Anda di halaman 1dari 97

1

BAB KALAM
1. SOAL : Apakah semua tanwin itu merupakan kekhususan kalimat isim
sebagaimana yang tercantum didalam nadzom ?
JAWAB : Tidak, tetapi hanya khusus tanwin Tankir, Tamkin, Muqobalah, dan
Iwad.
Referensi :
Ibnu Aqil juz 1 hal 25, Al Haromain

:


)
(25
2. SOAL : Berdasarkan apa bahwa kalimat itu cuma ada tiga ?
JAWAB : Berdasarkan dalil aqli dan naqli.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 19, Dar Al Fikr

:
) (

(19 )
3. SOAL : Pada nadzom .... lafadz diberi pengertian

yang dimaksud dengan tersebut apakah pada mutakallim atau sami?


JAWAB : Yang dimaksud adalah mutakallim, ada yang mengatakan
mukhotob dan ada juga yang mengatakan keduanya. sebagaimana dikitab syarah
Kafiyah.
Referensi :
Bahjah Al Mardliyah hal 5, Al Hidayah

:
) (
( 5 )
BAB MUROB MABNI

2
1. SOAL : Mengapa isim itu yang asal adalah murob?
JAWAB : Sebab isim tanpa adanya Irob tidak akan diketahui beberapa mana
yang berbeda pada kalimat isim.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 25, Dar Al Fikr

:

.........
(25 )
2. SOAL : Mengapa , dan yang selalu di mudofkan itu hukumya mabni
padahal mudof adalah salah satu tanda isim yang murob ?
JAWAB : Sebab , dan selalu menetapi mudof pada jumlah, dan idofah
pada jumlah itu hukumnya adalah khilaful asli kerana idofah tersebut mengira
ngirakan infishol maka tidak dicegah kemabniannya.,
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 26, Dar Al Fikr

:
) (


( 26 )
3. SOAL : Sudah maklum bagi kita bahwa kalimat huruf itu yang asal hurufnya
kurang dari tiga dan jika ada kalimat huruf yang jumlah hurufnya tiga dan
menyerupai isim seperti apakah dihukumi murob seperti isim ?
JAWAB : Tidak, sebab Irob itu didatangkan untuk menunjukkan mana padahal
huruf itu tidak mempunyai mana maka tidak boleh di murobkan.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 26, Dar Al Fikr

:
.......

(26 )

4. SOAL : Mengapa bina yang asal itu menggukan sukun sedangkan Irob itu
menggunakan harokat ?
JAWAB : Sebab bina itu berat sedangkan murob itu ringan , sedangkan sukun
itu ringan dan harokat itu berat maka yang berat diberi yang ringan dan yang
ringan diberi yang berat supaya adil.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 29, Dar Al Fikr

:


( 29 )
5. SOAL : Mengapa lafadz tidak bisa dijama' muannas salimkan ?
6. JAWAB : Yang asal lafadz itu tidak bisa dijama' muannas salimkan, karena
tetapi ada yang mengatakan bisa, maka ji ka dijama'kan menjadi
.
Referensi :
Al Khudori Juz 1 Hal 46, Al Hidayah

:


( 46 1 )
7. SOAL : Apakah keistimewaan Asmaus sittah harus dimudlofkan pada isim jenis
yang dhohir dan bukan shifat ?
JAWAB : Karena menjadi lantaran menshifati lafadz setelahnya
Referensi :
Al Khudori Juz 1 Hal 46, Al Hidayah

:
1 )
38 )

4
6. SOAL : Mengapa fiil madhi itu dimabnikan fathah / harokat padahal mabni yang
asal adalah sukun ?
JAWAB : Fiil madhi itu dimabnikan sebab mabni itu asal dan dimabnika fathah
sebab keserupaannya dengan fiil mudhori yang murob.
Referensi :
Qodli Qudloth juz 1 hal 39, Al Haromain

:





( 39 )
7. SOAL

: Kalimat fiil itu dihukumi nakiroh atau marifat

JAWAB : Dihukumi nakiroh


Referensi :
Ibnu Hamdun Juz 1 hal 45, Dar Al Fikr

:
) (


( 45 1 )
8.

SOAL : Sebab apakah fiil mudore ketika bertemu nun jamak niswah hukumnya
mabni?
JAWAB : Karena bertemunya fiil mudore dengan nun jamak niswah itu
menyerupai fiil madli, tetapi menurut imam Sahil hukumnya adalah mu rob.
Referensi :
Audlhohul Masalik Hal 38



( 38 )
BAB ALAM
1. SOAL : kenapa alam laqob ketika bersamaan denga alam asma harus diakhirkan?
JAWAB :Kalau laqob didahulukan maka akan disangka bahwa alam laqob tersebut
nama asli (alam asma ).
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 56, Dar Al Fikr

:

1 )

( 56
2. SOAL : Kenapa alam yang terdiri dari tarkib mazji yang diakhiri dengan
akhirnuya mabni?
JAWAB : Karena akhirnya tarkib mazji yang diakhiri itu melihat asal kejadian,
lafadz sendiri yaitu mabni sebelum tarkib dan menurut sebagian pendapat bahwa
lafadz itu berupa isim shout dan dimabnikan kasroh kerena bertemunya dua
huruf yang mati.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 57-58, Dar Al Fikr

:
) (


(58-57 1 )
3. SOAL :Apakah lafadz itu bisa dinamakan alam jenis?
JAWAB : Tidak, karena alam jenis itu samai tidak boleh diqiyaskan meskipun
seakan akan lafadz tersebut mengandung jenis.
Referensi :

6
Tashilul Masalik juz 1 hal 29.

:

1 )
( 29
4. SOAL : Apakah ada alam manqul selain manqul yang telah disebutkan didalam
nadzom ?
JAWAB : ada
Referensi :

:




5. SOAL : Kenapa alam manqul yang kejadian dari tarkib mazji yang tidak diakhiri
lafdadz dihukumi mu'rob ?
JAWAB : Karena lafadz itu diserupakan dengan isim fi'il seperti .
Referensi :
Ibnu Hamdun Juz 1 Hal 58, Dar Al Fikr

:


( 58 1 )
BAB ISIM ISYAROH
1.SOAL : Kenapa isim isyaroh untuk mudzakar mufrod hanya satu ( ) sedangkan
untuk muanatsnya sampai berjumlah sepuluh lafadz?
JAWAB : Para ahli nahwu menjadikan ketentuan tersebut karena melihat beberapa
hal diantaranya adalah karena muanats itu lebih banyak dibanding mudzakar dst.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 60, Dar Al Fikr

:
1 )
( 60
2.SOAL : Kenapa isim isyaroh yang didahului ha tambih tidak boleh dimasuki lam?
JAWAB : Tidak bolehnya mengumpulkan ha tambih bersama lam karena
menghindari banyaknya tambahan dalam isim isyaroh
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 61, Dar Al Fikr

:
) (
( 61 1 )

3.SOAL : Kenapa lam isim isyaroh disukun dan dikasroh?
JAWAB : Lam isim isyaroh disukun karena melihat asal peletakannya sedangkan
lamnya dikasroh karena menghindari bertemunya dua huruf yang mati dan
membedakan dengan lam huruf jer yang bersamaan dengan dhomir.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 61, Dar Al Fikr

:

( 61 1 )

4.SOAL : Kenapa isim isyaroh yang mufrod muannas itu lebih banyak dari mufrod
yang mudzakkar ?
JAWAB : Diantaranya karena perempuan lebih banyak dari laki-laki.
Referensi :
Ibnu Hamdun Juz 1 Hal 60,Dar Al Fikr

:
)
(60

5. SOAL : Kenapa isim isyaroh jika sudah ditambahkan lam tidak boleh
menambahkan ha' tanbih ?
JAWAB : Karena banyaknya huruf ziyadah (tambahan)
Referensi :
Ibnu Hamdun Juz 1 Hal 61,Dar Al Fikr

:
)
(61
6. SOAL : Kenapa kaf yang ditambahkan pada pada isim isyaroh itu kaf harfiyah kok
tidak berupa kaf ismiyah ?
JAWAB : Supaya tidak serupa dengan dhomir.
Referensi :
Ibnu Hamdun Juz 1 Hal104,Dar Al Fikr

:
)
(104 1
ISIM MAUSHUL
1. SOAL : Apakah fungsi tasydid yang ada pada nunnya isim maushul ketika
tasniyah seperti
?
JAWAB : Untuk menguatkan perbedaaan antara isim tasniyah yang mu'rob dan
isim tasniyah yang mabni.
Referensi :
As Shoban Juz 1 Hal 216, Haromain / Dar Al Fikr

:

) (
)
(216
2. SOAL : Dimanakah letak kemabnian isim maushul ketika tasniyah ?

JAWAB : Kemabnian kedua lafadz tersebut pada alif ketika tingkah rofa' dan ya'
ketika tingkah nashob dan jer, bukan dimu'robkan keduanya.
Referensi :
Jamiuddurus Juz 1 Hal 99, Dar Al Kutub ilmiyah

:


( 99 1 )
3. SOAL : Pada lafadz . kenapa tidak bisa dijadikan isim maushul ?
JAWAB : Karena pada lafadz tersebut tidak berupa tam, adapun yang dimaksud
tam disini yaitu bisa memberi faidah pada isim maushul.
Referensi :
Syarah Ibnu Aqil Juz 1 Hal 155, Al Hidayah

:


)
(155

4. SOAL : Isim sifat seperti yang dimasuki maushul apakah menjadi


ma'rifat ?
JAWAB : Ya
Referensi :
Ibnu Hamdun Juz 1Hal

: .
)
1

10

MARIFAT NAKIROH
1. SOAL : Menurut imam Kholil yang berlaku adat tarif adalah al (alif dan lam )
apakah alasannya ?
JAWAB : Sebab hamzah yang ada pada al adalah hamzah yang asli / hamzah
qotho.
Referensi :
Qodli Qudloth juz 1 hal 154,

:

1 ) .......
( 154
2. SOAL : Hamzahnya al tarif dalam keadaan washol dibuang padahal menurut
imam kholil hamzahnya al adalah hamzah qoto apa alasannya ?
JAWAB : Sebab banyaknya berlaku adanya pembuangan.
Referensi :
Makudi Hamis Ibnu Hamdun juz 1 hal 70, Dar Al Fikr
Ibnu Hamdun juz 1 hal 70, Dar Al Fikr

:

) .....
( 70
) (
)
(70
3. SOAL : Kenapa isim tasniyah harus disyaratkan berupa nakiroh, dan bagaimana
dengan lafadz ?
JAWAB : Karena isim nakiroh itu berma'na umum dan ma'rifat it khusus, adapun
lafadz itu dikira-kirakan kenakirohannya pada .

11

Referensi :
Hasyiah As Shoban Juz 1 Hal 76

:


(76 1 )

4.

SOAL : Lafadz jika disukun apakah tanda kema'rifatannya ?


JAWAB : Yaitu menempati tempatnya isim yang menerima yaitu .
Referensi :
Syarah Asymuni Juz 1 Hal 156,Haromain / Dar Al Fikr

:

)
( 156 1

BAB MUBTADA WA KHOBAR


1. SOAL: Apakah perbedaan antara ziyadah dengan syibhu ziyadah dalam bab
mubtada?
JAWAB : Ziyadah adalah huruf yang masuk dan keluarnya tidak memberikan
mana dan tidak mempunyai taaluq seperti ba dalam lafadz sedangkan
syibhu ziyadah adalah huruf yang adanya mempunyai faedah dalam kalam dan tidak
punya taaluk seperti contoh
Referensi :
Al kofrowi Hal 66-67

12

) -66
( 67
2. SOAL : Apakah dhorof atau majrur taaluknya dibuang ketika menjadi khobar
?saja
JAWAB: Tidak, bisa juga yang lainnya seperti menjadi sifat, hal dan lainnya.
Referensi :
An nahwu Al mawafi Juz 2 Hal 148.

:




)
2 ( 148

itu bisa mentarkib fa'il padahal tidak 3. SOAL : Kenapa pada contoh
? didahului nafi atau istifham
JAWAB : Karena sudah memberi faidah dan terlaku
Referensi :
Dahlan Alfiyah Hal 40 Al Hidayah.

:
) (
: ......
) (40
? .SOAL : Kenapa khobar yang diringkas dalam mubtada' harus diakhirkan

JAWAB : Karena kalau tidak diakhirkan ma'nanya akan terbalik


Referensi :
Syarhul Usymun juz 1 hal 309 Dar Al Fkr

13


(309 1 )

KANA WA AKHOWATUHA
1

SOAL : Kenapa , , ,, harus didahului nafi atau syibh nafi ?


