Anda di halaman 1dari 2

Kemungkinan terjadinya ijma

Sekelompok ulama, diantara mereka adalah An-Nazhzham dan sebagian ulama syiaah, berkata : sesungguhnya ijma yang telah jelas rukun-rukunnya itu tidak mungkin terjadi menurut adat dan kebiasaan, karena sulitnya mewujudkan rukun-rukunnya itu. Hal itu agaknya disebabkan bahwa tidak ditemukan suatu ukuran yang dengan itu bisa diketahui apabila seseorang telah mencapai tingkat ijtihad ataukah belum, dan tidak pula ditemukan suatu hukum yang menjadi rujukan untuk menetapkan bahwa orang ini adalah seorang mujtahid ataukah bukan seorang mujtahid. Dengan demikian, mengetahui para mujtahid dari bukan seorang mujtahid adalah sulit. Diantara hal yang menguatkan bahwa ijma itu tidak mungkin terjadi adalah bahwasannya jika ijma itu terjadi, maka harus disandarkan kepada dalil, karena mujtahid syari itu harus menyandarkan ijtihadnya kepada dalil. Dalil yang dijadikan sandaran oleh para pembuat ijma (mujmiun) itu jika dalil itu qathi maka termasuk mustahil menurut adat untuk tersembunyi. Karena bagi unat islam tidaklah tersembunyi bagi mereka dalil syari yang qathi sampai mereka memerlukan kembali para mujtahid dan ijma mereka, jika dalil itu dhzanni tidak bisa tidak, menjadi objek pertentangan. Ibnu Hazm dalam kitabnya AlAhkam menukil dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal: saya mendengar ayah saya berkata : Apa yang diakui oleh seseorang bahwa hal itu adalah ijma, maka dia adalah pendusta. Barang kali orang-orang telah bertentangan tentang apa yang dia ketahui, tetapi dia tidak akan bisa meyelesaikan, maka hendaklah dia katakan : kami tidak mengetahui orang-orang berbeda pendapat. Ijma itu terjadi apabila dipimpin oleh pemerintahan-pemerintahan islamm yang beraneka macam. Jadi setiap pemerintahan islam dapat menentukan syarat-syarat, yang dengan kesempurnaannya seseorang dapat sampai kederajat ijtihad, dan memperbolehkan ijtihad kepada orang yang telah mememnuhi syarat-syarat tersebut. Dan dengan ini setiap pemerintahan dapat mengetahui para mujtahidnya dan pendapat-pendapat mereka tentang peristiwa apa pun. Maka apabila setiap pemerintah islam telah memperhatikan pendapat para mujtahid sepakat pada setiap pemerintahan islam atas satu hukum mengenai suatu peristiwa, maka inilah yang dinamakan ijma. Dan hukum yang telah disepakati menjadi hukum syara yang wajib diikuti oleh umat islam seluruhnya.

Kemungkinan terjadinya ujmadalam kenyataan