Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN

Partus lama masih merupakan suatu masalah di Indonesia, karena seperti kita ketahui, bahwa 80% dari persalinan masih ditolong oleh dukun. Dan baru sedikit sekali dari dukun beranak ini yang telah ditatar sekedar mendapat kursus dukun. Karenanya kasus-kasus partus kasep masih banyak dijumpai, dan keadaan ini memaksa kita untuk berusaha menurunkan angka kematian ibu maupun anak. Yang sangat ideal tentunya bagaimana mencegah terjadinya partus kasep. Bila persalinan berlangsung lama, dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi baik terhadap ibu maupun terhadap anak, dan dapat meningkatkan angka kematian ibu dan anak. Pada hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 20022003 dilaporkan dari seluruh persalinan, 64% ibu tidak mengalami komplikasi selama persalinan, persalinan lama sebesar 31%, perdarahan berlebihan sebesar 7%, infeksi sebesar 5%. Pada ibu yang melahirkan melalui bedah sesarea lebih cenderung melaporkan komplikasi 59%, yang sebagian besar merupakan persalinan lama (42%). Untuk bayi yang meninggal dalam satu bulan setelah dilahirkan, 39% ibu melaporkan karena komplikasi termasuk persalinan lama (30%), perdarahan berlebihan 12% dan infeksi (10%). Pada umumnya persalinan yang mengalami kesulitan untuk berjalan spontan normal seperti partus lama, distosia atau komplikasi lain disebabkan oleh banyak faktor yang kompleks, misalnya ketidaktahuan akan bahaya persalinan, keterampilan yang kurang, sarana yang tidak memadai, masih tebalnya kepercayaan pada dukun serta rendahnya pendidikan dan rendahnya keadaan sosial ekonomi rakyat.

BAB II REKAM MEDIK


2.1 Identifikasi Nama Umur Jenis Kelamin Alamat : Ny. N : 38 tahun : Perempuan : Jln. Ratu Sianom no 60 rt 20 rw 11 Kel. 3 Ilir Kec. Ilir Timur 2 Agama Pendidikan Pekerjaan MRS : Islam : SLTA : Ibu rumah tangga : 21 Maret 2012

2.1 Anamnesis Keluhan utama: Mau melahirkan dengan anak tak lahir-lahir Riwayat Perjalanan Penyakit: 18 jam SMRS os mengeluh perut mules-mules yang menjalar ke pinggang, hilang timbul, makin lama makin kuat makin sering. Riwayat keluar darah dan lendir (+), riwayat keluar air-air (-). 8 jam SMRS os ke bidan dan dikatakan sudah lengkap, kemudian ketuban dipecahkan, os lalu dipimpin mengedan. 7,5jam SMRS anak tidak lahir-lahir. Os kemudian dirujuk ke RSMH. Os mengaku hamil cukup bulan

Riwayat perkawinan Riwayat gizi Riwayat sosek

: 1 kali lamanya 17 tahun : sedang : sedang

Riwayat kehamilan sekarang :

Menarche Siklus Lamanya Banyaknya HPHT TP Lama hamil Gerakan anak dirasakan Periksa hamil Riwayat persalinan : Dikirim oleh His mulai sejak tanggal Darah lendir sejak tanggal

: 13 tahun : 28 hari, teratur : 9 hari : Biasa : pasien lupa :: 38 minggu : 5 bulan yang lalu : Bidan lebih dari 3 kali

: Bidan : 20 Maret 2012 pukul 07.00 WIB : 20 Maret 2012 pukul 07.00 WIB

Rasa mengedan sejak tanggal : 20 Maret 2012 pukul 17.30 WIB Ketubah pecah sejak tanggal : 20 Maret 2012 pukul 17.30 WIB Riwayat Penyakit yang pernah diderita Riwayat Operasi Riwayat Obstetri Pemeriksaan Fisik Status Present : - Keadaan umum - Kesadaran - BB/TB - TD - Nadi - RR - Suhu - Konjungtiva - Sklera : sakit sedang : compos mentis : 64 kg/154 cm : 130/90 mmHg : 120 x/menit : 24 x/menit : 38,3C : pucat -/: ikterik -/3

: (-) : (-) : G5P4A0

- Cor - Pulmo

: gallop (-), murmur (-) : bising nafas vesikuler (+) N, ronkhi (-), wheezing (-)

- Payudara - Hepar/lien - Edema pretibial - Varises - Refleks - Turgor kulit - Mata cekung - Bibir kering - Meteorismus - Vulva edema - Lain-lain

: hiperpigmentasi +/+ : sulit dinilai : -/: -/: fisiologis +/+, patologis -/: menurun : (+) : (+) : (+) : (+) : dehidrasi (+)