JAWAB : Karena lafadz tersebut itu disyaratkan menunjukkan ma'na itsbat dan
bisa menunjukkan ma'na tersebut apabila didahului nafi atau syibh nafi.
Referensi :
Hasyyah Al Khudhor juz 1 hal 111 Al Hdayah

:
) (
1 )

( 111

AF'ALUL MUQORABAH
1. SOAL : Af'alul muqorobah itu ada tiga macam. Kenapa yang dijadikan maudlu'
(judul) itu ?
JAWAB : Karena amalnya af'alul muqorobah itu lebih banyak dan pada yang lain
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 97 Dar Al Fkr .

:
.............
) (


( 97 1 )
2. SOAL : itu bisa beramal sebagaimana apakah khobarnya boleh mendahului
isim / amilnya ?

14

JAWAB : Sebenarnya itu disamakan dengan hanya dalam segi


pengamalannya, adapun mendahulukannya dari isimnya itu tidak diperbolehkan
karena adanya itu lemah
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 97 Dar Al Fkr .

:



.....
(97 1 )
3. SOAL : Apa perbedaan antara dan yang sama-sama dalalahnya
menunjukkan roja' (? )
JAWAB : dalalah roja' yang ada pada itu lebih kuat dari pada maka sah
untuk membuang yang ada pada karena kuatnya dan tidak sah
membuang pada karena lemahnya.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 99 Dar Al Fkr .

:
) (
)(
1 )
(99

BAB INNA WA AKHOWATUHA


1. SOAL : Salah satu saudara
adalah
yang berfaidah ISTIDROK. Dan
didalam huruf athof juga terdapat yang juga berfaedah ISTIDROK, Apakah
( yang saudaranya

)itu asal dari ( huruf athof) yang kemudian ditambah


yang ditasydid ?

JAWAB :
itu bukan ( huruf athof) yang ditambah
TAUKID akan
tetapi asalnya adalah - - kemudian diberi - - Ziyadah dan ditambah -
TAUKID yang dibuang hamzahnya untuk tahfif
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 102 Dar al Fkr .

15

) (

1 )
(102
2.SOAL : Lam Ibtida' itu bisa masuk pada khobarnya
yang dikasroh
hamzahnya.
Pertanyaan : - Apakah lam ibtida' bisa masuk pada khobar saudaranya
?
- Apa alasannya ?
JAWAB : Lam ibtida' tidak bisa menyertai saudaranya

Referensi :
Hams Ibnu Hamdun juz 1 hal 105 Dar AL Fkr .

:

) 105 )
Adapun wajah tidak diperbolehkannya lam ibtida' masuk pada saudaranya

karena akan merubah ma'na ibtida' dan menghilangkan hukumnya, sedangkan


fungsi diletakkannya lam ibtida' adalah untuk ( menguatkan
ma'nanya mubatada'

:
) (


(105 1 )
3

SOAL : Apa alasannya lam ibtida tidak bisa masuk pada khobar manfi dan fiil
madli yang sepi dari qod ?
JAWAB : Karena bila lam ibtida masuk pada khobar yang manfi akan terkumpul
dua huruf yang serupa atau sejenis seperti dan Dan untuk huruf nafiyang
disamakan, sedangkan tidak masuk pada fiil madli yang sepi dari qod karena
tidak ada keserupaan dengan kalimat isim.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 106 Dar Al Fkr .

16

) (




) 1 ( 106

SOAL : Kenapa inna dan saudaranya jika bertemu dengan ma zaidah


? pengamalannya menjadi batal,dan kenapa pada laita itu bisa Imal dan ihmal

JAWAB : Karena ma zaidah yang pada inna dan saudaranya itu bisa
menghilangkan kekhususan yang pada inna dan saudaranya, sedangkan laita itu
tidak batal pengamalannya meskipun dimasuki ma ziyadah.

Referensi :
Qodhl Qudhot juz 1 hal 314 Dar Al Fkr

:
" "
, ,
" "
, )
1 ( 314
: Apakah yang di maksud dengan dlomir syaan

5. SOAL

JAWAB : Dlomir syaan adalah dlomir yang di tafsisri oleh lafadz setelahnya
begitu juga dlomir qissoh, hanya saja kalau dlomir itu mudzakar maka di sebut dlomir
syaan dan kalau dlomir itu muannas maka di sebut dlomir qissoh
Referensi :
Hasyiah Al ubadah Hal 73.

:
) (

17


( 73 )

BAB FAIL
1. SOAL : Apakah alasan ulama Bashroh tidak memperbolehkan mendahulukan
fail atas fiil ?
JAWAB : Karena fiil dan fail bagian satu kalimat dan sebagaimana tidak
diperbolehkannya mendahulukan akhir suatu kalimat atas juz yang depan begitu
juga tidak diperbolehkan mendahulukan fail atas fiil.
Referensi :
Qodlil Qudloth juz 1 hal 388, Al Haromain

:


(388 )
2. SOAL : Sebab apakah yang menjadikan fail dibaca rofa dan maful dibaca
nashob ?
JAWAB : Karena fail itu hanya satu (tidak mungkin taaddud) sehingga
dihukumi ringan, sedangkan maful itu bisa taaddud sehingga dihukumi
berat.Sedangkan Irob rofa hukumnya berat dan nashob hukumnya ringan.Irob
rofa yang berat itu diberikan kepada fail yang ringan dan Irob nashob yang
ringan diberikan kepada maful yang berat supaya ada keseimbangan antara fail
dan maful

Referensi :
Ibnu Hamdun Juz 2 hal 123, Dar Al Fikr

18


(123 )
3. SOAL : Makna apakah yang dimaksud oleh perkataan ibnu malik
pada nadzom ?
JAWAB : Yaitu bahwa sesungguhnya dan itu digunakan untuk tujuan
mubalaghoh dalam memuji dan mencela pada failnya.
Referensi :
Bahjah Al Mardliyah hal 68, Al Hidayah

:
) (
(68 )
4. SOAL : Kapankah bisa terjadi keserupaan antara fail dan maful ?
JAWAB : ketika salah satu dari keduanya itu berupa isim yang naqish (isim yang
tidak bisa sempurna maknanya tanpa yang lainnya seperti isim maushul dan
maushufah) sedangkan yang lain berupa isim tam.
Referensi :
Al Asymuni juz 2 hal 60, Al Haromain

:
) (
(60 )
5. SOAL : Mengapa apabila antara fiil dan fail isim dhohir muannas haqiqi yang
dipisah dengan itu tidak boleh memberi ta pada fiilnya ?
JAWAB : Karena pada haqiqatnya failnya adalah mudzakar tapi dibuang
Referensi :
Al Khudlori juz 1 hal 163, Al Hidayah

:
) (
(163 )

19
6. SOAL : Mengapa fiil ketika disandarkan pada isim dzohir yang berupa tasniah
atau jamak fiil tersebut tidak diberi tanda tasniah atau jamak?
JAWAB: Adapun disepikannya fiil dari alamat tasniah atau jamak karena ketika
kamu mengucapkan lafadz / maka kedua isim dzohir
tersebut akan disangka mubtada muakhor dan lafadz sebelumnya yang berupa
fiil dan fail itu disangka khobar mukoddam
Referensi :
Taswiqul kholan Hal 127,Al Hidayah

:


)
( 127

7. SOAL : Kenapa fiil harus di sepikan dari alamat tasniah, jamak jika disandarkan
pada fail tasnih jamak dan kenapa jika failnya itu muannas fiilnya harus di beri
alamat tanis?
JAWAB : Untuk menjaga lafadz dari ziyadah yang tanpa faidah di karenaka batas
akhir dari faidahnya huruf-huruf yang ditambahkan pada akhirnya fiil menumjukkan
adannya fail itu tasniah atau jamak maka tidak adanya hajat untuk hal itu.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 123 Dar Al Fkr .

..........) (



( 123 1 )
Adapun fiil tidak di sepikan dari alamat tanits karena di sebabkan karena adannya
hajat padanya, karena sesungguhnya fail itu terkadang lafadnya mudzakar dan
mananya
muannats
begitu
pula
sebaliknya
maka
murod
(sesuatu yang di kehendaki ) tidak akan bisa di ketahuhi kecuali dengan adanya ta
dan tidak adanya, berbeda dengan tasniah dan jamak karena sighot keduannya tidak
butuh dari tanda.

20
Referensi :
Al Khudhor juz 1 hal 161 Al Hdayah .

:
) (


( 161 1 )

BAB NAIBU FAIL


1. SOAL : Sebagian ulama mengatakan bahwa apabila tidak ada maful bih maka
yang lebih berhak menggantikan adalah masdar, apa alasannya ?
JAWAB : Karena massdar merupakan salah satu dari pada dua juz madlulnya
amil yang paling mulia.
Referensi :
As Shoban juz 2 hal 68, Al Haromain

:
) ( )
(68
2. SOAL : Apakah semua jer majrur itu bisa dijadikan naibul fail ?
JAWAB : Tidak, jer majrur itu bisa dijadikan naibul fail apabila mukhtash, huruf
jernya tidak khusus mengejerkan lafadz tertentu seperti serta tidak
menunjukkan mana talil seperti
Referensi :
Qodlil Qudloth juz 1 hal 423, Al Haromain

:
....

. ....
(423 )

21

3. SOAL : Bagaimanakah solusinya apabila ada fail / naibul fail yang mendahului
fiilnya ?
JAWAB : Fail / naibul fail harus ditarkib menjadi mubtada yang khobarnya
berupa jumlah setelahnya yang merofakan dlomir mustatir yang kembali pada
fail / naibul fail tersebut.
Referensi :
Dahlan Al Fiyah hal 69, Al Hidayah

:
" "

(69 )
4. SOAL : Mengapa fiil amar tidak bisa dimabni majhulkan ?
JAWAB : Karena jika di mabnikan majhul akan merusak makna, karena fiil amar
adalah bermana insya sedangkan fiil yang mabni majhul adalah bermana
khobariah sehingga keduanya saling menafikan.
Referensi :
Ibnu Hamdun Juz 1 hal 130, Dar Al Fikr

:



(130 )
5. SOAL : Apakah ada perbedaan antara istilah dengan
?
JAWAB : Ada, disamping istilah yang awal itu lebih ringkas juga mencakup
semua isim yang mengganti fail, berbeda dengan ibaroh / istilah yang kedua.
Referensi :
Al Khudlori juz 1 hal 167, Dar Al Fikr

:
.....

22

)
(167
BAB ISYTIGHOL
1. SOAL : Mengapa Masyghul anhu yang jatuh sebelum fiil tholab itu lebih baik
dibaca nashob
JAWAB : Karena membuat kalam khobariah (tarkib isytighol) dari jumlah
tholabiah adalah menyalahi aturan yang semestinya, karena jumlah tholabiah itu
tidak mengandung makna benar atau salah.
Referensi :
Qodlil Qudloth juz 1 hal 437, Al Haromain

:


)
(437
2. SOAL : Bagaimana hukumnya masyghul anhu dalam contoh ?
JAWAB: Boleh nashob dan rofa karena masghul berupa sifat sehingga adanya
pemisah antara masghul dan masghul anhu tidak berpengaruh.
Referensi :
Al Asymuni juz 2 hal 73, Al Haromain
Ibnu Aqil Hamisy Hasyiyah Al Khudlori juz 1 hal 177, Al Haromain

:

(73 )


( 177 ) .
3. SOAL : Mengapa amilnya isytighol wajib dibuang ?

23
JAWAB : Karena orang-orang arab itu tidak mau mengumpulkan antara sesuatu
yang menjelaskan dengan yang dijelaskan.
Referensi :
Al Kawakib Durriyah juz 2 hal 6


(6 )
4. SOAL : Pada contoh antara masyghul dan masyghul anhu terpisah
mengapa diperbolehkan ?
JAWAB :Karena masghulnya berupa sifat sedangkan yang tidak diperbolehkan
memisah antara masyghul dan masyghul anhu itu adalah apabila masyghulnya
berupa fiil karena fiil itu bisa berdiri sendiri dan apabila masyghul berupa isim
sifat maka diperbolehkan memisah karena isim sifat itu tidak bisa berdiri sendiri
(harus disandarkan pada yang lain)

Referensi :
Al Makudi juz 1 hal 138, Dar Al Fikr

:


)
(138
5. SOAL : Apa alasan mashgul yang jatuh setelah adat istifham, syarat, tahdid, itu
masyghul anhunya wajib dibaca rofa ?
JAWAB : Karena lafadz-lafadz yang jatuh setelah adat istifham dan seterusnya,
itu tidak bisa mengamalkan pada lafadz sebelumnya dan sesuatu yang tidak bisa
mengamalkan itu juga tidak bisa menafsiri amil yang dibuang sehingga masyghul
anhu harus dijadikan mubtada.
Referensi :
Jamiud Durus juz 3 hal 423,

24


)
(423
6. SOAL : Apakah lafad yang menasobkan isim sabiq harus mencocoki dengan
amilnya ( masyghul anhu )
JAWAB : Ya, lafadz yang menashobkan isim sabiq harus mencocoki dengan amilnya
dalam segi mananya saja atau lafadz dan mana
Referensi :
Al Khudhor juz 1 hal 173 Al Hdayah.

