Anda di halaman 1dari 18

Perawatan Diri 2.

1 Pengertian Perawatan Diri Perawatan diri atau kebersihan diri (personal hygiene) merupakan perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan, baik secara fisik maupun psikologis (Hidayat, 2009). Kebersihan diri adalah upaya individu dalam memelihara kebersihan diri yang meliputi kebersihan rambut, gigi dan mulut, mata, telinga, kuku, kulit, dan kebersihan dalam berpakaian dalam meningkatkan kesehatan yang optimal (Effendy, 1998) Lansia perlu mendapatkan perhatian dengan mengupayakan agar mereka tidak terlalu tergantung kepada orang lain dan mampu mengurus diri sendiri (mandiri), menjaga kesehatan diri, yang tentunya merupakan kewajiban dari keluarga dan lingkungannya. Dalam teori self care, Dorothea Orem menganggap bahwa perawatan diri merupakan suatu kegiatan membentuk kemandirian individu yang akan meningkatkan taraf kesehatannya. Sehingga bila mengalami defisit, ia membutuhkan bantuan dari perawat untuk memperoleh kemandiriannya kembali (Hapsah, 2008). Pemeliharaan kebersihan diri sangat menentukan status kesehatan, di mana individu secara sadar dan atas inisiatif pribadi menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya penyakit. Upaya ini lebih menguntungkan bagi individu karena lebih hemat biaya, tenaga dan waktu dalam mewujudkan kesejahteraan dan kesehatan. Upaya pemeliharaan kebersihan diri mencakup tentang kebersihan rambut, mata, telinga, gigi, mulut, kulit, kuku, serta kebersihan dalam berpakaian. Dalam upaya pemeliharaan kebersihan diri ini, pengetahuan keluarga akan pentingnya kebersihan diri tersebut sangat diperlukan. Karena pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo, 1997).

2.2 Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Perawatan Diri Menurut Potter & Perry (2005), sikap seseorang melakukan perawatan diri (personal hygiene) dipengaruhi oleh sejumlah faktor yaitu : citra tubuh, praktik sosial, status sosioekonomi, pengetahuan, variabel kebudayaan, pilihan pribadi, dan kondisi fisik. a. Citra tubuh Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang penampilan fisiknya. Personal hygiene yang baik akan mempengaruhi terhadap peningkatan citra tubuh individu (Stuart & Sundeen, 1991). Citra tubuh ini dapat seringkali berubah. Citra tubuh mempengaruhi cara mempertahankan hygiene seseorang. b. Praktik sosial Kelompok-kelompok sosial wadah seorang individu berhubungan dapat mempengaruhi praktik hygiene pribadi. Praktik hygiene lansia dapat berubah dikarenakan situasi kehidupan. Misalnya, lansia yang tinggal di rumah perawatan tidak dapat mempunyai privasi dalam lingkungan yang

baru. Mereka tidak mempunyai kemampuan fisik untuk membungkuk keluar masuk bak mandi kecuali kamar mandi telah dibentuk untuk mengakomodasi keterbatasan fisik mereka.

c. Status sosiol ekonomi Sumber daya ekonomi seseorang mempengaruhi jenis dan tingkat praktik kebersihan yang digunakan. Dari segi ekonomi, harus diperhatikan apakah individu dapat menyediakan bahanbahan yang penting seperti deodorant, sampo, pasta gigi, dan kosmetik. Sedangkan dari aspek sosial dilihat apakan penggunaan produk-produk tersebut merupakan bagian dari kebiasaan sosial yang dipraktikkan oleh kelompok sosial individu. d. Pengetahuan Pengetahuan akan pentingnya hygiene dan implikasinya bagi kesehatan mempengaruhi praktek hygiene. Kendati demikian, pengetahuan itu sendiri tidaklah cukup. Seseorang juga harus termotivasi untuk memelihara perawatan diri sehingga akan terus meningkatkan perawatan dirinya. e. Variabel kebudayaan Kebudayaan dan nilai pribadi mempengaruhi kemampuan perawatan hygiene. Seorang dari latar belakang kebudayaan berbeda memiliki praktik perawatan diri yang berbeda. Keyakinan yang didasari kultur sering menentukan definisi tentang kesehatan dan perawatan diri. f. Pilihan pribadi Menurut pilihan dan kebutuhan pribadi, setiap individu memiliki keinginan dan pilihan tentang kapan untuk melakukan perawatan diri dan bagaimana ia melakukannya. g. Kondisi fisik Semakin lanjut usia seseorang, maka akan mengalami kemunduran terutama di bidang kemampuan fisik, yang dapat mengakibatkan penurunan peranan-peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan timbulnya gangguan di dalam mencukupi kebutuhan hidupnya. Sehingga dapat meningkatkan bantuan orang lain.

