Anda di halaman 1dari 99

NIKAH SIRI DAN AKIBAT HUKUMNYA

( STUDI PENDAPAT MAHASISWA FAI UNISSULA SEMARANG


ANGKTATAN 2006-2009 )

Diajukan Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Program
Strata Satu (S1) Dalam Ilmu Syariah











Disusun Oleh:
MIFTAHURROHMAN
NIM : 052062104



PROGRAM STUDI AHWAL ASY-SYAKHSIYAH
JURUSAN SYARIAH
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2010
MOTTO


$' %!# #`# #`& !# #`& 9# <`& {# `3 * ? `
` <) !# 9# ) . `? !$/ 9# z# 79 z m& '?
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul
(Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan
Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al
Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan
lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 59)



























P E N G E S A H A N

Skripsi berjudul : Nikah Siri dan Akibat Hukumnya ( Studi Pendapat
Mahasiswa FAI UNISSULA Semarang Angkatan 2006-
2009 )
Oleh : Miftahurrohman
NIM : 052062104
Telah diuji (munaqasah) dalam Sidang Dewan Penguji Fakultas Agama Islam
Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang pada tanggal : 9 Agustus
2010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar
Sarjana Program Strata Satu (S1) pada jurusan Syariah.

Semarang, 28 September 2010
Dewan Penguji :
Ketua Sidang, Sekretaris Sidang,



( Dr. H. Ghofar Shidiq, M. Ag ) ( Dra. Ita Rosita Zahara Jamila, M. Ag )
Penguji I, Penguji II,


( Drs. H. Ahmad Qodim Suseno, MSi ) (Dra. Ita Rosita Zahara Jamila, M. Ag )

Mengetahui :
Dekan,



( Dr. H. Ghofar Shidiq, M. Ag )
NOTA PEMBIMBING

Hal : Naskah Skripsi
Lamp. : 2 (dua) Eksemplar

Kepada
Yth. Dekan Fakultas Agama Islam
Universitas Islam Sultan Agung
Di Semarang


Assalamualaikum Wr. Wb
Setelah saya meneliti dan mengdakan perubhan seperlunya dalam rangkaian
pembimbingan penyusunan skripsi, maka bersama ini saya kirimkan skripsi :
Judul : Nikah Siri Dan Akibat Hukumnya (Studi Pendapat Mahasiswa
FAI UNISSULA Semarang Angkatan 2006-2009)
Oleh : Miftahurrohman
Nim : 052062104
Dengan ini saya mohon agar kiranya skripsi tersebut dapat segera diujikan
(di-munaqasah-kan)
Wassalamualaikum Wr.Wb.


Semarang, 30 Juli 2010
Dosen Pembimbing



(Drs. Nurl Yakin Mch, SH, M.Hum)



KATA PENGANTAR
;- = ,- Q- = ,- = ; ~ -

Syukur Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada
Dzat Penggenggam setiap keabadian, Allah SWT yang tiada letih melimpahkan
rahmat, taufik, hidayah, serta inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi yang berjudul Nikah Siri dan Akibat Hukumnya (Studi Pendapat
Mahasiswa FAI UNISSULA Semarang Angkatan 2006-2009).
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada Nabi terakhir, Nabi
Muhammad SAW yang telah membawa risalah agung-Nya, yaitu agama Islam.
Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan
pendidikan tingkat akhir (S1) Fakultas Agama Islam Jurusan Syariah Universitas
Islam Sultan Agung Semarang.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis telah berusaha semaksimal
mungkin untuk mencapai hasil yang terbaik. Namun karena dengan berbagai
keterbatasan pengetahuan dan sebagainya, maka penulis yakin bahwa skripsi ini
masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, dengan terselesaikannya penyusunan skripsi, penulis
menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Drs. H. Ghofar Shidiq, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Agama Islam
Universitas Islam Sultan Agung Semarang (UNISSULA) yang telah
mendidik dan membimbing penulis pada bidang kependidikan / tarbiyah.
2. Bapak Drs. Nurl Yakin, SH, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing yang
telah bersedia meluangkan waktu, mentransfer ilmu, mencurahkan tenaga
serta pikiran untuk penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan
baik
3. Bapak Drs. H. Ahamad Qodim Suseno, selaku dosen wali dan Bapak Drs.
Yasin Asyari, SH, selaku biro skripsi yang telah memberikan pengarahan
sehingga penulis mampu menyelesaikan studinya.
4. Bapak dan Ibu Dosen serta seluruh staf Fakultas Agama Islam Jurusan
Syariah Universitas Islam Sultan Agung Semarang yang telah membekali
berbagai ilmu pengetahuan sehingga penulis mampu menyelesaikan
penyusunan skripsi ini. .
5. Wabil khusus kedua orang tuaku dan adikku tercinta yang senantiasa
mendoakan, memotivasi, serta memberikan dukungan tak terperi baik
secara moral maupun material kepada penulis sehingga penulis tetap tegar
dan mampu menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
6. Keluarga besar Warga Pergerakan PMII Komisariat Sultan Agung
Semarang, BEM FAI, UKM UPI SA yang senatiasa memberi motivasi,
menemani dan membantu penulis menyelesaikan studinya.
7. Adik-adikku tercinta dan sahabat-sahabatku di FAI lebih-lebih pada
Syariah angkatan 2006, teman-teman riwa-riwi (Farid, Fuad, Nafid,
Klowor, si cantik Fia, Kis, dll) yang tak dapat penulis sebutkan satu
persatu, yang selalu mensupport dan mendoakan penulis dalam
menyeselesaikan studinya. Tiada kata lain semoga Allah membalas
kebaikan kamu semua, amin.
8. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini
yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Tiada gading yang tak retak. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi
ini jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan. Karena keterbatasan
pengetahuan dan kemampuan penulis tersebut, kami sangat mengharap saran dan
kritik dari semua pihak guna perbaikan serta pengetahuan yang lebih baik.
Akhirnya, penulis memanjatkan doa semoga skripsi ini bermanfaat bagi
penulis khususnya, dan para pembaca pada umumya.

Semarang, 3 Agustus 2010
Penulis


















DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL .. i
HALAMAN NOTA PEMBIMBING . ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI . viii

BAB I PENDAHULUAN
A. Alasan Pemilihan Judul ... 1
B. Penegasan Istilah... 6
C. Rumusan Masalah. 8
D. Tujuan Penulisan... 9
E. Metode Penelitian. 9
F. Sistematika Penulisan.. 14
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERNIKAHAN
A. Pengertian Pernikahan dan Dasar Hukumnya. 17
B. Syarat dan Rukun Pernikahan. 20
C. Penertian Nikah Siri.... 26
D. Tujuan dan Hikmah Pernikahan.. 35
BAB III PENDAPAT MAHASISWA FAI UNISSULA SEMARANG
TERHADAPNIKAH SIRI DAN AKIBAT HUKUMNYA
A. Kondisi Umum Fakultas Agama Islam (FAI)
UNISSULA Semarang.... 42
B. Pendapat Mahasiswa FAI UNISSULA Semarang
Terhadap Nikah Siri dan Akibat Hukumnya... 53
BAB IV ANALISIS TERHADAP PENDAPAT MAHASISWA FAI
UNISSULA TENTANG NIKAH SIRI DAN AKIBAT
HUKUMNYA
A. Pendapat yang Mengatakan Nikah Siri Sah 66
B. Pendapat yang Mengatakan Nikah Siri Tidak Sah. 76
BAB V PENUTUP
C. Kesimpulan 83
D. Saran-saran 85

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN






BAB I
PENDAHULUAN

A. ALASAN PEMILIHAN JUDUL
Islam merupakan agama yang paling lengkap dalam memberikan
tuntunan pada para pemeluknya. Baik itu tuntunan yang sudah disyariatkan
langsung maupun tuntunan yang berupa sunnah Rasul. Salah satu sunnah
Rasul yang sampai sekarang dilakukan oleh manusia adalah menikah. Karena
manusia juga memang diciptakan oleh Allah SWT untuk saling berpasang-
pasangan, sebagimana firman Allah SWT yang berbunyi :
s6 %!# ,={ l{# $=2 $ M7? `{# `&
$ =

Artinya : Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan
semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari
diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui ( QS.
Yasin : 36 )
1
.

Orang yang telah mampu baik materi maupun non materi dianjurkan
juga untuk menikah. Karena hal itu akan dapat menjaga seseorang untuk
menjauhi hal-hal yang negatif yang penuh dengan nafsu syahwat. Dalam
sebuah Hadits riwayat Imam Muslim dari Alqamah dikatakan bahwa :
:


1
DEPAG RI, Terjemahan al-Quran, (Revisi Terjemah, Lajnah Pentashih Mushaf al-
Quran Departemen Agama RI), Toha Putra, Semarang, 1989, hlm. 42
: ,


.
Artinya : Bersumber dari Alqomah, dia mengatakan : Aku pernah berjalan-
jalan di Mina bersama Abdullah. Kami bertemu dengan Utsman
yang kemudian mendekati Abdullah. Setelah berbincang-bincang
sejenak akhirnya Utsman bertanya kepada Abdullah : Maukah
kamu aku jodohkan dengan seorang wanita yang masih muda ?
Barangkali ia akan mengingatkan lagi masa lalumu yang indah-
indah. Mendengar tawaran itu Abdullah menjawab : Apa yang
kamu katakana itu adalah cocok dengan apa yang pernah
disabdakan oleh Rasul kepadaku : wahai golongan kaum muda,
barang siapa diantara kamu sudah mampu akan ongkos buat
menikah, maka hendaklah dia menikah. Karena sesungguhnya
menikah itu lebih dapat menjaga pandangan mata dan lebih
membentengi kehormatan. Dan barang siapa yang tidaka mampu,
maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu
dapat menghalangi nafsu. Barang siapa tidak mampu maka
hendaklah ia berpuasa, karena berpuasa itu dapat mengurangi
syahwat
2
.

Pernikahan bagi umat manusia adalah sesuatu yang sangat sakral dan
mempunyai tujuan yang sakral pula, dan tidak terlepas dari ketentuan-
ketentuan agama. Orang yang melangsungkan sebuah pernikahan bukan
semata-mata untuk memuaskan nafsu birahi yang bertengger dalam jiwanya,
melainkan untuk meraih ketenangan, ketentraman dan sikap saling mengayomi
diantara suami istri dengan dilandasi cinta dan kasih sayang yang dalam.
Disamping itu untuk menjalin tali persaudaraan diantara dua keluarga dari
pihak suami dan pihak istri dengan berlandaskan pada etika dan estetika yang


2
Imam Muslim, Shahih Muslim, terj. KH. Adib Bisri Musthofa, Penerbit CV. Assyifa,
Semarang, 1993, hlm. 112

bernuansa ukhuwah basyariyah dan Islamiyah
3
. Akan tetapi kadang sesuatu
yang sakral tersebut dijadikan sebuah permainan bagi segilintir orang sehingga
mengkaburkan makna pernikahan itu sendiri sebagai suatu yang agung, indah
dan suci. Menurut ajaran Islam, syarat rukun nikah adalah meliputi (adanya
calon mempelai laki-laki, calon mempelai wanita, wali atau orang tua
mempelai wanita, mahar, ijab kabul dan dua orang saksi)
4
. Semua itu tak lepas
dari adanya tujuan hakiki dari pernikahan yaitu membentuk kehidupan rumah
tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah
5
.
Terkait perkawinan itu sendiri di Indonesia sudah diatur dalam sebuah
peraturan yang berkenaan dengan permasalah perkawinan, termasuk juga
orang Islam yang berpedoman pada ketentuan yang bersifat umum, seperti
digariskan dalam Undang-undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974 tentang
Perkawinan yang mempunyai aturan dan hukum khusus yang harus
diberlakukan dan diterapkan yaitu Kompilasi Hukum Islam (KHI). Akan
tetapi, ketika sebuah pernikahan tersebut telah terpenuhi syarat rukunnya maka
pernikahan tersebut sah menurut ajaran Islam meski dilakukan secara siri.
Mengenai sahnya perkawinan diatur dalam Pasal 2 ayat 1 UU No. 1/1974
Tentang Perkawinan yang berbunyi Perkawinan adalah sah, apabila
dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayanya itu
6
.

3
Muhammad Asmawi, Nikah Dalam Perbincangan Dan Perbedaan, Darussalam Perum
Griya Suryo F-10, Cetakan I, Yogyakarta, Maret 2004, hlm. 19

4
Ibid., hlm. 50

5
H. Abdurrahman, SH. MH., Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Bab II Dasar-dasar
Perkawinan, pasal 2, Akademika Pressindo, Jakarta, 1995, hlm. 114


6
Undang-Undang Perkawinan Di Indonesia, Arkola, Surabaya, tt. Hlm.7.
Kemudian dalam pasal 4 KHI berbunyi Perkawinan adalah sah
apabila dilakukan menurut hukum Islam
7
.
Berdasarkan ketentuan tersebut di atas apabila suatu perkawinan telah
dilakukan dengan memenuhi syarat dan rukunya berdasarkan hukum Islam
maka perkawinan itu sah karena telah memenuhi ketentuan hukum materiil.
Namun demikian, perkawinan tersebut belum memenuhi ketentuan
hukum formal perkawinan, karena belum dicatat pada pegawai pencatat yang
berwenang atau belum memiliki Akta Nikah. Oleh sebab itu, meskipun secara
materiil perkawinan tersebut sah tetapi secara formal belum sah, sehingga
selamanya dianggap tidak pernah ada perkawinan kecuali jika dapat di
buktikan dengan Akta Nikah yang dikeluarkan oleh Pegawai Pencatat Nikah
8
.
Hal ini sesuai dengan Pasal 2 ayat 2 UU No. 1/1974 yang berbunyi Tiap-tiap
perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku
9
.
Dalam tinjauan hukum pemerintahan di Indonesia hal tersebut
dianggap illegal dan hal tersebut akan dikenai sangsi hukum, jadi yang melatar
belakangi nikah siri sebagai suatu yang dipandang agak negatif adalah
dikarenakan ingin melindungi kedua belah pihak antara suami dan istri
mempunyai perlindungan hukum yang sama dan status hukum yang mengikat,
karena pernikahan siri dianggap oleh banyak kalangan tidak mempunyai
kekuatan hukum dan apabila terjadi ketidakcocokan maka bubar begitu saja,


7
Ibid., Hlm.7.


8
Mukti Arto. A, Drs, S.H, Mimbar Hukum, Al-Hikmah & DITBINBAPERA, Jakarta,
1996, hlm.44


9
Undang-Undang Perkawinan Di Indonesia, op., cit., hlm.
oleh karena itu dikhawatirkan apabila telah memiliki keturunan akan
terlantar
10
.
Lebih jelas penulis menjelaskan, bahwa dikatakan nikah siri (dibawah
tangan) jika pernikahan tersebut tidak dilaporkan atau tidak tercatat di KUA
atau ke Kantor Catatan Sipil. Sehingga tidak ada surat-surat resmi yang
memperkuat adanya ikatan pernikahan. Apabila syarat dan rukun nikah tadi
terpenuhi, maka nikah siri sudah sah secara syariat agama. Tetapi nikah sirri
tidak diakui secara sah (legal) oleh Negara, sebab tidak tercatat dalam catatan
resmi pemerintahan, baik KUA atau Kantor Catatan Sipil, dan tidak
mempunyai Surat/Akta Nikah yang diakui Negara. Apabila salah satu diantara
kedua pihak (suami-istri) melanggar ikatan pernikahan maka pihak lain tidak
bisa menuntut menurut hukum yang berlaku. Dalam nikah sirri, karena tidak
terlindungi secara hukum (Negara), maka hak-hak suami dan istri tidak bisa
terjamin secara sosial. Jika terjadi persoalan-persoalan yang menyangkut
hukum sipil, pelaku nikah sirri tidak dapat menyelesaikan masalahnya melalui
lembaga-lembaga hukum yang ada karena pernikahannya tidak terdaftar.
Walaupun telah ada peraturan yanng sudah jelas namun pada
kenyataannya sering tejadi dalam masyarakat suatu perkawinan yang memang
sudah jelas merupakan suatu pelanggaran terhadap peraturan perundang-
undangan yang ada, perkawinan tersebut kita kenal dengan Nikah Siri, yaitu
perkawinan yang telah sesuai dengan hukum Islam secara matriil
sebagaimman yang dimaksud dalam pasal 2 ayat 1 UU Tentang Perkawinan


10
Muhammad Asmawi, loc. cit.

No. 1/1974 akan tetapi tidak memenuhi ketentuan pencatatan sebagai syarat
formal yang diatur dalam pasal 2 ayat 2 UU Tentang Perkawinan No.
1/19974
11
.
Dari fenomena yang telah terjadi disebagian kalangan masyarakat
ataupun orang yang menjadi publik figur, maka penyusun mencoba meneliti
dan mengkaji pendapat civitas akademik yang dalam hal ini adalah mahasiswa
Fakultas Agama Islam (FAI) UNISSULA Semarang Tentang Nikah Siri Dan
Akibat Hukumya dimana FAI adalah salah satu fakultas di UNISSULA yang
mempunyai basis atau sistem pengajaran tentang keislaman lebih banyak
diajarkan dari pada mahasiswa di fakultas lain sehingga mahasiswanya pun
sedikit banyaknya mengetahui dan mengerti permasalahan keagamaan maka
nantinya akan tercapai apa yang diharapkan oleh penyusun. Berdasarkan dari
latar belakang tersebut, maka penyusun merasa tertarik untuk membahas
bagaimana pendapat, alasan dan dasar hukum mahasiswa FAI dari angkatan
2006 - 2009 UNISSULA Semarang tentang Nikah Siri dan akibat hukumnya.
B. PENEGASAN ISTILAH
Untuk lebih memperjelas judul di atas, maka terlebih dahulu penyusun
akan menjelaskan istilah-istilah yang ada dalam proposal skripsi ini dengan
maksud agar tidak terjadi kesalahpahaman atau penafsiran ganda dalam
memahami permasalahan yang akan dibahas oleh penyusun.
Adapun istilah-istilah yang perlu dijelaskan dalam proposal skripsi yang
berjudul NIKAH SIRI DAN AKIBAT HUKUMNYA ( STUDI

