Anda di halaman 1dari 2

M.

Ekaditya Albar / 1106154305

Studi Pengaruh Penambahan Surface Modifier Phenol dengan Metode Fischer Esterification terhadap Konduktivitas Listrik dan Sifat Mekanis Material Pelat Bipolar Berbasis Nano Komposit MWCNT/PP-Cu Ketidakseimbangan permintaan dan penawaran energi yang didorong pesatnya laju pertambahan penduduk serta pesatnya perkembangan industri dunia mengakibatkan tersedotnya cadangan energi, khususnya energi fosil yang merupakan sumber energi utama dunia. Ketergantungan masyarakat dunia terhadap energi dari bahan bakar fosil akan menjadi ancaman bagi kita sendiri. Hal ini dikarenakan sumber energi yang dijadikan tumpuan adalah sumber energi yang berasal dari fosil yang tersimpan dalam bentuk minyak bumi. Berbagai dampak negatif yang akan muncul apabila manusia terus bergantung terhadap energi dari bahan bakar fosil adalah semakin menipisnya sumber-sumber minyak bumi jika tidak ditemukan sumber minyak yang baru. Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil juga dapat meningkatkan polusi gas karbondioksida (CO2) yang dihasilkan dari penggunaan energi tersebut sehingga dapat memicu efek rumah kaca. Adanya efek rumah kaca ini tentunya berhubungan langsung dengan isu pemanasan global saat ini. Pemanasan global telah menjadi isu di tingkat internasional. Para ilmuwan sepakat bahwa temperatur bumi meningkat, ancaman terhadap keberlangsungan hidup manusia pun makin terbuka. Penyebab utama pemanasan global adalah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan pembakaran sumber energi fosil oleh industri dan kendaraan bermotor. Konsumsi sumber energi fosil baik berupa minyak bumi atau batu bara semakin tinggi seiring dengan pesatnya perekonomian dunia. Konservasi energi merupakan langkah yang paling cepat dan tepat untuk mengatasi krisis energi. Kegiatan konservasi energi merupakan kegiatan yang sejalan dengan kebijakan energi bersih karena dengan melakukan konservasi energi, laju konsumsi energi dapat ditekan sehingga mengurangi emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Sesuai PP No. 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi, kebijakan mengenai konservasi sumber daya energi meliputi sumber daya energi yang diprioritaskan untuk diusahakan atau disediakan, jumlah sumber daya energi yang dapat diproduksi, dan pembatasan sumber daya energi yang dalam batas waktu tertentu tidak dapat diusahakan [1]. Sedangkan pada tahap pemanfaatan energi, pengguna energi wajib menggunakan energi secara hemat dan efisien. Selama ini kegiatan konservasi energi hanya bersifat sukarela dan himbauan, belum ada yang bersifat mandatori. Selain penggunaan sumber daya energi secara efisien, dunia terus mencari dan mengembangkan sumber daya energi alternatif dan terbarukan sebagai kandidat untuk mensubstitusi energi fosil tersebut. Sekitar 50% konsumsi energi nasional Indonesia selama ini berasal dari minyak bumi. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih sangat tergantung pada sumber energi tak terbarukan tersebut. Salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mengoptimalkan potensi energi terbarukan yang dimiliki Indonesia yaitu sebesar 311.232 MW dan baru 22% yang dimanfaatkan [2]. Beberapa sumber daya energi terbarukan yang ditawarkan masyarakat global sebagai solusi untuk permasalahan tersebut diantaranya adalah energi sel surya (solar cell), energi panas bumi (geothermal), energi angin, energi nuklir dan energi hidrogen atau yang lebih dikenal sebagai sel bahan bakar (fuel cell).

M.Ekaditya Albar / 1106154305

Berbagai pilihan sumber energi alternatif yang ada harus disesuaikan dengan kebutuhan dan sumber daya yang dimiliki oleh suatu negara. Namun, secara umum energi alternatif yang diinginkan adalah energi alternatif yang memenuhi kriteria-kriteria seperti: dapat digunakan berulang kali, ketersediaannya melimpah di alam, tidak berbahaya, aman, ramah lingkungan dan tidak menimbulkan berbagai penyakit. Untuk menemukan energi alternatif yang memenuhi semua kriteria tersebut tidaklah mudah. Dibutuhkan penelitian dan proses yang memakan waktu. Penelitian dan pengembangan teknologi ramah lingkungan terus diupayakan oleh berbagai negara di dunia, dan kini telah menghasilkan beberapa penemuan energi alternatif. Salah satu energi alternatif yang dapat memenuhi kriteria tersebut di atas adalah sel bahan bakar (fuel cell). Sel bahan bakar (fuel cell) adalah pembangkit berupa sel bahan bakar yang menghasilkan listrik melalui proses elektrokimia dengan mengombinasikan gas hidrogen (H 2) dan oksigen (O2). Sel bahan bakar (fuel cell) menggunakan gas hidrogen (H2) sebagai bahan bakarnya dan menghasilkan residu berupa uap air yang tidak mencemari udara. Gas hidrogen sendiri diperoleh dari berbagai cara yang cukup mudah dan murah, salah satunya dengan proses elektrolisis air. Pada proses pembuatan fuel cell, pelat bipolar merupakan salah satu bagian terpenting dari fuel cell yang memiliki biaya produksi tinggi. Pelat bipolar itu sendiri merupakan komponen utama dalam fuel cell yang berfungsi untuk mengumpulkan dan memindahkan elektron dari anoda menuju katoda.

Referensi: [1] Krisis Energi: Konservasi Energi Mutlak Diperlukan. http://wartapedia.com/lingkungan/konservasi/1546-krisis-energi--konservasi-energi-mutlakdiperlukan.html diakses pada tanggal 22 Februari 2012 pukul 15.13 WIB. [2] Energi Terbarukan, Solusi Krisis Energi Masa Depan http://www.bppt.go.id/index.php/lpnk/58-teknologi-material/433-energi-terbarukan-solusikrisis-energi-masa-depan diakses pada tanggal 22 Februari 2012 pukul 11.51 WIB.