P. 1
1-untuk dosen

1-untuk dosen

|Views: 213|Likes:
Dipublikasikan oleh Kasim Muhammad

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Kasim Muhammad on Mar 28, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2015

pdf

text

original

HASIL PENELITIAN JUDUL PENELITIAN : UJI EFEK EKSTRAK TIDAK LARUT N-HEKSAN DAUN PARANG ROMANG (Boehmeria virgata

(Forst) Guill) TERHADAP AKTIVITAS IMUNOGLOBULIN G MENCIT JANTAN (Mus musculus) : MUHAMMAD KASIM : N111 06 059 : Prof.Dr. rer.nat. Hj. Marianti A. Manggau., Apt. : Subehan, S. Si., M. Pharm. Sc., Ph.D., Apt.

NAMA STAMBUK PEMBIMBING UTAMA PEMBIMBING PERTAMA

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian efek ekstrak tidak larut n-heksan daun parang romang (Boehmeria virgata (forst) Guill) terhadap aktivitas Imunoglobulin G (IgG) pada mencit jantan (Mus musculus) dengan menggunakan metode hemaglutinasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek ekstrak tidak larut n-heksan daun parang romang terhadap aktivitas Imunoglobulin G (IgG) mencit jantan. Sebanyak 15 ekor mencit yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan, masing-masing kelompok terdiri dari 3 ekor. Kelompok I adalah kelompok kontrol negatif yang diberi air suling, kelompok II, III, IV, dan V adalah kelompok perlakuan yang diberi ekstrak tidak larut n-heksan daun parang romang dengan konsentrasi berturut-turut 0,25%, 0,5%, 0,75%, dan 1%. Pemberian dilakukan secara peroral dengan volume pemberian 1 ml /30 gram BB mencit. Setiap hewan diimunisasi dengan sel darah merah domba (SDMD) 2 % v/v secara intraperitoneal sebanyak 1 ml/30g BB mencit. Pengamatan aktivitas immunoglobulin G (IgG) dilakukan pada hari kesepuluh dengan menggunakan metode hemaglutinasi titer antibodi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ekstrak tidak larut n-heksan dapat meningkatkan aktivitas imunoglobulin G (IgG) lebih tinggi dari kelompok kontrol, dan ini dibuktikan dengan analisis statistik dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan hasil yang diperoleh menunjukkan sangat signifikan (p>0,01) yang dilanjutkan dengan Uji Beda Jarak Nyata Duncan. Hasil terbaik peningkatan Imunoglobulin G (IgG) adalah ekstrak tidak larut n-heksan konsentrasi 0,75%b/v. ABSTRACT A research about the effect of insoluble n-hexane parang romang leaves extract (Boehmeria virgata (forst) Guill.) for the immunoglobulin G (IgG) activity of of male mice (Mus musculus) by hemaglutination method had been done. The research was aimed to determine the effect of insoluble n-hexane parang romang leaves extract for the immunoglobulin G (IgG) activity of male mice. The 15 mice was divided into 5 treatment groups, each group consist of 3 mice. The first group as negative control that was only aquadest, groups II, III, IV, and V as treatment group was given insoluble n-hexane parang romang leaves extract with

concentration respectively 0,25% w/v, 0,5% w/v, 0,75% w/v, and 1% w/v . Administrations were orally in a dose of 1 ml/ 30 gram of body weight. Each animal was immunized with Sheep Red Blood Cells (RBC) 2% intraperitonially in a dose 1 ml/ 30 g body weight. Evaluation of IgM activity was conducted at the day 10th after immunization, using hemagglutinating antibody titter (HAT) method. The result of the research showing that insoluble n-hexane parang romang leaves extract can increase immunoglobulin G activities more than negative control, and it was proved with statistic analisys Completely Randomized Design (CRD) and the result is very significant, (p>0,01), and continued by Duncan Multiple Range Test (DMRT). The most optimum result ummunoglobulin G (IgG) is insoluble n-hexane parang romang leaves extract with concentration 0,75% w/v. BAB I PENDAHULUAN Imunitas adalah resistensi terhadap penyakit terutama penyakit infeksi. Gabungan sel, molekul dan jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi disebut sistem imun dan reaksi yang dikoordinasi sel-sel dan molekul-molekul terhadap mikroba dan bahan lainnya disebut respon imun. Sistem imun diperlukan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup. Sel-sel sistem imun tersebar di seluruh tubuh dan ditemukan di dalam sumsum tulang, timus darah, kelenjar getah bening, limpa, saluran napas, saluran cerna, saluran kemih dan jaringan (1). Antibodi adalah bahan larut digolongkan dalam protein yang disebut globulin dan sekarang dikenal dengan imunoglobulin. Tergantung dari jenis antigennya, dapat disintesa dan dilepaskan 5 tipe antibodi atau imunoglobulin, yakni tipe A, D, E, G, dan M yang singkatnya dinamakan IgA, IgD, IgE, IgG, dan IgM. IgM adalah antibodi pertama yang dibentuk dalam respon imun. IgM dibentuk paling dahulu pada respon imun primer dibanding dengan IgG, karena itu kadar IgM yang tinggi merupakan petunjuk adanya infeksi dini. Bilamana antigen asing dikenalkan ke dalam hospes untuk pertama kalinya, sintesis antibodi IgM mendahului IgG. Namun kadar antibodi IgM mencapai puncaknya dalam beberapa hari, dan kemudian menurun lebih cepat dari kadar antibodi IgG (1,2,3). Saat ini kita mengenal berbagai bahan yang dinyatakan dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit yang disebut sebagai imunostimulator. Bahan-bahan herbal yang digunakan sebagai imunostimulan antara lain Morinda citrifolia, Centella asiatica, jamur Maitake, Echinacea dan Phyllanthus sp. Bahan-bahan tersebut dipercaya memiliki berbagai khasiat yang menguntungkan bagi kesehatan (4). Tanaman Parang Romang (Boehmeria virgata (Forst) Guill) termasuk dalam suku Urticaceae. Daunnya sering digunakan sebagai obat kanker oleh masyarakat daerah Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Menurut Joharman (2010), fraksi etil asetat dan fraksi n-heksan daun Parrang

