Anda di halaman 1dari 6

Sadomasokisme

Sadomasokisme adalah gangguan yang menyebabkan seseorang menerima rangsangan seksual dari penderitaan atau menerima rasa sakit.

Kata sadomasokisme dapat dibagi menjadi dua kata yaitu sadis dan masokis. Sadis adalah orang yang menerima rangsangan seksual dari memberi rasa sakit, kepuasan seksual diperoleh bila mereka melakukan hubungan seksual dengan terlebih dahulu menyakiti atau menyiksa pasangannya. Sedangkan masokis adalah orang yang menerima rangsangan seksual dari menerima rasa sakit, seseorang dengan sengaja membiarkan dirinya disakiti atau disiksa untuk memperoleh kepuasan seksual.

Masokis cenderung sangat spesifik tentang jenis-jenis rasa sakit yang mereka nikmati, lebih memilih beberapa dan tidak menyukai orang lain. Banyak perilaku seperti memukul, gelitikan dan gigitan

mengandung unsur sado-masokisme. Bahkan jika kedua belah pihak secara hukum menyetujui tindakan seperti ini tidak dapat diterima sebagai pertahanan terhadap tuntutan pidana.

Dalam kasus ekstrim, sadisme dan masokisme dapat termasuk fantasi, dorongan seksual atau perilaku menyebabkan penderitaan yang signifikan atau gangguan di daerah penting sosial, pekerjaan, atau fungsi, ke titik bahwa mereka dapat dianggap sebagai bagian dari gangguan jiwa. Namun, hal ini secara luas dianggap langka, seperti psikiater sekarang menganggap perilaku seperti klinis menyimpang hanya jika dapat diidentifikasi sebagai gejala atau berhubungan dengan masalah lain seperti gangguan kepribadian atau neurosis.

Penyakit ini disebabkan karena penderita mengalami kelainan mental atau sexual abuse pada masa mudanya.

Penemuan Sadomasokis
Sadomasokis ditemukan dan diperkenalkan ke bidang medis oleh psikiater Jerman Richard von Krafft-Ebing tahun 1886 yang mempelajari tentang Psychopathia Sexualis. Nyeri dan kekerasan fisik dimasukkan dalam konsepsi Krafft-Ebing, dan ia didefinisikan sebagai masokisme (Jerman "Masochismus").

Perkembangan teori-teori psikiatri modern Sadomasochisme, memilih klasifikasi ilmiah teoritis ke dalam penggunaan umum dari istilah "Sadomasokisme", ini dipersulit oleh keragaman niat dalam aplikasi. Sadomasokisme dapat dipisahkan menjadi dua kata yaitu "Sadisme" dan "Masokisme", pertama kali dipilih sebagai istilah ilmiah profesional, mengidentifikasi fenomena perilaku manusia dan dimaksudkan untuk klasifikasi penyakit psikologis yang berbeda atau orientasi sosial dan seksual berbahaya. Istilah ini awalnya berasal dari nama dua penulis, Marquis de Sade dan Leopold von Sacher-Masoch

masing-masing, berdasarkan tulisan-tulisan populer mereka.

Psikiater Jerman Richard von Krafft-Ebing memperkenalkan istilah "Sadisme" dan "Masokisme" ke dalam terminologi medis kelembagaan dalam karyanya Neue Forschungen auf dem der Gebiet Psychopathia Sexualis ("Penelitian baru di bidang Psikopatologi of Sex") pada tahun 1890.

Pada tahun 1905, Sigmund Freud menjelaskan "Sadisme" dan "Masokisme" dalam bukunya Drei Abhandlungen zur Sexualtheorie ("Tiga makalah tentang Teori Seksual") sebagai sesuatu yang berasal dari perkembangan psikologis menyimpang dari anak usia dini. Ia juga meletakkan dasar bagi perspektif medis diterima secara luas tentang subjek di dekade berikutnya.