2.3 Tingkat Kemampuan Perawatan Diri Lansia Perubahan patofisiologis pada korteks serebri mengakibatkan lansia mengalami defisit perawatan diri. Sehingga perlu diupayakan penyusunan aktivitas sehari-hari yang lebih sederhana dan singkat yang dapat menimbulkan kepuasaan bagi lansia dalam melakukannya (Smeltzer, 2001). Dalam Nursalam (2009), klasifikasi tingkat kemampuan perawatan diri (tingkat ketergantungan klien) berdasarkan teori Orem terdiri dari butuh sedikit bantuan (minimal care), butuh bantuan sebagian dalam pemenuhan kebutuhan perawatan diri (partial care), dan butuh bantuan penuh dalam mmenuhi perawatan diri (total care). Berdasarkan indeks Activity Daily Living (ADL) Barthel, tingkat ketergantungan klien terdiri dari mandiri, ketergantungan ringan, ketergantungan sedang, ketergantungan berat, dan ketergantungan total. Self Care Self care adalah tindakan yang matang dan mematangkan orang lain yang mempunyai potensi untuk berkembang, atau mengembangkan kemampuan yang dimiliki agar dapat digunakan secara tepat, nyata dan valid untuk mempertahankan fungsi dan berkembang dengan stabil dalam perubahan lingkungan. Self care digunakan untuk mengontrol atau faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi aktivitas seseorang untuk menjalankan fungsinya dan berproses untuk mencapai kesejahteraannya (Hapsah, 2008). Pandangan teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan kepada kebutuhan individu dalam melakukan tindakan keperawatan mandiri serta mengatur dalam kebutuhannya. Dalam konsep praktek keperawatan Orem mengembangkan tiga bentuk teori self care di antaranya perawatan diri sendiri (self care) dan self care deficit (Hidayat, 2009).

3.1 Perawatan Diri Sendiri (Self Care) Dalam teori self care, Orem mengemukakan bahwa self care meliputi : pertama, self care itu sendiri, yang merupakan aktivitas dan inisiatif dari individu serta dilaksanakan oleh individu itu sendiri dalam memenuhi serta mempertahankan kehidupan, kesehatan, serta kesejahteraan; kedua, self care agency merupakan suatu kemampuan individu dalam melakukan perawatan diri sendiri, yang dapat dipengaruhi oleh usia, perkembangan, sosiokultural, kesehatan dan lain-lain; ketiga, adanya tuntutan atau permintaan dalam perawatan diri sendiri yang merupakan tindakan mandiri yang dilakukan dalam waktu tertentu untuk perawatan diri sendiri dengan menggunakan metode dan alat dalam tindakan yang tepat; keempat, kebutuhan self care merupakan suatu tindakan yang ditujukan pada penyediaan dan perawatan diri sendiri yang bersifat universal dan berhubungan dengan proses kehidupan manusia serta dalam upaya mempertahankan fungsi tubuh, self care yang bersifat universal itu adalah aktivitas sehari-hari (ADL) dengan mengelompokkan ke dalam kebutuhan dasar manusianya. Sifat dari self care selanjutnya adalah untuk perkembangan kepercayaan diri serta ditujukan pada penyimpangan kesehatan yang memiliki ciri perawatan yang diberikan dalam kondisi sakit atau dalam proses penyembuhan (Hidayat, 2009).

