Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU TERNAK UNGGAS SISTEM DIGESTI DAN REPRODUKSI AYAM

Disusun oleh :

Dyah Wahyuningsih 10/305529/PT/05977 Kelompok XXXIX Asisten pendamping : Aulia Ahmadi

LABORATORIUM ILMU TERNAK UNGGAS BAGIAN PRODUKSI TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

Waktu Pelaksanaan Praktikum sistem digesti dan reproduksi ayam dilaksanakan pada hari Rabu, 12 Oktober 2011 pukul 13.00 WIB

Tempat Pelaksanaan Praktikum sistem digesti dan reproduksi ayam dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Ternak Unggas, bagian Reproduksi Uggas, Fakulta Peternakan , Universitas Gadjah Mada.

Tujuan dan manfaat Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui bagian-bagian dari masing-masing organ reproduksi dan saluran pencernaan pada ayam serta membedakan fungsi masing-masing bagian alat eproduksi dan saluran pencernaan pda ayam. Manfaat Praktikan dapat membandingkan data yang diperoleh dengan referensi dari sumber ilmiah tertentu. Dari sini diharapkan praktika kritis terhadap situasi dan kondisi serta mengetahui apakah yang menyebabkan perbedaan antara data praktikum dengan referensi sehingga praktikan dapat menemukan problem solving dari penyimpangan yang terjadi dan pada akhirya dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produk perunggasan di tanah air

MATERI DAN METODE

Materi Alat. Alat yang diguakan dalam praktikum ini adalah digunakan adalah pisau skalpel, alas kaca, mistar ukur, timbanagan elektrik, dan gunting bedah Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ayam layer afkir yang berumur 72 minggu dengan bobot 1457 gram.

Metode Ayam yang telah dipotong dibedah lalu dikeluarkan seluruh organ pencernaan dan reproduksinya (jangan sampai putus), kemudian diletakkan diatas alas kaca diatur secara utuh dan digambar. Setelah itu ukur panjang perbagian, kemudian dipotong perbagian, keluarkan kotorannaya dan dicuci lalu ditimbang dan dicatat berat masing-masing organ.

HASIL DAN PEMBAHASAN Sistem Digesti Ayam Dari praktikum ini, didapatkan data sebagai berikut: Ayam A Parameter Panjang (cm) Oesophagus Crop Proventrikulus Gizzard Usus halus - duodenum - jejunum - ileum Ceacum Usus besar Kloaka 24 41 58 24 7,5 9 8 11 14 2 17 29 47 53 27,5 7 4 12 15 11 2 4 18 11 29 21 16 30 Berat (g) Ayam B Panjang (cm) 22 4 4 7 2 43 Berat (g)

G 1. Tabel sistem digesti ayam Pada praktikum digunakan 2 ekor ayam layer. Umur ayam tersebut masing-masing 72 minggu, dengan bobot badan 1457 g dan 1498 g. Telah diketahui bahwa organ pencernaan pada ayam meliputi oesophagus, crop, proventriculus, gizzard, usus halus yang meliputi:

duodenum, jejunum dan ileum, coecum, usus besar kloaka dan organ tambahan yang meliputi hati, pankreas dan limfa. Data hasil pengamatan pada praktikum setelah dibandingkan dengan kisaran normal menurut literatur terdapat beberapa perbedaan, diantaranya adalah: Oesophagus Dalam oesophagus tidak terjadi pencernaan yang begitu berarti. Oesophagus merupaka saluran penceraan yang menghasilkan mukosa berlendir yang berfungsi untuk membasahi pakan menuju ke tembolok. Dari hasil praktikum didapat panjang oesopaghus ayam A 18 cm dan ayam B 22 cm. Dengan bobot masing-masing 29 g dan 4 g. Menurut Neil (1991), panjang oesophagus ayam berkisar 20-25 cm, sedangkan beratnya berkisar 5-7,5 gram. Jika dibandingkan dengan literatur, panjang oesophagus ayam A dan B masih mendekati kisaran normal. Untuk berat, oesophagus ayam A jauh diatas kisaran normal, sedangkan ayam B mendekati kisaran normal. Perbedaan ini disebabkan oleh adanya perbedaan dalam pemberian pakan/jenis makanan yang dikonsumsi, penyakit, umur dan jenis unggas (Yuwanta, 2004) Crop Crop merupakan perbesaran dari oesophagus yang membentuk kantung yang berfungsi sebagai tempat penampungan sementara, dengan daya tampung sebesar 250 gram. Menurut Neil (1991) panjang crop adalah 7-10 cm dengan berat 8-12 gram. Dari praktikum diperoleh berat crop ayam A dan ayam B masing-masing 21 gram dan 7 gram. Ini berarti berat crop ayam A jauh diatas kisaran normal sedangkan ayam B berada dalam kisaran normal. Menurut Yuwanta (2004) Perbedaan ukuran disebabkan oleh perbedaan jenis pakan yang diberikan. Proventrikulus