:



( 173 1 )
6. SOAL : Apakah di perbolehkan membuang syaghil ?
JAWAB :Boleh tetapi hukumnya qobih ( jelek ) karena memutus setelah di
persiapkan
Referensi :
As Shoban juz 2 hal 103 Dar Al Kutub .

:
)
(103 2

BAB MUTAADI WALLAZIM


1. SOAL : Apakah semua hamzah itu bisa memutaadikan fiil lazim ?
JAWAB : Tidak, hamzah yang bisa memutaadikan adalah hamzah selain
muthowaah yakni hamzah naqol.
Referensi :

25
Hillul Ma'qud fi Nadzmil Maqshud hal 46

:
) (
) ..........
46
BAB TANAZU FILAMALI
1. SOAL : Apa yang menyebabkan ulama bashroh lebih mengamalkan amil yang
kedua ?
JAWAB : Karena dekatnya amil yang kedua dengan mamul dan kerena
selamatnya amil yang kedua dari athof sebelum sempurnanya mathuf alaih dan
selamat dari memisah amil dengan mamul ajnabi.
Referensi :
Al Khudlori juz 1 hal 183, Dar Al Fikr

:
) (
)
(183
2. SOAL : Apakah yang menyebabkan ulama kuffah lebih mengamalkan amil yang
pertama ?
JAWAB : Karena dahulunya amil dan supaya amil selamat dari menyimpan
dhomir sebelum disebutkan sebagaimana menurut ulama bashroh dan dari
membuang dhomir rofa menurut imam kisai.
Referensi :
Al Khudlori juz 1 hal 183, Dar Al Fikr

:
) (
)
( 183

26
3. SOAL : Dalam susunan tanazu ketika amil yang mulgho menuntut mamul
selain rofa dan asalnya tidak berupa khobar, kenapa mamulnya( yang berupa
dhomir ) harus dibuang ?
JAWAB : Karena mamul tersebut fudlah yang tidak punya tempat untuk
menyimpan dhomir sebelum menyebutkan , dan hal tersebut bila tidak ada
keserupaan ketika membuangnya. Dan bila ada keserupaan ketika membuangnya
maka dhomir tersebut disebutkan di akhir akan tetapi dalam kitab kafiyah
condong mendhomirkan mamul fudlah didepan dan ini adalah dzohirnya kitab
tashil.
Referensi :
Al Khudlori juz 1 hal 184, Dar Al Fikr

:
) (


)
( 184
4. SOAL : Apakah tanazu ini berlaku selain fiil ? kalau tidak bagaimana dengan
contoh !
JAWAB : Tanazu ini tidak berlaku selain fiil , mengenai contoh tersebut tidak
dikatakan tanazu karena tanazu itu harus sama dalam mana sedangkan
untuk musbat dan untuk nafi maka tidak dinamakan tanazu sedang mamul
tersebut milik .

Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 148, Dar Al Fikr

:
) (
) (

)
( 148

27
5. SOAL : antar amil yang pertama dan amil yang kedua itukan terdapat huruf athof
apakah disyaratkan dalam dua amil itu adanya penghubung sepeti
(
) athof
6. JAWAB : Ya, diantara dua amil itu disyaratkan adanya penyambung
( robith ),maka tidak boleh diucapkan
Referensi :
Qodhl Qudhot juz 2 hal 454 Al Haroman.

:
, :

) 2( 454.
? SOAL : Apakah robithnya harus beruoa huruf athof
JAWAB : Tidak, robithnya itu bisa menggunakan salah satu dari tiga perkara
1. Dengan huruf athof
2. Lafadz yang pertama mengamalkan lafadz yang kedua

3. Menjadi jawab yang dari yang pertama

Referensi :
Qodhl Qudhot juz 2 hal 158 Al Haroman.

:
:
) (
) (
) ( ) (
) (
)
() 2 ( 158

BAB MAFUL MUTHLAK

28
1. SOAL : Mengapa maful muthlak yang berfeadah mentaukidi fiilnya harus mufrod
?
JAWAB : Karena menempati tempatnya mengulang fiil sedangkan fiil tidak bisa
ditasniahkan dan dijamakkan.
Referensi :
Al Makudi juz 1 hal 148, Dar Al Fikr

:

)
( 148
2. SOAL : Mengapa maful muthlak yang madud boleh di tasniahkan dan
jamakkan ?
JAWAB : Karena, masdar itu ketika bersamaan dangan ta maka bermana
dan ketika di kumpulkan untuk diulangi lagi maka ditasniahkan dan bila
lebih dijamakkan.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 148, Dar Al Fikr

:


( 148 )
3. SOAL : Apa maksud dari pernyataan bahwa membuang amil dari maful muthlak
muakkad menafikan ?
JAWAB : Maksudnya,membuang adalah jalan untuk meringkas sedangkan taukid
dalam maful muthlak itu untuk memanjangkan ucapan dan ketika amil dibuang
maka akan menghilangkan maksud asal dari adanya taukid.

Referensi :
Ibnu Hamdun Juz 1 hal 149

29

) (
149 )
(
4. SOAL : Kenapa fiil tidak bisa di jamakkan dan ditasniahkan ?
JAWAB : Karena mana fiil mengandung sedikit dan banyak sebagaimana jenis
dan jenis itu tidak ada akhirnya sedangkan tasniah dan jamak itu menambah
sesuatu dari asal kejadian dan perlu diketahui! menambahi sesuatu yang tidak ada
habisnya itu muhal.
Referensi :
Ibnu Hamdun Juz 1 hal 148, Dar Al Fikr

:
) (

)
(148
5. SOAL : Mengapa amilnya maful muthlak yang muakkad tidak boleh dibuang ?
JAWAB : Karena masdar disebutkan untuk menetapkan mana amil serta
menguatkannya sedangkan jika dibuang akan menafikan tujuan mendatangkan
masdar.
Referensi :
Syarah Ibnu Aqil Hamisy Khudlori juz 1 hal 198, Al Hidayah
Al Khudlori juz 1 hal 189, Al Hidayah

:

)
( 198
:
) :
( 189

30

6. SOAL : Apa alasannya membuang masdar yang mentafsiri lafadz sebelumnya ?


JAWAB: Karena nasdar tersebut juga sebagai ganti untuk mengucapkan amilnya
Referensi :
Hasyyah As Shoban juz 2 hal 173 Dar Al Kutub.

:
.) (
( 173 : 2 : )

BAB MAFULLAH
1. SOAL : Dinadzom al fiyah disebutkan bahwa masdar itu bisa nashab menjadi
mafullah dan harus menetapi syarat masdar dengan amilnya, yaitu harus satu
dalam zaman dan fiilnya. Apakah hanya itu saja syaratnya ?
JAWAB : Tidak, ada syarat yang lain yaitu harus masdar, masdar yang qolby,
harus satu dengan amilnya dalam zaman dan failnya, masdar itu menjadi illat atau
sebab dari sesuatu pekerjaan.
Referensi :
Jami'ud Durus juz 3 hal 34, Dar Al Kutub 'Ilmiyah

:

, , ,

( )
(34 )
2. SOAL : Apakah yang dimaksud masdar qolby ?
JAWAB : Yaitu masdarnya fiil dari beberapa fiil yang ditimbulkan oleh beberapa
anggota panca indra yang batin.
Referensi :
Jami'ud Durus juz 3 hal 34, Dar Al Kutub 'Ilmiyah

31

:
:
) . ,
( 34
3. SOAL :

#
#
Apakah yang dimaksud huruf jer diatas ?
JAWAB : Yaitu huruf jer yang bi mana talil
Referensi :
Ibnu Aqil hal 82, Al Hidayah

:
)
82 )
4. SOAL : Apa sajakah huruf jer yang bermakna talil itu ?
JAWAB : Yakni ",,,"
Referensi :
Ibnu Aqil hal 82, Al Hidayah

:

( 82 )
:

Pada separuh nadzom tersebut hanya menerangkan masdar yang

5. SOAL

mujarrod (tidak mudlof dan tidak di masuki al) sedangkan pada separuh nadzom
tersebut hanya menerangkan masdar yang dimasuki al saja tidak menerangkan
masdar yang mudlof, maka bagaimana hukumnya masdar yang mudlof tersebut ?
JAWAB : Sama, yani tidak ada hukum banyak sedikitnya masdar yang mudlof
baik di jerkan atau tidak.
Referensi :

32
Dahlan hal 82, Al Hidayah

:

( 82

BAB MAFUL FIH


1. SOAL : #
nadzom diatas menerangkan bahwa amilnya dhorof itu dibuang. Apa hokum
pembuangan amil tersebut ?
JAWAB : Ada yang wajib dan ada yang jawaz
Referensi :
Dahlan hal 82, Al Hidayah

:
) (
( 82 )
2. SOAL : Kapankah pembuangan amil itu wajib dan kapankah pembuangan amil
itu jawaz ?
JAWAB : Wajib ketika menjadi khobar, shilah, shifat, tarkib isytighol, atau
memang samainya membuang amil. Dan jawaz ketika ada qorinah (tanda
pembuangan) seperti lafadz yang menjadi jawab dari pertanyaan
.
Referensi :
Dahlan hal 82, Al Hidayah

:
) (

: :
: :

( 82 )

33

3. SOAL : Ketika amilnya dhorof dibuang, berupa lafadz apakah amil tersebut ?
JAWAB : Yani amilnya berupa lafadz / kecuali bila dhorof tersebut
berupa shilah, maka amil yang dibuang itu pasti berupa fiil karena shilah
itu harus berupa jumlah.
Referensi :
Dahlan hal 82, Al Hidayah

:


( 82 )
4. SOAL : Apakah dhorof itu harus punya taaluq sebagaimana huruf jer ?
JAWAB : Ya, dhorof itu mempunyai taaluq sebagaimana huruf jer tetapi
mutaalaqnya dhorof itu adakalanya disebut / ditetapkan dan adakalanya dibuang.
Referensi :
Jami'ud Durus hal 40, Dar Al Kutub 'Ilmiyah

:
, ,
: ,
) , ,
( 40
5. SOAL : , tidak boleh dijadikan dhorof karena tidak menetapi
syarat kemudian nasabya dan itu karena apa ?
JAWAB : Khilaf, sebagian ulama mengatakan nashobnya itu karena dhorof yang
syad (lemah sekali) dan ada yang mengatakan karena nazul khofidz (membuang
huruf jer) dan sebagian mengatakan bahwa nasabnya itu karena diserupakan
dengan maful bih.
Referensi :
Hamisy Hasyiyah Al Khudlori juz 1 hal 199, Dar Al Fikr

34



( 199 )
MAFUL MA'AH
1. SOAL :

nadzom diatas hanya menerangkan isim yang jatuh setelah wawu maiyah itu
dinashobkan menjadi maful maah. Apa yang dimaksud dengan maful maah ?
JAWAB : Isim yang dibaca nashob yang fudhlah yang terletak setelah wawu
maiyah yang mana wawu maiyah tersebut jatuh setelah jumlah yang
mengandung fiil / syibhul fiil.
Referensi :
Dahlan Al Fiyah hal 83, Al Hidayah

:

(83 )
2. SOAL : Apakah ada syarat-syarat tersendiri bagi isim yang setelah wawu maiyah
tersebut yang dinashobkan menjadi maful maah ?
JAWAB : Ada, yaitu isim yang jatuh setelah wawu maiyah tersebut harus
fudhlah, sebelumnya wawu harus berupa jumlah, wawu tersebut harus bermana
maah.
Referensi :
Jami'ud Durus juz 3 hal 540, Dar Al Kutub 'Ilmiyah

:
, :
( ) 1
2
) 3
(540

35
3. SOAL : Apakah wawu maah itu bisa mendahului amilnya ?
JAWAB : Tidak bisa.
Referensi :
Jami'ud Durus juz 3 hal 57, Dar Al Kutub 'Ilmiyah

:

"
"

(57 )
4. SOAL : Mengapa maful maah ketika jatuh setelah atau
harus mengira-ngirakan amil ?
JAWAB : Karena termasuk salah satu syarat nasabnya maful maah adalah harus
jatuh setelah fiil atau syibhul fiil yang menjadi amilnya lalu karena maful
maah yang jatuh setelah atau itu tidak jatuh setelah fiil
atau syibhul fiil maka ulama berpendapat amilnya dikira-kirakan yang musytaq
dari masdar .

