Anda di halaman 1dari 6

TINDAKAN PROSEDUR DAN PERAWATAN TRAKEOSTOMI

http://perawataceh.blogspot.com/2011/02/tindakan-prosedur-dan-perawatan.html

A. Contoh Kasus Dilakukan Tindakan Trakeostomi Tn. A (26 tahun) dibawa kerumah sakit oleh keluarga dan masuk ruang gawat darurat (IGD) karena tertelan tutup botol minuman. Setelah diobservasi didapatkan data : pasien nampak gelisah, wajah pucat dan susah bernafas dan susah menelan. TD. 80/60 mmHg, Resp. 12 x/m, pulse 70 x/m. Dari data tersebut dokter jaga di IGD menganjurkan Tn. A untuk dilakukan tindakan trakeostomi sehingga bisa dipasang alat bantu nafas (ventilator). B. Pengertian Trakeostomi adalah prosedur dimana dibuat lubang kedalam trakea. (Smeltzer & Bare, 2002) Trakeostomi adalah insisi operasi dimana memasukkan selang ke dalam trakea agar klien dapat bernafas dengan lebih mudah dan mengeluarkan sekretnya. ( Putriardhita, C, 2008) Ketika selang indwelling dimasukkan kedalam trakea, maka istilah trakeostomi digunakan. Trakeostomi dapat menetap atau permanent. Trakeostomi dilakukan untuk memintas suatu obstuksi jalan nafas atas, untuk membuang sekresi trakeobronkial, untuk memungkinkan penggunaan ventilasi mekanis jangka panjang, untuk mencegah aspirasi sekresi oral atau lambung pada pasien tidak sadar atau paralise (dengan menutup trakea dari esophagus), dan untuk mengganti selang endotrakea, ada banyak proses penyakit dan kondisi kedaruratan yang membuat trakeostomi diperlukan.

C. Klasifikasi Trakeostomi Menurut Sakura21 (2009), trakeostomi dibagi atas 2 (dua) macam, yaitu berdasarkan letak trakeostomi dan waktu dilakukan tindakan. Berdasarkan letak trakeostomi terdiri atas letak rendah dan letak tinggi dan batas letak ini adalah cincin trakea ketiga. Sedangkan berdasarkan waktu dilakukan tindakan maka trakeostomi dibagi dalam 1). Trakeostomi darurat (dalam waktu yang segera dan persiapan sarana sangat kurang) 2). Trakeostomi berencana (persiapan sarana cukup) dan dapat dilakukan secara baik. D. Fungsi Menurut Masdanang (2008), Fungsi dilakukannya tindakan trakeostomi antara lain adalah : 1. Mengurangi jumlah ruang hampa dalam traktus trakheobronkial 70 sampai 100 ml. Penurunan ruang hampa dapat berubah ubah dari 10% sampai 50% tergantung pada ruang hampa fisiologik tiap individu 2. Mengurangi tahanan aliran udara pernafasan yang selanjutnya mengurangi kekuatan yang diperlukan untuk memindahkan udara sehingga mengakibatkan peningkatan regangan total dan ventilasi alveolus yang lebih efektif. Asal lubang trakheostomi cukup besar (paling sedikit pipa 7) 3. Proteksi terhadap aspirasi 4. Memungkinkan pasien menelan tanpa reflek apnea, yang sangat penting pada pasien dengan gangguan pernafasan 5. Memungkinkan jalan masuk langsung ke trachea untuk pembersihan 6. Memungkinkan pemberian obat-obatan dan humidifikasi ke traktus