Proventrikulus disebut juga kelenjar ( Galndular stomach) atau lambung kelenjar yang terletak diatas gizzard, berfungsi untuk

mensekresikan pepsinogen dan HCL untuk mencerna protein dan lemak. Dari data praktikum didapat bahwa berat proventikulus ayam A 16 gram dan ayam B 2 gram sedangkan panjang ayam A 11 cm dan ayam B 4 cm. Menurut Swenson (1997) proventikulus mempunyai panjang 6 cm dengan berat 7,5-10 gram. Dari hasil praktikum baik berat maupun panjang pada ayam A dan ayam B berada diluar kisaran normal. Perbedaan ini desebabkan oleh perbedaan jenis pakan yang diberikan. (Yuwanta, 2004) Gizzard Gizzard/empedal disebut juga perut muskular yang berfungsi memecah dan mencampur makanan dengan air menjadi pasta. Gizzard mensekresikan coilin yang berfungsi untuk untuk melindungi permukaan dalam gizzard terhadap kerusakan yang mungkin disebabkan oleh pakan.Pada ayam A diketahui berat 30 gram sedangkan pada ayam B 43 gram. Menurut Goodman (1991) gizzard memiliki panjang 5-7,5 cm dan berat 25-30 gram. Berarti ayam A dan ayam B berada diluar kisaran normal bisa dimungkinkan karena mengkonsumsi pakan serat kasar tinggi sehingga lebih berkembang. Dari kedua ayam tersebut memiliki berat yang berbeda ini dimungkinkan perbedaaan dalam pemberian pakan maupun cara pemeliharaannya (Yuwanta, 2004). Usus Halus Usus halus (small intestine) merupakan tempat terjadinya

penyerapan makanan dan tempat sekresi enzim dari pankreas dan getah empedu dari hati. Usus halus memiliki panjang 120 cm (Yuwanta, 2004). Usus halus terdiri dari 3 bagian yaitu: duedenum, jejunum dan ileum. Pada ayam A masing-masing bagian usus tersebut memiliki panjang sebagai berikut: 24 cm,41 cm dan 58 cm. Sedangkan pada ayam B 29 cm, 47 cm,

53 cm, 27,5 cm. Berat masing-masing bagian usus halus pada ayam A adalah sebagai berikut: 9 g, 8 g dan 11g. Sedangkan pada ayam B masing-masing sebagai berikut: 4g, 12 g dan 15 g. Berdasarkan literatur, ayam A masih berada dalam kisaran normal karena memili usus halus sepanjang 123 cm.Seperti halya dengan ayam B masih berada dalam kisaran normal yakni 129 cm. Adapun perbedaan panjang dan berat usus halus diatas disebabkan oleh pemberian pakan dan perwatan yang berbeda (Yuwanta, 2004) Makanan yang bergerak dari empedal atau gizzard bergerak

melalui lekukan usus yang disebut duodenum,yang secara anatomis sejajar dengan pankreas. Pankreas tersebut mempunyai fungsi penting dalam pencernaan unggas seperti hanya pada spesies-spesies lainnya. Alat tersebut menghasilkan getah pankreas dalam jumlah banyak yang mengandung enzimenzim amilolitik, lipolitik dan proteolitik. Enzim-enzim tersebut berturut-turut menghidrolisa pati, lemak, proteosa dan pepton. Empedu hati yang mengandung amilase, memasuki pula duodenum. Bahan makanan bergerak melalui usus halus yang dindingnya

