Anda di halaman 1dari 7

Heat Treatment Untuk memehami apa itu Heat Treatment maka lebih baiknya diipahami TEORI KERUSAKAN.

Suatu kerusakan dapat terjadi dalam 2 tingkatan, yaitu Kerusakan System dan Kerusakan Komponen. Kerusakan dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan komponen, peralatan atau konstruksi sehingga tidak mampu melaksanakan fungsinya secara memuaskan. Suatu komponen, peralatan atau konstruksi dikatakan rusak apabila memenuhi salah satu dari tiga kondisi berikut : 1. Secara keseluruhan (total) tidak mampu lagi dioperasikan. 2. . Masih mampu dioperasikan, tetapi tdk memuaskan atau tidak optimal 3. Kondisi mencemaskan, tidak aman atau tidak dapat diandalkan lagi.

Sumber

utama

penyebab

kerusakan,

khususnya

kerusakan

komponen

dapat

diklasifikasikan menjadi 4 kelompok besar, yaitu : 1. Kesalahan Rancangan atau Perencanaan (Design Faults). a) Bentuk dan ukuran komponen, kondisi ini biasanya ditentukan dengan analisa tegangan atau batasan geometris. b) Sifat yang berkaitan terhadap analisa tegangan tetapi sifat lain seperti ketahanan korosi harus juga dipertimbangkan. 2. Kesalahan Material (Material Faults). a) Patah Ulet (Ductile Fracture), deformasi berlebih, elastis atau plastis, terkoyak atau patah geser (tearing or shear fracture). b) Patah Rapuh (Brittle Fracture), dari cacat atau konsentrasi tegangan yang berukuran kritis. c) Patah Lelah (Fatique Fracture, siklus pembebanan, siklus regangan, siklus thermal, korosi lelah, rolling contact fatique, fretting fatique. d) Kerusakan Temperature Tinggi (creep, oksidasi, gravitasi, pelelehan lokal, melengkung). e) Peningkatan tegangan yang sangat berlebihan didalam desain. f) Statik Delayed Fracture, pertumbuhan suatu cacat di estimasi oleh kondisi lingkungan.

4. Kesalahan Proses Fabrikasi (Fabrication Faults). a. Cacat karena komposisi yang tidak sesuai (inklusi, impuritas yang bersifat rapuh, salah material). b. Cacat yang berasal dari pembuatan ingot dan coran (casting), seperti segregasi, porositas, inklusi bukan logam, dan lain-lain. c. Cacat karena proses pengerjaan (deformasi plastis lokal yang berlebihan, Delaminasi, Laps, Seams, Shatter Cracks, Hot Short Split). d. Iregulitas dan kesalahan karena kesalahan permesinan, penggerindaan atau Stapping. e. Kerusakan karena pengelasan (porositas, retak, tegangan sisa, undercut, lack of penetratio). f. Abnormalitas karena perlakuan panas (dekaburisasi, pertumbuhan butiran austenit sisa berlebih, Over Heating, burning, quench-cracking). g. Cacat karena pengerasan permukaan. h. Perakitan kurang hati-hati (Komponen saling tidak cocok, material pengotor, tegangan sisa, komponen cacat atau karena terkelupas). 4. Kesalahan Operasional (Service Faults). a. Beban berlebih atau kondisi pembebanan tidak terduga. b. Aus. c. Korosi (korosi tegangan, serangan kimiawi, korosi lelah, gravitasi, kontaminasi karena atsmosfir. d. Pemeliharaan atau perbaikan yang tidak atau kurang memadai. e. Kondisi yang tiba-tiba berubah (temperatur operasi tidak normal, vibrasi berlebihan, benturan tiba-tiba atau tidak terduga, thermal shock).

Untuk meminimalkan potensi kerusakan yang bakal terjadi dari suatu bahan diperlukan suatu proses perlakuan panas guna menambah / meningkatkan daya teknik dari bahan tersebut, proses itu disebut dengan : HEAT TREATMENT

Heat Treatment : Proses memanaskan dan mendinginkan suatu bahan untuk mendapatkan perubahan fasa (struktur) guna meningkatkan kemampuan bahan tersebut sehingga bertambah daya guna teknik dari bahan tersebut Tujuan dari Heat Treatment

Untuk mencapai struktur dan sifat mekanis yang dikehendaki dari bahan tersebut, seperti :

1. Mengeraskan 2. Melunakan 3. Menghilangkan tegangan sisa 4. Menaikan ketangguhan 5. Dll Diagram Struktur Logam dan Sifat Mekanis-nya.