Referensi :
Dahlan Al Fiyah hal 84, Al Hidayah

:


(84 )
5. SOAL : Apakah hukum penyimpanan amil tersebut ?
JAWAB : Khilaf ada yang mengatakan jawaz dan ada yang mengatakan wajib.
Referensi :
Al Khudlori juz 1 hal 201, Al Hidayah

:
) ( )
(201

36
HURUF JER
1. SOAL : Lam berfaedah antaranya lilmilki dan syibhul milki apakah yang
dimaksud dengan syibhul milki ?
JAWAB : Yang dimaksud syibhul milki adalah lam yang jatuh diantara dua isim
zat dan isim zat yang kedua itu tidak bisa memiliki isim zat yang pertama
( berbeda dengan lilmilki karena isim zat yang kedua bisa memiliki isim zat yang
pertama ) contoh
Referensi :
Hasyiyah Al Khudlori juz 1 hal 230, Dar Al Fikr

:


(230 1 )
2. SOAL : disebutkan dalam nadzom huruf jer adalah termasuk salah satu
huruf jer.
- Bagaimana berlaku huruf jer ?
- Apakah tidak serupa dengan yang nawasib ?
JAWAB :
- yang beramal sebagaimana huruf jer itu bertempat pada dua tempat yang
pertama masuk pada istifhamiyah dan yang kedua dengan mengira ngirakan
setelah atau langsung menyebutkan
-Tidak serupa, kerena berlaku huruf jer itu harus menyebutkan atau mengira
ngirakan setelahnya dan jika berlaku nawasib harus menyebutkan atau
mengirangirakan sebelumnya.
Referensi :
Syarah Ibnu Aqil Hamisy Al Khudlori juz 1 hal 226, Al Hidayah
Hasyiyah Al Khudlori juz 1 hal 226, Al Hidayah

:

.......


( 226 )

37

) (

( 226 )
BAB IDLOFAH
1. SOAL : Apakah yang membedakan antara / dengan lafadz /
mengapa kalau / itu mabni sedangkan / itu murob. Padahal, samasama membuang mudof ilaih dan mengira ngirakannya ?
JAWAB : Lafadz / itu keduanya mutashorif dan tanwinnya adalah iwad
karena itu dimurobkan dan lafadz / adalah ghoiru mutashorif karana itu ia
mabni.
Referensi :
Ibnu Hamdun Juz 1 hal 203, Dar Al Fikr

:

)
(203
2. SOAL : disebutkan dalam setengah nadzom diatas bahwa itu
seperti dan sama-sama boleh di idlofahkan pada jumlah ismiyah atau filiyah
- Apa sajakah lafadz yang serupa dengan lafadz itu ?
- Termasuk idofah apakah itu ?
JAWAB :
- Setiap isim yang menyerupai dalam segi sama-sama isim zaman, mubham
dan madli
- Termasuk idofah yang mahdoh yang berfaedah tarif
Referensi :
Makudi Hamis Ibnu Hamdun juz 1 hal 196, Dar Al Fikr
Ibnu Hamdun juz 1 hal 196, Dar Al Fikr

:

) ............
( 196

38

)
( 196
3. SOAL : Apakah yang membedakan antara lafadz
dikatakan mubham dan dikatakan ghoiru mubham

dan kenapa

JAWAB : Lafadz ketika diucapkan yang dikehendaki adalah sebagian dari


zaman yang memuat siang / malam contoh sedangkan lafadz
adalah sejak munculnya matahari sampai terbenamnya.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 1 hal 196, Dar Al Fikr

:
) (
) (
............
( 196 1 )
BAB NIMA WABISA
1.

SOAL

: Apakah bisa dilakukan seperti isim?

JAWAB : Bisa, dengan syarat dimasuki huruf jer.


Referensi :
Jamiuddurus juz 1 hal 236

:


( 236 1 )
2.

SOAL : Apakah tamyiz yang menjelaskan failnya itu boleh dibuang?


JAWAB : Tafsil,jika failnya berupa dhomir yang kembali pada fiil tersebut
maka hukumnya tidak boleh dan hukumnya nadar jika membuangnya,namun
bila failnya berupa isim dzohir maka fiilnya tidak perlu pada tamyiz.

39
Referensi :
Jamiuddurus juz 1 hal 64.Dar Al kutub Al ilmiyah

:

........
) 1 ( 64

BAB AFALUT TAFDIL


3. SOAL
: Ketika afalu tafdil tidak memenuhi syarat apakah yang bisa
/ menggantikan hanya hanya lafadz
JAWAB :Tidak, tetapi bisa yang lain seperti
Referensi :
Jamiuddurus juz 1 hal 64. Dar Al kutub Al ilmiyah

:

" " " " " :
" ) 1 ( 64

BAB NAAT
? 1. SOAL : Bila semua tabi' berkumpul manakah yang harus didahulukan
JAWAB : Yand didahulukan adalah : 1- Na'at. 2- Athof bayan. 3- Taukid. 4Badal. 5- Athof nasaq.
Referensi :
Al Kawakib Durriyah juz 2 hal 81, Al Hidayah

:



) (81

40

2. SOAL : Mengapa na'at disyaratkan harus sama dengan man'utnya dalam segi
ma'rifat dan nakirohnya ?
JAWAB : Karena na'at dan man'ut adalah seperti sesuatu yang satu, jika satu
ma'rifat dan satu nakirob maka akan terjadi pertentangan karena ma'rifat
menuntut penjelasan dan nakiroh memberi arti kesamaran.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 8, Dar Al Fikr

:


)
(8
3. SOAL : Mengapa jumlah tholabiyah tidak bisa dijadikan na'at ?
JAWAB : Karena tidak menunjukkan sesuatu yang bisa menjelaskan man'utnya.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 9, Dar Al Fikr

:



(9 )
4. SOAL : Kenapa masdar yang menjadi na'at harus menetapi mufrod mudzakar ?
JAWAB : Karena masdar tidak bisa ditasniahkan dan jama'kan, maka masdar
harus berlaku menetapi asalnya untuk menjadi tanbih bahwa sesungguhnya
masdar tidak bisa dijadikan na'at. Menjadikan masdar sebagai na'at karena untuk
qosdu (mubalaghoh dan tawassu') dengan membuang mudlof.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 35-54, Al Hidayah
Tashilul Masalik juz 2 hal 80, Huququ Thobi Wannasyri

41

) (

)
(54 35


)
(80
? 5. SOAL : Mengapa na'at sababi hanya mengikuti 2 dari 5 perkara
JAWAB : Karena na'at sababi serupa dengan fi'il dalam amal dan ma'nanya.
Referensi :
Al Kawakib Durriyah juz 2 hal 84, Al Hidayah

:
) ( ) (



) (84
? 6. SOAL : Kenapa man'ut dari jumlah harus berupa isim nakiroh
JAWAB : Karena jumlah itu menempati hokum nakiroh dan juga jumlah tersebut
dita'wil dengan nakiroh.

Referensi :
Al Kawakib Durriyah juz 2 hal 82, Al Hidayah

:
) (

42

)(
) ( )
(82
BAB TAUKID
1. SOAL : Kenapa lafadz dan itu dijama'kan, jika mentaukidi tasniyah
tidak mengambil kecukupan dengan dengan dlomir tasniyah ?
JAWAB : Sebenarnya lafadz dan ketika dijadikan taukid untuk tasniyah
tidak wajib dijama'kan tetapi boleh dimufrodkan dan mengambil kecukupan
dhomir dan boleh ditasniyahkan akan tetapi yang dipilih adalah jama' sebab :
1. Tasniyah adalah jama' dalam ma'na
2. Karena tidak disukai berkumpulnya dua tasniyah
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 56, Al Hidayah

:
) (




(56 )
2. SOAL : - - adalah ma'rifat karena mudlof pada dlomir.
1. Apakah lafadz , itu ma'rifat ?
2. Apa alasannya ?
JAWAB : 1. Ya, ma'rifat menurut imam Sibaweh.
2. Karena mengira-ngirakan mudlof pada dlomir dan menurut versi lain
bahwa ma'rifatnya seperti alam jenis
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 15, Dar Al Fikr

43

........ ( : )



(15 )
3. SOAL : Mengapa lafadz dan wajib mudlof pada dlomir ?
JAWAB : Karena lafadz dan itu lebih umum dari pada dlomir dan dlomir
mentaukidi keduanya.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 14, Dar Al Fikr

:
)(

(14 )
4. SOAL : Apakah taukid ma'nawi bisa mentaukidi jumlah fi'liyah ?
JAWAB : Tidak karena taukid ma'nawi khusus bagi isim.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 14, Dar Al Fikr

:
""
(14 )
5. SOAL : Apa yang menyebabkan dhomir muttashil mahal rofa' ketika ditaukidi
dengan lafadz dan harus dipisah dengan dhomir munfashil ?
JAWAB : Sebab bila tidak dipisah dengan dhomir munfashil dikhawatirkan
terjadi keserupaan. Apakah lafadz dan itu taukid atau fa'il.
Referensi :
Hasyiyah Al Khudlori juz 2 hal 58, Al Hidayah

44

) (


(58 )
6. SOAL : Sampai berapa kali pengulangan dalam taukid lafdzi apakah ada batasnya
?
JAWAB : Dalam pengulangan taukid lafdzi itu tidak boleh lebih dari tiga kali.
Referensi :
Al Kawakib Durriyah juz 2 hal 101, Al Hidayah

:
)(

(101 )
7. SOAL : Kenapa ketika mentaukidi dhomir muttashil dengan taukid lafdzi harus
mengulang persambungannya dhomir yang awal ?
JAWAB : Karena jika persambungan dhomir muttashil yang pertama tidak
diulang maka tidak akan hasil tujuan taukid lafdzi karena dhomir yang kedua
menjadi munfashil.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 17, Dar Al Fikr

:
) (

)
(17
8. SOAL : Apa yang menyebabkan dhomir munfashil mahal rofa' bisa mentaukidi
semua dhomir muttashil ?
JAWAB : Karena dhomir munfashil mahal rofa' adalah asal dari semua dhomir
dan amilnya adalah ma'nawi ya'ni ibtida' sedangkan dhomir manshub dan majrur
amilnya adalah lafdzi dan bila membuat taukid dengan dhomir manshub dan
majrur maka dhomir tersebut membutuhkan untuk mendatangkan amilnya maka
seakan-akan hal tersebut adalah amil lafdzi.

45
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 19, Dar Al Fikr

:
) (


)
(19
terjadi pengathofan fi'il pada isim. 9. SOAL : dalam contoh
Kenapa hal itu diperbolehkan padahal berbeda jenis.
JAWAB : Diperbolehkan mengathofkan pada contoh diatas karena fi'il tersebut
dita'wil dengan isim ya'ni bila ada isim athof pada fi'il maka isim tersebut harus
dita'wil dengan fiil.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 19, Dar Al Fikr

:
) (
)(
)
(19
wajib dan 10. SOAL : Apakah dhomir muttashil yang ditaukidi dengan
? dipisah dengan dhomir munfashil
JAWAB : Ya. Wajib dipisah dengan dhomir munfashil.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2hal 16, Dar Al Fikr

:
) (


) (16

46
BAB ATHOF NASAQ
1. SOAL : Pada contoh kenapa yang kedua dimasukkan
dalam bab huruf athof sedangkan yang pertama tidak ?
JAWAB : Karena yang kedua itu selalu bersamaan dengan huruf athof,
meskipun menurut ittifaq ulama' itu tidak termasuk huruf athof hal ini menurut
Ibnu Ushfur.
Referensi :
Asymuni juz 3 hal 109, Al Haromain
Mughni Labib juz 1 hal 57, Maktabah Dar Ihyaul Kutub Al Arobiyah

:

)
(109
adapun yang pertama bukan huruf athof karena menghalangi antara amil dan
ma'mul.



(57 )
2. SOAL : Dalam nadzom ... apakah yang disamakan dengan
disitu juga mencakup tujuh faidah yang ada pada ?
JAWAB : Tidak, yang disamakan dengan disitu hanya mencakup 5 faedah
dengan meninggalkan yang berma'na dan karena terlalu sedikitnya dan
masih ada khilaf.
Referensi :
Asymuni juz 3 hal 109, Al Haromain

:
) (

)
(109

47
3. SOAL : Ketika ada satu kalimat yang bisa dii'robi dengan dua i'roban seperti
contoh
( jer dan athof) manakah yang lebih bagus dipilih ?
JAWAB : Yang lebih bagus dipilih adalah jer kecuali dalam bab isytighol seperti
contoh maka nashob yang lebih baik.
Referensi :
Asymuni juz 3 hal 98, Al Haromain

:



(98 )
4. SOAL : Apakah yang berma'na itu harus ditakror (diulang-ulang) baik yang
pertama maupun yang kedua ?
JAWAB : Tidak, tapi kadang juga tidak butuh pada baik yang pertama atau
yang kedua.
Referensi :
Asymuni juz 3 hal 109, Al Haromain

(109 )
5. SOAL : Contoh apakah yang kedua seperti dalam contoh itu
memiliki semua ma'nanya ?
JAWAB : Tidak, mengecualikan ma'na dan .
Referensi :
Qodlil Qudloth juz 2 hal 198,

:

)
(198

48

6. SOAL : Mengapa disyaratkan ma'thufnya harus mufrod ?


JAWAB : Karena ma'thufnya itu harus berupa juz atau yang menyerupai juz
dari ma'thuf alaih dan hal itu tidak akan terjadi kecuali ma'thufnya berupa
mufrod.

