Anda di halaman 1dari 9

A. PENGERTIAN HUKUM ACARA PIDANA Menurut Prof. Dr.

wirjono prodjodikoro, Hukum Acara pidana adalah peraturan yang mengatur tentang bagaimana cara alat-alat perlengkapan pemerintah melaksanakan tuntutan, memperoleh Keputusan pengadiian, oleh siapa Keputusan Pengadilan itu harus dilaksanakan, jika ada seseorang atau kelompok orang yang melakukan perbuatan pidana. Perbedaannya dengan Hukum pidana adalah Hukum pidana merupakan peraturan yang menentukan tentang perbuatan yang tergolong perbuatan pidana, syarat-syarat umum yang harus dipenuhi, agar suatu perbuatan dapat dikenakan sanksi pidana, pelaku perbuatan pidana yang dapat dihukum, dan macam-macam hukuman yang dapat dijatuhkan kepada pelaku perbuatan pidana. Hukum Acara Pidana memberikan petunjuk kepada aparat penegak hukum bagaimana prosedur untuk mempertahankan hukum pidana materiil, bila ada seseorang atau sekelompok orang yang disangka/dituduh melanggar hukum pidana. Hukum Acara pidana disebut Hukum pidana Formil (Formeel Strafrecht), sedang Hukum Pidana disebut sebagai Hukum pidana Materiil (Materieel strafrecht). Jadi, kedua hukum tersebuf mempunyai hubungan yang sangat erat. Hukum Acara Pidana mempunyai tugas untuk: 1. mencari dan mendapatkan kebenaran materiil; 2. memperoleh keputusan oleh Hakim tentang bersalah tidaknya seseorang atau sekelompok orang yang disangka/didakwa melakukan perbuatan pidana; 3. melaksanakan Keputusan Hakim. Dari uraian di atas dapatlah dimengerti bahwa Hukum Acara pidana tidak semata-mata menerapkan Hukum pidana. Akan tetapi lebih menitikberatkan pada proses dari pertanggungjawaban seseorang atau sekelompok orang yang diduga dan/atau didakwa telah melakukan perbuatan pidana. B. TUJUAN DAN FUNGSI HUKUM ACARA PIDANA Tujuan Hukum Acara Pidana sangat erat hubungannya dengan tujuan Hukum Pidana, yaitu menciptakan ketertiban, ketenteraman, kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat. Hukum pidana memuat tentang rincian perbuatan yang termasuk perbuatan pidana, pelaku perbuatan pidana yang dapat dihukum, dan macam-macam hukuman yang dapat dijatuhkan kepaia pelanggar hukum pidana. Sebaliknya Hukum Acara pidana mengatur bagaimana proses yang harus dilalui oleh aparat penegak hukum dalam rangka mempertahankan hukum pidana materiil terhadap pelanggarnya. Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa kedua hukum tersebut saling melengkapi, karena tanpa hukum pidana, hukum acara pidana tidak berfungsi. Sebaliknya tanpa hukum acara pidana, hukum pidana juga tidak dapat dijalankan (tidak berfungsi sesuai dengan tujuan). Fungsi dari Hukum Acara Pidana adalah mendapatkan kebenaran materiil, putusan hakim, dan pelaksanaan keputusan hakim. C. ASAS-ASAS HUKUM ACARA PIDANA Di dalam Hukum Acara Pidana dikenal adanya beberapa asas sebagai berikut. 1. Asas Peradilan Cepat, Sederhana, dan Biaya Ringan Asas ini dapat diketahui dari Pasal 14 ayat (4), 25 ayat (4), 26 ayat (4), 27 ayat (4), dan 28 ayat (4) KUHAP, Dalam pasal-pasal tersebut umumnya ditentukan bila telah lewat waktu penahanan seperti tercantum dalam ayat sebelumnya, penyidik, penuntut umum, dan hakim harus sudah mengeluarkan tersangka atau terdakwa dari tahanan demi hukum. Ketentuan tersebut mengandung konsekuensi bahwa penyidik, penuntut umum, dan hakim wajib mempercepat penyelesaian perkara, Dalam Pasal 50 KUHAP ditentukan bahwa tersangka dan terdakwa mempunyai hak-hak: a. segera diberitahukan dengan jelas tentang apa yang disangkakan kepadanya pada waktu mulai pemeriksaan (ayat (1));