Self Care Defisit Merupakan bagian penting dalam perawatan secara umum di mana segala perencanaan keperawatan diberikan pada saat adanya penurunan kemampuan dalam perawatan dan tuntutan dalam peningkatan self care, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam pemenuhan perawatan diri serta membantu dalam proses penyelesaian masalah, Orem memiliki metode untuk proses tersebut diantaranya bertindak atau berbuat untuk orang lain, sebagai pembimbing orang lain, memberi dukungan, meningkatkan pengembangan lingkungan untuk pengembangan pribadi serta mengajarkan atau mendidik orang lain. Dalam praktek keperawatan Orem melakukan identifikasi kegiatan praktek dengan melibatkan pasien dan keluarga dalam pemecahan masalah, menentukan kapan dan bagaimana pasien memerlukan bantuan keperawatan, bertanggung jawab terhadap keinginan, permintaan, serta kebutuhan pasien, mempersiapkan bantuan secara teraturbagi pasien dan mengkoordinasikan serta mengintegrasikan keperawatan dalam kehidupan sehari-hari pada pasien dan asuhan keperluan diperlukan ketika klien tidak mampu memenuhi kebutuhan biologis, psikologis, perkembangan, dan sosial (Hidayat, 2009). Konsep Diri Konsep diri (self-concept) merupakan bagian dari masalah psikososial yang tidak didapat sejak lahir, akan tetapi dapat dipelajari sebagai hasil dari pengalaman seseorang terhadap dirinya. Konsep diri ini berkembang secara bertahap sesuai dengan tahap perkembangan psikososial seseorang (Hidayat, 2009). Konsep diri merupakan suatu integrasi yang kompleks dari perasaan, sikap sadar maupun tidak sadar dan persepsi tentang totalitas diri, tubuh, harga diri dan peran (Potter & Perry, 2005). Tarwoto & Wartonah (2006) menyatakan perkembangan konsep diri secara bertahap dimulai sejak bayi sudah mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain. Setiap individu memiliki pandangan yang berbeda mengenai konsep diri, ada yang positif dan ada yang negatif. Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang terlihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual, dan penguasaan lingkungan sedangkan konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan sosial yang maladaptif (Keliat, 1992). Terdapat beberapa komponen konsep diri yaitu identitas, citra diri, harga diri, ideal diri, dan peran. 4.1 Identitas Diri Identitas diri adalah penilaian individu tentang dirinya sebagai suatu kesatuan yang utuh. Identitas mencakup konsistensi seseorang sepanjang waktu dan dalam berbagai keadaan serta menyiratkan perbedaan atau keunikan dibandingkan dengan orang lain. Identitas seringkali didapat melalui pengamatan sendiri dan dari apa yang didengar seseorang dari orang lain mengenai dirinya (Hidayat, 2009). Identitas diri adalah kesadaran dari individu dan keunikan yang terjadi terus menerus sepanjang hidup. Menurut Kozier (2004) identitas diri seseorang biasanya berupa karakteristikkarakteristik yang membedakan seseorang dengan yang lainnya meliputi nama, jenis kelamin, umur, ras, suku, budaya, pekerjaan atau peran. Menurut Erikson (1963) dalam Potter & Perry (2005) identitas diri menunjukkan kesadaran akan suatu kepastian dan adanya pemisahan dari

yang lainnya, perasaan diri seutuhnya dan pemeliharaan solidaritas dengan kelompok sosial yang ideal melalui ekspresi dan keunikan individu. Identitas seperti halnya citra tubuh sangat berkaitan erat dengan penampilan dan kemampuan. Pada lansia, pensiun atau meninggalkan pekerjaan mungkin berarti kehilangan makna penting dari pencapaian dan keberhasilan yang berlanjut. Ketidakmampuan lansia untuk memenuhi kebutuhan dirinya sering membuat lansia mempertanyakan tentang identitas mereka dan pencapaian mereka dan dapat mengakibatkan isolasi fisik dan emosional (Potter & Perry, 2005). 4.2 Citra Diri Gambaran atau citra diri (body image) mencakup sikap individu terhadap tubuhnya sendiri, termasuk penampilan fisik, struktur dan fungsinya. Perasaan mengenai citra diri meliputi hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas, femininitas dan maskulinitas, keremajaan, kesehatan, dan kekuatan. Citra tubuh dipengaruhi oleh pertumbuhan kognitif dan perkembangan fisik. Perubahan perkembangan yang normal seperti penuaan terlihat lebih jelas terhadap citra diri dibandingkan dengan aspek-aspek konsep diri lainnya (Hidayat, 2009). Citra diri berhubungan dengan kepribadian. Cara seseorang memandang diri mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologinya. Pandangan yang realistik terhadap diri, menerima dan menyukai bagian tubuh akan memberi rasa aman sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri (Keliat, 1992). Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa citra diri bergantung pada bagian realitas tubuh, sehingga seseorang biasanya tidak dapat beradaptasi dengan cepat untuk berubah secara fisik. Perubahan fisik boleh jadi tidak sesuai dengan citra diri ideal seseorang. Begitu juga dengan lansia, perubahan fisik yang terjadi akibat proses penuaan dapat merubah persepsi lansia terhadap tubuhnya (Potter & Perry, 2005). Citra diri akan tumbuh secara positif dan akurat bila kesadaran akan diri berdasar atas observasi mandiri dan perhatian yang sesuai akan kesehatan diri, termasuk persepsi saat ini dan masa lalu (Tarwoto & Wartonah, 2006). Lansia sering mengatakan bahwa mereka merasa tidak berbeda tetapi ketika mereka melihat diri mereka dalam cermin, mereka terkejut dengan kulit yang keriput dan rambut memutih. Penurunan ketajaman pandangan adalah faktor yang mempengaruhi lansia dalam berinteraksi dengan lingkungan. Proses normal penuaan menyebabkan penurunan ketajaman penglihatan. Kehilangan pendengaran dapat menyebabkan perubahan kepribadian karena lansia menyadari bahwa mereka tidak lagi menyadari semua yang terjadi atau yang diucapkan.. Konsep diri selama masa lansia dipengaruhi oleh Kecurigaan, mudah tersinggung, tidak sabar, atau menarik diri dapat terjadi karena kerusakan pendengaran. Konsep diri selama masa lansia dipengaruhi oleh pengalaman sepanjang hidup (Potter & Perry, 2005). Harga Diri Harga diri adalah penilaian individu terhadap hasil yang dicapai, dengan cara menganalisis seberapa jauh perilaku individu tersebut sesuai dengan ideal dirinya (Sunaryo, 2004). Harga diri (self-esteem) adalah penilaian individu tentang dirinya dengan menganalisis kesesuaian antara perilaku dan ideal diri yang lain. Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan dari diri sendiri maupun dari orang lain. Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh perasaan diterima, dicintai, dihormati