Romang mampu meningkatkan ekspresi TNF-α (5). Manggau, dkk (2007) meneliti bahwa ekstrak metanol daun Parrang Romang konsentrasi 0,5% dapat menaikkan jumlah limfosit secara signifikan (6). Limfosit yang merupakan 20% dari semua leukosit dalam sirkulasi darah orang dewasa terdiri dari sel-T dan sel-B, merupakan kunci pengontrol sistem imun (1). Permasalahan yang kemudian timbul adalah apakah benar ekstrak tidak larut n-Heksan daun Parang Romang (Boehmeria virgata (Forst) Guill) mampu meningkatkan aktivitas IgG. Untuk itu, akan dilakukan penelitian uji efek ekstrak tidak larut n-Heksan daun Parang Romang (Boehmeria virgata (Forst) Guill) terhadap aktivitas IgG pada mencit jantan (Mus musculus) yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak tidak larut n-Heksan daun Parang Romang (Boehmeria virgata (Forst) Guill) dengan menggunakan metode uji hemaglutinasi yang hasilnya diperoleh dengan melihat pengenceran tertinggi dari serum yang masih menunjukkan aglutinasi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi tentang kemampuan ekstrak tidak larut n-Heksan Parang Romang (Boehmeria virgata (Forst) Guill) dalam meningkatkan sistem imun, khususnya imunoglobulin G (IgG). BAB II PELAKSANAAN PENELITIAN II.1 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan adalah mikropipet 25 µL, mikropipet 50 µL, inkubator, sumur mikrotiter tipe U (Well plate 96 lubang), sentrifuge (Hettich), timbangan analitik (Dragon 303), timbangan gram (O’hauss), timbangan hewan (Denver), kompor listrik, rotavapor (Buchi), dan shaker rotator (Health). Bahan yang digunakan adalah daun tanaman B. virgata; metanol; n-heksan; mencit jantan (Mus musculus), air suling (aqua destillata), Alkohol 70%, kapas, larutan Phosphate Buffered Saline (PBS), dan Sel Darah Merah Domba (SDMD). II.2 Penyiapan Sampel Sampel daun Parang Romang diambil Di Desa Parang, Malino, Kabupaten Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan. Daun Parang Romang dicuci bersih dan dikering anginkan di udara terbuka. Setelah kering, daun tersebut diserbukkan. Selanjutnya, diekstraksi secara maserasi dengan metanol selama 3 x 24 jam, proses maserasi diulangi sebanyak 5 kali. Filtrat dikumpulkan lalu diuapkan dengan rotavapor hingga diperoleh ekstrak metanol kental. Ekstrak metanol yang diperoleh dipartisi secara cair padat dengan menggunakan pelarut n-heksan hingga didapatkan ekstrak larut n-heksan dan ekstrak tidak larut n-heksan. II.3 Pembuatan Bahan Penelitian II.3.1 Pembuatan Phosphat Buffered Saline (PBS) (7). Phosphat Buffered Saline (PBS) dibuat dengan cara mencampurkan larutan I yaitu larutan Na2HPO4.H2O 1,3 g/l dan NaCl 8,3