b. segera perkaranya diajukan ke pengadilan oleh penuntut umum (ayat (2)); c. segera diadili oleh pengadilan (ayat (3)). Pasal 102 KUHAP ayat (1) menentukan pula bahwa penyelidik yang menerima laporan atau pengaduan tentang terjadinya peristiwa yang patut diduga sebagai peristiwa pidana wajib segera melakukan tindakan penyelidikan. Pasal 106, I07 ayat (3), 110, 138, dan 140 KUHAP menunjukkan juga keharusan tentang cepatnya penyelesaian suatu perkara pidana. 2. Asas Praduga Tidak Bersalah (Presumption of Innocence) Asas ini mengandung arti bahwa setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, dan dihadapkan di muka sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap. Asas ini termuat dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Pokok Kekuasaan Kehakiman (sekarang terdapat dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman) dan Penjelasan Umum butir 3c KUHAP. Pengertian tentang Asas Praduga Tidak Bersalah tersebut membawa makna bahwa dalam proses pelaksanaan acara pidana, tersangka atau terdakwa wajib diperlakukan sebagaimana orang yang tidak bersalah, sehingga petugas penyidik, penuntut umum, dan hakim harus memperhatikan hak-hak yang ada padanya terlebih mengenai hak asasinya benar-benar harus diperhatikan dan dilindungi. 3. Asas Oportunitas Wewenang penuntutan menjadi kekuasaan sepenuhnya penuntut umum atau jaksa. Kekuasaan untuk menuntut seseorang menjadi monopoli penuntut umum, artinya bahwa orang lain atau badan lain tidak berwenang untuk itu. Istilah lain menyatakan dominos litis ada di tangan jaksa. Dengan demikian, hakim hanya menunggu dari tuntutan jaksa untuk memeriksa suatu perkara pidana. Meskipun hakim tahu bahwa ada kasus pidana yang belum diajukan ke pengadilan, dia tidak berwenang memintanya. Berhubungan dengan kewenangan tunggalnya itu, penuntut umum atau jaksa wajib tidak melakukan penuntutan terhadap seseorang walaupun seseorang tersebut telah melakukan perbuatan pidana, dengan pertimbangan bahwa kalau penuntutan tersebut dilakukan akan merugikan kepentingan umum. Dengan kata lain, demi kepentingan umum jaksa tidak menuntut seseorang yang melakukan perbuatan pidana. Jika dirumuskan, asas oportunitas adalah asas hukum yang memberikan wewenang kepada penuntut umum untuk menuntut atau tidak menuntut dengan atau tanpa syarat seseorang atau korporasi yang telah mewujudkan perbuatan pidana demi kepentingan umum. Asas ini diatur pula dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1961 (sekarang lJndang-Undang Nomor 5 Tahun 1991) yang isinya: Jaksa Agung dapat mengesampingkan suatu perkara demi kepentingan umum. Kepentingan umum artinya adalah kepentingan negara dan masyarakat, bukan kepentingan pribadi. 4. Asas Pemeriksaan Pengadilan Terbuka untuk Umum Asas ini mengandung arti bahwa kecuali ada ketentuan lain dari hakim, sidang pengadilan terbuka untuk umum. Perkara-perkara yang diperiksa dalam sidang tertutup adalah mengenai perkara-perkara kesusilaan atau perkara pidana yang terdakwanya anak-anak. Akan tetapi, sidang yang dinyatakan tertutup ini pun jika hakim akan memutuskan harus dilakukan dalam sidang terbuka untuk umum. Apabila putusan hakim diucapkan dalam sidang tertutup, Putusan itu tidak akan berlaku karena dianggap tidak sah. Ketentuan tentang hal ini diatur dalam Pasal 18 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 (Pasal 19 ayat (1) Undang- Undang Nomor 4 Tahun 2004) dan Pasal 195 KUHAP. Pasal-pasal tersebut menentukan bahwa:

Semua putusan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum. 5. Asas Semua Orang Diperlakukan Sama di Depan Hakim Maksud asas ini adalah bahwa di depan Pengadilan kedudukan semua orang sama maka mereka harus diperlakukan sama. Ketentuan tentang asas tersebut dalam Pasal 5 ayat (1) No. 14 Tahun 1970 (Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004) menentukan bahwa Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membedabedakan orang. 6. Asas Peradilan Dilakukan oleh Hakim Karena Jabatannya dan Tetap Asas ini berarti bahwa putusan tentang salah atau tidaknya perbuatan terdakwa dilakukan oleh hakim karena jabatannya dan bersifat tetap. Istilah tetap yang dimaksud adalah bahwa hakim yang bertugas untuk memeriksa dan memutuskan perkara adalah hakim-hakim yang diangkat oleh Kepala Negara sebagai hakim tetap (Pasal 31 UndangUndang Nomor 14 Tahun 1970) (sekarang Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004). 7. Asas Tersangka dan Terdakwa Berhak Mendapat Bantuan Hukum Asas ini diatur dalam Pasal 69-74 KUHAP. Dalam pasal tersebut tersangka/ terdakwa mendapat kebebasan yang sangat luas, misalnya: a. bantuan hukum dapat diberikan sejak saat tersangka ditangkap atau ditahan; b. bantuan hukum dapat diberikan pada semua tingkat pemeriksaan; c. penasihat hukum dapat menghubungi tersangka/terdakwa pada semua tingkat pemeriksaan setiap waktu; d. pembicaraan antara penasihat hukum dan tersangka tidak didengar oleh penyidik dan penuntut umum, kecuali pada delik yang menyangkut keamanan negara; e. turunan berita acara diberikan kepada tersangka atau penasihat hukum guna kepentingan pembelaan; f. penasihat hukum berhak mengirim dan menerima surat dari tersangka/terdakwa. 8. Asas Akusator dan Inkisitor KUHAP secara tegas menganut asas akusator. Hal ini dapat dilihat dari adanya kebebasan yang diberikan kepada tersangka/terdakwa, khususnya untuk mendapat bantuan hukum. Dengan diberinya bantuan hukum pada si tersangka/terdakwa pada semua tingkat pemeriksaan berarti KUHAP tidak lagi membedakan status tersangka/terdakwa pada pemeriksaan pendahuluan dan pemeriksaan di depan sidang pengadilan. Asas akusator memberikan kedudukan sama pada tersangka/terdakwa terhadap penyidik/penuntut umum ataupun hakim, oleh karena dalam pemeriksaan tersangka/terdakwa merupakan subjek, bukan lagi sebagai objek pemeriksaan. Lain halnya dengan asas inkisitor yang menjadikan si tersangka objek dalam pemeriksaan pendahuluan. Asas ini dianut oleh HIR, waktu itu tersangka hanya dijadikan alat bukti, karena biasanya diharapkan pengakuannya. 9. Asas Pemeriksaan Hakim yang Langsung dan dengan Lisan Asas ini berarti bahwa pemeriksaan sidang pengadilan dilakukan oleh hakim secara lisan dan langsung terhadap terdakwa maupun para saksi. Inilah perbedaan antara acara pidana dan acara perdata. Ketentuan tentang asas tersebut diatur dalam Pasal 154 dan 155 KUHAP. Pengecualian dari asas ini adalah dengan diputuskannya suatu perkara tanpa hadirnya terdakwa, yaitu putusan in absentia. Pemeriksaan dengan in absentia sering terjadi pada acara pemeriksaan perkara korupsi, narkotika, tindak pidana ekonomi, dan subversi (tindak pidana khusus). Dalam tindak pidana khusus ini yang menjadi penyidik adalah aparat kejaksaan.