11
Mimbar Hukum, op, cit, hlm. 51
PENDAPAT MAHASISWA FAI UNISSULA SEMARANG ANGKATAN
2006-2009 ) adalah sebagai berikut :
Nikah siri : Pernikahan yang hanya disaksikan oleh
seorang mudin dan saksi tidak melalui
KUA
12
.
Studi : Kajian, telaah, penelitian ilmiah
13
.
Pendapat : Kegiatan atau proses untuk memperoleh
pengertian baru melalui sesuatu yang
diketahui
14
, yang dimaksud oleh
penyusun adalah pendapat dari
mahasiswa FAI UNISSULA Semarang
tentang nikah siri dan akibat hukumnya.
Mahasiswa FAI UNISSULA : Yang dimaksud dengan mahasiswa FAI
UNISSULA adalah mahasiswa aktif di
Fakultas Agama Islam yang masih
mengikuti kuliah pada tahun akademik
2009/2010 yang terdiri dari 4 (empat)
angkatan dan 2 (dua) jurusan dan tarbiyah

12
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai
Pustaka, Jakarta, Tahun 2002, hlm. 782

13
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. Ke 4, Balai Pustaka, Jakarta,
1993, hlm. 860

14
Komaruddin, dkk, Kamus Karya Tulis Ilmiah, Bumi Aksara, Yogyakarta, 2002, hlm.37
dan syariah, mulai angkatan 2006-2009 di
UNISSULA.
Jadi ketika dirangkai arti dari judul tersebut adalah suatu kajian atau
penelitian ilmiah yang diambil dari pendapat-pendapat mahasiswa FAI
UNISSULA Semarang tentang pernikahan siri atau pernikahan yang tidak
melalui KUA atau tidak dicatatkan, serta akibat hukum yang ditimbulkannya.
C. RUMUSAN MASALAH
Perkawinan siri maksudnya perkawinan yang memenuhi ketentuan
hukum Islam secara materiil sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 2 ayat
(1) UU Tentang Perkawinan No.1 tahun 1974 dan dalam KHI pada pasal 4
tetapi tidak memenuhi ketentuan pencatatan sebagaimana syarat formal yang
diatur dalam pasal 2 ayat (2) UU Tentang Perkawinan No. 1/1974 dan dalam
KHI terdapat dalam pasal 5 ayat (1 dan 2 ).
Berangkat dari latar belakang dan uraian yang telah penyusun paparkan
di atas, penyususn merasa tertarik untuk mengkaji dan meneliti lebih lanjut
serta menganalisa pendapat-pendapat mahasiswa FAI UNISSULA Semarang.
Maka yang akan menjadi pokok masalah dalam skripsi ini adalah :
1. Bagaimana pendapat mahasiswa FAI tentang pengertian nikah siri.
2. Bagaimana pendapat mahasiswa FAI terhadap akibat hukum nikah siri.

D. TUJUAN PENULISAN
Tujuan penelitian yang hendak dicapai dalam pembahasan skripsi ini
adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pendapat dan landasan hukum yang digunakan
mahasiswa FAI UNISSULA Semarang dalam pendapatnya tentang Nikah
Siri.
2. Untuk mengetahui akibat hukum dari praktik Nikah Siri.
E. METODE PENELITIAN
1. Jenis penelitian
Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yaitu
penelitian yang obyeknya mengenai gejala-gejala, peristiwa-peristiwa dan
fenomena dengan menggunakan daftar kuisioner yang terjadi dalam
lingkungan sekitar, baik masyarakat, organisasi, lembaga atau negara yang
bersifat non pustaka
15
.
Adapun sifat dari penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat
deskriptif yaitu metode penelitian yang menggambarkan dan
menginterpretasi obyek sesuai dengan apa adanya.
16
. Dalam penelitian ini
akan dideskripsikan secara sistematis dan faktual mengenai pendapat
mahasiswa FAI tentang Nikah Siri dan akibat hukumnya. Kemudian
deskripsi ini akan penyusun analisa.
2. Besar Sample dan Tehnik Sampel
Dalam menentukan besar sampel penelitian ini, penyusun telah
mengidentifikasi jumlah mahasiswa FAI UNISSULA Semarang hingga

15
Dudung Abdurahman, Pengantar Metode Penelitian, Kurnia Kalam Semesta,
Yogyakarta, 2003, hlm. 7

16
Prof. Sukardi, Ph.D, Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetisi Dan Prakteknya,
Bumi Aksara, Jakarta, 2003, hlm. 157

tahun akademik 2009-2010 dengan populasi sebanyak 553 mahasiswa
aktif yaitu terbagi menjadi 4 (empat) angkatan, 2006 2009 dan 2 (dua)
jurusan, tarbiyah-syariah. Dimana jumlah sampel yang akan penyusun
ambil dalam penelitian ini adalah dari mahasiswa angkatan 2006 sampai
mahasiswa angkatan 2009 dengan kira-kira sebanyak 55 responden dari
perbandingan 10 % mahasiswa FAI ditiap angkatan dan jurusan. Karena
ada 4 (empat) angkatan maka diambil kira-kira 14 responden tiap
angkatan.
Metode teknik sampel adalah metode atau cara untuk memilih
sejumlah sampel yang representatif yang mewakili populasi
17
.
Dalam pengumpulan data penyusun mengunakan teknik sampling
stratified sample yaitu dengan cara penggolongan menurut bentuk dari
populasi.
18

3. Responden
Yang dimaksud dengan responden dalam penelitian ini adalah
mahasiswa FAI UNISSULA Semarang yang menjadi sempel penelitian
dengan jumlah 55 responden dari 553 jumlah mahasiswa FAI dengan
prosentase 10 %, 14 responden dari tiap masing-masing angkatan, karena
ada 4 (empat) angkatan di FAI, yaitu angkatan 2006-2009.
4. Sumber Data
Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah
subyek dimana data dapat diperoleh.

17
Prof. Dr. S. Nasution, MA., Metode Research, Bumi Aksara, Jakarta, 2007, hlm. 90.

18
Ibid., hlm. 91.
Adapun sumber data dalam penelitian ini terdiri dari:
a. Data primer yaitu data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti dari
sumber pertamanya
19
. Dalam hal ini adalah hasil dari kuisioner dan
wawancara dengan pihak berkaitan dengan mahasiswa FAI
UNISSULA Semarang yaitu terdiri dari mahasiswa di 4 angkatan.
b. Data sekunder yaitu data yang telah tersusun dalam bentuk dokumen-
dokumen
20
. Dalam hal ini adalah kepustakaan, yaitu berupa buku,
merupakan pencarian informasi dari berbagai literatur sehubungan
dengan obyek yang diteliti sebagai bahan rujukan maupun
pertimbangan bagi peneliti, studi pustaka dalam penelitian ini antara
lain mengenai pengertian perkawinan, syarat dan rukun perkawinan
tujuan dan hikmah perkawinan serta pengertian Nikah Siri, faktor
penyebab dan akibat dari praktek Nikah Siri.
5. Metode Pengumpulan Data
a. Wawancara
Yaitu suatu komunikasi verbal, jadi semacam percakapan yang
bertujuan memperoleh informasi
21
. Bentuknya adalah wawancara
berstruktur, metode wawancara sangat diperlukan agar mendapatkan
informasi secara langsung dan data-data yang lebih akurat. Untuk
mendapatkan data-data tersebut penyusun mengunakan teknik angket

19
Sumadi Suryabrata, BA, Drs, MA, Ed.S, Ph.D, Metodologi Penelitian, CV. Rajawali,
Jakarta, 1987, hlm. 93.

20
Ibid., hlm. 93
21
S. Nasution op, cit., hlm. 113

kombinasi terbuka dan tertutup dengan maksud agar responden diberi
kebebasan dalam menjawab, akan tetapi agar tidak melebar. Dalam hal
ini wawancara diajukan kepada responden berkaitan dengan
pendapatnya tentang nikah siri dan akibat hukumnya.
b. Kuesioner
Metode ini merupakan suatu daftar pertanyaan tertulis yang
digunakan untuk memperoleh keterangan tertentu dari responden yang
ditentukan berdasarkan teknik sampling
22
. Adapun responden yang
penyusun maksud adalah mahasiswa FAI UNISSULA Semarang.
Metode pengumpulan data ini penyusun gunakan untuk menopang data
yang diperoleh melalui wawancara dan hal ini dilakukan juga ketika
responden yang bersangkutan tidak bisa langsung diajak wawancara
dikarenakan oleh kesibukan responden, maka metode yang efektif
ditempuh penyusun adalah kuesioner.
6. Metode Analisa Data
Untuk mendapatkan data-data yang benar dan akurat, maka data-
data yang telah terkumpul akan penyusun olah dengan mengunakan :
a. Metode Induksi
Adalah memberikan gambaran yang jelas dalam menganalisa
satu masalah yang akan dicapai, sesuai dengan sifatnya yaitu memberi
gambaran khusus kemudian dinilai secara umum
23
.


22
Ibid, hlm. 128
23
Dudung Abdurrahman, op.cit., hlm. 7.

Dalam hal ini penyusun akan mengungkapkan pendapat dari
mahasiswa FAI UNISSULA Semarang terkait alasan dan dasar hukum
tentang nikah siri dan akibat hukumnya, kemudian penyusun akan
menganalisa pendapat mahasiswa FAI UNISSULA Semarang tentang
nikah siri dan akibat hukumnya.
b. Metode Komparatif
Adalah metode yang digunakan untuk menganalisa data yang
kontradiktif yaitu dengan cara memperbandingkan mana yang lebih
kuat argumenntasinya atau mencari kemungkinan untuk
dikompromikan
24
. Maksudnya adalah ketika terjadi perbedaan
pendapat dari masing-masing responden maka penyusun
mengkompromikanya.

F. SISTIMATIKA PENULISAN
Sistimatika penulisan adalah uraian garis besar (outline) dari skripsi
dalam bentuk bab-bab, pasal-pasal yang secara logis saling berhubungan dan
merupakan kebulatan serta mendukung dan mengarah pada pokok masalah
yang diteliti seperti dalam judul skripsi.
25

Dalam pembahasan skripsi ini penyusun akan menguraikan
sistematikanya yaitu dengan membagi seluruh materi menjadi lima bab yang
terdiri dari beberapa sub bab yang membahas persoalan sendiri-sendiri, akan
tetapi antara bab satu dengan bab yang lainnya saling berhubungan.


24
Ibid, hlm. 8.

25
Didiek Ahmad Supadie, Bimbingan Praktis Menyusun Skripsi, Cetakan 2, UNISSULA
Press, Semarang, 2009, hlm. 27
Adapun sistematika penulisan dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan, yang meliputi latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penelitian, penegasan istilah, metode penelitian
dan sistematika penulisan skripsi.
Bab II : Tinjauan umum tentang pernikahan, yang meliputi pengertian
pernikahan, syarat dan rukun pernikahan, pengertian nikah siri,
dan diakhiri dengan tujuan dan hikmah pernikahan.
Bab III : Pendapat mahasiswa FAI UNISSULA Semarang terhadap
nikah siri dan akibat yang ditimbulkan. Dalam bab ini mencakup
kondisi umum tentang FAI UNISSULA Semarang, pendapat
mahasiswa FAI UNISSULA Semarang terhadap nikah siri dan
akibat hukumnya.
Bab IV : Analisa terhadap pendapat mahasiswa FAI UNISSULA
Semarang tentang nikah siri dan akibat hukumnya. Meliputi
analisis terhadap pendapat mahasiswa FAI UNISSULA
Semarang tentang nikah siri dan akibat hukumnya.
Bab V : Penutup, kesimpulan dilanjutkan saran-saran.






BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG PERNIKAHAN

Menikah merupakan salah satu fase kehidupan yang lazim dilakukan
oleh setiap manusia dewasa (akil baligh), siap secara lahir dan batin, serta
memiliki rasa tanggung jawab dalam membangun rumah tangga. Setiap orang
yang telah memenuhi persyaratan tersebut dianjurkan agar menginjakkan
kakinya kejenjang pernikahan. Jenjang inilah yang menandai sebuah fase
kehidupan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup seseorang pada masa
mendatang. Dibandingkan dengan hidup sendirian (membujang atau
melajang), kehidupan berkeluarga memiliki banyak tangtangan dan sekaligus
mengandung sejumlah harapan positif. Tidak dipungkiri dalam pernikahan
terdapat banyak manfaatnya jika kita dapat mengelolanya dengan baik
26
.
Berdasarkan kodratnya, seorang laki-laki memang diidentikkan
menyukai atau mencintai perempuan. Hal tersebut tedapat dalam surat Ali
Imron ayat 14 yang berbunyi :
` $=9 =`m N9# $9# 69# )9# )9#
=%!# 9# 9# 9# {# ^s9# 9 F s9#
$9# !# ``m >$9#


26
Happy Susanto, Nikah Siri Apa Untungnya?, Visimedia, Cet. 1, Jakarta Selatan, 2007,
hlm. 1

Artinya : Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada
apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang
banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang
ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di
sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Q,S. Ali Imron:
14)
27
.
Dari ayat di atas menggambarkan bahwa perempuan merupakan salah
satu ekspresi kecintaan laki-laki terhadap hal-hal yang dicintainya. Islam
menetapkan pernikahan untuk memberikan jalan yang tebaik bagi terjadinya
perhubungan manusia berlainan jenis itu. Rasa cinta laki-laki dan
perempuan yang terbungkus dalam sebuah pernikahan suci dapat menjaga
keberlangsungan keturunan umat manusia di muka bumi. Namun, perlu
digaris bawahi bahwa tujuan pernikahan bukan hanya untuk mensucikan
bentuk-bentuk pemenuhan nafsu seksual, tetapi sesungguhnya lebih jauh dari
itu bahwa masih banyak tujuan lain yang terkandung dalam makna
pernikahan.
A. Pengertian Pernikahan dan Dasar Hukumnya
Menurut bahasa kata pernikahan berasal dari kata nikah berarti
membentuk keluarga dengan lawan jenis, melakukan hubungan kelamin atau
bersetubuh
28
. Di dalam Al-quran kata nikah digunakan sebanyak 23 kali
yang mempunyai arti berhimpun. Al-quran juga menggunakan kata

27
Departemen Agama RI, Al-Quran Al-Karim Dan Terjemahnya, PT. Karya Toha Putra,
Semarang, 2002

28
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet. 3, Balai
Pustaka, Jakarta, 1994, hlm. 456.

zawwaja atau zauwj yang memiliki makna sepadan dengan kata nikah
sebanyak 80 kali.
29

Al-quran menyebut kata nikah sebagai suatu bentuk perjanjian
(mitsaq) antara laki-laki dan perempuan yang telah terikat dalam sebuah
hubungan pernikahan yang sah. Atas dasar itulah, Imam Taqiyuddin
mendefunisikan pernikahan sebagai suatu ungkapan menyangkut tenang akad
yang sudah dikenala oleh masyarakat, mencakup rukun-rukun dan syarat-
syarat tertentu (ibratun an al-aqdi al-masyhur al-musytamiliala al-arkan
wa al-syuruth). Senada dengan pengertian tersebut, Abbas Mahmud al-Aqqad
mendefinsikan pernikahan sebagai suatu perjanjian atau kesepakatan untuk
bercampur atau bergaul dengan sebaik-baiknya antara seorang laki-laki
dengan seorang prempuan dalam status suami-istri yang sah.
30

Menurut istilah ilmu fiqih, nikah berarti suatu akad (perjanjian) yang
mengandung kebolehan melakukan hubungan seksual dengan memakai kata-
kata (lafazh) nikah atau tazwij
31
.
Adapun tentang makna pernikahan itu secara definitif, masing-masing
ulama fiqih berbeda dalam mengemukakan pendapatnya, antara lain sebgaai
berikut :

29
M. Quraish Shihab, Wawasan Alquran: Tafsir MaudhuI atas Pelbagai Persoalan Umat,
Mizan, Bandung, 1996, hlm. 191

30
Syauqi Nawawi, Sikap Islam tentang Poligami dan Monogami, dalam Chuzaimah T.
Yanggo dan HA. Hafiz Anshary AZ(ed.), Problematika Hukum Islam Kontemporer, Pustaka Firdaus,
Jakarta, 2002, hlm. 112

31
Drs. H. Rahmat Hakim, Hukum Pernikahan Islam, Cet. I, Pustaka Setia, Bandung, 2000,
hlm. 12
1. Ulama Hanafiah, mendefinisikan pernikahan sebagai suatu akad yang
berguna untuk memiliki mutah dengan sengaja. Artinya seorang lelaki
dapat menguasai perempuan dengan seluruh anggota badannya untuk
mendapatkan kesenangan atau kepuasan.
2. Ulama Syafiiyah, menyebutkan bahwa pernikahan adalah suatu akad
dengan menggunakan lafadz nikah atau zauj yang menyimpan arti
memiliki wati. Artinya dengan pernikahan seseorang dapat memiliki atau
mendapatkan kesenangan dari pasangannya.
3. Ulama Malikiyah, menyebutkan bahwa pernikahan adalah suatu akad yang
mengandung arti mutah untuk mencapai kepuasan, dengan tidak
mewajibkan adanya harga.
4. Ulama Hanabilah, menyebutkan bahwa pernikahan adalah akad dengan
menggunakan lafadz inkah atau tazwij untuk mendapatkan kepuasan,
artinya seorang laki-laki dapat memperoleh kepuasan dari seorang
perempuan dan sebaliknya
32
.
Dari beberapa pengertian nikah tersebut diatas maka dapat
dikemukakan bahwa pernikahan adalah suatu akad antara seorang pria dengan
seorang wanita atas dasar kerelaan dan kesukaan kedua belah pihak, yang
dilakukan oleh pihak lain (wali) menurut sifat dan syarat yang telah ditetapkan
syara untuk menghalalkan percampuran antara keduanya, sehingga satu sama
lain saling membutuhkan menjadi sekutu sebagai teman hidup dalam rumah
tangga.

