Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Proses keperawatan adalah pengoranisasian yang sistematis dengan melakukan asuhan keperawatan kepada individu, kelompok, dan masyarakat yang berfokus pada identifikasi dan pemecahan masalah dari respon pasien terhadap penyakitnya. Proses keperawatan memberikan kerangka yang dibutuhkan dalam asuhan keperawatan kepeda klien, keluarga, serta komunitas dan merupakan metode yang efisien dalam membuat keputusan klinik serta pemecahan masalah baik aktual maupun potensial dalam mempertahankan kesehatan. Salah satu bidang keperawatan adalah keperawatan maternitas yaitu suatu pelayan profesional yang ditujukan kepada perempuan usia subur yang berkaitan dengan reproduksi pada masa diluar kehamilan, masa kehamilan, masa melahirkan, masa nifas s/d 6 minggu dengan bayi yang dilahirkan sampai usia 40 hari beserta keluarganya. Perawatan pada kelainan patologis kehamilan juga menjadi tangguang jawab perawat. Salah satu kelainan patologis kehamilan adalah menyakut ketidaknormalan letak plsasenta seperti plasenta previa merupakan masalah yang penting dan dapat menjadi fokus bagi proses keperawatan. Plasenta previa adalah plasenta yang berimplitasi rendah sehingga menutupi sebagian/seluruh ostium uteri internum. Kejadian plasenta previa bevariasi antara 0,3-0,5% dari seluruh kelahiran. Dari seluruh kasus perdarahan antepartum, plasenta previa merupakan penyebab terbanyak. Oleh karena itu, pada kejadian perdarahan antepartum, kemungkinan plasenta previa harus dipikirkan lebih dahulu. (Perpustakaan nasional : Katalog Dalam Terbitan KDT). Oleh karena itulah penting untuk tenaga kesehatan, terkhususnya perawat agar lebih memahami tentang patologis pada ibu hamil, sehingga mampu memberikan asuhan keperawatan yang maksimal dan optimal kepada klien untuk meningkatkan kesejahteraan hidup klien.

B. Tujuan Umum
Mengetahui gambaran umum tentang Plasenta Previa dan proses keperawatannya.

C. Tujuan Khusus
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Mengetahui tentang pengertian dan etiologi dari Plasenta Previa Mengetahui klasifikasi, tanda dan gejala Plasenta Previa Mengetahui tentang patofisiologi dan pathway Plasenta Previa Mengetahui tentang pemeriksaan diagnostik pada Plasenta Previa Mengetahui tentang komplikasi dari Plasenta Previa Mengetahui tentang penatalaksanaan medis dan keperawatan pada Plasenta Previa. Mampu melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan Plasenta Previa

BAB II TINJAUN TEORI


A. DEFINISI Plasenta previa ialah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum (buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal) Plasenta Previa adalah plasenta berimplantasi, baik parsial atau total pada sekmen bawah uteri dan terletak di bawah (previa) bagian presentasi bawah janin (Lewellyn, 2001) lahir (Mansjoer, 2001). Plasenta previa adalah plasenta dengan implantasi disekitar sekmen bawah lahir, sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh osteum uteri internum (Manuwaba, 1998). rendah sehingga (Sastrawinata, 2004). Jadi kesimpulanya menurut kelompok kami Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal dan berimplantasi pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internum). B. EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TERKAIT Di Indonesia tercatat dari laporan Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, antara tahun 1971-1975, terjadi 37 kasus plasenta previa diantara 4781 persalinan terdaftar, atau kira-kira 1 diantara 125 persalinan terdaftar. Di Amerika Serikat, plasenta previa terjadi sekitar 0,3 0,5 % dari semua persalinan. Sedangkan jumlah kematian perinatal yang diakibatkan oleh plasenta previa sekitar 0,03% (Joy,2005). Di negara yang sedang berkembang, perdarahan Plasenta previa adalah plasenta yang berimplitasi menutupi sebagian/seluruh ostium uteri internum Plasenta previa plasenta yang letaknya apnormal, pada sekme uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pada jalan

