LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL
   

PERATURAN MENTERI PERTANIAN : :

PEDOMAN UMUM
DESA MANDIRI PANGAN TA. 2012

KEMENTERIAN PERTANIAN JAKARTA, 2012 

DAFTAR ISI DAFTAR ISI ........................................................................................................ DAFTAR TABEL ................................................................................................ DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... i ii iii iv

Halaman 1 BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................ A. Latar Belakang .................................................................................................. 1 B. Ruang Lingkup .................................................................................................. 1 C. Pengertian ......................................................................................................... 2 BAB II. TUJUAN, SASARAN DAN INDIKATOR KEBERHASILAN A. Tujuan ............................................................................................................... B. Sasaran .............................................................................................................. C. Indikator Keberhasilan ..................................................................................... BAB III. KERANGKA PIKIR ......................................................................... A. Rancangan Program ......................................................................................... B. Pendekatan ....................................................................................................... C. Strategi ............................................................................................................. BAB IV. PELAKSANAAN KEGIATAN ........................................................ A. Perencanaan Kegiatan ...................................................................................... B. Kegiatan Umum Desa Mandiri Pangan ............................................................ C. Kegiatan Desa Mandiri Pangan Per Tahapan 1. Tahap Persiapan ......................................................................................... 2. Tahap Penumbuhan ................................................................................... 3. Tahap Pengembangan ................................................................................ 4. Tahap Kemandirian ................................................................................... BAB V. ORGANISASI DAN TATA KERJA ............................................... A. Organisasi ......................................................................................................... B. Tata Kerja ......................................................................................................... BAB VI. PEMBIAYAAN ................................................................................. A. Pengelolaan Dana APBN ................................................................................. B. Pemanfaatan Dana Bansos ............................................................................... C. Pertanggungjawaban ........................................................................................ BAB VII. PEMANTAUAN, EVALUASI, PENGENDALIAN, PENGAWASAN, DAN PELAPORAN ......................................... A. Pemantauan dan Evaluasi ................................................................................ B. Pengendalian dan Pengawasan ........................................................................ C. Pelaporan ......................................................................................................... BAB VIII. PENUTUP ......................................................................................... 4 4 4 4 5 5 6 7 8 8 8 9 9 12 13 13 16 16 18 21 21 23 23

25 25 28 32 33
i

DAFTAR TABEL Halaman 1. Ringkasan Kegiatan Desa Mandiri Pangan Tahap Persiapan, Tahap Penumbuhan, Tahap Pengembangan, dan Tahap Kemandirian ......................... 2. Penilaian Risiko dan Kegiatan Pengendalian .....................................................

14 31

ii

............................. 21 Alur Penyaluran Dana Bansos Usaha Produktif ............... 17 Pengorganisasian Desa Mandiri Pangan ................ 3...................................... 4................ iii ........................................DAFTAR GAMBAR Halaman 6 Kerangka Pikir Kegiatan Desa Mandiri Pangan ................. 9 Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Demapan ............ 1....................... 2........................

............................................................ iv ................................. 37 Perjanjian Kerjasama .................... 43 1................... 4........... 6................... 35 Rekapitulasi RUK/RUB ......................................DAFTAR LAMPIRAN Halaman RUK/RUB ............................ 36 Kuitansi Dana Bantuan Sosial .. 2006-2012 .... 38 Berita Acara Serah Terima Pengelolaan Paket Bansos Usah Produktif ... 5............................................. 42 Lokasi Pelaksana Desa Mandiri Pangan TA....................................................... 3.................... 2............................................

penumbuhan 838 desa. penguatan kelembagaan masyarakat dan pemerintah desa. Pada tahun 2012 dialokasikan 563 desa baru. pada 33 provinsi. peningkatan ketersediaan pangan. Sampai dengan 2011 kegiatan Demapan telah dilaksanakan di 33 provinsi. sehingga dapat memenuhi kecukupan gizi rumah tangga. yaitu: (1) membangun ekonomi berbasis pertanian dan perdesaan untuk menyediakan lapangan kerja dan pendapatan. pengembangan. dan tidak bertentangan dengan keyakinan masyarakat.BAB I PENDAHULUAN A. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat miskin.851 desa. penumbuhan. 399 kabupaten/kota pada 2. sehingga secara komulatif. efisien. Latar Belakang Pembangunan ketahanan pangan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil dan merata berdasarkan kemandirian. jumlah desa yang dibina menjadi 3. Strategi yang digunakan untuk pemberdayaan masyarakat miskin dilakukan melalui jalur ganda/twin track strategy. Ruang Lingkup Kegiatan Demapan dilaksanakan dalam empat tahap: persiapan. serta mampu untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam secara efektif. pengembangan sistem ketahanan pangan. pengembangan 829 desa kemandirian 359 desa. mencari alternatif peluang dan pemecahan masalah. dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat miskin dan rawan pangan di perdesaan. Sejak tahun 2006. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat desa dalam pengembangan usaha produktif berbasis sumber daya lokal. dan (2) memenuhi pangan bagi kelompok masyarakat miskin di daerah rawan pangan melalui pemberdayaan dan pemberian bantuan langsung. yaitu untuk mengurangi angka kemiskinan dan kelaparan di dunia sampai setengahnya di tahun 2015. dan kemandirian. Badan Ketahanan Pangan melaksanakan kedua strategi tersebut melalui Kegiatan Desa Mandiri Pangan (Demapan).414 desa. yang akhirnya berdampak terhadap penurunan kerawanan pangan dan gizi masyarakat miskin di perdesaan. dan berkelanjutan. sejalan dengan salah satu tujuan Millenium Development Goals (MDGs). peningkatan daya beli dan akses pangan rumah tangga. Upaya Pembangunan ketahanan pangan dilakukan secara bertahap melalui proses pemberdayaan masyarakat untuk mengenali potensi dan kemampuannya. B. dan peningkatan koordinasi lintas 1 . Perwujudan pemberdayaan masyarakat dalam rangka kemandirian pangan. di 410 kabupaten/kota. dan 825 desa mandiri. terdiri dari tahap: persiapan 563 desa .

pengolahan atau pembuatan makanan dan minuman.subsektor dan sektor untuk mendukung pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana perdesaan. 3. diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia termasuk bahan tambahan pangan. Desa rawan pangan adalah kondisi suatu daerah yang tingkat ketersediaan. dan subsistem konsumsi pangan dengan memanfaatkan sumberdaya setempat secara berkelanjutan. 7. Pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses dimana masyarakat atau mereka yang kurang beruntung dalam sumberdaya pembangunan didorong untuk mandiri dan mengembangkan kehidupan sendiri. dapat diterima secara kultural. 6. berwewenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. Desa Mandiri Pangan adalah desa/kelurahan yang masyarakatnya mempunyai kemampuan untuk mewujudkan ketahanan pangan dan gizi melalui pengembangan subsistem ketersediaan. Ketahanan pangan masyarakat adalah kondisi dimana seluruh anggota masyarakat (rumah tangga/individu) mendapatkan pangan yang aman. Ketahanan pangan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup. dilihat dari bekerjanya subsistem ketersediaan. Mandiri pangan diartikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan yang dapat dicukupi oleh kemampuan sumberdaya yang dimiliki. C. bergizi. merata dan terjangkau. subsistem distribusi. gejolak. dan/atau keamanan pangan sebagian masyarakat dan rumah tangganya tidak cukup untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan atau desa dengan jumlah KK Miskin > 30%. 4. Dalam keadaan 2 . baik jumlah maupun mutunya. 9. 8. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air. subsistem distribusi dan subsistem konsumsi pangan. akses. Kemandirian adalah sikap kesadaran/kemampuan untuk mengembalikan keadaan ke normal setelah terjadinya suatu tekanan. 2. baik yang diolah maupun tidak. Desa yang disebut dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 diartikan sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah. atau bencana. berdasarkan asalusul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. aman. cukup. 5. secara berkelanjutan dengan memaksimalkan kemandirian masyarakat dan keadilan sosial (community food security coalition/ CFSC). bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan. Pengertian 1.

Lembaga Keuangan Desa (LKD) adalah lembaga yang ditumbuhkan oleh kelompok. hewan ternak). yang beranggotakan sub-sub kelompok afinitas untuk mengelola keuangan sebagai modal usaha produktif perdesaan 15. perabotan rumah tangga. 12. dimana tidak terjadi tekanan. maka kemandirian dapat diartikan sebagai kesadaran/kemampuan untuk meningkatkan keadaan masa depannya menjadi lebih baik tanpa bergantung pada orang lain. konsumsi non pangan.normal. asupan gizi. 11. sarana transportasi. 13. keamanan. sumber penerangan. 3 . Rumah Tangga Miskin (RTM) adalah rumah tangga sasaran yang ditetapkan melalui survei DDRT dengan 13 indikator kemiskinan: tingkat pendidikan. sumber air minum. bencana atau gejolak. kondisi tempat tinggal. 10. dan porsi pangan antar anggota rumah tangga. jenis pekerjaan dan tingkat pendapatan. modal (lahan. Data Dasar Rumah Tangga (DDRT) adalah kegiatan pendataan lengkap (Sensus) rumah tangga untuk memperoleh gambaran karakteristik rumah tangga yang berada di dalamnya. Kemandirian pangan dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 2009 adalah kemampuan produksi pangan dalam negeri yang didukung kelembagaan ketahanan pangan yang mampu menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup di tingkat rumah tangga. baik dalam jumlah. konsumsi pangan. tabungan. luas tempat tinggal. Tim Pangan Desa (TPD) adalah lembaga yang ditumbuhkan oleh masyarakat sebagai penggerak pembangunan ketahanan pangan di perdesaan. maupun harga yang terjangkau. Kelompok afinitas adalah kelompok yang tumbuh atas dasar ikatan kebersamaan dan kecocokan antar anggota yang mempunyai kesamaan visi dan misi dengan memperhatikan sosial budaya setempat. yang didukung oleh sumber-sumber pangan yang beragam sesuai dengan keragaman lokal. 14. mutu.

3. c. b. Sasaran Sasaran kegiatan Demapan adalah Rumah tangga miskin di desa rawan pangan untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan masyarakat. 2. dan akses pangan masyarakat 4. Berperannya lembaga permodalan. Meningkatnya usaha produktif. Terbentuknya kelompok usaha produktif. Outcome a. Indikator Keberhasilan Mengingat sasaran akhir kegiatan Demapan untuk mewujudkan kemandirian pangan masyarakat miskin di desa rawan pangan. Adapun tujuan kegiatan Demapan untuk meningkatkan keberdayaan masyarakat miskin perdesaan dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki atau dikuasainya secara optimal. Output a. C. Tersalurnya dana Bansos untuk usaha produktif. Tujuan Pedoman Umum Kegiatan Demapan ini disusun sebagai acuan bagi aparat pusat dan daerah dalam melaksanakan kegiatan Desa Mandiri Pangan. Impact Terwujudnya ketahanan pangan dan gizi masyarakat 4 . b. Benefit Meningkatnya pendapatan. DAN INDIKATOR KEBERHASILAN A. c.BAB II TUJUAN. Terbentuknya kelompok-kelompok afinitas. B. Terbentuknya Lembaga Keuangan Desa (LKD). daya beli. maka indikator keberhasilannya berada pada perwujudan kemandirian pangan tingkat desa dan masyarakat sebagai berikut: 1. dalam mencapai kemandirian pangan rumah tangga dan masyarakat. SASARAN.