32
Drs. Slamet Abidin-Drs. H. Aminuddin, Fiqih munakahat I, Cet.I, CV. Pustaka Setia,
Bandung, 1999, hlm. 10-11
Sehubungan dengan itu, UU No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
pasal 1 mendefinisikan pernikahan sebagai ikatan lahir batin antara seorang
pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk
keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang
Maha Esa. Dengan kata lain, pernikahan dapat pula diartikan sebagai bentuk
suatu ikatan perjanjian antara pasangan suami-istri yang harus saling bekerja
sama dan bertanggung jawab terhadap segala urusan rumah tangganya agar
bisa terbangun sebah keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
B. Syarat dan Rukun Pernikahan
Pada dasarnya pernikahan yang dilakukan seorang muslim
mempunyai arah dan tujuan. Oleh karena itu untuk memenuhi kesempurnaan
hal ini diperlukan syarat-syarat yang mengikat, memelihara dan menjaga baik
kelangsungannya maupun kelestariannya serta melaksanakan kewajiban-
kewajiban tertentu agar tercapai kehidupan yang sejahtera dan sejati dalam
mengarungi bahtera rumah tangga yang penuh dengan realita-realita
pergantian antara susah dan senang.
Dengan mengetahui betapa urgennya unsur komunitas terkecil ini
(keluarga), para ulama terdahulu telah meluangkan daya pikir mereka untuk
menganalisa Al quran dan sunnah tentang apakah yang seharusnya menjadi
rukun dan syarat pernikahan agar pernikahan itu dapat membentuk keluarga
idaman yang berjalan dengan penuh kasih sayang dan keharmonisan serta
kedamaian dan ketenangan hidup
33
.
Adapun definisi syarat yaitu sesuatu yang mesti ada yang menentukan
sah dan tidaknya suatu pekerjaan (ibadah), tetapi sesuatu itu tidak termasuk
dalam rangkaian pekerjaan itu, seperti menutup aurat untuk sholat. Atau,
menurut Islam, calon pengantin laki-laki / perempuan itu harus beragama
Islam
34
.
Syarat-syarat pernikahan merupakan dasar bagi sahnya pernikahan.
Apabila syarat-syarat tersebut dipenuhi, maka sahlah pernikahan dan
menimbulkan kewajiban dan hak sebagai suami isteri.
Pada garis besarnya, syarat sah pernikahan itu ada dua, yaitu :
1. Laki-laki dan perempuannya sah untuk dinikahi, artinya kedua calon
pengantin adalah orang yang bukan haram dinikahi, baik karena haram
untuk sementara atau selamanya.
Adapun syarat-syarat kedua mempelai yaitu :
a. Syarat-syarat pengantin pria
1) Calon suami beragama Islam
2) Terang (jelas) bahwa calon suami itu betul laki-laki
3) Orangnya diketahui dan tertentu
4) Calaon mempelai laki-laki itu jelas halal nikah dengan calon istri

33
Muhammad Faisal Hamdani, M. Ag., Nikah Mutah Analisis Perbandingan Hukum
Antara Sunni & Syiah, Gaya Media Pratama, Cet. Pertama, Jakarta, 2008, hlm. 23

34
Dr. H. Abd. Rahman Ghazaly, MA., Fiqih Munakahat, Kencana, Cet. Ke. 2, Jakarta,
2006, hlm. 46
5) Calon mempelai laki-laki tahu atau kenal pada calon istri serta tahu
betul calon istrinya halal baginya
6) Calon suami rela (tidak dipaksa) untuk melakukan pernikahan itu
7) Tidak sedang melakukan ihram
8) Tidak mempunyai istri yang haram dimadu dengan calaon istri
9) Tidak sedang mempunyai istri empat
35

b. Syarat-syarat pengantin perempuan
1) Beragama Islam atau ahli kitab
2) Terang bahwa ia wanita
3) Wanita itu tentu orangnya
4) Halal bagi calon suami
5) Wanita tidak sedang dalam ikatan pernikahan dan tidak masih
dalam masa iddah
6) Tidak dipaksa
7) Tidak dalam keadaan ihram, haji atau umrah
36

2. Akad nikahnya dihadiri oleh para saksi
37
.
Dalam masalah syarat pernikahan ini terdapat beberapa pendapat di
antara para mazhab fiqih, yaitu sebagai berikut :
a. Ulama Hanafiyah, mengatakan bahwa sebagian syarat-syarat
pernikahan berhubungan dengan sigat, dan sebagian lagi berhubungan
dengan akad, serta sebagian lainnya berkaitan dengan saksi.

35
Ibid., hlm. 50

36
Ibid., hlm. 54-55

37
Drs. Slamet Abidin-Drs. H. Aminuddin, op., cit., hlml. 63
1) Sigat, yaitu ibarat dari ijab dan qabul, dengan syarat sebagai
berikut :
a) Menggunakan lafadz tertentu, baik dengan lafadz sarih
misalnya : tazwij atau inkah maupun dengan lafadz kinayah,
seperti :
(1) Lafadz yang mengandung arti akad untuk memiliki,
misalnya : saya sedekahkan anak saya kepada kamu, saya
hibahkan anak saya kepada kamu, dan sebagainya.
(2) Lafadz yang mengandung arti jual untuk dimiliki, misalnya:
milikilah diri saya untukmu, milikilah anak perempuan saya
untukmu dengan Rp. 500,00,-
(3) Dengan lafadz ijarah atau wasiat, misalnya : saya ijarahkan
diri saya untukmu, saya berwasiat jika saya mati anak
perempuan saya untukmu.
b) Ijab dan qabul, dengan syarat yang dilakukan dalam salah satu
majelis.
c) Sigat didengar oleh orang-orang yang menyaksikannya.
d) Antara ijab dan qabul tidak berbeda maksud dan tujuannya.
e) Lafadz sigat tidak disebutkan untuk waktu tertentu.
2) Akad, dapat dilaksanakan dengan syarat apabila kedua calon
pengantin berakal, balig dan merdeka.
3) Saksi, harus terdiri atas dua orang. Maka tidak sah apabila akad
nikah hanya disaksikan oleh satu orang. Dan tidak disyaratkan
keduanya harus laki-laki dan dua orang perempuan. Namun
demikian apabila saksi terdiri dari dua orang perempuan, maka
nikahnya tidak sah.
Adapun syarat-syarat saksi adalah sebagai berikut :
o Berakal, bukan orang gila
o Balig, bukan anak-anak
o Merdeka, bukan budak
o Islam
o Kedua orang saksi itu mendengar
b. As-Syafii berpendapat bahwa, syarat-syarat pernikahan itu ada yang
berhubungan dengan sigat, ada juga yang berhubungan dengan wali,
serta ada yang berhubungan dengan kedua calon pengantin, dan ada
lagi yang berhubungan dengan saksi
38
.
Adapun definisi rukun menurut Mahmud Yunus adalah bagian
dari hakikat pernikahan yang wajib dipenuhi, kalau tidak terpenuhi
pada saat akad berlangsung, pernikahan tersebut dianggap batal atau
sesuatu yang harus ada dan menjadi bagian dari perbuatan tersebut.
Sebagian dari rukun nikah juga merupakan bagian dari persyaratan
nikah. Oleh karena itu, persyaratan nikah mengacu pada rukun-
rukunnya atau persyaratan nikah bertalian dengan keberadaan rukun-
rukun nikah
39
.

38
Ibid., hlm. 63-64

39
Drs. H. Rahmat Hakim, op. cit., hlm. 82
Adapun Jumhur Ulama sepakat bahwa rukun pernikahan itu
terdiri atas :
1) Adanya calon suami dan isteri yang akan melakukan pernikahan.
2) Adanya wali dari pihak calon pengantin wanita.
3) Adanya dua orang saksi.
4) Sigat akad nikah, yaitu ijab Kabul yang diucapkan oleh wali atau
wakilnya dari pihak wanita, dan dijawab oleh calon pengantin laki-
laki
40
.
Tentang jumlah rukun nikah ini, para ulama berbeda pendapat :
Imam Malik mengatakan bahwa rukun nikah itu ada lima macam,
yaitu:
1) Wali dari pihak perempuan,
2) Mahar (masnikah),
3) Calon pengantin laki-laki
4) Calon pengantin perempuan
5) Sigat akad nikah
Imam Syafii berkata bahwa rukun nikah itu ada lima macam, yaitu :
1) Calon pengantin laki-laki
2) Calon pengantin perempuan
3) Wali
4) Dua orang saksi
5) Sigat akad nikah

40
Drs. H. Abd. Rahman Ghazaly, MA., op., cit., hal. 46-47
Menurut ulama Hanafiyah, rukun nikah itu hanya ijab dan
qabul saja (yaitu akad yang dilakukan oleh pihak wali perempuan dan
calon pengantin laki-laki). Sedangkan menurut segolongan yang lain
rukun nikah itu ada empat, yaitu :
1) Sigat (ijab dan qabul)
2) Calon pengantin perempuan
3) Calon pengantin laki-laki
4) Wali dari pihak calon pengantin perempuan
Pendapat yang mengatakan bahwa rukun nikah itu ada empat,
karena calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan
digabung menjadi satu rukun, seperti di bawah ini.
Rukun pernikahan :
1) Dua orang yang saling melakukan akad pernikahan, yakni mempelai
laki-laki dan mempelai perempuan.
2) Adanya wali
3) Adanya dua orang saksi
4) Dilakukan dengan sigat tertentu
41

C. Pengertian Nikah Siri
Siri secara etimologis berasal dari bahasa arab yang arti harfiahnya
adalah rahasia, jadi nikah siri artinya nikah rahasia (Secret Mariage)
42
..
Secara terminologi, nikah siri merujuk pada pernikahan yang dilakukan di

41
Ibid. hml. 47-49

42
Mimbar Hukum, nomor 28 tahun. VII 1996, Penerbit Al hikmah &BENBAPERA Islam
bawah tangan atau tidak dicatat secara resmi oleh negara. Karena di bawah
tangan, biasanya dilakukan secara diam-diam atau rahasia
43
.
Berdasarkan sejarah kemunculannya, nikah siri atau dalam istilah
lokal bangsa Arab lebih dikenal dengan istilah misyar sebenarnya bukan hal
baru dalam masyarakat Islam. Kitab Al-Muwatha mencatat bahwa istilah
nikah siri berasal dari ucapan Umar bin Khattab r.a. ketika beliau diberitahu
bahwa telah terjadi pernikahan yang tidak dihadiri oleh saksi yang memadai.
Umar berkata, : Ini adalah nikah siri dan aku tidak memperbolehkannya dan
sekiranya aku datang pasti aku rajam.
Pengertian nikah siri dalam persepsi Umar tersebut didasarkan oleh
adanya kasus pernikahan yang menghadirkan saksi tidak sesuai dengan
ketentuan. Ulama-ulama besar sesudahnya pun seperti Abu Hanifah, Malik,
dan Syafii berpendapat bahwa nikah siri itu tidak boleh dan jika itu terjadi
harus difasakh (batal). Namun apabila saksi telah terpenuhi tetapi para saksi
dipesan oleh wali nikah untuk merahasiakan pernikahan yang mereka
saksikan, ulama besar berbeda pendapat. Imam Malik memandang
pernikahan itu pernikahan siri dan harus difasakh karena yang menjadi syarat
mutlak sahnya pernikahan adalah pengumuman (ilan). Menurut beliau,,
keberadaan saksi hanya pelengkap. Pernikahan yang ada saksi tetapi tidak
ada pengumuman adalah pernikahan yang tidak memenuhi syarat. Namun,
Abu Hanifah, Syafii, dan Ibnu Mundzir berpendapat bahwa nikah semacam
itu adalah sah. Abu Hanifah dan Syafii menilai nikah semacam itu bukanlah

43
http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitac
etak&id_beritacetak=55359, diakses tanggal 23 Juli 2010
nikah siri karena fungsi saksi itu sendiri adalah pengumuman (ilan). Jadi,
menurut kedua pandangan ini dapat ditarik pengertian bahwa nikah siri itu
berkaitan dengan fungsi saksi.
Adapun pemahaman lain dan lebih umum mengenai nikah siri dalam
pandangan masyarakat Islam Indonesia adalah pernikahan yang hanya
memenuhi ketentuan agama, yaitu memenuhi syarat dan rukun nikah. Rukun
dan syarat nikah itu meliputi: 1) adanya calon suami dan calon istri; 2)
adanya wali pengantin perempuan; 3) adanya dua saksi yang adil (terdiri atas
dua orang laki-laki atau seorang laki-laki ditambah dua orang perempuan); 4)
ijab dan qabul. Selain rukun atau syarat wajib nikah, terdapat sunah nikah
yang juga perlu dilakukan, yaitu khotbah nikah; pengumuman pernikahan
dengan penyelenggaraan walimatulursy / perayaan, menyebutkan mahar atau
mas nikah.
Dalam pernikahan siri, biasanya unsur walimatulursy / perayaan
sebagai upaya pengumuman kepada masyarakat yang tidak dilakukan. Sebab
pada praktiknya, pernikahan siri tidak pernah diumumkan kepada
masyarakat. Walimatulursy bertujuan untuk mengumumkan pernikahan yang
sudah terjadi kepada masyarakat, minimal keluarga dan tetangga dekat. Hal
ini harus dilakukan untuk menghindari fitnah dan prasangka buruk orang lain.
Selain itu, pelaku pernikahan siri pun tidak melaporkan pernikahannya
kepada KUA
44
.

44
http://rubrikbahasa.wordpress.com/2010/04/04/nikah-siri/, diakses tanggal 23 Juli 2010
Seperti halnya pandangan masyarakat umum, nikah siri juga diartikan
dengan ; Pertama; pernikahn tanpa wali. Pernikahn semacam ini dilakukan
secara rahasia (siri) biayasanya dikarenakan oleh beberapa hal, diantaranya:
pihak wali perempuan tidak setuju ataua karena menganggap absah
pernikahan tanpa wali, atau hanya karena ingin memuaskan nafsu syahwat
belaka tanpa mengindahkan lagi ketentuan-ketentuan syariat serta lainnya.
Kedua; pernikahan yang sah secara agama namun tidak dicatatkan dalam
lembaga pencatatatn Negara. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang
tidak mencatatkan pernikahannya di lembaga pencatatan sipil Negara. Ada
yang karena faktor biaya alias tidak mampu membayar administrasi
pencatatan, adapula yang disebabkan karena takit ketahuan melangggar turan
yang melarang pegawai negeri nikah lebih dari satu, dan lain sebagainya
45
.
Nikah siri yang dikenal masyarkat muncul setelah diundangkannya
UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dandikeluarkannya PP No. 9 tahun
1975 sebagai pelaksana UU No. 1 tahin 1974. Dalam kedua peraturan
tersebut disebutkan bahwa tiap-tiap perkawinan selain harus dilakukan
menurut ketentuan agama juga harus dicatatkan. Dalam pasal 2 UU no. 1
tahun 1974 Tentang Perkawinan, disebutkan :
1. Perkawinan adalah sah, apabila dilkaukan menurut hukum masing-
masing agama dan kepercayaannya itu.

45
Konsultasi Hukum (Nikah Siri), Tabligh, No.2, tahun VII, Jakarta, Mei 2009, hal. 31

2. Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan
yang berlaku
46
.
Ketentuan dari pasal 2 ayat (2) UU No. 1 tahun 1974 selanjutnya
diatur lebih lanjut dalam PP No. 9 tahun 1975. Pasal-pasal yang berkaitan
dengan tatacara perkawinan dan pencatatnnya, antara lain pasal 10, 11, 12,
dan 13. Pasal 10 PP No. 9 tahun 1975 mengatur tatacara perkawinan. Dalam
ayat (2) disebutkan: Tatacata perkawinan dilakukan menurut hukum
masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Dalam ayat (3) disebutkan :
Dengan mengindahkan tatacara perkawinan menurut agamanya dan
kepercayaannya itu, perkawinan dilaksankan di hadapan Pegawai Pencatat
dan dihadiri oleh dua orang saksi
47
.
Tentang pecatatan perkawinan diatur dalam pasal 11:
1. Sesaat setelah dilangsungkannya perkawinan sesuai dengan ketentuan-
ketentuan pasal 10 Peraturan Pemerintah ini kedua mempelai
menandatngani akta perkawinan yang telah disiapkan oleh Pegawai
Pencatat berdasakan ketentuan yang berlaku.
2. Akta perkawinan yang telah ditandatangani oleh mempelai itu,
selanjutnya ditandatangani pula oleh kedua saksi dan Pegawai Pencatat
yang menghadiri perkawinan dan bagi yang melangsungkan perkawinan
menurut agama Islam, ditandatangani pula oleh wali nikah atau yang
mewakilinya.

