Anda di halaman 1dari 12

Pemilihan Material untuk Tangki CNG pada Konverter Kit Kendaraan Bermotor

Vicky Indrafusa (0806455906)

Departemen Teknik Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia

I.

Latar Belakang Penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) sebagai bahan bakar alternatif kendaraan bermotor saat ini banyak dikembangkan untuk menggantikan bahan bakar cair seperti bensin dan solar. Hal ini dikarenakan semakin berkurangnya cadangan bahan bakar cair dan tingginya polusi yang dihasilkan oleh bahan bakar cair tersebut. Emisi gas buang bahan bakar cair lebih tinggi dari bahan bakar gas yang bisa mengakibatkan pemanasan global, salah satu dampaknya adalah perubahan iklim seperti yang terasa saat ini. Selain itu, cadangan gas Indonesia yang cukup banyak dibandingkan minyak memberikan peluang lebih untuk penggunaan bahan bakar gas sebagai sumber energi di Indonesia. Berdasarkan data BPMIGAS, hingga 1 Januari 2011 cadangan terbukti maupun potensial gas di Indonesia mencapai 153,72 triliun kaki kubik dan cadangan terbukti maupun potensial minyak bumi sebesar 7,41 miliar barel[1]. Menurut Hardi Pramono, teknisi senior Lemigas (Lembaga Minyak dan Gas Bumi) efisiensi atau penghematan dari pemakaian BBG jauh di atas bahan bakar bensin maupun solar. Pemakaian BBG sebenarnya menarik dipilih dibandingkan bensin atau solar, BBG lebih irit 15 - 20 persen karena pembakarannya yang lebih sempurna. Keuntungan lain dari pemakaian BBG adalah suhu mesin relatif lebih dingin sehingga memperpanjang umur mesin. Selain itu, karburator lebih bersih, dinding dan kepala piston juga lebih bersih dari kotoran dan kerak, akibat proses pembakaran sempurna. Selain itu, BBG sebagai bahan bakar kendaraan bermotor memiliki beberapa keunggulan lainnya[2], yaitu antara lain : Ramah lingkungan, polusi yang dihasilkan BBG relatif lebih rendah dibandingkan bensin atau solar Aman karena BBG memiliki berat jenis yang lebih ringan daripada udara, sehingga bila terjadi kebocoran maka BBG segera menyebar ke udara dan sulit membentuk campuran yang mampu terbakar di udara Lebih hemat dalam pemakaian minyak pelumas dan busi BBG memiliki nilai oktan lebih tinggi daripada bensin Murah, lebih murah 40-50% dari premium Diproduksi dalam negeri

Tabel 1. Perbandingan Gas

Gambar 1. Skematis sederhana konverter kit (Sumber : http://rires2.umm.ac.id/publikasi/lama/gas_converter_0408.pdf)

Untuk menggunakan BBG, kendaraan bermotor memerlukan seperangkat peralatan tambahan yang disebut perangkat konversi (converter kit). Secara sederhana alat ini terdiri atas tabung CNG tekanan tinggi (200 bar), katup manual, pipa tekanan tinggi, manometer, saklar pilih, katup otomatis, pressure regulator, katup pengisian CNG (filling valve), pencampur gas dan udara (mixer) (Lihat gambar 1). Tabung CNG merupakan salah satu komponen utama dalam konverter kit dan sering pula mengalami kebocoran yang akhirnya

dapat menimbulkan kecelakaan. Oleh karena itu, pada paper ini akan ditentukan material yang tepat beserta tahapan-tahapannya dalam penentuan material untuk digunakan sebagai tabung penyimpanan CNG.

Gambar 2. Tabung CNG yang digunakan pada kendaraan

II.

Cara Kerja Konverter Kit[2] Bahan bakar dimasukkan ke dalam tabung BBG (2) melalui suatu katup pengisian BBG (1) pada tekananan tinggi melalui pipa tekanan tinggi (3), kemudian gas disalurkan ke mesin mobil. Tekanan gas diturunkan ke atmosfir oleh penurun tekanan (4). Kemudian gas dicampur dengan udara oleh pencampur udara dan gas (5) yang selanjutnya masuk ke mesin untuk dibakar. Kendaraan bermotor dapat dioperasikan memakai bahan bakar gas atau bensin. Pengaturan operasinya diatur oleh sakelar pemilih (6) yang menutup atau membuka katup otomatis (7) dan (8) untuk gas atau bensin.

