Anda di halaman 1dari 20

BAB 1. PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Tebu (Saccharum officinarum) adalah tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula. Tanaman tebu hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman tebu termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman tebu sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai umur sekitar 1 tahun. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatra. Tanaman tebu (Saccharum officinarum L) adalah satu anggota familia rumput-rumputan (Graminae) yang merupakan tanaman asli tropika basah, namun masih dapat tumubh baik dan berkembang di daerah subtropika, pada berbagai jenis tanah dari daratan rendah hingga ketinggian 1.400 m diatas permukaan laut (dpl). Tanaman tebu telah dikenal sejak beberapa abad yang lalu oleh bangsa Persia, Cina, India dan kemudian menyusul bangsa Eropa yang memanfaatkan sebagai bahan pangan benilai tinggi yang dianggap sebagai emas putih, yang secara berangsur mulai bergeser kedudukan bahan pemanis alami seperti madu. Berdasarkan catatan sejarah, sekitar tahun 400-an tanaman tebu telah ditemukan tumbuh di beberapa tempat di Pulau Jawa, Pulau Sumatera, namun baru pada abad XV tanaman tersebut diusahakan secara komersial oleh sebagian imigran Cina. Diawali kedatangan bangsa Belanda di Indonesia tahun 1596 yang kemudian mendirian perusahaan dagang Vereeniging Oost Indische Compagnie (VOC) pada bulan Maret 1602, mulailah terbentuknya industri pergulaan di Indonesia, yang kemudian dipacu dengan semakin meningkatnya permintaan gula dari Eropa pada saat itu. Sejarah Indusri gula di Indonesia, khususnya di Jawa penuh dengan pasang surut. Pada dekade 1930-an industri gula di Indonesia mencapai puncaknya dengan produksi gula sebesar 3 juta ton dengan areal pertanaman seluas 200.000 ha yang terkonsentrasi di Jawa. Pada masa itu terdapat 179 pabrik gula yang mampu memproduksi 14,8 ton gula/ha. Usaha budidaya tebu di Indonesia dilakukan pada lahan sawah berpengairan dan tadah hujan serta pada lahan kering/tegalan dengan rasio 65% pada lahan tegalan dan 35% pada lahan sawah. Sampai saat ini daerah/wilayah pengembangan

tebu masih terfokus di Pulau Jawa yakni di Provinsi, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta dan Jawa Barat yang mengusahakan lahan sawah dan tegalan sebagai areal penanaman tebu. Sedangkan usahatani tebu pada lahan tegalan pengembangannya diarahkan ke Luar Jawa seperti di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan dan Gorontalo. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan usaha industri gula berbasis tebu adalah Pengelolaan pada aspek on-farm yakni penerapan kaidah teknologi pertanaman yang baik dan benar mulai dari persiapan lahan, pengolahan dan penanaman yang mengikuti kaidah masa tanam optimal, Pemilihan dan komposisi varietas bibit unggul bermutu, Penggunaan, pemeliharaan serta tebang angkut muat (panen). Dalam budidaya tanaman tebu bibit merupakan salah satu modal (investasi) yang menentukan jumlah batang dan pertumbuhan selanjutnya hingga menjadi tebu giling beserta potansi hasil gulanya. Oleh karena itu penggunaan bibit unggul bermutu merupakan faktor produksi yang mutlak harus dipenuhi. Sehingga Pemerintah merasa perlu mengatur pengawasan peredaran bibit melalui sertifikasi yang merupakan satu proses pemberian sertifikat bibit setelah melalui pemeriksaan, pengujian dan pengawasan untuk persyaratan dapat disalurkan dan diedarkan. Budidaya tebu merupakan upaya menciptakan kondisi fisik lingkungan tanaman tebu, berdasarkan ketersediaan sumberdaya lahan, alat dan tenaga yang memadai agar sesuai dengan kebutuhan pada fase pertumbuhannya, sehingga menghasilkan produksi (gula) seperti yang diharapkan. Budidaya tanaman tebu yang efisien adalah pengelolaan tanaman tebu dengan cara mengusahakan penanaman tebu dengan cara menyesuaikan dengan lingkungan agroklimat (ketersediaan lahan). Karekteristik agroklimat terdiri dari iklim, kesuburan tanah dan topografi. Budidaya tebu hendaknya menyesuaikan dengan kondisi karakteristik agroklimat di lahan tegalan yang umumnya dijumpai untuk tanaman tebu. Produktifitas tebu ditentukan oleh karakteristik agroklimat yang paling minimum. Budidaya tanaman tebu merupakan faktor penting guna keberlanjutan dari tanaman tebu itu sendiri. Sehingga budidaya tanaman tebu harus diperhatikan

