingan. Contohnya, seorang anak yang tidak memiliki teman, dia lebih memilih menggunakan media untuk melarikan diri dari keterasingan tersebut, misalnya melalui pemakaian Internet dia dapat menghilangkan sejenak keterasingan akan dirinya dengan chatting di dunia maya tersebut. Ketujuh, fungsi media bagi individu adalah media merupakan bagian dari 3

kehidupan ritual rutin (ritualisasi). Melalui media, media bisa menghubungkan individu (mengsubsitusikan) sehingga individu tersebut bisa merasa menjadi bagian dari masalah tersebut, misalnya ketika merebaknya masalah pemberian izin pada Film Balibo oleh LSF Indonesia, melalui media berita tersebut terbentuk atau terkonstruksi, lalu kita (manusia) merasa perlu untuk mengikuti perkembangan dari film tersebut, apakah benar certita film tersebut dimana Indonesia yang menjadi mafianya. Ketika kita tidak tahu perkembangan dari berita tersebut, kita merasa ada sesuatu hal yang kurang, sehingga media menjadi kehidupan ritual yang rutin untuk dicari tahu2. 2.2 Manusia memakai media yang berbeda-beda Setiap manusia tidak memiliki pikiran yang sama tentang sesuatu hal. Begitu juga dalam menggunakan media, setiap manusia menggunakan media yang berbeda-beda. Menurut Jeffres3, perbedaan tersebut terletak pada individu itu sendiri. Setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda-beda yang berasal dari media. Misalnya individu pertama merasa butuh akan informasi mengenai berita, namun belum tentu individu yang lain juga membutuhkan informasi yang sama, mungkin individu yang lain tersebut menggunakan media hanya untuk hiburan. Jeffres juga mengatakan, perbedaan akan kebutuhan media ini dapat dilihat dalam dua pendekatan, yaitu pendekatan kategori sosial dan pendekatan uses & gratifications. Pendekatan kategori sosial maksudnya perbedaan kategori sosial individu dapat menjelaskan mengapa individu menggunakan media secara berbeda-beda. Antara lain adanya perbedaan pendidikan, pendapatan, pekerjaan, jenis kelamin, agama, etnik, dsb. Pendekatan uses & gratifications, dimana individu (manusia) yang memilih media tertentu untuk kepuasan tertentu yang berdasarkan atas motivasi seseorang tertentu juga. Pendekatan ini memandang individu sebagai makhluk suprarasional dan sangat selektif. Maksudnya, setiap manusia tidak semuanya menerima seluruhnya apa yang disajikan oleh media, tetapi dia yang memilih media apa yang dibutuhkan bagi dirinya. Adanya perbedaan motif dalam konsumsi media massa sehingga menyebabkan khalayak bereaksi kepada media massa secara berbeda pula. Karena adanya motivasi, individu baru akan menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan dia dan bisa memberikan kepuasan tertentu bagi dirinya. Menurut Raymond A Bauer, dia mengatakan khalayak bukan robot yang pasif ketika mereka menerima pesan dari media massa. Obstinate audience (khalayak yang kepala batu) baru akan mengikuti pesan dari media massa tersebut jika pesan tersebut menguntungkan mereka.

2 3

Fungsi Media bagi individu ini dikutip dari Becker, tahun 1985 Ahli Komunikasi Massa