2.3 Status Obstetri: Pemeriksaan Luar (21 Maret 2012 pukul 01.00 WIB) Leopold I : tinggi fundus uteri 34 cm (3 jbps) Leopold II : letak punggung kanan Leopold III : bagian terbawah janin kepala Leopold IV : kepala sudah masuk PAP 2/5 bagian His 2x/10/35, TBJ: 3410 gram, DJJ 186x/menit teratur, edema vulva (+). Pemeriksaan dalam Portio Posisi Pendataran Pembukaan Ketuban Penurunan : tidak teraba : tidak teraba : 100% : 10 cm : (-) : Hodge III
4

Terbawah Penunjuk Caput Vaginal toucher

: Kepala : sulit dinilai : 7x7cm

Portio tidak teraba, pembukaan 10 cm, pendataran 100%, ketuban (-) 8 jam, hijau kental, bau (+), terbawah kepala, caput 7 x 7 cm, penurunan H III, penunjuk sulit dinilai. Pemeriksaan Panggul Promontorium sulit dinilai, KD sulit dinilai, KV sulit dinilai, linea innominata sulit dinilai, sakrum sulit dinilai, spina iskiadika sulit dinilai, arkus pubis >900.

2.4 Pemeriksaan Laboratorium Darah rutin: - Hb - Ht - LED : 11,1 g% : 28 vol% : 20 mm/jam Trombosit Hitung jenis Leukosit : 274.000 /mm3 : 0/1/0/87/6/6 : 22.500 /mm3

Urin rutin Warna Kejernihan pH Berat jenis Glukosa Protein Bilirubin : kuning : agak keruh : 6,0 : 1,030 : (-) : (-) : (-)

Urobilinogen : (-) Darah Nitrit Keton : (++) : (-) : (-)


5

Sedimen Sel epitel Leukosit Eritrosit Silinder Kristal :(+) : 0-3/LPB : 30-40/LPB : (-) : (-)

2.5 Diagnosis: G5P4A0 hamil aterm inpartu kala II dengan partus kasep, janin tunggal hidup presentasi kepala.

2.6 Penatalaksanaan 1. Rencana Terminasi per abdominam 2. Observasi TVI, His, DJJ 3. Perbaikan KU 1 jam dengan D5% (kocor 1 liter), dilanjutkan dengan D5% : RL = 2:1 gtt xxx/menit 4. Kateter menetap selama 7 hari 5. Lateroposisi + O2 5 liter/menit 6. Injeksi antibiotik Gentamisin 2x8 mg iv 7. Infus Metronidazol 2x500 mg 8. Injeksi Dexamethason 2 ampul iv 9. Persiapan operasi (izin, alat, obat, dan darah)

2.7 Prognosis: Ibu : Dubia ad bonam

Janin : Dubia ad bonam

2.8 LAPORAN OPERASI Tanggal 21 Maret 2012 Pukul 03.10 WIB. Operasi dimulai. Penderita dalam posisi terlentang dengan anestesi spinal. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya. Lapangan operasi dipersempit dengan doek steril. Dilakukan insisi mediana mulai 2 jari atas simfisis sampai 2 jari bawah pusat, kemudian insisi diperdalam secara tajam dan tumpul sampai menembus peritoneum. Setelah peritoneum dibuka, tampak uterus sebesar kehamilan aterm, diputuskan untuk melakukan SSTP dengan cara sbb: Insisi pada SBR 3 cm secara tajam kemudian bagian tengah ditembus secara tumpul dengan jari sampai menembus kavum uteri dan diperlebar ke lateral, didapatkan ketuban minimal, hijau, kental, bau (+). Kepala bayi menghadap operator Anak dilahirkan dengan cara meluksir kepala.

Pukul 03.20 WIB. Lahir hidup neonatus laki-laki dengan BB 3500 gram, PB 50 cm, AS 2/3/7 FT AGA. Dengan caput ukuran 7 x 7 cm di belakang kepala. Ke dalam cairan infus dimasukkan oksitosin 20 IU. Plasenta dilahirkan dengan tarikan ringan pada tali pusat terkendali. Pukul 03.23 WIB. Plasenta lahir lengkap dengan BP 500 gram, PTP : 50 cm, ukuran 18x19 cm. Dilakukan pembersihan kavum uteri dengan kassa, dilanjutkan penjahitan pada uterus sebagai berikut : Dilakukan penjahitan SBR selapis secara jelujur dengan benang Vycril 1.0 Dilakukan retroperitonealisasi dengan plain catgut 2.0 Dilakukan tubektomi pomeroy pada kedua tuba Perdarahan dirawat sebagaimana mestinya. Setelah diyakini tak ada perdarahan dilanjutkan pencucian kavum abdomen dengan NaCl 0,9 %.