dengan baik guna memenuhi produktifitas dan sumber ekonomi. 1.2 Tujuan 1. Mengetahui beberapa macam bibit tebu. 2. Mengetahui bagaimana pengaruh macam bibit tebu terhadap laju pertumbuhan.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Indonesia dahulu terkenal sebagai negara pengekspor gula terbesar didunia internasional, namun saat ini keadaan sangat berbalik yaitu indonesia menjadi negara yang mengimpor gula dari luar negri. Pada tahun 2000 saja impor gula mencapai 1,5 juta ton, ini disebabkan karena di dalam negeri produksi gula mencapai 1,69 juta ton. Penurunan produksi gula merupakan akibat dari proses yang kompleks baik segi ekonomi, sosial, dan kebijakan. Berbagai aspek dan kepentingan terlihat dalam proses penurunan produksi gula dalam negeri, yaitu: Masuknya gula luar negeri dengan harga yang sangat murah yang mengakibatkan produksi gula menurun dan tidak mampu bersaing dengan pasar internasional (rendah efisiensi yang menyebabkan harga gula produksi dalam negri menjadi mahal). Di pulau Jawa yang dahulu menjadi sentral produksi gula nasional sekarang malah bergeser semakin sulit untuk mendapatkan lahan yang digunakan untuk komoditas lain yang lebih menguntungkan daripada tanaman tebu. Kurangnya modal petani dan sering terlambatnya kredit yang diberikan kepada petani, disebabkan karena rendahnya mutu dari penerapan teknologi tersebut (Handoyo, 1998). Relokasi perusahaan gula ke luar pulau jawa dianggap alternatif yang tepat, namun tidak sesederhana yang sudah dikonsep karena terbatasnya lahan dengan kelas yang sesuai dengan tanaman tebu. Memang lahan di luar jawa banyak 1,2 juta ha, tapi ada persoalan sosial dan status kepemilikan tanah tersebut dan besarnya modal untuk membangun perusahaan gula. Secara otomatis jika tanaman tebu diluar jawa maka perusahaan gula juga harus diluar jawa (Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia. 1990). Tanaman tebu (Saccharum officinarum L) adalah satu anggota familia rumput-rumputan (Graminae) yang merupakan tanaman asli tropika basah, namun masih dapat tumbuh baik dan berkembang di daerah subtropika, pada berbagai jenis tanah dari daratan rendah hingga ketinggian 1.400 m diatas permukaan laut. Tanaman tebu dapat tumbuh di daerah beriklim panas dan sedang (daerah tropik dan subtropik) dengan daerah penyebaran yang sangat luas yaitu antara 35o LS dan

39o LU. Unsur unsur iklim yang penting bagi pertumbuhan tanaman tebu adalah curah hujan, sinar matahari, angin, suhu, dan kelembaban udara, tinggi tempat: dataran rendah sampai tinggi >1200 m DPL pertumbuhan lambat (Darmojo, 1988). Tanaman tebu banyak membutuhkan air selama masa pertumbuhan vegetatifnya, namun menghendaki keadaan kering menjelang berakhirnya masa petumbuhan vegetatif agar proses pemasakan (pembentukan gula) dapat berlangsung dengan baik. Berdasarkan kebutuhan air pada setiap fase pertumbuhannya, maka secara ideal curah hujan yang diperlukan adalah 200 mm per bulan selama 5 6 bulan berturutan, 2 bulan transisi dengan curah hujan 125 mm per bulan, dan 4 5 bulan berturutan dengan curah hujan kurang dari 75 mm tiap bulannya. Daerah dataran rendah dengan curah hujan tahunan 1.500 3.000 mm, penyebaran hujan sesuai dengan pertumbuhan dan kemasakan tebu merupakan daerah yang sesuai bagi pengembangan tanaman tebu (Sunanto, 2002). Usaha budidaya tebu di Indonesia dilakukan pada lahan sawah berpengairan dan tadah hujan serta pada lahan kering/tegalan dengan rasio 65% pada lahan tegalan dan 35% pada lahan sawah. Sampai saat ini daerah/wilayah pengembangan tebu masih terfokus di Pulau Jawa yakni di Provinsi, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta dan Jawa Barat yang diusahakan di lahan sawah dan tegalan. Sedangkan untuk pengembangan perkebunan tebu di lahan kering, terhambat kurangnya sarana irigasi. Hal lain yang menjadi kendala adalah keterbatasan alat pengolahan tanah (Sugiyarto, 1992).

