Anda di halaman 1dari 8

Tugas Komposit 3

Polypropylene fibre reinforcement of lightweight cementitious matrices

Rhidiyan Waroko 0806331935

Departemen Teknik Metalurgi dan Material Program Studi Teknik Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia Depok 2012

Polypropylene fibre reinforcement of lightweight cementitious matrices


Pendahuluan
Concrete telah banyak digunakan sebagai bahan rekayasa struktur karena kekuatan tekan yang tinggi, harga murah dan bahan mentah yang tersebar. Tetapi, concrete memiliki masalah yang umum. Seperti penyusutan dan adanya crack, low tensile kekuatan flexural yang rendah, ketangguhan yang buruk, ketahanan impak yang buruk, dll, hal tersebut tentu sangat menganggu dalam aplikasinya. Secara umum, penyebab terjadinya crack adalah sebagai berikut[2-5]: 1. Penyusutan plastis : karena kehilangan sejumlah air akibat evaporasi. 2. Autogeneous shrinkage: penyusutan kimia (volume hidrat yang lebih rendah daripada semen dan air) + autodessication (pengurangan volume air akibat hidrasi). 3. Penyusutan termal : terjadi akibat turunnya temperatur lingkungan. 4. Penyusutan kering : kehilangan air ke lingkungan. 5. Penyusutan karbonasi : reduksi volume karena reaksi hydrated cement paste dengan CO2. Untuk mengatasi masalah crack tersebut, maka para peneliti melakukan pencampuran concrete dengan fiber. Fiber-reinforced concrete (FRC) telah berhasil digunakan untuk aplikasi struktural karena flexural-tensile strength yang sangat bagus, ketahanan terhadap pecah, ketahanan terhadap impak, permeability yang baik dan ketahanan terhadap suhu dingin. Desain material ini juga tepat untuk meningkatkan keyangguhan, ketahanan impak dan ketahanan terhadap penyusutan plastis[1,5]. Beberapa jenis fiber, yang sintetis dan alami telah dicoba untuk digunakan pada concrete. Propertis dari FRC, seperti ketahanan terhadap crack, penguatan dan ketangguhan tergantung terhadap dari propertis mekanik dari fiber, propertis ikatan antara fiber dengan matriks serta jumlah dan distribusi fiber didalam matriks[7-9]. Dalam hubungannya dengan modulus elastic, fiber dibagi kedalam dua tipe, yaitu fiber yang memiliki modulus elastis lebih rendah daripada matriksnya (polipropilene (PP), poliacrilonitril (PAN)) dan fiber yang memiliki modulus elastis yang lebih besar dari matriksnya (fiber asbes, fiber glass, fiber baja, fiber karbon, fiber aramid, dst). Uji kelayakan penggunaan fiber tersebut didalam matriks telah banyak dilakukan. Fiber dengan modulus elastis yang lebih rendah, digunakan untuk mengontrol crack dan membatasi lebar crack. Untuk mengurangi fenomena penyusutan dan cracking, kombinasi antara fiber dengan modulus elastis yang rendah dengan modulus elastis yang lebih tinggi memberi hasil yang bagus[10]. Alhozaimy dkk meneliti tentang penambahan 0,1% fiber PP kedalam concrete dapat meningkatkan sekitar 44% ketahanan flexural dari concrete[9]. Hughes dan Fattuhi melaporkan bahwa penambahan jumlah fiber akan menurunkan kekuatan tekan namun meningkatkan ketahanan flexural[11]. Tetapi ada penelitian yang melaporkan bahwa pada material komposit nylon FRC ketahanan tekan, kekuatan splitting tensile, dan modulus of rupture (MOR) meningkat seiring penambahan 6,3%, 6,7% dan 4,3% dari fiber PP[5]. Sebaliknya, beberapa peneliti telah menyampaikan bahwa fiber PP sangat bagus digunakan untuk meningkatkan ketahanan terhadap unsur alkali, dibanding dengan fiber polimer yang lainnya[3,12]. Pakraven dkk, menyampaikan hasil penelitiannya bahwa tidak ada perubahan kekuatan terhadap fiber PP setelah direndam didalam alkali selama 28 dan 56 hari. Hal tersebut menyakinkan bahwa pada lingkungan

alkali, concrete dengan fiber PP baik untuk digunakan[4]. Pakraven dkk, juga melaporkan bahwa dibandingkan dengan fiber lain (glass, PAN, dan high srtength nylon 66), fiber PP lebih memiliki sifat hidofobik, pembasahan yang kurang terhadap cement paste dan memiliki ikatan yang lebih bagus daripada yang lain[3].