46
UU Perkawinan Di Indonesia, Arkola, surabaya, tt., hlm. 5

47
Ibid., hlm. 45

3. Dengan penandatanganan akta perkawinan, maka perkawinan telah
tercatat secara resmi
48
.
Dalam Pasal 12 diatur hal-hal apa saja yang dimuat dalam akta
perkawinan, dan dalam Pasal 13 diatur lebih lanjut tentang akata perkawinan
dan kutipannya, yaitu :
1. Akta perkawinan dibuat rangkap 2 (dua), helai pertama disimpan oleh
Pegawai Pencatat, helai kedua disimpan pada Pnitera Pengadilan dan
wilayah kantor pencatatan perkawinan itu berada.
2. Kepada suami dan istri masing-masing diberi kutipan akta perkawinan
49
.
Dari ketentuan perundang-undangan di atas dapat diketahui bahwa
peraturan perundang-undangn sama sekali tidak mengatur materi pernikahan,
bahkan ditandaskan bahwa pernikahan sah apabila dilakuakan menurut
hukum masing-masing agama dan kepercyaannya itu. Peraturan perundangan
hanya mengatur pernikahan dari formalitasnya, yaitu pernikahn sebagai
sebuah peristiwa hukum yang harus dilaksanakan menurut peraturan agar
terjadi ketertiban dan kepastian hukumnya.
Berkaitan dengan pencatatan pernikahan, pada awalnya hukum Islam
tidak secara konkret mengaturnya. Pada masa Rasulullah SAW maupun
sahabat belum dikenal pencatatan pernikahan. Waktu itu pernikahan sah
apabila telah terpenuhi unsur-unsur dan syarat-syaratnya. Apabila terjadi
perselisihan atau pengingkaran telah terjadi perkawinan, pembuktiannya

48
Ibid.

49
Ibid., hlm. 46

cukup dengan alat bukti persaksian. Akan tetapi dalam perkembangan
selanjutnya karena perubahan dan tuntutan zaman dan dengan pertimbangan
kemaslahatan, di beberapa negara muslim, termasuk di Indonesia, telah
dibuat aturan yang mengatur perkawinan dan pencatatannya. Hal ini
dilakukan untuk ketertiban pelaksanaan perkawinan dalam masyarakat,
adanya kepastian hukum, dan untuk melindungi pihak-pihak yang melakukan
perkawinan itu sendiri serta akibat dari terjadinya perkawinan, seperti nafkah
istri, hubungan orang tua dengan anak, kewarisan, dan alain-lain. Melalaui
pencatatan perkawinan yang dibuktikan dengan akata nikah, apabila terjadi
perselisihan diantara suami istri, ataua salah satu pihak tidak
bertanggungjawab, maka yang lain dapat melakukan upaya hukum guna
memepertahankan atau memperoleh haknya masing-masing, karena dengan
akta nikah suami istri memiliki bukti otentik atas perkawinan yang terjadi
antara mereka. Perubahan terhadap sesuatu termasuk institusi perkawinan
dengan dibuatnya undang-undang atau peraturan lainnya, adalah merupakan
kebutuhan yang tidak bisa dihindarkan dan bukan sesuatu yang salah menurut
hukum Islam
50
.
Selain itu pencatatan perkawinan selain substansinya untuk
mewujudkan ketertiban hukum juga mempunyai manfaat preventif, seperti
supaya tidak terjadi penyimpangan rukun dan syarat perkawinan, baik
menurut ketentuan agama maupun peraturan perundang-undangan. Tidak
terjadi perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang antara keduanya

50
http://www.w3.org/, dikses mei 2010
dilarang melakukan akad nikah. Menghindari terjadinya pemalsuan identitas
para pihak yang akan nikah, seperti laki-laki yang mengaku jejaka tetapi
sebenarnya dia mempunyai istri dan anak. Tindakan preventif ini dalam
peraturan perundangan direalisasikan dalam bentuk penelitian persyaratan
perkawinan oleh Pegawai Pencatat, seperti yang diatur dala Pasal 6 PP No. 9
tahun 1975
51
.
Keharusan mencatat perkawinan dan pembuatan akta perkawinan,
dalam Islam, diqiyaskan kepada pencatatan dalam persoalan utang piutang
yang dalam situasi tertentu diperintahkan untuk menctatkannya, seperti dalam
firman Allah SWT surat Al-Baqarah ayat 282:
$' %!# #`# #) #? / <) _& 7F2$
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah
(utang piutang) tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan,
hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di
antara kamu menuliskannya...(Qs. Al-Baqarah:282)
52
.

Akad nikah bukanlah muamalah biasa akan tetapi perjanjian yang
sangat kuat, seperti disebutkan dalam al-Quran surat an-Nisa ayat 21:
#. {'? % & 6/ <) / z& 6 $)V
$=


51
Ibid.

52
Departemen Agama RI, loc., cit.,
Artinya : bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, Padahal sebagian
kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-
isteri. dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu
Perjanjian yang kuat.(Qs. An-Nisa:21)
53
.

Untuk mengukur sahnya pernikahan perlu sekali mencermati aspek
pencatatan pernikahan yang wajib dalam perundang-undangan hukum positif.
Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam nikah siri pencatatan tidak berlaku.
Tidak dicatatkannya pernikahn sudah barang tentu menyalahi kaidah yang
berlaku dalam hukum positif. Pasal 2 ayat 2 UU Perkawinan menegaskan
bahwa Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Artinya, pernikahn yang tidak dicatatkan adalah tidak sah.
Wajibnya pencatatan ternyata tidak hanya diatur dalam UU
Perkawinan. KHI yang merupakan pedoman khusus bagi umat Islam di
Indonesia juga mensyaratkan hal yang sama. Kedua hukum positif tersebut
tidak berbeda dengan hukum (syariat) agama. Sebagaimana dalam
pendekatan hukum Islam melalui qiyas menunjukkan wajibnya pencatatan
dalam setiap bentuk pernikahan. Nikah siri yang tidak dicatatkan, diasmping
menyalahi aturan hukum positif juga menyalahi aturan hukum agama. Jadi,
memang sebaiknya pernikahan itu dicatatkan
54
. Artinya juga ketika suatu
saat pernikahan siri ini mengalami peristiwa perceraian, sengketa, awarisan
dan lain-lain, para pihak tidak dapat mengajukan perkara tersebut ke
Pengadilan Agama. Selain itu dampak hukum yang timbul dari sebuah
pernikahan siri ini, si istri sulit untuk mendapatkan hak atas harta bersama

53
Departemen Agama RI, Ibid., hlm. 105

54
Happy Susanto, op., cit., hlm. 67-68
mereka ketika si suami tidak memberiakan. Selain itu, jika ada warisan yang
ditinggalkan suami karena suami meninggal dunia istri dan anak juga sangat
sulit mendapatkan hak dari harta warisan. Jika suami yang berprofesi
pegawai negeri sipil (PNS) baik istri dan anak tidak berhak mendapatkan
tunjangan apapun. Akaibatnya biaya pendidikan dan kebituhan anakpun
ssering terabaikan.
Anak-anak yang lahir dari pernikahan siri biasanya juga kesulitan
mendapat akte kelahiran, sebab orang tuanya tidak memiliki akta nikah. Dan
yang paling pokok, nikah siri tidak dapat disahkan oleh negara kecuali jika
akan dilakukan penetapan atau pngesahan (itsbat nikah)
55
.
Dampak sosial yang ditimbulkan dari nikah siri ini, biasanya sebuah
pernikahan siri akan dinilai masyarakat sebagai sebuah pernikahan yang tidak
ideal dan tidak membuat suasana rumah tangga yang harmonis.
D. Tujuan dan Hikmah Pernikahan
1. Tujuan pernikahan
Tujuan nikah pada umumnya bergantung pada masing-masing
individu yang akan melakukannya, ada juga tujuan umum yang memang
diinginkan oleh semua orang yang akan melakukan pernikahan, yaitu
untuk memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan lahir batin menuju
kebahagiaan dan kesejahteraan dunia akhirat
56
.

55
Ibid., hlm. 105

56
Drs. Slamet Abidin-Drs. H. Aminuddin, op., cit., hlm. 12
Adapun pernikahan yang diajarkan Islam meliputi multiaspek.
Adapun aspek-aspek tersebut adalah :
a. Aspek personal
1) Penyaluran kebutuhan biologi
Sebagai suatu sunnatullah, manusia selalu hidup
berpasangan akibat adanya daya tarik, nafsu syahwat di antara dua
jenis kelamin yang berlainan. Hidup bersama dan berpasangan tadi
tidaklah harus selalu dihubungkan dengan masalah seks walaupun
faktor ini merupakan faktor yang dominan.
2) Reproduksi generasi
Ada orang yang berpendapat bahwa untuk mendapatkan
keturunan tidak perlu selalu melalui pernikahan. Hal ini, karena
akibat yang ditimbulkan dari persetubuhan adalah kehamilan yang
diakhiri dengan kelahiran keturunan. Akan tetapi, persetubuhan di
luar pernikahan jelas dilarang oleh ajaran Islam. Oleh karena itu,
meskipun persetubuhan yang illegal itu membuahkan keturunan, hal
itu dianggap tidak ada. Keturunan yang dimaksud adalah keturunan
yang sah melalui pernikahan.
b. Aspek sosial
1) Rumah tangga yang baik sebagai fondasi masyarakat yang baik
Pernikahan diibaratkan sebagai ikatan yang sangat kuat,
bagaikan ikan dengan airnya, dan bagaikan beton bertulang yang
sanggup menahan getaran gempa. Kalau kita amati, pada awalnya
mereka yang melakukan penikahan tidak saling kenal dan
kadangkala mereka mendapatkan pasangan yang berjauhan. Akan
tetapi, tatkala memasuki dunia pernikahan, mereka begitu menyatu
dalam keharmonisan, bersatu dalam menghadapi tantangan dalam
mengarungi bahtera kehidupan.
Kiranya hanya unsur yang oleh Al-Quran disebut dengan
mawaddah dan rahmah, itulah yang menyebabkan mereka begitu
kuat mengarungi bahtera kehidupan ini. Seperti dijelaskan dalam
firman Allah surat Ar-Rum ayat 21 :
G# & ,={ /39 3& %`& #`3`F9 $9)
_ 6/ m ) 79 M )9 `3G


Artinya : Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia
menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenis-
jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu
rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah)
bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Ruum: 21)
57
.
2) Membuat manusia kreatif
Pernikahan juga mengajarkan kepada kita tanggung jawab
akan segala akibat yang timbul karenanya. Dari rasa tanggung
jawab dan perasaan kasih sayang terhadap keluarga inilah timbul
keinginan untuk mengubah keadaan kearah yang lebih baik dengan

57
Departemen Agama RI, op., cit., hlm. 572

berbagai cara. Orang yang telah berkeluarga selalu berusaha untuk
membahagiakan keluarganya. Hal ini mendorongnya untuk lebih
kreatif dan produktif, tidak seperti pada masa lajang.
Sikap tersebut akan memberikan dampak yang baik
terhadap lingkungannya. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak
dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Jadi, tatkala berkreasi dan
berproduksi, dia pasti akan melibatkan orang lain. Akibatnya
terbentuklah dinamika pribadi-ribadi yang pada gilirannya akan
mendinamisasikan bangsanya.
c. Aspek ritual
Dalam agama Islam pelampiasan kebutuhan biologis hanya
dibolehkan melalui satu cara, yaitu pernikahan. Penyaluran kebutuhan
biologis di luar itu adalah terkutuk, dosa besar dan patut dipidana
berat, penjagaan diri agar tidak terjerumus ke dalam lembah yang hina
itu adalah wajib. Dalam kondisi tekanan terhadap rangsangan biologis
seperti ini, pernikahan pun menjadi wajib.
Ajaran Islam mengenai pernikahan, yang kita pahami dari
tujuan, hikmah, dan prinsip-prinsipnya tidak menitikberatkan pada
kebutuhan biologis semata dan bukan sekadar tertib administrasi.
Pernikahan adalah bagian syariat Islam. Pernikahan adalah suatu
ibadah dan berarti pelaksanaan perintah syari, sebagai refleksi
ketaatan makhluk kepada Khaliknya, bagian yang tak terpisahkan dari
seluruh ajaran agama dan sama sekali bukan sekadar tertib
administratif. Dalam ajaran Islam diterapkan aturan yang rinci dalam
pernikahan, akibat yang mungkin terjadi selama dan setelah
terputusnya pernikahan.
d. Aspek moral
Seperti telah kita ketahui libido seksualitas pada dasarnya
adalah suatu fitrah kemanusiaan dan juga fitrah bagi makhluk hidup
lainnya. Oleh karena itu, baik manusia maupun makhluk hidup
lainnya, sama-sama memerlukan pelampiasan terhadap lawan jenisnya.
Jadi, dari segi kebutuhan biologis, manusia dan hewan mempunyai
kepentingan yang sama. Adapun yang membedakannya dalam
melaksanakan kebutuhan tersebut. Manusia dituntut untuk mengikuti
aturan atau norma-norma agama, moralitas agama, sedangkan hewan
tidak dituntut demikian. Jadi, pernikahan adalah garis demarkasi yang
membedakan manusia dengan hewan untuk menyalurkan kepentingan
yang sama.
e. Aspek kultural
Pernikahan di samping membedakan manusia dengan hewan,
juga membedakan antara manusia yang beradab dengan manusia yang
biadab, ada juga antara manusia primitif dan manusia modern.
Walaupun pada dunia primitif mungkin terdapat aturan-aturan
pernikahan, dipastikan aturan-aturan kita jauh lebih baik daripada
aturan-aturan mereka. Itu menunjukkan bahwa kita mempunyai kultur
yang lebih baik dari pada manusia-manusia purba atau primitif.
Apalagi dalam praktek keseharian, peristiwa pernikahan
sepertinya tidak cukup dengan persyaratan-persyaratan agamis semata.
Hampir diseluruh tempat didunia ini, peristiwa keagamaan tersebut
selalu dibumbui oleh kultur-kultur lokal yang syarat dengan simbol.
Sesuatu yang oleh Islam dibolehkan selama tidak mengarah pada hal-
hal yang terlarang. Bahkan, simbol-simbol keagamaan sering terkubur
oleh banyaknya muatan lokal yang mewarnai seremonial pernikahan.
Apalagi selepas seremonial tersebut, keduanya akan lebur dalam
percampuran budaya
58
.
2. Adapun Hikmah pernikahan yaitu :
Menurut Imam Al-Ghazali menyebutkan ada 5 hal terpenting yang
menjadi fungsi (hikmah dan keutamaan) pernikahan, yaitu :
a. Untuk memperoleh anak
Sebenarnya, orang-orang beriman yang mempunyai
kemampuan untuk mendidik anak menjadi anak-anak yang shaleh
sudah selayaknyalah memiliki keinginan untuk memperoleh anak,
sebab dengan terciptanya anak-anak yang shaleh akan banyak
berpengaruh dan sangat bermanfaat bagi perbaikan umat dan
lingkungannya dan dengan hal ini juga setiap orang tua memiliki nilai
plus dalam bertaqarrub ilallah. Al-Ghazali mengatakan ada 4 aspek
bentuk taqarrub dalam hubungannya dengan memperoleh anak ini,
yakni :

58
Drs. H. Rahmat Hakim, op., cit.,, hal. 15-27
1) Mencari keridhaan Allah dengan memperoleh anak demi
mempertahankan kelangsungan jenis manusia.
2) Mencari keridhaan Rasulullah SAW dengan memperbanyak umat
beliau kelak pada hari kiamat yang menjadi kebanggaan beliau.
3) Mengharapkan berkah dari doa anak-anaknya yang shaleh
sepeninggalnya.
4) Mengharapkan syafaat dari anaknya apabila meninggal lebih
dahulu (meninggal sebelum mencapai usia dewasa).
b. Sebagai penyaluran gejolak syahwat.
c. Menghibur hati.
d. Pengelolaan rumah tangga.
e. Melaksanakan kewajiban kemasyarakatan
59
.












59
Muhammad Faisal Hamdani, M. Ag., op., cit., hlm. 33-35
BAB III
PENDAPAT MAHASISWA FAI UNISSULA SEMARANG TERHADAP
NIKAH SIRI DAN AKIBAT HUKUMNYA

A. KONDISI UMUM FAKULTAS AGAMA ISLAM (FAI) UNISSULA
SEMARANG
1. Visi Fakultas Agama Islam (FAI) UNISSULA Semarang
Visi Fakultas Agama Islam adalah Lembaga Pendidikan Tinggi
Islam terkemika dalam melahirkan kader-kader pemimpin umat dan
dakwah, dengan ciri-ciri kuat dalam keulamaan, kecendekiawan, dan
kepakaran, untuk mewujudkan generasi khaira ummah, kesejahteraan
masyarakat dan mengembangkan perdaban Islam
60
.
2. Misi Fakultas Agama Islam (FAI) UNISSULA Semarang
a. Berperan aktif dalam merekonstruksi dan mengmbangkan iptek sesuai
dengan ajaran Islam dan kepentingan umat dengan wawasan
lingkungan
b. Mendidik dan mengembangkan sumberdaya insani dengan
mengutamakan tafaqquh fiddin, kecendekiawan dan kepakaran dengan
standart yang tinggi menjadi kader pemimpin umat dan dakwah, dalam
rangka mewujudkan generasi khaira ummah yang sanggup
mengemban tugas sebagai abdullah dan khalifatullah.