7. Mengurangi kekuatan batuk sehingga mencegah pemindahan secret ke perifer oleh tekanan negatif intra toraks yang tinggi pada fase inspirasi batuk yang normal E. Indikasi Menurut Ilham (2010), Indikasi trakeostomi termasuk sumbatan mekanis pada jalan nafas dan gangguan non obstruksi yang mengubah ventilasi. Gejala-gejala yang mengindikasikan adanya obstruksi pada jalan nafas : 1. timbulnya dispneu dan stridor eskpirasi yang khas pada obstruksi setinggi atau di bawah rima glotis terjadinya retraksi pada insisura suprasternal dan supraklavikular. 2. Pasien tampak pucat atau sianotik 3. Disfagia 4. Pada anak-anak akan tampak gelisah Gangguan yang mengindikasikan perlunya trakeostomi : 1. Terjadinya obstruksi jalan nafas atas 2. Sekret pada bronkus yang tidak dapat dikeluarkan secara fisiologis, misalnya pada pasien dalam keadaan koma. 3. Untuk memasang alat bantu pernafasan (respirator). 4. Apabila terdapat benda asing di subglotis. 5. Penyakit inflamasi yang menyumbat jalan nafas ( misal angina ludwig), epiglotitis dan lesi vaskuler, neoplastik atau traumatik yang timbul melalui mekanisme serupa 6. Mengurangi ruang rugi (dead air space) di saluran nafas atas seperti rongga mulut, sekitar lidah dan faring. F. Jenis Tindakan Trakeostomi Menurut Ilham (2010), tindakan trakeostomi dapat dibagi atas 3 (tiga) jenis, yaitu :

1. Surgical trakeostomy Tipe ini dapat sementara dan permanen dan dilakukan di dalam ruang operasi. Insisi dibuat diantara cincin trakea kedua dan ketiga sepanjang 4-5 cm. 2. Percutaneous Tracheostomy Tipe ini hanya bersifat sementara dan dilakukan pada unit gawat darurat. Dilakukan pembuatan lubang diantara cincin trakea satu dan dua atau dua dan tiga. Karena lubang yang dibuat lebih kecil, maka penyembuhan lukanya akan lebih cepat dan tidak meninggalkan scar. Selain itu, kejadian timbulnya infeksi juga jauh lebih kecil. 3. Mini tracheostomy Dilakukan insisi pada pertengahan membran krikotiroid dan trakeostomi mini ini dimasukan menggunakan kawat dan dilator. G. Komplikasi Menurut Ilham (2010), komplikasi yang terjadi pada tindakan trakeostomi dibagi atas : 1. Komplikasi dini a. Perdarahan b. pneumothoraks terutama pada anak-anak c. Aspirasi d. Henti jantung sebagai rangsangan hipoksia terhadap respirasi e. paralisis saraf rekuren 2. Komplikasi lanjut a. Perdarahan lanjutan pada arteri inominata b. Infeksi c. fistula trakeoesofagus d. stenosis trakea