oleh orang lain, serta keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam hidupnya (Hidayat, 2009). Harga diri dapat dipahami dengan memikirkan hubungan antara konsep diri seseorang dan ideal diri. Harga diri juga dipengaruhi oleh sejumlah kontrol yang mereka miliki terhadap tujuan dan keberhasilan dalam hidup. Lansia cenderung mengalami penurunan harga diri yang disebabkan oleh hilangnya jabatan dan menurunnya pendapatan. Seseorang dengan harga diri yang tinggi cenderung menunjukkan keberhasilan yang diraihnya sebagai kualitas dan upaya pribadi. Ketika berhasil, seorang individu dengan harga diri yang rendah cenderung mengatakan bahwa keberhasilan yang diraihnya adalah keberuntungan atau atas bantuan orang lain ketimbang kemampuan pribadi (Mars 1990 dalam Potter & Perry, 2005). 4.4 Ideal Diri Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana harus berperilaku sesuai dengan standar pribadi. Standar dapat berhubungan dengan tipe orang yang diinginkannya atau sejumlah aspirasi, cita-cita, nilai yang ingin dicapai. Ideal diri akan mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi berdasarkan norma sosial (keluarga, budaya) dan kepada siapa ingin dilakukan (Keliat, 1992). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ideal diri yaitu : kecenderungan individu menetapkan ideal diri pada batas kemampuannya, faktor budaya, ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang realistik, keinginan untuk menghindari kegagalan, perasaan cemas dan harga diri (Sunaryo, 2004). Peran Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan oleh masyarakat yang sesuai dengan fungsi yang ada dalam masyarakat atau suatu pola sikap, perilaku, nilai, dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat, misalnya sebagai orang tua, atasan, teman dekat, dan sebagainya. Setiap peran berhubungan dengan pemenuhan harapanharapan tertentu. Apabila harapan tersebut dapat terpenuhi, rasa percaya diri seseorang akan meningkat. Sebaliknya, kegagalan untuk memenuhi harapan atas peran dapat menyebabkan penurunan harga diri atau terganggunya konsep diri (Hidayat, 2009). Menurut Stuart & Sudden (1991), peran membentuk pola perilaku yang diterima secara sosial yang berkaitan dengan fungsi seorang individu dalam berbagai kelompok sosial. Sepanjang hidup orang menjalani berbagai perubahan peran. Perubahan normal yang berkaitan dengan pertumbuhan dan maturisasi mengakibatkan transisi perkembangan. Transisi situasi terjadi ketika orangtua, pasangan hidup, atau teman dekat meninggal atau orang pindah rumah, menikah, bercerai, atau ganti pekerjaan. Pada lansia banyak perubahan peran yang tejadi, mulai dari perubahan peran dalam pekerjaan, peran dalam keluarga dan sebagainya (Potter & Perry, 2005).

PROSES KEPERAWATAN GERONTIK PADA TINGKAT INDIVIDU KEBERSIHAN DIRI LANSIA

Pendahuluan Proses menua (aging) merupakan suatu perubahan progresif pada organisme yang telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel serta menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu. Proses alami yang disertai dengan adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial akan saling berinteraksi satu sama lain . Proses menua yang terjadi pada lansia secara linier dapat digambarkan melalui tiga tahap yaitu, kelemahan (impairment), keterbatasan fungsional (functional limitations), ketidakmampuan (disability), dan

keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduran.

Transisi demografi pada kelompok lansia terkait dengan status kesehatan lansia yang lebih terjamin, sehingga usia harapan hidup lansia lebih tinggi dibanding masa-masa sebelumnya . Pertambahan jumlah lansia di Indonesia dalam kurun waktu tahun 1990 2025, tergolong tercepat di dunia . Pada tahun 2002, jumlah lansia di Indonesia berjumlah 16 juta dan diproyeksikan akan bertambah menjadi 25,5 juta pada tahun 2020 atau sebesar 11,37 % penduduk dan ini merupakan peringkat keempat dunia, dibawah Cina, India dan Amerika Serikat . Sedangkan umur harapan hidup berdasarkan sensus BPS tahun 1998 masing-masing untuk pria 63 tahun dan perempuan 67 tahun. Angka di atas berbeda dengan kajian WHO (1999), dimana usia harapan hidup orang Indonesia rata-rata adalah 59,7 tahun dan menempati urutan ke-103 dunia. Data statistik tersebut mengisyaratkan pentingnya pengembangan keperawatan gerontik di Indonesia. Walaupun secara historis, jauh sebelum keperawatan gerontik berkembang menjadi sebuah spesialisasi pada dasarnya keperawatan memiliki peran yang besar terhadap pemberian pelayanan keperawatan bagi lansia. Fokus asuhan keperawatan pada lansia ditujukan pada dua kelompok lansia, yaitu (1) lansia yang sehat dan produktif, dan (2) lansia yang memiliki kerentanan tubuh dengan ditandai kondisi fisik yang mulai melemah, sakit-sakitan, dan daya