yang salah satunya disebabkan oleh plasenta previa, hampir selalu merupakan malapetaka besar bagi penderita maupun penolongnya karena dapat menyebabkan kesakitan atau kematian baik pada ibu maupun pada janinnya. Pada umumnya insiden plasenta previa 1 dari 250 kehamilan. Frekuensinya bervariasi, namun pada nulipara kejadiannya hanya 1 dari 1000 sampai 1500 kehamilan, dimana kejadiannya pada multipara sebesar 1 kejadian dari 29 kehamilan. Faktor resiko yang juga penting dalam terjadinya plasenta previa adalah kehamilan setelah menjalani seksio sebelumnya, kejadian plasenta previa meningkat 1% pada kehamilan dengan riwayat seksio. Kematian ibu disebabkan karena perdarahan uterus atau karena DIC (Disseminated Intravascular Coagulopathy). Sedangkan morbiditas (kesakitan) ibu dapat disebabkan karena komplikasi tindakan seksio sesarea seperti infeksi saluran kencing, pneumonia post operatif dan meskipun jarang dapat terjadi embolisasi cairan amnion. Terhadap janin, plasenta previa meningkatkan insiden kelainan kongenital dan pertumbuhan janin terganggu sehingga bayi yang dilahirkan memiliki berat yang kurang dibandingkan dengan bayi yang lahir dari ibu yang tidak menderita plasenta previa. Risiko kematian neonatal juga meningkat pada bayi dengan plasenta previa. Oleh karena itu, meskipun perdarahan yang pertama jarang, bahkan bisa dibilang tidak berbahaya, namun bila tidak dilakukan penanganan yang tepat dan segera, maka akan dapat terjadi perdarahan berulang yang akan mengancam keselamatan ibu dan janinnya. Di banyak daerah di Indonesia, karena keadaan yang serba kurang akan memaksa penolong menangani setiap kasus secara individual, tergantung pada keadaan ibu, keadaan janin, dan keadaan fasilitas pertolongan dan penolong pada waktu itu. Darah sebagai obat utama untuk mengatasi perdarahan belum salalu ada atau cukup tersedia di rumah sakit. Kurangnya kesadaran akan bahaya perdarahan baik oleh penderita maupun penolong, atau sukarnya pengangkutan cepat ke rumah sakit mengakibatkan terlambatnya penderita mendapatkan pertolongan yang layak.

Semua keadaan tersebut diatas, ditambah dengan fasilitas pertolongan dan tenaga penolong yang kurang, akan sangat melipatgandakan beban pekerjaan para penolongnya, sehingga penanggulangannya sering tidak berhasil dengan baik. C. ANATOMI FISIOLOGI ORGAN TERKAIT Organ reproduksi wanita terdiri dari organ genetalia interna yang terletak didalam rongga panggul, dan organ genetalia eksterna. Organ-organ wanita ini berkembang dan matur akibat rangsangan hormon esterogen dan progesteron. Seirnig dengan peningkatan usia atau bila produksi hormon ovarium menurun, struktur reproduksi ini akan mengalami atropi (ukuran mengecil). Stuktur organ ini selain didukung oleh persyarafan yang kompleks dan luas juga didukung oleh suplai darah yang banyak. Struktur, Fungsi dan Sirkulasi plasenta Plasenta adalah alat yang sangat penting bagi janin karena merupakan alat pertukaran zat antara ibu dan bayi dan sebaliknya. Normalnya plasenta terletak di bagian fundus (bagian puncak/atas rahim), bisa agak ke kiri atau ke kanan sedikit, tetapi tidak sampai meluas ke bagian bawah apalagi menutupi jalan lahir. Patokan jalan lahir ini adalah ostium uteri internum (disingkat OUI, yaitu mulut rahim bila dilihat dari bagian dalam rahim). Jika dilihat dari luar dari arah vagina disebut ostium uteri eksterum. Plasenta merupakan suatu organ yang terbentuk pada dinding sebelah dalam uterus segera setelah terjadi pembuahan. Zat-zat makanan dan oksigen akan didistribusikan dari ibu ke janinnya melalui plasenta serta membawa sisa-sisa metabolisme ke luar dari tubuh janin. Normalnya, plasenta melekat pada dinding atas uterus. Bagaimanapun, kurang dari 1 % kelahiran, plasenta terbentuk pada bagian bawah uterus dan sebagiannya menutupi serviks. Penutupan jalan lahir ( serviks ) disebut sebagai plasenta previa. Jika dokter mendiagnosis adanya suatu plasenta previa atau plasenta letak rendah sebelum usia kehamilan 20 minggu, kemungkinannya masih dapat berubah. Sekitar 90 % kasus kasus plasenta previa yang didiagnosis sebelum usia kehamilan 20 minggu akan mengalami perubahan pada akhir kehamilannya. (Anonim A, 2009)