Referensi :
As Shoban juz 3 hal 97, Al Haromain

:

.

(97 )
7. SOAL : Apakah yang disebut hamzah Mughniyah ?
JAWAB : Yaitu hamzah yang berfungsi untuk ta'yin (menjelaskan) ketika
bersamaan dengan .
Referensi :
Hasyiyah Al Khudlori juz 2 hal 63, Al Hidayah

:
) (
) 17
(23
) (
( 63 2 )
8. SOAL : Kapankah huruf athof itu berma'na sababiyah dan ta'qib ?
JAWAB : Yaitu jika sebelumnya berupa jumlah atau sifat.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 62, Al Hidayah

49

:
) (

) 20
(62
? 9. SOAL : Apakah yang dinamakan
yang jatuh setelah yani yang disepikan dari qoyyid JAWAB : Yaitu
). ) hamzah taswiyah atau setelah hamzah mughniyah 'an
Referensi :
Syarah Al Makudi juz 2 hal 23, Dar Al Fikr

:

)
(23
? 10. SOAL : Apakah perbedaan syak dan ibham
:Mutakallim mengetahui hanya saja mutakallim
menyamarkan kepada mukhotob.
: Mutakallim sama sekali tidak mengetahui

JAWAB : Ibham adalah


Syak adalah

Referensi :
Syarah Al Makudi juz 2 hal 24, Dar Al Fikr

:

)
( 24
BAB BADAL
? 1. SOAL : Apakah dhomir ghoib boleh dijadikan badal
JAWAB : Boleh, secara mutlaq.
Referensi :

50
Syarah Al Makudi juz 2 hal 31, Dar Al Fikr

:
)
(31
2. SOAL : Apakah dhomir yang ada pada badal ba'du min kul itu hukumnya wajib ?

JAWAB : Ya wajib, dan dhomir tersebut adakalanya disebutkan atau dikirakirakan seperti contoh lafadz adalah
badal dari lafadz merupakan badal ba'du min kul sedangkan dhomir yang
ada pada badal tersebut adalah dikira-kirakan yaitu .
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 30, Dar Al Fikr

:

.


(30 )
BAB NIDA'
1. SOAL : Apakah huruf nida' termasuk isim fi'il ?
JAWAB :Ya menurut sebagian ulama' huruf nida' termasuk Asma'ul Af'al.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 71, Al Hidayah

:
)( )
(71
2. SOAL : Kenapa huruf nida' yang ada pada munada mandub munada dhomir dan
munada mustghots tidak boleh dibuang ?
JAWAB : Karena didalam munada mandub dan mustaghos tersebut menuntut
memanjangkan sesuatu dan ketika huruf nida' dibuang maka akan menghilangkan

51
panjangnya sedangkan munada dhomir itu hukumnya syadz sehingga tidak
diperbolehkan membuang huruf nida secara muthlaq ( menurut badhuhum ).
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 72, Al Hidayah

:
) (

)
(72
3. SOAL : Dalam contoh adalah diperbolehkan membuang huruf nida' pada
isim jenis mengapa dalil yang digunakan adalah ucapan nabi musa padahal beliau
adalah orang bani israil ?
JAWAB : Menggunakan dalil ucapan nabi musa diatas adalah diperbolehkan
karena nabi Muhammad SAW mengucapkan lafadz tersebut, sedang nabi
Muhammad SAW sendiri adalah Afshohul Arab.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 23, Dar Al Fikr

:

(23 )
4. SOAL : Kenapa munada mufrod alam dan nakiroh maqsudah itu dimabnikan ?
JAWAB : Karena serupa dengan kaf khitob dalam mufrod ma'rifat dan
mengandung ma'na khitob.
Referensi :
Al Kawakib Durriyah juz 2 hal 7, Al Hidayah
Ibnu Hamdun juz 2 hal 34

:
)(

(7 )

52

) (
( 34 )
5. SOAL : Kenapa mabninya munada mufrod alam dan nakiroh maqsudah itu
menggunakan harokat padahal yang asli mabni itu adalah sukun.
JAWAB : Dimabnikannya munada mufrod alam dan nakiroh maqsudah dengan
harokat adalah sebagai peringatan bahwa mabninya itu adalah baru bukan asal.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 34, Dar Al Fikr
Al Khudlori juz 2 hal 72, Al Hidayah

:
) (
(34 )
)
(72
6. SOAL : Kenapa mabninya mufrod alam dan nakiroh maqsudah menggunakan
dhommah dan penggantinya alamat rofa' ?
JAWAB : Karena bila tidak dimabnikan dhommah dan penggantinya, maka akan
ada keserupaan dengan munada yang mudlof pada ya' mutakallim terutama juka
munada mufrod alam dan nakiroh maqsudah berupa isim mufrod.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 34, Dar Al Fikr
Al Khudlori juz 2 hal 72-73, Al Hidayah

:


(34 )


)
(73 -72

53

BAB TABI'UL MUNADA


1. SOAL : Pada nadzom apakah kata itu sama dengan
shifat-shifat yang sebelumnya, ya'ni na'at ?
JAWAB : Ada perbedaan menurut dzohirnya dawuh mushonif secara
muthlaq( baik jamid atau mustaq )sedangkan menurut ibnu sayid adalah athof
bayan dan ada yang mengatakan jika berupa isim yang musytaq maka dijadikan
na'at, dan jika berupa isim yang jamid maka dijadikan athof bayan.
Referensi :
Syarah Al Asymuni juz 2 hal 151, Al Haromain
Ibnu Hamdun juz 2 hal 39, Dar Al Fikr

:


(151 )
Tetapi pada contoh lafadz dibaca rofa' dan dijadikan na'at padahal
lafadz tersebut adalah jamid, ini hanya perbedaan kitab.

:
....) (
(39 )
2. SOAL : Mengapa munada yang berupa isim isyaroh tidak bisa dishifati dengan
isim isyaroh ?
JAWAB : Karena munada yang berupa isim isyaroh jika dishifati dengan
sendirinya maka tidak akan berfaedah.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 40, Dar Al Fikr

:
) (


54


(40 )
3. SOAL : Apakah ada selain munada mufrod alam yang diulang-ulang ?
JAWAB : Ada yaitu munada nakiroh maqshudah,hal ini menurut ulama' Bashroh.
Referensi :
Syarah Al Makudi juz 2 hal 40, Dar Al Fikr

:
) (

(40 )
4. SOAL : Apakah pada lafadz ha' nya merupakan ha' tanbih atau ha' isim
isyaroh.
JAWAB : ha' tersebut merupakan ha' tanbih yang berlaku zaidah.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 77, Al Hidayah
As Shoban juz 3 hal 152, Al Haromain

:
) ( )
(77
: ) (

( 152 )
5. SOAL : Mengapa yang mengiring-ngiringi lafadz mesti ha' tanbih
JAWAB : Karena ha' tersebut adalah 'iwadl (sebagai ganti) dari lafadz yang
berada pada susunan idlofah dan ha' tersebut menduduki dari lafadz itu.
Referensi :
Syarah Al Makudi juz 2 hal 39, Dar Al Fikr

55

)
(39
ISTIGHOTSAH
1. SOAL : Mengapa huruf nida' selain tidak bisa masuk pada munada munada
mustaghotsah ?
JAWAB : Karena munada mustaghots itu seperti munad yang menunjukkan jauh
dalam butuhnya munada tersebut untuk memanjangkan suara.
Referensi :
As Shoban juz 3 hal 163, Al Haromain

:
) (
)
(163
2. SOAL : Pada lafadz termasuk ha' apakah yang ada pada akhir kalimat
tersebut dan apa tujuannya.
JAWAB : Termasuk ha' sakat, adapun tujuannya adalah untuk menjelaskan alif,
kerena waqof dengan alif itu samar, dan ketika sudah ditambah dengan ha
kesamaran tersebut menjadi hilang.
Referensi :
Syarah Al Makudi juz 2 hal 48, Dar Al Fikr
Ibnu Hamdun juz 2 hal 48, Dar Al Fikr

:
) (

(48 )
) (
( 48 )

56
3. SOAL : Mengapa huruf jer yang mengejarkan pada munada mustaghots itu hanya
lam ?
JAWAB : Karena huruf jer lam itu adalah untuk menunjukkan ikhtisosh,
sedangkan munada mustaghots itu juga sama (menunjukkan ikhtishosh), agar
terjadi munasabah maka dikhususkan lam.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 44, Dar Al Fikr

:
.... ) (

( 44 )
4. SOAL : Mengapa lamnya huruf jer pada munada mlustaghots itu dibaca fathah ?
JAWAB : Karena lam tersebut menempati tempatnya dhomir dan lam tersebut
dibaca fathah ketika bersamaan dengan dhomir.
Referensi :
Al Makudi juz 2 hal 44, Dar Al Fikr

:
)
(44
5. SOAL : Pada nadzom apakah ta'ajub pada nadzom tersebut
sama dengan bab ta'ajub sebelumnya ?
JAWAB : Tidak sama, karena menurut orang arab, yang dikatakan ta'ajub pada
bab ini adalah suatu perkara yang didengar bersamaan adanya perkara yang
ta'ajub (mengherankan).
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 45, Dar Al Fikr

:
) (

)
( 45

57

BAB TARKHIM
1. SOAL : Mengapa munada tarkhim huruf akhirnya harus dibuang ?
JAWAB : agar sesuai dengan ma'na tarkhim tersebut. Yaitu membuang huruf
akhir munada.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 83, Al Hidayah

:
)
(83
2. SOAL : Mengapa idlofah tidak bisa ditarkhim ?
JAWAB : Karena mudlof ilaih tersebut menempati tanwin sebagaimana tidak
boleh mentarkhim isim dengan membuang tanwin begitu juga mudlof tidak boleh
ditarkhim dengan dengan membuang mudhof ilaih dan juga tidak tidak boleh
diltarkhim dengan membuang huruf akhir dari mudhof ilaih, karena tarkhim
dengan membuang huruf dari mudhof ilaih itu seperti tarkhim dengan membuang
sebagian dan ini tidak diperbolehkan.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 51, Dar Al Fikr

:
) (



(51 )
3. SOAL : Apakah ada perbedaan antara tarkib isnadiyang tam dan ghoiru tam
dalam bisa dan tidaknya ditarkhim ?
JAWAB : Tidak ada perbedaan antara keduanya, tarkib isnadi yang tam dan
ghoiru tam itu keduanya tidak bisa ditarkhim.
Referensi :

58
Ibnu Hamdun juz 2 hal 52, Dar Al Fikr

:
) (




(52 )
BAB TAHDZIR WAL IGHRA
1. SOAL : Apakah huruf athof dalam bab tahdzir khusus huruf athaf wawu ?
JAWAB : Ya , dalam bab ini khusus huruf athof wawu tidak bisa lainnya, karena
dalam bab tahdzir mana yang dikehendaki adalah mana mengumpulkan dan
makna bersamaan dalam susunan kalam tahdzir sedangkan kedua mana tersebut
bisa dihasilkan dengan selain wawu.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 58-59, Dar Al Fikr

:
) (

(59-58 2 )
ASMA'UL AF'AL WAL 'ASHWAAT
1. SOAL : Bagaimana menggunakan isim fi'il yang tasniyah atau jama'
JAWAB : Dengan menggunakan bentuk isim fi'il tersebut karena isim fi'il harus
menetapi bentuk yang satu baik mutsanna ataupun jama'.
Referensi :
Jamiud Durus Al Arobiyah juz 2 119, Al Maktabatul Ishriyah

59


)
(119
? 2. SOAL : Apakah isim fi'il itu semuanya dinakirohkan dengan tanwin
JAWAB : Tidak, hanya sebagian isim fi'il. Ada yang selalu menetapi ma'rifat
tidak boleh ditanwin dan ada yang wajib dinakirohkan dengan tanwin serta ada
yang boleh nakiroh dan marifat.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 91, Al Hidayah

:
) (




) (91
? ) dengan isim fi'il( 3. SOAL : Apakah perbedaan antara isim shout
JAWAB : Dalam dhohirnya isim shout itu sama dengan isim fi'il (amar dan
mudhori') tidak pada isim fi'il madhi. Tapi dalam haqiqatnya antara keduanya
tidak sama yaitu isim fi'il (amar dan mudhori') itu bersambung dengan failnya
yang berupa dhomir mustatir sedangkan isim shout itu tidak membutuhkan
dhomir mustatir.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 92

:
) (


) (92
BAB NUN TAUKID

60
1. SOAL : Apakah fi'il madhi dapat dimasuki nun taukid ?
JAWAB : Pada asalnya fi'il madhi tidak bisa dimasuki nun taukid tapi apabila fi'il
madhi tersebut mengandung ma'na mustaqbal sekalipun lafadznya berbentuk
madhi itu boleh dimasuki nun taukid.
Referensi :
Jamiud Durus juz 1 hal 67-68

:

,
)
( 68-67
2. SOAL : Apakah fungsi dari nun taukid tsaqilah ?
JAWAB : Untuk menambah mana taukid (agar taukid tersebut semakin kuat).
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 92, Al Hidayah

:

(92 )
3. SOAL : Pada lafadz
mengapa nun taukid dibaca kasroh ?
JAWAB : Karena diserupakan dengan nun mutsanna didalam tambahannya
seetelah alif.
Referensi :
Hasyiyah Al Khudlori juz 2 hal 95, Al Hidayah
Ibnu Hamdun juz 2 hal 67, Dar Al Fikr

:
) (
( 95 )
tetapi yang lebih utama adalah diserupakan dengan nun alamat rofa', karena
nunnya mutsanna itu hanya terjadi didalam isim sedangkan nun rofa' itu terjadi
didalam fi'il dan nun taukid it juga ada didalam fi'il.