BAB III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum acara Pengaruh Macam Bibit Terhadap Pertumbuhan Tebu ini dilaksanakan di Agrotecno Park Fakultas Pertanian Universitas Jember pada hari Selasa tanggal 11 Oktober 2011 pada pukul 13.30 WIB. 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat 1. Cangkul 2. Sekop 3. Karung 4. Gembor 5. Timba 6. Arit 3.2.2 Bahan 1. Bibit tanaman tebu 2. Pupuk 2.3 Cara Kerja

1. Membuat juringan sepanjang 10 meter dengan mencangkul menggunakan cangkul sedalam 20 cm 2. Menanam bibit tebu lonjoran sesuai perlakuan 3. Merawat bibit tebu dengan menyiram bibit tebu setiap hari sesuai kondisi lapang 4. Melakukan pengamatan seminggu setelah penanaman dengan parameter sebagai berikut: 5. Waktu muncul taji pada mata tunas, yang diukur ketika taji sudah stinggi lebih atau sama dengan 2 cm 6. Tinggi taji diukur setalh 2 minggu setelah tanam 7. Waktu membukanya daun diukur setelah ada daun yang membuka

8. Jumlah daun yang diukur setiap minggu setetlah minggu ketiga 9. Jumlah anakan yang diukur setiap tunas

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Tabel pengamatan tinggi tanaman Kelompok Tanaman Ke 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 1,0 2,0 1,3 1,2 1,5 1,2 1,1 1,0 1,5 1,7 2,0 2,0 3,0 2,5 2,3 2,4 2,3 3,0 2,9 2,7 2,3 2,5 2,3 2,1 2,0 Minggu Ke (cm) 2 3 7,3 14,0 8,2 16,5 7,5 15,7 7,4 15,5 7,8 16,0 7,0 14,0 7,0 15,1 7,2 13,8 8,0 15,1 8,3 16,4 9,1 15,0 8,5 12,0 10,5 15,0 9,5 13,5 10,0 15,7 10,9 18,0 9,7 16,9 9,3 16,7 10,0 17,2 9,8 17,9 8,9 17,0 9,5 17,5 9,8 15,9 9,0 18,0 10,3 16,8 4 20,0 21,8 20,8 20,5 21,0 21,0 22,3 21,7 22,5 21,7 22,0 18,0 20,0 22,5 26,0 24,0 25,2 23,3 25,0 26,7 23,5 24,0 22,3 22,2 23,0

II

III

IV

Grafik pertumbuhan

4.2 Pembahasan Perbanyakan tanaman tebu umumnya dilakukan dengan setek. Untuk perbanyakan ini, bibit tanaman yang dibutuhkan adalah bagian batangnya baik bagian pucuk, tengah, maupun pangkal batang. Untuk penanaman skala besar umumnya biasanya bibit diambil dari batang muda tanaman. Bibit batang muda ini harus dari yang masih muda berumur sekirat 5-7 bulan. Pada umur tersebut, matamata masih baik dan dapat tumbuh, dengan demikian seluruh batang tebu dapat diambil sekitar 3 setek. Jumlah tiap setek 2-3 tunas bibit batang muda Tanaman mengalami pertumbuhan yang baik, hal ini ditandai dengan