Beberapa Proses Heat Treatment dan Kegunaannya Annealing Memanaskan suatu bahan hingga diatas suhu transformasi (723 C) kemudian didinginkan dengan perlahan-lahan. Tujuannya adalah untuk melunakan bahan. Stress Reliveing Yaitu proses menghilangkan tegangan sisa dari suatu bahan dengan memanaskan kemudian ditahan beberapa waktu lalu dilakukan dengan pendinginan perlahan-lahan. Tujuannya adalah untuk menghilangkan tegangan sisa selama proses fabrikasi. Hardening

Memanaskan suatu bahan hingga diatas suhu transformasi (723 C) kemudian didinginkan secara cepat, melalui media pendingin seperti air, oli atau media pendingin lainnya Tujuannya adalah untuk mengeraskan bahan. Aging (Precipitation Hardening) Proses pemanasan kembali bahan yang telah dikeraskan, Suhu pemanasannya relatif rendah yaitu dibawah suhu transformasi eutektoid. Tujuannya adalah untuk mengurangi kekerasan bahan sehingga keuletan

(ketangguhan) bahan tersebut dapat naik.

Heat Treatment Cycles for Specific Materials

ALLOY A286

SPEC AMS 5525, 5735, 5732

HEAT TREAT PER P.S. 0880 Solution and Precipitation Solution Only Precipitation Only

SECTION 9.0 9.1 9.2 10.0

TEMPERATURE AND DURATION 1800F 25F for 1 hr 1350F 25F for 16 hrs. As above As above 1750F 1325F at 100F 1150F total As above As above 1800F 25F for 1 hr. 1325F 15F for 8 hrs, FC at 100F per 1 hr to 1150F 15F, for 18 hrs. total As above As above 1800F 25F for 1 hr. 1325F 15F for 8 hrs, FC at 100F per 1 hr to 1150F 15F, for 18 hrs. total As above As above 1825F 25F for 1 hr.* 1550F 15F for 4 hrs. 1400F 15F for 16 hrs. As above As above 25F for 1 hr 15F for 8 hrs, FC per 1 hr to 15F, for 18 hrs.

COOLING RATE A.C.+ A.C.+ A.C.+ A.C.+ A.C.+ A.C.+

Inconel 718 and Tribaloy Coatings

5589, 5596, 5662

Solution and Precipitation

Solution Inconel X-750 and Tribaloy Coatings 5582, 5598, 5667, 5670 Precipitation Solution and Precipitation

10.1 10.2 11.0

A.C.+

Solution Incoloy 909 Precipitation Solution and Precipitation

11.1 11.2 11.0

A.C.+

Solution Waspaloy 5544* Precipitation Solution Stabilization and Precipitation Solution Precipitation

11.1 11.2 12.0

A.C.+ A.C.+ A.C.+

12.1 12.2

ALLOY Inconel 625 Ti Comm Pure

Inconel 718 X-750 Waspaloy Haynes 230

SPEC AMS 5599, 5666, 5401, 5581 4921, 4900, 4901, 4941, 4942, 4902 5589, 5596, 5662 5582, 5598, 5667, 5670 5544 5878 MCSA 85491

HEAT TREAT PER P.S. 0880 Stress Relieve Stress Relieve (see Ti 6-4)

SECTION 13.0 14.0

TEMPERATURE AND DURATION 1750F 25F for 1 hr. 1000F 25F for 1 hr.

COOLING RATE A.C.+ A.C.+

Inter-Stage Anneal (InProcess Only)

15.0

1800F 25F for 1 hr.

A.C.+

Anneal(In Process Only) Solution/Interstage Anneal

16.0 17.0

1950F 25F for 15 mins 2125F 25F for 5 mins

A.C.+ A.C.+

ALLOY 17-4 pH and 15-5 pH

SPEC AMS 5604, 5622, 5643 5659

HEAT TREAT PER P.S. 0880 Solution & Precipitation (only run in ABAR Furnace) Solution (only run in ABAR Furnace) Precipitation (only run in ABAR Furnace)

TEMPERATURE AND DURATION SECTION 18.0 See 18.1 and 18.2 below

COOLING RATE A.C.+

18.1 18.2 H900 H925 H1025 H1075 H1100

1900F 25F for 30 mins A.C. to below 90F 900F 10F for 1 hr. 0.1 hr 925F 10F 4 hrs. 0.25 hr 1025F 10F 4 hrs. 0.25 hr 1075F 10F for 4 hrs. 0.25 hr 1100F 10F for 4 hrs. 0.25 hr 1150F 10F for 4 hrs. 0.25 hr 1400F 25F for 1 hr.

Ti 6-4

4907, 4911, 4930, 4967, 4928, 4934, 4935, 4996, 4965

Stress Relieve Note: 1) Material machined to finished size may be stress relieved in Abar furnace #1 only. All oxide shall be removed by polishing after heat treatment. 2) Material stress relieved before final machining may be heat treated in any furnace certified by this spec. If at least .010mtl is removed from all surfaces after heat treatment.

H1150 19.0

A.C.+

Beberapa Heat Treatment Profile untuk Product Seals Sec 15.0


Temp OF

1800o F

1800 +/- 25 F

76OF 0 60 120 Time Minute

ESTIMATED TOTAL CYCLE TIME : 3 HOURS

Sec 10.0