a. Struktur Selama minggu ketiga setelah konsepsi, sel-sel trofoblas villi korion menyusup ke dalam desidua basalis. Karena kapiler uterus digunakan, arteri spiralis endometrium terisi darah ibu. Villi korion membentuk ruang-ruang yang memiliki 2 lapisan sel : sinsitium luar sitotrofoblas dalam lapisan ketiga berkembang menjadi septum-septum yang menancap, mencapai desidua yang menonjol menjadi daerah-daerah yang terpisah, yang disebut kotiledon. Pada setiap plasenta terdapat 15-20 kotiledon, yang terdapat cabang villi korion dengan sistem pembentukan pembuluh darah janin yang rumit. Setiap kotiledon merupakan unit yang fungsional. Keseluruhan struktur ini disebut plasenta. b. Sirkulasi plasenta Sirkulasi embrio-plasenta ibu terjadi pada hari ke-17, saat jantung embrio mulai berdenyut. Pada minggu ketiga, darah embrio bersirkulasi diantara embrio dan villi korion. Darah Venosa (tanpa oksigen) meninggalkan janin melalui arteri umbilikalis dan masuk ke dalam plasenta. Dalam villi ia membentuk sistem arteri kapiler-vena. Villi ini terbenam dalam lakuna (pada saat ini adalah spasium intervilosum), sehingga tidak terdapat percampuran darah antara darah vena janin dan darah ibu. Darah arteri (teroksigenasi) masuk ke dalam janin melalui vena umbilikalis. Darah meternal masuk ke dala spasium intervilosum dengan cara menyemprot. Karena perbedaan tekanan yang tinggi antara masuknya darah (60-70mmHg) dengan tekanan di antara villi (20mmHg) maka darah sempat berputar-putar disekitar villi. Pada saat inilah pertukaran gas dan nutrien antara janin dan ibu terjadi. Selajutnya darah maternal masuk kembali melalui vena-vena dalam endometrium. Kecepatan aliran darah utero plasenta

naik selama kehamilan, dari kira-kira 50ml/mnt pada minggu ke-10 sampai 500-600ml/mnt pada saat aterm. c. Selaput plasenta Selaput plasenta adalah lapisan yang memisahkan darah maternal dan darah fetal. Ia lazim disebut barier plasenta, walaupun sebetulnya kurang tepat karena banyak senyawa dapat melaluinya. Hanya molekul-molekul tertentu sajalah yang tidak dapat melaluinya. Sampai umur 20 minggu ia terdiri atas 4 lapisan yaitu : 1. 2. 3. 4. Sinsitiotrofoblas Sitotrifoblas Jaringan ikat dalam core Endotelium kapiler janin

Pada sinsitiotrofoblas terdapat mikrovilli yang berfungsi memperluas area permukaan pertukaran zat antara janin dan ibu. Setelah umur 20 minggu terjadilah hal-hal berikut : 1. 2. 3. Sitotrofoblas tidak lagi membentuk lapisan yang kontinyu Tebal jaringan ikat berkurang Jumlah dan ukuran kapiler janin bertambah

