Anda di halaman 1dari 5

Kerjasama Indonesia - Thailand di Bidang Kebudayaan

II. HUBUNGAN BILATERAL

Sejarah singkat hubungan bilateral Hubungan Indonesia dan Thailand telah berlangsung sejak zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Melalui pertukaran peradaban, masyarakat kedua bangsa telah terhubung melalui seni budaya, agama, arsitektur, dan karya sastra. Hubungan diplomatik IndonesiaThailand berlangsung sejak tanggal 7 Maret 1950. Kerja sama antara kedua negara berlangsung di berbagai bidang seperti ekonomi, perdagangan, iptek, dan budaya. Hubungan ini diperluas lagi dengan adanya saling kunjung antara pemimpin kedua negara.

Kerjasama dan Hubungan Politik Hubungan bilateral RI dengan Thailand selama ini telah berlangsung dengan baik berkat pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh pemimpin kedua negara. Kedekatan hubungan ini dapat dilihat dari saling kunjung pemimpin dan pejabat tinggi kedua negara yaitu kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Thailand, Desember 2005; kunjungan PM Thaksin ke Indonesia untuk menghadiri KTT Asia Afrika, April 2005; kunjungan PM Surayud Chulanont, 21 Oktober 2006; kunjungan PM Samak Sundaravej, 26-27 Maret 2008; Menlu Kasit Piromya, 11 Februari 2009; kunjungan kenegaraan PM Abhisit Vejjajiva ke Indonesia, 20-21 Februari 2009; pertemuan Panglima Angkatan Bersenjata Thailand, General Songkiti Jagabatara, dengan Presiden RI di sela-sela penyelenggaraan World Ocean Conference di Manado, 14 Mei 2009; dan pertemuan Menlu Kasit Piromya dengan Sekjen Deplu di sela-sela ASEAN-GCC Ministerial Meeting di Manama, Bahrain, 29 Juni 2009.

Kerjasama Ekonomi, Perdagangan dan Investasi Payung utama kegiatan kerjasama bilateral antara kedua negara adalah forum Komisi Bersama yang dibentuk setelah ditandatanganinya Persetujuan Kerjasama Ekonomi dan Teknik RI-Thailand di tahun 1992. Dalam pertemuan ke-6 Komisi Bersama RI-Thailand yang berlangsung pada 16-18 Januari 2008 di Petchaburi, Thailand telah dibahas beberapa

permasalahan bilateral yang akan terus dikembangkan oleh kedua negara antara lain meliputi masalah: ekonomi, perdagangan, transportasi, pendidikan dan kebudayaan, investasi, perikanan, pariwisata, energi, kerjasama teknik, dan kerjasama IMT-GT. Pada pertemuan Komisi Bersama RI-Thailand sebelumnya (ke-5) di Yogyakarta pada 2003, disepakati mengubah nama The Joint Commission on Economic and Technical Cooperation between the Republic of Indonesia and the Kingdom of Thailand menjadi The Joint Commission between the Republic of Indonesia and the Kingdom of Thailand.

Kerjasama Sosial Budaya dan Pariwisata Sekalipun antara Indonesia-Thailand belum ada persetujuan kebudayaan yang mengatur hubungan sosial budaya, namun keinginan untuk meningkatkan hubungan dengan Thailand di bidang ini cukup besar. Bidang-bidang yang sering digarap dalam kerjasama ini antara lain bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, kemahasiswaan, kesenian, olahraga, keagamaan, kesehatan, lingkungan sosial, pertukaran kunjungan/undangan tokoh-tokoh dan pejabatpejabat negara, swasta dan kepramukaan.

Kerjasama lainnya Di bidang Hankam, kedua negara tidak terikat oleh suatu persetujuan, namun demikian hubungan dan kerjasama di bidang tersebut berlangsung dengan baik. Hal ini tercermin dari seringnya saling tukar kunjungan antara pimpinan Angkatan Bersenjata antara kedua negara, dan pertukaran siswa dalam rangka pendidikan Sekolah Staf Komando.

