Anda di halaman 1dari 4

PENDAHULUAN Era perdagangan bebas saat ini, persaingan antara perusahaan semakin meningkat.

Suatu perencanaan produksi yang baik sangat dibutuhkan agar mampu menghasilkan output produksi yang memiliki kualitas yang berstandar tinggi dan mampu memenuhi kebutuhan dan permintaan pasar. Untuk mewujudkan semua itu, diperlukan suatu perancangan dan pengelolaan sistem produksi yang baik pada perusahaan atau industri yang terkait agar proses produksi berjalan baik dan lancar. Sistem produksi merupakan sistem yang mempunyai komponen struktural dan fungsional yang didalamnya terjadi suatu proses perubahan nilai tambah yang mengubah bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi yang dapat dijual. Peta proses operasi, peta proses perakitan, struktur produk, bill of material merupakan salah satu alat yang berguna bagi perusahaan untuk melakukan pengelolaan maupun perencanaan terhadap sistem produksi. Alat-alat tersebut di implementasikan terhadap pembuatan tempat pajangan. Permasalahan yang diidentifikasi dari pembuatan tempat pajangan yang dilakukan yaitu bagaimana cara mengolah data yang ada agar dapat digunakan untuk pembuatan Peta proses operasi, peta proses perakitan, struktur produk dan bill of material dari pembuatan tempat pajangan. Tujuan dari dilakukannya pembuatan tempat pajangan yaitu untuk menegetahui komponen-komponen apa saja yang digunakan untuk membuat tempat pajangan, mengetahui total waktu pengerjaan maupun waktu perakitannya dari peta proses operasi dan peta proses perakitan. Tujuan lainnya yaitu mengetahui waktu siklus, waktu normal, dan waktu baku pada perakitan tempat pajangan serta mengetahui jumlah level pada struktur produk dan bill of material dari perakitan tempat pajangan, baik dalam bentuk explotion maupun implotion. Masalah dalam pembuatan tempat pajangan ini hanya dibatasi pada pembuatan peta proses operasi, peta proses perakitan, struktur produk, dan bill of material saja. Pengulangan yang dilakukan untuk mengetahui waktu perakitan hanya dilakukan 3 kali pengulangan saja dan waktu yang diambil merupakan waktu rata-rata dari ketiga waktu tersebut. TINJAUAN PUSTAKA Menurut Sutalaksana (1979), Operasi Proces Chart (APC) merupakan peta yang menggambarkan langkah-langkah proses perakitan yang akan dialami komponen berikut pemeriksaannya dari awal sampai produk jadi selesai. APC atau disebut juga sebagai peta proses perakitan memiliki beberapa manfaat diantaranya adalah: a) Menentukan kebutuhan operator. b) Mengetahui kebutuhan tiap komponen. c) Alat untuk menentukan tata letak fasilitas. d) Alat untuk menentukan perbaikan cara kerja. e) Alat untuk latihan kerja. Menurut Gaspersz (2002), struktur produk atau bill of materials (BOM) didefinisikan sebagai cara komponen-komponen itu bergabung ke dalam suatu produk selama proses manufakturing. Struktur produk akan menunjukkan bahan baku yang dikonversi ke dalam komponen-komponen fabrikasi kemudian komponen-komponen itu bergabung secara bersama untuk membuat subassemblies, kemudian subassemblies