Komponen kegiatan Demapan meliputi: (1) pemberdayaan masyarakat. distribusi. sosial dan ekonomi. teknologi. Sehingga diharapkan terdapat kemajuan sumber pendapatan. Sehingga diharapkan terjadi perubahan dinamika masyarakat dalam perencanaan dan berkelompok untuk menanggulangi kerawanan pangan di desanya. sumber daya manusia. dan kelembagaan pelayanan di perdesaan. serta menjamin stabilisasi pasokan. kapasitas kelembagaan masyarakat. serta koordinasi program lintas subsektor dan sektor sudah dirintis untuk rencana pembangunan sarana prasarana perdesaan yang mendukung ketahanan pangan. gerakan tabungan masyarakat.BAB III KERANGKA PIKIR A. serta ketahanan pangan. Upaya peningkatan ketahanan pangan masyarakat melalui berbagai fasilitasi tersebut. Rancangan Program Kegiatan Demapan merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat miskin di desa rawan pangan. (2) pendampingan. Melalui fasilitasi pemerintah. kelembagaan dibangun untuk mampu mengoptimalkan input: sumber daya alam. peningkatan daya beli.dan (3) tersalurnya dana Bansos untuk usaha produktif. dan (4) integrasi program sub sektor dan lintas sektor dalam menjalin dukungan pengembangan sarana prasarana perdesaan. diharapkan dapat mencapai output yang diinginkan. Sasaran pemberdayaan ditujukan untuk mengembangkan kelembagaan aparat. dan konsumsi pangan sudah bekerja. peningkatan ketahanan pangan 5 . (3) pengembangan Sistem Ketahanan Pangan. sistem ketahanan pangan dalam aspek ketersediaan. melalui: (1) subsistem ketersediaan pangan dalam peningkatan produksi dan cadangan pangan masyarakat. antara lain: (1) terbentuknya kelompokkelompok afinitas. memerlukan dukungan koordinasi dan integrasi subsektor dan lintas sektor. kelembagaan masyarakat. akses teknologi rendah. dan (3) subsistem konsumsi untuk peningkatan kualitas pangan dan pengembangan diversifikasi pangan. dengan karakteristik: kualitas sumberdaya masyarakat rendah. kapasitas individu. (2) penguatan kelembagaan. Bekerjanya mekanisme tersebut. dan infrastruktur perdesaan terbatas. dan kearifan lokal untuk menggerakan sistem ketahanan pangan. sumber daya modal terbatas. dana. serta penumbuhan kelembagaan di desa yang dikelola oleh masyarakat untuk penguatan modal dan sosial. peningkatan daya beli. dan (3) peningkatan akses untuk pengembangan kerjasama partisipasi inklusif. Proses pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui: (1) pelatihan. (2) subsistem distribusi yang menjamin kemudahan akses fisik. (2) terbentuknya (LKD). posyandu bersama kader gizi dan PKK sudah aktif. yang diimplementasikan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat miskin dan pembangunan sarana prasarana perdesaan. Sehingga diharapkan LKD sudah berfungsi sebagai layanan modal.

Kelembagaan Masyarakat c. Pendekatan Pendekatan kegiatan dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat miskin yang terpilih. Kelembagaan Pelayanan Output 1. Berkembangnya modal usaha Impact Terwujudnya ketahanan pangan dan gizi masyarakat Gambar 1. serta peningkatan keterampilan dan pengetahuan masyarakat. Kerangka Pikir Kegiatan Desa Mandiri Pangan B.rumah tangga. daya beli dan akses pangan 2. irigasi desa.Peningkatan Produksi . sehingga mampu mengatasi masalahnya dan menolong dirinya sendiri.Kemasyarakatan Integrasi dengan Program Pemberdayaan lain (PNPM. PUAP. yang diarahkan untuk mengubah perilaku masyarakat desa agar dapat mengenali potensi dan sumberdaya yang dimiliki. 3.Pendidikan .akses fisik . 2.Ekonomi (jalan desa. dll) .Terbentuknya kelompok usaha produktif 2. listrik. Meningkatnya usaha produktif Benefit 1.stabilisasi pasokan Konsumsi ‐ kualitas pangan ‐ diversisifikasi pangan  Outcome Dukungan pengembangan sarana dan prasarana . Terbentuknya kelompokkelompok afinitas. PELATIHAN dan PENDAMPINGAN • • • • • Pengembangan kerjasama dan partisipasi inklusif Pengembangan kapasitas individu Pengembangan kapasitas kelembagaan masyarakat Pengembangan sosial dan ekonomi Pengembangan ketahanan pangan PENGUATAN KELEMBAGAAN a. Kelembagaan Aparat b.Kesehatan . transportasi. melalui: 6 . Meningkatnya pendapatan. Berperannya lembaga permodalan 3. Tersalurnya Bansos untuk usaha produktif PENGUATAN SISTEM KETAHANAN PANGAN Input SDM SDA Dana Teknologi Kearifan Lokal Ketersediaan . Terbentuknya LKD. air bersih. dll) 1. Desa Siaga. peningakatan pola pikir masyarakat.daya beli .Cadangan Pangan Distribusi/ Akses .

4. melalui: a. Melakukan konsolidasi. Mengembangkan kerjasama dan partisipasi inklusif. 3. dan sinkronisasi kepada instansi terkait. dalam rangka 7 . Disamping melalui pemberdayaan masyarakat. 2. TPD sebagai penggerak dan pengendali pembangunan ketahanan pangan tingkat desa. 4. integrasi. b. Kelompok afinitas menjadi Gabungan Usaha Kelompok untuk meningkatkan skala usaha dan ekonomi. strategi yang ditempuh dalam rangka keberlanjutan kegiatan (Exit Strategy) adalah: 1. kabupaten/kota. 5. Penyediaan alokasi dana APBD provinsi maupun kabupaten/kota. subsistem distribusi. Menjalin kemitraan dengan lembaga-lembaga permodalan memperkuat usaha dan meningkatkan skala ekonomi. dan LKD sebagai layanan usaha produktif perdesaan. Penguatan kelembagaan masyarakat di perdesaan antara lain: meningkatkan kemampuan: kelompok afinitas sebagai pelaku dan pengembang usaha produktif. b. dukungan sarana prasarana sangat dibutuhkan untuk peningkatan aksessibilitas masyarakat dalam mendukung ketahanan pangan. Pemerintah daerah melanjutkan pembinaan terhadap desa yang sudah selesai tahap kemandirian. Memberikan pelatihan kepada kelompok afinitas . 2. 3. dan subsistem konsumsi. Menerbitkan regulasi melalui peraturan Gubernur dan Bupati/Walikota agar desa tersebut dibina untuk mengembangkan usaha. baik pusat. Sementara itu. provinsi. LKD menjadi Badan Usaha Milik Desa. C. Strategi Strategi yang ditempuh untuk mencapai tujuan kegiatan adalah: 1. Memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang sistem ketahanan pangan. Mendorong terbentuknya kelembagaan layanan permodalan. Penguatan sistem ketahanan pangan diarahkan untuk membangun sistem ketahanan pangan masyarakat yang berkelanjutan melalui pengembangan subsistem ketersediaan.a.

pendamping. Camat bersama Koordinator Pendamping melakukan koordinasi bersama Pendamping/Penyuluh desa setempat. provinsi. sosialisasi kegiatan. Perencanaan di Kabupaten/Kota. 6. POPT. evaluasi dan pelaporan. 8 . mengkoordinasikan pelaksanaan program/kegiatan sub sektor dan lintas sektor dengan mengintegrasikan hasil perencanaan tingkat desa yang disampaikan dalam Musrenbang Kabupaten. 5. Perencanaan di Desa. 3. pencairan dan pemanfaatan dana Bansos. Kegiatan Umum Desa Mandiri Pangan Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam Kegiatan Demapan. untuk menyusun penguatan dan pengembangan usaha kelompok kedalam Rencana Kegiatan Kelompok (RKK). 1. 2. Perencanaan di Kecamatan. Perencanaan di Pusat. TPD. pelatihan. Perencanaan program/kegiatan yang dilakukan pusat. Bupati/Walikota sebagai Ketua DKP Kabupaten/Kota. kabupaten. B. Tim Penggerak PKK Kecamatan dan Koordinator BPP di Kecamatan dengan mengintegrasikan hasil Musrenbangdes.BAB IV PELAKSANAAN KEGIATAN A. mengkoordinasikan pelaksanaan program/kegiatan sub sektor dan lintas sektor dengan mengintegrasikan hasil perencanaan provinsi. serta monitoring. meliputi tahap: persiapan. yang melibatkan: masyarakat. TPD. dan pusat. 4. KCD. dan tokoh masyarakat secara partisipatif. Kepala Desa mengeintegrasikan program yang telah disusun di desa dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes). mengkoordinasikan pelaksanaan program/kegiatan sub sektor dan lintas sektor dengan mengintegrasikan hasil perencanaan kabupaten. dimaksudkan untuk pembangunan ketahanan pangan wilayah dan menurunkan angka kemiskinan di daerah rawan pangan. dan kemandirian. dilakukan secara partisipatif. Perencanaan di Kelompok. pengembangan. desa. Kegiatan yang dilakukan adalah: seleksi lokasi desa dan penyusunan data dasar desa. Perencanaan Kegiatan Perencanaan Kegiatan Demapan dilakukan secara berjenjang dari: kelompok masyarakat. penumbuhan. penumbuhan kelembagaan. Gubernur sebagai Ketua DKP Provinsi. LKD. Perencanaan di Provinsi. Menteri Pertanian sebagai Ketua Harian DKP. dengan melibatkan seluruh anggota kelompok yang difasilitasi pendamping. pendampingan. dirancang selama empat tahun dalam empat tahap.

Dukungan lintas sektor untuk dukungan pembangunan sarana dan prasarana perdesaan. penyusunan rencana pembangunan wilayah desa (RPWD). pemeliharaan sarana dan prasarana perdesaan. (2) memiliki unit kerja ketahanan pangan. pendampingan. dan penguatan dasa wisma dalam penganekaragaman konsumsi. Penetapan TPD. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Demapan 1. Pendampingan. pengembangan akses pangan. TAHAPAN KEGIATAN Seleksi Lokasi Sasaran. Penyaluran Bansos.C. a. Penetapan Koordinator Pendamping. dengan syarat: (1) merupakan kabupaten rentan pangan. pengembangan jaringan pemasaran. Pengembangan sistem ketahanan pangan untuk pengembangan diversifikasi produksi. Gambar 2. Pelatihan. pemberdayaan kelompok afinitas. penumbuhan LKD. penumbuhan LKD. Pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan keterampilan dan akses permodalan. penyusunan data dasar desa. dengan kegiatan mempersiapkan aparat pelaksana dan masyarakat melalui: seleksi lokasi sasaran. Persiapan Penumbuhan • • • Pengembangan • • • • Kemandirian • • Pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan layanan dan jaringan usaha. Seleksi Lokasi Sasaran 1) Kabupaten/Kota. Pengembangan sistem ketahanan pangan dengan penumbuhan cadangan pangan dan pemanfaatan sumberdaya pangan. penetapan kelompok. dan penganekaragaman konsumsi.Penyusunan Data Dasar Desa. Tahap Persiapan Tahap persiapan dilaksanakan pada tahun pertama kegiatan Demapan. Pengembangan sistem ketahanan pangan untuk pembangunan sarana cadangan pangan. penyaluran Bansos. Penetapan Pendamping. Pemanfaatan. perdesaan. Kegiatan Desa Mandiri Pangan Per Tahapan Kegiatan Demapan dilakukan selama empat tahap. peningkatan aksessibilitas masyarakat. sosialisasi kegiatan. • • Pemberdayaan masyarakat melalui: pelatihan. pembentukan TPD. pelatihan-pelatihan. Penetapan kelompok. dan penguatan kelembagaan. (3) terbentuk Dewan Ketahanan Pangan 9 . dengan rincian seperti pada Gambar 2. Penyusunan RPWD. Koordinasi lintas sektor untuk dukungan sarana dan prasarana perdesaan. Sosialisasi Kegiatan.

