Anda di halaman 1dari 6

Wacana atau yang kerap disebut diskursus (discourse) menjadi istilah umum yang dipakai dalam berbagai disiplin,

seperti teori kritis, sosiologi, linguistik, filsafat, psikologi sosial, dan berbagai disiplin lainnya. Tiap disiplin dan bahkan banyak ahli memiliki defenisi tersendiri tentang wacana itu sendiri. Hal ini menjadikan wacana mempunyai makna yang luas yang disebabkan oleh perbedaan lingkup dan disiplin ilmu yang memakai istilah wacana tersebut. Tabel berikut ini merupakan ringkasan definisi tentang wacana: Discourse: 1. Komunikasi verbal, pembicaraan, percakapan; 2. Perlakuan formal terhadap suatu subjek di dalam tulisan atau ucapan; 3. Suatu unit teks yang dipergunkan oleh linguis untuk menganalisis fenomena bahasa yang tersususn dari lebih dari satu kalimat; 4. Kemampuan untuk menalar; 5. Untuk berbicara atau menulis formal; (Collins Concise English Dictionary, 1988) Discourse: 1. Percakapan, terutama tentang hakikat yang formal; ekspresi formal dan teratur dalam ucapan dan tulisan; ekspresi dalam bentuk khotbah, risalah, dll; suatu potongan atau unit ucapan/tulisan yang terkait. (Middle English; discours, dari bahasa Latin: tindakan pergi kemana-mana). (Longman Dictionary of English Language, 1984) Analisis diskursus menekankan struktur bahasa yang diucapkan secara wajar, seperti diskursus dalam percakapan, wawancara, komentar dan wicara. Analisis teks memfokuskan pada teks-teks seperti esai, ulasan, tanda jalan, dan bab. Tetapi pembedaan ini tidak jelas sama sekali; masih banyak penggunaan lain dari label-label ini. Secara lebih khusus, diskursus dan teks dapat digunkan dalam arti yang jauh lebih luas yang mencakup semua unit bahasa dengan fungsi komunikasi yang dapat didefinisikan, baik tulisan maupun lisan (David Crystal, 1987) Diskursus : pertama, wilayah umum semua pernyataan; yakni, semua ucapan atau teks yang memiliki makna dan pengaruh riil dianggap sebagai diskursus.Kedua. sekelompok statement yang dapat diindividualisasikan. Definisi ini sering digunakan Foucault ketika berbicara tentang struktur-struktur tertentu dalam diskursus. Dalam hal ini diskursus feminitas, diskursus imperialisme, dan seterusnya. Ketiga. suatu praktik teratur yang teratur yang terkait dengan sejumlah pernyataan; praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan. (Foucault, 1972) Sumber: disarikan dari Sara Mills, Discourses, dialihbahasakan oleh Ali Noer Zaman, Diskursus; Sebuah Piranti Analisis dalam Kajian Ilmu Sosial (Cet. I; Jakarta: Qalam, 2007), h. 1-11. Dari berbagai definisi wacana (discourse) di atas maka paling tidak dapat dikatakan bahwa wacana berhubungan dengan bahasa. Bahasa yang dalam artian yang lebih luas. Wacana juga berkaitan dengan praktik dari pemakainya (praktik regulatif).

Menurut Foucault bahwa pandangan tentang suatu objek dibentuk dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh struktur diskursif: wacana dicirikan oleh batasan bidang dari objek, definisi dari persfektif yang paling dipercaya dan dipandang benar. Persepsi tentang suatu objek dibentuk dengan dibatasi oleh praktik diskursif: dibatasi oleh pandangan yang mendefinisikan sesuatu bahwa ini benar dan yang lain tidak. Ketika mendengar kata film India, maka yang terbayang adalah film dengan nyanyian sambil menari, dengan tokoh utama yang mengalahkan musuh birokrat dan kepolisian yang korup. Wacana membatasi pandangan khalayak, mengarahkan pada jalan pikiran tertentu dan mengahayati itu sebagai sesuatu yang benar. Wacana sebagai sesuatu yang mengarahkan, membatasi, dan mengkonstruksi realitas ke dalam narasi yang dapat dipahami. Hal ini berkaitan dengan stuktur diskursif yakni bangunan besar, dan secara sistematis batas-batas itu berbentuk sebuah epistem. Melalui episteme sesuatu realitas dapat dipahami dan dimengerti dengan pernyataan dan pandangan tertentu, dan bukan yang lain. Sebuah contoh yang diberikan oleh Eriyanto tentang bagaimana struktur diskursif yang dibangun tentang PKI sebagai partai terlarang. Pada masa Orde Lama, partai ini adalah partai resmi bahkan masuk dalam lima besar yang memperoleh suara terbanyak. Di masa Orde Baru, PKI justru menjadi partai terlarang dengan berbagai keburukannya. Tidak ada yang berubah dalam PKI ini (sebagai objek), tetapi yang membuat ia terlarang adalah struktur diskursif yang secara sengaja di bangun oleh Orde Baru bahwa PKI ini partai yang suka memberontak dan anti-Tuhan. Wacana semacam ini membatasi pandangan sehingga ketika PKI dibicarakan yang muncul adalah kategori PKI sebagai partai pemberontak dan anti-Tuhan, bukan yang lain. Lebih jauh wacana berkaitan dengan praktik, menurut teori wacana Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe yang berpangkal dari gagasan postsruktualis bahwa wacana mengkonstruk makna dalam dunia sosial dan karena secara mendasar bahasa itu tidak stabil, makna tidak pernah bisa tetap secara permanen. Tidak ada wacana yang merupakan entintitas tertutup, namun wacana