61

:
) (

(68 )
4. SOAL : Pada lafadz , mengapa ketika nun yang jatuh setelah fathah dalam
wajah itu nunnya dibuang ?
JAWAB : Karena nunnya disamakan dengan tanwin.
Referensi :
Syarah Al Asymuni juz 3 hal 226, Al Haromain

:
(226 )
5. SOAL: Bolehkah fiil madli diberi nun taukid?
JAWAB : Tidak boleh secara lafadz dan mananya
Referensi :
At tashrih alattaudih Hal 303

:

:
, .

(303 )

BAB MA LA YANSHORIF
1. SOAL : Mengapa Alamiyah dan Washfiyah tidak dapat berkumpul ?
JAWAB : Karena Alamiyah dan Washfiyah keduanya merupakan ilat
manawiyah dan jika kedua manawiiyah berkumpul maka tidak diperbolehkan.
Referensi :
Al Kawakib Durriyah juz 1 hal 39
Ibnu Hamdun juz 2 hal 70, Dar Al Fikr :

62


) (39
)
(70
? mengapa ya tersebut harus dibuang 2. SOAL : Pada contoh
JAWAB : Karena untuk meringankan bacaan dan sebagai ganti dari ya yang
dibuang maka diberi tanwin.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 74, Dar Al FIkr
Al Khudlory juz 2 hal 101,Al Hidayah

:
) (
)
(74
) (

)
(101
? termasuk tanwin apakah itu 3. SOAL : Pada contoh
JAWAB : Ada perbedaan pendapat. Menurut Imam Sibaweh itu merupakan
). Dan menurut ( tanwin iwadl dari ya yang dibuang bukan tanwin shorf
Imam Mubarrod zujaj itu merupakan tanwin iwadl dari harakat ya kemudian ya
dibuang karena bertemunya dua huruf yang mati, tapi menurut Imam Akhfash itu
merupakan tanwin shorf.
Referensi :
As Shoban juz 3 hal 360,

63




(360 )
4. SOAL : Pada nadzom mengapa muannasnya memakai ha
bukannya ta ?
JAWAB : Memakai ha tersebut adalah pendapatnya Imam Sibaweh yang sebagai
ganti dari ta yang diwaqofkan tapi yang lebih utama adalah tetap memakai ta
sebagaimana yang tertera dalam bab ta tanis.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 103,Al hidayah

:
) (
)
(103
5. SOAL : Mengapa lafadz dan itu tidak bisa mencegah kemunshorifan
suatu isim jika bersamaan dengan alamiyah ?
JAWAB : Karena lafadz dan itu adalah merupakan kalimat yang
mudzakar yang bertanwin dan ta yang ada pada kalimat tersebut bukan
merupakan ta tanis melainkan ta dalam kalimat.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 103, Al Hidayah

:



(103 )
6. SOAL : Pada lafadz ilat apakah yang ada pada kalimat tersebut ?
JAWAB : Ilatnya adalah ilhaq dengan alif tanis karena diserupakan dengan
lafadz
Referensi :

64
Al Kawakib Durriyah juz 1 hal 41, Al Hidayah

:
)(



(41 )
BAB IROBUL FIIL
1. SOAL : itu bisa menashobkan fiil setelahnya apabila antara dan fiil
setelahnya tidak ada pemisah. mengapa jika pemisah yang berupa qosam itu
masih menashobkan lafadz setelahnya ?
JAWAB : Karena susunan tersebut disamakan dengan mudlof dan mudlof ilaih
yang mana antara keduanya adalah merupakan susunan yang saling berkaitan, dan
juga banyaknya memisah dengan qosam (sumpah) pada susunan yang saling
berkaitan.
Referensi :
Al Makudi juz 2 hal 85, Dar Al Fikr

:
) (
)
(85
2. SOAL : Mengapa disyaratkan harus masuk pada fiil mudlori yang
mempunyai zaman istiqbal ?
JAWAB : Karena amil nawashib itu menuntut zaman istiqbal dan jika mananya
fiil mudlori tidak berzaman istiqbal maka akan bertolak belakang.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 85, Dar Al Fikr

:

(85 )

65
3. SOAL : Apakah ada pemisah selain qosam yang diperbolehkan ?
JAWAB : Ada, tapi hukumnya syadz.seperti dipisah dengan nida, dua dan
menurut Ibnu Ushfur dengan dhorof atau jer majrur.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 112, Al Hidayah

:

(112 )
4. SOAL : Apakah bisa mamulnya fiil memisah antara dengan fiilnya ?
JAWAB : Bisa tapi menurut imam Kisai dan Hisyam.
Referensi :
As Shoban juz 3 hal 289, Al Haromain

:


(289 )
5. SOAL : Mengapa ketika yang berada diantara lam nafi dan laf harus
didhohirkan ?
JAWAB : Karena untuk menghindari berkumpulnya dua lam.
Referensi :
Al Makudi juz 2 hal 85, Dar Al Fikr

:
)
(85
6. SOAL : Amil nawashib selain , , , ketika beramal menashobkan fiil
mudhori itu harus menyimpan mengapa mesti yang disimpan
padahal selain juga ada, seperti , , yang sama-sama menashobkan fiil
mudlori dengan sendirinya.
JAWAB : Karena itu merupakan ummul bab ( ) dan hanya huruf yang
bisa menashobkan fiil mudlori secara lafadz dan mahalnya.

66

Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 111, Dar Al Fikr

:
) (

(111 )
7. SOAL : Huruf nashob yang masuk pada fiil mudlori yang dibaca rofa
seperti contoh termasuk huruf apakah tersebut ?
JAWAB : Jika fiil mudlori tersebut berlaku zaman hal maka huruf tersebut
berlaku ( hatta ibtidaiyah) dan sedangkan jika masuk pada fiil
mudhori yang zaman istiqbal maka berlaku hatta huruf jer.
Referensi :
As Shoban juz 3 hal 301, Al Haromain

:

(301 )
8. SOAL : Kenapa fiil mudlori yang dimasuki ketika zaman istiqbal harus
dibaca nashob ?
JAWAB : Karena semua amil nawashib itu tidak bisa beramal pada selain zaman
istiqbal.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 112, Dar Al Fikr

:
) (

(112 )
9. SOAL : Pada contoh amil apakah yang menjazemkan lafadz ?
JAWAB : Dijazemkan oleh adat syarat yang dikira-kirakan , yang asalnya
adalah .
Referensi :

67
Ibnu Hamdun juz 2 hal 89, Dar Al Fikr

:
) (
)
( 89
10. SOAL : Pada nadzom .
Apabila fiil mudhori yang jatuh setelah tholab yang murni dan tidak bersamaan
fa akan tetapi masih dimaksudkan menjadi jawab maka harus dibaca jazem.
Bagaimana kalau tidak dimaksudkan menjadi jawab apakah masih harus dibaca
jazem ?
JAWAB : Tidak, akan tetapi dibaca rofa
Referensi :
Al Asymuni juz 3 hal 452, Dar Al Kutub Ilmiyah

:

452 )

BAB AWAMIL JAWAZIM


SOAL : Mengapa lam amr dibaca kasroh ?
JAWAB : Karena lam amr menyerupai huruf jer dalam segi membandingi
kekhususan lam jer yani lam amr khusus masuk pada fiil sedangkan lam jer khusus
masuk pada isim.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 93
Hasyiah Al khudlori juz 2 hal 119

: )
2 ) ( )
(93
...........) (

(119 2 )

68

SOAL :Apakah lam amr selamanya dikasroh ?


JAWAB : Tidak, seperti ketika jatuh setelah wawu dan fa maka disukun dan
terkadang disukun bila jatuh setelah
Referensi :
Jamiuddurus juz 2 hal 128, Dar Al-kutub Al- ilmiyah

:

( ) 186 ) ,

(128 2

BAB ADAD

1. SOAL : Pada susunan itu antara satuan dan puluhan harus dipisah
dengan huruf athof, apakah pemisah selain huruf athof wawu diperbolehkan dan
apakah faedah huruf wawu tersebut?
JAWAB : Tidak diperbolehkan hanya khusus huruf athof wawu adapun
faedahnya adalah untuk limuthlakil jami
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 114, Dar Al Fikr
As Shoban juz 4 hal 110, Dar Al Kutub ilmiyah

:
......
)
114 )
)(
(110 )
2. SOAL : Apa sebabnya lafadz / yang pertama ( / )
dihukumi murob dan lafadz yang kedua (( / dihukumi mabni ?

69
dihukumi murob kerena mulhaq bilmutsanna / JAWAB : Lafadz
dihukumi mabni karena mengandung mananya / sedangkan lafadz
athof
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 137-138, Dar Al Fikr / Al Hidayah
Qodli Qudloth juz 4 hal 72, Dar Al Fikr

:
( )


)
(138-137



)
(72
? harus mufrod nakiroh 3. SOAL : Mengapa tamyiznya lafadz
JAWAB : Karena tamyiz tersebut untuk menjelaskan haqiqatnya madud dan hal
itu tidak akan bisa hasil kecuali tamyiznya mufrod nakiroh

Referensi :
As Shoban juz 4 hal 98, Dar Al Kutub ilmiyah

:
) (

)
(98

70

? berupa jama 4. SOAL : Apakah diperbolehkan tamyiznya


JAWAB : Menurut jumhur ulama tidak diperbolehkan tapi menurut imam Farro
itu diperbolehkan
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 138, Al Hidayah

:
) (
)
(138
? harus dibaca nashab 5. SOAL : Mengapa tamyiznya
JAWAB : Dibaca nasab karena tercegahnya menjadikan tiga pekara seperti
sesuatu yang satu
Referensi :
As Shoban juz 4 hal 99, Dar Al Kutub ilmiyah

:
) (

) (99
? boleh dibuang 6. SOAL: Apakah wawu pada contoh
JAWAB : Tidak boleh
Referensi :
Syarah Al Asymuni juz 4 hal 110, Dar Al Kutub ilmiyah

:


)
(110

71
7. SOAL : Pada contoh ( ) yang dikeluarkan dari ( )
mengapa lafadz dihukumi murob dan dihukumi mabni ?

JAWAB : Lafadz ( )dihukumi murob kerena sepi dari tarkib yang


dimudofkan langsung kepada murakkab tsani sedangkan lafadz ( )dihukumi
mabni karena masih mengira ngirakan shodrul murakkab tsani
Referensi :
As Shoban juz 4 hal 108, Dar Al Kutub ilmiyah
Al Khudlori juz 2 hal 140, Al Hidayah / Dar Al Fikr

:


(108 )
) (

........
)
(140
8. SOAL : Susunan apakah boleh menjadikan adad yang lebih
kecil menyamai adad yang lebih besar dari murokkab ?
JAWAB : Menurut ulama kufah dan bashroh tidak diperbolehkan tetapi menurut
imam syibaweh dan golongan ulama lainnya memperbolehkan
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 140, Dar Al Fikr
Syarah Al Asymuni juz 4hal 109, Dar Al Kutub Ilmiyah
Syarah Ibnu Aqil Hamisy Hasyiyah Al Khudlori juz 2 hal 140, Dar Al Fikr

:
) (
)
(140

72


.
,
)
(109


)
(140
mengikuti wajah yang ketiga yaitu Tetapi jika susunan
ini memang tidak diperbolehkan

:

) (109
? itu musytaq dari kalimat apa 9. SOAL : Lafadz
kemudian alif diletakan setelah ha dan JAWAB : Mustaq dari kalimat
kemudian wawu yang wawu diletakan di akhir kalimat sehingga menjadi
ada diakhir kalimat yang jatuh setelah harakat kasroh diganti dengan ya sehingga
menjadi
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 114, Dar Al FIkr

:
) (

)
(114
: Apakah asal lafadz
?itu

10 SOAL

JAWAB : Dalam kamus lafadz


kemudian huruf sin itu asalnya adalah
dan dal terebut diganti dengan ta maka menjadi

73

Referensi :
Asshoban hal 212

:

( 212 )
11. SOAL

: Mengapa pada lafadz setelah harokat kasroh ditambah alif

JAWAB : Ditambah nya alif agar tidak serupa dengan lafadz


Referensi :
Qowaidul Imla Hal 63.