pertumbuhan yang cepat dan merata, tidak ada perbedaan yang signifikan pada pertumbuhan tanaman tebu. Perbedaan pada pertumbuhan tanaman tebu yang tidak terlalu signifikan mengindikasikan tanaman dapat tumbuh dengan baik. Pada jumlah mata tunas 1, 2, 3, 4, 5 pertumbuhannya sama saja, artinya tidak ada perbedaan yang jauh. Tetapi agar menghemat dalam pemupukan serta pengelolaan tanaman tebu sebaiknya stek yang digunakan 3 tunas. Perbanyakan vegetatif dengan setek mempunyai sifat-sifat unggul serta tidak terserang hama dan/atau penyakit. Selain itu, manipulasi terhadap kondisi lingkungan dan status fisiologi tanaman sumber juga penting dilakukan agar tingkat keberhasilan stek tinggi Bibit vegetatif juga memiliki beberapa kelemahan yaitu munculnya variasi somaklonal (somaclonal variation) pada proses perbanyakan di laboratorium yang dapat menyebabkan penyimpangan pertumbuhan fenotif dari sifat genetik tanaman induknya, penuaan dini (early maturation) yang timbul pada anakan hasil perbanyakan yang mengakibatkan penurunan tingkat pertumbuhan, berkurangnya kemampuan berakar, percepatan pembungaan hingga terjadi pembungaan pada awal-awal tahun pertumbuhan dan memiliki kecenderungan mengalami pertumbuhan ke 1 Apabila dalam satu setek ini ada dua mata tunas atau lebih, yang ditanam secara horizontal dan mata terletak di kanan dan di kiri maka ternyata mata yang lebih muda (yang terletak lebih atas) akan tumbuh lebih cepat daripada mata yang lebih tua di sebelah bawahnya. Tentang panjang pendeknya setek yang akan ditanam pertumbuhannya tergantung pada kualitas bibit tebu, kondisi tubuh dan pemeliharaan sewaktu muda Stek (cutting) adalah suatu teknik mengusahakan perakaran dan bagianbagian tanaman (cabang, daun, pucuk dan akar) yang mengandung mata tunas dengan memotong dari induknya untuk tanaman, sehingga akan diperoleh tanaman baru. Menurut bentuknya, setek dapat dibedakan menjadi beberapa bagian antara

lain adalah stek akar, stek daun, stek batang, stek umbi dan stek pucuk. Perbanyakan secara stek akan diperoleh tanaman yang baru yang sifatnya seperti induknya. Stek dengan kekuatan sendiri akan menumbuhkan akar dan daun sampai dapat menjadi tanaman yang sempurna dan menghasilkan bunga dan buah Kesesuaian Iklim Tanaman tebu dapat tumbuh di daerah beriklim panas dan sedang (daerah tropik dan subtropik) dengan daerah penyebaran yang sangat luas yaitu antara 35o LS dan 39o LU. Unsur unsur iklim yang penting bagi pertumbuhan tanaman tebu adalah curah hujan, sinar matahari, angin, suhu, dan kelembaban udara. Curah Hujan Tanaman tebu banyak membutuhkan air selama masa pertumbuhan vegetatifnya, namun menghendaki keadaan kering menjelang berakhirnya masa petumbuhan vegetatif agar proses pemasakan (pembentukan gula) dapat berlangsung dengan baik. Berdasarkan kebutuhan air pada setiap fase pertumbuhannya, maka secara ideal curah hujan yang diperlukan adalah 200 mm per bulan selama 5 6 bulan berturutan, 2 bulan transisi dengan curah hujan 125 mm per bulan, dan 4 5 bulan berturutan dengan curah hujan kurang dari 75 mm tiap bulannya. Daerah dataran rendah dengan curah hujan tahunan 1.500 3.000 mm dengan penyebaran hujan yang sesuai dengan pertumbuhan dan kemasakan tebu merupakan daerah yang sesuai untuk pengembangan tanaman tebu. Sinar Matahari Radiasi sinar matahari sangat diperlukan oleh tanaman tebu untuk pertumbuhan dan terutama untuk proses fotosintesis yang menghasilkan gula. Jumlah curah hujan dan penyebarannya di suatu daerah akan menentukan besarnya intensitas radiasi sinar matahari. Cuaca berawan pada siang maupun malam hari bisa menghambat pembentukan gula. Pada siang hari, cuaca berawan menghambat proses fotosintesis, sedangkan pada malam hari menyebabkan naiknya suhu yang