mengeluarkan getah usus. Getah usus tersebut mengandung erepsin dan beberapa enzim yang memecah gula. Erepsin menyempurnakan

pencernaan protein, dan menghasilkan asam-asam amino, enzim yang memecah gula mengubah disakharida ke dalam gula-gula sederhana (monosakharida) yang kemudian dapat diasimilasi tubuh. Penyerapan dilaksanakan melalui villi usus halus. (Neil, 1991) Coecum Coecum terdiri dari dua saluran buntu. Beberapa nutrien yang tidak tercerna (sellulosa, hemisellulosa ) akan tercerna oleh mikrobia dalam coecum, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Kemampuan mencerna serat kasar pada bangsa itik lebih besar dari pada ayam, maka coecumnya lebih besar dan lebih berkembang pada bangsa itik.

Coecum antara ayam A dan ayam B memiliki perbedaan panjang. . Untuk ayam A panjangnya 24 cm dan ayam B 27,5 cm dengan berat masing-masing 14 g dan 11 g. Menurut Yuwanta (2004) panjang coecum ayam adalah 20. Ini berarti tidak terjadi perbedaan yang mencolok antara panjang coecun ayam A dan B dengan literatur. Ayam B memiliki ceocum yang sedikit lebih besar, hal ini disebabkan karena ayam tersebut megkonsumsi pakan dengan kandungan serat kasar lebih tinggi sehingga ukuran panjangnya diatas normal. Kloaka Kloaka merupakan tempat keluarnya ekskreta (Yuwanta, 2004). Pada ayam A beratnya 17 g, sedangkan ayam B beratnya 4 g. Menurut Neil (1991) panjang kloaka adalah 1,5-3 cm dengan berat 6-8 gram. Pada ayam A berada jauh di atas kisaran normal, sedangkan ayam B medekati kisran normal. Hal ini mungkin disebabkan perbedaan jumlah ekskreta yang diekskresikan oleh masing-masing ayam yang tentu saja jumlah ekskreta dipengaruhi oleh jumlah dan jenis pakan

Organ Tambahan Dari praktikum didapat data organ tambahan sebagai berikut: Ayam A Parameter Panjang (cm) Hati Pankreas Limfa 29 2 3 Berat (g) Ayam B Panjang (cm) 39 3 3 Berat (g)

G 2. Tabel Organ Tambahan Sistem Pencernaan Unggas Hati Hati terletak di antara gizzard dan empedu, berwarna kemerahan dan terdiri atas dua lobus, yaitu lobus dexter dan sinister. Hati mengeluarka cairan berwarna hijau kekuningan yang berperan untuk mengemulsi lemak.(North, 1998). Cairan tersebut tersimpan dalam sebuah kantung yang disebut kantung empedu yang terletak di lobus sebelah kanan. Makanan yang berada dalam duodenum akan mengkerut dan menumpahkan cairan empedu (Akoso, 1993). Hati juga menyimpan nenrgi siap pakai atau glikogen dan menguraikan hasil sisa protein menjadi asam urat yang dikeluarkan melalui ginjal ( Lehninger,1994)

Pankreas Terletak pada lipatan duodenum. Pankreas mesekresikan cairan pankreas ke duodenum melalui ductus pancreaticus dan mensekresikan enzim yang mendigesti karbohidrat, lemak dan protein (North, 1998)

Limfa Limfa berbentuk agak bundar, berwarna kecoklatan dan terletak pada titik antara proventriculus, gizzard dan hati. Fungsi dari limf sampai sekarg belum diktahui, hanya diduga sebagai tempat untuk memecah sel darah merah dan menyimpan Fe dalam darah. (North, 1998)

Sistem Reproduksi Ayam Betina Berdasarkan hasil dari praktikum diperoleh data sebagai berikut: AyamA Parameter _________________________________________ Panjang (cm) Berat (g) ovarium + ovum infundibulum magnum istmus uterus vagina 12 13 7 6 5 2 2 3 1 6 16 6 15,5 8 3 2 4 2 1 5 2 Berat (g) Panjang (cm) AyamB