g/l sebanyak 280 ml dengan larutan II yaitu larutan NaH2PO4 1,42 g/l dan NaCl 8,5 g/l sebanyak 720 ml sampai diperoleh PBS dengan pH 7,2. II.3.2 Pembuatan Suspensi Sel Darah Merah Domba (SDMD) 2% (7). Sebanyak 1 mL darah domba ditampung dalam tabung yang bersih dan telah dikeringkan yang berisi dengan 1 mg EDTA yang berfungsi sebagai antikoagulan. Kemudian disentrifuge dengan kecepatan 1500 rpm untuk memisahkan sel darah merah domba dari plasmanya. Sel darah merah domba yang didapatkan dicuci dengan penambahan sejumlah besar Phosphat Buffered Saline (PBS) dalam tabung, lalu tabung tersebut dibolak-balik beberapa kali, setelah itu disentrifuge kembali. Pencucian dilakukan paling sedikit 3 kali. Setelah disentrifuge, PBS dikeluarkan sehingga yang tertinggal adalah Sel Darah Merah Domba (SDMD), lalu ditambahkan lagi PBS dengan jumlah yang sama hingga diperoleh suspensi SDMD 50%. Sebanyak 1 ml SDMD 50% diencerkan dengan 24 ml PBS hingga diperoleh suspensi antigen (SDMD 2% v/v). II.4 Pemilihan dan Penyiapan Hewan Uji Hewan uji yang digunakan adalah mencit jantan (Mus musculus) yang sehat dengan bobot badan 20 - 30 g, sebanyak 15 ekor yang masing-masing dibagi dalam 5 kelompok perlakuan, untuk melihat aktivitas IgG. Perlakuan I (kontrol air suling), perlakuan II (ekstrak tidak larut n-Heksan 0,25%), perlakuan II (ekstrak tidak larut n-Heksan 0,5%), perlakuan IV (ekstrak tidak larut n-Heksan 0,75 %), dan perlakuan V (ekstrak tidak larut n-Heksan 1 %) II.5 Pengujian Aktivitas IgG Pada Hewan Uji II.5.1 Perlakuan Terhadap Hewan Uji a. Kelompok I (Kontrol) Mencit jantan diimunisasi dengan 1 mL SDMD 2 % secara intraperitoneal. Satu hari setelah imunisasi diberi air suling 1 mL/30 g bobot badan mencit secara oral setiap hari selama 9 hari. Pada hari kesepuluh setelah imunisasi, darah mencit jantan diambil secara intrakardial untuk mengetahui aktivitas IgG. b. Kelompok II Mencit jantan diimunisasi dengan 1 mL SDMD 2 % secara intraperitoneal. Satu hari setelah imunisasi diberi ekstrak tidak larut nHeksan daun Parang Romang dengan konsentrasi 0,25% b/v dengan 1 mL/30 g bobot badan mencit secara oral setiap hari selama 9 hari. Pada hari kesepuluh setelah imunisasi, darah mencit jantan diambil secara intrakardial untuk mengetahui aktivitas IgG. c. Kelompok III Mencit jantan diimunisasi dengan 1 mL SDMD 2 % secara intraperitoneal. Satu hari setelah imunisasi diberi seduhan ekstrak tidak larut n-Heksan daun Parang Romang dengan konsentrasi 0,5% b/v dengan 1 mL/30 g bobot badan mencit secara oral setiap hari selama 9 hari. Pada hari kesepuluh setelah imunisasi, darah mencit jantan diambil secara intrakardial untuk mengetahui aktivitas IgG.