2.3 Fungsi Sosial dari Media Massa 2.3.1 Menurut Lasswell dan Wright Fungsi sosial menurut Lasswell dan Wright ini ada 4 yaitu, ada fungsi pengawasan lingkungan (social surveillance), fungsi korelasi sosial (social correlation), fungsi sosialisasi (social transmission), dan fungsi hiburan (entertainment). Fungsi social surveillance maksudnya adalah informasi yang dibuat dan disebarluaskan yang digunakan untuk pengamatan (kejadian). Contohnya adalah ketika terjadi kebakaran, yang perlu diberitakan adalah investigasinya bukan semakin mendramatisir keadaan, yang perlu disampaikan ke khalayak adalah memberi tahu apa penyebab kebakarannya, kenapa bisa terjadi, apa akibatnya dan bagaimana supaya keadaan seperti itu tidak terjadi lagi, sehingga media dapat memberi pengetahuan bagi khalayak dengan fungsi pengawasan lingkungan. Fungsi correlation social merupakan hubungan untuk mencapai konsensus. Contohnya pada kasus BHP, untuk mendapat informasi yang selengkapnya, yang ditanya tidak hanya dari kalangan orang tua saja, tetapi mungkin kelompok-kelompok lainnya seperti mahasiswa, tukang ojek, orang kaya, duru, dan lainnya, sehingga hasil konsensusnya apakah UU BHP tersebut akan dipertahankan atau tidak. Fungsi sosialisasi maksudnya adalah lebih ke transmisi nilai-nilai budaya, seperti menghargai perbedaan, terbentuknya solidaritas sosial, cinta damai. Fungsi yang terakhir adalah fungsi hiburan, dimana fungsi sosial dari media massa adalah untuk hiburan. 2.3.2 Fungsi Sosial Media Massa menurut Lazarsfeld & Merton Fungsi Sosial Media Massa menurut Lazarsfeld & Merton ini ada 2 macam yaitu, media massa memberikan atau mengukuhkan status sosial dan melalui media massa dapat memperkokoh normanorma sosial. Memberikan atau mengukuhkan status sosial, contohnya ketika mendengar radio jangan hanya mendengar female radio atau woman radio saja (radio untuk orang tua) setidaknya juga mendengar gen fm atau prambors (radio anak muda), atau ketika seseorang asli berasal dari kota Depok, ketika jalan-jalan jangan hanya ke depok town square aja tetapi juga pergi jalan-jalan ke cilandak town square misalnya. Dapat memperkokoh norma-norma sosial, norma sosial disini masih belum jelas maksudnya apa. Bahkan pada saat ini, media sering mengemukakan isi suatu acara yang bergantung pada mekanisme pasar/rating, sehingga kualitas siarannya menjadi rendah. Contohnya ketika salah satu stasiun televisi berhasil membuat acara termehek-mehek dan dapat mengambil pangsa pasar yang besar, stasiun televisi lainnya cenderung meniru sehingga acara televisi hanya ituitu saja dan mengakibatkan kualitas dari siarannya itu sendiri menjadi rendah. Sebaliknya, yang perlu dikemukakan oleh media itu adalah bagaimana cara mengatasi suatu masalah yang terkait dalam kehidupan sehari-hari dan disosialisasikan. 5

2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi khalayak pada komunikasi massa Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi khalayak pada komunikasi massa terdapat dalam penjelasan Melvin Defleur dan Ball-Rokeach tentang pertemuan dengan media, dan pendekatan motivasional dan Uses & Gratifications. 2.4.1 Teori Defleur dan Ball-Rokeach tentang Pertemuan dengan Media Menurut Defleur dan Rokeach, mereka melihat reaksi khalayak terhadap stimuli yang diberikan oleh media massa terbagi atas tiga macam. Pertama, dilihat dari persperktif perbedaan individual. Perspektif ini memandang bahwa sikap masing-masing indiviidu baik secara personal maupun posisi dia didalam suatu kelompok akan menentukan sendiri dalm memilih stimuli yang ada di lingkungan sekitarnya dan dia sendiri yang menentukan makna atau arti dari stimuli tersebut. Kedua, dilihat dari perspektif kategori sosial, perspektif ini berasumsi bahwa didalam masyarakat terdapat kelompok-kelompok sosial. Kelompok-kelompok sosial ini memiliki kategori tertentu misalnya kelompok berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan atau berdasarkan tempat tinggal. Dimana setiap anggota dari kelompok-kelompok yang ada cenderung memiliki reaksi dan pemahaman yang sama mengenai stimuli yang ada. Ketiga, dilihat dari perspektif hubungan sosial, perspektif hubungan sosial ini menekankan pada pentingnya peranan hubungan sosial yang informal dalam mempengaruhi reaksi orang terhadap media massa. 2.4.2 Pendekatan Motivasional dan Uses & Gratifications Model Uses & Gratifications oleh Elihu Katz, Jay G, Blumler, dan Michael Gurevitch, teori ini memandang individu sebagai makhluk suprarasional dan sangat selektif. Pada intinya, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh mereka, bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi khalayak dalam menggunakan atau memakai sebuah media. Manusia memakai atau menggunakan media massa karena didorong oleh motif-motif tertentu. Ada berbagai media yang dapat memenuhi kebutuhan manusia (khalayak), seperti media massa dapat memberi hiburan kepada khalayak. 2.5 Efek dari Komunikasi Massa Efek media massa itu, umumnya kita (manusia) lebih tertarik bukan kepada apa yang kita lakukan terhadap media, tetapi kepada apa yang dilakukan media tersebut terhadap kita. Menurut McQuail ada 4 fase efek media massa yaitu, all powerfull media effect, theory of powerfull media put to the test, powerfull media rediscovered, dan negotiated media influences. Kekuatan efek atau pengaruh dari media massa bergantung pada stimulus dan response (S-R) yang dipengaruhi oleh psikologi, kemudian powerfull effect tadi diuji, ternyata hasilnya ada berupa social content atau 6