D. PIHAK.PIHAK DALAM HUKUM ACARA PIDANA Pihak-pihak yang turut serta dalam proses pelaksanaan Hukum Acara Pidana adalah sebagai berikut. 1. Tersangka dan Terdakwa Tersangka adalah seseorang yang karena perbuatannya atau keadaannya berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku perbuatan pidana (Pasal 1 butir 14 KUHAP). Terdakwa adalah seorang tersangka yang dituntut, diperiksa, dan diadili di sidang pengadilan (Pasal 1 butir 15 KUHAP). Tersangka mempunyai hak-hak sejak mulai ia diperiksa. Salah satu hak tersangka adalah hak untuk memilih menjawab atau tidak menjawab pertanyaan penyidik. Hak ini merupakan pencerminan dari asas akusator. Namun, hal ini menimbulkan banyak pro dan kontra di antara para sarjana ahli. Jika hak itu adalah hak terdakwa berarti hak untuk memilih menjawab atau tidak menjawab pertanyaan penuntut umum atau pertanyaan hakim. KUHAP dalam hal ini memang tidak menyebut dengan tegas bahwa terdakwa mempunyai hak untuk berdiam diri. Akan tetapi, dalam Pasal 52 KUHAP dikatakan bahwa dalam pemeriksaan di tingkat penyidikan dan pengadilan, tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas, maksudnya tersangka atau terdakwa tidak boleh dipaksa atau ditekan. Jadi, tidak secara tegas dinyatakan apakah tersangka atau terdakwa boleh berdiam diri pada waktu diperiksa. Apabila asas ini dianut oleh KUHAP akan sangat menghambat proses pemeriksaan, sehingga akibatnya asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan tidak terpenuhi. Hak-hak lain yang ada pada tersangka/terdakwa adalah hak-hak yang diatur dalam Pasal 50-68 KUHAP. 2. Penuntut Umum (Jaksa) Penuntut Umum adalah lembaga yang baru ada setelah HIR berlaku. Sebelum itu belum ada penuntut umum, yang ada adalah magistrate yang masih berada di bawah residen atau asisten residen. Tetapi setelah HIR berlaku, penuntut umum ada dan berdiri sendiri di bawah procureur generaal. Lembaga ini (penuntut umum) asal mulanya dari Prancis, kemudian dianut oleh Belanda dan melalui asas konkordansi berlaku juga di Indonesia. Sebagai penuntut umum tertinggi adalah jaksa agung. Jaksa agung pertama diangkat oleh presiden tanggal 19 Agustus 1945. Fungsi dan wewenang jaksa agung diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1947, kemudian dicabut dan diganti dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1948, dan ini pun tidak pernah berlaku. Peraturan yang efektif untuk mengatur wewenang Jaksa Agung dan Kejaksaan adalah Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1961 (sekarang Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1991). 3. Penyidik dan Penyelidik Penyidik adalah pejabat polisi negara RI atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan (butir 1 Pasal 1 KUHAP). Penyelidik adalah pejabat polisi negara RI yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk melakukan penyelidikan (butir 4 Pasal 1 KUHAP). Penyidik terdiri dari pejabat polisi negara dan pegawai negeri yang diberi wewenang khusus untuk melakukan penyidikan, sedangkan penyelidik hanya dilakukan oleh pejabat polisi negara saja. Pangkat seorang penyidik menurut PP No.27 Tahun 1983 serendah-rendahnya Pelda (Pol) untuk polisi, dan Pengatur Muda Tingkat I (Golongan II B) untuk pegawai negeri sipil yang diberi wewenang untuk itu. Pengecualiannya adalah bila di suatu tempat tidak ada polisi yang pangkatnya Pelda, yang bertugas sebagai Penyidik adalah Komandan Sektor yang berpangkat Bintara di bawah Pembantu Letnan Dua (Pelda) polisi karena jabatannya.

