Anda di halaman 1dari 28

EKOLOGI TUMBUHAN

STRUKTUR DAN KOMPOSISI HUTAN

Nama Nim Kelompok Kelas

:Novia Anugrah :091404046 :III : A

Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar 2011

LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Lengkap Praktikum Ekologi Tumbuhan dengan judul Struktur dan Komposisi vegetasi Pohon yang disusun oleh: Nama NIM Kelas : Novia Anugrah : 091404046 :A

Telah diperiksa dan diteliti oleh Dosen Pembimbing Mata Kuliah, maka dinyatakan diterima.

Makassar,

Januari 2012

Mengetahui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Muhammad Wiharto, M. Si 1966 0930 1992 031 004

KATA PENGANTAR Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya lah maka saya dapat menyelesaikan laporan praktikum ekologi tumbuhan yang berudul Struktur dan Komposisi Hutan. Laporan ini merupakan salah satu dari praktikum Ekologi Tumbuhan. Dalam penulisan Laporan ini, saya banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang bermanfaat dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan laporan ini. Saya menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan. Hal ini bukanlah suatu kesengajaan melainkan karena keterbatasan ilmu dan kemampuan saya. Untuk itu saya mengharapkan tanggapan, kritikan dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan laporan ini. Akhir kata kepada-Nya jualah kita berserah diri, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Wassalam.

Makassar,

Januari 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Lingkungan adalah salah satu faktor penentu berlangsungnya kehidupan makhluk hidup, apakah itu tumbuhan hewan maupun manusia. Di alam lingkungan itu dapat dibedakan atas dua yaitu lingkungan abiotik yaitu lingkungan yang terdiri dari makhluk tak hidup (benda mati) dan juga lingkungan yang terdiri dari makhluk hidup atau sering disebut lingkungan biotic. Tumbuhan adalah salah satu organisme yang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Misalnya, meskipun terdapat tumbuhan yang sama, akan tetapi ditumbuhkan pada lingkungan yang berbeda, maka pertumbuhannya pun juga akan berpengaruh. Umumnya, di alam kita jarang menemukan tumbuhan yang hidupnya sendiri. Sebagian besar tumbuhan membentuk kelompok atau koloni. Bukan hanya tumbuhan, hewan bahkan manusia juga demikian. Komunitas makhluk hidup, khususnya tumbuhan disebut vegetasi. Imu yang mempelajari tentang

komunitas tumbuhan adalah ekilogi tumbuhan. Dalam mempelaari ekologi tumbuhan ini, khususnya yang merujuk pada vegetasi, tidak mungkin kita melakukan peninjauan pada seluruh komunitas tumbuhan yang ada, apalagi jika berasal pada suatu area yang cukup luas. Oleh karena itu, salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui vegetasi pada suatu tempat adalah dengan menggunakan plot dengan metode kuadran.

Mengingat pentingnya mengetahui vegetasi pada suatu tempat, maka pada praktikum Ekologi Tumbuhan kali ini, mengangakat judul Struktuk & Komposisi Hutan. Dimana pada praktikum kali ini menentukan struktur dan komposisi vegetasi dengan menggunakan plot dengan metode kuadran. Dengan demikian, akan lebih mudah dalam menentukan vegetasinya, sehingga otomatis akan lebih paham lagi bagaimana sebenarnya yang dimaksud dengan vegetasi disini dan bagaimana menganalisis suatu vegetasi pada suatu tempat. B. Tujuan Praktikum Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui Indeks Nilai Penting (INP) suatu tumbuhan bawah herba dan tumbuhan bawah semak pada tempat ternaung, setengah ternaung dan terbuka. C. Manfaat Praktikum Manfaat praktikum ini adalah mahasiswa dapat menegtahui bagaimana cara mengetahui suatu begetasi dengan menggunakan metode kuadran, selain itu, juga dapat mengetahui ara menganalisis komunitas suatu tumbuhan yang hidup pada suatu area.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ekologi merupakan gabungan dari dua kata dalam Bahasa Yunani yaitu oikos berarti rumah dan logos berarti ilmu atau pelajaran. Secara etimologis ekologi berarti ilmu tentang makhluk hidup dan rumah tangganya. Dengan kata lain defenisi dari ekologi ialah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Berdasarkan defenisi di atas maka yang dimaksud dengan Ekologi Tanaman adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbale balik antara tanaman (tumbuhan yang dibudidayakan) dengan lingkungannya. Lingkungan hidup tanaman dibagi atas dua kelompok yaitu lingkungan biotik dan abiotik. Dari lingkungan inilah tanaman memperoleh sumberdaya cahaya, hara mineral, dan sebagainya Kekurangan,kelebihan atau ketidakcocokkan akan menyebabkan