bisa mengurangi akumulasi gula karena meningkatnya proses pernafasan. Angin Angin dengan kecepatan kurang dari 10 km/jam adalah baik bagi pertumbuhan tebu karena dapat menurunkan suhu dan kadar CO2 di sekitar tajuk tebu sehingga fotosintesis tetap berlangsung dengan baik. Kecepatan angin yang lebih dari 10 km/jam disertai hujan lebat, bisa menyebabkan robohnya tanaman tebu yang sudah tinggi. Suhu Suhu sangat menentukan kecepatan pertumbuhan tanaman tebu, sebab suhu terutama mempengaruhi pertumbuhan menebal dan memanjang tanaman ini. Suhu siang hari yang hangat atau panas dan suhu malam hari yang rendah diperlukan untuk proses penimbunan sukrosa pada batang tebu. Suhu optimal untuk pertumbuhan tebu berkisar antara 24 30 oC, beda suhu musiman tidak lebih dari 6o, dan beda suhu siang dan malam hari tidak lebih dari 10o. Kelembaban Udara Kelembaban udara tidak banyak berpengaruh pada pertumbuhan tebu asalkan kadar air cukup tersedia di dalam tanah, optimumnya < 80%. Kesesuaian Lahan Tanah merupakan faktor fisik yang terpenting bagi pertumbuhan tebu. Tanaman tebu dapat tumbuh dalam berbagai jenis tanah, namun tanah yang baik untuk pertumbuhan tebu adalah tanah yang dapat menjamin kecukupan air yang optimal. Tanah yang baik untuk tebu adalah tanah dengan solum dalam (>60 cm), lempung, baik yang berpasir dan lempung liat. Derajat keasaman (pH) tanah yang paling sesuai untuk pertumbuhan tebu berkisar antara 5,5 7,0. Tanah dengan pH di bawah 5,5 kurang baik bagi tanaman tebu karena dengan keadaan lingkungan tersebut sistem perakaran tidak dapat menyerap air maupun unsur hara dengan baik,

sedangkan tanah dengan pH tinggi (di atas 7,0) sering mengalami kekurangan unsur P karena mengendap sebagai kapur fosfat, dan tanaman tebu akan mengalami chlorosis daunnya karena unsur Fe yang diperlukan untuk pembentukan daun tidak cukup tersedia. Tanaman tebu sangat tidak menghendaki tanah dengan kandungan Cl tinggi. Kelas Kesesuaian Lahan dan Faktor Pembatas Berpedoman pada syarat tumbuh tanaman tebu, maka faktor pembatas utama untuk tanaman tebu adalah kesuburan tanah, solum tanah, kemiringan lereng dan tekstur tanah. Pengusahaan tanaman tebu harus dilakukan pada tanah dengan kemiringan <8%. Tanah dengan kelas S1, S2 dan S3 tanpa faktor pembatas yang berat merupakan klas lahan yang sesuai untuk tanaman tebu. Macam macam bibit stek tebu yang dikenal antar lain: 1. Bibit pucuk Bibit diambil dari bagian pucuk tebu yang akan digiling berumur 12 bulan. Jumlah mata (bakal tunas baru) yang diambil 2-3 sepanjang 20 cm. Daun kering yang membungkus batang tidak dibuang agar melindungi mata tebu. Biaya bibit lebih murah karena tidak memerlukan pembibitan, bibit mudah diangkut karena tidak mudah rusak, pertumbuhan bibit pucuk tidak memerlukan banyak air. Penggunaan bibit pucuk hanya dapat dilakukan jika kebun telah berporduksi. 2. Bibit batang muda Dikenal pula dengan nama bibit mentah / bibit krecekan. Berasal dari tanaman berumur 5-7 bulan. Seluruh batang tebu dapat diambil dan dijadikan 3 stek. Setiap stek terdiri atas 2-3 mata tunas. Untuk mendapatkan bibit, tanaman dipotong, daun pembungkus batang tidak dibuang. 1 hektar tanaman kebun bibit bagal dapat menghasilkan bibit untuk keperluan 10 hektar.

