Anda di halaman 1dari 20

Transcultural Nursing merupakan suatu area kajian ilmiah yang berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai nilai

budaya ( nilai budaya yang berbeda , ras , yang mempengaruhi pada seorang perawat saat melakukan asuhan keperawatan kepada klien / pasien ). Menurut Leininger ( 1991 ).

Konsep Transkultural
Kazier Barabara ( 1983 ) dalam bukuya yang berjudul Fundamentals of Nursing Concept and Procedures mengatakan bahwa konsep keperawatan adalah tindakan perawatan yang merupakan konfigurasi dari ilmu kesehatan dan seni merawat yang meliputi pengetahuan ilmu humanistic , philosopi perawatan, praktik klinis keperawatan , komunikasi dan ilmu sosial . Konsep ini ingin memberikan penegasan bahwa sifat seorang manusia yang menjadi target pelayanan dalam perawatan adalah bersifat bio psycho social spiritual . Oleh karenanya , tindakan perawatan harus didasarkan pada tindakan yang komperhensif sekaligus holistik. Budaya merupakan salah satu dari perwujudan atau bentuk interaksi yang nyata sebagai manusia yang bersifat sosial. Budaya yang berupa norma , adat istiadat menjadi acuan perilaku manusia dalam kehidupan dengan yang lain . Pola kehidupan yang berlangsung lama dalam suatu tempat , selalu diulangi , membuat manusia terikat dalam proses yang dijalaninya . Keberlangsungaan terus menerus dan lama merupakan proses internalisasi dari suatu nilai nilai yang

mempengaruhi pembentukan karakter , pola pikir , pola interaksi perilaku yang kesemuanya itu akan mempunyai pengaruh pada pendekatan intervensi keperawatan ( cultural nursing approach ).

Peran dan Fungsi Transkultural


Budaya mempunyai pengaruh luas terhadap kehidupan individu . Oleh sebab itu , penting bagi perawat mengenal latar belakang budaya orang yang dirawat ( Pasien ) . Misalnya kebiasaan hidup sehari hari , seperti tidur , makan , kebersihan diri , pekerjaan , pergaulan social , praktik kesehatan , pendidikan anak , ekspresi perasaan , hubungan kekeluargaaan , peranan masing masing orang menurut umur . Kultur juga terbagi dalam sub kultur . Subkultur adalah kelompok pada suatu kultur yang tidak seluruhnya mengaanut pandangan keompok kultur yang lebih besar atau member makna yang berbeda . Kebiasaan hidup juga saling berkaitan dengan kebiasaan cultural. Nilai nilai budaya Timur , menyebabkan sulitnya wanita yang hamil mendapat pelayanan dari dokter pria . Dalam beberapa setting , lebih mudah menerima pelayanan kesehatan pre-natal dari dokter wanita dan bidan . Hal ini menunjukkan bahwa budaya Timur masih kental dengan hal hal yang dianggap tabu. Dalam tahun tahun terakhir ini , makin ditekankan pentingknya pengaruh kultur terhadap pelayanan perawatan . Perawatan Transkultural merupakan bidang yang relative baru ; ia berfokus pada

studi perbandingan nilai nilai dan praktik budaya tentang kesehatan dan hubungannya dengan perawatannya . Leininger ( 1991 ) mengatakan bahwa transcultural nursing merupakan suatu area kajian ilmiah yang berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai nilai budaya ( nilai budaya yang berbeda ras , yang mempengaruhi pada seseorang perawat saat melakukan asuhan keperawatan kepada pasien. Perawatan transkultural adalah berkaitan dengan praktik budaya yang ditujukan untuk pemujaan dan pengobatan rakyat (tradisional) . Caring practices adalah kegiatan perlindungan dan bantuan yang berkaitan dengan kesehatan. Menurut Dr. Madelini Leininger , studi praktik pelayanan kesehatan transkultural adalah berfungsi untuk meningkatkan pemahaman atas tingkah laku manusia dalam kaitan dengan kesehatannya . Dengan mengidentifikasi praktik kesehatan dalam berbagai budaya ( kultur ) , baik di masa lampau maupun zaman sekarang akan terkumpul persamaan persamaan . Lininger berpendapat , kombinasi pengetahuan tentang pola praktik transkultural dengan kemajuan teknologi dapat menyebabkan makin sempurnanya pelayanan perawatan dan kesehatan orang banyak dan berbagai kultur.