environment (the step flow). Lalu masuk ke powerfull media rediscovered, dimana dalam tahap ini sudah masuk perspektif kritis, ada kerangka teori yang berawal dari pendekatan empiris serta menjelaskan bagaimana proses sebuah organisasi media dalam menyebarkan kontennya sebelum dikirimkan ke khalayak. Negotiated media influences, dimana pengaruh dari media itu sendir bisa ditawar, seperti adanya uses & gratifications, adanya power of media berarti power of people juga ada, dan adanya decoding-encoding yang dijelaskan oleh Stuart Hall. Menurut Steven Chaffe, ada 3 pendekatan dalam melihat efek media massa, yaitu; Pertama, berkaitan dengan pesan maupun dari media itu sendiri. Kedua, melihat segala jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikassi massa dari segi kognitif, afektif, dan behavioral. Ketiga, adanya satuan observasi yang dikenal dengan efek komunikasi massa yang meliputi individu, kelompok, organisasi dan masyarakat. Secara fisik, menurut Steven H. Chaffee efek dari kehadiran dari media massa itu sendiri adalah karena adanya efek ekonomis, adanya efek sosial yang berkenaan dengan perubahan struktur atau interaksi sosial akibat kehadiran media massa. Efek sosial berhubungan dengan perubahan pada struktur atau interaksi sosial akibat kehadiran media massa. Ada efek penjadwalan kembali kegiatan sehari-hari. Efek pada penyaluran atau penghilangan sebuah perasaan. Efek pada perasaan orang terhadap media, dimana media dapat menumbuhkan perasaan tertentu baik negatif maupun positif bagi yang menggunakan media tersebut. Seseorang merasa ada yang berubah pada dirinya, dimana dia bisa merasakan perasaan yang tidak enak menjadi hilang dan bisa tumbuh perasaan tertentu lainnya terhadap media massa. Sedangkan efek pesan dari media massa itu terbagi atas 3, yaitu efek kognitif, afektif dan behavioral. 1. Efek Kognitif Adanya efek kognitif yang terdapat di dalam pesan media massa, bagaimana media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan dapat mengembangkan keterampilan kognitif. Roberts (1977) mengatakan bahwa komunikasi tidak secara langsung menimbulkan perilaku terterntu, tetapi cenderung mempengaruhi cara kita

mengorganisasikan citra kita tentang lingkungan, dan citra inilah yang mempengaruhi cara kita berperilaku. Citra itu sendiri adalah pandangan kita tentang sesuatu berdasarkan bagaimana persepsi kita terhadap sesuatu tersebut. Dilihat dari efek kognitif ini, efek pesan dari media massa dapat menimbulkan pembentukan image (citra), bagaimana cara pandang kita terhadap dunia berdasarkan atas pemahaman dan 7