G.3 Tabel Sistem reproduksi ayam Betina Data hasil pengamatan pada praktikum setelah dibandingkan dengan kisaran normal menurut literatur terdapat beberapa perbedaan,

diantaranya adalah: Ovarium Ovarium merupakan tempat penghasil gamet betina dan

pembentukan kuning telur. Pada unggas ovarium disebut folikel. Bentuknya seperti buah anggur. Panjang ovarium menurut Yuwanta, (2004 )adalah 7cm, dengan berat 26-36 g. Sedangkan pada hasil pengamatan berat ovarium ayam A adalah 2 g dan ayam B 4 g. Dari hasil pengamatan dapat terdapat perbedaan yang mencolok dengan literatur. Hal ini karena ayam yang digunakan dalam praktikum merupakan ayam afkir sehingga ovarium ayam tersebut sudah tidak dapat berkembang.

Infundibulum Fungsi infundibulum adalah menagkap ovum (yolk) dan tempat terjadinya fertilisasi. Pada infundibulum terdapat lubang ostium

abdominale yang berfungsi untuk menangkap ovum yang telah masak. Panjang infundibulum menurut Yuwanta,(2004) adalah 9 cm, sedangkan pada hasil pengamatan didapat panjang infundibulum untuk ayam A 12 cm dengan berat 2 gram dan ayam B 6 cm dengan berat 0 gram. Terjadi sedikit perbedaan antara panjang infundibulum ayam A dan ayam B dengan kisaran normal, perbedaan ini bisa disebabkan karena perbedaan genetik, jenis ayam yang digunakan serta umur ayam itu sendiri. Magnum Magnum tesusun dari glandula tubuler yang sangat sensibel. Mukosa dari magnum tesusun dari sel gobelet yang berfungsi dalam mensekresikan putih telur kental dan cair. Panjang magnum menurut Yuwanta, 2004 adalah 33 cm, sedangkan pada hasil praktikum didapat panjang atau ukuran magnum ayam A adalah 39 cm dan ayam B adalah 32,5 cm. magnum merupakan bagian terpanjang dari oviduct. Terdapat perbedaan antara kisaran normal dengan data hasil praktikum yang disebabkan aleh perbedaan umur, faktor genetik, produksi telur yang telah dihasilkan, jadi dimungkinkan bahwa ayam A yang memiliki panjang magnum paling panjang telah memproduksi telur paling tinggi. Isthmus Isthmus merupakan tempat pembentukan kerbing tipis dan tempat terjadi plumping. Menurut kisaran normal panjang ishtmus adalah 10 cm (Yuwanta,2004). Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum didapat hasil untuk ayam A adalah 7 cm dengan berat 1 gram dan ayam B 8 cm dengan berat 1 gram. Ukuran Istmus pada ayam A dan ayam B berada dibawah kisaran normal disebabkan faktor umur jumlah produksi telur, jenis ayam yang digunakan.

Penurunan produktivitas ayam buras, seperti telur berkaitan erat dengan kinerja reproduksi, yang menurun secara nyata akibat perkawinan in breeding secara terus-menerus (Sastrodihardjo dan Resnawati dalam Tagama 2003).

Uterus Fungsi uterus adalah sebagai tempat pembentukan kerbang telur dan pewarnaan kerabang. Warna kerabang telur terdiri atas sel phorpirin akan terbentuk dibagian ini pada akhir mineralisasi kerabang telur. Menurut Yuwanta(2004), kisaran normal untuk panjang uterus adalah 10 cm dan data hasil praktikum didapatkan hasil untuk ayam A adalah 6 cm dengan berat 5 gram dan ayam B 3 cm dengan berat 5 gram . Perbedaan ukuran uterus pada hasil pengamatan dengan kisaran normal disebabkan faktor umur, faktor genetik dan tingkat produksi telur. Sartika (2005) menyatakan produktivitas ayam buras beragam, bergantung pada sistem pemeliharaan dan keragaman individu. Upaya meningkatkan produktivitas ayam buras dapat dilakukan melalui introduksi teknologi pemeliharaan dari ekstensif-tradisional menjadi semiintensif atau intensif (Zakaria 2004). Sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui efek dari induksi moulting ayam petelur komersial SCWL pada minggu ke 60, 65 dan 70 dari kelompok tanpa moulting pada usia. Sebuah usia masing-masing. kelompok kontrol disimpan Setelah periode 28

hari produksi telur (pra - rontok) lapisannya menjadi moulting disebabkan oleh pakan danpembatasan air. (International Journal of Poultry Science 5 (10): 996-1000, 2006)