Dilakukan penutupan dinding abdomen lapis demi lapis dengan cara sebagai berikut : Peritoneum dijahit secara jelujur dengan plain catgut no. 2. 0 Lapisan otot dijahit secara jelujur dengan plain catgut no. 2. 0 Fascia dijahit secara jelujur feston dengan Vicryl no. 1 Subkutis dijahit secara satu-satu dengan plain catgut no. 2. 0 Kutis dijahit secara jelujur subkutikuler dengan vicryl no. 3.0

Luka operasi ditutup dengan sofratulle dan hypafix

Pukul 04.15 WIB. Operasi selesai Cairan Masuk RL Haemacell Total 1000 cc 1000 cc Cairan Keluar Urine Darah Total 300 cc 400 cc 700 cc

Diagnosis prabedah

: G5P4A0 hamil aterm inpartu kala II dengan partus kasep, janin tunggal hidup presentasi kepala

Diagnosis pasca bedah : Malposisi Tindakan : Seksio Sesaria Transperitonealis Profunda + Tubektomi Pomeroy 2.9 FOLLOW UP 21-03-2012 pukul 05.00 Keluhan : selesai operasi melahirkan

Status present : KU TD RR Nadi T : sedang, sens: CM : 110/80 mmHg : 24x/menit : 80x/ menit : 36.5C

Status obstetrik : PL : abdomen cembung, lemas, tinggi fundus uteri 2 jari di bawah pusat, kontraksi baik, perdarahan (-), luka operasi ditutup hipafix. Kesan : P5A0 post SSTP a/i partus kasep Rencana: 1. Evaluasi tanda-tanda vital ibu 2. IVFD D5% gtt xx/m 3. Cek Hb post operasi 4. Kateter menetap catat intake dan output 5. Mobilisasi bertahap 6. Diet bertahap 7. Terapi Medikamentosa: a. Cefotaxim 1 gr 2x1 i.v b. Alinamin 3x1 amp i.v c. Transamin 3x1 amp i.v d. Tramadol 3x1 amp i.v e. Vitamin C 3x1 amp i.v f. Vitamin B kompleks 2x2 amp i.v g. Chromalux 2x1 tab Hasil laboratorium : Hb 9,8 g/dl

22-03-2012 (06.30) Keluhan : (-)

Status present : KU TD RR N T : sedang, sens: CM : 110/80 mmHg : 22 x/menit : 80 x/menit : 36,70 C


9

Status obstetrik PL

: abdomen cembung, lemas, fundus uteri 4 jari di bawah pusat, kontraksi baik, perdarahan aktif (-), vulva edema, luka operasi tertutup hipafix

Kesan : P5A0 post SSTP a/i partus kasep Rencana : 1. Observasi tanda vital ibu 2. Mobilisasi bertahap 3. Kateter menetap 4. IVFD D5% : RL + 20 IU induxin = 2:1 gtt xx/ menit 5. Terapi Medikamentosa: a. Ceftriaxon 2x1 gr i.v b. Metronidazol 2x500 mg i.v drip c. Gentamycin 2x80 mg i.v d. Alinamin 3x1 amp i.v e. Tramadol 3x1 amp i.v f. Transamin 3x1 amp i.v g. Vit C 3x1 amp IV h. Vit B comp 2x2 ml IM i. Chromalux 2x1 tab 6. Kompres NaCl pada vulva Hasil Laboratotium : Hb = 10,1 g/dl 23-03-2012 (06.30) Keluhan : (-)

Status present : KU TD RR N T : sedang, sens: CM : 110/80 mmHg : 22 x/menit : 82 x/menit : 36,80 C


10

Status obstetrik PL

: abdomen cembung, lemas, fundus uteri 4 jari di bawah pusat, kontraksi baik, pendarahan aktif (-), vulva edema, luka operasi tertutup hipafix

Kesan : P5A0 post SSTP a/i partus kasep Rencana : 1. Observasi tanda vital ibu 2. Kateter menetap 3. Terapi Medikamentosa: a. Cefadroxyl 2x500 b. Asam mefenamat 3x500 mg c. Metronidazol 3x500 mg d. Vit B comp 3x1 tab 4. Kompres NaCl pada vulva

24-03-2012 (06.30) Keluhan : (-)

Status present : KU TD RR N T : sedang, sens: CM : 110/80 mmHg : 22 x/menit : 88 x/menit : 36,90 C

Status obstetrik: PL : abdomen cembung, lemas, fundus uteri 4 jari di bawah pusat, kontraksi baik, pendarahan aktif (-), vulva edema, luka operasi tertutup hipafix Kesan : P5A0 post SSTP a/i partus kasep Rencana : 1. Observasi tanda vital ibu 2. Kateter menetap
11

3. Terapi Medikamentosa: a. Cefadroxyl 2x500 b. Asam mefenamat 3x500 mg c. Metronidazol 3x500 mg d. Vit B comp 3x1 tab 4. Kompres NaCl pada vulva