c. profil kelompok. dan (4) adanya partisipasi masyarakat/Pemerintah Daerah setempat untuk pengentasan kemiskinan. Penetapan Tim Pangan Desa (TPD) 1) TPD adalah lembaga yang ditumbuhkan oleh masyarakat sebagai penggerak pembangunan ketahanan pangan di perdesaan. yang dibina melalui kegiatan Desa Mandiri Pangan. (3) aparat desa dan masyarakat bersedia menerima dan mendukung kegiatan Demapan. Desa yang telah terpilih ditetapkan oleh Kepala Badan/Dinas/Kantor/Unit kerja yang menangani Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota yang dikuatkan melalui Surat Keputusan Bupati/Walikota. penggerak PKK. d. (2) memiliki potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang belum dikembangkan. dengan syarat: (1) desa rawan pangan yang memiliki penduduk lebih dari 30 persen RTM berdasarkan Survei DDRT. f. b. 2) Kecamatan. Jumlah anggota TPD tahun 2012 terdiri dari unsur-unsur pewakilan: aparat desa. Penetapan Pendamping Pendamping ditetapkan dengan SK Kepala Badan/Dinas/Kantor/Unit kerja yang menangani Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota. Penetapan Kelompok Afinitas Kelompok afinitas adalah anggota kelompok yang diikat dengan rasa kesatuan dan kebersamaan oleh jaringan persahabatan dan keluarga untuk melaksanakan kegiatankegiatan usaha ekonomi secara bersama-sama. pemetaan potensi wilayah desa lokasi kegiatan. Anggota kelompok afinitas adalah RTM hasil survey DDRT. Kelompok afinitas ditetapkan oleh Kepala Badan/Dinas/Kantor/ Unit kerja yang menangani ketahanan pangan Kabupaten/Kota. Penetapan Koordinator Pendamping Koordinator pendamping ada di provinsi dan kabupaten/kota. e. yang ditetapkan dengan SK Kepala Badan/Dinas/Kantor/Unit kerja yang menangani Ketahanan Pangan. KUD. dan profil desa. tokoh 10 . Penyusunan Data Dasar Desa Penyusunan data dasar desa berupa karakteristik rumah tangga. 3) Desa. dan (2) memiliki SDM aparat (penyuluh) yang dapat mendukung pelaksanaan program. dengan syarat: (1) adanya kelembagaan ekonomi dalam mendukung pengembangan ketahanan pangan (pasar.Kabupaten/Kota. dan lainnya).

Pengurus LKD berasal dari masyarakat setempat dan merupakan perwakilan dari sub-sub kelompok afinitas yang memiliki kemampuan dalam pengelolaan keuangan dan administrasi. i. Sosialisasi Kegiatan Demapan Sosialisasi kegiatan dilaksanakan di tingkat pusat. serta memberikan advokasi kepada kepala desa. (3) mengembangkan dinamika kelompok afinitas. Pendampingan 1) Tenaga pendamping adalah petugas/penyuluh yang bertanggungjawab untuk melakukan pendampingan dan pemberdayaan masyarakat di lokasi Demapan. 2) Tugas TPD: mengarustamakan pengentasan kemiskinan dan pengurangan kerawanan pangan di tingkat desa. (d) membina kelompok-kelompok afinitas dalam merencanakan usaha produktif. g. LKD ditetapkan oleh Kepala Badan/Dinas/Kantor/Unit kerja yang menangani Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota b) Tugas LKD: mengelola keuangan sebagai modal usaha produktif kelompok afinitas menjadi lembaga pelayanan usaha produktif masyarakat. kabupaten/kota. 2) Tugas Pendamping: (1) menyusun rencana kerja pendampingan. Penumbuhan LKD a) LKD adalah lembaga yang ditumbuhkan oleh kelompok bersama masyarakat. j.masyarakat. provinsi. dan tokoh masyarakat. (2) menumbuhkan dan mengembangkan kelompok-kelompok afinitas dan kelompok penyedia protein hewani. 11 . yang beranggotakan sub-sub kelompok afinitas untuk mengelola keuangan sebagai modal usaha produktif perdesaan. dan desa. Sosialisasi dilakukan oleh Badan/Dinas/Kantor/ Unit Kerja Ketahanan Pangan di wilayah masing-masing. perwakilan KK Miskin kelompok afinitas. h. Penyusunan Rencana Pembangunan Wilayah Desa (RPWD): 1) RPWD merupakan usulan prioritas kegiatan yang disusun oleh kelompok masyarakat secara parsitipatif bersama wakil-wakil kelompok afinitas. dan (4) menumbuhkan lembaga layanan permodalan bersama-sama dengan TPD dan kelompok-kelompok afinitas. TPD ditetapkan oleh Kepala Badan/Dinas/Kantor/Unit kerja yang menangani Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota.

Pemberdayaan Masyarakat: Dilakukan melalui pendampingan. pasar. 1) Pendampingan dilakukan untuk: mengembangkan dinamika kelompok afinitas dan menumbuhkembangkan usaha produktif. 2) Dana Bansos dikelola oleh LKD untuk pengembangan usaha produktif kelompok afinitas. Pelatihan Untuk mempersiapkan pelaksanaan Kegiatan Demapan dilaksanakan pelatihan dasar dan pelatihan teknis. kelompok afinitas. dan penyuluhan. sarana prasarana. k. Penyaluran Dana Bansos untuk Usaha Produktif: 1) Dana Bansos untuk Usaha Produktif merupakan dana stimulan untuk mendukung usaha kelompok-kelompok afinitas. pengembangan Sistem Ketahanan Pangan. yang dapat memberikan peluang dan kesempatan berusaha kepada masyarakat melalui proses pendampingan. a. dan dukungan pengembangan sarana dan prasarana. pembinaan. 2) Pelatihan-pelatihan dilakukan untuk meningkatkan kapasitas SDM kelompok afinitas bidang administrasi dan pengelolaan usaha. 12 . 4) Penguatan kelembagaan dilakukan pada Kelompok Kerja (Pokja) Demapan. pengurus LKD dan TPD. Sedangkan pelatihan teknis kepada kelompok afinitas. dan lainnya dilakukan melalui kerjasama dengan stakeholder terkait. yang penggunaannya didasarkan pada keputusan bersama seluruh anggota kelompok afinitas.2) Usulan rencana kegiatan yang telah disepakati di forum RPWD ditetapkan sebagai kegiatan desa. l. yang memiliki kemauan sendiri untuk meningkatkan kemampuan mengelola usaha produktif. permodalan. pelatihan-pelatihan. teknologi. peningkatan aksesibilitas. aparat kabupaten/kecamatan. disampaikan kepada kecamatan. pamong desa. 3) Peningkatan aksesibilitas masyarakat di daerah rawan pangan. Tahap Penumbuhan Kegiatan yang dilakukan pada Tahap penumbuhan diantaraya: pemberdayaan masyarakat. 2. dan kelompok penyedia protein hewani. dan penguatan kelembagaan. TPD. meliputi: akses informasi. Pelatihan dasar kepada: pendamping/pembina kemitraan.

Tahap Kemandirian Tahap Kemandirian ditandai dengan: (a) adanya perubahan pola pikir. bergizi seimbang. 3) Pada subsistem konsumsi. pemanfaatan pekarangan. peningkatan daya beli. gerakan tabungan masyarakat. (e) bekerjanya sistem ketahanan pangan yang ditandai ketersediaan dan kecukupan pangan. serta pengembangan fungsi kelembagaan layanan modal. kestabilan harga pangan. dan aman. pemasaran. beragam. Tingkat kemandirian dicapai dengan berfungsinya sarana fisik yang dibangun secara partisipatif oleh masyarakat dan fasilitasi pemerintah dengan menggunakan teknologi 13 . (c) berfungsinya cadangan pangan masyarakat. serta konsumsi pangan yang cukup. Pada tahap ini sudah terdapat kemajuan sumber pendapatan. Dukungan Pengembangan Sarana dan Prasarana Dairahkan untuk perbaikan sarana. dan aman sampai tingkat rumah tangga. peningkatan ketahanan pangan rumah tangga. pendidikan. sarana usahatani. dan pengetahuan masyarakat. dilakukan untuk peningkatan penganekaragaman pangan berbasis sumberdaya lokal. dan perbaikan usaha kelompok afinitas. Kemandirian pangan tingkat desa memerlukan dukungan program lintas sektor untuk pembangunan wilayah perdesaan dan pembangunan sarana prasarana perdesaan. 3. prasarana. dan pemasaran pertanian. dan sistem informasi harga pangan oleh anggota kelompok di tingkat desa. srta pengembangan teknologi pengolahan dan produk pangan olahan. dan fasilitasi yang dilaksanakan pemerintah untuk pengembangan Demapan melalui integrasi program kerja lintas sektor. c. permodalan. dan lainnya. akses produksi. kesehatan. aktivitas. 2) Pada subsistem distribusi. dilakukan melalui penumbuhan usaha-usaha perdagangan. peningkatan keterampilan.b. Pengembangan Sistem Ketahanan Pangan: 1) Pada subsistem ketersediaan pangan dilakukan untuk peningkatan produksi dan pengembangan cadangan pangan masyarakat. perbaikan pola konsumsi keluarga melalui pembinaan dasa wisma. berimbang. (d) berfungsinya lembaga-lembaga layanan kesehatan. peningaktan pola pikir masyarakat. 4. (b) adanya perubahan pola konsumsi pangan yang beragam. bergizi. kemudahan akses distribusi pangan wilayah. Tahap Pengembangan Tahap pengembangan dilaksankan untuk: penguatan dan pengembangan dinamika serta usaha produktif kelompok afinitas.

dan dikuatkan SK Bupati/Walikota BKP Melalui SK Kepala Badan Kabupaten/Kota BKP Melalui SK Kepala Badan Provinsi dan Kabupaten/Kota Pendamping dan TPD BKP Melalui SK Kepala Badan Kabupaten/Kota BKP Melalui SK Kepala Badan Kabupaten/Kota Provinsi.Kabupaten/Kota. Penyusunan RPWD 11. V V V V V V V V V V V V Sosialisasi Kegiatan DMP 9.tepat guna sesuai kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat dan desa sekitarnya. 4. selanjutnya akan mengembangkan Gerakan Kemandirian Pangan. Pelatihan 12. Tahap Pengembangan. Penetapan Pendamping Penetapan Koordinator Pendamping Penyusunan data dasar desa Penetapan Kelompok Penetapan TPD V V 5. Aparat Desa Pendamping. Tahap Penumbuhan. dimana desa-desa yang telah mandiri berperan sebagai desa inti dan membina desa-desa sekitarnya. Pembina provinsi. Pendamping. kabupaten/kota Kelompok afinitas Kelompok afinitas 3. 2. Pembuatan Rekening Kelompok dan Pengajuan RUK oleh Kelompok 14. Penumbuhan dan penetapan LKD 10. 7.Desa BKP Melalui SK Kepala Badan Kabupaten/Kota TPD. 8. 6. Transfer Dana BANSOS ke Rekening Kelompok V SK Kepala Badan Kabupaten/ Kota 14 . KEGIATAN Survey DDRT untuk menetapkan desa baru Penetapan Desa I V V TAHAPAN II III IV KETERANGAN Petugas Kab/Kota yg sudah dilatih BKP Melalui SK Kepala Badan. Tabel 1. Desa-desa yang sudah melalui tahap kemandirian dan mamasuki tahun kelima. Ringkasan Kegiatan Desa Mandiri Pangan Tahap Persiapan. No 1. dan Tahap Kemandirian. Pelaksanaan kegiatan Gerakan Kemandirian Pangan diatur dalam Pedoman Teknis Gerakan. Penyusunan RUK 13.