senantiasa mengalami transformasi-transformasi karena adanya kontak dengan wacana-wacana lain. Oleh sebab itu, kata kunci dari teori ini adalah perjuangan kewacanaan (discursive struggle). Wacana-wacana yang berbeda, yang mana masing-masing mewakili cara tertentu dalam membicarakan tentang dan memahami dunia sosial, melaksanakan perjuangan terus menerus satu sama lain untuk mencapai hegemoni, yakni menetapkan makna-makna bahasa menurut caranya sendiri. Dengan demikian, hegemoni dipahami sebagai dominasi satu persfektif khusus. Secara keseluruhan pandangan bahwa realitas adalah konstruksi wacana bukan berarti mengingkari eksistensi dari sebuah realitas. Menurut Foucault bahwa apa yang signifikan dari sebuah realitas (objek) dan bagaimana menafsirkannya adalah pada strukstur diskursifnya. Hal ini dalam pandangan Foucault tentang hubungan antara diskursus dengan yang nyata (realitas) sebagaimana yang dikemukakan oleh Laclau dan Mouffe: kenyataan bahwa setiap objek dibentuk sebagai objek suatu diskursus, tidak ada hubungan dengan ada dunia di luar pikiran, atau dengan oposisi realisme/idealisme. Sebuah gempa bumi atau runtuhnya batu-bata adalah suatu peristiwa yang jelas ada, dalam arti, ia terjadi di sini dan sekarang, yang terlepas dari kehendak saya. Tetapi, tentang kekhususannya sebagai objek yang dikonstruksi sebgai fenomena alam atau ekspresi kemarahan Tuhan, tergantung pada struktur bidang diskursusnya. Apa yang diingkari bukanlah objek-objek itu ada di luar pikiran, tetapi justru penegasan yang berbeda bahwa objek-objek itu dapat membentuk dirinya sendiri sebagai objek di luar kondisi kemunculan suatu diskursus Dari berbagai pandangan di atas, wacana diartikan sebagai sesuatu yang tidak tanpa tujuan dan tidak berada dalam ruang kosong. Maksudnya adalah wacana dalam praktiknya mengarahkan dalam membentuk praktik sosial. Sebagai contoh sederhana, banjir. Banjir dapat dianggap sebagai suatu hal fenomena alam biasa, dapat juga dianggap sebagai ujian, cobaan bahkan murka dari Tuhan, tergantung dari wacana atau persfektif yang digunakan. Praktik kewacanaan nantinya membentuk tindakan nyata selanjutnya. Hal ini menjadikan realitas adalah ranah perebutan apa yang dianggap baik-buruk, benar-salah, sehat-tidak sehat, dan sebagainya. Dalam konteks kajian tesis ini, penulis menempatkan wacana (discourse) sebagai praktik, dan perjuangan kewacanaan (discursive struggle). Wacana tidak dipahami sebagai serangakaian

kata atau preposisi teks, tetapi adalah sesuatu yang memproduksi yang lain (gagasan, konsep atau praktik). Oleh karena itu persoalan utama wacana adalah siapa yang memproduksi wacana dan apa efek yang muncul dari produksi wacana tersebut. Dengan kata lain setiap produksi wacana selalu ada efek yang terpinggirkan. Sehingga wacana berkaitan dengan kuasa (power). Untuk itu penulis merasa penting untuk menjelaskan kuasa (power) lebih lanjut pada bagian berikut dari tulisan ini. Kekuasaan (power) merupakan salah satu tema sentral dalam kajian budaya. Tema tersebut menjadi penting dalam kajian budaya setiap wacana yang muncul, teks, percakapan, atau apapun tidak dipandang sebagai sesuatu yang alamiah, wajar, netral, tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan (power). Dalam persfektif ilmu politik, kekuasaan diartikan sebagai setiap kemampuan, kapasitas dan hak yang dimiliki seseorang, lembaga atau institusi untuk mengontrol perilaku dan kehidupan orang atau kelompk lain. Dalam The Balckwell Dictionary of Modern Social Thought kekuasaan diberikan pengertian sebagai: kemampuan (kapasitas) untuk memproduksi atau memberi kontribusi pada, hasilmenyumbangkan sesuatu pada dunia. Dalam kehidupan sosial, kita bsa mengataan bahwa kekuasaan adalah kemampuan untuk melakukan hal-hal tersebut di atas melalui relasi sosial: ini adalah kapasitas untuk memproduksi, atau memberi kontribusi, hasil dengan memengaruhi orang lain Dari pengertian-pengertian kuasa tersebut di atas, Michel Foucault memiliki pandangan yang berbeda. Pertama, kuasa milik bukan melainkan fungsi. Dalam pandangan Foucault kuasa tidak dimiliki, tetapi dipraktikkan dalam suatu ruang sosial.Kedua, kuasa tidak dapat dilokalisasikan, tetapi terdapat di mana-mana. Menurutnya di mana saja terdapat susunan, aturanaturan, sistem-sistem regulasi, di mana saja ada manusia yang mempuanyai hubungan tertentu satu dengan yang lainnya dan dengan dunia, di situpun kuasa bekerja. Ketiga, kuasa tidak selalu bekerja

melalui penindasan dan represi, tetapi terutama melalui regulasi dan normalisasi. Kuasa tidak bersifat subjektif. Kuasa tidak dapat dilihat dari perfektif dialektif bahwa seseorang menguasai orang lain. Kuasa juga tidak bekerja dengan cara negatif dan represif, melainkan dengan cara positif dan produktif.kuasa dapat memproduksi realitas; kuasa memproduksi lingkup objek dan ritus-ritus kebenaran. Keempat, kuasa tidak bersifat destruktif melainkan produktif. Kuasa itu produktif; kuasa itu memungkinkan segala sesuatu. Hanya melalui analisis yang berpangkal pada kuasa sebagai kekuatan yang positif dapat menguvah sesuatu dalam tatanan sosiopolitik yang aktual. Hanya saja, Foucault sangat menolak anarkisme. Dari pandangan Foucault di atas, kuasa diartikan bukan sebagai milik tetapi fungsi dan praktik. Hal ini berbeda dengan dengan pandangan, sebagaiamana definisi yang

tertuang pada bagian awal, bahwa kuasa disamakan dengan milik yakni sebagai subjek berkuasa. Subjek kuasa seperti raja, negara, pemerintah, ayah, laki-laki. Oleh karena kuasa bukan sebagai objek kepemilikan namun sebagai fungsi dan praktik, hal ini menjadikan kuasa tidak dapat dilokalisasikan dan kuasa berlangsung di mana-mana. Hal ini pada umumnya kuasa dikaitkan dengan seseorang atau lembaga tertentu, khususnya aparat negara. Tetapi menurut Foucault strategi kuasa berlangsung di mana-mana. Di mana saja terdapat susunan, aturan-aturan, sistem-sistem regulasi, di mana saja ada manusia yang mempunyai hubungan tertentu satu sama lain dengan dunia, di situ kuasa sedang bekerja. Kuasa tidak datang dari luar, tetapi menentukan susunan, aturan-aturan dan hubunganhubungan itu dari dalam, malah memungkinkan semua itu. Sebagai contoh tentang hal ini disebut hubungan-hubungan sosial-ekonomis, hubungan-hubungan yang menyangkut keluarga,

seksualitas, media komunikasi, pelayanan kesehatan, pendidikan dan ilmu pengetahuan. Kuasa tidak bekerja secara negatif dan represif, melainkan dengan cara positif dan produktif. Strategi kuasa tidak bekerja melalui penindasan, melainkan melalui normalisasi dan regulasi; apa yang dinamakan dalam menjaga dan menghukum sebagai disiplin.Normalisasi dan regulasi bekerja pada

satu taraf kehidupan manusia serta masyarakat dan berfungsi bagaikan semacam alat penyaring atau mesin sortir. Salah satu bidang normalisasi adalah tubuh. Senam dan latihan-latihan militer, kelincahan, dan keluwesan yang menyangkut tingkah laku serta gerak-gerik, mengikuti norma-norma tentang keadaan tubuh (langsing misalnya), cara berpakaian, dan kesehatan: dalam semuanya itu berlangsung normalisasi dan dengan itu juga strategi kuasa. Cara pandang seperti ini karena kuasa dianggap sebagai alat atau instrumen yang terarah kepada pembentukan diri (self-constitusion).Suatu contoh lain tentang tentang strategi kuasayakni seluruh wilayah yang menyangkut kesehatan badani dan psikis dengan norma-normanya untuk menyatakan seseorang sakit atau sehat. Juga aturan-aturan yang mengiringi cara kita berbicara dengan ketentuan dan lafal dan ejaan merupakan contoh normalisasi.