d. Kelompok IV Mencit jantan diimunisasi dengan 1 mL SDMD 2 % secara intraperitoneal. Satu hari setelah imunisasi diberi ekstrak tidak larut nHeksan daun Parang Romang dengan konsentrasi 0,75% b/v dengan 1 mL/30 g bobot badan mencit secara oral setiap hari selama 9 hari. Pada hari kesepuluh setelah imunisasi, darah mencit jantan diambil secara intrakardial untuk mengetahui aktivitas IgG. e. Kelompok V Mencit jantan diimunisasi dengan 1 mL SDMD 2 % secara intraperitoneal. Satu hari setelah imunisasi diberi ekstrak tidak larut nHeksan daun Parang Romang dengan konsentrasi 1% b/v dengan 1 mL/30 g bobot badan mencit secara oral setiap hari selama 9 hari. Pada hari kesepuluh setelah imunisasi, darah mencit jantan diambil secara intrakardial untuk mengetahui aktivitas IgG. II.5.2 Pengambilan Sampel Darah Hewan Uji Sampel darah hewan uji diambil pada hari kesepuluh setelah imunisasi secara intrakardial dan diletakkan pada suhu kamar selama 1-2 jam hingga darah tersebut membeku/menggumpal lalu disentrifuge selama 10 menit dengan kecepatan 3000 rpm kemudian diambil serumnya (supernatan). II.6 Uji Hemaglutinasi (7) Serum yang diperoleh lalu diencerkan secara “double dilution” dengan Phosphat Bufferred Saline (PBS) dengan perbandingan 1/4, 1/8, 1/16, 1/32, 1/64, 1/128, 1/256, dan 1/512. Dari masing-masing perbandingan ini dipipet sebanyak 50 μL dan diletakkan pada 8 lubang sumur mikrotiter (well plate 96 lubang) untuk setiap konsentrasi ekstrak tidak larut n-heksan daun Parang Romang (Boehmeria virgata (Forst) Guill), setelah itu ditambahkan 50 μL SDMD 2% pada setiap sumur dan digoyang-goyang selama 5 menit pada shaker rotator agar homogen. Selanjutnya diinkubasi pada suhu 37oC selama 60 menit dan didiamkan 1x24 jam pada suhu kamar lalu diamati aglutinasi yang terjadi. II.7 Pengumpulan dan Analisis data Data yang diperoleh dari hasil pengamatan pengenceran tertinggi serum darah mencit jantan yang masih dapat mengaglutinasi Sel Darah Merah Domba (SDMD). Dikumpulkan dan selanjutnya dianalisis secara statistika dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL). II.8 Pengambilan Kesimpulan Kesimpulan diambil berdasarkan analisis data dan pembahasan hasil.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Hasil Penelitian Data Uji aktivitas Imunoglobulin G (IgG) setelah pemberian ekstrak tidak larut n-heksan daun parang romang (Boehmeria virgata (forst) Guill) dengan masing-masing konsentrasi yaitu, 0,25% b/v, 0,5% b/v, 0,75% b/v, 1% b/v, dan air suling sebagai kontrol negatif (1 ml/30 g BB) berdasarkan titer Imunoglobulin G (IgG) pada kelinci setelah diberikan SDMD 2 % v/v adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Titer Imunoglobulin Imunoglobulin G pada sumur mikrotitrasi dengan interpretasi hasil berdasarkan hemaglutinasi setelah pemberian ekstrak tidak larut n-heksan dan air suling.
Pengenceran 1/4 1/8 1/16 1/32 1/64 1/128 1/256 1/512 1 2 3 Kontrol (-) + + + + + + + 4 + + + + + 5 0,25% + + + + + + 6 + + + + + 7 + + + + + + 8 0,5% + + + + + + 9 + + + + + + + + 10 + + + + + + 11 0,75% + + + + + + + 12 + + + + + + + + 13 + + + + 14 1% + + + + 15 + + + + -

Keterangan : (+) terjadi aglutinasi; (-) tidak terjadi aglutinasi.
Tabel 2. Titer Imunoglobulin G (IgG) pada kelinci setelah pemberian Sel Darah Merah Domba (SDMD) 2%

Replikasi 1 2 3

Kontrol (-) 1/16 1/4 1/16

Titer Imunoglobulin G (IgG) KT 0,25% KT 0,5% KT 0,75% 1/64 1/128 1/128 1/128 1/128 1/256 1/64 1/512 1/512

KT 1% 1/32 1/32 1/32

IV.2 Pembahasan Parang romang (Boehmeria virgata (forst) Guill) merupakan tanaman yang terbukti secara empiris digunakan sebagai obat. Masyarakat di Tana Toraja sudah memanfaatkannya sebagai antikanker. Selain itu, penelitian juga sudah menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun parang romang (Boehmeria virgata (forst) Guill) mampu meningkatkan titer antibodi IgG, dan IgM, meningkatkan jumlah dan jenis limfosit serta bobot relatif limfa. Masuknya benda asing ke dalam tubuh suatu makhluk hidup akan menimbulkan berbagai reaksi yang bertujuan mempertahankan keutuhan dirinya. Reaksi yang dikoordinasi sel-sel, molekul-molekul terhadap mikroba dan bahan lainnya disebut respon imun. Sistem imun ini diperlukan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup. Salah satu komponen utama sistem imun adalah antibodi. Antibodi merupakan globulin protein (imunoglobulin) yang akan bereaksi secara