pikir menurun . Pemberian asuhan keperawatan bagi kedua kelompok tersebut bertujuan untuk memenuhi harapan-harapan yang diinginkan oleh lansia yaitu memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan produktif dalam tiga dimensi, yaitu fisik, fungsional, dan kognitif. Berbagai penelitian melaporkan bahwa peningkatan kualitas ketiga dimensi tersebut dapat meningkatkan harapan hidup lansia yang lebihsehat.

Penelitian dalam Praktek Keperawatan Pengembangan dan pemanfaatan ilmu keperawatan merupakan bagian yang esensial dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan termasuk pula keperawatan gerontik. Peningkatan kualitas tersebut hendaknya sejalan dengan penerapan praktik keperawatan yang didasarkan pada fakta (evidence-based practice for nursing). Menurut Loiselle et. al (2004), praktik keperawatan berdasarkan fakta merupakan upaya pemanfaatan hasil penelitian (fakta empiris) klinik keperawatan yang terbaik guna menentukan sebuah keputusan dalam intervensi keperawatan . Praktik keperawatan berdasarkan fakta memberikan kerangka kerja dan proses penggabungan hasil penelitian dan preferensi klien yang sistematis dalam pengambilan keputusan klinik, baik di tingkat individu maupun organisasi pelayanan kesehatan . Fakta empiris tersebut bersumber dari temuan penelitian-penelitian keperawatan yang relevan. Fakta terbaiklah yang akan digunakan sebagai pedoman dalam menentukan pendekatan terhadap klien, keputusan klinik, dan tindakan keperawatan. Sedangkan fakta terbaik adalah rangkaian tindakan yang paling efisien, efektif, dan aman bagi klien. Bila perawat telah memiliki budaya kerja yang ilmiah, dimana ia selalu mencari pembenaran tindakan yang dilakukannya melalui pemanfaatan hasil-hasil penelitian maka diharapkan akan didapatkan hasil perawatan yang lebih baik. Karena dalam praktik keperawatan tidak ada ruang sedikit pun yang diperkenankan bagi tindakan trial and error. Menerapkan hasil penelitian dalam pelayanan kesehatan merupakan upaya signifikan dalam memperbaiki pelayanan kesehatan yang berorientasi pada efektifitas biaya (cost effectiveness). Meningkatkan penelitian keperawatan dan menerapkan hasilnya dalam praktek keperawatan merupakan kebutuhan mendesak untuk membangun praktek keperawatan yang efektif. Menurut studi terhadap berbagai laporan penelitian keperawatan (meta-analysis) yang dilakukan oleh Heater, Beckker, dan Olson (1988), menyatakan bahwa pasien yang mendapatkan intervensi keperawatan yang bersumber dari penelitian memiliki out come yang lebih baik bila

dibandingkan dengan pasien yang hanya mendapatkan intervensi standar . Terdapat banyak model proses penerapan hasil penelitian dalam lingkup pelayanan keperawatan yang telah disusun oleh para ahli, misalnya model Rosswurm dan Larrabee , model Iowa , model Childrens Hospital of Philadelphia , model Aurora , model Stetler , model Diffusion of Innovation , model Research Nurse Intern Program , atau model Process of Research Utilization

Prioritas Penelitian Bidang Keperawatan Gerontik Keperawatan gerontik secara holistik menggabungkan aspek pengetahuan dan ketrampilan dari berbagai macam disiplin ilmu dalam mempertahankan kondisi kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual lansia (Lihat Gambar 2). Hal ini diupayakan untuk memfasilitasi lansia ke arah perkembangan kesehatan yang lebih optimum, dengan pendekatan pada pemulihan kesehatan, memaksimalkan kualitas hidup lansia baik dalam kondisi sehat, sakit maupun kelemahan serta memberikan rasa aman, nyaman, terutama dalam menghadapi kematian. Penelitian keperawatan gerontik diharapkan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi pengembangan teknik maupun mutu pelayanan dengan berbagai pendekatan di atas. Namun dalam menyusun prioritas penelitian, perlu diseimbangkan antara kebutuhan untuk menambah ilmu dan wawasan baru dengan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas, efektifitas, efisiensi, dan kepatutan pelayanan.