Pengajuan RUK dari Sub-Sub Kelompok ke LKD atas Rekomendasi Pendamping dan TPD 18. Pengembangan sistem ketahanan pangan 24. Evaluasi dan Monitoring 26. Evaluasi partisipatif 25.No KEGIATAN 15. TPD. kabupaten/kota. LKD V V V V V V V V V V V V V V V V 15 . Provinsi. Laporan Kegiatan TAHAPAN I II III IV V KETERANGAN BKP Provinsi/Kabupaten/Kota V KPPN/BKP Prov/Kab/Kota V Kelompok. Pemanfaatan Dana BANSOS oleh sub Kelompok Afinitas 20. pendamping. Pengembangan jaringan usaha 23.pendamping Provinsi. Pencairan Dana BANSOS Ke Kelompok /LKD atas Rekomendasi Pendamping dan TPD 17. Pendamping. Koordinasi dan kerjasama lintas sektor 21.Kabupaten/Kota V Kelompok afinitas V V V V Pokja Dewa Ketahanan Pangan LKD Kelompok dan LKD TPD dan Aparat tingkat provinsi dan kabupaten/kota Kelompok afinitas Pusat.TPD V BKP Provinsi. Mendistribusikan Dana BANSOS Ke sub Kelompok 19. Penyusunan RUK oleh sub-sub Kelompok Afinitas 16. Pengembangan modal 22. kabupaten/kota.

6. maka sistem pengorganisasi kegiatan Demapan (Gambar 3) melibatkan lintas subsektor dan sektor terkait. Kepala Desa sebagai penanggung jawab operasional kegiatan di tingkat desa wilayah kerjanya. yang ditunjuk oleh Kepada Badan/Dinas/Kantor/Unit Kerja Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota. baik di tingkat pusat. dan kabupaten sebagai penanggung jawab kegiatan. Camat sebagai koordinator desa pelaksana kegiatan di wilayah kerjanya. 16 . provinsi. provinsi. Koordinator pendamping diupayakan mendapatkan honor dari APBD I/APBD II. DKP tingkat pusat. Badan/Dinas/Kantor/Unit Kerja Ketahanan Pangan pusat. dan kabupaten sebagai pelaksana kegiatan Demapan. provinsi. Organisasi Mengingat keberhasilan Kegiatan Demapan sangat ditentukan oleh keterpaduan program/kegiatan dari berbagai instansi. Koordinator Pendamping merupakan aparat kabupaten/provinsi yang dapat melakukan fungsi sebagai koorditor pendampingan. dengan fungsi dan peran masing-masing lembaga sebagai berikut: 1. TPD sebagai penggerak pembangunan ketahanan pangan di desa. dan maupun kabupaten dibawah koordinasi DKP. 3. provinsi. 2. 4.BAB V ORGANISASI DAN TATA KERJA A. 7. 5. dan kabupaten sebagai wadah koordinasi pelaksana kegiatan. Pokja Demapan yang berada dalam wadah DKP pusat.

PELAKSANA KEGIATAN PENANGGUNG JAWAB KEGIATAN KOMANDO Pokja Kepala BKP Menteri Pertanian Pokja Kepala Badan/Kantor/ Dinas/Unit Kerja Ketahanan Pangan Tingkat Provinsi Gubernur Pokja Kepala Badan/Kantor/ Dinas/Unit Kerja Ketahanan Pangan Tingkat Kabupaten/ Kota Bupati/ Walikota Koordinator Pendamping Provinsi dan Kabupaten/Kota 1. 3. 4. Camat : BPP KCD/POPT TPDDemapan+Kades LKD desa sasaran Pengelola Lumbung Pengelola P2KP Pendamping Tim Pangan Desa Penerima Manfaat Kelompok-kelompok Afinitas Keterangan: : Hubungan koordinasi : Hubungan integrasi dari instansi terkait : Hubungan komando : Hubungan Pembinaan Gambar 3. Pengorganisasian Desa Mandiri Pangan 17 . 6. 5. 2.

dan integrasi berbagai kegiatan pemberdayaan di Demapan. sinkronisasi. d. PNPM. 18 . dan masalah ketersediaan. d. dan pusat. Tingkat Desa Kepala Desa sebagai penanggung jawab kegiatan di desa. g. bertugas untuk mengkoordinasikan TPD. Melaksanakan sosialisasi di wilayah kecamatan dan desa. pemanfaatan pekarangan. provinsi. pendampingan serta pembinaan Demapan Regular. kelompok masyarakat. Merumuskan pengembangan TPD. b. 1. dan pendamping di desa. konsumsi. akses. Melakukan identifikasi dan pemecahan masalah pelaksanaan kegiatan. c. dan situasi gizi masyarakat.B. dan pelaksanaan kegiatan LKD. Tata Kerja Kegiatan Demapan dirumuskan oleh kelompok kerja yang berfungsi sebagai simpul koordinasi untuk memperlancar pelaksanaan program secara berjenjang di tingkat desa. c.Tugas dan Fungsi Pokja Kecamatan: a. 2. pemanfaatan pangan. Menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan kepada instansi pengelola Kegiatan Demapan di kabupaten. Melakukan: koordinasi. potensi. sinkronisasi. dll. integrasi dan perencanaan. e. Memberikan masukan untuk integrasi berbagai program/kegiatan pembangunan di perdesaan dalam mewujudkan ketahanan pangan masyarakat. Mengenali kondisi. Tingkat Kecamatan Pokja Kecamatan diketuai oleh Camat sebagai koordinator pelaksana kegiatan Demapan di wilayah kerjanya. f. PUAP. Mengadakan pertemuan TPD minimal satu bulan sekali. Melakukan pembinaan. kabupaten/kota. Tugas dan Fungsi TPD dibantu oleh Pendamping dalam: a. LKD dan Demapan yang sudah memasuki tahap kemandirian di wilayah kecamatan. TPD. Mengadakan pertemuan Pokja kecamatn minimal 1 bulan sekali. Menjalankan fungsi pelaporan situasi pangan dan gizi serta perkembangan pelaksanaan kegiatan. serta berperan sebagai penghubung antara masyarakat dengan aparat pemerintah. seperti: Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP). distribusi. supervisi. b. pengembangan lumbung pangan masyarakat.

3) Melakukan identifikasi dan pemecahan masalah pelaksanaan kegiatan. 6) Memberikan motivasi. 5) Melakukan supervisi. dan desa. kecamatan. saran.3. 3) Membuat laporan kinerja pendampingan dan memberikan rekomendasi kinerja pendampingan kepada Kepala Badan/Dinas/Kantor/Unit kerja yang menangani ketahanan pangan Kabupaten/Kota. 4) Laporan disampaikan pada Koordinator Pendamping Provinsi. Tingkat Provinsi a. yang menjalankan tugas dan fungsi: 1) Melakukan koordinasi penyusunan rencana kerja pendampingan. 6) Menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan kepada instansi pengelola Kegiatan Demapan di provinsi dan pusat. 4. 4) Merumuskan pengembangan Demapan di Kabupaten/Kota. sinkronisasi. Koordinator Pendamping Kabupaten/Kota Koordinator Pendamping Kabupaten/Kota adalah aparat yang ditunjuk oleh Kepala Badan/Dinas/Kantor/Unit kerja yang menangani ketahanan pangan Kabupaten/Kota. 2) Melakukan penilaian bersama penanggungjawab kabupaten/kota. sinkronisasi perencanaan. 19 . dan pelaksanaan kegiatan lintas sektor dalam Kegiatan Demapan. Tugas dan Fungsi Pokja Tingkat Provinsi: 1) Melakukan sosialisasi di provinsi dan kabupaten/kota. a. dan masukan untuk peningkatan kinerja pendamping. 2) Merumuskan program pengembangan Desa Mandiri Pangan di provinsi. 5) Mengadakan pertemuan dengan pendamping desa minimal 2 bulan sekali. dan integrasi berbagai kegiatan pemberdayaan di Demapan. dengan anggota perwakilan dari dinas terkait. b. Tugas dan Fungsi Pokja tingkat Kabupaten/Kota: 1) Melaksanakan sosialisasi di kabupaten/kota. Tingkat Kabupaten/Kota Pokja Kabupaten/Kota Pokja Kabupaten/Kota diketuai oleh Kepala Badan/Dinas/Kantor/ Unit kerja yang menangani ketahanan pangan Kabupaten/Kota. 2) Melakukan koordinasi. 7) Mengadakan pertemuan Pokja kabupaten/kota minimal 3 bulan sekali.

Tingkat Pusat Pokja Demapan di pusat diketuai oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementrian Pertanian. sinkronisasi. 4) Mengidentifikasi dan memecahan masalah pelaksanaan Kegiatan Demapan. dengan anggota dari instansi terkait. Menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan kepada Menteri Pertanian selaku Ketua Harian DKP. dan masukan untuk peningkatan kinerja pendamping. Merumuskan kebijakan dalam pelaksanaan kegiatan. Koordinator Pendamping Provinsi Koordinator Pendamping Provinsi adalah aparat yang ditunjuk oleh Kepala Badan/Dinas/Kantor/Unit kerja yang menangani ketahanan pangan Provinsi. b. sinkronisasi perencanaan. integrasi. b. Mengadakan pertemuan Pokja di pusat minimal 6 bulan sekali. 3) Memberikan motivasi. 5. dan koordinasi pemberdayaan masyarakat dari instansi terkait dalam kegiatan Demapan. dan pelaksanaan kegiatan lintas sektor dalam Kegiatan Demapan. 2) Mengadakan pertemuan dengan koordinator pendamping kabupaten/kota minimal 4 bulan sekali. 7) Mengadakan pertemuan Pokja di provinsi yang dilaksanakan minimal 4 bulan sekali. c.3) Melakukan koordinasi. Tugas dan Fungsi Pokja Pusat: a. 4) Membuat laporan pelaksanaan kinerja pendampingan dan disampaikan ke Pusat. 20 . saran. yang menjalankan tugas dan fungsi: 1) Melakukan koordinasi dan pembinaan dengan pendamping kabupaten/kota. 5) Melakukan supervisi terhadap kegiatan kelompok afinitas Demapan. Melakukan sosialisasi. Membantu memecahkan masalah yang dihadapi provinsi dan kabupaten dalam pelaksanaan kegiatan. e. 6) Menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan kepada instansi pengelola Kegiatan Demapan Pusat. kegiatan d.