60
Buku Panduan Fakultas Agama Islam,hlm. 14
c. Mengembangkan gagasan, kegiatan dan kelembagaan dan berperan
akatif dalam upaya mengembangkan peradaban Islam menuju
terwujudnya rahmatanlilalamin
61
.
3. Tujuan
a. Terwujudnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi (iptek) yang Islami
sebagai landasan mewujudkan generasi khaira ummah dan
membangun kesehajhteraan masyarakat dan perdaban Islam
b. Terwujudnya ulama pendidik tafaqquh fiddin dengan sifat-sifat ulul
albab dan tangguh pada percaturan global dalam melaksanakan tugas-
tugas kepemimpinan dan dakwah.
c. Terwujudnya generasi lulusan dari semua strata tinggi yang berakhlaq
mulia, tafaqquh fiddin, berwawasan lingkungan dan siap melaksankan
tugas-tugas kepemimpinan dan dakwah.
d. Terwujudnya laboratorium pengembangan perdaban Islam untuk
menjawab tantangan zaman
62
.
4. Program Pendidikan dan Kurikulum
Program pendidikan di Fakultas Agama Islam adalah program
Strata Satu (S1) dengan sistem pendidikan Sistem Kredit Semester (SKS)
selama 8 semester (4 tahun) yang terbagi dalam semester genap dan gasal.
Khusus untuk jurusan Syariah juga ditawarkan program Strata Satu (S1)
lintas jalur, dimana mahasiswa dengan persyaratan tertentu dimungkinkan

61
Ibid.

62
Ibid. hlm 15

untuk menempuh Fakultas Hukum bersama-sama dengan kuliah dijurusan
Syariah dan akan memperoleh dua gelar: Sarjana Hukum Islam (SHI) dan
Srajan Hukum (SH)
63
.
a. Jenis program studi di FAI
Jenis program studi di Fakultas Agama Islam terdiri dari :
1) Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Jurusan Tarbiyah
2) Ahwal Syakhsiyah (AS) pada Jurusan Syariah
64
.
5. Keunggulan
Beberapa keunggulan yang bisa dinikmati jika kuliah di FAI adalah
sebagai berikut :
a. Program Intensifikasi bahasa asing (bahasa arab)
b. Program lintas jalur, program ini ditujukan untuk mahasiswa yang
ingin memperoleh gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) dan Srajana
Hukum (SH)
c. Program akta IV ditujukan untuk sarjana S1 non kependidikan semua
jurusan yang ingin memperoleh sertifikat mengajar/akta IV
d. Kajian-kajian Islam secara Interdisipliner
65
.
6. Fasilitas
Fasilitas yang ada di UNISSULA pada umunya terdiri dari :
a. Ruang kuliah 3 lantai yang representatif
b. Gedung perpustakaan universitas dan fakultas

63
Ibid. hlm.27

64
Ibid. hlm. 32

65
Ibid.
c. Laboratorium pendidikan
d. Laboratorium bahasa dan komputer
e. Laboratorim micro teaching dan ilmu falak
f. Masjid kampus yang megah
g. Rumah Sakit Islam
h. Unit Kegiatan Mahasiswa
i. Pondok Pesantren Mahasiswa
j. Koperasi Mahasiswa
k. Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum
7. Sarana dan Prasarana
Sedangkan sarana dan prasarana yang ada di FAI UNISSULA yang
terletak di Jalan Raya Kaligawe Km. 4 Semarang di atasa sebidang tanah
seluas lebih dari 4,2 Ha, yaitu gedung berlantai tiga. Lantai satu
dimanfaatkan untuk ruang pimpinan, ruang dosen, ruang administrasi,
ruang rapat/seminar, ruang tamu, ruang kegiatan mahasiswa, ruang
pelayanan, gudang, WC/KM. Jumlah keseluruhan ada 21 ruangan.
Sedangkan lantai dua dan tiga dipergunakan untuk perkuliahan (9
ruangan), laboratorium bahasa (2 ruangan), dan ruang perpustakaan (1
ruangan), ketersediaan ini telah cukup untuk mendukung proses belajar
mengajar.
8. Prasarana Akademik
Adapun rincian prasarana di gedung Fakultas Agama Islam
UNISSULA sebagai berikut :
a. Sembilan ruang kuliah (@ 80 m)
b. Ruang diskusi/seminar/rapat (90 m)
c. Ruang laboratorium (80 m)
d. Rauang perpustakaan (80 m)
e. Ruang pimpinan
f. Pimpinan fakultas (80 m)
g. Pimpinan jurusan (30 m)
h. Ruang dosen (100 m)
i. Ruang administrasi (80 m)
j. Ruang kemahasiswaan (40 m)
k. Ruang bagian rumah tangga (6 m)
l. Delapan WC/KM (4 m)
m. Gudang (6 m)66.
Sistem yang ada di UNISSULA memberikan peluan kepada
mahasiswa program studi untuk memanfaatkan prasaran yang ada di
lingkungan universitas untuk menunjaang pelaksanaan kegiatan
pembelajaran, seperti perpustakaan pusat, laboratorium komputer, gedung
pertemuan, masjid, pesantren mahasiswa, rumah sakit, dn gedung UKM
(Unit Kegiatan Mahasiswa).
9. Sarana Akademik
Adapun ketersediaan sarana kademik adalah sebagai berikut :
a. Sarana Mahsiswa
1) Meja-kursi
2) OHP
3) Wireless
4) LCD
5) Unit komputer (lab. Komputer)
6) Unit audio visual (lab. Bahasa)
7) Buku perpustakaan
8) Bus kampus

66
Ibid.

b. Sarana Dosen
1) Meja-kursi
2) Filling Cabinet
3) Unit computer
4) Internet, intranet
5) Telepon
6) Buku perpustakaan
7) Kulkas
8) Dispenser
9) TV
10) Mobil
c. Sarana Staff administrasi
1) Meja-kursi
2) Alat tulis kantor
3) Unit computer
4) Mesin ketik
5) Mesin stensil
67
.
10. Kurikulim
a. Kurikulum Syariah
Jenis Mata Kuliah :

1) Mata Kuliah Umum (MKU)
2) Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)
3) Mata Kuliah Keahlian (MKK)
4) Mata Kuliah Lokal (MKL)
Rincian Agihan Mata Kuliah Per Semester :
o Pengantar Studi Islam
o Ilmu Tasawuf

67
Ibid.
o Sejarah dan Peradaban Islam
o Ilmu Hukum
o Teknologi Informasi
o Bahasa Arab I
o Bahasa Inggris I
o Ulumul Qur'an
o Ulumul Hadis
o Ilmu Kalam
o Hukum Perdata
o Peradilan di Indonesia
o Bahasa Arab II
o Bahasa Inggris II
o Filsafat Umum
o Fiqh Ibadah
o Tafsir
o Hadis
o Ilmu Tafsir
o Hukum Acara Perdata
o Ushul Fiqh I
o Bahasa Arab III
o Bahasa Inggris III
o Filsafat Ilmu
o Pancasila
o Tafsir Ahkam
o Hadis Ahkam
o Fiqh Munakahat
o Hukum Acara PA.
o Ushul Fiqh II
o Hk Perdata Islam di Ind. I
o Fiqh Mawaris
o Kewiraan
o Tarikh Tasyri'
o Ilmu Budaya Dasar
o Fiqh Muamalah
o Filsafat Hukum Islam
o M.M.Fil Ushul
o Bahasa Indonesia
o P.P. Madzhab
o Hukum Pidana
o Baca Kitab
o Metodologi Penelitian
o Hukum Perdata Int.
o Fiqh Siyasah
o Ilmu Alamiah Dasar
o Fiqh Jinayah
o Sejarah Peradaban Islam
o Bimbingan Pen. Ilmiah
o Ilmu Falak
o Praktek Peradilan
o Qowaid Fiqhiyah
o Bimb. Baca Kitab II
o Metodologi Penelitian Hkm
o Manajemen
o Lemb. Ekonomi Umat
o Masail Fiqhiyah
o Hk. Perdata Islam di Ind. II
o Hk. Perdata Islam di Ind. III
o Praktek Falak
o Skripsi

b. Kurikulum Tarbiyah
Jenis mata kuliah:

1) Mata Kuliah Umum (MKU)
2) Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)
3) Mata Kuliah Keahlian (MKK)
4) Mata Kuliah Lokal (MKL)
Rincian Agihan Mata Kuliah Per Semester :

o Bahasa Inggris I
o Bahasa Arab I
o Pengantar Ilmu Agama
o Pengantar Studi Agama
o Pengantar Ilmu Tafsir
o Ilmu Tasawuf I
o Dasar-dasar Kependidikan
o Ilmu Jiwa Belajar I
o Teknologi Informasi
o Bahasa Inggris II
o Bahasa Arab II
o Ulumul Qur'an
o Ulumul Hadis
o Ilmu Kalam I
o Ilmu Tasawuf II
o Filsafat Umum
o Ilmu Pendidikan
o Ilmu Belajar Jiwa II
o BBA
o Teknologi Informasi
o Bahasa Indonesia
o Bahasa Inggris III
o Bahasa Arab III
o Ushul Fiqh
o Fiqh
o Filsafat Pendidikan Islam
o Filsafat Ilmu
o Ilmu Kalam II
o Strategi Belajar Mengajar
o Statistik I
o Bahasa Arab IV
o Tafsir I
o Hadis I
o Fiqh Sosial
o Sejarah Pendidikan Islam
o Sirah Nabawiyah
o Supervisi Pendidikan
o Perencanaan Sistem
o Statistik II
o Pancasila
o Ilmu Budaya Dasar
o Tafsir II
o Hadis II
o Metodologi Penelitian
o Pengemb. Kurikulum PAI
o Pengemb. Sist. Evaluasi I
o Studi Islam
o Studi Islam II
o Studi Islam III
o Kewiraan
o Ilmu Alamiah Dasar
o Bimbingan dan Penyuluhan
o Bimbingan Skripsi
o Materi PAI
o Pengmb. Sist. Evaluasi II
o Psikologi Agama
o Micro Teaching
o KLH
o Kapita Selekta
o PPL
o Penyiaran Agama
o Manajemen Pendidikan
o Sosiologi Agama
o Seminar PAI
o Skripsi

Dari kurikulum tersebut sekiranya mahasiswa FAI secara teori
telah mendapatkan materi atau setidaknya mengetahui hukum positif,
terutama kaitannya dengan hukum perkawinan di Indonesia.
B. PENDAPAT MAHASISWA FAI UNISSULA SEMARANG TERHADAP
NIKAH SIRI DAN AKIBAT HUKUMNYA
1. Pengertian Nikah Siri
Kalau kita merujuk pada kitab-kitab fiqih klasik, kita tidak akan
menjumpai istilah nikah siri. Istilah nikah siri adalah istilah yang baru,
dan definisinyapun beragam. Pernikahan siri sering diartikan oleh
masyarakat umum dengan ;
Pertama ; Pernikahan tanpa wali. Pernikahan semacam ini
dilakukan secara rahasia (siri) biasanya dikarenakan oleh beberapa hal,
diantaranya ; pihak wali perempuan tidak setuju atau karena menganggap
absah pernikahan tanpa wali atau hanya karena ingin memuaskan nafsu
syahwat belaka tanpa mengindahkan lagi ketentuan-ketentuan syariat serta
yang lainnya.
Kedua ; Pernikahan yang sah secara agama namun tidak dicatatkan
dalam lembaga pencatatan Negara. Banyak faktor yang menyebabkan
seseorang tidak mencatatkan pernikahannya di lembaga pencatatan sipil
Negara. Ada yang karena faktor biaya, alias tidak mampu membayar
administrasi pencatatan, ada pula yang disebabkan karena takut ketahuan
melanggar aturan yang melarang pegawai negeri nikah lebih dari satu dan
lain sebagainya
68
.
Hukum Pernikahan Tanpa Wali
Mengenai fakta pertama. Yakni pernikahan tanpa wali; sesungguhnya
akad nikah akan dianggap sah apabila ada seorang wali atau wakilnya
yang akan menikahkannya, berdasarkan sabda Nabi Saw :
_',-`'-` ) -`-= (
Artinya : Tidak sah nikah melainkan dengan wali. (HR. Imam Ahmad
dan empat orang imam)
69
.
Adapun menurut hukum positif mengenai sahnya perkawinan
diatur dalam :
a) Pasal 2 ayat (1) UU No. 1/1974 yang berbunyi : Perkawinan adalah
sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan
kepercayaannya itu. Pada penjelasan pasal tersebut dinyatakan :
Dengan perumusan pasal 2 ayat (1) ini, tidak ada perkawinan diluar
hukum masing-masing agamanya dan kepercayaanya itu, sesuai
dengan undang-undang Dasar 1945. Yang dimaksud dengan hukum
masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu termasuk ketentuan
perundang-undangan yang berlaku bagi golongan agamanya dan
kepercayaannya itu sepanjang tidak bertentangan atau tidak ditentukan
lain dalam undang-undang ini.

68
Konsultasi Hukum (Nikah Siri), Tabligh, Jakarta, Mei 2009, No. 2, Tahun.VII, hlm. 31

69
Imam Muhammad bin Ismail al Kahlani ash Shanany, Subulus Salam, Juz III, Sulaiman
Mari, Singapura, hlm. 119
b) Pasal 4 KHI : Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut
hukum islam sesuai dengan pasal 2 ayat (1) undang-undang No. 1
Tahun 1974 tentang perkawinan. Berdasarkan ketentuan tersebut
diatas, apabila suatu perkawinan telah dilakukan dengan memenuhi
syarat dan rukunnya berdasarkan hukum islam maka perkawinan itu
adalah sah karena telah memenuhi ketentuan hukum materiil
perkawinan. Namun demikian, perkawinan tersebut belum memenuhi
ketentuan hukum formal perkawinan karena belum dicatat pada
Pegawai Pencatat yang berwenang atau belum memiliki bukti Akta
Nikah. Oleh sebab itu, meskipun secara materiil perkawinan itu sah
tetapi secara formal belum sah, sehingga selamanya dianggap tidak
pernah ada perkawinan kecuali jika dapat dibuktikan dengan Akta
Nikah yang dikeluarkan oleh Pegawai Pencatat Nikah
70
.
2. Pendapat Mahasiswa FAI UNISSULA Semarang Terhadap Nikah
Siri Dan Akibat Hukumnya
Memang, dalam hukum agama Islam nikah siri bukanlah satu hal
yang dilarang, dengan syarat pernikahan tersebut telah memenuhi rukun
dan syarat sahnya nikah. Namun, nikah siri tetap saja tidak akan dianggap
sah di mata hukum kenegaraan (Indonesia), hal ini berdasarkan Undang-
Undang Perkawinan pasal 2 ayat 2 yang berbunyi: Tiap-tiap perkawinan
dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

70
Drs. A. Mukti Arto, SH., Masalah Pencatatan Perkawinan Dan Sahnya Perkawinan,
Mimbar Hukum, Jakarta, 1996, No. 26, hlm. 45
Berdasarkan UU tersebut, maka pernikahan yang tidak dicatatkan ke
Kantor Urusan Agama (KUA) atau Kantor Catatan Sipil setempat tidak
akan diakui oleh negara.
Pemberlakuan UU Perkawinan pasal 2 ayat 2 di atas memang
dilakukan oleh negara (Indonesia) bukan tanpa adanya alasan yang kuat.
Selain sebagai data pemerintah, juga bertujuan untuk memperkecil resiko
banyaknya kerugian atau kesewenang-wenangan yang akan dialami oleh
seorang wanita (isteri) dan anak-anak dari hasil nikah siri, baik kerugian
dalam aspek sosial maupun hukum.
Maka dari hasil penelitian pada Mahasiswa FAI Unissula
Semarang ketika sudah diambil sampel 10 % dari keseluruhan jumlah
mahasiswa FAI yaitu 553 mahasiswa, maka secara umum pandangan
mahasiswa FAI Unissula semarang dibagi menjadi dua yaitu yang
berpendapat bahwa nikah siri itu sah sebanyak 75 % dan yang berpendapat
bahwa nikah siri tidak sah sebanyak 25%
71
.
a. Pendapat yang mengatakan nikah siri sah
Pendapat pertama ini adalah pendapat dari mayoritas mahasiswa
FAI Unissula Semarang yang mengatakan bahwa pernikahan siri adalah
sah hanya saja tidak mempunyai kekuatan hukum, argumentasi ini
didasarkan pada bahwa ketika suatu pernikahan telah memenuhi syarat
dan rukun maka pernikahan tersebut adalah sah, mengenai kaitanya
dengan pencatatan perkawinan hanyalah sebagai sebuah bukti hitam di

71
Hasil Penelitian Tentang Nikah Mahasiswa FAI UNISSULA Semarang
atas putih, dengan demikian pernikahan dalam kaca mata Islam
dipandang sah bila terpenuhinya syarat rukun tersebut, meskipun tidak
dicatatkan di KUA.
Dari aspek pernikahannya, nikah siri tetap sah menurut
ketentuan syariat, Namun tentunya bagi pelaku nikah siri mempunyai
alasan tertentu seperti apa yang dikatakan oleh saudara Yunus
Awaluddinzaman, bahwa nikah siri hanya bentuk marginalisasi
terhadap hak-hak perempuan dan anak karena mereka tidak punya
kekuatan hukum, biasanya para pelaku nikah siri memiliki motif
seperti :
1) Nikah siri dilakukan karena kehidupan rumah tangganya kurang
harmonis.
2) Nikah siri dilakukan untuk mencari kepuasan nafsu syahwatnnya.
3) Nikah siri dilakukan karena faktor ekonomi sebab bagi orang yang
tidak mampu secara ekonomi nikah dianggap mahal, apalagi biaya
resmi dan biaya kenyataan dilapangan jauh lebih mahal biaya
kenyataan, namun nikah siri ini dilakukan hanya sementara waktu
sebelum dicatatkan ke KUA
72
.
b. Pendapat yang mengatakan bahwa nikah siri tidak sah
Adapun pendapat yang kedua adalah pendapat yang mengatakan
bahwa pernikahan siri tidak sah, sebab pernikah dalam Islam lebih

72
Wawancara dengan Yunus Awaludin zaman, Mahasiswa FAI jurusan Syariah angkatan
2007, Pada tanggal 2 Juni 2010

merupakan suatu akad atau kontrak, sedangkan kontrak harus dicatat
sebagai sebuah perjanjian, hal ini sesuai dengan analogi atas ayat Al-
Quran yang menyatakan bahwa dalam melaksanakan transaksi penting
seperti utang piutang hendaknya selalu dicatatkan. Allah berfirman:
$' %!# #`# # ) #? / <) _& 7F2$
=G39 3/ =?$2 9$/ >' =?%. & =F3 $2
= !# `=G6= =`9 %!# = ,s9# ,G9 !# /
`7 $
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah
tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah
kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di
antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah
penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah
mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah
orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan
ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah
Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada
hutangnya. (QS. Al-Baqarah : 282)
73
.