Dalam mengembangkan penelitian tersebut, kita terlebih dahulu perlu mengetahui aspek-aspek kritis yang ada dalam keperawatan gerontik. Tulisan ini mencoba untuk merangkaikan usulan prioritas penelitian di bidang keperawatan gerontik. Ada enam aspek utama yang perlu dikaji mengingat sampai saat ini penelitian-penelitian

PERAWATAN KEBERSIHAN SEHARI HARI YANG HARUS DILAKUKAN

Yang dimaksud dengan menjaga kebersihan disini bukan hanya kebersihan tubuh saja, melainkan juga kebersihan lingkungan, ruangan dan juga pakaian dimana orang tersebut tinggal. Yang termasuk kebersihan tubuh adalah: mandi minimal 2 kali sehari, mencuci tangan sebelum makan atau sesudah mengerjakan sesuatu dengan tangan, membersihkan atau keramas minimal 1 kali seminggu, sikat gigi setiap kali selesai makan, membersihkan kuku dan lubang-lubang ( telinga, hidung, pusar, anus, vagina, penis ), memakai alas kaki jika keluar rumah dan pakailah pakaian yang bersih. Kebersihan lingkungan, dihalaman rumah, jauh dari sampah dan genangan air. Di dalam ruangan atau rumah, bersihkan dari debu dan kotoran setiap hari, tutupi makanan di meja makan. Pakain, sprei, gorden, karpet, seisi rumah, termasuk kamar mandi dan WC harus dibersihkan secara periodik. Namun perlu diingat dan disadari bahwa kondisi fisik perlu medapat bantuan dari orang lain, tetapi bila lansia tersebut masih mampu diusahakan untuk mandiri dan hanya diberi pengarahan.

Klien lanjut usia terutama adalah yang berhubungan dengan kebersihan perorangan (personal hyghiene),. Yakni antara lain..

KEBERSIHAN MULUT DAN GIGI Kebersihan mulut dan gigi harus tetap dijaga dengan menyikat gigi dan kumur secaara teratur.meskipun sudah ompong bagi yang masih aktif dan masih masih mempunyai gigi agak lengkap dapat menyikat giginya sendiri sekurang kurangnya 2 kali dalam sehari, pagi bangun tidur dan malam sebelum tidur.bagi lansia yang menggunakan gigi palsu dapat dipelihara seperti berikut: 1. Gigi palsu dikeluarkan dari mulut mennggunakan kain bersih atau saputangan yang bersih. Bila kesulitan bisa di bantu oleh keluarga atau perawat.

2. Gigi palsu kemudian disikat perlahan lahan dibawah air mengalir sampai bersih. Bila perlu dapat digunakan pasta gigi. 3. Pada waktu tidur, gigi palsu tidak perlu dipakai dan direndam di dalam air bersih memiliki gigi lagi dan tidak meakai gigi palsu lagi setiap kali sehabis makan harus melakukan kumur kumur untuk mengeluarkan sisa sisa makanan dalam mulut. Bagi yang masih memiliki gigi tetapi karena kondisinya lemah atau lumpuh, usaha membersihkan gigi atau mulut perlu mendapat bantuan dari keluarga atau jika tinggal di panti bisa dibantu oleh petugas atau perawatnya. Yang perlu disediakan dalam usaha membersihkan gigi antara lain: 1. Pasta gigi, sikat gigi(oleskan pasta gigi di atas sikat gigi secukupnya) 2. Air bersih dalam gelas untuk kumur secukupnya. 3. Kom plastic sedang untuk membuang air kumur 4. Handuk untuk alas didada agar tidak basah,dan untuk lap mulut setelah sikat gigi selesai. Caranya: a) Alat alat seperti kom, sikat gigi, pasta gigi dan handuk diletakkan diatas meja kecil atau kursi di dekat tempat tidur. b) Usahakan klien duduk dengan posisi yang enak, bila tidak dapat duduk usahakan agar dapat duduk setengah miring dengan cara meninggikan bantal untuk menahan punggungnya. c) Handuk direntangkan melebar sehingga menutup dada, gunanya menjagga agar tidak basah. d) Sikatlah gigi secara perlahan lahan mulai daerah luar , lalu kedalam dan kebelakang gigi. e) Berikan air bersih untuk kumur kumur sampai bersih f) Sisa air kumur di tamping dalam kom plastic g) Bersihkan daerah mulut dengan handuk hingga bersih dan kering.