Jakarta (ANTARA News) - Pusat Pendidikan Terbuka Jarak Jauh Asia Tenggara (SEAMOLEC) bersama STP Sahid Jakarta dan Politeknik Negeri Bali merintis kerja sama dengan institusi pendidikan di Thailand.

"Institusi pendidikan di Thailand yaitu Prince of Songkhla University Phuket Campus, Phuket Vocational College, dan Songkhla Vocational College di bidang perhotelan dan pariwisata," kata Direktur SEAMOLEC Gatot Hari Priowirjanto di Jakarta, Kamis. Kerja sama di bidang perhotelan dan pariwisata, meliputi magang, pertukaran mahasiswa, dan kursus singkat "online.

Gatot Hari Priowirjanto menyampaikan, SEAMOLEC mempunyai tugas untuk meningkatkan

kapasaitas sumber daya manusia. Hal ini dilakukan dengan memfasilitasi sinergi lembaga pendidikan.

"SEAMOLEC memfasilitasi dengan sistem pembelajaran jarak jauh supaya persamaan antarnegara terjadi," katanya. Gatot menambahkan, SEAMOLEC saat ini telah melakukan kerja sama pendidikan jarak jauh (PJJ) dengan Kamboja, Vietnam, Malaysia, Filipina, dalam waktu dekat akan diadakan kerja sama PJJ dengan India. Ketua STP Sahid Kusmayadi menyampaikan, SEAMOLEC menggandeng STP Sahid dilatarbelakangi kerja sama sebelumnya yaitu mengajarkan program vokasional berkelanjutan SMK Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (SMK RSBI) seluruh Indonesia.

Program ini dilakukan sebagai upaya percepatan dan akselerasi angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi. "Sudah ada 23 SMK RSBI yang bergabung dengan pendidikan vokasional berkelanjutan untuk bidang pariwisata," katanya.

Rencana program magam dan pertukaran pelajar antara Prince of Songkhla University (PSU) dengan STP Sahid dan Politeknik Negeri Bali (PNB) dimulai di bidang Tourism Management meliputi front office dan house keeping. PSU akan mengirimkan sebanyak 12 mahasiswanya ke STP Sahid dan PNB pada tahun ini begitu juga sebaliknya. STP Sahid dan PNB akan mengirimkan masing-masing enam mahasiswanya ke PSU Phuket Campus. "Semua pembiayaan tuitition fee selama belajar di masingmasing partner dibebaskan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Masing-masing pihak akan menyediakan asrama untuk para mahasiswa. Adapun program kerja sama dengan Phuket Vocational College dan Songkhla Vocational College adalah di bidang food production dan food service, katanya. Pihak Thailand juga menginginkan adanya pertukaran pengajar. Diharapkan, lulusan D2 di Phuket Vocational College yang ingin melanjutkan ke S1/D4 STP Sahid dimungkinkan dengan program transfer kredit. Kemudahan transfer ini dikarenakan program pariwisata sudah memiliki standar kurikulum tingkat ASEAN.

Pada 16 November 2007, Presiden RI mengeluarkan PP No.103 Tahun 2007 tentang pengesahan Asia Tenggara Convention on the Recognition of Studies, Diplomas, and Degrees ini Higher Education in Asia and the Pacific. Konvensi terebut merupakan konvensi yang digagas oleh UNESCO untuk menjamin kesetaraan dan pengakuan pendidikan tinggi, ijazah, dan gelar di kawasan Asia dan Pasifik.

(T.Z003/A023)

Editor: Ruslan Burhani

Sosial Budaya
Jejak Sejarah Komunitas Indonesia Di Thailand
Terlepas di mana pusat Kerajaan Sriwijaya zaman dulu, kehidupan dan budaya Palembang memang memiliki beberapa kesamaan dengan Thailand. Misalnya peran penting sungai bagi kehidupan dan perdagangan masyarakat atau kemiripan pakaian tari tradisional kedua masyarakat.