bergabung bersama membuat assemblies dan seterusnya sampai produk akhir. Kebanyakan produk memiliki struktur standar dimana subassemblies lebih banyak dari pada produk akhir dan komponen dari pada subassemblies (berbentuk segitiga dengan puncak adalah produk akhir, bagian tengah adalah assemblies dan bagian bawah adalah komponen dan bahan baku). Ada juga produk yang memiliki struktur modular seperti mobil dan komputer, dimana lebih sedikit subassemblies atau modul dari pada produk akhir (berbentuk dua buah segitiga dengan dua buah puncak bertemu di tengah dengan bagian atas adalah produk akhir, bagian tengah adalah assemblies dan bagian bawah adalah komponen dan bahan baku). Menurut Sutalaksana (1979), struktur produk yang terakhir adalah struktur inverted. Pada struktur ini subassemblies lebih sedikit dibandingkan dengan produk akhir, dan lebih sedikit komponen dan bahan baku dibandingkan subassemblies (berbentuk segitiga terbalik, dengan bagian atas adalah produk akhir, bagian tengah adalah assemblies dan bagian bawah adalah komponen dan bahan baku). Seringkali untuk keperluan peramalan dan perencanaan digunakan pendekatan planning terhadap struktur produk atau BOM, sehingga dikenal adanya planning BOM. Metode planning BOM ini mengijinkan perencana untuk memenuhi tujuan-tujuan operasi maupun non operasional yang lain. Biasanya pendekatan planning BOM akan efektif apabila terdapat perubahan proses yang meningkat dan lingkungan yang kompetitif serta dinamik. Planning BOM didefinisikan sebagai suatu pengelompokkan artifisial dari item-item atau kejadian-kejadian dalam format BOM. Dipergunakan untuk memudahkan dalam penjadwalan produksi induk (JIP) atau Material Requirement Planning (MRP). Planning BOM tidak menggambarkan produk aktual yang akan dibuat, tetapi menggambarkan pseudo product atau composite product yang diciptakan untuk memudahkan dan meningkatkan akurasi peramalan penjualan, mengurangi jumlah end items, membuat proses perencanaan dan penjadwalan secara akurat, menyederhanakan pemasukan pesanan perlangkah, menciptakan sistem pemeliharaan dan penyimpanan data yang efesien dan fleksibel, serta melakukan penjadwalan dua tingkat. Jenis BOM yang dipakai untuk keperluan perencanaan ini sering disebut sebagai planning bill of materials (planning BOM) atau sering disingkat sebagai planning bill, yang dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu yang pertama adalah planning bill dan yang kedua ialah modular bill. Berikut adalah bentuk utama dari struktur produk atau bill of materials (BOM):
END ITEM FAS FAS & MPS S T A N D A R M O D U L A R I N V E R T E D MPS FAS

Assemblies

MPS

Raw Materials

Dalam struktur standar sedikit end items standar yang dibuat dari komponen. Produk akhir ini disimpan dalam stok untuk pengiriman

Dalam struktur modular banyak end items yang dibuat dari subassemblies yang sama, kemudian disimpan untuk assembly guna memenuhi pesanan pelanggan

Dalam struktur inverted banyak end itemdibuat dari sejumlah raw materials yang trbatas, berdasarkan pada pesanan pelanggan

Keterangan: FAS = Final Assembly ; MPS Master Production Schedule

Gambar 1 Bentuk Utama dari Struktur Produk atau BOM Sumber: Gasperz (2002)

Pertama planning bills dengan item yang dijadwalkan merupakan komponen atau sub assemblies untuk pembuatan produk akhir, dimana item-item yang dijadwalkan itu secara fisik lebih kecil dari pada produk akhir. Termasuk ke dalam kategori ini adalah modular bill of material dan inverted bill of material. a. Planning bills dengan item yang dijadwalkan memiliki produk akhir sebagai komponen-komponennya (super bills), dimana item-item yang dijadwalkan secara fisik lebih besar dari pada produk akhir. Termasuk ke dalam kategori ini adalah super bill of material, super family bill of material, dan super modular bill of material. b. Modular bills mengelompokkan subassemblies dan parts berdasarkan pada apakah mereka adalah unit terhadap specific or common product option terhadap semua konfigurasi produk. Setiap kelompok disebut module yang dijadwalkan dalam Master Production Schedule (MPS) bukan produk akhir yang dijadwalkan. Menurut Gaspersz (2002), keuntungan dari penggunaan modular planning bill adalah cocok dipergunakan untuk produk yang memiliki banyak pilihan, jumlah item yang dijadwalkan dalam MPS menjadi lebih sedikit, dan peramalan berdasarkan modul lebih akurat dibandingkan dengan permalan untuk konfigurasi spesifik. Inverted bills of material adalah suatu komponen tunggal atau bahan baku yang dapat diubah ke dalam banyak produk unit. Dalam inverted bill of material, peramalan dan MPS dilakukan pada level bahan baku dan bukan pada level produk akhir. Peramalan pada level bahan baku agregat lebih akurat dari pada peramalan pada level produk akhir individual. Inverted bills didasarkan pada asumsi bahwa persentase penggunaan inverted bills umum diterapkan dalam proses industri. Penggunaan bill of material secara umum digunakan oleh berbagai macam bidang yang diantaranya yaitu engineering, production planning control (PPC) dan accounting. a. Dalam bidang engineering penggunaan BOM dibuat sebagai bagian dari perencanaan proses produksi dan juga digunakan untuk menentukan item-item mana saja yang harus di beli atau dibuat sendiri. b. Pada production planning control penggunaan struktur produk digunakan untuk dilakukan penggabungan dengan master production schedule (MPS) yang digunakan untuk menentukan item-item dalam daftar pembelian dan order produksi yang harus dilepas. c. Sedangkan dalam accounting struktur produk digunakan dalam menghitung biaya produk dan harga jual. Setiap komponen harus memiliki identifikasi unik atau khusus yang hanya mengidentifikasikan satu komponen yang disebut part number atau item number. Penentuan part number dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu random, significant dan semi significant. Menurut Gaspersz (2002), pada metode random nomor yang digunakan hanya sebagai pengenal (identifier) dan bukan sebagai penjelasan (descriptor) tidak menjelaskan lebih jauh mengenai suatu komponen. Yang dimaksud dengan significant adalah nomor yang dapat juga menjelaskan informasi khusus mengenai item atau komponen tertentu, seperti sumber material (source), bahan, bentuk dan deskripsi. Sedangkan pada metode semi significant beberapa digit pertama menjelaskan mengenai komponen tersebut, sementara digit berikutnya berupa angka random.