KEBERSIHAN KULITDAN BADAN Guna kulit 1. Melindungi bagian tubuh/ jaringan di bawahnya terhadap pukulan untuk mencegah masuknya kuman-kuman penyakit, kedinginan dan lain-lain. 2. Sebagai panca indera peraba dan perasa. 3. Mengatur suhu badan 4. Mengeluarkan ampas-ampas berupa zat-zat yang tak terpakai, misalnya keringat 5. Tempat memasukkan obat injeksi Pentingnya pemeliharaan kulit Kulit menerima berbagai rangsangan (stimulus) dari luar. Kulit merupakan pintu masuk kedalam tubuh. Kebersihan kulit mencerminkan kesadaran seseorang akan pentingnya arti kebersihan. Kebersihan kulit dan kerapihan dalam berpakaian pada klienlanjut usia perlu tetap diperhatikan agar penampilan mereka tetap segar . usaha membersihkan kulit dapat dilakukan dengan mandi tiap hari secara teratur, paling sedikit dua kali sehari. Guna mandi ialah: menghilangkan bau, menghilangkan kotoran, merangsang peredaran darah dan memberikan kesadaran pada tubuh. Pengawasan yang perlu dilakukan adalah: a) Ada tidaknya lecet b) Mengoleskan minyak pelembab kulit setip selesai mandi c) Mempergunakan air hangat untuk mandi d) Menggunakan sabun yang halus dan lembut Bantuan perawatan bagi yang keadaan fisiknya memerlukan bantuan orang lain. Persiapannya adalah:

a) Sediakan air hangathangat kuku dalam dua buah Waskom b) Sediakan waslap dua buah c) Sabun mandi d) Bedak talk e) Body lotion f) Pakaian bersih Penatalaksanaanya a) Jaga privacy b) Inform consent c) Buka pakaian bagian atas bentangkan handuk pada dada dan mulai menyeka bagian muka d) Dibilas dengan waslap hingga bersih kering e) Kemudian berturut-turut hingga tanggan dan lengan. Mulailah dengan tangan yang jauh dari penolong. Selanjutnya bagian dada di seka lalu diberi talk f) Setelah selesai dada ditutup dengan selimut kemudian diberi lotion atau talk g) Bagian akhir adalah membersihkan daerah bagian bawah h) Yang terakhir membersihkan daerah kemaluan i) Ganti pakaian yang bersih, tempat tidur dibersihkan KEBERSIHAN KEPALA RAMBUT DAN KUKU Rambut seperti juga kuku tumbuh diluar epidermis. Perrtumbuhan ini terjadi karena rambut mendapat makanan dari pembuluh-pembuluh darah di sekitar rambut

Tujuan membersihkan kepala untuk menghilangkan debu-debu dan kotoran-kotoran yang melekat di rambut dak kulit kepala, klien lanjut usia yang masih aktif dapat mencuci rambutnya sendiri. Cara mencuci rambut: a. Sediakan air hangat di Waskom. b. Bilas rambut dengan air tersebut lalu beri sampo sedikit demi sedikit. c. Usapkan dan gosokkan sampo itu di kepala. d. Kenudian bilaslah sampai bersih lau keringkan dengan handuk. Cara pemeliharaan kuku: Kuku yang panjang mudah menyebabkan berkumpulnya kotoran dan bahkan kuman penyakit.oleh karena itu harus selalu disarankan lanjut usia secara teratur memotong kuku.bagi yang tidak mampu melakukan sendiri, hendaklah perawat atau keluarga memotongnya. KEBERSIHAN TEMPAT TIDUR DAN POSISI TIDUR Tempat tidur yang bersih dapat memberikan kenikmatan atau perasaan nyaman pada waktu tidur.oleh karena itu kebersihan tempat tidur perlu sekali di perhatikan.namun perlu di ingat dan di sadari bahwa kondisi fisik untuk lanjut usia perlu mendapat bantuan orang lain oleh karena itu bagi klien lanjut usia yang masih aktif di berikan pengarahan cara membersihkan tempat tidur. Bantuan kepada klien lanjut usia yang masih aktif, misalnya : a. Bila keadaan kasir cekung ditengah, hendaknya dibalik tiap kali membersihkan tempat tidur. b. Alas kasur ditarik kencang dan ujung-ujungnya dilipat dan di serongkan kebawah kasur sehingga tidak mudah menimbulkan lipatan-lipatan yang mungkin menyebabkan lecetlecet. c. Alat kasur/ sprei diganti tiap tiga hari sekali, kecuali kalau kotor.