3. Bibit rayungan (1 atau 2 tunas) Bibit diambil dari tanaman tebu khusus untuk pembibitan berupa stek yang tumbuh tunasnya tetapi akar belum keluar. Bibit ini dibuat dengan cara: 1. Melepas daun-daun agar pertumbuhan mata tunas tidak terhambat 2. Batang tanaman tebu dipangkas 1 bulan sebelum bibit rayungan dipakai. 3. Tanaman tebu dipupuk sebanyak 50 kg/ha Bibit ini memerlukan banyak air dan pertumbuhannya lebih cepat daripada bibit bagal. 1 hektar tanaman kebun bibit rayungan dapat menghasilkan bibit untuk 10 hektar areal tebu. Kelemahan bibit rayungan adalah tunas sering rusak pada waktu pengangkutan dan tidak dapat disimpan lama seperti halnya bibit bagal. d) Bibit siwilan Bibit ini diambil dari tunas-tunas baru dari tanaman yang pucuknya sudah mati. Perawatan bibit siwilan sama dengan bibit rayungan. Bibit merupakan modal dasar dalam budidaya tebu, sehingga dalam upaya peningkatan produksi dan produktifitas gula, penggunaan bibit unggul tebu mutlak dilakukan. Bibit tebu adalah bagian dari tanaman tebu yang merupakan bahan tanaman yang dapat dikembangkan untuk pertanaman baru. Bibit unggul tebu berkualitas memiliki potensi produksi tinggi, bebas hama penyakit, mempunyai tingkat kemurnian lebih dari 95%, umur sekitar 6 -7 bulan. Bibit unggul dapat diperoleh di Kebun Bibit. Kebun Bibit adalah kebun untuk penyelenggaraan pembibitan, guna memperoleh bibit yang memenuhi persyaratan mutu dan jumlah yang cukup. Jenis tebu. Jenis tebu yang ditanam agar menggunakan varietas unggul yang sesuai dengan ekologis, tipe iklim dan jenis tanah. Lahan. Lahan yang digunakan untuk kebun bibit hendaknya lahan yang subur, berpengairan cukup, bebas banjir dan pada waktu hujan permukaan air tanah tetap dalam, dan lokasi hamparan

sedapat mungkin dekat dengan hamparan tanaman, mudah didatangi untuk penyelenggaraan pengangkutan sarana produksi, tenaga kerja, pengawasan, supervisi serta pengangkutan hasil bibit. Penyiapan tanah. Penyiapan tanah pada kebun bibit menggunakan sistem reynoso sesuai dengan kondisi lahan sawah, dengan menyiapkan juringan sebagai tempat larikan tebu. Juringan dibuat sedalam 20-30 cm diikuti penggemburan tanah. Lebar juringan sekurang-kurangnya 40 cm dan panjang juringan harus memperhatikan tingkat draenase. Pada jenis tanah tertentu panjang juringan umumnya 8-10 meter bagi juringan pendek dan 25-50 meter bagi juringan panjang, tegak lurus pada arah kemiringan. Jarak antar dua juringan dari pusat ke pusat dapat dipersempit menjadi 80 cm. Juga harus dibuat saluran air darenase berupa got keliling. Penanaman. Penanaman bibit pada kebun bibit seperti penanaman tebu pada lahan sawah dengan sasaran penanaman 11 mata per meter juringan untuk menghasilkan sekurang-kurangnya 70.000 batang tebu per hektar. Pemupukan. Pemupukan pada kebun bibit menggunakan jenis pupuk yang digunakan sebagai pemupukan berimbang yaitu N (ZA/Urea), P (SP-36/TSP) dan K (KCl/ZK) dengan dosis, cara, waktu yang tepat sama seperti pemupukan pada tebu giling. Pengaturan air perlu dilakukan sejak penyiapan tanah, menjelang dan sesudah penanaman serta selama pemeliharaan sampai 4-5 bulan, meliputi penyiraman rutin tanaman yang masih muda dan setiap selesai pemupukan. Pemberian air disesuaikan dengan kondisi tanah dan curah hujan, apabila musim hujan draenase perlu mendapat perhatian. Pemeliharaan dan Penyaluran Bibit. Kegiatan pemeliharaan dan perlindungan tanaman dari gulma, hama dan penyakit dilakukan secara menyeluruh sejak penanaman sampai pemungutan bibit. Pembumbunan dilakukan 3 kali, pertama pada waktu berumur 35-40 hari dengan sekedar menutup bibit; kedua pada waktu berumur 60 hari setinggi dalamnya jeringan; ketiga pada waktu berumur 90 hari sehingga tanah yang berasal dari juringan telah dikembalikan ke dalam juringan. Sejak penanaman sampai berumur 4