Hasil Pengujian dan Diskusi


Penggunaan material PP sebagai fiber pada matriks concrete telah dijelaskan sebelumnya. Pengaruh panjang fiber dan diameter fiber yang digunakan, serta variabel fraksi volume terhadap propertis mekanik dan fisik FRC diteliti oleh Roohollah dkk[2]. Material yang digunakan pada penelitian tersebut adalah fiber PP yang diproduksi opeh PP fiber Production Company. Spesifikasi fiber dijelaskan pada Tabel 1. Semen portland IS 12269 digunakan sebagai campuran concrete. Pasir dengan spsific gravity 2.65 g/cm3 dan sprit dengan 2.64 g/cm3 digunakan sebagai campuran concrete. Pencampuran dilakukan dengan target kekuatan 40 MPa. Komposisi campuran akhirnyanya adalah 350 Kg/m3, semen 184 Kg/m3, air 0.40 berbanding persen semen dan 1,35% napthtalene-based superpasticizer. Total fiber PP dipertahanankan pada komposisi 0,1-0,3% (Tabel 2). Tabel 1. Propertis mekanik dan fisik dari fiber-fiber yang digunakan pada penelitian Roohollah dkk

Tabel 2. Komposisi campuran concrete pada penelitian Roohollah dkk.

Pengujian yang dilakukan untuk mengetahui propertis meknaik dan fisik dari material komposit yang telah dibuat tersebut adalah pengujian kekuatan tekan, flexural strength, uji tarik, uji permeabilitas air dan udara dan shrinkage cracking. Hasil dari pengujian tersebut ditampilkan pada Tabel 3. Hasil dari masing-masing pengujian merupakan nilai rata-rata dari tiga spesimen uji, dan untuk masing-masing uji, nilai yang didapat dianalisa secara statistik dengan bantuan software ANOVA.

Pada Tabel 3, dapat disimpulkan penggunaan fiber tidak memberi efek yang signifikan terhadap kekuatan tekannya pada hari ke-7 dan hari ke-28. Tetapi penggunaan fiber ini memberikan efek yang lebih efisien terhadap pembebanan setelah collapse[6]. Hasil uji flexural strength ditampilkan pada Tabel 3, menunjukkan hasil yang baik. Penambahan fraksi volume fiber dapat meningkatkan nilai flexural strength dari FRC. Spesimen dengan komposisi fiber yang tinggi(P3 dan P4) memberikan hasil yang maksimum. Hal tersebut dikarenakan kontribusi dari fiber yang lebih banyak selama pembebanan tarik sebelum sampel mengalami patahan. Selain itu, dari pengujian ini juga dapat disimpulkan penggunaan fiber PP fibrillated lebih baik daripada fiber PP monofilament. Hal tersebut dikarenakan, ketahanan terhadap slip yang lebih baik pada fiber PP fibrillated pada spesimen P4, mampu memberikan penguatan yang tinggi dan connectivity index pada saat ditekan dibanding monofilament yang mudah untuk mengalami slip. Tabel 3. Hasil dari pengujian propertis mekanik dan fisik dari spesimen

Gambar 1. Skematik pengujian split tensile strength.

Pada pengujian split tensile strength dari fiber PP dalam concrete (Tabel 3), memiliki nilai yang lebih tinggi daripada concrete tanpa fiber. Split tensile strength pada sampel P2 dan P3 meningkat 7,36% dan 15, 79% dibanding dengan unreinforcement concrete dalam perbandingan pada penelitian Song dkk[5]. Dapat disimpulkan jiga bahwa sampel dengan aspect ratio yang tinggi (P2) dan fraksi volume yang tinggi (P3) memiliki ketahanan terhadap slip yang lebih baik.

Gambar 2. Cross section dari fiber PP

Gambar 3. Slipping dari fiber PP monofilament setelah uji flexural strength. Ketangguhan adalah total energi yang diserap sebelum terjadinya patahan.Dapat disimpulkan, penggunaan fiber PP dalam concrete dapat meningkatkan ketangguhan secara signifikan sehingga lebar crack yang terbentuk dapat terkontrol akibat peningkatan ketangguhan.

Dengan penambahan fiber PP, durability parameter (permeabilitas air dan udara) pada concrete menunjukkan adanya peningkatan seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3. Hal tersebut jelas terlihat karena adanya penguarangan nilai dari water infusion dan permeabilitas udara. Durability yang lebih lama ditunjukkan pada fiber PP monofilament daripada concrete dengan fiber PP fibrillated.