Dengan makin tua kehamilan, selaput plasenta menjadi semakin tipis dan banyak kapiler janin terletak sangat dekat dengan sinsitiotrofoblas. Pada akhir kehamilan terbentuklah material fibrinoid yang melapisi sinsitiotrofoblas sehingga fungsi plasenta semakin menurun. Dalam central core dijumpai pula sel-sel makrofag yang disebut sel-sel Hofbauer d. Fungsi utama Plasenta 1. Alat metabolisme Terutama pada saat kehamilan muda, plasenta mensintesis glikogen, kolesterol dan asam lemak yang merupakan persediaan nutrien dan energi untuk embrio. 2. Alat Transfer Ada 5 mekanisme zat lewat selaput plasenta yaitu : Difusi Sederhana

Difusi sederhana tergantung pada perbedaan kadar, konstanta difusi dan luas permukaan difusi. Zat-zat yang lewat plasenta dengan cara ini adalah oksigen, karbondioksida, karbonmonoksida. Difusi yang dipercepat/dipermudah Contoh yang nyata adalah transport glukosa. Transport glukosa dari ibu ke janin lebih cepat dibandingkan dengan perhitungan menggunakan persamaan difusi untuk difusi sederhana. Transport Aktif Zat yang lewat dengan transpor aktif antara lain adalah asam amino esensial dan vitamin yang larut dalam air Pinositosis Pinositosis adalah suatu bentuk transport dengan cara memasukan zat secara utuh dengan pseudopodia sinsiotrofoblas. Protein kompleks, sejumlah lemak, benda-benda imun, bahkan virus adapat menembus plasenta dengan cara ini. Kebocoran Ini terjadi karena adanya kerusakan pada villi, sehingga selaput plasenta robek, keadaan ini terjadi misanya pada saan persalinan (Kusmiyati dkk, 2008). D. ETIOLOGI Penyebab plasenta previa secara pasti sulit ditentukan, tetapi ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya plasenta previa, misalnya bekas operasi rahim (bekas sesar atau operasi mioma), sering mengalami infeksi rahim (radang panggul), kehamilan ganda, pernah plasenta previa, atau kelainan bawaan rahim. Menurut Prof. Dr. Rustam Moctar MPH., 1998. Jakarta, beberapa faktor yang berhubungan dengan peningkatan kekerapan terjadi plasenta previa, yaitu: 1. Paritas Makin banyak paritas ibu, makin besar kemungkinan mengalami plasenta previa 2. Usia ibu pada saat hamil 8

Pada primigravida, umur diatas 35 tahun lebih sering dari pada umur di bawah 25 tahun 3. Hipoplasia endometrium Bila kawin dan hamil pada umur muda 4. Endometrium Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang, bekas operasi, kuretase, dan mual plasenta 5. Korpus luteum bereaksi lambat Dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepasi 6. Tumor-tumor Seperti mioma uter, polip endometrium 7. Kadang- kadang pada malposisi E. MANIFESTASI KLINIK 1. Perdarahan tanpa nyeri pada saat tidur dan melakukan aktifitas. 2. Perdarahan berulang, mekanisme pendarahan karena pembentukan segmensegmen bawah rahim menjelang kelahiran aterm sehingga plasenta lepas dari inplantasi dan menimbulkan pendarahan.bentuk perdarahan dapat sedikit atau banyak dan menimbulkan penyulit pada janin sama ibu penyulit pada ibu bisa menimbulkan anemia sampai syok sedangkan untuk janin dapat menimbulkan asfiksia sampai kematian jani dalam rahim. 3. Warna perdarahan merah segar 4. Waktu terjadinya saat hamil 5. His biasanya tidak ada 6. Rasa tidak tegang (biasa) saat palpasi 7. Denyut jantung janin ada 8. Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina 9. Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul 10. Presentasi mungkin abnormal, implantasi plasenta disekmen bawah rahiim menyebabkan bagian terendah tidak mungkin masuk pintu atas panggul dan menimbulkan kelainan letak janin dalam rahim.