12

BAB III TINJAUAN PUSTAKA


3.1. Definisi Partus Kasep Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primi, dan lebih dari 18 jam pada multi. Sedangkan partus kasep adalah merupakan fase terakhir dari suatu partus yang macet dan berlangsung terlalu lama sehingga timbul komplikasi pada ibu dan atau janin, seperti dehidrasi, infeksi, kelelahan ibu, serta asfiksia dan Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK). Harus pula kita bedakan dengan partus tak maju, yaitu suatu persalinan dengan his yang adekuat yang tidak menunjukkan kemajuan pada pembukaan serviks, turunnya kepala, dan putar paksi selama 2 jam terakhir. Persalinan pada primitua biasanya lebih lama. Pendapat umum ada yang mengatakan bahwa persalinan banyak terjadi pada malam hari, ini disebabkan kenyataan bahwa biasanya persalinan berlangsung selama 12 jam atau lebih, jadi permulaan dan berakhirnya partus biasanya malam hari. Insiden partus lama menurut penelitian adalah 2,8-4,9%.3,7

3.2. Etiologi Ada beberapa faktor yang berperan dalam persalinan yaitu :2,4,,5,8 1. Tenaga atau Kekuatan (power) : his (kontraksi uterus), kontraksi otot dinding perut, kontraksi diafragma pelvis, ketegangan, kontraksi ligamentum rotundum, efektivitas kekuatan mendorong dan lama persalinan. His yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya menyebabkan rintangan pada jalan lahir yang lazim terdapat pada setiap persalinan, tidak dapat diatasi, sehingga persalinan mengalami hambatan atau kemacetan. Jenis-jenis kelainan his: a. Inersia uteri adalah his yang sifatnya lebih lemah, lebih singkat dan lebih jarang dibandingkan dengan his yang normal. Selama ketubannya masih utuh umumnya tidak banyak bahaya, baik bagi ibu maupun janin, kecuali jika persalinan berlangsung terlalu lama. Keadaan ini dinamakan inersia Uteri

13

Primer. Inersia Uteri Sekunder: kelemahan his yang timbul setelah adanya his yang kuat teratur dan dalam waktu yang lama. b. His terlampau kuat. Sifat his normal, tonus otot diluar his juga biasa, kelainannya terletak pada kekuatan his. His yang terlalu kuat dan terlalu efisien menyebabkan persalinan selesai dalam waktu yang sangat singkat. c. Incoordinate uterine contraction. Disini sifat his berubah, tonus otot uterus meningkat juga diluar his dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi antara kontraksi bagian-bagiannya. His menjadi tidak efisien dalam mengadakan pembukaan. 2. Janin (passanger) : letak janin, posisi janin, presentasi janin dan bentuk janin. a. Kelainan letak, posisi atau presentasi janin Posisi Oksipitalis Posterior Persisten Presentasi Puncak Kepala Presentasi Muka Presentasi Dahi Letak Sungsang Letak Lintang Presentasi Ganda

b. Kelainan bentuk janin - Pertumbuhan janin yang berlebihan - Hidrosefalus - Kelainan bentuk janin yang lain: janin kembar melekat (double monster), janin dengan perut besar, tumor-tumor lain pada janin. 3. Jalan Lintas (passage) : ukuran dan tipe panggul, kemampuan serviks untuk membuka, kemampuan kanalis vaginalis dan introitus vagina untuk memanjang. Panggul menurut morfologinya dibagi 4 yaitu : a. Panggul ginekoid. Jenis panggul yang paling banyak pada wanita normal, mempunyai diameter terbaik untuk lahirnya janin tanpa komplikasi. Pintu atas

14

panggul berbentuk hamper bulat. Bentuk panggul ini ditemukan pada 45% wanita. b. Panggul anthropoid. Panggul yang memiliki bentuk agak lonjong seperti telur, pada bidang pintu atas panggul dengan diameter terpanjang anteroposterior. Arkus pubis sempit dan lebarnya kurang dari 2 jari, sehingga menyebabkan penyempitan pintu bawah panggul. Bentuk panggul ini ditemukan pada 35% wanita. c. Panggul android. Panggul mirip laki-laki, mempunyai reputasi jelek dan lebih jarang dijumpai dibanding bentuk ginekoid. Panjang diameter anteroposterior hampir sama dengan diameter transversa, akan tetapi yang terakhir ini jauh lebih mendekati sacrum. Spina iskiadika menonjol ke dalam jalan lahir dan pintu bawah panggul menunjukan suatu arkus pubis yang menyempit. Bentuk panggul ini ditemukan pada 15% wanita. d. Panggul platipelloid. Panggul berbentuk datar dengan tulang-tulang yang lembut, jenis panggul ini paling jarang dijumpai dan jumlahnya kurang dari 5% ditemukan pada wanita. Pintu atas panggul lebih jelas terlihat dimana menunjukan pemendekan dari diameter antero-posterior, sebaliknya diameter transversal lebar. Saluran (kanal) pelvis yang menjadi jalan janin selama persalinan terdiri dari pintu atas panggul, rongga panggul, dan pintu bawah panggul.5,8 a. Pintu atas panggul atau inlet. Ada 2 diameter terpenting pada pintu atas panggul yaitu : a. Diameter antero-posterior dari promontorium sakrum ke pinggir atas simfisis pubis, disebut konjugata vera, ukuran normalnya adalah 11-12 cm. b. Diameter transversal adalah bagian terlebar dari pintu atas panggul dengan ukuran 13 cm. Pintu atas panggul dianggap sempit apabila conjugata vera kurang dari 10 cm atau diameter transversa kurang dari 12 cm. Oleh karena pada panggul sempit kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh pintu atas panggul,
15