Perkawinan sejatinya merupakan sebuah transaksi yang penting,
bahkan jauh lebih penting dari transaksi lainya dalam kehidupan manusia.
Kalau memang transaksi harus dicatat, bukankan transaksi perkawinan
merupakan hal yang lebih krusial untuk dicatatkan?
74
. Dalam UU
Perkawinan No. 1 tahun 1974 pasal 2 ayat 2 di jelaskan bahwa:


73
Departemen Agama Republik Indoneia, Al-Quran dan Terjemahanya, Karya Toha Putra,
Semarang, 2002, hlm.59.


74
Siti Musdah Mulia, Muslimah Repormis, Mizan Pustaka, Jakatra, 2005, hlm.364
Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-
undangan yang berlaku
Bila dicermati lebih mendalam makna dari pasal di atas bahwa
pencatatan perkawinan adalah sangat urgen mengingat dari definisi nikah
itu sendiri adalah sebuah Ikatan lahir batin antara seorang pria dengan
seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga
(rumah tangga) yang bahagia kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa
Ketika kita meliahat betapa pentingnya sebuah pencatatan dan
mengingat pernikahan adalah sebuah ikatan lahir batin, maka perkawinan
secara siri merupakan sebuah pelanggaran atas UU Perkawinan No. 1
tahun 1974 pasal 2 ayat 2, KHI pasal 5 ayat 1
Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam
setiap perkawinan harus dicatatkan
Pasal 6 ayat 2 KHI
Perkawinan yang dilakukan diluar pengawasan Pegawai Pencatat
Nikah tidak mempunyai kekuatan hukum
Menurut saudara Muhammand Nafid, pelaku nikah siri bukan saja
melanggar UU Perkawinan No.1 tahun 1974 dan KHI melainkan juga
pelanggaran atas ayat Al-Quran yang berbunyi :
$' %!# #`# #`& !# #`& 9# <`& {# `3 *
? ` ` <) !# 9# ) . `? !$/ 9# z#
79 z m& '?

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah
Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu
berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia
kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang
demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
(QS. An-Nisa : 59)
75

Dalam hal ini bahwa pemerintah dalam wilayah publik untuk
bersikap tegas agar dapat terhindar dari adanya hal-hal yang tidak
diinginkan atau merugikan semua pihak
76
.
Nafid juga menambahkan bahwa pelaku nikah siri di sini tidak
mentaati Ulil Amri yang dalam hal ini adalah Pemerintah. Alasan dari
argumen ini mengacu pada definisi pernikahan itu sendiri ikatan yang
kuat (Mitsaqan Ghalizhan) antara suami istri, bagaimana mungkin dapat
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga terwujud
Mitsaqan Ghalizhan tersebut,
77
kalau nikahnya saja tidak dicatatkan.





75
Departemen Agama Republik Indoneia, op., cit., hlm. 114.

76
Wawancara dengan Muhammad Nafid, Mahasiswa FAI jurusan Tarbiyah angkatan
2006, Pada tanggal 2 Juni 2010


77
Mukti Arto, op. cit. hlm.47




Tabel
Profil Responden
Sumber : Data penelitian tahun 2010

Tabel Rincian Draf
Pendapat Mahasiswa FAI UNISSULA Semarang Tentang Nikah Siri Dan
Akibat Hukumnya
Pertanyaan Jawaban Frekuensi Prosentase
Apa definisi nikah
siri menurut anda?
1. Nikah yang tidak dicatatkan di
KUA/dibawah tangan
2. Nikah dilakukan hanya secara
39

16
74 %

26 %
No. Uraian Uraian Frekuensi Prosentase
1. Jenis klamin Laki-Laki
Perempuan
43
12
80 %
20 %
2. Umur 18 20
21 25
25
30
48 %
52 %
3. Jurusan Tarbiyah
Syariah
24
31
47 %
53 %
4. Angkatan 2006
2007
2008
2009
11
16
14
14
22 %
28 %
25 %
25 %
agama
Jumlah responden 55 100 %


Dari hasil penelitian bahwa, sebanyak 74 % dari sampel yang dilakukan
atau sekitar 39 mahasiswa mengatakan nikah siri adalah nikah yang tidak
dicatatkan di KUA / dibawah tangan. Sedangkan ada sekitar 26 % atau sekitar 16
mahasiswa menjawab bahwa nikah itu adalah nikah yang hanya dilakukan secara
agama.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, jelas bahwa ada 75 % atau sekitar 42
mahasiswa FAI berpendapat bahwa nikah siri itu sah, dan sekitar 25 % atau 13
mahasiswa menganggap bahwa nikah siri itu tidak sah.
Dari pendapat mereka yang mengatakan sah, beralasan bahwa nikah siri
sah karena syarat dan rukun pernikahan telah terpenuhi, dasar hukum mereka
menggukan KHI. Sedangkan dari pendapat yang tidak sah beralasan bahwa
pernikahan yang dilakukan tidak sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia,
yaitu hukum positif yang mengatur (UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974), serta
pernikahan siri dapat mendatangkan madharat dikemudian hari.
Pertanyaan Frekuensi jawaban Prosentase jawaban
Bagaimana menurut pendapat anda,
apakah nikah siri sah atau tidak ?
Sah Tidak sah Sah Tidak dah

42

13

75 %

25 %
Jumlah responden 55 100 %




Pertanyaan Frekuensi jawaban Prosentasi jawaban
Apakah pendapat anda
nikah siri mempunyai
kekuatan hukum?
Ya Tidak Ya tidak

16

39

26 %

74 %
Jumlah responden 55 100 %

Terkait dengan pendapat apakah nikah siri mempunyai kekuatan hukum,
sebanyak 16 mahasiswa atau 26 % menjawab ya, sedangkan yang lainnya
mengatakan bahwa nikah siri itu tidak mempunyai kekuatan hukum, ada sekitar
39 mahasiswa atau 74 % dari total sample yang dilakukan.

Pertanyaan Frekuensi jawaban Prosentase jawaban
Dalam pasal 2 ayat 2 UU
Perkawinan No. 1 tahun 1974
tiap-tiap perkawinan dicatat
menurut peraturan perundang-
undangan yang berlaku jika
melihat pasal tersebut apakah
nikah siri merupakan sebuah
pelanggaran ?
Ya Tidak Ya Tidak

47

8

95 %

5 %

Jumlah responden 55 100 %

Pendapat mahasiswa bahwa dalam Pasal 2 ayat 2 UU Perkawinan No. 1
tahun 1974 yang mengatakan bahwa nikah siri pelanggaran sebanyak 47
mahasiswa dengan sekitar 95 %, sedangkan yang mngatakan tidak merupakan
pelanggaran hanya 8 mahasiswa atau sekitar 5 % saja.




Dari uraian pertanyaan tadi, sebanyak 31 mahasiswa FAI dengan
prosentase 60 % mengatakan perlu untuk mengulang sebuah pernikahan sesuai
dengan hukum yang berlaku, sedangkan sebanyak 24 mahasiswa atau dengan
prosentase 40 % mahasiswa FAI tidak perlu mngulang pernikahan tersebut.

Pertanyaan Frekuensi jawaban Prosentase jawaban
Jika merupakan sebuah
pelanggaran apakah
diperlukan sebuah pernikahan
ulang sesuai hukum yang
berlaku ?
Perlu Tidak Perlu Tidak

31

24

60 %

40 %
Jumlah responden 55 100 %
Pertanyaan Frekuensi jawaban Prosentase jawaban
Bagaimanakah status anak yang
dilahirkan dari pernikahn siri jika
dipandang menurut pasal 2 ayat
2 UU Perkawinan No. 1 tahun
1974 dan KHI, sahkah anak
tersebut ?
Sah Tidak sah Sah Tidak sah

18

37

27 %

73 %
Jumlah responden 55 100 %
Dapat dilihat bahwa, pendapat mahasiswa tentang status anak hasil
pernikahn siri jika dilihat dari pasal 2 ayat 2 UU Perkawinan No. 1 tahun 1974
dan KHI, sebanyak 18 mahasiswa dengan prosentase 27 % yang mengatakan
bahwa anak tersebut adalah sah, sedangkan sekitar 73 % atau 37 mahasiswa yang
mngatakan bahwa anak tersebut tidak sah.

Dari data penelitian tersebut, bahwa yang menyatakan syarat dan rukun
dalam KHI ada perbedaan dengan fiqih klasik ada sebanyak 18 mahasiswa atau 27
%, sedangkan yang mngatakn tidak ada perbedaan ada sebanyak 37 mahasiswa
dengan prosentase 73 % dari sampel mahasiswa FAI.

Pertanyaan Frekuensi jawaban Prosentase jawaban
Dalam KHI syarat dan rukun
nikah adalah sebagai berikut ;
adanya mempelai laki-laki,
adanya mempelai perempuan,
ijab dan qabul, dua orang saksi
dan adanya wali,jika melihat
syarat dan rukun di atas apakah
menurut anda ada perbedaan
dengan syarat dan rukun dalam
fiqh klasik?
Ada Tidak Ada Tidak

18

37

27 %

73 %
Jumlah responden 55 100 %
Pertanyaan Frekuensi jawaban Prosentase jawaban
Nikah siri adalah nikah yang hanya
disaksikan oleh seorang mudin /
tokoh masyarakat dan saksi yang
tidak melalui KUA, bagaimana
pendapat anda apakah pernikahn ini
sah atau tidak ?
Sah Tidak Sah Tidak

40

15

75 %

25 %
Jumlah responden 55 100 %
Dari data penelitian diatas bahwa pernikahan yang hanya disaksikan oleh
mudin atau tokoh masyarakat dan saksi tanpa melalui KUA, pendapat yang
mngatakan bahwa pernikah itu sah sebanyak 40 mahasiswa dengan prosentase 75
%, sedangkan yang mngatkan tidak sah sebanyak 15 mahasiswa atau hanya 25 %.

Pertanyaan Jawaban Frekuensi
Prosenta
se
Bagaimana tanggapan
anada tentang nikah siri
yang dilakukan oleh
sebagian masyarakat
kita, apakah ada
kemaslahtannya ?

1. Mengurangi praktek perzinaan,
dan pergaulan bebas.
2. Meringankan biaya ekonomi
karena mahalnya pernikahan
3. Terjaganya hukum suatu agama
19

9

8
29 %

15 %

15 %
Jika tidak ada
kemadlaratannya /
dampaknya apa?
1. Pernikahannya tidak
mempunyai kekuatan hukum
2. Anak tidak mempunyai status
hukum dan anak tidak
mendapatkan waris
3. Diskriminasi perempuan
7

7


5
14 %

14 %


13 %
Jumlah responden 55 100 %

Dari data penelitian didapatkan bahwa pendapat mahasiswa yang
mengatakan bahwa nikah siri ada kemaslahatannya diperoleh jawab yang
bermacam-macam, ada yang mengatakan bahwa akan mengurangi praktik
perzinaan dan pergailan bebas sebanyak 19 mahasiswa dengan prosentase 29 %,
meringankan biaya ekonomi karena mahalnya pernikahan resmi sebnyak 9
mahasiswa dengan prosentase 15 %, terjaganya hukum suatu agama sebanyak 8
mahasiswa dengan prosentase 15 %. Dari sini juga didapatkan jawaban dari
mahasiswa yang mengatakan bahwa nikah siri memilki kemadlaratan, ada
sebanyak 7 mahasiswa dengan prosentase 14 % yang mengatakan bahwa
pernikahan tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum, pendapat yang
mengatakan anak tidak mempunyai status hukum dan tidak mendapatkan waris
ada 7 mahasiswa dengan prosentase 14 %, serta pendapat yang mengatakan
diskriminasi terhadap perempuan sebanyak 5 mahasiswa dengan prosentase 13 %.

Dari data penelitian mengenai kesulitan-kesulitan yang dihadapi pelaku
nikah siri tersebut, sebanyak 27 mahasiswa dengan prosentase 50 % menjawab
bahwa hukum di Indonesia tidak mengatur adanya nikah siri, karena hukum
pernikahan secara resmi sudah diatur dalam hukum positif Indonesia. Sedangkan
sebanyak 28 mahasiswa dengan prosentase kira-kira 50 % juga, mengatakn karena
pernikahan tersebut tidak dicatatkan di KUA atau mealui PPN.
Maka, sudah sedikit dapat disimpulkan oleh penyusun dari data
penelitian tersebut bahwa memang mayoritas mahasiswa FAI UNISSULA
Semarang dengan prosentase 75 % mengatakan bahwa nikah siri itu sah, dengan
Pertanyaan Jawaban Frekuensi
Prosenta
se
Kesulitan-kesulitan yang
dihadapi bagi pelaku
nikah siri adalah ketika
terjadi perceraian,
pengurusan akta
kelahiran anak, waris
mawaris dan lain
sbagainya, mengapa
demikian ?

1. Hukum di Indonesia tidak
mengatur nikah siri, karena
pernikahan sudah diatur dalam
hukum positif Indonesia
2. Tidak dicatatkan di KUA / PPN

27



28
50 %



50 %
Jumlah responden 55 100 %
berbagai dampak yang ditibulkannya yang mana akan dijelaskan dalam bab
selanjutnya.
Jumlah responden penelitian : 55 Mahasiswa FAI UNISSULA Semarang
Sumber Penelitian : Data penelitian tentang nikah siri 2010



















BAB IV
ANALISIS TERHADAP PENDAPAT MAHASISWA FAI UNISSULA
SEMARANG TENTANG NIKAH SIRI DAN AKIBAT HUKUMNYA

A. Pendapat Yang Mengatakan Nikah Siri Adalah Sah
Titik tolak dari terjadinya perbedaan pendapat mahasiswa FAI
UNISSULA Semarang tentang hukum nikah siri berkenaan sah dan tidaknya
adalah pada pemahaman Al-Quran surat An-nisa: 59 dan pada sisi
kemaslahatan nikah siri itu sendiri. Dalam surat An-Nisa ayat 59 Allah
berfirman:
$' %!# #`# #`& !# #`& 9# <`& {# `3 *
? ` ` <) !# 9# ) . `? !$/ 9# z#
79 z m& '?

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul
(Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan
Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al
Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama
(bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa : 59)
78

Ayat tersebut di atas menurut mayoritas dari pendapat mahasiswa FAI
UNISSULA Semarang tidak relevan dijadikan dalil atas sahnya sebuah
pernikahan, sebab pernikahan menjadi sah manakala telah terpenuhinya syarat
dan rukun dalam artian sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, hanya saja


78
Departemen Agama Republik Indoneia, Al-Quran dan Terjemahanya, Karya Toha Putra,
Semarang, 2002, hlm. 114.
pernikahan tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum, sebagaimana
dikatakan M. Abu Yazid, pernikahan sah ketika syarat dan rukunya telah
terpenuhi, adapun pemerintah mengatur persoalan ketatanegaraan bukan
persoalan yang bersifat privasi agama seperti perniakahan, pemerintah
bertugas menciptakan kesejahteraan, keamanan, baik yang bersifat sosial
budaya dan politik bagi warga negaranya. Pencatatan perkawinan merupakan
tindakan administratif, bukan sebagai salah satu syarat sahnya pernikahan, jadi
tidak adanya pencatatan tidak dapat membatalkan pernikahan
79
.
Adapun yang dimaksud oleh. M. Abu Yazid dengan persoalan privasi
agama adalah apa yang telah disyaraiatkan agama tentu mempunyai maqasid
terhadap kemaslahatan umat manusia syariat diberlakukan bukan tanpa tujuan.
Namun demikian bukan berarti pemerintah tidak turut campur ataupun tinggal
diam terbukti dengan lahirnya UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 dan KHI
serta masih banyak lagi peraturan-peraturan pemerintah yang lahir berkaitan
dengan persoalan keagamaan, lahirnya Undang-undang maupun peraturan
Pemerintah merupakan wujud dari peran serta pemerintah demi terciptanya
kesejahtraan bagi warga negaranya.
Selanjutnya dari beberapa hasil sampel yang dilakukan, mengatakan
bahwa motif yang melatarbelakangi pernikahan siri seperti; pergaulan antara
lawan jenis yang sudah sangat mengkhawatirkan saat ini, kaitannya dengan ini
maka orang tua dari kedua belah pihak harus merespon secepat mungkin untuk


79
Wawancara dengan M. Abu Yazid, Mahasiswa FAI Jurusan Syariah Angkatan 2006, Tanggal
12 juli 2010

menikahkan anaknya secara siri untuk sementara waktu demi menghindari
terjadinya fitnah dan untuk kemaslahatan hidup anaknya. Sedangkan kaitanya
dengan apakah pernikahan tersebut mempunyai kekuatan hukum atau tidak
tergantung dari sudut pandang mana, kalau dari sudut pandang agama jelas
sah dan kuat manakala syarat dan rukunya telah terpenuhi, adapun dari sudut
pandang pemerintah nikah tersebut sah tetapi tidak mempunyai kekuatan
hukum, dalam artian pernikahan tesebut mudah dislewengkan terlebih bagi
orang yang tidak mempunyai komitmen terhadap agamanya.
80

Begitu juga Imam Nawawi yang dikuatkan oleh Handif Muhtarom
bahwa menurutnya nikah siri adalah sah, hal ini telah di jelaskan dalam Pasal
2 ayat 1 UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 Perkawinan adalah sah, apabila
dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaanya itu
dan pasal 4 Kompilasi Hukum Islam (KHI) Perkawinan adalah sah, apabila
dilakukan menurut hukum Islam, selain Handif juga menambahkan agar
semua orang lebih baik untuk sadar akan hukum yang berlaku, dan sebuah
perkawinan baiknya dicatatkan di Pengadilan Agama yang disaksikan oleh
PPN supaya tidak ada masalah-masalah yang tidak diinginkan dikemudian
hari karena adanya kepastian hukum
81
. Alasan dari argument di atas mengacu
pada:
UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 pasal 2 ayat 2 Tiap-tiap
perkawinan di catat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku


80
Data Penelitian Tentang Nikah Siri, tahun 2010


81
Wawancara dengan Imam Nawawi Mahsiswa FAI Jurusan Syariah Angkatan 2008 dan
Handif Muhtarom Mahsiswa FAI Jurusan Syariah Angkatan 2008, Tanggal 13 juni 2010

Pasal 5 KHI ayat 1 Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi
masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatatkan.
Pasal 6 ayat 2 KHI Perkawinan yang dilakukan diluar pengawasan
pegawai pencatat nikah tidak mempunyai kekuatan hukum
82

Namun demikian menurut Ibnu Mufti pihak yang berwenang dalam
hal ini KUA atau PPN seharusnya pro aktif terhadap fenomena nikah siri,
dalam artian harus ada sosialisasi tentang pentingnya sebuah pencatatan nikah,
baik secara langsung maupun melalui prangkat desa atau kelurahan.
83