:

( 63 )

BAB KAM KAAYIN WA KADZA


1. SOAL : Apakah lafadz bisa dilakukan istifhamiyah ?
JAWAB : Secara mutlaq semua ( ) itu bisa dilakukan istifhamiyah tanpa
memandang gholib dan nadarnya, tetapi yang berlaku adalah dilakukan kam
khobariyah sedangkan jika dilakukan kam istifhamiyah itu hukumnya nadar.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 142, Al Hidayah

:



(142 )
2. SOAL : Apakah huruf jer yang masuk pada kam istifhamiyah itu terkhususkan
huruf jer min ?
JAWAB : Tidak.

74

Referensi :
Syarah Al Makudi juz 2 hal 114, Dar Al Fikr

:

(114 )
BAB HIKAYAH

1. SOAL : Dibaca apakah hikayahnya


didahului huruf athof

yang berupa alam jika man tersebut

JAWAB
Boleh dua wajah ; menurut ulama hijaz harus dibaca nashob menjadi hikayah
sedangkan menurut bani tamim harus dibaca rafa.
Referensi :
Syarah Al Makudi juz 2 hal 118-119, Dar Al Fikr

:
) (



(119 -118 )
2. SOAL : Apakah hikayah yang berupa alam itu khusus pada alam asma saja ?
JAWAB : Tidak ,akan tetapi alam yang menjadi hikayahnya itu adalah
mutlak baik alam asma, kunyah, maupun laqob.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 144, Dar Al FIkr

75

) (
(144 )
3. SOAL : Apakah perbedaan antara hikayahnya dengan ?
JAWAB : Perbedaan antara hikayah nya [ ] dengan [ ] itu ada lima
itu khusus untuk hikayahnya lafadz yang berakal sedangkan itu
penggunaannya secara umum baik berakal atau tidak
itu khusus ketika waqof sedangkan itu umum bisa digunakan ketika
waqof maupun washol
- itu wajib dibaca isyba sedangkan tidak wajib
- itu digunakan untuk hikayahnya isim nakiroh dan alam sedangkan itu
khusus nakiroh
- huruf yang jatuh setelah tatanis pada hikayah itu wajib dibaca fathah
sedangkan pada hikayahya itu boleh fathah dan sukun.
Referensi :
Syarah Al Asymuni juz 4 hal 131, Dar Al Kutub Ilmiyah

:

,
,




)
(131
BAB TANITS
1. SOAL : Apa sebabnya alamat tanits ta bisa dikira kirakan sedangkan alamat
tanits alif tidak ?
JAWAB
Karena meletakkan ta pada suatu kalimat adalah suatu hal yang baru / tidak asal
dan ta tersebut boleh dibuang dan hal ini berbeda dengan alamat tanits alif.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 145, Al Hidayah

76

:
) (
)
(145
? yang asal mempunyai mana wazan 2. SOAL : Mengapa pada wazan
daripada yang banyak adalah berma,na JAWAB : Kerena pada wazan
. bermana
Referensi :
Qodli Qudloth juz 4 hal 93, Dar Al Fikr

:


)
( 93
apakah tabi #

3. SOAL : Pada nadzom


? selain naat itu diperbolehkan

JAWAB : Boleh, seperti menjadi athaf bayan atau hal.


Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 146, Al Hidayah

:
) (

)
( 146
huruf athofnya menggunakan 4. SOAL : Apa sebabnya pada
? tidak bisa yang lainnya
adalah sebagai isyaroh bahwa antara ta JAWAB : Dikhususkanya huruf athof
dan alif itu tidak bisa berkumpul pada kalimat yang Satu.
Referensi :
As Shoban juz 4 hal 133, Dar Al Kutub Ilmiyah

77

:
) (
)
( 133
5. SOAL : Mengapa pada bab tanits pada nadzom alamatnya
menggunakan ta tidak ha ?
JAWAB : Pada nadzom tersebut tidak menyebut ha agar bisa mencakupi ta
tanits yang ada pada fiil , tetapi menurut ulama bashroh kerana ta adalah asal
sedangkan ha adalah cabang dari ta ketika waqaf adapun menurut ulama kuffah
adalah sebaliknya.
Referensi :
Al Asymuni juz 4 hal 134, Dar Al Kutub Ilmiyah
Al Khudlori juz 2 hal 133, Al Hidayah
:


,
(134 (
) (
(133 )
BAB MAQSHUROH MAMDUDAH
1. SOAL : Apakah bisa disebut isim maqsur ? Alasannya !
JAWAB : Tidak bisa, karena alif yang ada pada merupakan alif yang mabni
bukan alif yang lazimah.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 149, Dar Al Fikr

:
) (

( 149 )

78
2. SOAL : Apakah hanya masdar dari fiil yang dimulai hamzah washol saja yang
? bisa disebut dengan isim mamdudah yang qiyasi
JAWAB : Tidak , bisa juga berupa hamzah qatho ,masdar dari fiil yang
. menunjukkan suara atau sakit , masdarnya fail dan juga mufrodnya wazan
Referensi :
Asymuni juz 4 hal 152, Dar Al Kutub Ilmiyah

:
) ( ........ .





) ( 152
KAIFIYAH TASNIAH MAQSUR WAL MAMDUD
WA JAMUHUMA TASHIHAN
ketika di tasniahkan hamzahnya diganti dengan 1. SOAL : Mengapa lafad
? wawu tidak di ganti dengan ya
JAWAB : Karena jika diganti dengan ya maka akan berkumpul tiga ya dan
kasroh dan itu sangat berat .
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 125, Dar Al Fikr

:
) (



79


( 125 )
2. SOAL : Manakah yang lebih utama antara mengganti wawu dengan menetapkan
hamzah ketika mentatsniyahkan isim mamdud pada contoh
?
JAWAB :
-Jika hamzahnya gantian dari alif tanis seperti maka yang masyhur
adalah hamzahnya diganti dengan wawu menjadi
-Jika hamzahnya untuk ilhaq seperti atau gantian dari asal seperti
maka boleh dua wajah antara mengganti wawu dengan menetapkan hamzah,
tetapi ketika ilhag itu lebih baik diganti dengan wawu daripada menetapkan
hamzah sedangkan hamzah yang gantian dari asal itu menetapkan hamzah lebih
baik dari pada diganti dengan wawu.
Referensi :
Syarah Ibnu Aqil Hamisy Hasyiyah Al Khudlori juz 2 hal 151, Al Hidayah

:






)
(151

3. SOAL : Mengapa pada lafadz huruf sebelumnya ya diharokati fathah


tidak diharokat kasroh ?
JAWAB : Ditetapkannya fathah sebelumnya karena sebagai dalil ada alif yang
sudah dibuang sebelum ya dan untuk mengenang alif yang dibuang maka fathah
di tetapkan.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 152, Al Hidayah

80



) ( 152
? dijamak muanantskan tanya harus dibuang 4. SOAL : Mengapa muannats
JAWAB : Karena supaya tidak berkumpul dua alamat tanits
Referensi :
Al Asymuni juz 4 hal 162, Dar Al Kutub Ilmiyah

:
) ( ....

) ( 162
BAB TASHGHIR
itu setelah yang muannatsnya 1. SOAL : Mengapa isim yang ikut wazan
? ya' tashghir difathah tidak dikasroh
JAWAB : Tidak di harokati kasroh agar tidak merubah bentuk jamaknya
Referensi :
Al Makudi juz 2 hal 142, Dar Al Fikr

:



) (142
itu terkhususkan 2. SOAL : Apakah huruf mad pada nadzom
? alif
JAWAB : Tidak.
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 144, Dar Al Fikr

81

) (

)
(144
? 3. SOAL : Apakah isim yang beramal seperti fi'il bisa ditashghir
JAWAB : Tidak bisa
Referensi :
As Shoban juz 4 hal 156, Al haromain

:
) (
) 156
(
? 4. SOAL : Mengapa fi'il dan huruf tidak bisa ditashghir
JAWAB : Karena tashgir itu menshifati pada ma'nanya sedangkan huruf itu tidak
bisa disifati dalam ma'nanya.
Referensi :
Asymuni juz 4 hal 156, Al Haromain
As Shoban juz 4 hal 156, Al Haromain

:
)( :
)
(156
) (
) (156
5. SOAL : Apakah isim yang mendapatkan tambahan dalam bab tasghir itu
?semuanya bisa ditarkhim
JAWAB : Tidak, ada juga yang tidak bisa ditarkhim seperti

82
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 146, Dar Al Fikr

:


) ( 146
antara ziadah alif nun dikatakan infishol 6. SOAL : Mengapa lafadz
? tidak dikatakan infishol sedangkan
itu adalah satu JAWAB : Karena yang memisah ya' tasghir pada lafadz
itu yang memisah adalah dua huruf dan huruf sedangkan pada lafadz
pemisah satu huruf itu tidak bisa mempengaruhi infshol.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 166, Al Hidayah

:
) (



) ( 166
dan : Apakah yang dikehendaki lafadz

SOAL

7.

JAWAB :
adalah sesuatu yang di ucapkan atas bentuk aslinya
adalah sesuatu yang yang diucapkan dengan menggunakan sedangkan
/ wazan
Referensi :
Qowaidullughotul Arobiah Hal 98.

:

/
) (98
BAB NASAB

83

1. SOAL : Apakah perbedaan antara lafadz


yang ya' nya berupa ya' nisbat dan
yang ya' nya tidak berupa nisbat ?
JAWAB : Jika ya' dibuang dan tidak merusak keisimannya karena tetap
menunjukkan ma'na maka ya' nya lafadz
adalah ya' nisbat dan jika ya'
tersebut ketika dibuang dapat menjadikan isim tersebut tidak mempunyai ma'na
maka ya' tersebut adalah ya' yang asal dan bukan ya' nisbat.
Referensi :
Al Khudlori juz 2 hal 169, Al Hidayah

:
) (


(169 )
2. SOAL : Bagaimana cara mengetahui bahwa pada lafadz itu merupakan ya'
nisbat atau ya' asal ?
JAWAB : Tidak ada perbedaan antara keduanya kecuali hanya didalam kirakiranya (taqdirnya).
Referensi :
Ibnu Hamdun juz 2 hal 148-149, Dar Al Fikr

:
)

(149-148
3. SOAL : Apakah membuang huruf ya' pada nadzom
terkhususkan ya' yang jatuh pada urutan ketiga saja ?
JAWAB : Tidak, bisa juga jatuh pada urutan keempat atau lebih
Referensi :
Khudlori juz 2 hal 171, Dar Al Fikr

:
....) (

84

)
(171
4. SOAL : Mengapa isim yang dinasabkan ya nya ditasydid ?
JAWAB : Supaya tidak serupa dengan ya' mutakallim
Referensi :
Khudlori juz 2 hal 169, Dar Al Fikr

:

(169 )
5. SOAL : Apakah alasannya hamzah pada lafadz diganti dengan wawu tidak
dengan ya ?
JAWAB : Karena hamzah itu lebih berat dari wawu dan kalau diganti dengan ya
maka akan berkumpul tiga ya bersama kasroh dan ini tidak diperbolehkan.
Referensi :
As Shoban juz 4 hal 265, Dar al kutub Ilmiah

:
) (
(265 )

WAQOF
1. SOAL : Mengapa ma istifhamiyah yang dijerkan alifnya harus dibuang?
JAWAB: Karena untuk membedakan ma istifhamiyah dengan ma syartiya dan
maushula.
Referensi :
Al Khudlori Juz :2 Hal : 178. Al Hidayah
Ibnu Hamdun Juz :2 Hal :161.Dar Al Fikr

:
) (
(178 2 )

85

........ ()


)

( 161 2
2. SOAL : Mengapa ma istifhamiyah yang dijerkan dengan huruf boleh menambah
ha sakat sedangkan yang dijerkan dengan isim wajib menambah ha sakat?
JAWAB: Karena ketika dijerkan dengan huruf itu seperti satu juz tapi seolah olah
seperti dua huruf,dan ketika dijerkan dengan mudlof,tidak bisa dianggap satu juz
karena mudlof mempunyai mana sendiri serta antara mudlof dan ma itu dikirakirakan terpisa sehingga wajib menambah ha sakat supaya tidak terjadi waqof
pada kalimat yang hurufnya hanya satu.
Referensi :
Al khudlori Juz 2 Hal 178, Dar Al Fikr

:
) (




(178 2 )
3. SOAL : Apakah istifhamiyah yang bersamaan dengan ketika waqof alifnya
harus dibuang?
JAWAB: Tidak dibuang
Referensi :
Al Asymuni Juz 4 Hal 305,Dar Al Fikr

:

4 )
(305
IMALAH
1. SOAL : Apakah alif yang gantian dari ya yang tidak berada dipinggir itu bisa
diimalahkan?