BAB VI PEMBIAYAAN A. Sehubungan dengan hal tersebut maka proses pembinaan dan pemberdayaan kepada kelompok afinitas/LKD harus terjadwal dengan baik dan dilaksanakan tepat waktu. yang sesuai dengan ketentuan pada Pedoman Pengelolaan Dana Bantuan Sosial untuk Pertanian Tahun Anggaran 2012. provinsi dalam dana dekonsentrasi (Dekon). Alur Penyaluran Dana Bansos Usaha Produktif . Dana bansos ini harus sudah disalurkan ke kelompok afinitas/LKD desa sasaran paling lambat tanggal 31 Juli 2012. dan kabupaten/kota dalam dana Tugas Pembantuan (TP). dialokasikan di pusat. Menteri Pertanian 1 Gubernur/ Bupati/Walikota 2 Kepala Badan/ Kantor/ Dinas/Unit Kerja yang menangani ketahanan pangan Kabupaten/Kota selaku KPA Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 10 Bendaharawan Pengeluaran KPPN Kabupaten 9 6 8 Pejabat Penguji Perintah Pembayaran (P4) 3 14 4 5       Subkelompok afinitas 11 4 13 Kelompok Afinitas  Pendamping 7 12 12 Tim Pangan Desa dan Kepala Desa Rekening Bank 5 14 LKD 21 Gambar 4. Salah satu komponen utama pembiayaan kegiatan Desa Mandiri Pangan adalah penyaluran Dana Bansos untuk usaha produktif. Pengelolaan Dana APBN Dana APBN untuk Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian. Proses Pencairan dan pengelolaan dana Bansos dari Kuasa Pengguna Anggaran (KPA)/Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Badan/ Dinas/Kantor/Unit kerja yang menangani ketahanan pangan bertanggung jawab penuh dalam pengelolaan dana APBN.

22 . h. RUK subkelompok yang dihimpun kelompok afinitas (Lampiran 1). diketahui/disetujui Kabupaten/Kota dan Bendaharawan yang bersangkutan. Pendamping memfasilitasi penumbuhan subkelompok afinitas. f. kelompok afinitas membuat rekening bank. c. TPD. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA)/PPK Badan/Dinas/Kantor/Unit kerja yang menangani Ketahanan Pangan Provinsi atau Kabupaten/Kota : a. dengan melampirkan : (1) Keputusan Bupati/Walikota atau Kepala Badan/ Dinas/ Kantor/Unit kerja atau Pejabat yang ditunjuk tentang Penetapan Kelompok Sasaran. Atas usulan Gubernur/Bupati/Walikota. Menteri Pertanian menetapkan Badan/Kantor/Dinas/Unit Kerja yang menangani ketahanan pangan provinsi/kabupaten/kota selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan ditetapkan oleh Menteri Pertanian.Keterangan: a. (3) Kuitansi (Lampiran 3) harus ditandatangani kelompok/gabungan kelompok. dan diajukan ke Kepala Badan/Dinas/Kantor/Unit kerja yang menangani Ketahanan Pangan Provinsi atau Kabupaten/Kota untuk mendapat persetujuan. Membuat Surat Perjanjian Kerjasama dengan LKD dan kelompok penerima manfaat (Lampiran 4). Membuat Surat Berita Acara Serah Terima Paket Bansos Usaha Produktif dengan kelompok penerima manfaat dan LKD (Lampiran 5). dan Kepala Desa. b. Pendamping memfasilitasi subkelompok afinitas yang tergabung dalam kelompok afinitas untuk menyusun RUK. oleh oleh ketua KPA (4) Surat Perjanjian Kerjasama antara pejabat pembuat komitmen dengan LKD dan kelompok sasaran tentang pemanfaatan dana Bansos. g. c. Pendamping bersama subkelompok yang tergabung dalam kelompok afinitas menumbuhkan LKD yang pengurusnya terdiri dari perwakilan kelompok-kelompok. Membuat Surat Permintaan Pembayaran Langsung (SPP-LS). b. diajukan ke Tim Teknis Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi dari pendamping. d. Pelimpahan wewenang Menteri Pertanian kepada Gubernur berupa dana dekonsentrasi dan kepada Bupati/Walikota berupa tugas pembantuan. e. Setelah mendapat persetujuan Tim Teknis Kabupaten/Kota. (2) Rekapitulasi RUK/RUB (Lampiran 2).

j. peternakan. dan non-farm berupa usaha lainnya diluar pertanian.d. 23 . dan berpedoman pada peraturan-peraturan berikut: 1. off-farm. dan non-farm. b. Mengajukan SPP-LS yang disetujui KPA provinsi atau kabupaten/kota kepada Pejabat Penguji Perintah Pembayaran (P4). l. C. Memberikan rekomendasi kepada Bendahara Pengeluaran Satker Dekon di provinsi atau Satker TP di kabupaten. B. k. Menguji SPP-LS dan menerbitkan Surat Perintah Membayar Langsung (SPMLS) provinsi atau kabupaten/kota. Pemanfaatan dana Bansos oleh subkelompok dapat dilakukan mulai bulan November pada tahun bersangkutan dan sesuai dengan kesiapan kelompok. Pertanggunggungjawaban Pertanggungjawaban pengelolaan dana APBN dilakukan oleh KPA provinsi atau KPA kabupaten/kota dalam laporan keuangan secara rutin. dan . dan perikanan. Bendahara Pengeluaran Satker Dekon di provinsi atau Satker TP di kabupaten mengajukan SPM-LS kepada Kantor Penerimaan Pengeluaran Negara (KPPN) provinsi atau kabupaten/kota. digunakan oleh subkelompok untuk pengembangan usaha produktif di bidang on-farm. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2005 tentang Kewajiban Melaporkan Laporan Keuangan Bagi Lembaga Negara dan Kementerian. Dana Bansos yang telah ditransfer ke bank. i. KPPN provinsi atau kabupaten/kota menerbitkan Surat Perintah Pencairan dana (SP2D) dan mentransfer dana Bansos ke rekening kelompok afinitas/LKD. dapat dicairkan oleh kelompok afinitas setelah mendapat rekomendasi dari pendamping dan TPD. usaha off-farm berupa pengolahan hasil-hasil pertanian. P4 Provinsi atau Kabupaten/Kota: a. n. Kelompok afinitas mendistribusikan dana Bansos kepada masing-masing subkelompok sesuai dengan RUK yang diajukan dan sudah diverifikasi oleh pendamping dan TPD. setelah ditumbuhkan dan diberdayakan oleh pendamping dan TPD. Kelompok afinitas bersama LKD menyampaikan laporan penyaluran dana Bansos kepada Kepala Badan/Dinas/Kantor/Unit Kerja yang menangani ketahanan pangan Kabupaten/Kota selaku KPA. Usaha on-farm dapat berupa budidaya pertanian. Pemanfaatan Dana Bansos Dana Bansos yang diterima kelompok. m.

2. 3. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor 51 Tahun 2008 tentang Penyusunan Laporan Keuangan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK. 24 .05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Pemerintah Pusat.

Tanggungjawab Pemantauan dan Evaluasi melekat pada masing-masing Satker tingkat Pusat. keandalan pelaporan keuangan. dan (d) pelaporan hasil pemantauan dan evaluasi. b. dan Kabupaten/Kota. SERTA PELAPORAN Kegiatan pemantauan dan evaluasi. (c) susunan tim. 1. Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan dalam kerangka SPI dilakukan secara berkelanjutan sejak perencanaan hingga tahap akhir kegiatan. Masing-masing penanggung jawab kegiatan bertanggung jawab terhadap hasil pemantauan dan evaluasi sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. (b) waktu dan recana kerja pemantauan dan evaluasi. Uraian secara rinci pelaksanaan SPIP sebagai berikut: A. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) adalah Sistem Pengendalian Intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. ketertiban laporan keuangan. Ruang lingkup Rencana Pemantauan dan Evaluasi Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian. Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian memiliki tugas melakukan pemantauan dan evaluasi secara periodik terhadap kegiatan strategis di lingkungan pusat (Satker Pusat) melalui instrumen Rencana Pemantauan dan Evaluasi Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian. c. meliputi: (a) aspek dan indikator pemantauan dan evaluasi. PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN. dan pengamanan aset. untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien. a. dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Pelaksanaan SPIP dilingkungan Kementerian Pertanian juga mengacu pada Peraturan Menteri No : 23/Permentan/OT.BAB VII PEMANTAUAN DAN EVALUASI. pengendalian dan pengawasan serta pelaporan pada kegiatan ini mengacu pada Sistem Pengendalian Intern Pemerintah sebagaimana diamanatkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) yang menyatakan bahwa: “pimpinan instansi bertanggung jawab terhadap efektivitas penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern (SPI) di lingkungannya”. Hasil 25 . pada aspek yang mendukung kelancaran pelaksanaan program/kegiatan. Tugas dan Tanggung Jawab Pemantauan Evaluasi Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.140/ 5/2009 tentang Pedoman Umum Sistem Pengendalian Intern di Lingkungan Kementerian Pertanian. Sistem Pengendalian Intern (SPI) adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai. Provinsi. pengamanan aset negara.

26 . d. 3. Ruang lingkup Rencana Pemantauan dan Evaluasi Kegiatan Strategis Ketahanan Pangan Unit Kerja Kelembagaan Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota. Kabupaten memiliki tugas melakukan pemantauan dan evaluasi secara periodik terhadap kegiatan strategis ketahanan pangan di lingkungan kabupaten kota (Satker Kabupaten/Kota) melalui instrumen Rencana Pemantauan dan Evaluasi Kegiatan Strategis Ketahanan Pangan Unit Kerja Kelembagaan Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota. Pelaksanaan pemantauan dan evaluasi kegiatan strategis Badan Ketahanan Pangan diatur dan ditetapkan lebih lanjut dalam Petunjuk Pelaksanaan Pengendalian Intern Kegiatan Strategis Badan Ketahanan Pangan. Ruang lingkup Rencana Pemantauan dan Evaluasi Kegiatan Strategis Ketahanan Pangan Unit Kerja Kelembagaan Ketahanan Pangan Propinsi. Tugas dan Tanggung Jawab Pemantauan Evaluasi Tingkat Propinsi a. dan (d) pelaporan hasil pemantauan dan evaluasi. meliputi: (a) aspek dan indikator pemantauan dan evaluasi. Tugas dan Tanggung Jawab Pemantaun Evaluasi Tingkat Kabupaten a. b. b. dan (d) pelaporan hasil pemantauan dan evaluasi. Masing-masing penanggung jawab kegiatan di kabupaten/kota bertanggung jawab terhadap hasil pemantauan dan evaluasi sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Format dan bentuk Rencana Pemantauan dan Evaluasi Provinsi disesuaikan dengan situasi kondisi sumberdaya yang dimiliki oleh masing-masing provinsi. (b) waktu dan recana kerja pemantauan dan evaluasi. Masing-masing penanggung jawab kegiatan di propinsi bertanggung jawab terhadap hasil pemantauan dan evaluasi sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Hasil pemantauan dan evaluasi kegiatan dilaporkan kepada pimpinan lembaga yang menangani Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota. 2. (b) waktu dan recana kerja pemantauan dan evaluasi. Propinsi memiliki tugas melakukan pemantauan dan evaluasi secara periodik terhadap kegiatan strategis ketahanan pangan di lingkungan propinsi (Satker Propinsi) melalui instrumen Rencana Pemantauan dan Evaluasi Kegiatan Strategis Ketahanan Pangan Unit Kerja Kelembagaan Ketahanan Pangan Propinsi. (c) susunan tim.pemantauan dan evaluasi kegiatan dilaporkan kepada Kepala Badan Ketahanan Pangan. c. Format dan bentuk Rencana Pemantauan dan Evaluasi Kabupaten/Kota disesuaikan dengan situasi kondisi sumberdaya yang dimiliki oleh masing-masing kabupaten/kota. c. Hasil pemantauan dan evaluasi kegiatan dilaporkan kepada pimpinan lembaga yang menangani Ketahanan Pangan Propinsi. (c) susunan tim. meliputi: (a) aspek dan indikator pemantauan dan evaluasi.