Kepercayaan Kuno dan Praktik Pengobatan

Sistem pengobatan tradisional merupakan sub unsur kebudayaan

masyarakat sederhana , pengetahuan tradisional . Dalam masyarakat tradisional , sistem pengobatan tradisional ini adalah pranata sosial yang harus dipelajari dengan cara yang sama seperti mempelajari pranata social umumnya dan bahwa praktek pengobatan asli ( tradisional ) adalah rasional dilihat dari sudut kepercayaan yang berlaku mengenai sebab akibat. Beberapa hal yang berhubungan dengan kesehatan (sehat sakit) menurut budaya budaya yang ada di Indonesia diantaranya adalah :

Budaya Jawa
Menurut orang Jawa , sehat adalah keadaan yang seimbang dunia fisik dan batin . Bahkan , semua itu berakar pada batin . Jika batin karep ragu nututi , artinya batin berkehendak , raga / badan akan mengikuti . Sehat dalam konteks raga berarti waras . Apabila seseorang tetap mampu menjalankan peranan sosialnya sehari hari , misalnya bekerja di ladang , sawah , selalu gairah bekerja , gairah hidup , kondisii inilah yang dikatakan sehat . Dan ukuran sehat untuk anak anak adalah apabila kemauannya untuk makan tetap banyak dan selalu bergairah main . Untuk menentukan sebab sebab suatu penyakit ada dua konsep , yaitu konsep personalistik dan konsep naluralistik . Dalam konsep personalistik , penyakit disebabkan oleh makhluk supernatural ( makhluk gaib , dewa ) , makhluk yang bukan manusia ( hantu , roh leluhur , roh jahat ) dan manusia ( tukang sihir , tukang tenung ) . Penyakit ini disebut ora lumrah atau ora sabaene ( tidak wajar /

tidak biasa ) . Penyembuhannya adalah berdasarkan pengetahuan secara gaib atau supernatural , misalnya melakukan upacara dan sesaji. Dilihat dari segi personalistik jenis penyakit ini terdiri dari kesiku , kebendhu , kewalat , kebulisan , keluban , keguna guna , atau digawe wong , kampiran bangsa lelembut dan lain sebagainya . Penyembuhan dapat melalui seorang dukun atau wong tuo . Pengertian dukun bagi masyarakat Jawa adalah yang pandai atau ahli dalam mengobati penyakit melalui Japa Mantera , yakni doa yang diberikan oleh dukun kepada pasien. Ada beberapa kategori dukun pada masyarakat Jawa yang mempunyai nama dan fungsi masing masing :

Pengaruh Kepercayaan , Agama dan Aliran Lain , Jinis Kelamin dan Masalah Analisis

a. Kepercayaan , agama dan aliran lain


Kepercayaan dan agama adalah pondasi penting untuk kesehatan , agama dan kepercayaan memberikan kontribusi penuh dalam tindakan keperawatan . Misalnya perawatan pasien beragama berbeda harus dibedakan dengan pasien lain yang mempunyai agama berbeda dalam hal kepercayaan.

b. Jenis Kelamin
Wanita mempunyai peranan ( yang dianggap penting) karena perempuan lebih professional . Terbukti dari awal mula 95 98 % perawat adalah perempuan . Status sosial wanita dalam dunia medis maupun masyarakat dicirikan sebagai seorang yang dapat merawat , seperti seorang ibu yang merawat anak anaknya.

c. Masalah Analisis
Sebuah masalah digambarkan dengan situasi dan keadaan tertentu. Masalah selalu di luar rencana ( tidak direncanakan ) dan lebih sering tidak diterima . Masalah bisa lebih kompleks ataupun malah lebih sederhana , untuk itu seorang perawat harus mampu menyesuaikan diri dengan mengubah pola pikir terhadap analisa tersebut.

Budaya Sunda Konsep sehat sakit tidak hanya mencakup aspek fisik saja , tetapi juga bersifat sosial budaya . Istilah lokal yang biasa dipakai oleh masyarakat Jawa Barat ( orang sunda ) adalah muriang untuk demam , nyerisirah untuk sakit kepala , yohgoy untuk batuk dan salesma untuk pilek / flu. Penyebab sakit umumnya karena lingkungan , kecuali batuk juga karena kuman . Pencegahan sakit umumnya dengan menghindari penyebabnya. Pengobatan sakit umumnya menggunakan obat yang terdapat di warung obat yang ada di desa tersebut , sebagian kecil menggunakan obat tradisional . Pengobatan sendiri sifatnya sementara , yaitu penanggulangan pertama sebelum berobat ke puskesmas atau mantri. 1. Pengertian Sehat Sakit Menurut orang sunda , orang sehat adalah mereka yang makan terasa enak walaupun dengan lauk seadanya, dapat tidur nyenyak dan tidak ada yang dikeluhkan , sedangkan sakit adalah apabila badan terasa sakit , panas atau makan terasa pahit , kalau anak kecil sakit biasanya rewel , sering menangis , dan serba salah / gelisah . Dalam bahasa sunda orang sehat disebut cageur, sedangkan orang sakit disebut gering. Ada beberapa perbedaan antara sakit ringan dan sakit berat . Orang disebut sakit ringan apabila masih dapat berjalan kaki , masih dapat bekerja , masih dapat makan minum dan dapat sembuh dengan minum obat atau obat tradisional yang dibeli di warung . Orang disebut sakit berat , apabila badan terasa lemas , tidak dapat melakukan

kegiatan sehari hari , sulit tidur , berat badan menurun , harus berobat ke dokter / puskesmas , apabila menjalani rawat inap memerlukan biaya mahal. Konsep sakit ringan dan sakit berat bertitik tolak pada keadaan fisik penderita melakukan kegiatan sehari hari , dan sumber pengobatan yang digunakan. Berikut beberapa contoh sakit dengan penyebab , pencegahan dan pengobatan sendiri. : a. Sakit Kepala Keluhan sakit kepala dibedakan antara nyeri kepala ( bahasa sunda = rieut atau nyeri sirah , kepala terasa berputar / pusing / bahasa sunda = Lieur ) , dan sakit kepala sebelah / migran ( bahasa sunda = rieut jangar ) . Penyebab sakit kepala adalah dengan menghindari terkena sinar matahari langsung , dan jangan banyak pikiran . Pengobatan sendiri , sakit kepala dapat dilakukan dengan obat warung yaitu paramek atau puyer bintang tujuh nomor 16. b. Sakit Demam Keluhan demam ( bahasa sunda = muriang atau panas tiris ) ditandai dengan badan terasa pegal pegal , menggigil , kadang kadang bibir biru . Penyebab demam adalah udara kotor , menghisap debu kotor . pergantian cuaca , kondisi badan lemah , kehujanan , kepanasan cukup lama , dan keletihan . Pencegahan demam adalah dengan menjaga kebersihan udara yang dihisap , makan teratur , olahraga cukup , tidur cukup , minum cukup , kalau badan masih panas / berkeringat jangan langsung mandi , jangan kehujanan dan banyak makan sayuran atau buah . Pengobatan sendiri demam dapat dilakukan dengan obat

tradisional , yaitu kompres badan dengan tumbukan daun melinjo , daun cabe atau daun singkong , atau dapat juga dengan obat warung yaitu Paramek atau Puyer bintang tujuh nomor 16. c. Keluhan Batuk Batuk TBC , yaitu batuk yang sampai mengeluarkan darah dari mulut , batuk biasa (bahasa sunda = fohgoy ) , dan batuk yang terus menerus dengan suaranya melengking (bahasa sunda = batuk bangkong ) dengan gejala tenggorokan gatal , terkadang hidung rapet , dan kepala sakit ) . Penyebab batuk TBC adalah karena orang tersebut menderita penyakit TBC paru , sedangkan batuk biasa atau batuk bangkong adalah menghisap debu dari tanah kering yang baru tertimpa hujan , alergi salah satu makanan , makanan basi , masuk angin, makan makanan yang digoreng dengan minyak yang tidak baik , atau tersedak makanan / keselek . Pencegahan batuk dilakukan dengan menjaga badan agar jangan kedinganan , jangan makan makanan basi , tidak kebanyakan minum es , menghindari makanan yang merangsang tenggorokan , atau menyebabkan alergi . Pengobatan sendiri batuk dapat dilakukan dengan obat warung misalnya konidin atau oikadryl . Bila batuk ringan dapt minum obat tradisional yaitu air perasan jeruk nipis dicampur kecap , daun sirih 5 lembar diseduh dengan air hangat setengah gelas atau rebusan jahe dengan gula merah. d. Sakit Pilek Keluhan pilek ringan ( bahasa sunda = salesma ) , yaitu hidung tersumbat atau berair , dan pilek berat yaitu pilek yang disertai sakit

kepala , demam , badan terasa pegal dan tenggorokan kering . Penyebab pilek adalah kehujanan menghisap debu kotor , menghisap asap rokok , menghisap air , pencegahan pilek adalah jangan kehujanan , kalau badan berkeringat jangan langsung mandi , apabila muka terasa panas ( bahasa sunda = singhareab ) , jangan mandi langsung minum obat , banyak minum air dan istirahat . Pengobatan sendiri , pilek dapat dilakukan dengan obat warung yaitu mixagrib diminum 3x sehari sampai keluhannya hilang . Dapat juga digunakan obat tradisional untuk mengurangi keluhan , misalnya minyak kelapa dioleskan di kanan dan kiri hidung. e. Sakit Panas Sakit panas adalah sakit yang menyebabkan sekujur tubuh seseorang terasa panas biasanya yang disertai demam ( menggigil ). Untuk mengobatinya , orang sunda biasa dengan menggunakan labu ( waluh ) yang diparut ( dihaluskan ) , kemudian dibungkus kain dan di kompreskan ke tubuh orang yang sakit panas tersebut hingga panasnya turun. Selain itu juga bisa dengan menggunakan kompres air dingin. Pengobatan sakit umumnya menggunakan obat yang terdapat di warung . obat yang ada di desa tertentu, sebagian kecil menggunakan obat tradisional . Masyarakat melakukan pengobatan sendiri dengan alasan sakit ringan , hemat biaya dan hemat waktu . Pengobatan sendiri sifatnya sementara , yaitu penanggulanan pertama sebelum berobat ke puskesmas atau Mantri . Tindakan Pengobatan sendiri yang sesuai dengan aturan masih rendah karena umumnya masyarakat membeli obat secara eceran sehingga tidak dapat memaca

keterangan yang tercantum pada setiap kemasan obat. Budaya Batak Arti sakit bagi orang Batak adalah keadaan dimana seseorang hanya berbaring , dan penyembuhannya melalui cara cara tradisional , atau ada juga yang membawa orang yang sakit tersebut kepada dukun atau orang pintar . Dalam kehidupan sehari hari orang batak , segala sesuatunya termasuk mengenai pengobatan jaman dahulu , untuk mengetahui bagaimana cara mendekatkan diri pada sang pencipta agar manusia tetap sehat dan jauh dari mara bahaya. Bagi orang batak , di samping penyakit alamiah , ada juga beberapa tipe spesifik penyakit supernatural , yaitu : - Jika mata seseorang bengkak ,orang tersebut diyakini telah melakukan perbuatan yang tidak baik ( mis : mengintip ) . Cara mengatasinya agar matanya tersebut sembuh adalah dengan mengoleskan air sirih. - Nama tidak cocok dengan dirinya ( keberatan nama ) sehingga membuat orang tersebut sakit. Cara mengobatinya dengan mengganti nama tersebut dengan nama yang lain , yang lebih cocok dan didoakan serta diadakan jamuan adat bersama keluarga. - Ada juga orang batak sakit karena tarhirim Mis : seorang bapak menjanjikan akan memberi mainan buat anaknya , tetapi janji tersebut tidak ditepati . Karena janji tersebut tidak ditepati , si anak bisa menjadi sakit.

- Jika ada orang batak menderita penyakit kusta , maka orang tersebut dianggap telah menerima kutukan dari para leluhur dan diasingkan dalam pergaulan masyarakat. Di samping itu , dalam budaya batak dikenal adanya kitab pengobatan yang isinya diantaranya adalah , Mulajadi Namolon Tuhan Yang Maha Esa bersabda : Segala sesuatu yang tumbuh di atas bumi dan di dalam air sudah ada gunanya masing masing di dalam kehidupan sehari hari , sebab tidak semua manusia yang dapat menyatukan darahku dengan darahnya , maka gunakan tumbuhan ini untuk kehidupan mu Di dalam kehidupan Si raja Batak dahulu ilmu pengobatan telah ada , mulai sejak dalam kandungan sampai melahirkan. 1. Obat mulai dari kandungan sampai melahirkan - Perawatan dalam kandungan : menggunakan salusu yaitu satu butir telur ayam kampung yang terlebih dahulu di doakan - Perawatan setelah melahirkan : menggunakan kemiri , jeruk purut dan daun sirih - Perawatan bayi : biasanya menggunakan kemiri , biji lada putih dan iris jorango - Perawatan dugu dugu : sebuah makanan ciri khas Batak saat melahirkan yang diresap dari bangun bangun , daging ayam , kemiri dan kelapa. 2. Dappol Siburuk ( obat urut dan tulang ) Asal mula manusia menurut orang batak adalah dari ayam dan burung. Obat dappol si buruk ini dulunya berasal dari burung siburuk yang mana