d. Bagi klien lanjut usia yang mengalami inkotinensia urine, alas kasur diganti tiap kali basah. Bantuan pertolonganbagi yang positif Bagi usia yang lanjut usia yang terus menerus beristirahat ditempat tidur harus selalu diusahakan dapat beristirahat atau tidur dalam keadaan atau posisi yang menyenangkan atau nyaman.Usahakan pula bantal jangan terlalu lembek atau terlalu keras.Letak atau posisi harus diatur sedemikian rupa sehingga klien merasa enak, dan harus sering di buat selang seling agar tidak timbul luka lecet-lecet atau dekibitus akibat penekanan yang terus menerus. Letak atau posisi tidur dapat diatur, antara lain: 1. Letak guling dibawah kedua lututnya usahakan agar kakinya tidak tergilincir jatuh ke samping dan tidak dalam posisi drop foot. 2. Untuk mencegah luka lecet (dekubitus) tumit dan bokong diberi bantal angin (windring). 3. Agar dapat tidur terlentang dengan punggung dan bokong lurus hendaknya diberi papan dibawah kasurnya, jika tempat tidur tersebut terdiri dari kawat-kawat (springbet). 4. Pada letak atau posisi setengah duduk di bagian kepala tempat diberi sandaran kursi papan. Catatan: 1. Bagi klien yang mengalami inkontinensia urin sebaiknya diberi alas perlak karet/ plasatik untuk melindungi kasur. 2. Kebersihan mutlak diperhatikan untuk mencegah adanya semua atau binatang-binatang kecil lainnya. 3. Jika tidak dalam keadaan tidur sebaiknya diberikan suatu akfitifas untuk melatih pergerakan ototnya supaya tidak kaku ataupun merasa gelisah. 4. Kesabaran serta ketekunan kelurga yang merawat klien lanjut usia mutlak perlu

ditunjukkan agar klien lanjut usia tetap merasa diperhatikan. jarang dipublikasikan.

AREA

PRIORITAS

1. Pelayanan, evaluasi dan efektivitas intervensi terhadap individu maupun kelompok atau metode baru dalam pelayanan keperawatan. Sub area prioritas: Ventilasi dan sirkulasi, Nutrisi, Ekskresi, Aktifitas dan istirahat, Stimulasi mental, Tidur, Masalah kardiovaskuler, Masalah penyakit vaskulerisasi perifer, Masalah respiratori, Masalah gastrointestinal, Masalah diabetes, Masalah muskuloskeletal, Masalah genitourinary, Masalah neurology, Masalah menurunnya fungsi sensorik

Masalah dermatology, Masalah kesehatan mental, Tindakan operatif & dampaknya, Paliative care, Manajemen nyeri, Rehabilitasi, Perawatan diri dan higienitas, Pengawasan menelan obat 2. Parameter & hasil (outcome) intervensi klinis yang spesifik. Sub area prioritas: Diagnosis keperawatan yang spesifik, Pengembangan alat ukur geriatrik (contoh Iowa Index of Geriatric Assessment Tools dapat diakses di http://www.uiowa.edu)

3. Faktor-faktor organisasi yang berdampak pada sistem pelayanan dan kinerja, Sub area prioritas: Peran kolaborasi, Model perawatan di rumah (home care), Model perawatan di rumah sakit (hospital care), Model perawatan di panti jompo (institutional care), Model perawatan jangka panjang (long-term care), Nursing agency, Team work

4. Faktor-faktor sosial yang berdampak pada tingkat kesehatan lansia. Sub area prioritas: Aspek legal : kebijakan & regulasi, Kelenturan kesehatan yang berbasis budaya & kepercayaan, Sosial ekonomi, Konsep-konsep gerontologi (aspek kesehatan, aspek spiritual, aspek etika dan moral, aspek nutrisi, aspek psikologis, aspek fisiologis, & aspek sosial)

5. Kualitas hidup (quality of life) dan intervensi kesehatan psikososial. Sub area prioritas: Penilaian status fungsional, Psikologis, Senile dementia

,Olah raga, Rekreasi, Upaya preventif terhadap risiko kecelakaan, Interaksi sosial, Spiritual, Manajemen Stress, Sakaratul maut, Support keluarga, Aktifitas dan disfungsi seksual 6. Promosi kesehatan. Sub area prioritas: Pesan, Teknologi

Penutup Mengingat proyeksi penduduk lansia pada tahun 2020 akan meningkat menjadi 11,37 % penduduk Indonesia, maka keperawatan gerontik memiliki potensi kerja yang cukup besar di

masa mendatang. Perawat perlu membudayakan kegiatan penelitian dan pemanfaatan hasilhasilnya dalam praktik klinik keperawatan untuk mempersiapkan pelayanan yang prima. Praktik yang bersifat evidence-based harus dibuat sebagai bagian integral dari kebijakan organisatoris pelayanan kesehatan pada semua tingkatan agar langkah-langkah tersebut dapat diaplikasikan untuk meningkatkan kinerja pelayanan kesehatan tersebut . Budaya ilmiah juga dapat dimanfaatkan sebagai strategi akuntabilitas publik, justifikasi tindakan keperawatan, dan bahan pengambilan keputusan. Kesadaran menejer keperawatan terhadap nilai penelitian yang potensial akan memberikan dampak yang menguntungkan bagi organisasi, misalnya kinerja keperawatan yang meningkat dan out come klien yang optimal.