spesifik dengan antigen yang menstimulasi produksi dari respon imun. Antibodi dibentuk oleh sel plasma (poliferasi sel B) akibat kontak dengan antigen. Antibodi yang dibentuk terhadap antigen lain dan masing-masing hanya dapat berikatan dengan antigen yang relevan. Berdasarkan rantai beratnya, imunoglobulin ini dibagi menjadi 5 subkelas, yaitu IgG, IgA, IgM, IgD, IgE. Antigen yang masuk ke dalam tubuh akan bereaksi dengan antibodi. Adanya reaksi antigen-antibodi dapat dideteksi dengan adanya antibodi di dalam serum. Untuk mendeteksinya secara in vitro, dapat dilakukan uji presipitasi atau aglutinasi. Presipitasi lebih dapat terjadi apabila antigen yang digunakan dalam bentuk antigen yang larut. Sementara, aglutinasi terjadi apabila antigen yang digunakan bersifat tidak larut. Dalam hal ini, aglutinasi merupakan metode yang paling sering digunakan khususnya untuk mendeteksi adanya aktivitas IgM dan IgG. Daun parang romang (Boehmeria virgata (forst) Guill) dicuci bersih dan dikering anginkan di udara terbuka. Setelah kering, daun tersebut diserbukkan dengan derajat halus 4/18. Selanjutnya, diekstraksi secara maserasi dengan metanol selama 3 x 24 jam, proses maserasi diulangi sebanyak 5 kali. Filtrat dikumpulkan lalu diuapkan dengan rotavapor hingga diperoleh ekstrak metanol kental. Ekstrak metanol yang diperoleh dipartisi secara cair padat dengan menggunakan pelarut n-heksan hingga didapatkan ekstrak larut n-heksan dan ekstrak tidak larut n-heksan. Selanjutnya, ekstrak tidak larut n-heksan digunakan untuk uji efek aktivitas imunoglobulin G (IgG) pada mencit jantan (Mus musculus). Penggunaan ekstrak tidak larut n-heksan daun parang romang (Boehmeria virgata (forst) Guill.) berdasarkan pada penelitian yang dilakukan sebelumnya. Penelitian Joharman menunjukkan, fraksi etil asetat daun parang romang (Boehmeria virgata (forst) Guill.) mampu meningkatkan ekspresi TNF-α (5). TNF- α diproduksi oleh sel-T dalam limfosit. Ekstrak tidak larut n-heksan daun parang romang (Boehmeria virgata (forst) Guill.) diharapkan mampu merangsang limfosit untuk memproduksi imunoglobulin G (IgG) karena senyawa yang terdapat dalam fraksi etil asetat juga ada dalam ekstrak tidak larut n-heksan. Pada penelitian ini, digunakan antigen berupa Sel Darah Merah Domba (SDMD) yang bersifat tidak larut, sehingga metode yang digunakan adalah metode hemaglutinasi (aglutinasi sel darah merah oleh antibodi). Digunakan SDMD karena SDMD merupakan antigen polivalen, yang merupakan protein dengan determinan potensial yang lebih besar dibandingkan dengan antigen monovalen. Lagipula, semakin asing antigen yang digunakan, semakin efektif ia menimbulkan respon imun. Hewan yang digunakan adalah mencit jantan yang memiliki bobot badan 20-35 g umur 8-10 minggu yang dikelompokkan secara acak. Mencit jantan dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan, dimana masingmasing kelompok terdiri dari 3 ekor. Kelompok I diberi air suling sebanyak 1 ml/30 g BB, kelompok II sampai V diberi ekstrak tidak larut n-heksan daun parang romang (Boehmeria virgata (forst) Guill) masing-masing

dengan konsentrasi 0,25%, 0,5%, 0,75%, dan 1%, 1 ml/30 g BB secara oral. Tepat satu hari sebelum perlakuan, mencit jantan diinduksi dengan SDMD 2% sebanyak 1 ml secara intraperitonial. Perlakuan berlangsung selama 9 hari berturut-turut. Diharapkan terjadi sensitasi sel B yang akan berproliferasi, berdeferensiasi, dan berkembang menjadi sel plasma yang memproduksi antibodi yaitu Imunoglobulin G (IgG) selama selang waktu tersebut. Dimana IgG yang terbentuk sejak hari pertama mencapai puncaknya antara hari kedelapan hingga kesepuluh. Oleh karena itu, darah mencit jantan diambil pada hari kesepuluh secara intrakardial untuk mengamati adanya IgG akibat pemaran antigen (SDMD 2%). Darah yang telah diambil kemudian didiamkan pada suhu kamar selama 1-2 jam lalu disentrifuge untuk memisahkan serum dan plasmanya. Serum yang didapat kemudian diuji hemaglutinasi pada sumur wheel plate dengan menggunakan antibodi SDMD yang diencerkan sampai 2% dengan menggunakan PBS pH 7,2 sebagai dapar. Setelah itu, wheel plate diinkubasi pada inkubator selama 24 pada suhu 37 0C untuk membantu terjadinya reaksi aglutinasi. Aglutinasi juga dapat dipercepat dengan memberikan gerakan yang menambah kontak antigen dengan antibodi (misalnya dengan pengocokan, pengadukan). Pengujian terhadap serum darah mencit jantan dilakukan dengan menambahkan antigen yang sama yaitu SDMD. Interaksi antara antigen dengan antibodi menyebabkan terjadinya reaksi sekunder, yaitu berupa aglutinasi sebab antigen merupakan partikel-partikel kecil yang tidak larut. Gumpalan yang terbentuk antara antigen dan anti serum spesifik akan bersatu dan akhirnya mengendap sebagai gumpalan-gumpalan besar dan mudah terlihat dengan cairan di atasnya tetap jernih. Hal ini terjadi karena pada umumnya antibodi memiliki lebih dari satu reseptor pengikat antigen sehingga antibodi bereaksi dengan molekul antigen lain yang mungkin sudah berikatan dengan salah satu molekul antibodi dan terbentuklah gumpalan. Reaksi aglutinasi baru dapat terjadi bila rasio antara antigen dan antibodi seimbang, sehingga terbentuk zona ekuivalen, dibantu oleh suhu yang tinggi (37-56oC) dan oleh gerakan yang menambah kontak antigen dan antibodi (misalnya mengocok, mengaduk dan memutar) serta berkumpulnya gumpalan memerlukan garam-garam yang berasal dari PBS yang digunakan. Hasil akhir dari uji hemaglutinasi dapat ditentukan dengan melihat pola pengendapan sel darah merah pada dasar sumur wheel plate. Apabila sel darah merah membentuk titik berwarna merah pada pusat sumur, uji dinyatakan negatif. Sel yang teraglutinasi akan menyebar pada cairan di dalam sumuran. Pengamatan disini dilakukan melihat aglutinasi yang terjadi dan dihitung sebagai titer aglutinasi yaitu pengenceran tertinggi dari serum darah mencit jantan yang masih memberikan reaksi aglutinasi, maka uji dinyatakan positif. Pada penelitian ini, metode analisis statistik yang digunakan adalah metode Rancangan Acak Lengkap (RAL). Berdasarkan analisis statistika

dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan Analisis Sidik Ragam (ASR) memperlihatkan bahwa pemberian ekstrak tidak larut n-heksan daun parang romang (Boehmeria virgata (forst) Guill.) memberikan pengaruh yang sangat nyata (Fh>Ft0,01) terhadap peningkatan aktivitas Imunoglobulin G (IgG) yang dapat dilihat dari nilai F hitung yang lebih besar dari F tabel. (hasil analisis statistik dapat dilihat pada Lampiran II, halaman 41). Analisis antar perlakuan dilakukan dengan metode Uji Beda Jarak Nyata Duncan (BJND). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ekstrak tidak larut n-heksan daun parang romang (Boehmeria virgata (forst) Guill.) kelompok dengan konsentrasi 0,25% b/v, 0,5% b/v dan 0,75% berefek sangat berbeda nyata dengan kontrol negatif (air suling) yang digunakan sebagai pembanding. Dari hasil ini berarti terjadi peningkatan aktivitas imunoglobulin G (IgG) dengan pemberian ekstrak tidak larut n-heksan daun parang romang (Boehmeria virgata (forst) Guill.). Konsentrasi 0,75% b/v menunjukkan kemampuan tertinggi dalam meingkatkan aktivitas imunoglobulin G (IgG) jika dibandingkan dengan kelompok kontrol (air suling), namun menunjukkan perbedaan yang tidak nyata jika dibandingkan dengan konsentrasi 0,5% b/v. Sebagai pembanding, beberapa penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya mengenai aktivitas sistem imun. Kurnianto (2010) melaporkan bahwa jus daun pare (Momordica charantia L) pada konsentrasi 20% b/v menunjukkan kemampuan tertinggi dalam meningkatkan aktivitas IgG jika dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif (air suling) (21). Juniati (2011) melaporkan bahwa ekstrak metanol buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) pada konsentrasi 0,5% b/v menunjukkan kemampuan optimal dalam meningkatkan aktivitas imunoglobulin M (IgM) dan Imunoglobulin G (IgG) (22). Nirwana (2006) melaporkan ekstrak metanol batang kinca (Feronia elephantum Corr.) konsentrasi 0,5% b/v memberikan pengaruh yang sangat nyata dalam meningkatkan aktivitas IgG (23). Melihat data di atas, ekstrak tidak larut n-heksan juga sangat baik dalam meningkatkan aktivitas Imunoglobulin G, yaitu pada konsentrasi 0,75% b/v. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1 Kesimpulan 1. Ekstrak tidak larut n-heksan daun parang romang (Boehmeria virgata (forst) Guill.) meningkatkan kadar IgG pada mencit jantan (Mus musculus). 2. Ekstrak tidak larut n-heksan daun parang romang (Boehmeria virgata (forst) Guill.) dengan konsentrasi 0,75% b/v menunjukkan kemampuan meningkatkan aktivitas imunoglobulin G (IgG) yang paling optimum sebagai imunostulan.

V.2 Saran 1. Sebaiknya dilakukan penelitian untuk mengisolasi senyawa aktif yang terkandung dalam daun parang romang (Boehmeria virgata (forst) Guill.) yang dapat berfungsi sebagai imunostimulan. 2. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap uji toksisitas dan parameter dosis efektif dari daun parang romang sebagai imunostimulan.