F. PATOFISIOLOGI Perdarahan anter partum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 20 minggu saat sekmen uterus telah terbentuk dan mulai melebar dan menipis. Umumnya terjadi pada trimester ke tiga karena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan. Pelebaran sekmen bawah uterus dan pembukaan servik menyababkan sinus uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan tak dapat dihindarkan karena adanya ketidakmampuan selaput otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti pada plasenta letak normal. Klasifikasi Plasenta Previa : 1. Plasenta Previa totalis : seluruh ostium internum tertutup oleh plasenta 2. Plasenta Previa Lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta 3. Plasenta Previa Lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta

G. PATHWAY MultiParitas
Hamil usia diatas 35 tahun Endometrium cacat Tumor-tumor Korpus luteum

bereaksi lambat

10

Plasenta Previa

usia kehamilan 20 minggu

sekmen uterus telah terbentuk dan mulai melebar dan menipis

Pembukaan servik Intoleransi aktivitas/ kelemahan

lepasnya plasenta dari dinding uterus

Anemia

Sinus uterus robek

Penurunan konsentrasi Hb

Perdarahan dinding vagina atau serviks

eritosit menurun

2. Ansietas

Resiko cedera janin

1. Penurunan cariac output

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pemeriksaan darah: hemoglobin, hematokrit.

11

2. Pemeriksaan ultra sonografi, dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan plasenta atau jarak tepi plasenta terhadap ostium 3. Pemeriksaan inspekkulo secara hati-hati dan benar, dapat menentukan sumber perdarahan dari karnalis servisis atau sumber lain (servisitis, polip, keganasan, laserasi/troma). I. KOMPLIKASI Episode pendarahan berat dapat terjadi setiap saat, dan selama pendarahan ini janin dapat mati karena hipoksia. Setela lahir, mungkin terjadi pendarahan pada postpartum karna terfoglas menginvasi segmen bawah uteri yang kurang didukung oleh jaringan vena.pada kebanyakan kasus, pendarahan berhenti setelah pemberian oksitosin, namun kadang-kadang perdarahan tidak dapat dihentikan sehingga diperlukan histerektomi. J. PENATALAKSANAAN MEDIS DAN KEPERAWATAN Penatalaksanaan Medis Episode pendarahan significan yang pertama biasanya terjadi di rumah pasien, dan biasanya tidak berat. Pasien harus dirawat dirumah sakit dan tidak dilakukan pemeriksaan vagina, karena akan mencetuskan perdarahan yang sangat berat. Dirumah sakit TTV pasien diperiksa, dinilai jumlah darah yang keluar, dan dilakukan close match. Kehilangan darah yang banyak memerlukan transfusi. Dilakukan palpasi abdomen untuk menentukan umur kehamilan janin, presentasi, dan posisinya. Pemeriksaan Ultrasonografi dilakukan segara setelah masuk, untuk mengkonfirmasi diagnosis Penatalaksanaan selajutnya tergantung pada perdarahan dan umur kehamilan janin. Dalam kasus perdarahan hebat, diperlukan tindakan darurat untuk melahirkan bayi (dan plasenta) tanpa memperhitungkan umur kehamilan janin. Jika perdarahan tidak hebat, perawatan kehamilan dapat dibenarkan jika umur kehamilan janin kurang dari 36 minggu. Karena perdarahan ini cenderung berulang, ibu harus tetap dirawat di RS. Episode perdarahan berat mungkin mengharuskan