Gambar 3. Letak konverter kit pada kendaraan

III.

Compressed Natural Gas CNG (Compressed Natural Gas) merupakan bahan bakar gas yang dikompresi sampai dengan 200 bar atau lebih, dengan maksud agar diperoleh volume pengisian yang maksimum atau setara dengan volume bahan bakar konvensional (bensin atau solar) dalam satu kali

pengisian. CNG dibuat dengan melakukan kompresi metana (CH4) yang diekstrak dari gas alam. CNG disimpan dan didistribusikan dalam bejana tekan, biasanya berbentuk silinder.
Tabel 2. CNG Specification (DIN 51624 (2008))

Tabel 3. Karakteristik CNG[4]

Spesifikasi
Komposisi Kimia Massa Jenis (g/cm3) Titik Didih ( C) Suhu Penyimpanan ( C) Suhu Pembakaran ( C) Kompresi Tekanan (bar) Sifat Fisika Tempat Penyimpanan Angka Oktan Penyalaan (% vol di udara) Kadar S (% berat) Kecepatan Nyala (m/s) Harga (US $/gal) Panas Pembakaran (BTU/gal)
o o o

CNG
CH4 0,13 27 632 200 Gas Kompresi dalam Silinder 130 5,3 - 14 0,34 1,93 23890

IV.

Tabung CNG Menurut standar ISO 11439, tabung silinder CNG yang digunakan untuk kendaraan bermotor dikelompokkan menjadi 4 tipe : 1. Type Cylinder CNG-1 : Metal Cylinder Steel CNG dari bahan baja paduan atau dari paduan alumunium.

2. Type Cylinder CNG-2 : Metal Liner - Hoop Wrapped Cylinders (Komposit) Baja paduan atau alumunium yang diperkuat fiber glass 3. Type Cylinder CNG-3 : Metal Liner - Fully Wrapped Cylinders (Komposit) Baja paduan atau alumunium yang diperkuat lapisan fiber glass seluruhnya 4. Type Cylinder CNG-4 : All Composite Cylinders Seluruhnya dibuat dari bahan komposit, plastik atau fiber glass

Gambar 4. Contoh tabung CNG untuk berbagai tipe

V.

Aspek Penting dalam Desain CNG Tank Maximum Pressure Berdasarkan ISO 11439, maksimum working pressure tabung CNG yang diijinkan sebesar 20 MPa (200 bar) pada suhu 15oC dengan tekanan pengisian maksimum 260 bar. Tekanan kerja lain dapat diakomodasi dengan menyesuaikan tekanan dengan rasio yang sesuai, misalnya 1,25, tekanan kerja 250 bar akan memerlukan tekanan pengisian maksimum sebesar 312,5 bar[5]. Komponen di dalam ruang mesin harus bisa bertahan pada kisaran suhu -40oC hingga 120oC dan semua komponen lainnya harus bisa bertahan pada kisaran suhu -40oC hingga 85oC[3]. Temperature Range 1. Temperatur Gas Silinder harus didesain untuk temperature gas bervariasi mulai dari -40C hingga +65C