Penyidik pejabat polisi diangkat oleh Kepala Kepolisian RI. Penyidik dari pegawai negeri sipil diangkat oleh menteri kehakiman atas nama departemen yang membawahkan pegawai tersebut. 4. Penasihat Hukum Penasihat hukum adalah seseorang yang membantu tersangka atau terdakwa sebagai pendamping dalam pemeriksaan penasihat hukum adalah istilah baru yang sebelumnya dikenal dengan istilah pembela, pengacara, advokat, dan procurer (Pokrol). Sebagai pihak dalam perkara ada perbedaan antara penuntut umum, hakim di satu pihak dengan penasihat hukum di Pihak lain. Penuntut umum bertolak dari posisi dan penilaiannya yang subjektif dan objektif. Menurut posisinya sebagai wakil negara dia subjektif, tetapi dalam penilaiannya dia selalu objektif. Hakim menurut posisinya objektif dan penilaiannya pun objekiif. Penasihat hukum sebagai pendimping tersangka/terdakwa Posisinya seolah-olah adalah subjektif dan penilaiannya pun subjektif karena ia berpihak pada kepentingan kliennya. Penasihat hukum sudah diperkenankan menghubungi tersangka/terdakwa sejak kliennya ditangkap dan disidik, tetapi dia tidak boleh menyalahgunakan haknya tersebut. Dia harus memperhatikan etika, menjunjung tinggi Pancasila, hukum, dan keadilan. E. PROSES PELAKSANAAN ACARA PIDANA Proses pelaksanaan acara pidana terdiri atas tiga tingkatan, yaitu sebagai berikut. 1. Pemeriksaan Pendahuluan Pemeriksaan pendahuluan adalah tindakan penyidikan terhadap seseorang atau sekelompok orang yang disangka melakukan perbuatan pidana. Dalam taraf ini, penyidik berusaha mengumpulkan buktibukti yang lengkap untuk mengetahui dan memperkuat persangkaan tersebut. Menurut ketentuan Pasal 6 KUHAP, penyidikan dilakukan oleh: 1. Pejabat polisi negara RI, dan 2. Pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang. Penyidikan kecuali dilakukan oleh penyidik dapat juga dilakukan oleh penyidik (BAP) tentang penyidikan penuntut umum atau jaksa pembantu (Pasal 10 KUHAP). Penyidik berkewajiban membuat berita acara yang telah dilakukan dan menyerahkannya kepada (Pasal 8 ayat (2) KUHAP). Apabila penyidikan belum selesai seluruhnya, penyidik dapat menyerahkan berkas perkara saja. Jika penyidikan telah selesai seluruhnya, penyidik menyerahkan berkas perkara dan barang-barang bukti sekaligus menyerahkan tanggung jawab atas tersangka dan barang-barang bukti tersebut kepada penuntut umum (Pasal 8 ayat (3) KUHAP). Untuk melaksanakan tugas penyidikan, penyidik mempunyai wewenang tertentu seperti diatur dalam Pasal 7 KUHAP, yaitu 1. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana, 2. melakukan tindakan pertama pada saat terjadinya peristiwa pidana di tempat kejadian, 3. menyuruh berhenti seseorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka, 4. melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan, 5. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat-surat, 6. mengambil sidik jari dan memotret seseorang, 7. mengambil seseorang untuk diperiksa sebagai tersangka atau sebagai saksi, 8. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dan sehubungan dengan pemeriksaan yang sedang dilakukan, 9. mengadakan penghentian penyidikan, dan 10. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

2. Pemeriksaan dalam Sidang Pengadilan Pemeriksaan dalam sidang pengadilan terjadi setelah ada penuntutan dari jaksa atau penuntut umum, yaitu penyerahan berkas perkara dengan permohonan agar diperiksa dan diputuskan oleh hakim dalam sidang pengadilan (butir 7 Pasal 1 KUHAP). Setelah ketua pengadilan menerima pelimpahan berkas perkara, segera mengadakan pemeriksaan dan mempelajari apakah benar berkas perkara yang dilimpahkan itu termasuk dalam wilayah hukumnya. Apabila benar, ketua pengadilan negeri tersebut segera menunjuk hakim (majelis hakim) untuk menetapkan hari sidang (Pasal 152 ayat (1) KUHAP). Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 50 ayat (3) KUHAP, bahwa terdakwa berhak segera diadili agar perkaranya segera selesai dan dapat putus, apalagi bila terdakwa dalam tahanan, sebab hal tersebut berkaitan erat dengan batas waktu permohonan terdakwa. Acara pemeriksaan dalam sidang pengadilan menurut KUHP dibedakan menjadi tiga jenis acara, yaitu sebagai berikut. 1. Acara pemeriksaan biasa diatur dalam Pasal 152 sampai dengan 202 KUHAP. 2. Acara pemeriksaan singkat diatur dalam Pasal 203 sampai dengan 204 KUHAP. 3. Acara pemeriksaan cepat diatur dalam Pasal 205 sampai dengan 216 KUHAP Acara pemeriksaan cepat dirinci lagi menjadi dua: a. acara pemeriksaan perbuatan pidana ringan diatur dalam Pasal 205 sampai dengan 210 KUHAP. b. acara pemeriksaan perkara pelanggaran lalu lintas diatur dalam Pasal 211 sampai dengan 216. 