Anda di halaman 1dari 4

Nama : Dwi Wahyuni Nim : 08/KH/6060

Blok : 19 UP/Skenario: 1 / Kucing Muntaber

Learning Objective : Mengetahui tentang penyakit gastrointestinal pada kucing meliputi : a. Etiologi b. Patogenesis c. Gejala Klinis d. Diagnosa e. Penanganan TOXOPLASMOSIS Penyakit toxoplasmosis disebabkan oleh parasit intraseluler Toxoplasma gondii. Etiologi : biasanya berbentuk bulat atau oval, jarang ditemukan dalam darah perifer, tetapi sering ditemukan dalam jumlah besar pada organ-organ tubuh seperti pada jaringan hati, limpa, sumsum tulang, otak, ginjal, urat daging, jantung dan urat lainnya. Siklus Hidup Siklus hidupnya tidak langsung dengan intermediate host, atau bisa juga siklus hidup langsung. Oosista yang belum bersporulasi dikeluarkan lewat feses, sporulasi kemudian menjadi infektif setelah 24 jam. Oosista mengandung 2 sporosista, masingmasing dengan 4 sporozoit. Sporozoit menginfeksi dapat menginfeksi semua hewan berdarah panas. Pada intermediate host sporozoit menginvasi sel-sel usus, dan nodus limpatikus kemudian memnjadi takizoit, menyebabkan rupture sel, menyebar ke seluruh tubuh, dan membentuk bradizoit. Intermediate host juga dapat terinfeksi setelah mengingesti bradizoit, kemudian membentuk takizoit dan siklus berulang kembali. Definitive host hanya felidae, terinfeksi karena ingesti sista yang mengandung infektif bradizoit (rute paling umum) atau oosista. Bradizoit atau sporozoit invasi sel epitel usus, melakukan tahap perkembangan aseksual, kemudian berakhir dengan membentuk microgamete dan makrogamet kemudian membentuk oosista. Periode prepaten 3-10 hari bila jaringan sista yang merupakan sumber infeksi, dan 1921 hari bila oosista merupakan sumber infeksi. Felidae dapat juga mengandung sista jaringan. Transmisi transplasental dapat terjadi bila induk terinfeksi selama kebuntingan, takizoit bermigrasi ke fetus, infeksi congenital sangat penting pada manusia, domba, dan kambing. (Bellweber, 2001). Patogenesis Toxoplasmosis gondii yang tertelan melalui makanan akan menembus epitel usus dan diragositosis oleh makrofag atau masuk ke dalam limfosit akibatnya terjadi penyebaran

limfogen. ToxoplasnJosis gondii akan menyerang seluruh sel berinti, membelah diri dan menimbulkan lisis, sel tersebut destruksi akan berhenti bila tubuh telah membentuk antibodi. Pada alat tubuh seperti susunan syaraf dan mata, zat ini tidak dapat masuk karena ada sawar (barier) sehingga destruksi akan terus berjalan. Parasit yang masuk kedalam otot jantung akan menyebabkan peradangan. Diagnosis Antemortem Felidae: oosista yang belum bersporulasi dapat ditemukan pada feses, oosista berbentuk subspherical, 10-12 m. uji serologis, harus dilihat IgM dan IgG. Intermediate host, dilihat organismenya melalui biopsy nodus limpatikus. (Bellweber, 2001). Postmortem Ditemukan organism pada pemeriksaan histopatologik lesi pada organ (Bellweber, 2001). Treatment dan Kontrol Kucing dengan gejala klinis dapat diberikan clindamycin hydrochloride, dimulai dengan 25 mg/kg sehari 2 kali, peroral, dilanjutkan hingga 50 mg/kg sehari 2 kali, pengobatan untuk minimal 2 minggu. Control pada kucing yang dipelihara, dengan menjaga agar kucing tidak keluar rumah sehingga mencegah kucing berburu makanan, dan hanya menyediakan makanan kucing. Control pada manusia dengan memasak semua daging dengan suhu minimal 700 C dan mencuci tangan dan peralatan dengan sabun dan air. Litter kucing harus dibersihkan setiap ari untuk membersihakan oosista sebelum oosista bersporulasi. Tempat makan kucing harus dibersihkan dengan air matang, memakai sarung tangan karet saat berkebun, cuci sayur mayur dengan baik. (Bellweber, 2001). TOXOCARIASIS Etiologi Toxocara cati (terutama pada kucing), Toxocara canis (terutama pada anjing). Termasuk roundworm, Kelas Nematoda superfamili Ascaridoidea dengan ukuran yang besar berwarna putih. Telur berbntuk subglobular dengan lapisan luar (shell) yang tebal dan berbintik-bintik (Urquhart, et.al.1988). Siklus hidup langsung, dengan paratenic host (misalnya rodensia atau burung, ingesti