DAFTAR PUSTAKA 1. Bratawidjaja, KG. Imunologi Dasar. Ed.VII. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2006. Hal. 6, 19, 34, 71, 75-76 2. Bellanti, Joseph A. Imunologi. Edisi III. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 1993. Hal.97. 3. Tjay, T.H. dan Rahardja. Obat-Obat Penting. Edisi V. PT.Elex Media Komputindo. Jakarta. 2002. Hal. 729. 4. Risandi, Yohana dan Yovita Andriana. Khasiat Tanaman Obat. Penerbit Pustaka Buku Murah. Jakarta. 2005. Hal. 69-70 5. Joharman. Peningkatan Ekspresi TNF-α oleh Fraksi N-Heksan dan Etil Asetat Daun Parrang Romang (Boehmeria virgata (Frost) Guill) Secara In Vitro. Tesis Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Makassar. 2010. 6. Manggau, A.M., dkk. The Administration of methanol extract parang romang leaves (Boehmeria virgata (Forst) Guill intraperitonially could enhance the immune response in mice (Mus musculus), IOCD International Symposium Biology, Chemistry, Pharmacology and Clinical Studies of Asian Plants. 2007. 7. Habibie. Uji Efek Ekstrak Etanol Daun Mimba (Azadirachta indica A. Juss) terhadap Aktivitas Imunoglobulin M (IgM) Mencit Jantan (Mus musculus). Skripsi Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin. Makassar. 2006. 8. Brands S.J. (comp). Systema Naturae 2000 The taxonomicon Universal Taxonomic Services, The Netherland, Diakses 24 Maret 2007. 2007. 9. Brink, M dan Escobin, R.P. Plant Resources of South-East Asia. Fiber Plants. Backhuys Publishers. Leiden. 2003. Hal 86-91. 10. Darmono. Farmakologi dan Toksikologi Sistem Kekebalan: Pengaruh Penyebab dan Akibatnya Pada Kekebalan Tubuh. UI Press. Jakarta. 2006. Hal. 13, 23, 27, 30-32. 11. Yotis, William W. Microbiology and Immunology. The McGraw-Hill Companies, Inc. North America. 2004. Hal. 25.

12. Katzung, B.G. Basic and Clinical Pharmacology. 10th edition. McGraw-Hill Companies, Inc. United States of America. 2007. Hal.908. 13. Levinson, Warren. Review of Medical Microbiology and Immunology. 9th edition. The McGraw-Hill Companies Inc., United States of America. 2004. Hal. 395-97,421-22,424. 14. O’gorman, Maurice R.G., dan Donnenberg, Albert D. Handbook of Human Immunology. Second Edition. CRC Press. Danvers, MA USA. 2008. Hal. 1, 18. 15. Kindt, Thomas J., Osborne, Barbara A., dan Goldsby, Richard A. Kuby Immunology. Sixth Edition. W.H. Freeman & Company. USA. 2006. Hal. 9-10. 16. Eales, Lesley-Jane. Immunology for Life Scientists. Second Edition. University of Surrey, Guildford. UK. 2003. Hal. 29-31. 17. Abbas, Abul K. Cellular and Molecular Immunology. 6th edition. Saunders an Imprint of Elsevier Inc. USA. 2007. Hal.3. 18. Roitt, Ivan M. Roitt's Essential Immunology. Tenth Edition. The Blackwell Science Logo. United States of Amarica. 2001. Hal. 48, 57. 19. Barret, J.T. Textbook of Immunology. Edisi V. C.V. Mosby Company. Toronto. 1988. Hal.26. 20. Kimbal, John W. Introduction to Immunology. Second Edition. McMillan Publishing. NewYork. 1986. Hal. 96-98. 21. Kurnianto, Ari A., Eji Efek Jus Daun Pare (Momordica charantia L) Terhadap Aktivitas Imunoglobulin M dan Imunoglobulin G Pada Mencit Jantan (Mus musculus). Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin. Makassar. 2010 22. Juniati. Uji Efek Ekstrak Metanol Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) Terhadap Aktivitas Imunoglobulin G Dan Imunoglobulin M Mencit Jantan (Mus musculus). Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin. Makassar. 2011. 23. Nirwana. Ekstrak metanol batang kinca (Feronia elephantum Corr.) Terhadap Aktivitas Imunoglobulin G Mencit Jantan (Mus musculus). Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin. Makassar. 2006.

LAMPIRAN I Skema Kerja Pengolahan dan Pembuatan Ekstrak Tidak Larut N-Heksan Daun Parang Romang (Boehmeria virgata (Forst) Guill)
Daun segar Parang Romang (Boehmeria virgata (Forst) Guill)

-

Disortasi basah Dicuci dengan air mengalir Dikeringkan tidak di bawah pengaruh cahaya matahari langsung Sortasi kering Diserbukkan (derajat halus serbuk 4/18)

Serbuk kering daun Parrang Romang (Boehmeria virgata (Forst) Guill)