3. Putusan Hakim Pidana Setelah pemeriksaan dalam sidang pengadilan selesai, Hakim memutuskan perkara yang diperiksa itu. Putusan pengadilan atau putusan hakim dapat berupa hal-hal berikut. 1. Putusan bebas bagi terdakwa (Pasal 191 ayat (1) KLIHAP). Putusan bebas ini diambil oleh hakim apabila peristiwa yang disebut dalam surat tuduhan, baik sebagian maupun seluruhnya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. 2. Pelepasan terdakwa dari segala tuntutan (Pasal 191 ayat (2) KUHAP). Putusan pelepasan terdakwa dari segala tuntutan hukum ditetapkan oleh hakim karena meskipun peristiwa yang dimuat dalam tuduhan terbukti, tetapi tidak merupakan kejahatan atau pelanggaran (ontslag van alle rechtsvervolging). Putusan demikian dapat pula diambil oleh hakim dengan alasan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 44, 48, 49, 50, dan 51 KUHAP. 3. Penghukuman terdakwa (Pasal 193 (1) KUHAP). Apabila hakim berkeyakinan bahwa semua tuduhan terbukti merupakan kejahatan atau pelanggaran dan terdakwa sebagai pelakunya, hakim memutuskan menjatuhkan hukuman kepada terdakwa, kecuali bila terdakwa belum berumur 16 tahun. Apabila terdakwa belum berumur 16 tahun, hakim berdasarkan Pasal 45 KUHAP leluasa untuk memilih satu di antara tiga macam tindakan trhadapnya, yaitu sebagai berikut: a. menjatuhkan hukuman; b. menyerahkan terdakwa kepada orang tuanya atau walinya; c. menyerahkan kepada Pemerintah agar terdakwa dipelihara dalam tempat pendidikan sampai umur 18 tahun. Putusan hakim harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum (Pasal 195 KUHAP). Pada prinsipnya putusan hakim diucapkan dengan hadirnya terdakwa, kecuali undang-undang menentukan lain. Setelah memutuskan perkara yang diperiksa, hakim segera memberi tahu tentang hak-hak terdakwa. Putusan hakim dapat dieksekusi bila telah mempunyai kekuatan hukum tetap, yaitu telah diterima oleh para pihak yang beperkara. 4. Upaya Hukum

Pengertian upaya hukum adalah hak terdakwa atau penuntut umum untuk menolak putusan pengadilan, dengan tujuan untuk memperbaiki kesalahan yang dibuat oleh instansi sebelumnya atau untuk kesatuan dalam peradilan. Ada dua macam upaya hukum, yaitu sebagai berikut. a. Upaya hukum biasa Mengenai hal ini dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan banding dan pemeriksaan kasasi. 1. Pemeriksaan banding diatur dalam pasal 67 KUHAP Dalam pasal tersebut ditentukan bahwa terdakwa atau penuntut umum berhak untuk meminta banding terhadap putusan pengadilan, kecuali terhadap putusan bebas atau putusan lepas dari segala tuntutan hukum, karena kurang tepatnya penerapan hukum dan putusan pengadilan dalam acara cepat. Acara pemeriksaan banding diatur dalam pasal 233 sampai dengan 243 KUHAP. Permintaan banding diajukan kepada Panitera pengadilan Negeri dalam jangka waktu 7 hari setelah putusan pengadilan ditetapkan dan diberitahukan kepada terdakwa yang tidak hadir dalam sidang (pasal 233 ayat (2). Permintaan banding dapat dicabut oleh pemohon sebelum diputuskan oleh Hakim Pengadilan Tinggi tetapi seelah dicabut tidak boleh diajukan lagi. Pengadilan Tinggi memeriksa dan memutuskan perkara dengan tiga orang Hakim Tinggi. Putusan Pengadilan Tinggi dapat berupa: a) menguatkan Putusan Pengadilan Negeri, b) mengubah Putusan Pengadilan Negeri, dan c) membatalkan Putusan Pengadilan Negeri. 2) Pemeriksaan kasasi Pemeriksaan kasasi diatur dalam Pasal 244 sampai dengan 258 KUHAP. Dasar hukum diadakannya pemeriksaan kasasi adalah Pasal 10 ayat (3) undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 menentukan bahwa terhadap putusan-putusan yang diberikan tingkat akhir oleh pengadilan-pengadilan lain, kasasi dapat diminta kepada Mahkamah Agung (sekarang diatur dalam pasal 11 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004). Hak terdakwa dan penuntut umum untuk kasasi diatur dalam Pasal 244 KUHAP. Permohonan kasasi dapat diminta kepada panitera pengadilan yang memutus tingkat pertama dalam jangka waktu 14 hari setelah putusan diberitahukan kepada terdakwa (Pasal 245 ayat (1) KUHAP). Permohonan kasasi dapat