persepsi kita tentang dunia tersebut, baik berpikir atau menggambarkan atau membayangkan sebuah realitas dan tidak harus selalu sesuai juga dengan realitas yang ada. Efek yang kedua, dapat membentuk realitas tangan kedua. Realitas yang ditampilkan oleh media adalah realitas yang sudah diseleksi-realitas tangan kedua (second hand reality). Manusia terpengaruh dan akhirnya membentuk sebuah citra lingkungan sosial berdasarkan atas realitas kedua yang ditampilkan oleh media massa. Efek yang ketiga adalah munculnya streotype. Media massa telah membentuk atau menayangkan dunia nyata secara selektif, sehingga media massa itu sendiri telah mempengaruhi khalayak dalam pembentukan citra tentang lingkungan sosial tadi yang penuh dengan ketimpangan, bias dan tidak cermat, sehingga terjadilah atau muncullah apa yang dinamakan dengan streotype. Streotip itu merupakan sebuah gambaran umum mengenai individu, kelompok masyarakat, profesi, dimana pandangan terhadap seorang individu tersebut, terhadap kelompok tersebut tidak berubah dan bersifat klise. Contohnya, ketika seorang wanita akan dikatakan cantik apabila dia memiliki kulit yang putih, sedangkan bagi wanita yang berkulit gelap (kecoklatan) dianggap tidak cantik, melalui media streotip seperti ini sangat melekat di kehidupan masyrakat. Sehingga mereka yang berkulit gelap dianggap sebagai kelompok yang minoritas, padahal semuanya ini bersifat klise, bias, karena pada kenyataannya tidak semua wanita berkulit gelap itu tidak cantik. Dampak media massa, kemampuan untuk menimbulkan perubahan kognitif di antara individuindividu telah dijuluki sebagai fungsi dari agenda setting dari komunikasi massa. Di sinilah terletak efek komunikasi massa yang terpenting, kemampuan media untuk menstruktur dunia buat kita4. Media massa menyaring berita, artikel, tulisan yang akan disiarkannya. Media massa mempengaruhi persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Media massa tidak menentukan what to think pada khalayak, tetapi mempengaruhi what to think about. Dengan memilih berita tertentu dan mengabaikan yang lain, dengan menonjolkan suatu persoalan dan mengesampingkan yang lain, media membentuk citra atau gambaran dunia kita seperti yang disajikan dalam media massa5. 2. Efek Afektif Menurut Joseph Klapper pada tahun 1960, dia mengatakan bahwa ada hubungan pengaruh media massa dengan pembentukan dan perubahan sikap manusia. Pengaruh komunikasi massa terhadap proses selektif dan predisposisi personal disebut dengan faktor personal. Karena adanya faktor-faktor tersebut, komunikasi massa biasanya berfungsi untuk memperkuat pendapat yang ada, walaupun kadang-kadang media berusaha untuk merubahnya. Media massa memang berpengaruh
4 5

Dikutip dari McCombs dan Shaw (1974:1) dalam buku Jalaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi hal. 229. Dikutip dari buku Psikologi Komunikasi, Jalaludin Rakhmat, hal 228.

dalam pembentukan dan peprubahan sikap individu. Charles K. Atkin (1981:299-328) juga mengatakan bahwa media massa secara tidak langsung dapat mempengaruhi orientasi efektif walaupun dampaknya tidak sebesar pada orientasi kognitif. Selain itu, media massa dapat menimbulkan rangsangan emosional pada khalayak. Rangsangan emosional yang banyak dibicarakan adalah rangsangan seksual karena adanya gambar-gambar merangsang dalam media massa. 3. Efek Behavioral Efek Behavioral ini terbagi atas dua macam yaitu ada efek antisosial dan efek prososial. Efek prososial adalah efek positif dari media massa. Bandura menjelaskan bahwa dengan adanya rasa perhatian saja tidak cukup untuk menghasilkan efek prososial. Khalayak harus sanggup menyimpan hasil pengamatannya dalam ingatannya dan memanggil kembali ingatan tersebut ketika mereka akan bertindak sesuai dengan hal yang telah diberikan terlebih dahulu. Berbeda dengan teori Katharsis, hipotesisnya jelas berbeda dengan hipotesis peneliti yang lainnya. Banyak studi yang lebih mendukung teori stimulasi dibanding dengan teori Katharsis ini. Teori Katharsis seperti cocok bagi produsen dan distributor. Salah satu implikasi dari teori Katharsis itu adalah, dia mengatakan perbanyaklah film-film kekerasan supaya tindakan kekerasan semakin berkurang, dan perbanyak juga film pornografi supaya kejahatan tentang seks dapat berkurang. 2.6 Contoh Kasus Kecanduan Internet Banyak kasus yang dapat kita lihat ketika seseorang sudah terjangkit kecanduan pada internet. Jika seseorang masuk kedalam dunia maya ini, memang memiliki pengaruh yang sangat besar pada perubahan perilaku dia sehari-hari maupun perkembangan psikologis dan pikirannya. Melalui internet informasi yang baik tentu juga didapatkan oleh pemakainya, namun tidak tertutup kemungkinan efek yang tidak baik pun juga banyak disini, karena mengingat internet yang menghubungkan ke server seluruh dunia, maka aksesnya pun bagi setiap individu yang memakainya pun bebas. Contoh kasus yang terjadi pun tidak hanya dari kalangan remaja, tetapi juga terjadi di kalangan orang dewasa. Beberapa contoh kasusnya adalah: 1. Pengaruh game online Di Indonesia banyak orang tua yang mengeluhkan karena anaknya candu bermain game online, mereka para orang tua tidak hanya khawatir dengan kebiasaan anaknya dan perkembangan jiwa dan pikiran anaknya, namun karena bermain game online yang tidak wajar juga dapat menganggu keuangan keluarga. 2. Koneksi Internet lebih penting daripada jaringan listrik 9