maka dalam hal ini Serviks uteri kurang mengalami tekanan kepala. Apabila pada panggul sempit pintu atas panggul tidak tertutup dengan sempurna oleh kepala janin, ketuban bisa pecah pada pembukaan kecil dan ada bahaya pula terjadinya prolapsus funikuli. b. Rongga panggul di bawah pintu atas panggul mempunyai ukuran yang paling luas. Di panggul tengah terdapat penyempitan setinggi kedua spina iskiadika. Distansia interspinarum normal }10,5 cm. Perhatikan pula bentuk os sakrum, apakah kelengkungkunganya baik. c. Pintu bawah panggul atau outlet. Arkus pubis pada pelvis normal membentuk sudut 90. Bila kurang sekali dari 90 maka kepala janin akan lebiih sulit dilahirkan karena memerlukan tempat lebih banyak ke dorsal. Kelainan traktus genitalis juga dapat menyebabkan terjadinya distosia. a. Vulva : edema, stenosis dan tumor b. Vagina : stenosis vagina kongenital, septum vagina, tumor vagina c. Serviks uteri : dysfunctional uterine action (parut serviks uteri), konglutinasio orifisii eksterni, karsinoma servisis uteri d. Uterus : mioma uteri e. Ovarium : tumor ovarium 4. Kejiwaan (psyche) Persiapan fisik untuk melahirkan, pengalaman persalinan, dukungan orang terdekat dan intregitas emosional. Selain karena kejiwaan bisa juga dipengaruhi oleh faktor penolong (provider) : pimpinan yang salah. Dalam proses persalinan, selain faktor ibu dan janin, penolong persalinan juga mempunyai peran yang sangat penting. Penolong persalinan bertindak dalam memimpin proses terjadinya kontraksi uterus dan mengejan hingga bayi dilahirkan. Selanjutnya melakukan perawatan terhadap ibu dan bayi. Oleh karena itu, penolong persalinan seharusnya seorang tenaga kesehatan yang terlatih dan terampil serta mengetahui dengan pasti tanda-tanda bahaya pada ibu yang

16

melahirkan, sehingga bila ada komplikasi selama persalinan, penolong segera dapat melakukan rujukan. Hasil penelitian Irsal dan Hasibuan di Yogyakarta menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh dan secara statistik bermakna terhadap kejadian kala II lama adalah penolong persalinan bukan dokter, sehingga selanjutnya perlu persalinan tindakan di RS. Demikian pula hasil penelitan Rusydi di RSUP Palembang, menemukan bahwa partus kasep yang akhirnya dilakukan tindakan operasi, merupakan kasus rujukan yang sebelumnya ditolong oleh bidan dan dukun di luar rumah sakit. Sebab-sebab terjadinya partus kasep ini adalah multikomplek dan tentu saja bergantung pada pengawasan selagi hamil, pertolongan persalinan yang baik, dan penatalaksanaannya. Faktor-faktor penyebab adalah antara lain:3 1. kelainan letak janin 2. kelainan-kelainan panggul 3. kelainan his 4. pimpinan partus yang salah 5. janin besar atau ada kelainan kongenital 6. primitua 7. perut gantung, grandemulti 8. ketuban pecah dini 3.3. Gejala klinik 3,6,7 1. Pada ibu Gelisah, letih, suhu badan meningkat, berkeringat, nadi cepat dan lemah, pernapasan cepat dan meteorismus, cincin retraksi patologis, edema vulva, edema serviks, his hilang atau lemah. Cincin retraksi patologis Bandl sering timbul akibat persalinan yang terhambat, disertai peregangan dan penipisan berlebihan segmen bawah uterus, dan menandakan ancaman akan rupturnya segmen bawah uterus.
17

Pada partus kasep dapat juga muncul tanda-tanda ruptur uteri: perdarahan dari OUE, his menghilang, bagian janin mudah teraba dari luar, pemeriksaan dalam: bagian terendah janin mudah didorong ke atas, robekan dapat meluas sampai serviks dan vagina. 2. Pada janin a. Denyut jantung janin cepat/hebat/tidak teratur bahkan negatif, air ketuban terdapat mekonium, kental kehijau-hijauan, berbau. b. Kaput suksedaneum yang besar. Kaput ini dapat berukuran cukup besar dan menyebabkan kesalahan diagnostik yang serius. Biasanya kaput suksedaneum, bahkan yang besar sekalipun, akan menghilang dalam beberapa hari. c. Moulage kepala yang hebat, akibat tekanan his yang kuat, lempenglempeng tulang tengkorak saling bertumpang tindih satu sama lain. d. Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) e. Kematian Janin Intra Parital (KJIP)

3.4 Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan:7 1. Adanya tanda dan gejala klinis partus lama: a. Ibu kelelahan dan dehidrasi a. Vulva edema b.Perut kembung c. Demam d.Kaput suksedaneum e. RUI 2. Adanya komplikasi pada ibu: a. Gangguan keseimbangan asam basa/elektrolit, asidosis b. Infeksi intrauterin sampai sepsis c. Dehidrasi sampai syok

18

d. Robekan jalan lahir sampai robekan rahim (ruptur uteri) 3. Adanya komplikasi pada janin: a. Gawat janin b. Kematian janin 3.5 Penatalaksanaan7 Memperbaiki keadaan umum ibu bertujuan untuk: 1. Koreksi cairan (rehidrasi) 2. Koreksi keseimbangan asam basa 3. Koreksi keseimbangan elektrolit 4. Pemberian kalori 5. Pemberantasan infeksi 6. Penurun panas Tindakan yang diberikan: 1. Pasang infus dan kateter urin 2. Pemberian cairan, kalori dan elektrolit a. Infus Ringer laktat, kalori dan elektrolit b. Infus dekstrosa 5% 250cc, tetesan cepat. Cairan dapat diberikan menurut kebutuhan. 3. Koreksi asam basa dengan pengukuran karbondioksida darah dan pH (bila perlu) 4. Pemberian antibiotika spektrum luas secara parenteral. a. Inj. Ampicillin 1gr/6jam, Inj. Gentamycin 80mg/12jam, metronidazole selama 3 hari, dilanjutkan amoksisilin 3x500mg/hari selama 2 hari. b. Inj. Cefotaxime 1gr/hr, selama 3 hari, dilanjutkan amoksisilin 3x500mg/hari selama 3 hari. 5. Penurun panas a. Kompres b. Inj. Xylomidone 2cc IM

19

6. Terminasi persalinan: a. Bila syarat persalinan per vaginam memenuhi dilakukan ekstraksi

vakum/ekstraksi forseps atau embriotomi b. Bila syarat persalinan per vaginam tidak terpenuhi maka dilakukan SC 3.6. Komplikasi 4,6 1. Ibu a. Infeksi sampai sepsis. Infeksi adalah bahaya serius yang mengancam ibu dan janinnya pada partus lama, terutama bila disertai pecahnya ketuban. Bakteri di dalam cairan amnion menembus amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh korion sehingga terjadi bakteremia dan sepsis pada ibu dan janin. b. Dehidrasi, syok, kegagalan fungsi organ-organ c. Robekan jalan lahir d. Ruptur uteri. Penipisan abnormal segmen bawah uterus menimbulkan bahaya serius selama partus lama, terutama pada wanita dengan paritas tinggi dan pada mereka dengan riwayat seksio sesarea. e. Robekan serta pembentukan fistula pada buli-buli, vagina, uterus dan rektum. Apabila bagian terbawah janin menekan kuat ke pintu atas panggul tetapi tidak maju untuk jangka waktu yang cukup lama, bagian jalan lahir yang terletak di antaranya dan dinding panggul dapat mengalami tekanan berlebihan. Karena gangguan sirkulasi, maka dapat terjadi nekrosis yang akan jelas dalam beberapa hari setelah melahirkan dengan munculnya fistula vesikovaginal, vesikoservikal, atau rektovaginal. Umumnya nekrosis akibat penekanan ini terjadi setelah persalinan kala dua yang sangat berkepanjangan. 2. Anak a. Gawat janin dalam rahim sampai meninggal b. Lahir dalam asfiksia berat sehingga menimbulkan cacat otak menetap c. Trauma persalinan

20

d. Patah tulang dada, lengan, kaki, kepala karena pertolongan persalinan dengan tindakan. 3. Infeksi Intrauterin Kriteria Gibbs: Temperatur > 37,6oC, disertai 2 atau lebih tanda-tanda berikut : a. Takikardi maternal (denyut jantung > 100x/menit) b. Takikardi fetal (denyut jantung > 160x/menit) c. Uterine tenderness d. Cairan ketuban keruh dan berbau e. Leukositosis maternal yang ditandai dengan leukosit > 15.000/mm3

3.7. Prognosis Dubia

21

BAB IV ANALISIS KASUS


Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan bahwa diagnosis kasus ini adalah G5P4A0 hamil aterm inpartu kala II dengan partus kasep, janin tunggal hidup presentasi kepala. Suatu kehamilan dikatakan aterm jika kehamilan tersebut berusia 37-42 minggu.1 Untuk mengetahui usia kehamilan dapat dilakukan dengan mengukur tinggi fundus uteri, menggunakan rumus Naegle melalui hari pertama haid terakhir (HPHT), rumus McDonald (tinggi fundus uteri dikalikan 8 dan dibagikan 7 memberikan umur kehamilan dalam minggu), Quickening of life (persepsi gerakan janin pertama) dan pemeriksaan USG. Usia kehamilan penderita pada kasus ini ditentukan berdasarkan anamnesis yaitu penderita mengaku hamil cukup bulan dan pengukuran tinggi fundus uteri yang diketahui 3 jari bawah processus xiphoideus (34cm), menandakan bahwa kehamilan aterm.4,5 Inpartu adalah seorang wanita yang sedang dalam keadaan persalinan. Inpartu ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah (bloody show), serviks mulai membuka (dilatasi) dan mendatar (effacement) serta his yang mulai teratur. Lendir yang bersemu darah ini berasal dari lendir kanalis servikalis karena serviks mulai membuka atau mendatar, sedangkan darahnya berasal dari pembuluh-pembuluh kapiler yang berada di sekitar kanalis servikalis itu pecah karena pergeseranpergeseran ketika serviks membuka.3 Partus dibagi menjadi 4 kala yaitu kala I, kala II, kala III dan kala IV. Kala I atau kala pembukaan yaitu terjadinya pembukaan serviks sampai 10 cm. Kala II disebut juga kala pengeluaran karena berkat kekuatan his dan kekuatan mengedan janin didorong ke luar sampai lahir. Kala III atau kala uri adalah terlepasnya plasenta dari dinding uterus dan dilahirkan. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta dan lamanya 1 jam.1,3

22

Proses membukanya serviks sebagai akibat his dibagi dalam 2 fase yaitu fase laten dan fase aktif. Fase laten berlangsung selama 6 jam dan pembukaan terjadi sangat lambat sampai mencapai ukuran diameter 3 cm. Fase aktif dibagi menjadi 3 fase yaitu fase akselerasi, fase dilatasi maksimal dan fase deselerasi. Pada fase akselerasi terjadi pembukaan 3 cm menjadi 4 cm dalam waktu 2 jam. Pada fase dilatasi maksimal terjadi pembukaan yang sangat cepat yaitu dari 4 cm menjadi 9 cm dalam waktu 2 jam. Pada fase deselerasi pembukaan menjadi lambat kembali yaitu dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap.3 Pada kasus ini, penderita sudah inpartu karena sudah terdapat tanda-tanda inpartu yaitu keluarnya darah lendir, pembukaan dan pendataran serviks. Kala II karena pada pemeriksaan dalam pembukaan sudah lengkap dan pasien telah dipimpin mengedan sebelumnya oleh bidan Mekanisme pembukaan serviks berbeda antara primigravida dan multigravida. Pada primigravida ostium uteri internum (OUI) akan membuka lebih dahulu sehingga serviks akan mendatar dan menipis, kemudian ostium uteri eksternum (OUE) membuka. Pada multigravida OUI sudah sedikit terbuka, OUI dan OUE mengalami penipisan dan pendataran serviks dalam saat yang sama. Kala I selesai apabila pembukaan serviks uteri telah lengkap. Pada primigravida, kala I berlangsung 13-14 jam sedangkan pada multipara berlangsung 6-7 jam.3 Partus kasep adalah suatu keadaan dari fase akhir persalinan yang tidak mengalami kemajuan (kemacetan) dan berlangsung lama sehingga timbul komplikasi ibu maupun janin atau keduanya.6 Diagnosis partus kasep pada kasus ini sudah tepat karena persalinan sudah berlangsung lama dan tidak mengalami kemajuan (macet). Berdasarkan anamnesis dapat diketahui bahwa penderita sudah dipimpin mengedan oleh bidan sejak + 8 jam SMRS, tetapi anak tidak lahir-lahir. Os kemudian dirujuk ke RSMH. Berdasarkan teori, seharusnya pimpinan persalinan dilakukan pada kala II yaitu pembukaan sudah lengkap (10 cm) dan tidak boleh lebih dari 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada multigravida.6
23

