BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan berbagai jenis masalah.

Masalah utama yang dihadapi diIndonesia adalah dibidang kependudukan yang masih tingginya pertumbuhan penduduk. Keadaan penduduk yang demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk semakin besar usaha yang dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu Pemerintah terus berupaya untuk menekan laju pertumbuhan dengan Program Keluarga Berencana. Program KB ini dirintis sejak tahun 1951 dan terus berkembang, sehingga pada tahun 1970 terbentuk Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Program ini salah satu tujuannya adalah penjarangan kehamilan mengunakan metode kontrasepsi dan menciptakan kesejahteraan ekonomi dan sosial bagi seluruh masyarakat melalui usaha-usaha perencanaan dan pengendalian penduduk. Pendapat Malthus yang dikutip oleh Manuaba (1998) mengemukakan bahwa pertumbuhan dan kemampuan mengembangkan sumber daya alam laksana deret hitung, sedangkan pertumbuhan dan perkembangan manusia laksana deret ukur, sehingga pada suatu titik sumber daya alam tidak mampu menampung pertumbuhan manusia telah menjadi kenyataan. Berdasarkan pendapat di atas, diharapkan setiap keluarga memperhatikan dan merencanakan jumlah keluarga yang diinginkan berkenaan dengan hal tersebut. Paradigma baru Program KB Nasional telah diubah visinya dari mewujudkan NKKBS menjadi “Keluarga berkualitas 2015” untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas adalah keluarga sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, Harmonis, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Sarwono, 2003 ).

pendidikan.174 orang atau 32.08 %.541 orang atau 14. KB MOP 18 orang atau 0. Berdasarkan prasurvey di Puskesmas Banjarsari Metro Utara bahwa pengguna alat kontrasepsi Metode Kontrasepsi Jangka Panjang khususnya IUD dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor misalnya faktor tingkat ekonomi. Metode ini lebih ditekankan karena MKJP dianggap lebih efektif dan lebih mantap dibandingkan dengan alat kontrasepsi pil. id.32 %.92 %.61 % dari seluruh metode KB. Keberhasilan ini mutlak harus diperhatikan bahkan terus ditingkatkan karena pencapaian tersebut belum merata. kondom maupun .01 %. Bila dilihat dari cara pemakaian alat kontasepsi dapat dikatakan bahwa 51. Medis Operatif Pria (MOP) dan Medis Operatif Wanita (MOW) kurang diminati.037 jiwa. susuk (Implant) dan kontap (Vasektomi dan Tubektomi). bkkbn. Pada umumnya PUS (Pasangan Usia Subur) yang telah menjadi akseptor KB lebih banyak menggunakan pil. Pada umumnya masyarakat memilih metode non MKJP. jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) adalah 4. Implamt. paritas. yaitu alat kontrasepsi spiral (IUD).27 %. Sementara ini kegiatan Keluarga Berencana masih kurangnya dalam pengunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). KB MOW 146 orang atau 4. Sehingga metode KB MKJP seperti Intra Uterine Devices (IUD). Kabupaten Kota Madya Metro jumlah peserta KB aktif IUD 2. KB IUD 395 orang atau 10. suntik dan kondom. KB Suntik 1. Berdasarkan data dari BKKBN propinsi Lampung akseptor aktif IUD sebanyak 13. Menurut data yang diperoleh dari Puskesmas Banjarsari Metro Utara tahun 2006.49%.11 %. go.87%. usia. KB Implant 548 orang atau 15. (www.632 jiwa.341 orang atau 36.Gerakan KB Nasional selama ini telah berhasil mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam membangun keluarga kecil yang makin mandiri.21 % akseptor KB memilih Suntikan sebagai alat kontrasepsi. KB Kondom 10 orang atau 0. 4.01%.72 % memilih IUD dan lainnya 1. 40. 2005). Dengan perincian sebagai berikut : KB Pil 1.02 % memilih Pil. sedangkan yang menjadi peserta KB aktif adalah 3. Namun pada akhir-akhir ini akseptor lebih dianjurkan untuk menggunakan program Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).93 % memilih Implant 2.

usia.go.suntikan(www. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor misalnya faktor tingkat ekonomi. paritas.4.1998).87%. pendidikan.4.5. Dengan demikian peneliti ingin mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan hasil prasurvey di Puskesmas Banjarsari Metro Utara dari jumlah peserta KB aktif 3.1 Tujuan Umum .1 Apakah tingkat ekonomi berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Banjarsari? 1.4 Pertanyaan Peneliti 1.id.4.3 Apakah paritas berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD diPuskesmas Banjarsari? 1. 1.2 Apakah usia berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Banjarsari ? 1.5 Tujuan 1.4 Apakah pendidikan berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Banjarsari? 1.632orang yang hanya menjadi peserta KB IUD hanya 10. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian mengenai “Faktor-faktor yang mempengaruhi Keenganan Akseptor KB untuk Menggunakan Alat Kontrasepsi IUD ” .bkkbn. 1.3 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas peneliti merumuskan masalah sebagai berikut “Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Banjarsari Kecamatan Metro Utara tahun 2006” .4.

1.Untuk mengetahui faktor.6 Manfaat Penelitian 1. b.faktor yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD. Bagi Peneliti berpengaruh terhadap pemilihan . 4. 1. 3.2 Tujuan Khusus a. Bagi akseptor IUD (Responden) Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan motivasi bagi masyarakat setempat untuk mengerti dan memahami tentang fungsi. Bagi Puskesmas Banjarsari Kecamatan Metro Utara Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan guna peningkatan pelayanan kontasepsi IUD demi terciptanya metode kontraswpsi efektif dan berjangka panjang.5. d. Untuk mengetahui apakah usia berpengaruh terhadap pemilihan kontrasepsi IUD. serta efektifitas kontrasepsi IUD sehingga masyarakat semakin mengenal dan pemakaian kontrasepsi IUD semakin bertambah. Untuk mengetahui apakah tingkat ekonomi berpengaruh terhadap pemilihan kontrasepsi IUD. c. Untuk mengetahui apakah pendidikan berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD. Bagi Institusi Pendidikan Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya dalam memperbanyak referensi tentang alat kontrasepsi IUD dan sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya. 2. Untuk mengetahui apakah paritas kontrasepsi IUD. manfaat.

2.6 Ruang Lingkup Ruang Lingkup penelitian sebagai berikut : 1. Subjek Penelitian : Seluruh akseptor KB di wilayah Pusksesmas Banjarsari Kecamatan Metro Utara 3. 5.Penelitian ini sangat berguna untuk menambah pengalaman dan wawasan dalam penelitian serta sebagai bahan untuk menerapkan ilmu yang telah didapatkan selama kuliah. Alasan : Wilayah Puskesmas Banjarsari Kecamatan Metro Utara : : Studi Deskriptif dengan pendekatan cross sectional : Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Banjarsari Metro Utara Tahun 2006 . Objek Penelitian : Faktor.faktor yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD. Waktu Penelitian 5. Bagi Peneliti Lain Agar dapat dijadikan masukan dalam penelitian serupa dan dapat lebih memperdalam penelitian yang sudah ada. 1. Lokasi Peneliti 4. Jenis Penelitian 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful