Anda di halaman 1dari 23

AINARO RAMLIN

6.Evapotranspirasi
Kategori: | 18 December 2006 | 9:39 am |

Deskripsi Singkat
Evaporasi merupakan proses fisis perubahan cairan menjadi uap, hal ini terjadi apabila air cair berhubungan dengan atmosfer yang tidak jenuh, baik secara internal pada daun (transpirasi) maupun secara eksternal pada permukaan-permukaan yang basah. Suatu tajuk hutan yang lebat menaungi permukaan di bawahnya dari pengaruh radiasi matahari dan angin yang secara drastis akan mengurangi evaporasi pada tingkat yang lebih rendah. Transpirasi pada dasarnya merupakan salah satu proses evaporasi yang dikendalikan oleh proses fotosintesis pada permukaan daun (tajuk). Perkiraan evapotranspirasi adalah sangat penting dalam kajian-kajian hidrometeorologi.

Relevansi
Dengan mempelajari proses terjadinya, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap evapotranspirasi, mahasiswa dapat melakukan analisis neraca air suatu kawasan hutan melalui pendekatan dari model-model penghitungan evapotranspirasi yang ada. Dengan menguasai metode ini diharapkan mahasiswa mampu melakukan pengelolaan hutan dengan mendasarkan pada hasil neraca airnya.

Tujuan Instruksional Khusus


Setelah mempelajari bagian ini, mahasiswa dapat melakukan pengukuran dan analisis evapotranspirasi melalui pendekatan model-model neraca air. Harapannya mahasiswa mampu melakukan monitoring dan evaluasi suatu kawasan hutan melalui pendekatan neraca air kawasannya.

Pengertian dan Faktor Evapotranspirasi


Peristiwa berubahnya air menjadi uap dan bergerak dari permukaan tanah dan permukaan air ke udara disebut evaporasi (penguapan). Peristiwa pengauapan dari tanaman disebut transpirasi. Kedua-duanya bersama-sama disebut evapotranspirasi. Faktor-faktor utama yang berpengaruh adalah (Ward dalam Seyhan, 1977) : 1. Faktor-faktor meteorologi a. Radiasi Matahari b. Suhu udara dan permukaan c. Kelembaban d. Angin e. Tekanan Barometer 2. Faktor-faktor Geografi a. Kualitas air (warna, salinitas dan lain-lain)

AINARO RAMLIN

b. Jeluk tubuh air c. Ukuran dan bentuk permukaan air 3. Faktor-faktor lainnya a. Kandungan lengas tanah b. Karakteristik kapiler tanah c. Jeluk muka air tanah d. Warna tanah e. Tipe, kerapatan dan tingginya vegetasi f. Ketersediaan air (hujan, irigasi dan lain-lain) Model-model Analisis Evapotranspirasi Perkiraan evapotranspirasi adalah sangat penting dalam kajian-kajian hidrometeoro-logi. Pengukuran langsung evaporasi maupun evapotranspirasi dari air maupun permukaan lahan yang luas akan mengalami banyak kendala. Untuk itu maka dikembangkan beberapa metode pendekatan dengan menggunakan input data-data yang diperkirakan berpengaruh terhadap besarnya evapotranspirasi. Apabila jumlah air yang tersedia tidak menjadi faktor pembatas, maka evapotranspirasi yang terjadi akan mencapai kondisi yang maksimal dan kondisi itu dikatakan sebagai evapotranspirasi potensial tercapai atau dengan kata lain evapotranspirasi potensial akan berlangsung bila pasokan air tidak terbatas bagi stomata maupun permukaan tanah. Pada daerah-daerah yang kering besarnya evapotranspirasi sangat tergantung pada besarnya hujan yang terjadi dan evapotranspirasi yang terjadi pada saat itu disebut evapotranspirasi aktual.

Analisis Evapotranspirasi Metode Meyer


E = 0,35 (ea ed) (1 + V/100) mm/hari Ed = ea * RH ea ===>lihat tabel berdasar t bola kering RH ===>lihat tabel berdasar t bola basah & t V = kecepatan angin (mile/hari) Evapotranspirasi merupakan faktor dasar untuk menentukan kebutuhan air dalam rencana irigasi dan merupakan proses yang penting dalam siklus hidrologi.

Analisis Evapotranspirasi Potensial Metode Thornwaite


Data yang diperlukan dalam metode ini adalah suhu rata-rata bulanan yang didapat dari suhu rata-rata harian. Data tersebut dianalisis dengan rumus-rumus :

Analisis Neraca Air Metode Thornwaite Mather

AINARO RAMLIN

Perhitungan neraca air menurut fungsi meteorologis sangat berguna untuk evaluasi ketersediaan air di suatu wilayah terutama untuk mengetahui kapan ada surplus dan defisit air. Neraca air ini umumnya dihitung dengan metoda Thornthwaite Mather. Data yang diperlukan berupa : 1. Curah hujan bulanan 2. Suhu udara bulanan 3. Penggunaan lahan 4. Jenis tanah atau tekstur tanah 5. Letak garis lintang Langkah-langkah perhitungan : 1. Hitung suhu udara bulanan rata-rata Data suhu udara pada umumnya sulit diperoleh, oleh karena itu suhu udara dapat diperkirakan dengan data suhu yang ada di suatu tempat : t = 0,006 x ht1 = t 2 t h = beda tinggi tempat lokasi 1 dengan lokasi 2 (dalam meter) t = beda suhu udara ( C);t2 = suhu udara di lokasi 2. 2. Hitung Evapotranspirasi dengan metode Thornthwaite Mather (Ep) 3. Hitung selisih hujan (P) dengan evapotranspirasi 4. Hitung accumulated potential water losses (APWL) 5. Hitung Water Holding Capacity (Sto) berdasar Tabel (Lampiran 4) 6. Hitung soil moisture storage (St.) Sto dihitung atas dasar data tekstur tanah, kedalaman akar 7. Hitung delta St tiap bulannya st = Sti bulan ke i dikurangi St bulan ke (i 1) 8. Hitung evapotranspirasi aktual (Ea) untuk bulan basah ( P > Ep), maka Ea = Ep untuk bulan kering ( P < Ep), maka Ea = P + |- St| 9. Hitung surplus air (S); Bila P > Ep, maka S = ( P EP) - St. 10. Hitung defisit (D), D = Ep - Ea.

Analisis Evapotranspirasi Metode Turc Langbein


Rumus umum yang digunakan yaitu konsep neraca air secara meteorologis pada suatu DAS (Seyhan, 1977) : P = R + Ea St Dalam hal ini :

AINARO RAMLIN

P = curah hujan R = limpasan permukaan Ea = evapotranspirasi aktual St = perubahan simpanan Apabila neraca air tersebut diterapkan untuk periode rata-rata tahunan, maka St dapat dianggap nol, sehingga surplus air yang tersedia adalah : R = P Ea Dan jumlah air yang tersedia diperkirakan sebesar 25% hingga 35% dari surplus air. Menurut Keijne (1973), evapotranspirasi aktual tahunan dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus Turc-Langbein : Dalam hal ini : E = evapotranspirasi aktual (mm/tahun) Eo = evaporasi air permukaan (mm/tahun) P = curah hujan rata-rata (mm/tahun) T = suhu udara rata-rata (oC) Nilai suhu udara dapat diketahui berdasarkan data suhu udara rata-rata tahunan dari stasiun yang diketahui dengan persamaan : T1 = T2 (Z1 Z2) 0,006 Dalam hal ini : T1 = suhu udara yang dihitung pada stasiun 1 T2 = suhu udara yang diketahui dari stasiun 2 Z1 = elevasi stasiun 1 Z2 = elevasi stasiun 2 Evaporasi dilaksanakan dengan cara menguapkan sebagian dari pelarut pada titik didihnya, sehingga diperoleh larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih tinggi. Uap yang terbentuk pada evaporasi biasanya hanya terdiri dari satu komponen, dan jika uapnya berupa campuran

AINARO RAMLIN

umumnya tidak diadakan usaha untuk memisahkan komponenkomponennya. Dalam evaporasi zat cair pekat merupakan produk yang dipentingkan, sedangkan uapnya biasanya dikondensasikan dan dibuang. Disinilah letak perbedaan antara evaporasi dan distilasi. Proses evaporasi dengan skala komersial di dalam industri kimia dilakukan dengan peralatan yang namanya evaporator. Contoh-contoh Operasi Evaporasi dalam Industri Kimia : 1. Pemekatan larutan NaOH 2. Pemekatan larutan KNO3 3. Pemekatan larutan NaCL 4. Pemekatan larutan nira dan lain-lain. PENUKAR PANAS Penukar panas atau dalam industri kimia populer dengan istilah bahasa Inggrisnya, heat exchanger (HE), adalah suatu alat yang memungkinkan perpindahan panas dan bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya, medium pemanas dipakai uap lewat panas (super heated steam) dan air biasa sebagai air pendingin (cooling water). Penukar panas dirancang sebisa mungkin agar perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien. Pertukaran panas terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida terdapat dinding yang memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung begitu saja. Penukar panas sangat luas dipakai dalam industri seperti kilang minyak, pabrik kimia maupun petrokimia, industri gas alam, refrigerasi, pembangkit listrik. Salah satu contoh sederhana dari alat penukar panas adalah radiator mobil di mana cairan pendingin memindahkan panas mesin ke udara sekitar.( Suparni Setyowati Rahayu/ Chem-is-try.org ) Posted in Proses Industri

AINARO RAMLIN

LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ANDALAS PADANG, 2009 I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Secara alamiah tumbuhan mengalami kehilangan air melalui penguapan. Proses kehilangan air pada tumbuhan ini disebut transpirasi. Pada transpirasi, hal yang penting adalah difusi uap air dari udara yang lembab di dalam daun ke udara kering di luar daun. Kehilangan air dari daun umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air ke dalam daun dari berkas pembuluh yaitu pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk, dan bahkan dari tanah ke akar (Anonimous,2005) Ada banyak langkah dimana perpindahan air dan banyak faktor yang mempengaruhi pergerakannya. Besarnya uap air yang ditranspirasikan dipengaruhi oleh beberapa faktor,

AINARO RAMLIN antara lain: (1) Faktor dari dalam tumbuhan (jumlah daun, luas daun, dan jumlah stomata); (2) Faktor luar (suhu, cahaya, kelembaban, dan angin) (Salisbury, 1992) Ruang interseluler udara dalam daun mendekati keseimbangan dengan larutan dalam fibrill sel pada dinding sel. Hal ini berarti sel-sel hampir jenuh dengan uap air, padahal banyaknya udara di luar daun hampir kering. Difusi dapat terjadi jika ada jalur yang memungkinkan adanya ketahanan yang rendah. Kebanyakan daun tertutup oleh epidermis yang berkutikula yang memiliki resistansi (ketahanan) tinggi untuk terjadinya difusi air. Namun stomata memiliki resistansi rendah ketika membuka dan uap air berdifusi ke luar melalui stomata (Loveless,1991) Jumlah difusi keluarnya uap air dari stomata tergantung pada tingkat kecuraman gradien konsentrasi uap air. Lapisan pembatas yang tebal memiliki gradien yang lebih rendah, dan lapisan pembatas yang tipis memiliki gradien yang lebih curam. Oleh karena itu, transpirasi melalui lapis pembatas yang tebal lebih lambat dari pada yang tipis. Angin membawa udara dekat ke daun dan membuta pembatas lebih tipis. Hal ini menunjukkan mengapa laju transpirasi pada tumbuhan lebih tinggi pada udara yang banyak hembusan angin (Khairunnisa, 2000) Beberapa penggantian air berasal dari dalam sel daun melalui membran plasma. Ketika air meninggalkan daun, molekul air menjadi lebih kecil. Hal ini akan mengurangi tekanan turgor. Jika banyak air yang dipindahkan, tekanan turgor akan menjadi nol. Oleh karena itu, sel menjadi lunak dan kehilangan kemampuan untuk mendukung daun. Hal ini dapat terlihat ketika tanaman layu. Untuk mengetahui tingkat efisiensi tumbuhan dalam memanfaatkan air, sering dilakukan pengukuran terhadap laju transpirasi. Tumbuhan yang efisien akan menguapakan air dalam jumlah yang lebih sedikit untuk membentuk struktur tubuhnya (bahan keringnya) dibandingkan dengan tumbuhan yang kurang efisien dalam memanfaatkan air (Anonimous, 2005).

AINARO RAMLIN 1.2 Tujuan Untuk menghitung luas permukaan daun, mengetahui kecepatan evaporasi dari lembaran daun, menghitung hilangnya uap air dari kedua permukaan daun dengan metode kertas cobalt dan menghitung kecepatan transpirasi pada permukaan daun dosiventral.

AINARO RAMLIN

II. TINJAUAN PUSTAKA

Transpirasi ialah satu proses kehilangan air dari tumbuh-tumbuhan ke atmosfer dalam bentuk uap air. Air diserap dari akar rerambut tumbuhan dan air itu kemudian diangkut melalui xilem ke semua bahagian tumbuhan khususnya daun. Bukan semua air digunakan dalam proses fotosintesis. Air yang berlebihan akan disingkirkan melalui proses transpirasi. Jika kadar kehilangan air melalui transpirasi melebihi kadar pengambilan air tumbuhan tersebut, pertumbuhan pokok akan terhalang. Akibat itu, mereka yang mengusahakan pernanaman secara besar besaran mungkin mengalami kerugian yang tinggi sekira mengabaikan faktor kadar transpirasi tumbuh tumbuhan (Devlin, 1983). Proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak di atas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula, dan lentisel 80% air yang ditranspirasikan berjalan melewati lubang stomata, paling besar peranannya dalam transpirasi (Michael, 1964). Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi evatransporasi :1.) Radiasi matahari.

AINARO RAMLIN Dari radiasi matahari yang diserap oleh daun, 1-5% digunakan untuk fotosintesis dan 7585% digunakan untuk memanaskan daun dan untuk transpirasi. 2.)Temperatur. Peningkatan temperatur meningkatkan kapasitas udara untuk menyimpan air, yang berarti tuntutan atmosfer yang lebih besar. 3.) Kelembaban relatif. Makin besar kandungan air di udara, makin tinggi Y udara, yang berarti tuntutan atmosfer menurun dengan meningkatnya kelembapan relatif. 4.) Angin. Transpirasi terjadi apabila air berdifusi melalui stomata. Apabila aliran udara (angin) menghembus udara lembab di permukaan daun, perbedaan potensial air di dalam dan tepat di luar lubang stomata akan meningkat dan difusi bersih air dari daun juga meningkat (Gardner, et.al., 1991 ) Faktor-faktor tanaman yang mempengaruhi evapotranspirasi : 1.) Penutupan stomata. Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula secara relatif tidak tembus air, dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata tertutup. Jika stomata terbuka lebih lebar, lebih banyak pula kehilangan air tetapi peningkatan kehilangan air ini lebih sedikit untuk mesing-mesing satuan penambahan lebar stomata Faktor utama yang mempengaruhi pembukaan dan penutupan stomata dalam kondisi lapangan ialah tingkat cahaya dan kelembapan. 2.) Jumlah dan ukuran stomata. Jumlah dan ukuran stomata, dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan mempunyai pengaruh yang lebih sedikit terhadap transpirasi total daripada pembukaan dan penutupan stomata 3.) Jumlah daun. Makin luas daerah permukaan daun, makin besar evapotranspirasi. 4.) Penggulungan atau pelipatan daun. Banyak tanaman mempunyai mekanisme dalam daun yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila persediaan air terbatas. 5.) Kedalaman dan proliferasi akar. Ketersedian dan pengambilan kelembapan tanah oleh tanaman budidaya sangat tergantung pada kedalaman dan proliferasi akar. Perakaran yang lebih dalam meningkatkan ketersediaan air, dari proliferasi akar (akar per satuan volume tanah ) meningkatkan pengambilan air dari suatu satuan volume tanah sebelum terjadi pelayuan permanen (Gardner, et.al., 1991 )

AINARO RAMLIN Tumbuh-tumbuhan di negara kita menerima pancaran matahari yang terik secara terus menerus sepanjang tahun. Ini karena negara kita terletak di kawasaan yang beriklim Khatulistiwa. Oleh itu transpirasi yang dijalankan oleh tumbuh - tumbuhan mempunyai kadar yang lebih tinggi daripada tumbuh tumbuhan di kawasan iklim lain. Lantaran itu air perlu diserap dengan kadar yang tinggi juga untuk mengimbangi kehilangan air. Oleh itu tumbuh tumbuhan di negara ini perlu disiram lebih sering. Jika tidak, tumbuh-tumbuhan akan layu dan mati. (Yatim,1991). Perbedaan antara transpirasi dengan evaporasi adalah : pada tranpirasi 1). proses fisiologis atau fisika yang termodifikasi 2.) diatur bukaan stomata 3.) diatur beberapa macam tekanan 4.) terjadi di jaringan hidup 5.) permukaan sel basah, pada evaporasi 1.) proses fisika murni 2.) tidak diatur bukaan stomata 3.) tidak diatur oleh tekanan 4.) tidak terbatas pada jaringan hidup 5.) permukaan yang menjalankannya menjadi kering.Sebagian besar air yang diserap tanaman ditranspirasikan. Misal: tanaman jagung, dari 100% air yang diserap: 0,09% untuk menyusun tubuh, 0,01% untuk pereaksi, 98,9% untuk ditranspirasikan (Fitter , 1991) Transpirasi dapat membahayakan tanaman jika lengas tanah terbatas, penyerapan air tidak mampu mengimbangi laju transpirasi, w sel turun, p menurun, tanaman layu, layu permanent, mati, hasil tanaman menurun. Sering terjadi di daerah kering, perlu irigasi, meningkatkan lengas tanah, pada kisaran layu tetap kapasitas lapangan (Jumin, 1992). Peranan transpirasi, 1.)Pengangkutan air ke daun dan difusi air antar sel 2.)Penyerapan dan pengangkutan air dan hara 3.)Pengangkutan asimilat 4.)Membuang kelebihan air 5.) Pengaturan bukaan stomata 6.) Mempertahankan suhu daun. Macammacam transpirasi: 1.)Stomater :80-90% total transpirasi, 2.) Kutikuler: 20% total transpirasi, 3.) Lentikuler : 0,1% total transpirasi. Transpirasi sangat berkaitan dengan stomata, stomata pada umumnya terdapat pada bagian-bagian tumbuhan yang berwarna hijau, terutama

AINARO RAMLIN sekali pada daun-daun tanaman.. Pada daun-daun yang berwarna hijau stomata terdapat pada satu permukaannya saja (Anonimous,2005) Adaptasi tumbuhan terhadap transpirasi, pada daun tumbuhan seperti pohon cemara, jati dan akasia mengurangi penguapan dengan cara menggungurkan daunnya di musim panas.Pada tumbuhan padi-padian, liliacea dan jahe-jahean,tumbuhan jenis ini mematikan daunnya pada musim kemarau. Pada musim hujan daun tersebut tumbuh lagi. Contoh kaktus: Melocactus curvispinus.Tumbuhan yang hidup di gurun pasir atau lingkungan yang kekurangan air (daerah panas) misalnya kaktus, mempunyai struktur adaptasi khusus untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pada tumbuhan yang terdapat di daerah panas, jika memiliki daun maka daunnya berbulu, bentuknya kecil-kecil dan kadang-kadang daun berubah menjadi duri dan sisik (Fitter , 1991). Lapisan lilin kulit luar daunnya tebal, mempunyai lapisan lilin yang tebal dan mempunyai sedikit stomata untuk mengurangi penguapan. Beberapa tumbuhan di gurun pasir daunnya menutup (mengatup) pada siang hari dan membuka pada malam hari untuk menghindari penguapan yang berlebih. Sistem perakaran tumbuhan di daerah panas memiliki akar yang panjang-panjang sehingga dapat menyerap air lebih banyak (Salisbury, 1992).

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan tempat Praktikum Fisiologi Tumbuhan ini dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2008 di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.

AINARO RAMLIN

3.2 Alat dan bahan Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah timbangan, jepitan kertas, gunting dan beker glass. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu daun Acasia sp , Piper aduncum, Caladium sp, kertas kobalt dan vaselin.

3.3. Cara kerja 3.3.1 Menghitung luas daun berhubungan denga evaporasi a. Menghitung luas daun Diambil lembaran daun dari Acasia sp dan Piper aduncum lalu ditempelkan pada selembar kertas yang telah diketahui berat dan luasnya, dibuat jiplakan daun di atas kertas tersebut, kemudian haisl jiplakan digunting dan ditimbang, dengan demikia luas daun dapat dihitung dengan rumus : Luas daun : Berat guntingan gambar daun x luas kertas Berat kertas b. Mengukur Kecepatan Evaporasi Diambil lembaran daun yang telah diketahui luas permukaannya, kemudian ditimbang dan digantung di bawah cahaya matahari dalam interval waktu 60 menit, dan dilakukan penimbangan setiap 20 menit, dan dihitung kecepatan evaporasi dengan rumus :

Besar penguapan : waktu

Luas permukaan daun

AINARO RAMLIN 3.3.2 Menghitung kecepatan transpirasi dengan metode kertas kobalt Daun dibersihkan, diambil kertas cobalt berdiametr 10 cm, yang telah ditempel pada selembar celluloid, dijepitkan pada pada pinggiran daun sehingga masing-masing daun permukaan atas dan bawah terjepit oleh kertas cobalt.Dicatat waktu yang dibutuhkan untuk merobah warna kertas tersebut dari biru menjadi merah muda untuk setiap permukaan daun, kemudian ditentukan kehilangan uap air dengan rumus : G = T 3600

3.3.3 Laju transpirasi pada daun dorsiventral Diambil dua lembar daun Caladium sp ditimbang dan direndam dalam air, daun pertama diolesi dengan vaselin pada bagian permukaan atas, dan pada daun ke dua diolesi vaselin pada bagian bawah, ditimbang kembali, kedua daun tersebut dijemur di bawah matahari selama 1 jam dan ditimbang kembali, dan dibandingkan hasil tranpirasi stomata dan transpirasi kutikula.

3.4 Pengamatan Pada praktikum Transpirasi dan Evaporasi ini yang diamati yaitu luas permukaan daun dengan penjiplakan, mengamati evaporasi daun dengan penjemuran daun dan melakukan penimbangan sesuai waktu interval dan menggunakan rumus untuk mendaptkan hasilnya. Mengetahui besarnya kecepatan transpirasi dengan mengamati perubahan warna pada kertas kobalt dengan penghitungan waktu lama nya perubahan warna. Mengamati perbedaan pada kecepatan transpirasi stomata dan kutikula, dengan pemberian vaselin di permukaan atas dan di bawah pada daun yang berbeda tapi satu spesies.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

AINARO RAMLIN

Percobaan A. 1. Panjang kertas Lebar Kertas Berat kertas : 33,1 cm : 21,8 cm : 3,52 gr

Berat guntingan gambar daun I : 0,44 gr Berat guntingan gambar daun II : 0,44 gr 0,44 Luas Daun I = X 721,58 = 90,1975 cm2

3,52 0,44 Luas Daun II = X 721,58 = 90.1978 cm2 3,52 Percobaan b. Tabel percobaan b. Menghitung kecepatan evaporasi W awal W30 menit W 60 menit W akhir Daun I 3,56 gr 2,99 gr 2,74 gr 2,40 gr Daun II 3,36 gr 3,23 gr 3,19 gr 3,10 gr

3,46 2,40 Kecepatan evaporasi daun I = : 90 = 0,00013 g/cm2/menit

AINARO RAMLIN 90,1975 3,36 3,10 Kecepatan evaporasi daun II = 90,1975 Percobaan C. T = 5 menit 52 detik = 352 detik L = 5 x 5 = 25 cm2 = 0,25 dm2 : 90 = 0,000032 g/cm2/menit

3600 . 1 G = = 40,91 g/dm2

/detik 352 . 0,25

Percobaan d. Daun I Berat awal = 10,51 gr

Berat akhir

= 10,39 gr

Beras penguapan = Berat awal berat akhir = 10,51 10,39 = 0,12 gr

Daun II Berat awal = 10,30 gr Berat akhir = 10,14 gr Besar penguapan = 10,30 10,14

AINARO RAMLIN = 0,16 gr Pembahasan

Penutupan stomata., sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula secara relatif tidak tembus air, dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabi la stomata tertutup. Jika stomata terbuka lebih lebar, lebih banyak pula kehilangan air tetapi peningkatan kehilangan air ini lebih sedikit untuk masing-masing satuan penambahan lebar stomata (Khairunnisa,2000). Proses transpirasi dapat diterangkan dengan mengacu sifat fisik air . Molekul air akan melakukan tarik menarik dengan molekul air lainnya melalui proses kohesi. Selain itu molekul air juga dapat melakukan tarik menarik dengan dinding xilem melalui proses adhesi. Penguapan air melalui stomata akan menarik kolom air yang ada di dalam xilem, dan molekul air baru akan masuk ke dalam rambut akar. Teori kehilangan air melalui traspirasi ini disebut juga teori tegangan adhesi dan kohesi (Jumin, 1992). Faktor utama yang mempengaruhi pembukaan dan penutupan stomata dalam kondisi lapangan ialah tingkat cahaya dan kelembapan. Jumlah dan ukuran stomata. Jumlah dan ukuran stomata, dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan mempunyai pengaruh yang lebih sedikit terhadap transpirasi total daripada pembukaan dan penutupan stomata. Jumlah daun.juga mempengaruhi transpirasi, makin luas daerah permukaan daun, makin besar evapotranspirasi (Fitter , 1991). 4.2.2 Menghitung kecepatan transpirasi dengan metoda kertas kobalt Pada percobaan ini dapat dilihat kecepatan transpirasi yang dibandingkan antara daun dan, jika dilihat dari hasil praktikum pada tabel maka transpirasi berlangsung

lebih cepat pada daun dibandingkan dengan daun, ini mungkin disebabkan karena ada factor lain yang menyebabkan daun lebih lambat transpirasinya dari pada salah satunya

AINARO RAMLIN yaitu karena pada daun mempunyai banyak bulu-bulu halus yang terdapat pada permukaan daunnya sehingga menghambat stomata terbuka. Waktu yang dibutuhkan untuk transpirasi yaitu detik , sedangkan pada lebih cepat yaitu detik. Penggulungan atau pelipatan daun, banyak tanaman mempunyai mekanisme dalam daun yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila persediaan air terbatas. Kedalaman dan proliferasi akar, ketersedian dan pengambilan kelembapan tanah oleh tanaman budidaya sangat tergantung pada kedalaman dan proliferasi akar. Perakaran yang lebih dalam meningkatkan ketersediaan air, dari proliferasi akar (akar per satuan volume tanah ) meningkatkan pengambilan air dari suatu satuan volume tanah sebelum terjadi pelayuan permanen (Gardner, et.al., 1991).