Di Inggris, dibandingkan dengan jaringan listrik, mereka lebih memilih koneksi internet. Mereka mengaku selalu gelisah jika tidak ada koneksi internet. Menurut mereka, koneksi internet itu lebih penting dari jaringan listrik itu sendiri. 3. Kasus pembunuhan Di Beijing-China, seorang ABG yang kecanduan internet menikam ibunya hingga tewas karena sang ibu menolak memberikan uang kepada anaknya untuk pergi ke warnet. Bahkan ketika ayahnya datang, dia langsung menikam ayahnya walaupun tidak sampai tewas. Dia sedang mengalami kecanduan internet, dan setiap harinya dia habiskan waktunya hanya untuk internet. 4. Kekerasan dan Kecemburuan Masih di China, seorang istri memotong tangan suaminya, karena suaminya melupakan janjinya untuk tidak kecanduan berinternet lagi. Hal ini terjadi, karena sang istri mengaku cemburu karena suaminya sering chatting dengan gadis-gadis lainnya dan melupakan urusan keluarga. 5. Pornografi Masih di China, sekitar 4 juta remaja di China kecanduan Game online yang tidak sehat sehingga mereka keasyikan menghabiskan waktunya di warnet game online daripada bermain di dunia nyata. Hal ini membuat prihatin kebanyakan orang, karena kecanduan internet dapat menyebabkan kepekaan seseorang terhadap kehidupan sosialnya berkurang. Sebagai respon terhadap hal ini, Sebuah komite di parlemen pun meminta pengawasanyang lebih ketat terhadap game internet yang dinilai punya konten ilegal atau tidak pantas seperti menampilkan kekerasan, pornografi dan bahkan game yang tidak patriotik. Perlu adanya teknologi yang bisa memutus otomatis permainan game jika orang sudah terlalu lama bermain. 2.7 Implikasi munculnya teknologi baru: Internet Munculnya teknologi baru seperti Internet, memiliki implikasi sendiri bagi para penggunanya. Paling banyak yang menggunakan teknologi ini adalah golongan anak-anak atau remaja. Mereka sering menggunakan teknologi ini, selain kebutuhan untuk memperoleh informasi selain dari media cetak dan buku. Internet memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki media lainnya yang dapat menjadi daya tarik sendiri bagi seseorang. Implikasi lainnya dan yang dikhawatirkan adalah munculnya rasa candu, bersikap tidak care pada lingkungan sosial nyatanya. Khalayak yang dituju oleh media ini adalah khalayak yang khusus, tidak hanya anak dan remaja tetapi orang tua pun juga bisa. Para remaja paling banyak menggunakan media ini, karena media ini pun bersifat baru, sehingga muncul atau adanya ketertarikan remaja pada media-media baru. Selain itu, ada 10