2. Temperatur Silinder Temperatur material silinder dapat bervariasi dari -40oC hingga +82oC VI. Sifat yang dibutuhkan 1. Density Untuk tangki CNG yang digunakan pada kendaraan bermotor harus memiliki densitas yang rendah. Hal ini bertujuan agar kendaraan tidak membutuhkan energi yang lebih besar untuk berjalan. 2. Kekuatan Luluh (Yield Strength) Pada penggunaannya, tangki CNG mengalami tekanan kerja 200 bar. Tangki CNG harus bocor terlebih dahulu sebelum fracture. Kebocoran pada tangki CNG akan terjadi jika yield strength dari material telah terlewati. Jadi yield strength menjadi sifat utama yang harus diperhatikan pada tangki CNG dan harus mempunyai nilai yield strength yang besar. 3. Modulus Elastisitas Modulus elastis yang tinggi dibutuhkan agar ketika tangki CNG mengalami tekanan pengisian maksimum sebesar 260 bar tidak mengembang. 4. Fracture Toughness Dibutuhkan nilai fracture toughness yang tinggi agar tangki CNG memiliki ketahanan terhadap propagasi retak yang tinggi, sehingga tangki CNG tidak mudah mengalami kebocoran. Selain itu, berdarkan aspek teknis perhitungan Ashby[6] fracture toughness menjadi parameter utama dalam menentukan performance index dari safe pressure vessels. 5. Konduktivitas Termal Pada saat penggunaannya tangki CNG dapat mengalami pemanasan akibat panas yang dihasilkan dari mesin. Panas dari mesin diharapkan tidak merambat ke dalam internal tabung CNG. Oleh karena itu, material tabung CNG harus memiliki konduktivitas termal yang rendah. 6. Specific Heat Specific heat yang dibutuhkan untuk tangki CNG harus rendah agar panas dari mesin tidak menyebabkan kenaikan temperatur internal tangki CNG secara cepat. 7. Ekspansi Termal Pada saat pengaplikasiannya tabung CNG dapat mengalami perubahan temperatur dalam rentang -40oC hin gga +82oC ketika tekanan di dalam tangki CNG berubah

akibat pengisian. Perubahan temperatur ini dapat menyebabkan terjadinya ekspansi pada material tangki CNG. Ekspansi akibat termal pada material tabung CNG harus dihindari, sehingga dibutuhkan nilai ekspansi termal yang rendah. VII. Kandidat Material Menurut Ashby[6] kandidat material yang cocok untuk digunakan sebagai safe pressure vessels adalah paduan alumunium, paduan tembaga, atau baja dan paduan (Gambar 5). Selain itu, menurut standar ISO 11439 kandidat material yang dapat digunakan sebagai tangki CNG adalah baja dan paduannya, paduan alumunium atau komposit.

Gambar 5. Daerah pencarian material yang tepat untuk safe pressure vessels[6]

Berdasarkan pilihan material di atas yang didukung dengan data literatur beserta sifat mekanis material maka penulis memilih beberapa kandidat material yang cocok digunakan sebagai tangki CNG, yaitu sebagai berikut. AISI 4130 Steel AISI 4340 Steel AISI 4320 (Normalized)) Steel AA 6061-T6 Alumunium GFRP (E-glass Fiber Epoxy Matrix) CFRP (Carbon Fiber Epoxy Matrix) Epoxy/Aramid Composite

VIII.

Pemilihan Material 1. Pairwise Comparison


Tabel 4. Use of pairwise comparison in CNG tank

Properties Fracture Toughness Yield Strength Modulus Elastisitas Densitas Fatigue Strength Konduktivitas Panas Ekspansi Termal Specific Heat

Decision Number 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0

2. Weighting Factors
Tabel 5. Weighting factors for the CNG tank

Properties Fracture Toughness Yield Strength Modulus Elastisitas Densitas Fatigue Strength Konduktivitas Panas Ekspansi Termal Specific Heat Total

Positive Decision 7 6 3 4 5 2 1 0 28

Weigthing Factors 0,25 0,21 0,11 0,14 0,18 0,07 0,04 0,00 1,00

3. Candidate Material
Tabel 6. Sifat dari kandidat material untuk CNG tank

Material AISI 4130 Steel AISI 4340 Steel AISI 4320 (Normalized) Steel AA 6061-T6 Aluminium GFRP (E-glass Fiber Epoxy Matrix) CFRP (Carbon Fiber Epoxy Matrix) Epoxy/Aramid Composite

Kic [MPa m-1/2] 135 50 135 29,1 60 45 0,65

Yield Strength [MPa] 460 1864 460 275 670 500 1400

E [GPa] 205 196 205 69 45 220 41,4

Densitas [g/cm3] 7,85 7,83 7,85 2,7 2,1 1,7 1,4

Sifat-sifat Fatigue Konduktivitas Strength Panas [W/moC] [MPa] 300 42,7 1200 44,5 300 44,5 165 167 430 320 1200 0,1872 8,5 300