dan (14) Perbaikan sarana dan prasarana prioritas. sedang. (5) Keberadaan lumbung pangan masyarakat. dan masyarakat pelaksana kegiatan. Evaluasi kegiatan Demapan yang dilakukan yaitu: Evaluasi Per Tahapan dan Evaluasi Kemandirian. berimbang. Indikator Evaluasi Pertahapan dilakukan di empat tahap. dan lembaga lainnya. (12) Tingkat keterampilan masyarakat dalam mengolah pangan. Indikator Tahap Penumbuhan: (1) Kinerja kelompok afinitas. (13) Tingkat kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pangan yang beragam. sedangkan desa dengan tingkat capaian sedang dan rendah akan dibina oleh kabupaten/kota dan provinsi hingga menjadi Desa Inti. (4) Pembentukan Pokja di setiap tingkatan. (6) Penumbuhan kelompok-kelompok afinitas di lokasi sasaran. (2) Pengelolaan dan penambahan modal usaha kelompok. (2) Pemahaman masyarakat tentang kegiatan Demapan. dan tinggi. (9) Keberadaan sistem informasi pasar (harga dan jenis komoditi) sebagai dasar perencanaan usaha kelompok. desa. c. lembaga pangan dan gizi di desa (PKK dan Posyandu). kabupaten. sedangkan evaluasi kemandirian untuk mengetahui capaian tingkat kemandirian dengan klasifikasi rendah. dan akhir tahun kegiatan. bergizi. (7) Usaha-usaha pemasaran hasil secara kolektif di desa. guna mengetahui perkembangan dan keberhasilan pencapaian indikator kegiatan setiap tahapan dan kemandirian. Indikator Tahap Pengembangan: (1) Tingkat keterampilan teknis anggota kelompok. (3) Perkembangan usaha kelompok dalam meningkatkan pendapatan. (7) Pemilihan dan penetapan tenaga pendamping. (3) Penyediaan data base dan profil Desa Mandiri Pangan. (5) Penumbuhan TPD dan LKD. (2) Kemampuan kelompok dalam mengakses permodalan dan pemasaran. (6) Keberadaan dan perkembangan usaha-usaha perdagangan bahan pangan oleh anggota kelompok dan kelompok lainnya di desa. dan aman. Desa Mandiri dengan tingkat capaian tinggi ditetapkan sebagai Desa Inti yang akan membina desa-desa sekitarnya. (8) Keberadaan lembaga pemasaran (pasar) di desa dan wilayah yang lebih luas untuk menampung hasil-hasil produksi masyarakat. b. lembaga pelayanan permodalan. (4) Perkembangan intensifikasi usaha. (3) Keberhasilan diversifikasi produksi pangan. pendamping. (9) Penyusunan Rencana Pembangunan Wilayah Desa Partisipatif (RPWDP). (10) Keberhasilan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumberdaya wilayah. Evaluasi per tahapan dimaksudkan untuk mengetahui capaian hasil pelaksanaan kegiatan. pertengahan.Evaluasi kegiatan dilakukan pada awal. 1. (4) Pemanfaatan dan pengelolaan lumbung pangan untuk memenuhi kebutuhan 27 . Indikator Tahap Persiapan: (1) Lokasi desa pelaksana kegiatan. (11) Penyediaan teknologi pengolahan dan produk pangan. (8) Pelaksanaan pelatihan bagi aparat provinsi. diantaranya: a.

penyediaan sarana air bersih. jalan usaha tani. (3) pengenbangaan cadangan pangan. jalan usahatani yang memadai.pangan masyarakat. d. 2. (2) Perkembangan usahausaha produktif yang dikelola kelompok afinitas dan masyarakat desa. (7) Perkembangan usaha produktif. dan sarana usaha. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) adalah Sistem Pengendalian Intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. (2) dinamika kelembagaan. kesehatan. (8) Pola konsumsi pangan 3B dan aman. dalam Pengendalian dan Pengawasan serta Pelaporan” dipandang sebagai upaya yang lebih optimal dalam pengawalan kegiatan strategis ketahanan pangan sehingga kegiatan dapat dicapai secara efektif. dan penyediaan sarana kesehatan. dan (11) Keberadaan fungsi prasarana pengairan. (4) dukungan sarana prasarana perdesaan. dan respon dini kerawanan pangan. dan air bersih. (7) Penyediaan sarana dan prasarana irigasi. (6) Pelaksanaan kegiatan pengembangan sistem pemantauan. (9) Penyelesaian masalah pangan wilayah. (5) komitmen daerah untuk pembinaan lanjutan. kelompok afinitas dan LKD. deteksi. (3) Keberadaan jaringan usaha dan pemasaran produk lokal dengan mitra usaha/koperasi/investor. Indikator Tahap Kemandirian: (1) Efektifitas peran TPD dalam pendampingan masyarakat dan pembangunan ketahanan pangan desa. Indikator Evaluasi Kemandirian. efisien. (5) Perubahan pola konsumsi masyarakat yang beragam. (7) peningkatan produksi pangan dan komoditas unggulan perdesaan. dan aman. jalan desa. (4) Peran masyarakat dalam penyediaan dan distribusi pangan. untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien. dan taat pada peraturan perundangan yang berlaku 28 . (10) Pelayanan masyarakat dalam: akses permodalan. dan lainnya. Pengendalian dan Pengawasan Sistem Pengendalian Intern (SPI) adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai. keandalan pelaporan keuangan. pengamanan aset. dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. (6) penurunan jumlah KK miskin dan rawan pangan. serta peningkatan diversifikasi dan pola konsumsi pangan 3BA. dan (8) peningkatan status kelembagaan dan sinergi program pemberdayaan masyarakat lainnya. B. Mengintegrasikan SPIP pada kegiatan “Kegiatan Desa Mandiri Pangan”. sarana penerangan. bergizi berimbang. terdiri dari: (1) perubahan pola pikir dan peningkatan pendapatan. akses jaringan dan pemasaran. pengamanan aset negara. (5) Penyediaan dan distribusi pangan. (6) Kemampuan rumah tangga dalam mengakses pangan. keandalan laporan keuangan.

Penilaian risiko dilakukan sebelum pelaksanaan kegiatan yang dituangkan dalam Term of Reference/Pokok Acuan Tugas (TOR/PAT) dan unit kerja pelaksananya. Pengendalian bertujuan untuk memastikan. g. serta dilaksanakan untuk mengantisipasi terjadinya penyimpangan terhadap potensi atau titik kritis kegiatan hasil analisa resiko untuk mencapai tujuan/sasaran yang telah ditetapkan.Pelaksanaan SPIP dilingkungan Kementerian Pertanian mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) serta Peraturan Menteri Nomor 23/Permentan/OT. f. dan kabupaten. TPD oleh Kepala Badan/Dinas/Kantor/Unit Kerja Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota. Penilaian Risiko adalah kegiatan penilaian atas kemungkinan kejadian yang mengancam pencapaian tujuan dan sasaran program/kegiatan Instansi Pemerintah. Aktivitas pengendalian membantu untuk kepastian tindakan yang dilakukan untuk mengantisipasi dan menangani risiko. Seleksi lokasi sasaran. Kegiatan pengendalian adalah kebijakan. teknik. Kabupaten/Kota.140/ 5/2009 tentang Pedoman Umum Sistem Pengendalian Intern di Lingkungan Kementerian Pertanian. yang memuat uraian langkah-langkah penanganan risiko kemudian dilanjutkan dengan identifikasi risiko kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. Penetapan kelompok sasaran oleh Kepala Badan/Dinas/Kantor/Unit Kerja Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota. Pelatihan dan pendampingan Tim Teknis di Provinsi. Penetapan kelembagaan: LKD. dan kemandirian. Proses pengendalian di setiap wilayah direncanakan dan diatur oleh masing-masing instansi penanggung jawab kegiatan di pusat. . dan mekanisme yang memberikan arah bagi pimpinan untuk mencapai tujuan. dan Pendamping. provinsi. Kontrak kerja antara Kelompok/LKD dengan Pejabat Pembuat Komitmen di 29 b. yang meliputi:survey DDRT/SRT oleh Tim Teknis Kabupaten/Kota dan Penetapan Desa oleh Kepala Badan/Dinas/Kantor/Unit Kerja Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota dan dikuatkan melalui SK Bupati/Walikota. Sosialisasi kegiatan oleh Tim Pengarah/Pembina di Pusat/Provinsi dan Tim Teknis di Kabupaten/Kota. penumbuhan. diantaranya: a. c. prosedur. pengembangan. e. Terdapat beberapa titik kritis yang perlu diperhatikan dalam kegiatan Desa Mandiri Pangan. Pengendalian kegiatan dilakukan oleh Pengguna Anggaan (PA) dan KPA pada tahap persiapan. bahwa kebijaksanaan dan prosedur yang ditetapkan telah diikuti dan dipatuhi. d. Penetapan pendamping dan Koordinator Pendamping oleh Kepala Badan/Dinas/Kantor/Unit Kerja Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Melatih petugas untuk melakukan survey DDRT/SRT sesuai kuesioner dan mekanisme yang telah ditetapkan b. h. Kurangnya aparat pelaksana c. Tabel 2. Kesiapan DIPA belum siap Akibat Jumlah KK Miskin dan Rumah Tangga Miskin (RTM) tidak dapat diketahui Kegiatan Pengendalian a. Surat dari pusat untuk segera menetapkan dan proses pembinaan b. Penilaian Risiko dan Kegiatan Pengendalian Kegiatan Seleksi lokasi sasaran Deskripsi Survey DDRT/ SRT tidak dilaksanakan Penyebab a. Pelaksana kurang memahami pelaksanaan survey b. 30 . Penetapan dilakukan segera melalui SK Kepala Badan dan dikuatkan oleh SK Bupati/Walikota Surat dari pusat untuk segera menetapkan dan melakukan proses pembinaan BKP Provinsi dan Kabupaten/ Kota BKP Kabupaten/ Kota Bupati/Wali kota Penanggung jawab BKP Kabupaten/ Kota Penetapan Desa Desa belum ditetapkan Mutasi pejabat yang bersangkutan dan Bupati/Walikota Penetapan Pendampi ng dan Koordinat or Pendampi ng Penetapan Kelompok Pendamping dan Koordinator Pendamping belum ditetapkan Kelompok belum ditetapkan Mutasi pejabat yang bersangkutan Kegiatan pemberdayaan dan pendampingan terhambat Mutasi pejabat yang bersangkutan Kegiatan usaha produktif terhambat Surat dari pusat untuk segera menetapkan dan melakukan proses pembinaan dan pendampingan Surat dari pusat BKP Kabupaten/ Kota Penetapan TPD belum Mutasi pejabat yang Kegiatan usaha BKP Pusat. Evaluasi dan Pelaporan oleh Provinsi dan Kabupaten/Kota Beberapa penilaian risiko dan kegiatan pengendalian Desa Mandiri Pangan dapat dilihat pada Tabel 2.Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam rangka Pencairan dana Bansos. Inisiatif daerah dari penyediaan dana APBD Sasaran pelaksana kegiatan Demapan (kelompok afinitas) tidak sesuai dengan kriteria a.