Pemeriksaan fisik juga mendukung diagnosis kasus ini. Pada ibu didapatkan tanda-tanda komplikasi akibat persalinan yang tidak mengalami kemajuan yaitu kelelahan, dehidrasi dan infeksi. Tanda-tanda dehidrasi juga ditemukan pada ibu yaitu mata yang cekung dan turgor yang kurang. Tanda-tanda infeksi yaitu suhu tubuh ibu adalah 38,3 oC, dari pemeriksaan dalam didapatkan ketuban sudah pecah, kehijauan, kental dan berbau. Ditemukan adanya kaput ukuran 7x7 cm dan DJJ 186x /menit menandakan adanya komplikasi pada janin. Jadi secara definisi diagnosis kasus ini sudah tepat karena dari anamnesis diketahui bahwa persalinan sudah dipimpin selama + 8 jam tetapi anak tidak lahirlahir, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan dalam juga didapatkan tanda-tanda komplikasi pada ibu dan janin. Penyebab partus kasep multikompleks yang berhubungan dengan pengawasan pada waktu hamil dan penatalaksanaan pertolongan persalinan. Ada beberapa faktor penyebab partus kasep yaitu faktor ibu (ibu tidak mampu mengejan dengan baik), faktor kekuatan (his), faktor janin (janin besar atau malpresentasi), faktor panggul dan pertolongan yang salah (salah pimpin, manipulasi kristeler dan pemberian uterotonik tidak pada tempatnya).6 Pada pasien ini kemungkinan penyebab tejadinya partus kasep antara lain faktor ibu yang tak dapat mengejan dengan baik, selain itu dalam hal ini penderita dipimpin mengejan selama kurang lebih 8 jam pada kala II, seharusnya pimpinan persalinan dilakukan pada kala II tidak lebih dari 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada multigravida. Penatalaksanaan pada kasus ini adalah perbaikan keadaan umum, resusitasi intra uterin, pemberian antibiotik dan rencana terminasi persalinan perabdominam. Untuk memperbaiki keadaan umum, dilakukan rehidrasi yaitu pemberian cairan dalam waktu 1-2 jam dengan pemasangan infus D5% (kocor 1 liter) dan lanjutkan RL:D5% 1:2 gtt xxx/menit. IVFD D5% diberikan untuk mengatasi hipoglikemi akibat kekurangan kalori karena lama mengedan serta mengatasi dehidrasi. Pemasangan kateter menetap dimaksudkan untuk mengetahui (kontrol) keseimbangan cairan. Kemudian observasi tanda vital ibu.
24

Tujuan pemberian antibiotik pada kasus ini adalah untuk mencegah infeksi lebih lanjut (profilaksis). Antibiotik yang diberikan adalah gentamicin 2x8mg dan metronidazol 2x500mg secara intravena. Tujuan pemberian injeksi dexametason 2 ampul adalah untuk memperbaiki hemodinamik dengan cara memperbaiki endotel pembuluh darah dan sebagai antiradang dengan mengurai produk-produk inflammasi sehingga kemungkinan terjadinya syok septik dapat dicegah. Selanjutnya dilakukan persiapan operasi seperti izin, obat dan alat. Pemakaian kateter selama 7-14 hari postpartum dan diganti setiap 5 hari bertujuan untuk mengistirahatkan vesica urinaria dan mencegah terjadinya fistula.

25

BAB V KESIMPULAN
Diagnosis kasus ini ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik dimana diketahui bahwa persalinan berlangsung lama dan tidak mengalami kemajuan (macet) serta didapatkan tanda-tanda komplikasi pada ibu dan janin yang mendukung diagnosis partus kasep. Kemungkinan penyebab kasus ini adalah kesalahan pada penolong awal (bidan) karena memimpin persalinan lebih dari 1 jam pada pasien multigravida. Penatalaksanaan pada kasus ini adalah perbaikan keadaan umum, resusitasi intra uterin, pemberian antibiotik dan terminasi perabdominam. Terminasi perabdominam dilakukan karena pada kasus ini sudah dijumpai komplikasi dan gawat janin.

26

DAFTAR PUSTAKA
1. Yuniartika, Wachidah. 2009. Hubungan Persalinan Kala I Memanjang dengan Kesejahteraan Janin di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta. Available from: Http://etd.eprints.ums.ac.id/4496/ 2. Kusumawati, Yuli. 2006. Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Persalinan dengan Tindakan. Available from: Http://eprints.undip.ac.id/15334/1/TESIS__ YULI_KUSUMAWATI.pdf 3. Mochtar, Rustam, Prof. Dr. MPH., 1998. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi, Edisi 2. Jakarta: EGC 4. Pereira, Gabriela. 2006. Partus Kasep. Available from:

Http://last3arthtree.files.wordpress.com/2009/03/partus-kasep 5. Wiknjosastro, Hanifa, Prof., dr., dkk.2005. Ilmu Kebidanan, Edisi Ketiga. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta 6. Cunningham, F. Gary, dkk. 2005. Obstetri Williams, Volume 1, Edisi 21. EGC. Jakarta 7. Kumboyo, Doddy. A., SpOG, dkk. 2001. Standar Pelayanan Medik Rumah Sakit Umum Daerah NTB. Mataram 8. Anonim. 2005. Partus Tak Maju. Available from:

Http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19884/4/Chapter?20II

27