Tipe level Bill of Material diklasifikasikan menjadi dua level yaitu single level BOM dan multi level BOM. Untuk tipe single level BOM adalah menggambarkan hubungan sebuah induk dengan satu level komponen-komponen pembentuknya. Pada multi level BOM menggambarkan struktur produk yang lengkap dari level 0 (produk akhir) sampai level paling bawah. Sedangkan tipe jenis dari Bill of Material ada dua jenis diantaranya yaitu Explosion dan Implosion. Explosion adalah BOM dengan urutan dimulai dari induk sampai komponen pada level paling bawah. Serta menunjukkan komponen-komponen yang membentuk suatu induk dari level paling atas sampai level terbawah. Implosion adalah BOM yang menunjukan urutan komponen induk dan untuk mengetahui suatu Part Number menjadi komponen dari induk yang mana saja (kebalikan dari proses Explosion) dan biasa digunakan oleh engineer untuk melihat pengaruh perubahan rancangan komponen terhadap induk-induknya METODOLOGI PENELITIAN Tahap pertama dalam pembuatan produk tempat pajangan ini yaitu menentukan atau merencanakan rancangan desain dan bahan yang akan dipilih untuk membuat tempat pajangan. Rancangan desain produk tempat kayu dibuat dengan menggunakan software AUTOCAD 2010. Bahan yang akan dipakai dalam pembuatan tempat pajangan ini yaitu kayu arbot. Sejenis kayu campuran yang biasa digunakan dalam pembuatan produk-produk rumah tangga. Setelah rancangan dibuat dan bahan dibeli kemudian dilakukan pengukuran sesuai dengan ukuran-ukuran yang telah dirancang sebelumnya. Dalam melakukan pengukuran tidak lupa untuk memberikan kelonggaran agar ukuran dapat sesuai. Proses pemotongan dan penghalusan kayu yang telah diukur dilakukan agar kayu mendapatkan bentuk yang diinginkan dan presisi saat dirakit. Proses terakhir yaitu proses perakitan produk tempat pajangan. Proses perakitan dilakukan dengan tiga kali pengulangan agar mendapat waktu yang tepat. Proses pembuatan dan perakitan dilakukan sambil melakukan pengambilan data, data waktu, data ukuran, data operator dan data yang lainnya yang diperlukan untuk melakukan pengolahan data. Tahap selanjutnya dalam penelitian ini yaitu proses pengolahan data. Data-data yang telah diambil dalam proses sebelumnya dikumpulkan kemudian dibuat peta proses operasi, peta proses perakitan, struktur produk dan bill of material produk tempat pajangan. Setelah pengolahan data dilakukan tahap selanjutnya yaitu membuat analisis dari peta proses operasi, peta proses perakitan, struktur produk dan bill of material. Analisis dilakukan untuk mengetahui hal-hal yang mendetail dari setiap data-data yang telah tersaji. Kesimpulan dan saran merupakan langkah terakhir yang dilakukan dalam proses pembuatan tempat pajangan ini. Kesimpulan merupakan jawaban dari tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Tujuan dari dilakukannya pembuatan tempat pajangan yaitu untuk menegetahui komponen-komponen apa saja yang digunakan untuk membuat tempat pajangan, mengetahui total waktu pengerjaan maupun waktu perakitannya dari peta proses operasi dan peta proses perakitan. Tujuan lainnya yaitu mengetahui waktu siklus, waktu normal, dan waktu baku pada perakitan tempat pajangan serta mengetahui jumlah level pada struktur produk dan bill of material dari perakitan tempat pajangan, baik dalam bentuk explotion maupun implotion.