dicabut sebelum ada putusan Mahkamah Agung, tetapi setelah dicabut tidak boleh diajukan lagi (Pasal 247 KUHAP). Hakim Agung, bila perlu untuk kepentingan pemeriksaan Mahkamah Agung, dibenarkan mendengarkan keterangan langsung dan terbuka dari saksi maupun penuntut umum. Putusan Mahkamah Agung dapat berupa: a) menolak Permohonan kasasi, atau b) mengabulkan permohonan kasasi. Penolakan kasasi karena berbagai hal: a) aturan hukum tidak diterapkan sebagaimana mestinya dalam pemeriksaan sebelumnya; b) acara pelaksanaan pengadilan tidak dijalankan menurut ketentuan undang-undang; c) hakim yang memeriksa dalam pengadilan sebelumnya tidak berwenang. b. Upaya hukum luar biasa Dalam upaya hukum luar biasa ada dua macam pemeriksaan kasasi, yaitu 1) pemeriksaan kasasi demi kepentingan hukum, dan 2) pemeriksaan kasasi tentang peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

Kasasi demi kepentingan hukum Pada kasasi ini Mahkamah Agung mendapat data dari Jaksa Agung, karena dialah yang melaporkan atau meminta kasasi. Sebelumnya, Jaksa Agung menerima laporan dari kejaksaan yang menurut pandangan mereka ada keputusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetapi perlu dimintakan kasasi demi kepentingan umum. Bertolak dari laporan tersebut, Jaksa Agung dapat mengetahui adanya putusan pengadilan yang perlu dimintakan kasasi. Kasasi demi kepentingan hukum diatur dalam Pasal 259 sampai dengan 262 KUHAP. Putusan Mahkamah Agung dalam kasasi tersebut tidak boleh merugikan pihak yang berkepentingan (Pasal 259 KUHAP). 5. Pelaksanaan Putusan Pengadilan Menurut ketentuan Pasal 14 huruf f KUHAP, penuntut umum berwenang untuk melaksanakan putusan hakim. Sejalan dengan ketentuan tersebut, Pasal 270 KUHAP menentukan bahwa jaksa atau penuntut umum adalah pelaksana putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Sehubungan dengan hal itu, panitera pengadilan berkewajiban segera mengirimkan keputusan pengadilan itu kepada jaksa (Pasal 197 ayat (3)). Setelah semua isi putusan yang termuat dalam surat keputusan pengadilan itu selesai dieksekusi oleh jaksa/penuntut umum, penuntut umum masih berwenang dalam hal pelepasan bersyarat untuk: a) melakukan pengawasan apakah persyaratan umum dipenuhi atau tidak, misalnya Persyaratan istimewa; b) memberikan pendapat (rekomendasi) kepada Menteri Kehakiman dalam hal memutuskan pemberian serta pencabutan pelepasan bersyarat dan selanjutnya turut mengawasi terpidana selama menjalani hukuman bersyarat. 6, Alat-Alat Bukti Perkara Pidana Tentang alat-alat bukti dalam perkara pidana diatur dalam Pasal 184 KUHAP. Pasal tersebut menentukan bahwa alat-alat bukti dalam perkara pidana adalah 1. keterangan saksi, 2. keterangan ahli, 3. surat, 4. petunjuk, 5. keterangan terdakwa, 6. novum (bukti-bukti baru, dalam pengajuan PK), dan 7. kasus-kasus aktual, seperti kasus PK Tomy yang ditolak. Keterangan saksi sebagai alat bukti adalah apa yang dinyatakan saksi di sidang pengadilan. Keterangan saksi harus lebih dari satu orang saksi agar dapat digunakan sebagai alat bukti. Keterangan ahli adalah apa yang dinyatakan oleh seorang ahli di sidang pengadilan (Pasal 186 KUHAP). Surat sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah. Surat itu adalah. a. berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialami sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangan itu; b. surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan;

c. surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi darinya; d. surat lain yang hanya dapat berlaku jika berhubungan dengan isi dari alat pembuktian yang lain. Petunjuk adalah perbuatan, kejadian, atau keadaan yang karena kesesuaian, baik antara yang satu dan yang lain maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya. Petunjuk sebagaimana yang dimaksud di atas dapat diperoleh dari keterangan saksi, surat, dan keterangan terdakwa. Keterangan terdakwa adalah apa yang terdakwa nyatakan di sidang pengadilan, tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri. Keterangan terdakwa hanya dapat digunakan untuk dirinya sendirL