Anda di halaman 1dari 19

Nilai :

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI HASIL PANEN Karakteristik Termal Bahan Hasil Pertanian (Pengukuran Nilai Kapasitas Kalor / Cp)

Oleh : Nama NPM Hari, Tanggal Praktikum Waktu Co. Ass : Trisna Monica Sihotang : 150610090134 : Rabu, 21 Maret 2012 : 14.30 WIB (Shift D) : Tiwi Wince Widaningsih Oktaviana M.D. Pratiwi

LABORATORIUM PASCA PANEN TEKNOLOGI PROSES PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Bahan-bahan pertanian tidak dapat lepas dari perlakuan panas. Proses yang umumnya terjadi pada bahan pertanian dari penggunaan termal adalah pemanasan, pendinginan, penggorengan, pengeringan dan pembekuan. Tujuan perlakuan panas dari penggunaan temal pada umumnya adalah untuk pengawetan atau pencegahan terhadap pengecambahan serta membangun sebuah sistem

pengolahan, perencanaan dan pengendalian. Dalam proses pengolahan hasil-hasil pertanian, perlakuan panas sering digunakan. Untuk dapat menganalisis proses-proses tersebut secara akurat maka akan sangat diperlukan informasi tentang sifat-sifat thermis dari hasil-hasil pertanian yang diproses tersebut. Sebagai contohnya sifat thermis seperti specific heat, heat conductant, latent heat dan lain-lain, ini diperlukan dalam analisis proses heating, cooling, freezing dan lain-lain. Pemanasan dan pendinginan bahan dapat dilakukan dengan konveksi, konduksi atau radiasi. Untuk menghitung proses-proses tersebut, pengetahuan tentang sifat panas seperti: panas spesifik, koefisien konduksi panas, koefisien difusi, koefisien absopsi atau emisi, sangat diperlukan. Proses pemanasan dan pengeringan produk pertanian ini, sangat penting untuk mengetahui berapa suhu harus diberikan dan untuk waktu berapa lama sehingga tidak terjadi kerusakan dan untuk menjaga kualitas mutu bahan-bahan pertanian.

1.2 Tujuan praktikum Adapun tujuan dari percobaan praktikum ini adalah untuk menentukan panas spesifif (Cp) dari beberapa jenis bahan pertanian yaitu jeruk dan tomat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik termal memegang peranan penting terhadap sifat suatu

bahan karena berkaitan erat dengan struktur dalam bahan itu sendiri. Suatu bahan bila dipanaskan akan terjadi perubahan struktur yang mengakibatkan adanya perubahan dalam kapasitas panas atau energi termal bahan tersebut. Teknik analisa termal digunakan untuk mendeteksi perubahan fisika (penguapan) atau kimia (dekomposisi) suatu bahan yang ditunjukkan dengan penyerapan panas (endotermik) dan pengeluaran panas (eksotermik). Proses termal meliputi antara lain proses perubahan fase (transisi gelas), pelunakan, pelelehan, oksidasi, dan dekomposisi. (Laboratorim Uji Polimer) Karakteristik termal bahan hasil pertanian sangat penting diketahui untuk membangun sebuah sistem pengolahan bahan hasil pertanian yang berhubungan dengan panas. Bahan-bahan pertanian, baik tanaman maupun hewan beserta produknya, tidak lepas dari perlakuan panas. Proses-proses utama adalah pemanasan, pendinginan, dan pembekuan. Tujuan perlakuan panas pada umumnya adalah pengawetan atau pencegahan terhadap pengecambahan. Ada beberapa macam karakteristik termal bahan hasil pertanian diantaranya : Panas spesifik (specific heat). Panas spesifik dapat didefinisikan sebagai jumlah energi panas yang diserap atau dilepaskan oleh satuan massa bahan dalam suatu perubahan suhu, tanpa terjadi perubahan fasa bahan (Zain,2005). Panas spesifik juga dapat diartikan sebagai jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1kg bahan sebesar 10C. Pengetahuan tentang panas spesifik sangat diperlukan untuk perhitungan proses-proses pemanasan atau pendinginan. Panas spesifik bahan-bahan pertanian sangat tergantung pada lengas bahan. Persamaan umum dari panas spesifik adalah sebagai berikut: = Dimana Cp = panas spesifik (J/Kg K) q = energi panas (J) m = massa bahan (kg) T = perbedaan suhu (K)

Pada umumnya, panas spesifik sedikit naik dengan naiknya suhu, tetapi untuk beberapa kasus diperoleh kecenderungan sebaliknya. Pada interval suhu tersebut perubahan panas spesifik terhadap suhu bisa dikategorikan linier. Panas spesifik bahan hasil pertanian dapat diukur secara langsung dengan menggunakan bomb calorimeter atau dengan pendekatan menggunakan persamaan-persamaan berikut:

2.1 Persamaan Siebel Siebel (1918) dalam Toledo (1991), menyatakan bahwa panas spesifik untuk buah-buahan, sayuran dan konsentrat yang berasal dari tumbuhan yang tidak mengandung lemak memiliki nilai yang bervariasi sesuai dengan kadar airnya sehingga dengan demikian panas spesifik bahan merupakan rata-rata dari panas spesifik air dan panas spesifik padatannya. Persamaan panas spesifik bahan jika suhu bahan di atas titik beku adalah: Cp = 3349M + 837.36 Sedangkan jika suhu bahan di bawah titik beku, persamaannya adalah: Cp = 1256M + 837.36 Dimana: Cp = panas spesifik bahan (J/kg K) M = fraksi massa air Apabila bahan mengandung lemak maka panas spesifik bahan ditentukan oleh fraksi massa lemak (F), fraksi massa padatan non lemak (SNF) dan fraksi massa air (M). Dengan demikian persamaannya adalah sebagai beikut: Suhu diatas titik beku : Cp = 1674.2 F + 837.36 SNF + 4186.8 M Suhu dibawah titik beku: Cp = 164.2 F + 837.36 SNF + 2093.4 M

2.2 Persamaan Choi dan Okos (Toledo, 1991) Berbeda dengan Siebel, Choi dan Okos lebih detail lagi dengan memasukkan komposisi bahan non lemak. Panas spesifik (J/kg K) merupakan fungsi suhu (C). Berikut ini panas spesifik berbagai komponen bahan:

Protein

Cpp = 2008.2 + (1208.9 x 10-3 T) (1312.9 X 10-6 T2) Lemak : Cpp = 1984.2 + (1473.3 x 10-3 T) (4800.8 X 10-6 T2) Karbohidrat : Cpp = 1548.8 + (1962.5 x 10-3 T) (5939.9 X 10-6 T2) Serat : Cpp = 1845.9 + (1930.6 x 10-3 T) (4650.9 X 10-6 T2) Abu : Cpp =1092.6 + (1889.6 x 10-3 T) (3681.7. X 10-6 T2) Air diatas titik beku : Cpp = 4176.2 + (9.0862 x 10-5 T) (3681.1 X 10-6 T2) Panas spesifik campuran diatas titik beku adalah :

Cp = P(Cpp) + F(Cpt) + C(Ccpc) + Fi(Cpfi) + A(Cpa) + M(Cwaf) Dimana P, F, C, Fi, A, dan M merupakan fraksi massa dari protein , lemak, karbohidrat, serat, abu, dan air.

Tabet 1. Heat Capacity of Liquid Water at 101.325 kPa ( 1 atm) Temperature


o

Heat Capacity Cp K Cal/groC 1.0080 1.0019 0.9989 0.9987 0.9987 0.9992 1.0001 1.0013 kJ/kg K 4.22 4.195 4.185 4.181 4.181 4.183 4.187 4.192

0 10 20 30 40 50 60 70

273.15 283.15 293.15 303.15 313.15 323.15 333.15 343.15

80 90 100

353.15 363.15 373.15

1.0029 1.0050 1.0076

4.199 4.208 4.219

Geankoplis, Christine J.,(1978)

Tabel 2. Termal Data For Some Food Product


Food product Specific Heat kJ/kgoC Above Freezing Fruit Apples Bananas Grapefruit Peaches Pineapples Watermelons 3.6 3.35 3.81 3.78 3.68 4.06 1.88 1.76 1.93 1.93 1.88 2.01 Below Freezing

Tabel 3. Termal Data For Some Food Product (oranges and tomato) Food Oranges Tomato Spesific Heat Capacity Above Freezing 3.77 kJ/kg K 3.98 kJ/kg K Below Freezing 1.76 kJ/kg K 2.01 kJ/kg K

Specific Heat of Water Fase : 1. Gas : 1850 J/kg.C

2. Liqud : 4180 J/kg .C 3. Solid : 2060 J/kg.C

2.3 Konduktivitas Termal (Thermal Conductivity) Konduktivitas termal merupakan jumlah panas yang dialirkan par satuan luas dan satuan ketebalan dari suatu bahan dalam satuan waktu dengan perubahan sebesar satu satuan suhu. Nilai konduktivitas termal suatu bahan hasil pertanian

ditentukan oleh komposisinya dan juga dari persentase ruang kosong, bentuk, ukuran dam susunan ruang kosong serta faktor-faktor lain yang membatasi aliran panas. Menurut Choi dan Okos dalam Toledo (1991), konduktivitas termal bahan hasil pertanian ditentukan dengan persamaan : Dimana : k = konduktivitas termal (W/m K) Ki = komponen penyusun bahan Xvi = fraksi volume setiap komponen )

Nilai konduktivitas termal dari komponen penyusun bahan yaitu : Air murni Es Protein Lemak Karbohidrat Serat Abu : : : : : : : = 0,57109 +(0,0017625 T) (6,7306 X = 2,2196 (0,0062489 T) (1,0154 X = 0,1788 + (0,0011958 T) (2,7178 X = 0,1807 + (0,0027604 T) (1,7749 X = 0,2014 + (0,0013874 T) (4,3312 X = 0,18331+ (0,0012497 T) (3,1683 X = 0,3296 + (0,001401T) (2,9069 X ) ) ) ) ) ) )

Nilai fraksi volume (Xvi) setiap komponen dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut : = =
[

Dimana : Xi = fraksi massa komponen i = densitas komponen penyusun bahan = densitas bahan Adapun nilai dari densitas komponen penyusun bahan ( i) dapat diketahui dengan menggunakan persamaan-persamaan sebagai berikut : Air murni Es : : = 997,18 + 0,0031439 T + 0,0037574 T = 916,89 - 0,13071T

Protein Lemak Karbohidrat Serat Abu

: : : : :

= 1329,9 - 0,51814 T = 925,59 - 0,41757 T = 1599,1 - 0,31046 T = 1311,5 - 0,36589 T = 2423,8 - 0,28063 T

2.4 Difusivitas Termal (Thermal Diffusivity) Difusivitas termal merupakan karakteristik termal yang digunakan untuk menentukan laju aliran energi panas di dalam bahan hasil pertanian yang berwujud padat pada berbagai bentuk. Karakteristik ini berhubungan dengan kemampuan bahan untuk mengalirkan energi panas dan kemampuan untuk menyimpan energi panas. Difusivitas termal dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : = Dimana : = difusivitas termal (m2/s) k = konduktivitas termal (W/m K) Cp = panas spesifik (J/kg K) = densitas massa (kg/m3)

2.5 Entalpi Entalpi merupakan kandungan energi panas dari suatu bahan. Secara umum entalpi digunakan untuk mengukur energi dalam uap air, yaitu : Q=( Dimana : Q = jumlah energi panas (J) m = massa (kg) = entalpi pada suhu = entalpi pada suhu (J/kg) (J/kg) )

BAB III METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat : Timabangan Analitik Water Heater Thermometer Digital Stopwatch Beaker Glass Termos Gelas ukur Kalkulator 3.1.2 Bahan : Jeruk Tomat Air

3.2 Prosedur Percobaan 1. Memanaskan air dengan menggunakan water heater. 2. Menimbang bahan dengan menggunakan timbangan analitik (mb) dan mengukur suhu bahan awal (Tb) dengan asumsi Tb = T ruangan. 3. Menimbang air panas dengan menggunakan timbangan analitik (ma) 4. Memasukkan air panas yang ditimbang sebelumnya ke dalam termos dan mengukur suhunya (Ta). 5. Setelah mengukur suhu bahan awal dan suhu air awal, bahan dimasukkan ke dalam termos. 6. Menutup termos dan mendiamkannya selama 15 menit. 7. Setelah 15 menit, tutup termos dibuka dan mengukur kembali suhu air (Ta) dan suhu bahan (Tb). 8. Menghitung Cp bahan dengan menggunakan persamaan berikut :

Dengan asumsi mengabaikan panas yang hilang, dimana : ma = massa air panas (kg) mb = massa bahan (kg)

Cpa = panas spesifik air (kJ/kg K) Cpb = panas spesifik bahan (kJ/kg K) Ta = perbedaan suhu air (K) ) Tb = perbedaan suhu bahan (K) )

BAB IV HASIL PERCOBAAN Tabel 4. Hasil Pengukuran Percobaan Jeruk 2 Jeruk 3 Tomat 4 9,79x 299 k 326,3 k 27,3 k 351 k 344,1 k 6,9 k 329,20x 340,65x 211,45x 6,8x 299 k 341,2 k 42,2 k 362 k 348 k 14 k 329,20x 551,67x 222,47x 4,22x 299 k 350,8 k 51,8 k 362 k 356 k 6k 326,64x 538,98x 212,34x

Parameter mb (kg) Tb1 (k) Tb2 (k) Tb (k) Ta1 (k) Ta2 (k) Ta (k) mt (kg) mt+a (kg) ma (kg)

Jeruk 1 9,06x 299 k 348,4 k 49,4 k 362 k 355 k 7k 321,59x 570,10x 248,51x

Tomat 5 7,17x 299 k 350,7 k 51,7 k 364 k 357 k 7k 321,59x 602,13x 280,54x

Tomat 6 7.8x 299 k 346 k 47 k 282,1 k 281,3 k 0,8 k 326,64x 560,70x 234,06x

Dengan menggunakan persamaan di bawah ini dapat diukur padas spesifik jeruk dan tomat dari hasil percobaan diatas :

Dengan asumsi mengabaikan panas yang hilang, dimana : ma = massa air panas (kg) mb = massa bahan (kg)

Cpa = panas spesifik air (kJ/kg K) Cpb = panas spesifik bahan (kJ/kg K) Ta = perbedaan suhu air (K) ) Tb = perbedaan suhu bahan (K) )

4.1 Panas Spesifik Jeruk Tabel 5. Hasil Pengukuran Panas Spesifik Jeruk Bahan : Jeruk Parameter Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 mb (kg) Tb1 (k) Tb2 (k) Tb (k) Ta1 (k) Ta2 (k) Ta (k) mt (kg) mt+a (kg) ma (kg) Cpb (kJ/kg K) Perhitungan Kelompok 1 (Jeruk 1) : 9,06x 299 k 348,4 k 49,4 k 362 k 355 k 7k 321,59x 570,10x 248,51x 16,25 kJ/kg K 9,79x 299 k 326,3 k 27,3 k 351 k 344,1 k 6,9 k 329,20x 340,65x 211,45x 22,82 kJ/kg K 6,8x 299 k 341,2 k 42,2 k 362 k 348 k 14 k 329,20x 551,67x 222,47x

Kelompok 2 (Jeruk 2) :

Kelompok 3 (Jeruk 3) :

Rata-rata Panas Spesifik Jeruk

4.2 Panas Spesifik Tomat Tabel 6. Hasil Pengukuran Panas Spesifik Tomat Bahan : Tomat Parameter Kelompok 4 Kelompok 5 Kelompok 6 mb (kg) Tb1 (K) Tb2 (K) Tb (K) Ta1 (K) Ta2 (K) 4,22x10-3kg 299 K 350,8 K 51,8 K 362 K 356 K 7,17x10-3 kg 299 K 350,7 K 51,7 K 364 K 357 K 7,8x10-3 kg 299 K 346 K 47 K 364 K 358 K

Ta (K) mt (kg) mt + a (kg) ma (kg) Cpb (kJ/kg K) Perhitungan Kelompok 4 (Tomat 1) :

6K 326,64x10-3kg 358,98x10-3kg 212,34x10-3kg 24,36 kJ/kg K

7K 321,59x10-3kg 602,13x10-3kg 280,54x10-3kg2 22,14 kJ/kg K

6K 326,64x10-3kg 506,70x10-3kg 180,06x10-3kg 12,32 kJ/kg K

Kelompok 5 (Tomat 2) :

Kelompok 6 (Tomat 3) :

Rata-rata Panas Spesifik Jeruk

BAB V PEMBAHASAN

Pada percobaan praktikum ini, pembahasan yang akan dipaparkan penjelasan karateristik termal bahan hasil pertanian yaitu jeruk dan tomat, dimana tujuan dilakukannya percobaan praktikum adalah untuk menentukan panas spesifik (Cp) dari bahan hasil pertanian yang diteliti. Beberapa prosedur yang dilakukan dalam proses percobaan praktikum ini, untuk mengetahui perubahan suhu bahan menggunakan termometer yang belum dilakukan perlakuan panas dan telah dilakukan perlakuan panas. Data rata-rata yang didapat pada praktikum karaterisitik termal bahan hasil pertanian pada kali ini ialah 28,15 kJ/kg K untuk bahan hasil pertanian jeruk dan untuk bahan hasil pertanian tomat memiiliki panas spesifik sebesar 19,61 kJ/kgK. Namun bila dibandingkan dengan data pada literatur yang didapat terjadi perbedaan. Diketahui bahwa pada literatur yang ada panas spesifik pada jeruk sebesar 3,77 kJ/kg K dan untuk tomat memiliki panas spesifik sebesar 3,98 kJ/ K. Berikut tabel perbandingan antara hasil yang didapat pada praktikum dengan data pada literatur. Tabel 7. Perbandingan Panas Spesifik (Cp) antara Praktikum dengan Literatur No 1 2 Bahan Hasil Pertanian Jeruk Tomat Panas Spesifik (Cp) pada Praktikum 28,15 kJ/kg K 19,61 kJ/kg K Panas Spesifik (Cp) pada Literatur 3,77 kJ/kg K 3,98 kJ/kg K

Dapat dilihat secara jelas perbandingan angka yang terjadi antara hasil Cp pada praktikum dengan Cp yang tertera pada literatur. Hasil Cp yang didapat pada praktikum jauh lebih besar daripada Cp pada literatur. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu lamanya perendaman yang dilakukan. Lama perendaman yang dilakukan oleh praktikan mahasiswa belum tentu sama dengan lama perendaman yang dilakukan pada literatur. Lamanya perendaman yang dilakukan dalam praktikum ini memengaruhi terhadap hasil yang di dapat yang ditunjukkan dari angka panas spesifik karena semakin lama bahan direndam maka suhunya

akan bertambah sedangkan suhu air perendamnya akan berkurang. Selain daripada faktor lamanya perendaman faktor lain yang juga dapat memengaruhi perbedaan hasil Cp ialah faktor alat yang digunakan dalam perendaman bahan. Apabila dalam praktikum menggunakan termos plastik sebagai media rendam, maka dapat terjadi kemungkinan alat yang digunakan dalam mengukur data pada literatur tersebut menggunakan bahan lain yang dapat memperkecil kehilangan panas, sehingga panas yang diperoleh pada bahan akan lebih banyak. Oleh karena itu, beberapa faktor tersebut dirasakan wajar bila pada akhirnya data Cp yang diperoleh antara percobaan praktikum yang dilakukan ini dengan literarur mengalami perbedaan yang cukup signifikan. Dari hasil yang didapat ini dapat terjadi kesalahan yang dilakukan dalam percobaan praktikum yang menyebabkan perbedaan yang cukup besar antara nilai teoritis dan hasil perhitungan. Hal ini dapat dikarenakan : a. Terjadinya kesalahan dalam pembacaan skala pada termometer dalam penentuan besarnya suhu dari air dan bahan hasil pertanian. b. Pada saat pengukuran suhu bahan akhir (Tb2) dimana pada pengukuran suhu, termometer yang ditempatkan kurang masuk kedalam bahan, sehingga hasil yang didapat kurang akurat.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan Panas spesifik merupakan sebagai jumlah energi panas yang diserap atau dilepaska oleh satuan massa bahan dalam suatu perubahan suhu, tanpa terjadi perubahan fasa bahan. Panas spesifik suatu bahan berbanding lurus dengan kandungan air bahan tersebut sehingga suhu bahan meningkat atau naik setelah dimasukkan ke dalam air panas dan suhu air menurun setelah bahan dimasukkan ke dalam air biasa. Kalor berpindah dari medium bersuhu tinggi ke medium yang suhunya lebih rendah, hal ini dapat terlihat dari adanya perbedaan antara suhu awal dengan suhu akhir dari bahan dan air.

Nilai panas spesifik dari setiap bahan berbeda beda begantung pada karakteistik bahan penyusunnya. Hasil nilai panas spesifik (Cp) dapat berbeda-beda, hal ini dapat disebabkan oleh faktor metode serta alat yang digunakan dalam praktikum tidak selalu sama.

6.2 Saran Penyediaan alat yang dipergunakan selama praktikum lebih diperbanyan agar lebih memudahkan proses selama praktikum berlangsung dan menggunakan waktu yang lebih efisien. Pengarahan sebelum praktikum lebih diperjelas, agar proses praktikum dapat berjalan lebih cepat dan mudah.

DAFTAR PUSTAKA Sudaryanto, dkk. 2011. Modul Penuntun Praktikum MK. Teknologi Hasil Pertanian : Karakteristik Fisik Bahan Hasil Pertanian. Jatinangor Earle, R.L. 1983. Unit Operations in Food Processing. 2nd ed.Pergamon Press International Library. Oxfrod. Geankoplis, C.J. 1983.Transport Processes and Unit Operataions.Allyn and Bacon, Inc., Colorado Anonim. Tools and Basic Information for Design, Engineering and Construction of Technical Applications. http://www.engineeringtoolbox.com diakses pada 24 Maret 2012. Pukul 17.35 WIB. Damanik, Andronikus. Karakteristik Termal Bahan Hasil Pertanian. 2009. http://www.scribd.com/doc/25572153 diakses pada 24 Maret 2012. Pukul 18.00 WIB. Anonim. Analisis Termal. http://www.labujipolimer.com/index.php?option=com_content&task=view &id=34&Itemid=51 diakses pada 24 Maret 2012. Pukul 18.10 WIB