86

JAWAB: Ditafsil, jika alif menjadi ain fiilnya fiil maka bisa diimalahkan dan
jika menjadi ain fiilnya isim maka tidak bisa diimalahkan
Referensi :
Al Khudlori Juz :2 Hal : 179. Al Hidayah
Assobban Juz :4 Hal : 221,Al Haromain

:
) (


(179 2 )
) (

4 )
( 221
2. SOAL : Apakah alif yang gantian dari wawu yang berada di pinggir itu bisa di
imalahkan ?
JAWAB : Tidak bisa secara mutlaq, tapi apabila tidal dipinggir maka bisa ditafsil.
Referensi :
Al Khudlori Juz :2 Hal : 179. Al Hidayah

:

(179 2 )
TASHRIF
1. SOAL : Mengapa dalam menyebutkan bab yang kita pelajari dengan sebutan
tashrif tidak menggunakan lafadz shorof?
JAWAB : Karena tasrif adalah ilmu yang mengetahui bentuk kalimat selain
Irobnya dan lafadz tashrif itu lebih berhak dan mencocoki ilmi nahwu dan asal.
Referensi :
Al Falah Hal 3

87

:


(3 )
2. SOAL : Mengapa fiil mujarrod minimal tiga huruf sedang maksimal empat
huruf ?
JAWAB: Karena tidak ditemukan kalimat fiil kurang dari tiga huruf.
Referensi :
Syarah Mathlub Hal 10.

:





(10 )

3. SOAL : Kenapa isim mujarrod yang paling banyak lima huruf ?
JAWAB : Supaya tidak dianggap dua kalimat bila melebihi lima huruf yang setiap
kalimatnya berupa tiga huruf atau lebih
Referensi :
Al Khidori Juz 2 Hal 183,Dar Al Fikr / Hidayah

:
) (
( 183 2 )
4. SOAL : Mengapa fiil hurufnya lebih sedikit dari isim (apabila mujarrod paling
banya empat sedang isim lima dan apabila mazid paling banyak enam sedangkan ism
tujuh)
JAWAB : Karena tasrif dalam fiil itu lebih banyak daripada isim
Referensi :
Al Khidori Juz 2 Hal 184, Dar Al Fikr / Hidayah

88

:
) (
( 184 2 )
5. SOAL : Kenapa wazan dipillih sebagai fiil
JAWAB: Karena dalam wazan tersebut terdapat tiga makhorijul huruf dan wazan
itu juga termasuk fiil yang mempunyai mana yang lebih umum
Referensi :
Talkhishul Asas Hal 7.

:



( 7 )
6. SOAL : Mengapa wazan itu menggunakan huruf .. tidak yang lainnya?
JAWAB : Karena tiga huruf tersebut menyeluruh dalam afalul jawareh dan
afalulqulub
Referensi :
Al Khidori Juz 2 Hal 185, Dar Al Fikr / Hidayah

:
........... ) (
) ..
( 185 2
7. SOAL : Bagaimana cara mengetahui bahwa suatu huruf itu merupakan asal atau
tambahan?
JAWAB : Huruf itu dikatakan asal apabila ditasrif maka huruf itu tetap dan jika
huruf itu ziyadah mak dalam sebagian tasrifnya ada yang gugur
Referensi :
Tarshif Fi Ilmi Tashrif Hal 10.

89


(10 )
BAB HAMZAH WASHOL
1. SOAL : Kapankah wajib membuang hamzah washol lafdzon wakhotton?
JAWAB : Ketika berada pada tiga tempat,yaitu:
1. Pada lafadz yang disandarkan pada lafadz
) )
2. Pada lafadz yang antara dua alam yang mana alam keduanya asli / bapak dari
alam yang pertama serta lafadz ibnun tidak berada dipermulaan baris.
3. Pada AL yang kemasukan huruf jer lam.
Referensi :
Rowaiul Bayan Tafsirul Ayatil Ahkam Juz :1 Hal :15 Dar Al kutud Al islamiyah
Sirojuttholibin Juz : 1 Hal : 8. Dar ihyail Kutub Al arobiyah
Mathlub Fi syarhil Maqshud

:
) (
(
1 )
( 15

( 8 1 )

2. SOAL : Hamzah washol pada lafadz mengapa diperbolehka difathah dan
dikasroh?
JAWAB :Karena hamzah pada itu asalnya adalah hamzah qotho kemudian
dijadikan hanzah washol karena banyaknua berlaku kemudian wajah dua dalam
hamzahnya yani dikasroh melihat asal dan difathah untuk menghilangkan berat.
Referensi :
Hallul Maqud Hal : 28. Al Hidayah

90



)
( 28
disebutkan dalam kalimat yang didahului hamzah 3. SOAL : Kenapa lafadz
? adalah lughot lain dari washol padahal
yani dengan tambahan mim merubah mana JAWAB : Karena lafadz
mana mubalaghoh dan hukumnya itu diikutkan huruf sebelum mim yani dalam
harokat dan Irobnya.
Referensi :
Al Khudhori Juz : 2 Hal : 189. Al Hidayah

:


) 2 ( 189
BAB IBDAL
tidak diganti / 1. SOAL : Mengapa hamzah yang kedua dari lafadz
? dengan huruf mad
JAWAB : Karena hamzah yang pertama pada contoh tersebut adalah hamzah
istifham yang terpisah dari satu kalimat.
Referensi :
Al Makudi Juz 2 Hal 183, Dar Al Fikr

:



) 2 ( 183
? tidak dishohehkan 2. SOAL : Mengapa lafadz
JAWAB : Karena lafadz tersebut adalah simai, sedangkan qiasinya adalah

91

Referensi :
Risalatu Attashrif

:
)
(
3. SOAL : Kenapa harokatnya ya pada lafadz tidak dipindah?
JAWAB: Karena mim pada lafadz
mengikuti wazan

itu asli yang mengikuti wazan tidak

Referensi :
Al khudlori Juz 2Hal 204, Dar Al Fikr

:
...... ( )
( 204 2 )
4. SOAL : Mengapa lafadz wawunya tidak diganti hamzah?
JAWAB: Karena pada madlinya wawu tersebut tidak di Ilal
Referensi :
Tadijul Adna hal 4

:
" "

( 4 )
5. SOAL : Mengapa pada lafadz alifnya tidak dibuang padahal terjadi dua huruf
yang mati ?
JAWAB: Karena ketika isim maqsur yang ditanwin seperti secara lafadz
alifnya di buang tetapi ditetapkan dalam tulisannya.
Referensi :
Jamiuddurus Juz 1 Hal 80, Dar Al kutub Al alamiyah

:
)
( 103 1

92

6. SOAL : Apakah wajib membuang wawu dalam lafadz ?


JAWAB: Tidak wajib melainkan boleh
Referensi :
Syarah Arrodli Hal 189

:




(189 )
7. SOAL : Kenapa alif pada lafadz wajib diganti wawu ketika di mabnikan
majhul?
JAWAB: Diganti wawu supaya munasabah dengan dhomah
Referensi :
Ibnu Hamdun Juz 2 Hal 188-189, Dar Al Fikr

:
) (

2 )
( 188-189
BAB FASHLUN

#


#
SOAL : Dijelaskan pada nadzom diatas bahwa jika ada huruf ilat yang hidup dan
menjadi ain fiil serta sebelumnya berupa huruf shoheh yang mati maka harokatnya
huruf ilat tersebut harus dipindah pada huruf shoheh sebelumnya yang mati, namun
hal tersebut terdapat beberapa pengecualian,yaitu :
- Jika fiilnya berupa fiil taajub seperti lafadz
- Jika fiilnya berupa mudoaf seperti lafadz
- Dan jika ain dan lam fiilnya berupa huruf ilat keduanya seperti lafadz
Apakah alasan masing-masing pengecualian diatas tersebut?

93

JAWAB :
- Fiil taajub yang ain fiilnya berupa huruf ilat dan telah memenuhi syarat
untuk mengalami Iilal perpindahan harokat namun tidak diiilal sebab ada
keserupaan dengan isim tafdil dalam dua hal ( wazan dan dilalah ) dan juga
apabila lafadz tersebut diilal maka akan serupa dengan wazan kalimat fiil.
Referensi :
Ibnu Hamdun Juz 2 hal 196,Dar Al Fkr / Hidayah
Hasyiah Al Khudlori Juz 2 Hal 204, Dar Al Fkr

:
( ) ( )



(196 2 )
-

Jika kalimat yang mudoaf tersebut mengalami Ilal pergantian harokat juga
akan terjadi keserupaan yaitu dengan wazan isim fail.

:
) (


)
( 204 2
-

Lafadz yang ain dan lam fiilnya berupa huruf ilat keduanya tidak diilal sebab
terjadi dua Ilal dalam satu kalimat

:
) ( )
( 204 2
SOAL : Apa yang menyebabkan wawu dan ya yang menjadi fa fiil ( )di ganti
dengan ta?
JAWAB : Yang menyebabkan digantinya wawu dan ya dengan ta itu ada dua :

94
1- Susahnya mengucapkan huruf lein mati yang bersamaan dengan ta karena
berdekatan makhroj dan saling bertentangan dalam sifatnya yani huruf lein
itu jelas dan ta itu mahmus
2- apabila tidak di ganti dengan ta maka akan terjadi permainan dalam harokat
fa.
Referensi :
Qodli qudlot juz : 2 hal : 454-455

:
:



.
-454 2 )
.( 455
SOAL : Kenapa wawu yang menjadi fa fiil bertempat pada fiil mudllore yang
jatuh
diantara fathah dan kasroh harus dibuang?
JAWAB : Karena untuk memurnikan jatuhnya wawu diantara ya yang difathah dan
kasroh karena ya dalam tabiatnya adalah musuh wawu dan fathahnya ya itu tidak
bisa meringankan adanya musuhan karena fathah itu dekat dengan yasebagaimana
wawu
Referensi :
Qodli Qodoth juz 2 Hal 456

:



2 )
( 456
SOAL : Apakah wajib membuang wawunya lafad ?
JAWAB : Tidak, tetapi hukumnya adalah jawaz.
Referensi
Syarah Arrody,Hal 179

95

:




) ( 179
BAB IDGHOM
? 1. SOAL : Apakah tujuan idghom
JAWAB: Untuk meringankan bacaan yang berat
Referensi :
Taftazani Hal 23

:

) ( 23
?2. SOAL : Mengapa bab idghom diakhirkan
JAWAB: Karena mengikuti ahlitasrif yang kebiasaannya mengakhirkan bab
idghom dalam ilmu tashrif
Referensi :
Ibnu Hamdun Juz 2 Hal 202, Dar Al Fikr

:



) 2 ( 202
yang mudloaf tidak 3. SOAL : Kenapa isim yang ikut pada wazan
?diidghomkan
JAWAB: Karena ketiga wazan tersebut tidak sama dengan fiil dalam wazannya
sedangkan idghom itu sendiri cabang dari idhzar maka idghom sendiri dikhususkan
untuk fiil karena hal itu cabang, begitu juga isim yang mengikuti wazannya fiil.
Referensi :

96
Dahlan Alfiyah Hal 206,Al Hidayah

:


( 206 )
4. SOAL : Kenapa fiil yang mulhaq itu tidak boleh diidghomkan?
JAWAB : Karena bila diidghomkan akan merusak ilhag.
Referensi :
Dahlan Alfiyah Hal 207, Al Hidayah

:

( 207 )
5. SOAL : Apakah perbedaan lafadz/ dan lafadz ( fiil madli
mudoaf yang kemasukan dhomir marfu mutaharek dan fiil mudhore mudoaf yang
dimasuki amil jawazim) sehingga dibedakan bahwa sukun kalimat yang pertama asli
sedang kalimat yang kedua baru ?
JAWAB : Karena sukun pada lafadz yang pertama itu dihasilkan dengan
memasuku lafadz lain yani dhomir fail yang mana kedudukannya dianggap satu juz
dengan yang memasukinya ( fiil ) dan supaya tidak adanya empat harokat yang
beruntun tanpa adanya pemisah dalam satu kalimat yang dianggap satu adapun lafadz
yang kedua sukunnya dihasilkan sebab dimasuki amil jawazim yang mana dianggap
kalimat lain karena amil jawazim tidak menetapkan tetapnya fail fiilnya.
Referensi :
Hamisy Talkhishul Asas Hal 59. Al Hidayah

:
,





97

)
( 59
? tidak diidghomkan pada sejenis , , , 6. SOAL : Kenapa lafadz
JAWAB : Adapun dalam lafadz yang pertama tidak diidghomkan supaya tidak
membatalkan ilhaq sedangkan kalimat lainnya tidak diidghomkan karena bila
diidghomkan akan terjadi keserupaan dengan kalimat lain
Referensi :
Talkhisul Asas hal : 57. Al Hidayah

:



)
( 57