Sosialisasi inilah kemudian dijadikan sebagai langkah memberikan
pemahaman bahwa ketika melihat syarat rukun sebagimana yang kita pahami
selama ini dalam fiqih memang pernikahan tersebut sah akan tetapi jika
melihat sisi maslahat maka sangat diperlukan sebuah pencatatan pernikahan
jadi dari latar belakang inilah masyarakat luas diberi pengertian untuk tidak
semudah itu melakukan pernikahan secara siri.
Memang, terhadap pernikahan siri tidak bisa dipungkiri, banyak faktor
yang melatarbelakangi sebagaimana yang dipaparkan oleh beberapa
mahasiswa FAI yang berhasil dimintai keterangannya diantaranya Siti
Asrofah, Siti Nurmawati, Moh. Muchozin, Miskiyatussariroh dan lain-lain
bahwa motif-motif yang mendorong terjadinya nikah siri seperti pergaulan
muda-mudi, latar belakang ekonomi, suami yang menghendaki poligami akan


82
Uundang-Undang Perkawinan Di Indonesia, Arkola, Surabaya, tt. hlm.7


83
Wawancara dengan Ibnu Mufti Mahasiswa Jurusan Tarbiyah Angkatan 2008, Tanggal
14 Juni 2010

tetapi tidak mendapat izin istri, maupun motifnya hanya sekedar mencari
kepuasan sahwat semata
84
.
Alasan nikah siri dengan alasan ekonomi bisa saja diluruskan dengan
melangsungkan pernikahan bisa secara sederhana rujukan Al-Quran sendiri
mengajarkan bahwa dengan menikah seseorang yang miskin akan diberikan
kemampuan olek Allah SWT melalui rezeki-Nya yang amat luas. Firman
Allah yang berbunyi :
#s3& {# `3 s=9# /.$6 6$) ) #3 #)
`` !# &# !# '=

Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan
orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu
yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika
mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.
dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S
An-Nur: 32)
85

Ayat ini menegaskan bahwa tidak alasan seseorang untuk tidak
menikah karena faktor ekonomi. Dengan menikah, justru seseorang itu akan
dilapangkan rezekinya dan dimudahkan dalam urusan-urusan hidupnya
kelak
86
.
Adat atau kebiasaan yang ada pada masyarakat, suatu pernikahan di
lakukan dengan cara resepsi mengundang sanak famili, sahabat atau relasi

84
Data Penelitian Tentang Nikah Siri , tahun 2010

85
Departemen Agama RI, op., cit.,

86
Happy Susanto, Nikah Siri Apa Untungnya?, Visimedia, Cet. 1, Jakarta Selatan, 2007,
hlm. 108-109
kerja, terus pengurusan nikah yang harus prosedural menambah kesan
pernikahan adalah butuh biaya yang banyak hingga ada yang mengatkan
bahwa untuk mencatatkan perkawinan butuh biaya yang tidak sedikit sehingga
sebagaian masyarakat lebih memilih untuk tidak mencatatkan pernikahannya.
Maka pernyataan ini dapat dibantah dengan kenyataan bahwa mereka yang
melakukan pernikahan tanpa dicatatkan ini tidak hanya dari kelas bawah
namun banyak juga mereka dari kelas atas terutama jika mereka melakukan
pologami, padahal pernikahan pologami yang tidak dicatatkan akan memiliki
dampak yang lebih besar di banding dengan pernikahan monogami yang tidak
di catatkan.
87
Ketika melihat dari motif-motif diatas agaknya tidak bisa di
jadikan alasan utama untuk menikah secara siri sebab hal ini tidak sejalan
dengan tujuan dari pernikahan itu sendiri. Firman Allah SWT :
G# & ,={ /3 9 3& %`& #`3`F9 $9) _ 6/
m ) 79 M )9 `3G

Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung
dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu
rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.(QS. Ar-
Rum : 21)
88







87
Fatma Amilia, Hukama, vol. 1, Januari 2007, Jogjakarta, hlm. 11


88
Departemen Agama Republik Indoneia, op. cit., hlm. 572



KHI pasal 2
Perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat
kuat atau Mitsaqan ghalizhan untuk mentaati perintah allah dan
melaksanakanya adalah sebuah ibadah
Pasal 3
Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang
sakinah mawaddah dan rahmah
89

Mengenai hal ikhwal pencatatan perkawinan ini tidak disebutkan
secara sarih (ekplisit) baik dalam Al-Quran maupun Hadis. Demikian juga
dalam khazanah fiqih sebagai produk pemikiran hukum Islam secara tekstual
tidak ada yang mencantumkan aturan ini. Berpijak pada asumsi inilah timbul
pertanyaan: untuk apa adanya aturan pencatatan pernikahan, yang notabene
bukan merupakan persoalan esensial ajaran Islam, tetapi harus diberlakukan
padahal tanpa menggunakan hal tersebut pun pernikahan Islam sudah
dianggap sah
90
. Walaupun pernikahan tersebut sah dan pencatatan bukan
merupakan produk pemikiran hukum Islam akan tetapi dalam kehidupan
bermasyarakat pernikahan secara siri mempunyai madarat yang lebih besar
ketimbang maslahatnya, memang secara sarih (ekplisit) dalam dalam Al-
Quran dan Hadis tidak disebutkan persoalan pencatatan perkawinan akan
tetapi butuh pemahaman mendalam tentang esensi dari Maqasid As-Syariah


89
UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam, op., cit.
, hlm. 229


90
Fatma Amilia, op. cit., hlm. 7

yaitu untuk mencapai, menjamin dan melestrikan kemaslahatan bagi umat
manusia khususnya umat Islam.
Di sinilah kemudian perlu dicanangkan adanya skala prioritas yang
berbeda tetapi saling melengkapi; ad-daruruyyat, al-hajiyyat dan at-
tahsiniyyat. Ad-daruruyyat didefinisikan sebagai tujuan primer yakni tujuan
yang harus ada, yang ketiadaanya akan berakibat mengahancurkan kehidupan
secara total, disini ada lima kepentingan yang harus dilindungi : perlindungan
terhadap agama (hifz ad-din), jiwa (hifz an-nafs), akal (hifz al-aql), harta (hifz
al-mal), dan keturunan (hifz an-nasl), sedangkan al-hajiyyat didefinisikan
sebagai tujuan skunder dan at-tasiniyyat diartikan sebagai tujuan tertier.
91

Ketika melihat petapa pentingnya melindungi harta dan keturunan dari
sebuah keterpurukan dalam rumah tangga, maka maka pencatatan perkawinan
ini dapat digolongkan kedalam (hifz an-nasl) yakni melindungi generasi yang
lahir dalam rangka melindungi hak-haknya serta upaya melindungi terhadap
kehormatan yaitu status jelas yang dapat dibuktikan dengan akta nikah. Selain
itu juga melindungi terhadap harta dari masing-masing pasangan, demikian
juga melindungi terhadap hak anak atas peninggalan dari harta orang tuanya
inilah kemudian masuk pada (hifz al-mal). Untuk merealisaikan dari nilai
esensi Maqasid As-Syariah adalah kewajiban para ulama maupun pakar
hukum Islam dan dibantu oleh aparatur Negara untuk dapat merumuskan teori
berijtihad kiatannya dengan persoalan pencatatan perkawinan dan memasukan


91
Ibid., hlm.8
pencatatan sebagai salah satu syarat rukun nikah. Dalam hal ini ada dua
dampak dari pernikahan tersebut :
a. Dampak hukum
Dampaknya ketika suami tiba-tiba minggat, istri tidak bisa
menuntut dia dengan melaporkannya ke pengadilan. Begitupun sebaliknya,
bila istri menikah lagi dengan laki-laki lain, akan terjadi poliandri yang
tentu saja lebih berbahaya lagi, karena dilarang secara syariat.
Dampak lainnya, akibat tidak mengikuti hukum negara, si
perempuan tidak bisa menuntut hak waris, dan lainnya. Urusan talak bisa
jadi terbengkalai. Jika begini jadinya, biasanya perempuan dan anak-
anaklah yang paling menderita. Karena akta pernikahan biasanya selalu
diminta untuk melengkapi administrasi sekolah, pencatatan kelahiran, dan
keperluan lainnya.
Pencatatan pernikahan atau pembuatan akta pernikahan, secara
syariat, bukanlah rukun atau syarat yang menentukan sahnya pernikahan.
Namun adanya bukti autentik yang tertulis dapat menjadi salah satu alat
memperkuat komitmen yang dibangun oleh pasangan tersebut. Walaupun
memperkuat komitmen tidak terbatas pada aktanya, karena akta sendiri
bisa dibatalkan melalui gugatan perceraian
92
.
Sering juga dijumpai hak-hak anak-anak di keluarga yang
melakukan nikah siri terabaikan. Anak-anak yang lahir dari pernikahan siri

92
http://hukumonline.com/berita/baca/hol15651/pencatatan-nikah-akan-
memperjelas-status-hukum, diakses tanggal 14 Juli 2010

biasanya juga kesulitan mendapat akta kelahiran, sebab orang tuanya tidak
memiliki Akta Nikah. Dan yang paling pokok, nikah siri tidak dapat
disahkan oleh Negara kecuali jika akan dilakukan penetapan atau
pengesahan (Itsbat nikah).
93

Status anak yang lahir dianggap sebagai anak luar nikah, sehingga
hanya dicantumkan nama ibu yang melahirkannya. Ketidakjelasan status si
anak di muka hukum, mengakibatkan hubungan antara ayah dan anak
tidak kuat, sehingga bisa saja, suatu waktu ayahnya menyangkal bahwa
anak tersebut adalah bukan anak kandungnya. Dulu dalam peristiwa
semacam diatas kebanyakan yang menjadi korban adalah anak dan istri,
namun tidak demikian dengan sekarang, sebab perbuatan meninggalkan
keluarga tidak hanya suami tapi istripun banyak melakukan hal ini.
b. Dampak sosial
Dampak sosial yang ditimbulkan dari nikah siri ini, biasanya
sebuah pernikahan siri akan dinilai masyarakat sebagai sebuah perkawinan
yang tidak ideal dan tidak membuat suasana rumah tangga yang
harmonis.
94
Perempuan yang melakukan perkawinan bawah tangan sering
dianggap telah tinggal serumah dengan laki-laki tanpa ikatan perkawinan
(alias kumpul kebo) atau dianggap menjadi istri simpanan. Selanjutnya
status anak sebagai anak luar nikah dan tidak tercantumnya nama si ayah

93
http://www.lkts.org/pelitaonline/index.php?option=com_content&view=article&id=73
:dampak-perkawinan-bawah-tangan-bagi-perempuan&catid=81:juni-2008&Itemid=73,diakses
tanggal, 20 juli 2009

94
Ibid., 20 Juli 2009
dalam akta kelahiran akan berdampak sangat mendalam secara sosial dan
psikologis bagi si anak dan ibunya.
B. Pendapat Yang Mengatakan Nikah Siri Tidak Sah
Pendapat mahasiswa FAI UNISSULA Semarang yang lain, bahwa
pernikahan siri tidak sah alasanya di dasarkan pada QS. An-Nisa ayat 59:

' - - -` ' , - ' , , = '' , , = , - -' , - ' ' + , ' ,
=` , , ' ''' - , - -, - - - , - ' '' _ ' - - - = ' - -
- = , = = ' , ' - `
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul
(Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan
Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al
Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama
(bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa ayat 59)
95

Ahmad Musthafa Al-Maraghi menjelaskan yang dimaksud dengan
Ulil Amri adalah Pemerintah (pemimpin), baik pemerintah pusat ataupun
menerintah dibawahnya, Hakim, Ulama, dimana tugasnya adalah memelihara
kemaslahatan umat manusia. Dengan demikian aturan-aturan yang dibuat oleh
pemerintah untuk kemaslahatan manusia wajib ditaati selama aturan-aturan
tersebut tidak bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah.
96
Sedangkan
lafadz Waulil Amri Minkum Dalam ayat tersebut di atas menurut M. Malikul


95
Departemen Agama Republik Indoneia, op, cit., hlm. 114


96
Ahmad Musthafa Al-Maraghi. Tafsir Al-Maraghi. Darul Kutub al Alamiyyah. Bairut:
Jiilid 2. Juz.5. hlm 243.

Mahfud, dipahami sebagai pemerintahan yang baik tidak dzalim, sudah jelas-
jelas pemerintah menghendaki ketertiban dan kemaslahatan bagi warga
negaranya contoh kecil dalam hal rumah tangga, pemerintah sanagt
menginginkan masyarakatnya agar merasakan kebahagiaan ketentraman dan
ketertiban (Sakinah Mawadah Warrahmah)
97
. Hal senada juga disampaikan
dalam beberapa mahasiswa lain seperti Sholahuddin, Indah Permatasari,
Muhammad Heriyudanta, Taufiq Ismail dan lain-lain dalam sample penelitian
bahwa pernikahan tersebut tidak sah sebab melihat antara manfaat dan
madlaratnya lebih besar madlaratnya.
98

Berpangkal dari ayat di atas maka dapat kita pahami bahwa UU
Perkawinan No. 1 tahun 1974 dan KHI adalah produk dari pemerintah yang
mempunyai tujuan yang baik demi kemaslahatan warga negaranya, mentaati
peraturan Pemerintah dalam hal ini mencatatkan pernikahan adalah sama
halnya dengan mentaati Allah dan RasulNya, jadi sebagai bukti ketaatan maka
sebuah pernikahan harus dicatatkan. Karena pencatatan tiap-tiap perkawinan
adalah sama halnya dengan pencatatan pada peristiwa-peristiwa penting dalam
kehidupan seseoarang, misalnya kelahiran, kematian yamg dinyatakan dalam
surat-surat keterangan, suatu akta resmi yang juga di muat dalam daftar
pencatatan.
99



97
Wawancara dengan M. Mailkul Mahfud, Mahasiswa FAI Jurusan Syariah angkatan
2007. tanggal, 15 Juli 2010


98
Data Penelitian Tentang Nikah Siri. Tahun 2010


99
Mukti Arto,A., Drs., SH, Mimbar Hukum, No. 26 tahun 1996, Al-Hikmah &
DITBINBAPERA, Jakarta, 1996. hlm. 44-45

Dan juga dalam hal mencatatkan nikah, dianalogkan dengan firman
Allah SWT :
$' %!# #`# #) #? / <) _& 7F2$
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan
utang-piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu
menuliskannya....... (Qs. Al-Baqarah; 282)
100

Pencatatan itu selain manfaatnya besar, juga mendidik agar setiap
orang bertanggungjawab terhadap apa yang diperbuatnya. Pada dataran ini,
pencatatan nikah diqiyaskan pada ayat 282 al Baqarah tersebut. Sehingga
dengan adanya pencatatan nikah maka hak-hak akan terlindungi hak, baik
terhada suami maupun terhadap isteri. Hak isteri kemungkinan besar akan
diabaikan oleh suami yang pernikahannya tidak ada bukti hitam di atas
putih, demikian pula sebaliknya.
Pengqiyasan atau penganalogian pencatatan perkawinan kepada surat
al-baqarah ayat 282 tersebut d iatas tergolong qiyas aula. Qiyas aula adalah
suatu qiyas yang illatnya mewajibkan adanya hukum dan yang disamakan
(mulhaq) mempunyai hukum yang lebih utama daripada tempat
menyamakannya (mulhaq bih). Dalam hal ini perkawinan merupakan sesuatu
transaksi yang lebih besar dan lebih serius dibandingkan dengan bentuk
muamalah yang ada dalam ayat 282 surat al Baqarah tersebut.
Segala hal yang bersangkut paut dengan penduduk harus dicatat,
seperti kematian, pernikahan dan lain sebaginya. Lagi pula pernikahan

100
Departemen Agama RI, op. cit., hlm. 59
bergandengan erat dengan waris mewarisi sehingga perkawinan harus dicatat
untuk menjaga jangan sampai terjadi kekacauan, atas dasar ini maka kita dapat
melihat betapa urgensinya pencatatan perkawinan sebab pencatatan
perkawinan bertujuan agar terwujud kepastian hukum.
101
Dengan adanya
pencatatan perkawinan maka eksistensi perkawinan secara yuridis formal
diakui, dengan demikian suatu perkawinan dianggap sah apabila telah
memenuhi dua syarat, yaitu:
1. Telah memenuhi ketentuan syarat hukum matriil, yaitu telah memenuhi
syarat dan rukun menurut hukum Islam.
2. Telah memenuhi syarat hukum formal, yaitu telah dicatatkan pada Pegawai
Pencatat Nikah yang berwenang
102
.
Seperti halnya dengan pendapat pertama yang mengatakan nikah siri
sah, serta pernikahan secara siri memiliki dampak hukum dan sosial, pendapat
yang kedua-pun sama bahwa dari praktek nikah siri memiliki dampak negatif
yang besar hanya saja dampak tersebut dijadikan sebagi landasan untuk
mengatkan bahwa nikah siri tidak sah.
a. Dampak hukum
Berkaitan dengan dampak hukum dari pernikahan siri Happy
Susanto dalam bukunya Nikah Siri: Apa Untungny? Nikah siri menambah
daftar praktik diskriminasi yang dilakukan laki-laki (suami) terhadap hak-
hak perempuan. Pihak perempuan sering mendapat perlakuan kekerasan