Gambar 4. Tensile Load vs Deformasi dari concrete dan FRC

Efek dari fiber aspect ratio dan crack control


Dengan penambahan fiber PP pada matriks semen, penyusutan berkurang. Pengurangan tersebut sangat signifikan, terutama pada awal-awal pencetakan, seperti terlihat pada Gambar 5. Pada saat pembentukkan crack di FRC, fiber akan mencegah dengan menghalangi pembukaan crack berikutnya. Pada pengurangan penyusutan, fiber akan membawa tekanan melewati crack dan membawanya mengelilingi fiber sehingga energi seduah terserap untuk mengelilingi fiber dan jika energi tersebut melewati crack, maka tidak dapat menambah panjang crack karena energi yang kurang. Jika semakin banyak penambahan fiber, maka akan semakin banyak terbentuk crack dengan lebar yang kecil. Crack yang paling lebar dan jumlah crack terlihat pada tabel 4.

Gambar 5. Perubahan lebar crack (mm)

Tabel 4. Maksimum lebar crack dan jumlah crack per area dari masing-masing sampel

Salah satu hal yang penting dalam FRC adalah aspect ratio. Pada tabel 4, pada sampel P1 dan P2, dapat disimpulkan penambahan panjang fiber atau pengurangan lebar diameter crack fiber, akan mengurangi aspect ratio secara signifikan (Tabel 1). Hal tersebut dikarenakan, dengan penambahan aspect ratio pada concrete, maka akan meningkatkan specific area dari fiber, sehingga akan meningkatkan propertis mekanik fiber dalam concrete. Jika dibandingkan dengan sampel P3 dengan P1 dan P2, maka akan jelas terlihat, peningkatan fraksi volume dari fiber akan mengurangi lebar crack yang terbentuk. dan terakhir, fiber monofilament lebih efektif digunakan untuk mengontrol shrinkage crack daripada fiber fibrillated.

Kesimpulan
1. Penambahan fiber PP dengan fraksi yang rendah (0,1-0,3%) sangat membantu untuk meningkatkan mikrostruktur, ketahanan dari pembentukkan dan perambatan microcrack di dalam concrete. Fiber dengan aspek ratio yang besar dapat memberi kontrol yang lebih baik terhadap lebar crack. Aspect ratio yang baik adalah 86.36 dengan diameter dan panjang fiber adalah 22m dan 19mm. Maksimum lebar crack dalam FRC dapat diprediksi dengan menggunakan metode fiber parameter (permeabilitas air dan udara)

2. 3. 4.

Referensi
1. Bagherzadeh, Roohollah., Sadeghi, Abdol-Hossein., Latifi, Massoud. Utilizing polypropylene fibers to improve Physical and mechanical properties of concrete. Textile Research Journal 82 (1) 8896. 2011. 2. ACI-Committee-544. State-of-the-art report on fiber reinforced concrete. Michigan : Farmington Hills, 1996. 3. Brandt AM. Cement-based composites : Materials ,mechanical properties and performance. Taylor & Francis: Abingdon, 2009. 4. Pakravan HR, Jamshidi Mand Latifi M. Performance of fibers embedded in a cementitious matrix . Jappl PolymSci 2010; 116: 12471253. 5. Song PS, Hwang Sand Sheu BC .Strength properties of nylon and polypropylene-fiber-reinforced concretes. Cement Concrete Res 2005 ;35: 15461550. 6. Brown R, Shukla Aand Natarajan KR. Fiber reinforcement of concrete structures Kingston : University of Rhode Island Transportation Center,2002. 7. Alhozaimy AM, Soroushian Pand Mirza F . Mechanical properties of polypropylene fiber reinforced concrete and the effects of pozzolanic materials. Cement Concrete Composites 1996; 18 : 8592. 8. Kim DJ, Naaman AE and El-Tawi lS. Comparative flexural behavior off our fiber reinforced cementitious composites. Cement Concrete Composites 2008; 30:917928. 9. Mindess Sand Vondran G. Properties of concrete reinforced with fibrillated polypropylene fibres unde rimpact loading. Cement Concrete Res 1988;18:109115. 10. Qian CX and Stroeven P. Development of hybrid polypropylene steel fibre-reinforced concrete.Cement Concrete Res 2000;30:6369. 11. Akkaya Y,Ouyang Cand Shah SP. Effect of supplementary cementitious materials on shrinkage and crack deveopment in concrete. Cement Concrete Composites 2007;29:117123. 12. Balaguru Pand Slattum K. Test methods for durability of polymeric fibers in concrete and UV light exposure. Am Concrete Inst, Special Publication 1995;155:115136.