bulan tanaman harus bebas dari gulma. Pemberantasan gulma secara manual dengan cara menyiang sebanyak 3-4 kali dengan selang waktu 3 minggu. Pemberantasan gulma secara kimiawi yaitu menggunakan herbisida. Penyemprotan dilakukan satu kali yaitu 3-7 hari setelah penanaman, dengan jenis dan dosis herbisida sesuai anjuran. Jika sampai tanaman berumur 4 bulan masih ada gulma tumbuh, maka perlu dilakukan penyiangan. Seleksi. Kebun bibit harus diusahakan semurni mungkin dari sejak penanaman hingga pemungutan bibit. Untuk memurnikan kebun bibit dari campuran varietas yang tidak dikehendaki, maka harus dilakukan seleksi. Seleksi dilakukan tiga kali dengan membongkar rumpun-rumpun yang berlainan jenis dan mengeluarkannya dari kebun. Seleksi pertama dilakukan pada waktu tanaman berumur 2 bulan, kedua pada waktu tanaman berumur 4 bulan, dan seleksi ketiga dilakukan menjelang pemangkasan pucuk untuk bibit rayungan atau penebangan bibit untuk bibit bagal pada umur tanaman sekitar 5 bulan. Persiapan dan Penyaluran Bibit. Bibit yang dihasilkan dari kebun bibit berupa pucuk (rayungan) dan bagal. Untuk memperoleh bibit dengan kualitas yang baik maka sebaiknya bibit dipungut pada umur tanaman antara 6-7 bulan. Pemangkasan bibit pucuk dilakukan setinggi-tingginya 8 ruas dari atas tanah dengan menggunakan alat potong yang tajam dan disuci-hamakan. Pengangkutan bibit diupayakan dilakukan secara hati-hati untuk menghindari kerusakan bibit. Pengangkutan bibit rayungan dapat menggunakan keranjang atau diikat dalam jumlah tertentu, sedangkan pengangkutan bibit bagal masih dalam bentuk lonjoran yang diikat dalam jumlah tertentu, dan tidak dilakukan pengelupasan terhadap pelepah daun. Beberapa hal yang harus dilakukan oleh petani tebu setelah mendapatkan bibit untuk pertanaman tebu di lahannya antara lain: 1. Memisahkan bibit yang rusak akibat gangguan pengangkutan atau hama 2. Memotong stek bagal, kemudian dikelompokkan antara stek yang berasal dari bagian bawah, tengah serta pucuk dan masing-masing ditanam pada luasan

tersendiri agar diperoleh tanaman yang seragam pertumbuhannya

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil serta pembahasan di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain: 1. Jumlah yang baik untuk stek pada tebu yaitu 3, karena efisien serta efektif pada pertumbuhan tanaman tebu nantinya 2. Pertumbuhan tanaman tebu dipengaruhi faktor abiotik dan faktor biotik

3. Bibit pucuk, merupakan bibit yang sering digunakan oleh para petani untuk pembibitan tebu 5.2 Saran Sebaiknya penanaman setek tebu, bahan setek yang digunakan adalah setek yang sudah cukup umur dan berkualitas baik serta memiliki deskripsi tananam yang cukup jelas.

DAFTAR PUSTAKA Darmojo, S. 1988. Budidaya Tanaman Tebu. Penebar Swadaya. Jakarta. Handoyo, H. 1998. Tebu sebagai Tanaman Komoditas Ekspor. Warta Pusat Penelitian Perkebunan P3GI Pasuruan. No. 3- 48 hal Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia. 1990. Varietas harapan Potensial Sebagai varietas Unggul Lokal. Pasuruan. 26p. Sugiyarto, E. 1992. Usaha Budidaya Tebu Indonesia. Prosiding Konferensi Nasional Produksi Perkebunan Indonesia III. Bandar Lampung. Sunanto, Hatta. 2002. Tebu, Budidaya, Pengolahan Hasil dan Aspek Ekonominya. Kanisius. Yogyakarta.