pembentukan body image, hal ini dikarenakan karena akses yang luas, cepat dan mudah seperti itu membuat remaja membentuk body imagenya dan tidak tertutup kemungkinan terjadinya bedroom culture, dimana remaja merasa dia lebih penting berada didalam kamarnya dibandingkan dengan berkomunkasi dengan anggota keluarga lainnya. 2.8 Daya Tarik Internet (Keunggulan) Internet memberikan bentuk baru dalam perkembangan teknologi komunikasi pada saat ini. Akses internet bisa menjangkau seluruh dunia. Mengirim pesan antar daerah, kota, antar-negara, maupun ke belahan dunia lainnya bisa menggunakan email. Selain pemakai bisa memakai email, dia juga bisa menikmati voice mail. Selain bisa mengirim pesan, pemakai bisa mentransfer data, mengupload foto, dan yang paling menarik adalah bisa chatting kemana saja. Keunggulan internet lainnya adalah internet menyajikan kemudahan bagi usernya atau penggunanya dalam mengoperasikan internet. Dalam hitungan detik atau menit, pesan dapat langsung terkirim kepada yang dituju. Tidak hanya pengiriman pesan saja yang cepat, pengiriman data pun juga cepat dan mudah karena langsung dikirim dari komputer atau flashdisk. Misalnya, pengiriman data yang cepat dan mudah bagi para pembisnis, kecanggihan teknologi ini sangat bermanfaat bagi dirinya dan perusahaannya. Kapasitas di pesan pun besar maupun pada flashdisk tempat penyimpan data khusus komputer memiliki kapasitas menyimpan data besar hingga sampai 8GB. Bagi pemakai yang menggunakan aplikasi pesan seperti hotmail,gmail atau yahoo bisa dijamin kerahasiaan password penggunanya. Penggunaan internet ternyata tidak hanya dibutuhkan oleh para remaja atau orang bisnis, tetapi juga digunakan oleh TNI, seperti Mabes TNI/Dephan menjadi provider langsung bagi satuan-satuan TNI di seluruh Indonesia, satuan-satuan TNI ini telah menjadi pelanggan internet pada provider-provider yang telah ada. 2.8 Daya Tarik Internet Daya tarik dari internet itu sendiri bisa dilihat berdasarkan, novelty, masalah jarak, popularitas, adanya konflik, ada seks atau keindahan, ada emosi atau afeksi, ada nostalgia, dan ada human interest. Internet merupakan sebuah penemuan teknologi yang baru, sehingga daya tarik Internet itu sendiri terdapat pada penemuan baru teknologi, bersifat novelty. Dapat disimpulkan kalau orang-orang lebih tertarik pada sesuatu yang baru maka mereka cenderung memakainya. Masalah jarak, melalui internet jarak bukan menjadi masalah. Selain penggunanya bisa pergi ke warnet atau mengakses internet dengan menggunakan hotspot, ketika dia ingin mengetahui bentuk perkuliahan di Alaska dia bisa mencari melalui internet, ke negara manapun dengan akses internet semua informasi mengenai hal yang diinginkan dapat terpenuhi. Adanya popularitas di kalangan 11

remaja, seperti kurang gaul jika tidak memakai internet, misalnya kecenderungan anak muda sekarang harus memakai situs jejaringan sosial facebook, mereka yang mempunyai account sendiri merasa sudah populer dikalangan mereka sendiri. Adanya konflik atau pertentangan, ketika ada konflik antar negara misalnya, seseorang bisa mengakses berita atau informasi tersebut melalui internet tanpa harus ke negara tersebut. Ada seks atau keindahan, melalui internet pun masalah yang ini memang agak sulit untuk dikendalikan, karena internet bersifat bebas dan terbuka, banyak juga mereka para pengguna menggunakan media untuk hal-hal tertentu (seks). Adanya emosi atau musibah maksudnya, ketika ada gempa di Kota Padang, banyak situs-situs yang menyajikan perkembangan gempa tersebut secara cepat bahkan informasinya terus berubah setiap detik, setiap menit atau setiap jam. Dengan menggunakan internet seseorang bisa merasakan nostalgia, maksudnya dengan adanya media ini, seseorang dapat berhubungan kembali dengan teman-teman lamanya yang sudah lama tidak bertemu atau jauh. Contohnya saja, para pengguna facebook tidak hanya kalangan anak-anak atau remaja, orang dewasa pun, para orang tua juga memakai situs jejaringan sosial itu untuk bernostalgia dan bertemu dengan teman-teman lamanya. 2.9 Pengaruh atau Dampak Penggunaan Internet di Kalangan Remaja Menurut Dr. Diane M. Wieland dari Perspectives in Psychiatric Care, kecanduan pada internet dampak berdampak buruk bagi kehidupan pecandunya, walaupun saat ini kecanduan terhadap internet belum bisa dikatakan sebagai sebuah penyakit, atau lebih dititikberatkan pada penyakit yang merubah kehidupan sosial seseorang. Menurut Dr.Lewis, efek fisik yang ditimbulkan dari kecanduan ini juga tak main-main. "Cukup mengejutkan melihat efek stress yang dibawa penyakit ini yaitu aktivitas otak dan tekanan darah meningkat karena terisolir dari internet," tandasnya. Banyak anak yang tidak peduli dengan masa depan. Di sebuah kota di Jawa Barat pernah ditemukan kasus banyaknya siswa yang ketagihan games online. Para siswa ini menjadi lupa waktu, bahkan sampai memakai uang bayaran sekolah untuk membayar sewa games online. Para orang tua yang harus menanggung tagihan telepon dan internet yang sangat besar karena ada anggota keluarga yang lupa waktu dalam memakai internet. Dampak lainnya yaitu karena seringnya berhadapan dengan monitor komputer bisa memnyebabkan Computer Vision Syndrome (CVS) yaitu gangguan fungsi mata yang disebabkan oleh radiasi monitor. Sering terjadi rasa nyeri di punggung penderita, karena syaraf di punggungnya terganggu akibat radiasi monitor. Terbentuknya sikap a-sosial pada orang yang memakainya, mereka cenderung lebih memusatkan perhatiannya pada komputer dan internet, dibanding dengan lingkungan sekitarnya sehingga dapat membuat orang tersebut bersifat a-sosial dan lebih bersifat tertutup. Internet

12

bersifat bebas dan siapa saja dapat dengan mudah mengakses internet, sehingga tidak ada kontrol dari siapapun yang memerintah kecuali diri kita sendiri yang mengontrol perilaku kita dalam menggunakan internet. Terjadinya atau terbentuknya overload information, dimana di internet seluruh berita, informasi mengenai apa saja, issue apa, baik mengenai informasi dalam negeri maupun luar negeri sudah ada disana, sehingga terjadilah overload information. Munculnya rasa candu, efek yang ini memang agak sulit untuk dicegah maupun diobati.

13

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Banyak faktor yang mempengaruhi reaksi seseorang terhadap media massa. Seperti yang dikatakan oleh Joseph Klapper, banyak faktor yang mempengaruhi individu dalam memakai media massa dan dalam memahami stimuli atau efek yang diberikan oleh media massa yang dikonsumsi oleh masing-masing individu tersebut. Pengaruh internet pada kalangan remaja memang memberikan dampak positif namun lebih besar memberikan dampak positifnya. Jika internet tersebut dipakai oleh mereka dengan baik, maka tidak ada hambatan yang akan dihadapi di masa depan. Penggunaan internet sesuai dengan fungsinya seperti memang digunakan untuk menambah referensi atau menambah pengetahuan yang tidak didapat di media cetak misalnya. Menggunakan kecanggihan internet untuk saling transfer data atau mengirim email. Menggunakan kecanggihannya dengan ikut bergabung di situs jejaringan sosial, dengan tujuan untuk berkomunikasi. Dibalik dampak positif yang dimiliki internet, dia tidak terlepas dari dampak negatif yang dia berikan kepada khalayak (pengguna) internet, yang sesungguhnya sangat berbahaya dan dapat merubah sikap perilaku seseorang. Selain khalayaknya berubah secara sosial, dimana dia tidak peduli lingkungan sekitar dibandingkan dengan internet, dia lebih memilih internet sebagai teman sejatinya. Memang salah satu fungsi media massa adalah untuk entertainment atau hiburan, internet juga begitu, selain digunakan untuk memperoleh informasi secara global, internet juga bisa dipakai sebagai media yang dapat menghibur khalayaknya. Namun, kembali kepada khalayak itu sendiri, dialah yang memilih dan menentukan dia akan memakai media apa, walaupun pikiran tersebut telah terkonstruksi dari efek-efek media yang telah ada. Padahal media cetak, media siar seperti televisi juga dapat memberikan tayangan hiburan, tetapi kenapa orang-orang banyak lebih memilih internet untuk hal seperti itu. Ada beberapa faktor yang menyebabkan berbedanya pandangan setiap khalayak dalam memilih sebuah media, dia pasti akan memilih media mana yang lebih memberikan keunikan atau kepuasan tersendiri bagi pribadinya. Khalayak yang sangat terpengaruh dengan media terutama internet, rata-rata adalah anak-anak dan remaja, tetapi yang dikhawatirkan adalah karena masih anak-anak dan remaja, tentu umur mereka masih kecil, sehingga mereka belum kritis dalam berpikir termasuk media mana yang akan mereka gunakan, apa pengaruh terbesar yang diberikan media tersebut, mereka belum bisa berpikir kearah sana, yang mereka pikirkan bagaimana media tersebut dapat memuaskan kebutuhannya. Hal-hal seperti ini juga cenderung disebabkan karena pengaruh teman sebaya, dan pengaruh pergaulan. Oleh sebab itu, mengapa dari kalangan remajalah yang banyak timbul kasus-kasus mengenai dampak internet. Seperti remaja yang menikam ayah dan 14