4.2.3 Laju transpirasi pada daun dorsiventral Pada percobaan ini dapat dilihat bahwa transpirasi stomata lebih cepat daripada transpirasi kutikula, ini mungkin disebabkan jumlah stomata lebih banyak daripada kutikula, dan dikarenakan letak kutikula di atas permukaan daun, masih ada organ tambahan pada tumbuhan yang dapat menghambat transpirasi di kutikula, seperti bulu-bulu halus di permukaan daun. Daun yang diolesi vaselin pada permukaan atas daun lebih berat yaitu 9,60 gram dari pada permukaan daun bagian bawah 6,65 gram. Setelah diletakkkan di bawah matahari transpirasi langsung berjalan dengan cepat, ini dibuktikan dengan naiknya berat daun. Radiasi matahari. Dari radiasi matahari yang diserap oleh daun, 1-5% digunakan untuk fotosintesis dan 75-85% digunakan untuk memanaskan daun dan untuk transpirasi. Peningkatan temperatur meningkatkan kapasitas udara untuk menyimpan air, yang berarti tuntutan atmosfer yang lebih besar. Kelembaban relative, makin besar kandungan air di udara, makin tinggi Y udara, yang berarti tuntutan atmosfer menurun dengan meningkatnya

AINARO RAMLIN kelembapan relatif. Angin, transpirasi terjadi apabila air berdifusi melalui stomata. Apabila aliran udara (angin) menghembus udara lembab di permukaan daun, perbedaan potensial air di dalam dan tepat di luar lubang stomata akan meningkat dan difusi bersih air dari daun juga meningkat (Khairunnisa,2000).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

AINARO RAMLIN

5.1 Kesimpulan Dari praktikum yang telah dilaksanakan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Luas permukaan daun terbesar . Kecepatan evaporasi yang tinggi terdapat pada yaitu g/cm2 yaitu

/s, sedangkan yang rendah terdapat pada daun g/ cm2 /s

2. Pengukuran trasnpirasi dengan metode kobalt pada tanaman mendapatkan hasil pada waktu waktu kecepatan transpirasi detik kecepatan transpirasi g/cm2/detik.

, g/cm2/detik dan pada

3. Trasnpirasi stomata lebih cepat daripada trasnpirasi kutikula.

5.2 Saran Diharapkan kepada praktikan untuk lebih serius dalam menjalani praktikum agar tujuan dari praktikum ini dapat terlaksana dengan baik dan praktikan dapat mengetahui dan memahami prosedur kerja.

AINARO RAMLIN

DAFTAR PUSTAKA

Devlin, R.M and K.H.Withan.1983.Plant Phisiology.Williard grant press:Boston Fitter. A. H.dan Hay, R. K. M. ,1991, Fisiologi Lingkungan Tanaman, Gadjah Mada University Press: Yogyakarta

Gardner, F. P. R. Brent pearce dan Goger L. Mitchell, 1991, Fisiologi Tanamanan Budidaya, Universitas Indonesia Press : Jakarta Istimewa. Sabtu, 22 November 2008 02:30 . http://ilmupedia.com/akademik/11/525-sistemtransportasi-dan-transpirasi-dalam-tanaman.html.22.30 wib.31 Maret 2009 Jumin, H. B. , 1992, Ekologi Tanaman suatu Pendekatan Fisiologi, Rajawali Press: Jakarta.

AINARO RAMLIN Khairunnisa,L 2000.Tanggapan Tanaman Terhadap Kekurangan Air.Fakultas Pertanian USU : Medan

Lakitan,B.2004.Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan.Raja Grafindo Persada:Jakarta Loveless,A.R.1991.Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik 1. Gramedia:Jakarta

Michael,P.H.1964. General Phisiology.Kogasuma. Company:Tokyo Salisbury,F.B and C.W Ross.1992.Fisiologi Tumbuhan Jilid III.ITB:Bandung Yatim,W.1991. Biologi Modern Biologi Sel. Tarsio : Bandung

NAMES: Luis Martins Email: ainarobrats@gmail.com Ph: +670 7522519 Ainaro,soro

AINARO RAMLIN