Dari hubungan kedua masyarakat, muncullah jejak-jejak keberadaan satu komunitas masyarakat di masyarakat lainnya. Jejak komunitas Indonesia di Thailand tercatat mulai muncul di abad ke-17. Dahulu sekelompok orang dari Makassar sempat tinggal Bangkok. Wilayah tempat mereka tinggal di Bangkok sekarang dikenal dengan nama distrik Makassan (dalam bahasa Thai huruf r dan l yang berada di akhir kata diucapkan menjadi n). Sejarah juga mencatat adanya kunjungan Raja Chulalongkorn (Rama V) ke Jawa sebanyak tiga kali pada tahun 1871, 1896 dan 1901. Kabarnya Raja Chulalongkorn sangat terkesan dengan keindahan taman di Jawa. Dari kunjungannya tersebut, Raja Chulalongkorn membawa beberapa orang tukang kebun untuk membuat kebun di istananya serta membawa tumbuhan eceng gondok (yang dalam bahasa Thai disebut Phak Tok Chawa). Para tukang kebun dari tanah Jawa ini kemudian menjadi cikal bakal komunitas Jawa di Bangkok. Sementara eceng gondok hingga sekarang masih ada di Thailand, seperti di sungai Chao Praya yang membelah kota Bangkok.

Selain membawa tukang kebun dan eceng gondok, Raja Chulalongkorn memberikan patung gajah yang terbuat dari batu hitam. Patung gajah tersebut sekarang terletak di Museum Nasional di Jakarta. Bahkan dengan adanya patung gajah tersebut, Museum Nasional juga dikenal dengan nama Museum Gajah. Siapa kira patung gajah hitam tersebut diberikan oleh seorang Raja dari Negara Gajah Putih

Raja Chulalongkorn juga sempat bermukim di Bandung. Raja kemudian membuat

prasasti di atas batu yang ditulis dengan huruf Thai. Prasasti tersebut sekarang masih terawat di sala Thai (sala adalah bahasa Thai untuk gubuk atau pendopo) di Bandung.

Selain Raja Rama V, Raja Rama VII juga tercatat pernah berkunjung ke Jawa dan Bali pada awal abad ke-20. Raja Rama VII kemudian membawa dan memperkenalkan angklung kepada rakyatnya. Beberapa tahun lalu, Thailand sempat merayakan 100 tahun keberadaan alat musik angklung di Thailand yang dibawa dari Indonesia.

Kalau keberadaan orang Makassar di Bangkok dapat disebut sebagai gelombang pertama terbentuknya komunitas Indonesia di Thailand, maka gelombang ketiga adalah kedatangan romusha dan heiho dari Indonesia yang dibawa secara paksa untuk kepentingan Perang Dunia ke-2. Para keturunan romusha dan heiho inilah yang kemudian semakin memperbesar komunitas orang Jawa di Bangkok sehingga membentuk Kampung Jawa. Mereka bahkan memiliki Masjid Jawa atau penduduk sekitar menyebutnya Surau Chawa. Selain Masjid Jawa, Bangkok juga memiliki dua masjid lain yang memiliki keterkaitan dengan Indonesia yaitu Masjid Indonesia dan Masjid Makassan. Kalau Masjid Indonesia jelas membawa nama Indonesia dan masih memiliki ikatan sejarah dengan Indonesia, sayangnya Masjid Makassan sekarang sudah terputus ikatannya dengan komunitas Indonesia yang kini ada di Bangkok.

Gelombang terkini dari kunjungan orang Indonesia ke Thailand adalah meningkatnya kedatangan turis dan mahasiswa Indonesia ke Thailand setiap tahun. Demikian pula sebaliknya. Jadi apabila Anda memiliki kesempatan melancong ke Bangkok, kenapa tidak meluangkan waktu untuk melihat Masjid Indonesia atau Masjid Jawa yang merupakan sebagian jejak Indonesia di Thailand.