H. Pemasangan Trakeostomi 1. Alat - Alat Menurut Roni7iftitah (2010), Alat yang perlu dipersiapkan untuk melakukan trakeostomi adalah : a. Spuit yang berisi obat analgesia b. Pisau bedah c. Pinset anatomi d. Gunting panjang tumpul e. Sepasang pengait tumpul f. Benang bedah g. Klem arteri, gunting kecil yang tajam h. Serta kanul trakea dengan ukuran yag sesuai 2. Ukuran Trakeostomi Menurut Putriardhita, C (2008), Ukuran trakeostomi standar adalah 0 12 atau 24 44 French. Trakeostomi umumnya dibuat dari plastik, namun dari perak juga ada. Tabung dari plastik mempunyai lumen lebih besar dan lebih lunak dari yang besi. Tabung dari plastik melengkung lebih baik kedalam trakea sehingga iritasi lebih sedikitdan lebih nyaman bagi klien. 3. Jenis Pipa Trakeostomi Menurut Roni7iftitah (2010), Alat yang perlu dipersiapkan untuk melakukan trakeostomi adalah : a. Cuffed Tubes Selang dilengkapi dengan balon yang dapat diatur sehingga memperkecil risiko timbulnya aspirasi. b. Uncufed Tubes Digunakan pada tindakan trakeostomi dengan penderita yang tidak mempunyai risiko aspirasi c. Trakeostomi dua cabang (dengan kanul dalam) Dua bagian trakeostomi ini dapat dikembangkan dan dikempiskan sehingga kanul dalam dapat dibersihkan dan diganti untuk mencegah terjadi obstruksi. d. Silver Negus Tubes Terdiri dari dua bagian pipa yang digunakan untuk trakeostomi jangka panjang. Tidak perlu terlalu sering dibersihkan dan penderita dapat merawat sendiri. e. Fenestrated Tubes Trakeostomi ini mempunyai bagian yang terbuka di sebelah posteriornya, sehingga penderita masih tetap merasa bernafas melewati hidungnya. Selain itu, bagian terbuka ini memungkinkan penderita untuk dapat berbicara. 4. Tehnik Melakukan Trakeostomi Menurut Sakura21 (2009), Penderita tidur terlentang, bahu diganjal dengan bantalan kecil sehingga memudahkan kepala diekstensikan pada persendian atlanto oksipital. Dengan posisi seperti ini leher akan lurus dan trakea akan terletak digaris median dekat permukaan leher. Kulit dibersihkan dengan antiseptik dan ditutup dengan kain steril. Obat anastesikum (Novokain) disuntikkan diantara krikoid dengan fossa supra sternal secara infiltrasi. Sayatan kulit dapat vertikal di garis tengah leher mulai di bawah krikoid sampai fossa supra sternal atau jika membuat sayatan horizontal dilakukan pada pertengahan jarak antara kartilago krikoid dengan fossa supra sternal atau kira-kira 2 jari dibawah krikoid orang dewasa. Sayatan dibuat kira-kira 5 cm. Dengan gunting panjang yang tumpul, kulit serta jaringan dibawahnya dipisahkan lapis demi lapis dan ditarik ke lateral dengan pengait tumpul, sampai tampak trakea yang berupa pipa dengan susunan cincin-cincin tulang rawan yang berwarna putih. Bila lapisan kulit dan jaringan dibawahnya dibuka tepat ditengah maka trakea ini mudah ditemukan. Pembuluh darah yang tampak ditarik ke lateral. Isthmus tiroid yang ditemukan ditarik keatas supaya cincin trakea jelas terlihat. Jika tidak mungkin, isthmus tiroid di klem pada dua tempat dan di potong di tengahnya sebelum klem dilepaskan isthmus tiroid diikat kedua tepinya dan disisihkan ke lateral. Perdarahan dihentikan dan jika perlu diikat. Lakukan aspirasi dengan cara menusukkan jarum pada membran antara cincin trakea dan akan terasa ringan waktu ditarik. Buat stoma dengan memotong cincing trakea ke-3