101
Mukti Arto, op., cit., hlm.47


102
Ibid., hlm.48

dalam rumah tangga (KDRT) akibat pernikahn siri ini. Tidak hanya itu,
anak-anak juga menjadi korban pernikahn siri yang tidak bertanggung
jawab
103
.
Dampak yang sangat memukul perasaan dan nasib pihak istri
adalah segi hukumnya, yakni :
1. Istri yang telah dinikahi secara siri tidaka dianggap sebagai istri yang
sah.
Berdasarkan UU Perkawinan pasal 2 ayat 2, pernikahan harus
dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tidak
dicatatkannya pernikahn berarti menyalahi ketentuan ini, sehingga
pernikahn tersebut dianggap tidak sah dan illegal. Nikah siri yang tidak
dicattkan adalah tidak sah. Secara otomatis, dalam pernikahan yang
tidak sah, status istri dan anak-anak juga dianggap tidak sah.
Konsekuesinya, ketidaksahan pernikhahan akan berakibat secara
hukum terhadap hal-kal yang berkaitan dengan urusan pernikahan,
seperti status anak, nafkah, warisan, dan sebagainya.
2. Istri tidak berhak atas harta gono-gii jika terjadi percearaian.
Ketidakberkahan tersebut disebabakan kedudukan pernikahan
secara siri yang dianggap illegal. Konsekuensinya, suatu pernikahan
yang tidak sah berakibat pada tidak bias diperkarakan secara hukum
hal-hal yang berkenaan denngan pernikahan, termasuk dalam soal
pembagia harta gono-gini. Dalam nikah siri, harta peninggalan suami

103
Happy Susanto, op., cit., hlm. 86
adalah milik suami itu sendiri. Jika suami meninggal dunia, biasanya
keluarga suami lebih berhak atas harta peninggalan tersebut.
3. Istri dalam nikah siri tidak berhak atas nafkah, dan jika suaminya
meninggal dunia, maka dia juga tidak berhak mendapatkan warisan
dari peninggalan suaminya
104
. Begitu pula anak tidak berhak atas
nafkah dan warisan dari ayahnya.
b. Dampak sosial
Dampak sosial (hubungan kemasyarakatan) dari adanya pernikahan
siri, pada umumnya, istri sering merasa sulit dapat hidup berbaur
masyarakat dengan penuh ketenangan. Sebab, biasanya masyarkat banyak
yang membicarakan tentang status dirinya sebagai istri yang tinggal
serumah dengan laki-laki tanpa pernikahan yang sah, kadang-kadang
dianggap sebagai pasangan kumpul kebo atau kadang-kadang dicurigai
sebagai istri simpanan.
Menurut hukum perkawinan di Indonesia, akta nikah mempunyai
dua fungsi, yaitu fungsi formal dan matriil. Fungsi formal (formalitas
causa) artinya untuk lengkapnya atau sempurnanya (bukan sahnya) suatu
perkawinan, haruslah di buat Akta autentik, yakni akta nikah yang dibuat
oleh pegawai penacatat nikah. Fungsi matriil (probationis causa) disini
akta nikah mempunyai fungsi sebagi alat bukti, karena memang sejak
semula akta nikah di jadikan sebagai alat bukti. Dengan demikian maka
suatu perkawinan yang sah tidak akan sempurna jika tidak dicatatkan pada

104
Ibid, hal. 87-88

pegawai pencatat nikah yang berwenang. Dalam hal ini sesuai dengan
kaidah fiqih :
-= ,+ - ` -=,' -, ` '-
Artinya : Suatu kewajiban tidak akan sempurna jika tidak di sertai
tindakan lain, maka tindakan itu menjadi wajib pula.
Dengan demikian menyempurnakan akad nikah adalah wajib,
tetapi ia tidak sempurna tanpa adanya pencatatan. Oleh karena itu
mencatatkan perkawinan hukumnya wajib pula
105
. Mencatatkan
pernikahan merupakan sebuah upaya perlindungan terhadap hak
sedangkan melindungi hak adalah kewajiban bagi setiap manusia, apabila
kewajiban tersebut tidak dapat terlaksana dalam hal ini melindungi hak
suami, istri dan anak tidak dapat terpenuhi melainkan dengan sebuah
pencatatan maka adanya pencatatan menjadi sebuh kewajiban. Meskipun
pencatatan perkawinan secara tekstual tidak ada dalam Al-Quran dan
Hadis, bukan berarti pencatatan perkawinan sebagai sebuah hal yang
menyimpang dari ajaran Islam, tetapi pencatatan perkawinan telah selaras
dengan Maqasid As-Syariah sebab kemaslahatan yang ditimbulkan jauh
lebih besar dari madaratnya dan tentunya hal ini termasuk kategori ijtihad
terhadap hukum Islam untuk selanjutnya memasukan pencatatan sebagai
salah satu syarat dan rukun nikah.



105
Mukti Arto, op.,cit.,hlm. 49
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan dari uaraian di atas berkenaan dengan pendapat
mahasiswa FAI UNISSULA Semarang tentang nikah siri dan akibat
hukumnya dapat ditarik kesimpulan sebagai berukut:
1. Hukum nikah siri dan alasan mahasiswa FAI Unissula Semarang
Dari penelitian yang dilakukan kepada 10 % dari seluruh
mahasiswa FAI UNISSULA Semarang angkatan 2006-2009 sebagai
berikut :
a. Mayoritas mahasiswa FAI UNISSULA Semarang (75 % responden)
berpendapat bahwa nikah siri sah hukumnya, akan tetapi jika dikaitkan
dengan hukum negara maka pernikahan tersebut tidak memiliki
kekuatan hukum. Alasannya; Pertama: ketika syarat dan rukun
pernikahan telah terpenuhi seperti adanya mempelai laki-laki dan
perempuan, wali dan dua orang saksi, ijab dan qabul, maka pernikahan
menjadi sah, Kedua: berdasarkan pasal 2 ayat 1 UU Perkawinan No. 1
tahun 1974 dan pasal 4 KHI.
b. Pendapat sebagian mahasiswa FAI UNISSULA yang lain (25 %
responden) bahwa nikah siri tidak sah sebab tidak memiliki kekuatan
hukum. Alasannya karena pernikahan tersebut merupakan pelanggaran
terhadap Pemerintah (Ulil amri) sebagaimana termaktub dalam QS.
An-Nisa ayat 59, disamping sebagai pelanggaran atas ayat tersebut
pernikahan siri juga telah melanggar ketentuan pasal 2 ayat 2 UU
Perkawinan No. 1 tahun 1974, KHI pasal 5 ayat 1, dan pasal 6 ayat 2.
Argumen di atas didukung dengan analog atas ayat Al-Quran surat Al-
Baqarah ayat 282.
2. Akibat dari nikah siri adalah :
a. Pernikahan siri tidak memiliki kekuatan hukum, maka ketika suatu hari
terjadi masalah dalam keluarga tidak dapat dituntut secara hukum yang
berlaku.
b. Status anak dianggap anak luar nikah dengan ayahnya, akta kelahiran
tidak tercantum nama ayahnya, serta tidak mendapatkan warisan dari
padanya.
c. Pernikahn siri dinilai masyarakat sebagai pernikahan yang terkadang
dicurigai sebagai pasangan kumpul kebo atau dicurigai sebagai istri
simpanan.
3. Pendapat mahasiswi tentang nikah siri
Diakui atau tidak bahwa nikah siri berdampak negative terhadap
perempuan (istri). Maka, dari penelitian yang dilakukan penulis diperoleh
data kesimpulan dari 12 mahasiswi. Dimana yang menyatakan bahwa
nikah siri sah ada 11 mahasiswi dengan sisanya 1 mahasiswa menyatakan
tidak sah.
Alasan yang menyatakan bahwa nikah siri sah yaitu pernikahn tersebut
telah terpenuhi syarat dan rukunnya. Akan tetapi pernikahan tidak
mempunyai kekuatan hukum, jadi ketika dikemudian hari terjadi
perselisihan antara istri dengan suami tersebut tidak ada paying hukum
yang menjadi pegangan. Serta ketika punya anak, anak tersebut tidak dapat
mendapat warisan dari ayahnya dan juga anak tersebut tidak mempunyai
akta kelahiran yang jelas.
Sedangkan pendapat yang menyatakan nikah siri tidak sah yaitu
berpegang pada KHI pasal 6 yang menyatakan bahwa pernikahan harus
dicatatkan dan dilaksanakan dihadapan pejabat yang berwenang. Memang
secara agama sah akan tetapi hukum yang dipergunakan adalah hukum
positif dan bukan hukum Islam.
B. SARAN-SARAN
Pada dasarnya nikah siri itu sah menurut hukum Islam asalkan sudah
memenuhi syarat dan rukunnya, dan pencatatan bukan faktor yang
menentukan sah tidaknya perkawinan namun hanyalah tindakan administratif
semata yang sama halnya pencatatan-pencatatan peristiwa lainnya yang diatur
dalam peraturan perundang-undangan, maka sebagai warga negara harus
mengikuti aturan pemerintah dimana adanya peraturan yang berlaku di Negara
dan perkawinan harus dicatatkan ke KUA agar nantinya mendapatkan
kepastian dan kekuatan hukum.
Selanjutnya penyusun berharap kepada PPN ataupun KUA untuk bisa
proaktif memberikan pengarahan atau sosialisasi kemasyarakat tentang
pentingnya sebuah pencatatan perkawinan, tokoh-tokoh masyarakat jangan
membiarkan pernikahan yang dilaksanakan dengan unsur-unsur terpaksa dan
memberikan arahan agar taat dan patuh pada ulil amri, dan kepada penegak
hukum agar dapat bertindak tegas terhadap para pelaku nikah siri mengingat
dampak yang ditimbulkan. Negara juga berhak memberikan sanksi bagi orang
yang tidak mencatatkan pernikahannya kelembaga pencatatan negara yang
bentuk dan kadar sanksi tersebut diserahkan kepada khalifah dan orang yang
diberinya kewenangan.
Dalam pasal 45 ayat 1 PP Nomor 9 tahun 1975 Tentang Pelaksanaan
UU No. 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan menyebutkan sanksi hukum :
(1). Kecuali apabila ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan
yang berlaku, maka;
a. Barang siapa yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 3, 10
ayat (3), 40 Peraturan Pemerintah ini dihukum dengan hukuman denda
setinggi-tingginya Rp.7.500,-(tujuh ribu lima ratus rupiah);
b. Pegawai Pencatat yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 6,
7, 8, 9, 10 ayat (1), 11, 13, 44 Peraturan Pemerintah ini dihukum
dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda
setinggi-tingginya Rp.7.500,-(tujuh ribu lima ratus rupiah)
106
.

Selain perkawinan yang dicatatkan jauh lebih banyak
kemaslahatannya dari pada yang tidak dicatatkan seperti status hukumya jelas,
status dari seseorang menjadi jelas, bagi perempuan sebagai gadis atau janda,
dan bagi laki-laki sebagai jejaka atau duda, sudah bersuami atau belum, hal itu
dapat dilihat lewat pencatatan nikah.
Dan juga dari segi maqasid asy-syariahnya pencatatan yaitu agar
terhindarnya masyarakat dari praktik penelantaran dari salah satu pihak, baik
suami ataupun isteri juga anak-anak mereka, terhindarnya masyarakat dari
praktik poligami secara liar.

106
http://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/1700/node/195, diakses tanggal 23
Juli 2010
DAFTAR PUSTAKA


Departemen Agama RI, Al-Quan dan Terjemahnya, PT. Karya Toha Putra,
Semarang, 2002

Musthafa, Ahmad., Al-Maraghi, Tafsir Al-Maragh, Darul Kutub al Alamiyyah,
Bairut: Jiilid 2. Juz.5

Imam Muslim, Shahih Muslim, terj. KH. Adib Bisri Musthofa, Penerbit CV.
Assyifa, Semarang, 1993

Muhammad, Imam, bin Ismail al Kahlani ash Shanany, Subulus Salam, Juz III,
Sulaiman Mari, Singapura

Abdurrahman, H. SH. MH., Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Bab II Dasar-
dasar Perkawinan, pasal 2, Akademika Pressindo, Jakarta, 1995

Abdurahman, Dudung, Pengantar Metode Penelitian, Kurnia Kalam Semesta,
Yogyakarta, 2003

Abidin, Slamet. Drs.,-, Aminuddin, H., Drs., Fiqih Munakahat I, Cet. I, CV.
Pustaka setia, 1999

Amilia, Fatma, Hukama, vol. 1, Jogjakarta, Januari 2007

Arto, Mukti, A., Drs, S.H, Mimbar Hukum, Al-Hikmah & DITBINBAPERA,
Jakarta, 1996

Asmawi, Muhammad, Nikah Dalam Perbincangan Dan Perbedaan, Darussalam
Perum Griya Suryo F-10, Cetakan I, Yogyakarta, Maret 2004

Buku Panduan Fakultas Agama Islam,

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. 3,
Balai Pustaka, Jakarta, 1994

Ghazaly, Abd., Rahman, H., Dr., MA., Fiqih Munakahat, Kencana, Cet. Ke.2
Jakarta, 2006

Hakim, Rahmat, H., Drs., Hukum Pernikahan Islam, Cet.I Pustaka Setia, Bandung
2000

Hamdani, Faisal, Muhammad, M. Ag., Nikah mutah Amalisis dan Perbandingan
Hukum antara Sunni & Syiah, Gaya Media Pratama, Cetakam Pertama,
2008

Hasil Penelitian Tentang Nikah Mahasiswa FAI UNISSULA Semarang

Komaruddin, dkk, Kamus Karya Tulis Ilmiah, Bumi Aksara, Yogyakarta, 2002

Konsultasi Hukum (Nikah Siri), Tabligh, No.2, tahun VII, Jakarta, Mei 2009

Mulia, Siti, Musdah, Muslimah Reformis, Mizan Pustaka, Jakarta, 2005

Nasution, S., Prof., Dr., MA., Metode Research, Bumi Aksara, Jakarta, 2007

Nawawi, Syauqi, Sikap Islam Tentang Poligami dan Monogami, dalam
Chuzaimah T. Yanggo dan HA. Hafiz Anshary AZ(ed), Problematika
Hukum Islam Kontemporer, Pustaka, Firdaus, Jakarta, 2002

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Balai Pustaka, Jakarta, Tahun 2002

Shihab, M., Quraish, Wawasan Al-Quran: Tafsir MaudhuI atas Pelbagai
Persoalan Umat, Mizan, Bandung, 1996

Sukardi, Prof., Ph.D., Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetisi Dan
Prakteknya, Bumi Aksara, Jakarta, 2003

Supadie, Ahmad, Didiek, Bimbingan Praktis Menyusun Skripsi, Cetakan 2,
Unissula Press, Semarang, 2009

Suryabrata, Sumadi Drs, MA, BA, Ed.S, Ph.D, Metodologi Penelitian, CV.
Rajawali, Jakarta, 1987

Susanto, Happy, Nikah Siri Apa Untungnya?, Visimedia, Cet. I, Jakarta Selatan,
2007

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. Ke 4,
Balai Pustaka, Jakarta, 1993

Undang-Undang Perkawinan Di Indonesia, Arkola, Surabaya, tt.

UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam

Wawancara dengan Yunus Awaludin zaman, Mahasiswa FAI jurusan Syariah
angkatan 2007, Pada tanggal 2 Juni 2010

Wawancara dengan Muhammad Nafid, Mahasiswa FAI jurusan Tarbiyah
angkatan 2006, Pada tanggal 2 Juni 2010

Wawancara dengan Imam Nawawi Mahsiswa FAI Jurusan Syariah Angkatan
2008 dan Handif Muhtarom Mahsiswa FAI Jurusan Syariah Angkatan
2008, Tanggal 13 juni 2010

Wawancara dengan Ibnu Mufti Mahasiswa Jurusan Tarbiyah Angkatan 2008,
Tanggal 14 Juni 2010

Wawancara dengan M. Abu Yazid, Mahasiswa FAI Jurusan Syariah Angkatan
2006, Tanggal 12 juli 2010

Wawancara dengan M. Mailkul Mahfud, Mahasiswa FAI Jurusan Syariah
angkatan 2007. tanggal, 15 Juli 2010

http://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/1700/node/195, diakses tanggal 23
Juli 2010

http:/www./hukumonline.com/berita/baca/hol15651/pencatatan-nikah-akan-
memperjelas-status-hukum, diakses tanggal 14 Juli 2010

http://www.lkts.org/pelitaonline/index.php?option=com_content&view=article&i
d=73:dampak-perkawinan-bawah-tangan-bagi-perempuan&catid=81:juni-
2008&Itemid=73,diakses tanggal, 20 juli 2009

http://rubrikbahasa.wordpress.com/2010/04/04/nikah-siri/, diakses tanggal 23 Juli
2010

http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailbe
ritacetak&id_beritacetak=55359, diakses tanggal 23 Juli 2010

http://www.unissula.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=55&
Itemid=86, diakses tanggal 26 Juni 2010.

http://www.w3.org/, dikses mei 2010









DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : MIFTAKURROHMAN
NIM : 05.206.2104
Fakultas / Jurusan : Agama Islam / Syariah / Ahwal Asy-Syakhsiyah
TTL : Jepara, 20 Nopember 1987
Alamat : Ds. Klepu RT.11/02 Kec. Keling, Kab. Jepara
No. HP : 087832174830
Email : mif.wargapergerakan@gmail.com
Riwayat Pendidikan :
1. TK Kartini Klepu, Keling, Jepara, tahun 1992-1993
2. SDN. II Klepu, Keling, Jepara, tahun 1993-1999
3. MTs. N Keling, Jepara, tahun 1999-2002
4. MA. Raudlatul Ulum Guyangan, Trangkil, Pati, tahun 2002-2005
5. Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang, tahun 2006-
sekarang
Pengalaman Organisasi :
1. Pengurus OSIS MTs. Negeri Keling, tahun 2001-2002
2. Ketua Divisi Litbang UKM. KSR PMI UNISSULA, tahun 2007-2008
3. Sekjend. UKM UPI UNISSULA, tahun 2009-2010
4. Ketua Dewan Syuro UKM UPI UNISSULA, tahun 2010-sekarang
5. Sekjend. BEM FAI UNISSULA, tahun 2009-2010
6. Ketua Umum PMII Komisariat Sultan Agung Semarang, tahun 2009-2010
7. PC PMII Kota Semarang, tahun 2010-sekarang
Demikian daftar riwayat hidup ini saya buat dengan sebenarnya.

Semarang, 2 Oktober 2010
Hormat kami

Miftakurrohman