12

pengeluaran janin darurat, namum pada kebanyakan kasus kehamilan dapat dilanjutkan hingga 36 minggu ; kemudian pilihan melahirkan bergantung pada apakah derajat plasenta previanya minor atau mayor. Wanita yag memiliki derajat plasenta previa minor dapat memilih menunggu kelahiran sampai term atau dengan induksi persalinan, asalkan kondisinya sesuai. Plasenta previa derajat mayor ditangani dengan seksio seksarae pada waktu yang ditentukan oleh pasien atau dokter, meskipun biasanya dilakukan sebelum tanggal yang disepakati, karena perdarahan berat dapat terjadi setiap saat. Penatalaksanaan Keperawatan Sebelum dirujuk anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri, tidak melakukan senggama, menghidari peningkatan tekanan rongga perut (misal batuk, mengedan karena sulit buang air besar). Pasang infus NaCl fisiologis. Bila tidak memungkinkan, beri cairal peroral, pantau tekanan darah dan frekuensi nadi pasien secara teratur tiap 15 manit untuk mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat perdarahan. Pantau pula BJJ dan pergerakan janin. Bila terjadi renjatan, segera lakukan resusitasi cairan dan transfusi darah bila tidak teratasi, upaya penyelamatan optimal, bila teratasi, perhatikan usia kehamilan. Penanganan di RS dilakukan berdasarkan usia kehamilan. Bila terdapat renjatan, usia gestasi kurang dari 37 minggu, taksiran Berat Janin kurang dari 2500 g, maka : 1. bila perdarahan sedikit, rawat sampai sia kehamilan 37 minggu, lalu lakukan mobilisasi bertahap, beri kortikosteroid 12 mg IV/hari selama 3 hari 2. Bila perdarahan berulang, lakukan PDMO kolaborasi (Pemeriksaan Dalam Di atas Meja Operasi), bila ada kontraksi tangani seperti kehamilan preterm Bila tidak ada renjatan usia gestaji 37 minggu atau lebih, taksiran berat janin 2500g atau lebih lakukan PDMO, bila ternyata plasenta previa lakukan persalinan perabdominam, bila bukan usahakan partus pervaginam.

13

K. PENGKAJIAN KEPERAWATAN Riwayat Obstetri Memberikan imformasi yang penting mengenai kehamilan sebelumnya agar perawat 1. 2. 3. 4. 5. perdarahan. 6. 7. Riwayat mensturasi Riwayat yang lengkap di perlukan untuk menetukan taksiran persalinan (TP).TP ditentukan berdasarkan hari pertama haid terakhir (HPHT).untuk menentukan TP berdasarkan HPHt dapat digunakan rumus naegle, yaitu hari ditambah tujuh, bulan dikurangi tiga, tahun disesuaikan. Riwayat Kontrasepsi Beberapa bentuk kontrasepsi dapat berakibat buruk pada janin, ibu, ztu keduanya.riwayat kontrasepsi yang lengkap harus di dapatkan pada sat kunjungan pertama. Penggunaan kontrasepsi oral sebelum kelahiran dan berlanjut pada kehamilan yang tidak diketahui dapat berakibat buruk pada pembentukan organ seksual pada janin. komplikasi pada bayi rencana menyusui bayi dapat menentukan kemungkinan masalah pada kehamilan sekarang.Riwayat obstetri meliputi : Gravida, para abortus, dan anak hidup (GPAH) berat badan bayi waktu lahir dan usia gestasi pengalaman persalinan, jenis persalinan, tempat persalinan, jenis anetesi dan kesulitan persalinan . komplikasi maternal seperti diabetes, hipertensi, infeksi, dan

dan penolong persalinan

Riwayat penyakit dan Obperasi

14

Kondisi kronis seperti dibetes melitus, hipertensi, dan penyakit ginjal bisa berefek buruk pada kehamilan. Oleh karena itu, adanya riwayat infeksi, prosedur operasi, dan trauma pada persalinan sebelumnya harus didokumentasikan. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik pada ibu hamil diperlukan untuk mendeteksi masalah fisik yang dapat mempengaruhi kehamilan. 1. Tanda-tanda vital TD ND Pernapasan Suhu Bendungan vena Edema Postur Tinggi dan berat badan Pengukuran velviks Abdomen Pemeriksaan refleks tendn Pemeriksaan warna kulit , lesi, hiperpigmentasi Pemeriksaan pada trimester kedua kelenjar tiroid membesar Mulut Usus