Contoh Kasus Sadomasokis


JAKARTA Bunga (23) yang mengaku sebagai mahasiswi semester akhir Fakultas Hukum (FH) Universitas Indonesia (UI) diperkosa kenalan barunya, DWS (21), sepulang dari kampus. Kegadisan Bunga yang lahir pada 25 Mei 1985 diambil paksa oleh DWS yang dilakukan di rumah DWS, di Perumahan Benda Baru, Pamulang, Tangerang itu juga direkam oleh pelaku. Awal pemerkosaan itu bermula dari ajakan untuk bertemu orangtua DWS. Namun DWS yang merupakan teman mainnya itu terus memaksa. Orang tua saya ingin ketemu kamu, kata DWS seperti ditirukan Bunga. Bunga yang karena kasihan lalu mengikuti kemauan DWS. Namun sesampai di rumah DWS, Bunga tidak menemui orangtua DWS. Orangtua sedang ke warung. Kamu tunggu saja, kata DWS saat itu. Bunga pun menunggu. Ternyata DWS dengan cepat mengunci pintu, menutup gorden serta menyalakan musik dengan keras. Saya langsung curiga. Apa maksudnya. Saya kemudian ditarik ke kamar orang tuanya, kata Bunga sambil menangis. Bunga melakukan perlawanan dan langsung berteriak, menendang, mendorong, menampar, dan menggigit DWS. Bukannya sadar, dia malah beringas dan dengan cepat melucuti pakaian dan celana dalam saya, hingga saya telanjang bulat. Dia lalu merengut paksa kegadisan saya. Perkosaan itu terjadi 1 kali hingga berdarah, karena saya masih perawan ujarnya. Puas melampiaskan nafsu bejatnya, DWS lalu mengantar Bunga pulang ke rumahnya di Jalan Jajar Tinggi, Ciputat. Bunga dan keluarganya telah melaporkan kasus itu ke polisi. Tapi, hingga kemarin belum ada kejelasan kasusnya. Saya kenal DWS sekitar dua tahun lalu, ujar Bunga. Pemerkosaan itu dilakukan DWS setahun lalu. Waktu itu, Bunga baru turun dari bus kota di Ciputat, Tangerang, sepulang dari kampus. DWS, yang ada di tempat itu dengan naik motor Suzuki B 4251 XXX, memaksa Bunga untuk ikut dengannya. Semula Bunga menolak, tapi karena diancam akhirnya ikut ke rumah DWS. Bunga diperkosa DWS pertama kali pada 13 Januari 2006. Perkosaan kedua terjadi esok harinya. Dia malah langsung ke kampus menjemput saya sekitar pukul 13.30 WIB. Awalnya saya menolak. Tetapi dia malah megancam. Kalau tidak mau melayani lagi nanti video yang kemarin akan disebarluaskan, kata Bunga di Polres Jakarta Selatan, Jalan Wijaya II, Jakarta Selatan, Kamis (24/4/2008). Di rumah inilah, Bunga diperkosa dua kali. Pemerkosaan itu direkam oleh DWS sebagai senjata untuk menakut-nakuti Bunga agar tidak melaporkan kasus itu ke orangtuanya maupun ke polisi. Pada pemerkosaan kedua ini Bunga mengaku tidak melawan sama sekali karena selain khawatir DWS marah, juga karena merasa percuma melawan sebab dirinya sudah tidak

gadis lagi. Jadi dirinya diam saja ketika DWS melucuti semua pakainnya dan menciumi seluruh tubuhnya. Sama seperti kejadian sebelumnya, gadis berkulit kuning dan berambut sebahu ini setelah pasrah sekitar sejam dinikmati tubuhnya oleh DWS, Bunga pun diantar pulang DWS ke rumahnya setelah diperkosa. Kasat Reskrim Polrestro Jakarta Selatan Kompol Iwan Kurniawan menjelaskan bahwa Proses pemeriksaan DWS tetap berjalan. Sekarang kami sedang melengkapi berita acara pemeriksaan dari keterangan tambahan korban. Korban sendiri yang mengulur waktu dengan alasan sedang menyusun skripsi, katanya. Menurut Iwan, DWS mengaku sebagai pacar Bunga. Hubungan layaknya suami-istri itu pun dilakukan beberapa kali atas dasar suka sama suka mana mungkin saya bisa merekam kami berhubungan intim kalau tidak didasari suka sama suka apalagi sampai saya jemput ke kampus karena ketagihan pelayanan Bunga. Setelah dua kali berturut-turut diperkosa DWS, Bunga (23), mahasiwi UI, akhirnya menceritakan kisahya kepada orangtuanya. Menurut Bunga, Ia tidak tahan jadi bulan-bulanan pelampiasan nafsu DWS yang egois itu , Bunga akhirnya menceritakan kasus ini sebagai kasus pemerkosaan kepada sang ibu. Perempuan cantik ini juga menceritakan pemerkosaan tersebut kepada orangtua DWS melalui telepon. Namun DWS rupanya tidak mengakui bahwa Ia memperkosa menurutnya itu adalah hubungan suka sama suka. Pertama kali kami datang ke rumah pelaku, dia mengelak terus. Sampai ngomong, saya tidak melakukan dan tidak takut dipenjara. Akhirnya bulan ketiga dan keempat setelah ditakut-takuti, dia mau ngaku telah memerkosa, kata ayah Bunga, Ian, menirukan ucapan DWS di Polres Jakarta Selatan, Jalan Wijaya II, Jakarta Selatan, Kamis (24/4/2008). DWS telah memerkosa Bunga di rumahnya, Jalan Beringin, Ciputat, Jakarta Selatan pada 13 dan 14 Februari 2006. Menurut Iwan, orangtua DWS lalu meminta kasus perkosaan ini diselesaikan secara kekeluargaan. Pertimbangannya karena pelaku masih muda. Jadi kalau sampai masuk penjara, kasihan, ujar Iwan. Permintaan itu ditolak mentah-mentah orangtua Bunga. Saya dengan tegas menolak. Anak saya kasihan sudah jadi korban pemerkosaan, kata dia. Tetapi setiap kali kita mau lapor ke polisi, keluarga pelaku selalu memohon janganjangan. Tetapi akhirnya kita harus tega. Kasihan anak saya habis kejadian itu dia murung terus terutama akibat banyaknya pemberitaan dimedia massa, lanjutnya. Orangtua Bunga akhirnya mengadukan kasus pemerkosaan pada 25 Maret 2007 ke Polres Jakarta Selatan, atau setahun dari peristiwa. Hari ini Bunga, perempuan cantik berkulit kuning langsat, menanyakan kelanjutan kasus yang telah dilaporkan 13 bulan lalu itu ke Polres Jaksel.