 Maserasi dengan Metanol

Ampas

Ekstrak cair Metanol

 Diuapkan
Ekstrak kental Metanol

 Partisi Dengan N-Heksan
Ekstrak Tidak Larut Heksan Ekstrak Larut Heksan

Lanjutkan ke Uji aktivitas IgG

Skema Kerja Uji Efek Ekstrak Tidak Larut n-Heksan Daun Parang Romang (Boehmeria virgata (Forst) Guill) Terhadap Aktivitas Imunoglobulin G (IgG) Mencit Jantan (Mus musculus)
Mencit jantan (Mus musculus) Ekstrak tidak larut n-Heksan daun Parang Romang (Boehmeria virgata (Forst) Guill) (Phyllanthus acidus)

 Pemilihan  Pemeliharaan  Penimbangan  Pengelompokan  Imunisasi dengan Sel
Darah Merah Domba (SDMD) 2%

 Perlakuan selama 9 hari
Klp. I (kontrol air suling) Klp. II 0,25% b/v Klp.III 0,5% b/v Klp. IV 0,75% b/v Klp. V 1% b/v

 10 hari setelah imunisasi SDMD 2%, diambil darah
secara intrakardial untuk uji IgG

Darah

 Dibiarkan membeku selama 1-2 jam pada suhu kamar
 Disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit pada suhu kamar

Serum
Uji Hemaglutinasi  Serum diencerkan sebanyak dua kali dengan dapar fosfat  Pengisian suspensi SDMD 2%ke dalam sumuran  Penambahan serum  Inkubasi 37oC selama 60 menit  Didiamkan 1x24 jam pada suhu kamar

Pengamatan

Analisis data

Pembahasan

Kesimpulan

LAMPIRAN II Analisis statistika data aktivitas immunoglobulin G (IgG) mencit jantan berdasarkan titer IgG pada pemberian ekstrak tidak larut n-heksan daun parang romang (Boehmeria virgata (forst) Guill) dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL).
Tabel 3. Data titer Imunoglubulin G (IgG) setelah ditransformasi dengan [2 Log (titer)] + 1

Perlakuan Kontrol negatif (Air Suling) konsentrasi 0,25% konsentrasi 0,5% konsentrasi 0,75% konsentrasi 1% Jumlah Total

Replikasi 1 1,41 2,61 3,21 3,21 2,01 12,45 2 0,20 3,21 3,21 3,82 2,01 12,45 3 1,41 2,61 4,42 4,42 2,01 14,87

Jumlah 3,02 8,43 10,84 11,45 6,03 39,77

Rata-rata 1,01 2,81 3,61 3,82 2,01 2,65

Analisis Sidik Ragam (ASR)
Tabel 4. Hasil Analisis Sidik Ragam (ASR) Perlakuan terhadap Aktivitas Imunoglobulin G (IgG)

Sumber Keragaman Perlakuan Galat Total

Derajat Bebas 4 10 14

Jumlah Kuadrat 19,20 19,20 19,20

Kuadrat Tengah 4,07 0,29

F Hitung 13,91**

F Tabel 5% 3,48 1% 5,98

Ket. SS

Ket : (**) Sangat berbeda nyata, ada pengaruh pemberian ekstrak tidak larut n-heksan daun parang romang (Boehmeria virgata (forst) Guill), pada aktivitas immunoglobulin G (IgG) mencit jantan, maka analisis statistik dilanjutkan dengan Uji Beda Jarak Nyata Duncan (BJND).

Tabel 5. Analisis lanjutan dengan Uji Beda Nyata Jarak Duncan (BNJD)

A JN5 % JN1 % JNT5 % JNT1 %

2 3,15 4,48 0,98 1,40

3 3,30 4,75 1,03 1,48

4 3,37 4,88 1,05 1,52

5 3,43 4,96 1,07 1,07

Perlakuan Rata-rata

A 3,82

B 3,61

C 2,81

D 2,01

E 1,01

Keterangan : A = konsentrasi 0,75% B = konsentrasi 0,5% C = konsentrasi 0,25% D = konsentrasi 1% E = Kontrol negatif
Tabel 6. Perbandingan antar perlakuan

Perlakuan A-B A-C A-D A-E B-C B-D B-E C-D C-E D-E

Selisih 0,21 1,01 1,81 2,81 0,8 1,6 2,6 0,8 1,8 1

JNT P = 0,05 P = 0,01 0,98 1,40 1,48 1,03 1,05 1,52 1,07 1,55 0,98 1,40 1,48 1,03 1,05 1,52 0,98 1,40 1,48 1,03 0,98 1,40

Keterangan TS TS SS SS TS SS SS SS SS S

Keterangan : S : Signifikan SS : Sangat signifikan TS : Tidak signifikan

LAMPIRAN III

1/4 1/8 1/16 1/32 1/64
1/128 1/256 1/512

Gambar 2. Data titer Imunoglobulin G (IgG) ekstrak tidak larut n-heksan dan kontrol negatif pada plat mikrotiter

Gambar 3. Tanaman Parang Romang (Boehmeria virgata (Forst) Guill)

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->