Vagina Vagina berfungsi untuk pembentukan kutikula. Menurut

Yuwanta,2004 panjang vagina adalah 10 cm, sedangkan pada data hasil pengamatan didapatkan untuk ayam A adalah 5 cm dengan berat 16 gram, sedangkan ayam B adalah 2 cm dengan berat 2 gram. Terjadi perbedaan yang sangat signifikan antara hasil pengamatan dengan kisaran normal karena faktor genetik, umur dan bisa dimungkinkan ketidaktepatan pada bagian vagina yang diukur

KESIMPULAN

Sistem digesti pada unggas terdiri dari mulut, oesophagus, crop, proventriculus, gizzard, small intestinum, large intestinum, coecum dan kloaka, serta dibantu oleh organ-organ tambahan seperti pankreas, limpa dan hati. Saluran digesti yang diamati selama praktikum dalam keadaan baik/normal, prinsip pencernaan pada ayam tersebut antara lain, pencernaan secara mekanik yang terjadi di empedal (gizzard) yang dibantu oleh bebatuan atau grit. Pencernaan secara kimia atau enzimatik dilakuakn oleh enzim pencernaan dihasilkan dkelenjar saliva dimulut, enzim yang dihasilkan oleh proventrikulus, enzim empedu dari hati, dari enzim dari usus halus. Peranan enzim tersebut sebagai pemecah ikatan protein, lemak serta karbohidrat. Pencernaa secara mikrobiologik terjadi di sekum dan kolon. Alat reproduksi pada ayam betina ada dua bagian yaitu alat kelamin primer berupa ovarium yang menghasilkan ovum dan alat kelamin sekunder berupa saluran reproduksi, terdiri dari infundibulum, magnum, isthmus, uterus, dan vagina. Alat reproduksi dapat dipengaruhi oleh besarnya ayam, umur, bangsa, pakan yang diberikan dan kondisi lingkungan pada saat pemeliharaan. Saluran reproduksi yang digunakan dalam praktikum dalam keadaan baik/normal. Adapun perbedaanperbedaan antara data hasil praktikum dengan literatur merupakan akibat dari faktor genetik, umur dan bisa dimungkinkan bagian yang diukur. ketidaktepatan pada

DAFTAR PUSTAKA

Goodman, Harvey, D, 1991. Biology Laboratory Invergatium Java. Novich Pub Orlando. International Journal of Poultry Science 5 (10): 996-1000, 2006 ISSN 1682-8356 Asian Network for Scientific Information Sartika. T. 2005. Peningkatan Mutu Bibit Ayam Kampung melalui Seleksi dan Pengkajian Penggunaan Penanda Genetik Promotor Prolaktin dalam MAS/Marker Assiated Selection untuk Mempercepat Proses Seleksi. Disertasi. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Swenson, Melvin J and William O. Reece, 1993. Dukes Phisiology of Domestic Animals, Eleven Edition, Comstock Publishing

Associates, Cornell University Press. Ithaca and London. Yuwanta, Tri, 2004, Dasar Ilmu Ternak Unggas . Kanisius . Yogyakarta. Neil. A c. 1991. Biology 2nd Edition. The Benjamin Coming Publishing Company enc. Pec Wood City. Zakaria, S. 2004b. Performans ayam buras fase dara yang dipelihara secara intensif dan semiintensif dengan tingkat kepadatan kandang yang berbeda. Bulletin Nutrisi dan Makanan Ternak 5(1): 4145.

http:// Pertanian.uns.ac.id/- adimagna/ Iilmu Ternak% 20 Unggas.htm. Diakses pada Selasa 18 Oktober 2011. 21.22 WIB