BKP Pusat.Kab/Kota kurang memahami instrument evaluasi dan pelaporan Perkembangan dinamika kegiatan Demapan tidak diketahui secara baik dan benar Surat dari pusat agar tetap melaksanakan evaluasi Pendampingan. Provinsi. BKP Kabupaten/ Kota. Provinsi. Provinsi. pembinaan dan pemantauan secara rutin. Kabupaten/ Kota Pelatihan dan pendampi ngan Kelengkapan administrasi belum siap SDM lemah Kegiatan pemberdayaan tidak terlaksana Persamaan persepsi kegiatan masih kurang Surat dari pusat agar dilakukan pelatihan dan pendampingan Prov. pendampingan dan pembinaan intensif Surat dari pusat untuk segera membuat kontrak kerja dan pencairan Bansos BKP Pusat.Kegiatan TPD dan LKD Deskripsi ditetapkan/ ditumbuhkan Penyebab bersangkutan Akibat produktif terhambat Kegiatan Pengendalian untuk segera menetapkan dan melakukan proses pembinaan dan pendampingan Surat dari pusat agar melakukan sosialisasi kegiatan sampai level desa Penanggung jawab Kabupaten/ Kota Sosialisasi Demapan Sosialisasi tidak dilaksanakan disemua tingkatan Pelatihan dan penadmping an belum dilaksanakan Mutas pejabat penanggungjawab kegiatan Kegiatan tidak berjalan sesuai dengan tujuan dan sasaran BKP Pusat. Provinsi dan Kabupaten/ Kota Rendahnya kualitas SDM Provinsi.Kab/Kota segera menindaklanjuti dengan memberikan pelatihan. Pendamping Kontrak kerja PPK dengan Kelompok /LKD dengan Evaluasi dan Pelaporan PPK belum membuat kontrak kerja dengan Kelompok/L KD Pelaksanaan evaluasi dan Pelaporan tidak rutin Kelengkapan adm. Kabupaten/ Kota   31 . yang minim Lokasi KPN yang jauh Pencairan Bansos tidak bisa dilaksanakan sesuai target BKP Pusat.

kecamatan. mengevaluasi hasil pemantauan. dipercaya. tepat waktu. dan akurat. Provinsi memantau kegiatan lapang secara berkala. pendamping. (2) Pelaporan hasil kegiatan oleh Pelaksana pada setiap tahap kegiatan. dan tepat waktu. dan berjenjang dari desa. Pelaporan Pelaporan pelaksanaan kegiatan dilakukan secara berkala. memberikan feedback kepada provinsi terhadap. memberikan feedback kepada kabupaten/kota. kabupaten/kota. serta menindaklanjuti berbagai permasalahan yang memerlukan penanganan segera atau dikoordinasikan di provinsi. dapat dimengerti. Kecamatan yang berfungsi sebagai pemantau. Desa menyampaikan formulir laporan yang disepakati kepada kecamatan dan kabupaten/kota tentang situasi pangan dan cadangan pangan desa serta perkembangan pelaksanaan Kegiatan Demapan. serta menindaklanjuti berbagai permasalahan yang memerlukan penanganan segera atau dikoordinasikan di kabupaten/kota. Kabupaten/Kota memantau kegiatan lapang secara berkala. Pelaporan terpaut dengan SPI. mengevaluasi hasil pemantauan. hingga pusat. melaporkan ke pusat sesuai format yang disepakati. Kabupaten memberikan feedback kepada desa dan kecamatan. dengan menggunakan form yang disepakati menyampaikan ke kabupaten/kota tentang: upaya-upaya yang telah dilakukan dan meneruskan hal-hal yang tidak dapat dilakukan. merupakan Informasi dan Komunikasi yang dilakukan melalui: (1) Pencatatan hasil pelaksanaan kegiatan oleh Pelaksana pada setiap tahap kegiatan secara tepat. berkelanjutan. cepat. Pusat sebagai penanggung jawab program melakukan: pemantauan kegiatan lapang secara berkala. relevan. mengevaluasi hasil pemantauan provinsi. serta menindaklanjuti berbagai permasalahan yang memerlukan penanganan segera atau dikoordinasikan di pusat. provinsi.C. 32 . serta menyampaikan laporan desa dan kecamatan ke provinsi sesuai dengan format yang disepakati. dan penghubung ke kabupaten/kota.

  2012 Menteri Pertanian Suswono 33 . Pedoman ini untuk selanjutnya dapat disesuaikan dengan kondisi daerah dan dijabarkan dalam petunjuk pelaksanaan (Juklak) di tingkat provinsi dan petunjuk teknis (Juknis) di tingkat kabupaten/kota. agar dijadikan acuan bagi aparat dan pihak-pihak yang melaksanakan pengembangan desa dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan.BAB VIII PENUTUP Pedoman Umum Kegiatan Desa Mandiri Pangan Menuju Gerakan Kemandirian Pangan. Jakarta. Semoga pedoman umum ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat dalam mengembangkan kemandirian masyarakat untuk mewujudkan ketahanan pangan.

122 kab 32 prov TAHUN 2007 TAHAP PENUMBUHAN 250 ds. 363 Ds replikasi. 399 kab TAHAP PERSIAPAN 22 ds baru. 74 kab baru 211 ds baru. 180 kab TAHAP ENGEMBANGAN TAHAP KEMANDIRIAN 354 ds lama. 122 kab 250 ds lama.275 kab TAHAP PENGEMBANGAN TAHAP KEMANDIRIANAN 359 ds lama. 576 ds Replikasi GKP : 122 Ds Inti. kab Total : 2. 33 prov T: 2.116 Ds baru. TAHAP PERSIAPAN 36 ds baru.238 Ds baru. 250 Desa. 225 kab lama 576 Ds replikasi 110 kab T: 838 ds. 122 kab Tota.275 kab TAHAP PERSIAPAN 214 ds baru. 2006 S/D 2012 TAHUN 2006 TAHAP PERSIAPAN 250 Ds. 275 kab Total : 1184 desa. 201 kab. 363 Ds Replikasi GKP II: 192 Ds Inti. 205 kab lama 363 ds replikasi . 381 kab. 18 kab baru 226 ds baru.Lampiran 6.885 desa. 399 kab Total :2.201 kab GKP I: 55 Ds Inti.201 kab 221ds lama.275 kab 359 ds lama. 180 kab Total : 604 desa. 381 kab TAHAP PENUMBUHAN 36 ds baru.851 desa T: 829 desa. 165 Ds Replikasi TAHAP PERSIAPAN 148 ds baru. 106 kab baru 252 ds baru. 410 Kab.122 kab TAHAP PERSIAPAN TAHUN 2008 TAHUN 2009 TAHUN 2010 TAHUN 2011 GKP : 123 Ds Inti 369 replikasi 5 ds proses Kemandirian GKP 69 inti 207 replikasi 285 proses kemandirian TAHUN 2012 GKP III: 122 Ds Inti.21 kab baru 180 ds baru.lama. kab lama 165 Ds replikasi. 33 prov TAHAP PENUMBUHAN 359 ds lama.013 desa TAHAP PENUMBUHAN TAHAP PENGEMBANGAN 363 desa replikasi 363 desa replikasi 466 desa reguler 466 desa reguler T: 829 desa.958 desa. 225 kab lama 576 Ds replikasi 110 kab T: 838 ds. 32 prov TAHAP PENUMBUHAN 221 desa lama. 11 kab baru 376 ds baru. 128 Ds proses kemandirian TAHAP PENUMBUHAN TAHAP PENGEMBANGAN TAHAP KEMANDIRIAN 250 ds lama. 180 kab 354 ds lama. LOKASI PELAKSANA KEGIATAN AKSI DESA MANDIRI PANGAN TA. 18 kab baru 226 ds baru. 180 kab . 33 prov T: 3.180 kab lama T : 221 desa. 32 prov 41 ds baru. 33 prov T: 2. 122 kab 354 ds lama.201 kab TAHAP PENGEMBANGAN TAHAP KEMANDIRIAN 221ds lama.55 kab T: 563 ds. 381 kab. 201 kab Total : 825 desa. 122 kab lama T : 354 desa. 381 kab Total : 1.110 kb lm T : 829 desa. 275 kab.201 kab lama T : 359 desa.439 desa. 58 kab baru .414 desa 43 34 . 399 Kab. TAHAP PERSIAPAN 180 kab.

......... sebesar Rp.....lampiran 1..........................tanggal.............. Kabupaten/Kota …………… Sesuai dengan Surat Keputusan *).......... Provinsi :................................... Dana Bantuan Sosial tersebut akan digunakan untuk usaha produktif sesuai RUK yang diajukan Tim Pangan Desa............ MENYETUJUI Ketua kelompok...............tanggal... RENCANA USAHA KELOMPOK/RENCANA USAHA BERSAMA .......... MENGETAHUI/MENYETUJUI.... RUK/RUB Kelompok :........................................................................Kecamatan :......................... Pendamping... 35 .... ................. Ketua LKD..........................................dengan ini kami mengajukan permohonan Dana Bantuan Sosial Kegiatan Desa Mandiri Pangan.. Kabupaten/Kota :............... ...tentang penetapan kelompok sasaran kegiatan..................................... ..) sesuai Rencana Usaha Kelompok (RUK)/Rencana Usaha Bersama (RUB) terlampir dengan Rincian kegiatan sebagai berikut: N o 1 Rincian Kegiatan 2 Jumlah Biaya (Rupiah) 3 Nama Peminjam Tanda Tangan Jumlah Selanjutnya kegiatan tersebut akan dilaksanakan sesuai dengan Surat Perjanjian Kerjasama Nomor..... Desa/Kelurahan :. .......................No.... Kepada Yth : Ketua LKD......................... Desa…………Kecamatan………….....(terbilang...........

.................. Provinsi :............................................................. *) Bupati/Walikota atau Kepala Dinas lingkup Pertanian atau pejabat yang ditunjuk 36 . pada cabang/unit Bank...................................... Kab/Kota................ 3....................(terbilang................................................................................ Rekapitulasi RUK/RUB Kelompok :.. Desa/Kelurahan :....................... Sesuai dengan Surat Keputusan *)............. NIP............. Dana Bantuan Sosial Usaha Produktif kelompok tersebut agar dipindahbukukan ke rekening kelompok...................................... ........... .... Ketua kelompok.... ....... Kabupaten/Kota :.. sebesar Rp...........) sesuai Rencana Usaha Kelompok (RUK)/Rencana Usaha Bersama (RUB) terlampir dengan rekapitulasi kegiatan sebagai berikut: No Kegiatan Jumlah Biaya (Rupiah) 1 2 3 1.......................Lampiran 2..... 2.. MENGETAHUI/MENYETUJUI Pejabat Pembuat Komitmen Kabupaten/Kota..................tanggal............tentang penetapan kelompok sasaran kegiatan..... Dst.. Rekening....................................................... No........di............ MENYETUJUI Ketua Tim teknis......... NIP...........................................dengan ini kami mengajukan permohonan Dana Bantuan Sosial Usaha Produktif Kegiatan Desa Mandiri Pangan.................... REKAPITULASI RENCANA USAHA KELOMPOK/ RENCANA USAHA BERSAMA ... Kepada Yth : Pejabat Pembuat Komitmen.tanggal....... Jumlah Selanjutnya kegiatan tersebut akan dilaksanakan sesuai dengan Surat Perjanjian Kerjasama Nomor...... Petugas Pendamping/PPL .. Kecamatan :........No.....................