dengan gunting yang tajam. Kemudian dipasang kanul trakea dengan ukuran yang sesuai. Kanul difiksasi dengan tali pada leher penderita dan luka operasi ditutup dengan kassa. Hal yang perlu diperhatikan sebelum membuat lubang pada trakea perlu dibuktikan dulu yang akan dipotong itu benar-benar trakea dengan cara mengaspirasi dengan semprit yang berisi novokain. Bila yang ditusuk itu adalah trakea maka pada waktu dilakukan aspirasi terasa ringan dan udara yang terisap akan menimbulkan gelembung udara. Untuk mengurangi reflek batuk dapat disuntikkan novokain sebnyak 1 cc ke dalam trakea. Untuk menghindari terjadinya komplikasi perlu juga diperhatikan insisi kulit jangan terlalu pendek agar tidak sukar mencari trakea dan mencegah terjadinya emfisema kulit. Ukuran kanul harus sesuai dengan diameter lumen trakea. Bila kanul terlalu kecil, akan menyebabkan kanul bergerak-gerak sehingga terjadi rangsangan pada mukosa trakea dan mudah terlepas keluar. Bila kanul terlalu besar, sulit untuk memasukkannya kedalam lumen dan ujung kanul akan menekan mukosa trakea dan menyebabkan nekrosis dinding trakea. Panjang kanul harus sesuai pula. Bila terlalu pendek akan mudah keluar dari lumen trakea dan masuk kedalam jaringan subkutis sehingga penderita asfiksia. Bila kanul terlalu panjang maka mukosa trakea akan teriritasi dan mudah timbul jaringan granulasi. 5. Perawatan Pasca Trakeostomi Menurut Ilham (2010), Secera setelah trakeostomi dilakukan : a. Rontgen dada untuk menilai posisi tube dan melihat timbul atau tidaknya komplikasi b. Antibiotik untuk menurunkan risiko timbulnya infeksi c. Mengajari pihak keluarga dan penderita sendiri cara merawat pipa trakeostomi Menurut Roni7iftitah (2010), langkah-langkah tindakan perawatan trakeostomi adalah : a. Kaji pernapasan klien, termasuk kebutuhan klien akan pengisapan dan pembersihan trakeostomi b. Letakkan alat-alat di atas meja c. Tinggikan tempat tidur sampai ketinggian yang nyaman untuk bekerja d. Bantu klien untuk mengambil posisi semi fowler atau terlentang e. Jika diperlukan, hubungkan selang pengisap ke aparatus penghisap. Letakkan ujung selang di tempat yang mudah di jangkau dan hidupkan penghisap f. Letakkan handuk melintang di dada klien g. Buka set atau peralatan penghisap. Buka juga bungkus alat-alat yang diperlukan unruk pembersihan trakheostomi i. Letakkan perlak paling bawah dan atur peralatan penghisap ii. Atur mangkuk steril kedua dekat. Jangan sentuh bagian dalam mangkuk iii. Tuangkan 50 ml hidrogen peroksida ke mangkuk kedua. Jangan sampai menetes ke perlak. iv. Buka sikat steril dan letakkan di sebelah mangkuk yang berisi hidrogen peroksida v. Buka ketiga bungkus kasa 10 x 10 cm. pertahankan sterilitas kasa. Tuangkan hidrogen peroksida di atas kasa pertama dan normal salin di kasa kedua. Biarkan kasa ketiga tetap kering. vi. Buka swab berujung kapas. Tuangkan hidrogen peroksida pada satu paket swab dan normal salin pada paket swab lainnya. vii. Jika anda menggunakan kanul dalam sekali pakai, buka bungkusnya sehingga kanul dapat dengan mudah diambil. Pertahankan sterilsasi kanula dalam. viii. Tetapkan panjang tali pengikat trakheostomi yang diperlukan dengan menggandakan lingkar leher dan menambah 5 cm dan gunting tali pada panjang tersebut. h. Lakukan prosedur pengisapan. Pastikan bahwa anda telah menggunakan mantel pelindung dan sarung tangan steril i. Lepaskan bib trakheostomi dari keliling pipa trakheostomi dan buang bib tersebut. j. Lepaskan sarung tangan yang sudah basah dan kenakan sarung tangan steril yang baru. Tangan dominan anda harus tetap steril sepanjang prosedur dilakukan. Bersihkan kanul dalam. k. Mangganti kanul dalam sekali pakai ( dispossible inner-canula). i. Buka dan dengan hati-hati lepaskan kanul dengan menggunakan tangan tak dominan anda. ii. Lakukan pengiapan dengan teknik steril, jika diperlukan.

iii. Keluarkan kanul dalam baru steril dalam bungkusnya dan siramkan sejumlah normal salin steril pada kanul baru tersebut. Biarkan normal salin menetes dari kanul dalam. iv. Bantalan kasa pertama di gunakan untuk membersihkan kulit di sektar trakheostomi. Kasa kedua digunakan untuk mengangkat debris yang dilunakkan oleh hidrogen peroksida, dan kasa ketiga digunakan untuk mengeringkan kulit. v. Swab digunakan untuk membersihkan sekitar trakheostomi. vi. Kanul dalam steril harus sudah siap dipasang setelah anda membersihkan kulit. vii. Tali menahan trakheostomi di tempatnya tanpa menghambat sirkulasi. l. Membersihkan jalan udara sehingga pembersihan trakheostomi menjadi lebih efisien. Pengisapan merupakan prosedur steril. Mantel pelindung mencegah kontak dengan cairan tubuh klien. m. Kulit harus dibersihkan untuk mencegah kerusakan kulit. n. Menurunkan penyebaran mikroorganisme. i. Kanul dalam harus dilepaskan dan diganti untuk mengurangi penyebaran mikroorganisme dan untuk meningkatkan pernapasan. ii. Melepaskan kanul dalam dapat menstimulasi batuk dan klien mungkin membutuhkan pengisapan. iii. Normal salin yang menetes ke dalam trakheostomi dapat menyebabkan klien batuk. iv. Dengan hati-hati dan cermat pasang kanul dalam ke dalam bagian luar kanul dan kunci kembali agar tetap berada di tempatnya. v. Hubungkan kembali klien dengan sumber oksigen. o. Membersihkan kanul dalam tak disposible i. Lapaskan kanul dalam menggunakan tangan tak dominan anda dan letakkan kanul tersebut dalam mangkuk yang berisi hidrogen peroksida. ii. Bersihkan kanul dalam dengan sikat ( tangan dominan anda memegang sikat dan tangan tak dominan anda memegang kanul dalam). iii. Pegang kanul di atas magkuk yang berisi hidrogen peroksida dan tuangkan normal salin pada kanul tersebut sampai semua kanul terbilas dengan baik. Biarkan normal salin memetes dari kanul dalam. iv. Pasang kembali kanul dalam ke dalam kanul luar dan kunci agar tidak berubah letaknya. v. Hubungkan kembali ke sumber oksigen. p. Gunakan kasa dan swab berujung kapas yang dibasahi dengan hidrogen peroksida untuk membersihkan permukaan luar dari kanul luar dan area kulit sekitarnya.bersihkan juga area kulit tepat di bawah kanul. Lalu bilas menggunakan kasa dan swab yang dibasahi dengan normal salin. Kemudian keringkan dengan menggunakan kasa kering. q. Ganti tali pengikat trakheostomi. Biarkan tali yang lama tetap di tempatnya sementara anda memasang tali yang baru. Sisipkan tali yang baru pada salah satu sisi dari faceplate. Lingkarkan kedua ujung bebasnya mengelilingi bagian belakang leher lain ke sisi lainnya dari faceplate. Sisipkan salah satu ujung bebasnya pada salah satu sisi faceplate dan ikat dengan kuat tetapi tidak ketat. Gunting tali yang lama. r. Letakkan bib trakheostomi atau balutan bersih mengelilingi kanul luar di bawah tali pengikat faceplate. Periksa untuk memastikan bahwa tali pengikat tidak terlalu ketat tetapi pipa trakheostomi telah dengan aman tertahan di tempatnya. s. Mengempiskan dan mengembangkan manset (cuff) pipa trakheostomi. i. Pakai sarung tangan steril ii. Lakukan pengisap jalan udara orofaring klien Lampiran Metode Trakeostomi

Menurut Adams, George L,Boies Lawrence R, Highler Peter A. (1997), Bila pembedahan tidak mendesak, maka trakeostomi dilakukan diruang operasi pasien berbaring terlentang dengan bagian

kaki tempat tidur direndahkan 30o guna menurunkan tekanan vena-vena sentral pada vena-vena leher. Suatu selimut terlipat di tempatkan diantara skapula agar leher cukup terekstensi dan leher bagian anterior di bersihkan secara antisepsis dan ditutup. Ahli bedah dan asistennya mengenakan sarung tangan dan masker bila mengoperasi ditempat serta mengenakan baju OK bila mengoperasi di kamar operasi. Setelah penerangan ruangan dan lapangan pandang operasi dirasakan mencukupi maka jaringan subkutan diinfiltrasi dengan lidokain dan epinefrin 1 : 100.000. kemudian dilakukan tahapan sebagai berikut : 1. Membuat sayatan horizontal yang dilakukan pada pertengahan jarak antara kartilago krikoid dengan fosa suprasternal atau kira-kira dua jari dari bawah krikoid orang dewasa. Sayatan jangan terlalu sempit, dibuat kira-kira lima sentimeter 2. Setalah dilakuakn insisi kulit dan telah mencapai otot platisma dilakukan diseksi secara tajam dan tumpul memakai gunting dan hemostat 3. Dua klem allis merupakan retractor otot leher yang baik. Otot-otot ini di belah dan pada garis tengah dan di retraksi kelateral hingga terlihat fasia pretrakealis. 4. Pembuluh darah yang tampak ditarik lateral. Ismuth tiroid yang ditemukan ditarik ke atas supaya cincin trakea jelas terlihat. 5. Bila kelenjar tidak mudah di retraksi, maka ismus harus di kelm, dipotong dan di tambatkan jauh dari garis tengah lapangan operasi. 6. Tuba trakeostomi yang sesuai ukuran di masukkan secara perlahan-lahan dan hati-hati 7. Penutupan bekas insisi harus dilakukan seteliti mungkin untuk menghindari terjadinya emfisema.
Diposkan oleh Muhibbullah Ali Puteh, A.Md.Kep di 20:21

0 komentar: Poskan Komentar