2. Sistem kardiovaskuler

3. Sistem muskuluskletal

4. Sistem neurologi 5. Sistem integumen 6. Sistem endokrin 7. Sistem gastrointestinal

15

8. Sistem urinarius Protein Glukosa Keton Bakteri Ukuran payudara, kesimetrisan, kondisi puting, dan pengeluaran kolustrum Organ reproduksi eksternal Organ reproduksi internal

9. Sistem reproduksi

L. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Penurunan cardiac output yang berhubungan dengan perdarahan dalam jumlah berlebih Tujuan : penurunan cardiak output tidak terjadi atau teratasi Kriteria Hasil : volume darah intra vaskuler dan cardiac output dapat diperbaiki sampai nadi, TD, nilai Hemodinamik, serta nilai laboratorium menunjukkan tanda normal. Intervensi : a. Kaji dan catat TTV, TD, serta jumlah perdarahan. Rasional : pengkajian yang akurat mengenai status hemodinamik merupakan dasar untuk perencanaan, intervensi, evaluasi. b. Bantu Pemberian pelayanan kesehatan atau mulai sarankan terapi cairan IV atau terapi transfusi darah sesuai kebutuhan Rasional : memperbaiki volume vaskular membutuhkan terapi IV dan intervensi farmakologi. Kehilangan volume darah harus diperbaiki untuk mencegah komplikasi seperti infeksi, gangguan janin dan gangguan vital ibu hamil.

16

2. Ansietas yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan mengenai efek perdarahan dan menejemennya Tujuan : ansietas dapat berkurang Kriteria hasil : pasangan dapat mengungkapkan harapannya dengan katakata tentang manajemen yang sudah direncanakan, sehingga dapat mengurangi kecemasan pasangan. Intervensi : a. Terapi bersama pasangan dan menyatakan perasaan . Rasional : kehadiran perawat dan pemahaman secara empati merupakan alat terapi yang potensial untuk mempersiapkan pasangan untuk menanggulangi situasi yang tidak diharapkan b. Menentukan tingkat pemahaman pasangan tentang situasi dan manajemen yang sudah direncanakan. Rasional : hal yang diberikan perawat akan memperkuat penjelasan dokter dan untuk memberitahu dokter jika ada penjelasan yang penting c. Berikan pasangan informasi tentang menajemen yang sudah direncanakan. Rasional : pendidikan pasien yang diberikan merupakan cara yang efektif mencegah dan menurunkan rasa cemas. Pengetahuan akan mengurangi ketakutan akan hal-hal yang tidak diketahui 3. Harga keluarga Tujuan : agar harga diri ibu meningkat Kriteria Hasil : mengenal aspek positif dari diri sendiri selama perawatan di RS. Mengenal cara pemberian dan kenyamanan dan kasih sayang kepada anaknya selama tinggal di RS. Intervensi : diri rendah situasional yang berhubungan dengan ketidakmampuan sementara untuk memberikan keperawatan kepada

17

a. Anjurkan Ibu untuk mengungkapkan perhatian tentang kebutuhan selama di RS. Setelah mengungkapkan perasaan anjurkan untuk memeriksa kebutuhan selama di RS dan konsekuensinya. Rasional : perhatian secara umum mungkin tidak akan teridentifikasi atau mungkin akan menjadi kesalahfahaman. Ini akan mengidentifikasikan aspek positif adari situasi yang merupakan tugas yang penting baginya. b. Bantu untuk melibatkan saudara ibu dalam merencanakan kelahiran. Mungkin dia mendapatkan manfaat dari kelas sibling atau waktu bermain dengan ibunya dalam perawatan bagi kelahiran Rasional : ini akan memberikan tujuan untuk menggabungkan interaksi keluarga yang akan meningkatkan harga diri.

18