........................ 37 ............................. ......................... Sudah Terima dari : Kuasa Pengguna Anggaran. Meterai Rp............. Kabupaten/Kota..............Kuasa Pengguna Anggaran/ Pejabat Pembuat Komitmen Kabupaten/Kota.....tanggal. Tgl..... Sesuai Surat Perjanjian Kerjasama No.............................. KUITANSI No :...... Kuitansi Dana Bantuan Sosial NPWP :.............. Kabupaten/Kota........A :.........000 ...................... Bendaharawan...................................................... 6................................................... Yang menerima........... : Terbilang Rp................. T.................... NIP. ...... NIP............... Kecamatan...................... an....................... MAK :........................................ Uang sebanyak : Untuk pembayaran : Dana Bantuan Sosial Usaha Produktif Kegiatan Desa Mandiri Pangan di Desa/Kelurahan...........................................................2012 Setuju dibayar............................. *) Format kuitansi ini dapat disesuaikan untuk kegiatan pada DIPA Pusat dan DIPA Provinsi................ Petani/Ketua Kelompok .....Lampiran 3...........

kami yang bertanda tangan di bawah ini : 1................................................................ KABUPATEN/KOTA........tanggal.......... Nomor :......... PIHAK KESATU dan PIHAK KEDUA untuk selanjutnya disebut PARA PIHAK Kedua belah pihak sepakat untuk mengadakan Perjanjian Kerjasama yang mengikat dan berakibat hukum bagi kedua belah pihak untuk melaksanakan pemanfaatan Dana Bantuan Sosial untuk Kegiatan Desa Mandiri Pangan........... tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara......yang berkedudukan di jalan...................2012........tanggal ......................... DENGAN KELOMPOK/ LEMBAGA KEUANGAN DESA.....tanggal....... Pedoman/Petunjuk Teknis tentang Kegiatan................Tahun................ dengan ketentuan sebagai berikut: Pasal 1 DASAR PELAKSANAAN 1.....bulan.....: Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)........................yang berkedudukan di Desa/ Kelurahan...........................Lampiran 4........... dalam hal ini bertindak sebagai pengurus LKD dan atas nama sub-sub kelompok .......... 38 ........yang selanjutnya disebut PIHAK KEDUA... DIPA.......DIPA Tahun Anggaran 2012 No......... Tentang PEMANFAATAN DANA BANTUAN SOSIAL UNTUK KEGIATAN DESA MANDIRI PANGAN Pada hari ini. Kementerian Pertanian..............................................tahun dua ribu dua belas bertempat di Kantor....Kecamatan............ ...... ...... Keputusan Presiden No.................yang untuk selanjutnya disebut PIHAK KESATU.......Jalan...... dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Tahun Anggaran 2012 yang diterbitkan oleh Dirjen/Kepala Badan. 3....... 2... 2..: Ketua Kelompok...........................Kabupaten/Kota....................... Perjanjian Kerjasama PERJANJIAN KERJASAMA Nomor: Antara PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN..

.tentang Penetapan Kelompok.. Menyalurkan bantuan sosial kepada Kelompok Afinitas/LKD untuk pengembangan usaha produktif. Melakukan pembinaan untuk peningkatan kemampuan Kelompok Afinitas /LKD.. d.. tentang Penyaluran Dana Bantuan Sosial untuk Pertanian Tahun Anggaran 2012..... Menyusun RUK sesuai dengan kebutuhan sub-sub kelompok afinitas.. b. c... Pasal 4 TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB (1).. Surat Keputusan Bupati/Walikota atau Kepala Dinas atau pejabat yang ditunjuk. Nomor. Maksud kerjasama adalah untuk memperkuat permodalan usaha produktif kelompok afinitas Desa Mandiri Pangan. Mengembangkan tabungan Anggota Kelompok Afinitas di LKD minimal 5% dari bantuan sosial yang diterima.tanggal. Tujuan kerjasama adalah meningkatkan pendapatan rumah tangga miskin di Desa Mandiri Pangan.. Membuat administrasi keuangan pengelolaan dana bantuan sosial.. 5. b. PIHAK KEDUA mempunyai tugas dan tanggung jawab : a. Peraturan Menteri Pertanian Nomor :.. Membuat laporan bulanan tentang perkembangan dana bantuan sosial. Pasal 2 MAKSUD DAN TUJUAN a.... b...4..... Memberikan bimbingan teknis peningkatan kemampuan Kelompok Afinitas /LKD (2). PIHAK KESATU mempunyai tugas dan tanggung jawab: a.. Pasal 3 RUANG LINGKUP Ruang Lingkup Kerjasama : a..... Menyalurkan bantuan sosial kepada kelompok afinitas/Lembaga Keuangan Desa (LKD) sesuai dengan Rencana Usaha Kelompok (RUK)...tanggal. Pasal 5 PENDANAAN Sumber dan jumlah Dana Bantuan Sosial untuk Kegiatan Desa Mandiri Pangan yang diterima oleh PIHAK KEDUA adalah : 39 . b...

.... dan bentuk bantuan lainnya yang akan dimanfaatkan untuk usaha produktif... Pembayaran Dana Bantuan Sosial Usaha Produktif Kegiatan Desa Mandiri Pangan dimaksud pada pasal 3 ayat (2) Surat Perjanjian Kerjasama ini akan dilakukan oleh PIHAK KESATU kepada PIHAK KEDUA setelah perjanjian kerjasama ini ditandatangani........ Keanggotaan Kelompok afinitas berasal dari perwakilan sub-sub kelompok afinitas.... Dana yang ada di rekening kelompok afinitas selanjutnya dikelola LKD........ Jumlah dana yang disepakati kedua belah pihak sebesar Rp........ Sumber dana sebagaimana tertuang dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA)....a..afinitas sesuai RUK yang diusulkan dan telah direkomendasi oleh Tim Pangan Desa dan Pendamping.. yang terdiri dari Rumah Tangga Miskin (RTM).Desa/Kelurahan. Pasal 8 JANGKA WAKTU Kesepakatan ini berlaku selama 5 (lima) tahun sejak ditandatangani dan dapat diperpanjang atau diakhiri atas persetujuan PARA PIHAK. (2).. Rek :. Pasal 7 PEMANFAATAN Ketentuan pemanfaatan meliputi : a.. d..Kecamatan....... LKD menyalurkan dana bantuan sosial kepada sub-sub kelompok...... Dalam penyaluran dana Bansos sebagaimana ayat (2)......... Pengurus LKD berasal dari perwakilan sub-subkelompok afinitas yang dikukuhkan oleh TPD dan tokoh masyarakat.........Nomor :.......Kabupaten /Kota. b....tanggal.. PIHAK KEDUA tidak diperbolehkan menarik “jasa” atau “fee” kepada sub-sub kelompok..... PIHAK KEDUA menyalurkan dana Bansos sebagaiamana ayat (1) sesuai dengan RUK yang telah disusun dan diusulkan kepada PIHAK KESATU.. 40 . tabungan...No...pada Bank....... Pengurus LKD mengelola keuangan dari dana Bansos..... dilaksanakan melalui Surat Perintah Membayar (SPM) yang disampaikan oleh KPA kepada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara.. (3)...... c.(dengan huruf)..... b................ Pengurus mempunyai kemampuan untuk mengelola keuangan dan dipercaya oleh masyarakat. dengan cara pembayaran langsung ke rekening kelompok…. Pasal 6 PEMBAYARAN (1)...........

maka PIHAK KEDUA harus memberitahukan secara tertulis kepada PPK/KPA dengan tembusan kepada Tim Teknis dalam waktu 4 X 24 jam kepada PIHAK KESATU. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kerjasama dilakukan oleh PARA PIHAK sekurang-kurangnya tiga (3) bulan sekali. Apabila terjadi perbedaan dalam penafsiran dan/atau pelaksanaan Kerjasama ini akan diselesaikan secara musyawarah dan mufakat oleh PARA PIHAK. Pasal 12 FORCE MAJEURE (1). (2). 41 . Peperangan. Pasal 10 SANKSI Apabila dana bantuan sosial kepada kelompok afinitas/LKD tidak dapat mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan pasal 2. maka PARA PIHAK sepakat memilih domisili hukum yang tetap dan seumumnya di kantor Pengadilan Negeri setempat. angin topan. Perubahan kebijakan moneter berdasarkan Peraturan Pemerintah. b. Keadaan memaksa (force majeure) yang dimaksud Pasal 11 adalah : a.Pasal 9 MONITORING DAN EVALUASI (1). Jika timbul keadaan memaksa (force majeure) yaitu hal-hal yang diluar kekuasaan PIHAK KEDUA sehingga tertundanya pelaksanaan kegiatan. kebakaran yang bukan disebabkan kelalaian PIHAK KEDUA. Apabila tidak dapat diselesaikan secara musyawarah dan mufakat. c. Hasil monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud Ayat (1) Pasal ini menjadi bahan pertimbangan PARA PIHAK untuk perbaikan/penyempurnaan hal-hal yang belum atau tidak sesuai dengan tujuan kerjasama ini. Bencana alam seperti gempa bumi. (2). Pasal 11 PENYELESAIAN PERSELISIHAN (1). maka PIHAK KESATU berhak secara sepihak mencabut seluruh dana yang diterima kelompok afinitas yang mengakibatkan surat perjanjian kerjasama batal. (2). banjir besar.

............. Meterai Rp.......... (3)............... Segala lampiran yang melengkapi surat perjanjian kerjasama ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dan mempunyai kekuatan hukum yang sama..... 42 . Bea meterai yang timbul karena pembuatan surat perjanjian kerjasama ini menjadi beban PIHAK KEDUA...000 ....Pasal 13 KETENTUAN LAIN (1)...... Pasal 14 PENUTUP Surat perjanjian kerjasama ini ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab tanpa adanya paksaan dari manapun dan dibuat rangkap 2 (dua) yang kesemuanya mempunyai kekuatan hukum yang sama untuk digunakan sebagaimana mestinya......... Perubahan atas surat perjanjian kerjasama ini tidak berlaku kecuali terlebih dahulu harus dengan persetujuan kedua belah pihak......... 6........ PIHAKPERTAMA Pejabat Pembuat Komitmen Kabupaten/Kota.............................................. PIHAK KEDUA Ketua Kelompok/LKD ... (2)... NIP.

PIHAK KESATU Yang Menyerahkan.Lampiran 5. Demikian Berita Acara Serah Terima Pengelolaan Paket Bantuan Sosial Usaha Produktif ini dibuat dan ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan sebenarnya untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. untuk selanjutnya disebut sebagai PIHAK KEDUA atau yang Menerima dan Mengelola Paket Bantuan Sosial Usaha Produktif.... Nama : …………………... PIHAK KEDUA Yang Menerima dan Mengelola Meterai Rp. Pada hari ini……tanggal……. ……………………. Tanggal : …………………………. Dengan ini menyatakan bahwa PIHAK KESATU telah menyelesaikan Paket Bantuan Sosial Usaha Produktif dengan baik berupa: Paket Bansos Usaha Produktif : Rp.000 _______________ Pejabat Pembuat Komitmen ______________ Kelompok/LKD 43 . Berita Acara Serah Terima Pengelolaan Paket Bantuan Sosial Usaha Produktif Paket Bansos Usaha Produktif …………………….. 6. Alamat : …………………………...bulan….tahun……kami yang bertandatangan dibawah ini: Nama : ………………… Jabatan :Pejabat Pembuat Komitmen………………………….pada Badan/Kantor/Dinas…………………Kabupaten/Kota……………….……………(dalam tulisan) Lokasi berada di Desa/Kelurahan Kecamatan Kabupaten/Kota Provinsi : …………………… : …………………… : …………………… : …………………… Selanjutnya PIHAK KESATU menyerahkan Paket Bantuan Sosial Usaha Produktif untuk dilakukan pengelolaan kepada PIHAK KEDUA dan PIHAK KEDUA menerima paket bantuan tersebut di atas dalam keadaan baik dan lengkap untuk dikelola dan dimanfaatkan sesuai peruntukannya serta menyatakan sanggup melakukan pengembangan paket bantuan sosial untuk usaha produktif tersebut. untuk selanjutnya disebut sebagai PIHAK KESATU atau yang Menyerahkan Paket Bantuan Sosial Usaha Produktif. BERITA ACARA SERAH TERIMA PENGELOLAAN PAKET BANTUAN SOSIAL USAHA PRODUKTIF Nomor : ………………………….

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.