langsung di praktikkan dengan penelitian alami dan hamper seluruh keturunan Siraja Batak menggunakan obat ini dalam kehidupan sehari hari. 3. Untuk mengobati sakit mata. Menurut orang batak , mata adalah satu panca indra sekaligus penentu dalam kehidupan manusia , dan menurut legenda pada mata manusia berdiam Roh Raja Simosimin , Berdasarkan pesan dari si raja batak , untuk mengeluarkan penyakit dari mata , maukkanlah biji sirintak ke dalam mata yang sakit . Setelah itu tutuplah mata dan tunggulah beberapa saat , karena biji sirintak akan menarik seluruh penyakit yang ada di dalam mata . Gunakan waktu 1x 19 hari , supaya mata tetap sehat. Sirintak adalah tumbuhan Batak yang dalam bahasa Indonesia berarti mencabut ( mengeluarkan ) , nama ramuannya dengan sdama tujuannnya.

4. Mengobati penyakit kulit yang sampai membusuk Berdasarkan pesan siraja batak untuk mengobati orang yang berpenyakit kulit supaya menggunakan tawar mulajadi ( sesuatu yang berasal dari asap dapur ). Rumpak 7 macam dan diseduh dengan air hangat. Disamping itu , siraja batak berpesan kepada keturunannya , supaya manusia dapat hidup sehat , maka makanlah atau minumlah : apapaga , airman , anggir , adolorab , alinggo , abajora , ambaluang , assigning , dan arip arip. Dalam budaya batak juga dikenal dengan adanya

charisma , wibawa dan kesehatan menurut orang batak dahulu , supaya manusia dapat sukses dalam segala hal biasanya diwajibkan membuat sesajen berupa : ayam merah , ayam putih , ayam hitam , ketan beras ( nitak ) , jeruk purut , sirih beserta perlengkapannya. Beberapa contoh pengobatan tradisional lainnya yang dilakukan oleh orang batak adalah : - Jika ada orang batak yang menderita penyakit gondok , maka cara pengobatannya dengan menggunakan belau. - Apabila ada orang batak yang menderita penyakit panas ( demam ) biasanya pengobatannya dengan cara menyelimutinya dengan selimut / kain yang tebal

Budaya Flores
Damianus Wera orang Flores satu ini punya karunia yang sangat langka . Dami dikenal sebagai penyembuh alternative unik. Damianus wera bukan dokter , buta huruf , tak makan sekolah , tapi buka praktik layaknya dokter professional . Dia melakukan operasi hanya menggunakan pisau. Menurut Dami ada tiga jenis penyakit yang dikeluhkan para pasien . Pertama , jenis penyakit nonmedis atau santet / guna guna . Biasanya tubuh korban dirusak dengan paku , silet , lidi , kawat , beling , jarum , benang kusut. Kedua , penyakit medis seperti jantung koroner , batu ginjal , tumor , kanker , dll.Dami mengangkat penyakit ini dengan operasi dan juga sedot darah melalui selang . Ketiga , sakit psikologis misalnya : banyak utang , stress , sulit hamil , dll. Dami mengingatkan kunci sehat itu sebenarnya ada di pikiran yang sehat . Sebaliknya ,

pikiran yang ruwet , penuh beban dan tekanan , justru memicu munculnya penyakit dalam tubuh manusia. Dami di datangi ayahnya yang sudah meninggal dan dikasih gelang . Dan saat dia bermimpi ia akan di di karuniai penyembuhan . Pagi pagi ia menemukan pisau di bawah bantal . Pisau itu untuk mengoprasi orang sakit. Dami mempunyai 7 metode untuk mengatasi penyakit : 1. Berdoa : dilakukan sebelum dan sesudah pengobatan , pasien berdoa menurut agamanya. 2. Air putih : Pasien diminta membawa air putih dalam botol 1, 5 liter . Setelah didoakan , pasien minum di rumah masing- masing . Kalau mau habis , tambahkan dengan air yang baru. 3. Kapsul ajaib : Pasien diminta minum kapsul ajaib seperti obat biasa. 4. Pijat refleksi : Pasian menjerit kesakitan karena diestrum listrik tegangan tinggi. 5. Suntik : Jarum suntik diperoleh dengan cara muntah. Cairan atau obat diperoleh lewat doa tertentu. 6. Telur ayam ( kampung ) dan gelas : Dipegang , diletakkan di atas kepala pasien. Selain mendeteksi penyakit , telur ayam kampung itu juga untuk mengobati penyakit dan untuk mengambil benda benda santet seperti jarum , benang , silet , beling , paku lewat telur ayam. 7. Operasi / bedah : Operasi atau bedah bisa untuk penyakit medis

maupun non medis. Di samping itu , orang flores juga percaya adanya sejenis kain yang berwarna hitam yang dipercaya dapat menyembuhkan orang yang sakit panas / demam tinggi . yaitu dengan cara di selubungkan atau ditutupkan di seluruh tubuhnya hingga tidak ada yang kelihatan lagi , dan biarkan orang yang sakit panas tersebut hingga ia merasa nyaman dan pansanya berkurang. Bawang merah dipercaya untuk mengobati batuk , yakni dengan cara dihancurkan (dikunyah ) lalu dibungkus dengan sepotong kain , kemudian ditempelkan di tenggorokan . Cara ini baik diterapkan pada waktu sebelum tidur malam. Daun sirih untuk mengobati orang yang mimisan , yaitu dengan digulung kemudian disumbatkan ke lubang hidung yang keluar darah. Daun papaya yang masih muda digunakan untuk menghentikan keluarnya darah dari bagian tubuh yang luka , yaitu dengan dikunyah sampai halus kemudian ditempelkan di bagian yang luka tersebut.

Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002). Asumsi mendasar dari teori adalah perilaku Caring. Caring adalah esensi dari keperawatan, membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan keperawatan. Tindakan Caring dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku Caring semestinya diberikan kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan pertumbuhan, masa pertahanan sampai dikala manusia itu meninggal. Human caring secara umum dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan dan bimbingan pada manusia yang utuh. Human caring merupakan fenomena yang universal dimana ekspresi, struktur dan polanya bervariasi diantara kultur satu tempat dengan tempat lainnya. 2. Konsep dalam Transcultural Nursing a. Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan. b. Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu

tertentu dan melandasi tindakan dan keputusan. c. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang optimal daei pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985). d. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap bahwa budayanya adalah yang terbaik diantara budayabudaya yang dimiliki oleh orang lain. e. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim. f. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada mendiskreditkan asal muasal manusia. g. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan saling memberikan timbal balik diantara keduanya. h. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhi kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan manusia. i. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing, mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada

keadaan yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia. j. Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung atau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai. k. Culturtal imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain karena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada kelompok lain. 3. Keperawatan Transkultural dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Keperawatan transkultural adalah suatu proses pemberian asuhan keperawatan yang difokuskan kepada individu dan kelompok untuk mempertahankan, meningkatkan perilaku sehat sesuai dengan latar belakang budaya. 2. Pengkajian asuhan keperawatan dalam konteks budaya sangat diperlukan untuk menjembatani perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh perawat dengan klien. 3. Diagnosa keperawatan transkultural yang ditegakkan dapat mengidentifikasi tindakan yang dibutuhkan untuk mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, membentuk budaya baru yang sesuai dengan kesehatan atau bahkan mengganti budaya yang tidak sesuai dengan kesehatan dengan budaya baru. 4. Perencanaan dan pelaksanaan proses keperawatan transkultural tidak dapat begitu saja dipaksakan kepada klien sebelum perawat

memahami latar belakang budaya klien sehingga tindakan yang dilakukan dapat sesuai dengan budaya klien. 5. Evaluasi asuhan keperawatan transkultural melekat erat dengan perencanaan dan pelaksanaan proses asuhan keperawatan transkultural.