membunuh ibunya sendiri, hal ini disebabkan karena mereka sudah kecanduan akan internet, mereka lebih bersifat asosial dilingkungan sekitarnya, dan untuk merubah itu semua harus dibutuhkancara atau langkah-langkah yang pasti untuk mengatasinya. 3.2 Saran Berdasarkan pada efek yang ditimbulkan oleh internet, perlu adanya antisipasi atau perlu mengetahui cara untuk mengatasi kecanduan pada internet6: Mencari tahu masalahnya. Jika seseorang menggunakan internet sebagai tempat pelarian dalam mengahadapi masalah di dunia nyatanya, internet sebenarnya bukan tempat yang aman untuk mencurahkan perasaan tersebut, justru dapat memicu kecanduan seseorang itu dengan kehadiran internet tadi. Psikoterapi juga bisa menjadi alternatif solusinya. Disana seseorang yang sedang mengalami masalah bisa berkonsultasi untuk mengetahui bagaimana memanajemen stres dengan baik. Kenali pemicunya. Candunya seseorang terhadap internet tentu ada faktor yang mempengaruhinya. Sebaiknya pemicunya dicari tahu, disaat seseorang sedang mengalami masalah atau stres, orang tersebut dapat mebuat alternatif lain untuk menghibur dirinya sendiri seperti jalan-jalan bersama teman atau sahabat. Kurangi sedikit demi sedikit kebiasaan berlama-lama di internet. Bagi yang sudah kecanduan pada internet, sebaiknya dia memahami dirinya sendiri, bahwa posisi dia sekarang adalah sebagai pecandu internet, akan sebaiknya jika dia mengurangi sedikit demi sedikit kebiasaan berlama-lama di internet. Mencoba untuk menghabiskan waktu selain di warnet tetapi juga di rumah dengan keluarga atau mengisi waktu dengan melakukan kegiatan sosial bersama teman-teman. Ubah pola kebiasan online. Salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan akan internet adalah dengan mengubah pola kebiasaan ber-internet. Coba ubah kebiasaan menonton film online atau bermain games online. Mengisi waktu kosong tidak hanya bisa dipakai untuk online, untuk berkumpul dengan teman-teman

Dikutip dari http://ecoo.multiply.com/journal/item/7

15

lebih baik dan kita pun tidak bersisfat a-sosial yang merupakan dampak yang paling besar ditimbulkan oleh internet. Atur ulang jadwal rutinitas. Biasanya setiap saat, apalagi sekarang sedang berkembangnya situs sosial dikalangan remaja seperti facebook. Coba atur ulang jadwal tersebut, seperti setiap setengah jam harus mengganti status misalnya, hal tersebut merupakan hal yang sia-sia menurut saya, alangkah baiknya jika kita membuat jadwal tersendiri dengan tidak menganggu aktifitas dalam kegiatan sehari-hari. Ketika makan malam dengan keluarga, lebih baik bercengkrama dengan anggota keluarga daripada sibuk dengan handphone sendiri untuk update status.

16

DAFTAR PUSTAKA Rakhmat, Jamaluddin. (2005). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. McQuails, Denis. (2005). Mass Communication Theory. Inggris: C&M Digitals, India and The Alden Press, Oxford. Kuswandi, Wawan. (2008). Komunikasi Massa-Analisis Interaktif Budaya Massa. Jakarta: Rineka Cipta Internet: http://ecoo.multiply.com/journal/item/7 http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/03/tgl/06/time/123100/idnews /750324/idkanal/398 http://buletinlitbang.dephan.go.id/index.asp?mnorutisi=13&vnomor=8 http://yudipurnawan.wordpress.com/2007/11/17/manfaat-internet-sebagai-media-pendidikan/ http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=18164

17