telur yang infektif dan L2 masuk ke jaringan host, menetap hingga ditelan oleh anjing, perkembangan selanjutnya terjadi pada gastrointestinal anjing). Telur dikeluarkan lewat feses, stadium infektif L3 berkembang dalam telur setelah 3-4 minggu (Ballweber,2001). Rute transimi: Peroral: ingesti telur yang mengandung L3,untuk T.canis pada young puppy (umur 1 bulan atau lebih muda), larva menetas pada usus dan mengalami migrasi hepaticpulmonary, periode prepaten sekitar 28 hari, untuk T. canis pada puppy yang lebih tua, larva menetas, migrasi ke paru-paru kemudian melanjut ke jaringan somatic yang menghambat perkembangan, untuk T. cati pada kucing perkembangan tidak bertambah berdasarkan umur, dan periode prepaten 2 bulan.

Prenatal: Larva aktif kembali dari jaringan,, migrasi ke paru-paru puppy pada uterus selama trisemester akhir, berkembang menjadi L4, dewasa di usus halus setelah lahir. Periode prepaten 3-5 minggu, yang paling penting pada transmisi T.canis pada anjing dan tidak terjadi pada T. cati pada kucing larva yang aktif kembali juga dapat

bermigrasi ke usus halus induk anjing dan menjadi dewasa. Transmammary: bentuk dari peroral transmisi. Larva yang aktif kembali bermigrasi ke glandula mammary dan diingesti oleh puppy atau kitten, transmisi ini paling sedikit terjadi pada T.canis, merupakan bentuk transmisi yang paling penting pada T.cati di kucing, transmisi transmamary pada T. leonina menghasilkan perkembangan dan maturasi (tanpa extra-intestinal migration) periode prepaten sekitar 21 hari. Ingesti paratenic host: bentuk lain dari transmisi peroral terjadi pada T.canis dan T. cati. Periode prepaten sekitar 21 hari. (Ballweber,2001) Patogenesis dan Gejala Klinis Verminous pneumonia, karena migrasi larva T.canis dapat terjadi pada puppy. Cacing dewasa dapat menyebabkan kerusakan pada usus halus, pada hewan dewasa kadang tidak terlihat gejalanya. Gejala klinis pada puppy dan kitten misalnya muntah, diare, obstruksi intestinal dapat terlihat namun tidak umum, kematian dapat terjadi pada infeksi prenatal atau lactogenic yang parah pada puppy dan kitten setelah 2-3 minggu setelah kelahiran. Larva dapat menyebabkan visceral larval migrans (VLM) atau ocular larval migrans (OLM) pada manusia, saat telur infektif tertelan, menetas dan larva secara berlanjut bermigrasi pada bermacam jaringan, terjadi reaksi radang bentuk granuloma menyebabkan kematian larva. Tingkat keparahan dan karakteristik gejala tergantung pada jaringan tempat larva berada, banyaknya larva yang bermigrasi dan frekuensi dari reinfeksi. (Ballweber,2001) Diagnosa Antemortem Ditemukan telur pada feses, telur berbentuk subspherical, kuning kecoklatan, lapisan shell terluar berbintik-bintik kasar, ukuran 75-90 single dan gelap yang mengisi interior telur. Posmortem Cacing dewasa ditemukan pada usus halus berwarna putih, dengan panjang 3-10 cm (T.cati) atau 10-18 cm (T.canis). (Ballweber,2001) (T.canis) 65-75 m (T.cati), berisi sel