Ekspansi Thermal [10-6/oC] 12,3 12,3 11,3 23,4 6,6 0,5 1,2

Specific Heat [J/g K] 0,477 0,475 0,475 0,869 0,3 0,75 1,2

4. Scaled Property and Weight Property Index


Tabel 7. Skala nilai dari sifat dan kalkulasi weighted property index

Material AISI 4130 Steel AISI 4340 Steel AISI 4320 (Normalized) Steel AA 6061-T6 Aluminium GFRP (E-glass Fiber Epoxy Matrix) CFRP (Carbon Fiber Epoxy Matrix) Epoxy/Aramid Composite 1 100 37,03703704 100 21,55555556 44,44444444 33,33333333 0,481481481 2 24,67811159 100 24,67811159 14,75321888 35,94420601 26,82403433 75,10729614 3 93,18181818 89,09090909 93,18181818 31,36363636 20,45454545 100 18,81818182

Scaled Properties 4 5 17,8343949 25 17,87994891 100 17,8343949 25 51,85185185 13,75 66,66666667 35,83333333 82,35294118 26,66666667 100 100

6 0,438407494 0,420674157 0,420674157 0,112095808 100 2,202352941 0,0624

7 -4,06504065 -4,06504065 -4,424778761 -2,136752137 -7,575757576 100 -41,66666667

8 62,89308176 63,15789474 63,15789474 34,52243959 100 40 25

Weighted Property Index 47,17012422 60,52957464 47,15600976 21,70514136 43,79991283 45,05097655 48,89024379

5. Ranking of Materials
Tabel 8. Relative cost, figure of merit and ranking of materials

Materials AISI 4130 Steel AISI 4340 Steel AISI 4320 (Normalized) Steel AA 6061-T6 Aluminium GFRP (E-glass Fiber Epoxy Matrix) CFRP (Carbon Fiber Epoxy Matrix) Epoxy/Aramid Composite

Relative Cost 1,21 1,32 1,00 3,84 31,43 285,71 57,14

Cost of unit strength 2,07 0,56 1,71 3,77 9,85 97,14 5,71

Weighted Prop Index 47,17 60,53 47,16 21,71 43,80 45,05 48,89

Figure of Merit 22,76 109,05 27,63 5,75 4,45 0,46 8,56

Rank 3 1 2 5 6 7 4

IX.

Kesimpulan Berdasarkan proses dan tahapan pemilihan material di atas maka dapat ditentukan material yang paling cocok untuk digunakan sebagai tangki CNG adalah AISI 4340 Steel.

X.

Referensi [1] Buletin BPMIGAS Edisi No 73, Agustus 2011 (diunduh dari: http://www.bpmigas.go.id/wp-content/uploads/2011/08/Buletin-73.pdf) [2] Burhanuddin Sitorus, Tulus.2001. Tesis Magister : Permodelan Penurun Tekanan untuk Kendaraan Berbahan Bakar Gas dengan Simulasi 3-D. Program Studi Pascasarjana Teknik Mesin, Institut Teknologi Bandung. (diunduh dari: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/4711/1/D0300125.pdf) [3] Laporan Akhir Program Insentif Peneliti dan Perekayasa LIPI tahun 2010 : Kajian Kebijakan Konversi dari BBM ke BBG untuk Kendaraan di Provinsi Jawa Barat. Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI. (diunduh dari : http://km.ristek.go.id/assets/files/LIPI/1070%20D%20S/1070.pdf) [4] Heru A. Marwoto dan Djoko W. Karmiadji. Analisis Tabung CNG Baja AISI 4130 untuk Bis terhadap ISO 11439. M.P.I. Vol. 2 No. 1 April 2008, 66 -73. [5] ISO 11439:2000(E) Gas cylinders - High pressure cylinders for the on-board storage of natural gas as a fuel for automotive vehicles. [6] Michael F. Ashby. 1999. Materials Selection in Mechanical Design Second Edition. Butterworth Heinemann. [7] ASM Handbook Vol 1 : Properties and Selection: Irons, Steels, and HighPerformance Alloys. ASM International.

[8] ASM Handbook Vol 2 : Properties and Selection: Nonferrous Alloys and SpecialPurpose Materials. ASM International [9] ASM Handbook Vol 21 : Properties Composites. ASM International