terjadinya cekaman (stress) pada tanaman (Hanum, chaerani, 2009), Berdasarkan makna ekologi di atas maka jelaslah bahwa ekologi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu biologi. Oleh karenanya Ilmu Biologi sering disebut dengan biologi lingkungan. Ekologi merupakan bagian kecil dari Biologi. Yang termasuk dalam ruang lingkup biologi ialah organisma, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfir. Jika kita perhatikan bahasan-bahasan dalam mempelajari ekologi ternyata masing-masing ilmu yang membahas suatu individu/grup tidak terlepas dari membahas masalah ekologi. Dari penjelasan ini dapat dilihat ternyata ekologi merupakan ilmu yang cakupannya amat luas. Bagaimana reaksi dari organisme atau individu atau kelompok individu terhadap lingkungan atau sebaliknya

juga dipelajari dalam ekologi. Organisma dalam pengertian biologi ialah makhluk secara individu atau sesuatu kesatuan organ yang mempunyai tanda-tanda dan aktifitas kehidupan. Organisma dalam biologi sering disebut sebagai individu (Satria, 2011). Komunitas secara dramatis berbeda-beda dalam kekayaan spesiesnya (spesies ricaness) jumlah yang mereka miliki. Mereka juga berada dalam dalam kelimpahan relatif (relatif abdance), spesies, beberapa komunitas terdiri dari beberapa spesies yang umum dan beberapa spesies yang jarang semenetara yang lainnya mengandung jumlah spesies yang di dalam komunitas mempunyai dampak yang sangat besar pada ciri umumnya, konsep ini memiliki suatu komunitas yang berbeda kekayaan spesies yang sama tetapi jumlahnya lebih terbagi secara beranekaragam. Istilah keragaman spesies seprti yang digunakan oleh para ahli ekologi. Mepertimbangkan kedua komponen keanekaragaman yaitu kekayaan spesies dan kelimpahan relatif (Campbell, 2004). . Struktur suatu komunitas alamiah bergantung pada cara di mana tumbuhan atau hewan tersebar atau terpencar di dalamnya. Pola penyebarannya bergantung pada sifat fisikokimia lingkungan maupun keistimewaan biologis organisme itu sendiri. Keragaman itu tak terbatas dari pola penyebaran demikian yang terjadi dalam alam secara kasar dapat dikelaskan menjadi tiga kategori: (i) penyebaran teratur atau seragam, di mana individu-individu terdapat pada tempat tertentu dalam komunitas, (ii) keberadaan acak atau kebetulan, di mana individu-individu menyebar dalam beberapa tempat dan mengelompok dalam tempat lainnya, (iii) penyebaran berumpun, di mana individu-individu selalu ada dalam kelompok-kelompok dan sangat jarang terlihat sendiri secara terpisah (Michael,1994). Vegetasi adalah semua spesies tumbuhan yang terdapat dalam suatu wilayah yang luas, yang memperlihatkan pola distribusi menurut ruang dan waktu. Tumbuhan penutup permukaan bumi merupakan vegetasi yang dapat berbeda dalam ruang dan waktu untuk komponen spesies penyusunnya, berdasarkan ukuran keluasan maka

vegetasi dapat dibedakan dalam formasi adalah suatu tipe vegetasi yang sangat luas yang menutupi permukaan bumi, sebagai contoh adalah formasi Taiga, dimana keberadan formasi Taiga terletak pada pada beberapa benua, komposisi formasi taiga pada beberapa benua merupakan suatu komposisi tumbuhan yang identrik sehingga tetap dengan nama formasi Taiga (Sriwidorerno, 2011). Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat 1ain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya. Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penvusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan (Anonim, 2009). Menurut Gapala (dalam Riyanti 2010), beberapa rumus yang penting diperhatikan dalam menghitung hasil analisa vegetasi, 1. kerapatan (Density) Banyaknya (abudance) merupakan jumlah individu dari satu jenis pohon dan tumbuhanlain yang besarnya dapat ditaksir atau dihitung.Secara kualitatif kualitatif dibedakan menjadi jarang terdapat ,kadang-kadang terdapat,sering terdapat dan banyak sekali terdapat jumlah individu yang dinyatakan dalam persatuan ruang disebut kerapatan yang umunya dinyatakan sebagai jumlah individu,atau biosmas populasi persatuan areal atau volume,missal 200 pohon per Ha 2. Dominasi

Dominasi dapat diartikan sebagai penguasaan dari satu jenis terhadap jenis lain (bisa dalam hal ruang ,cahaya danlainnya),sehingga dominasi dapat dinyatakan dalam besaran: Banyaknya Individu (abudance)dan kerapatan (density), persen penutupan (cover percentage) dan luas bidang dasar(LBD)/Basal area(BA), Volume, Biomas, Indek nilai penting(importance value-IV). 3. Frekuensi Frekuensi merupakan ukuran dari uniformitas atau regularitas terdapatnya suatu jenis frekuensi memberikan gambaran bagimana pola penyebaran suatu jenis,apakah menyebar keseluruh kawasan atau kelompok.Hal ini menunjukan daya penyebaran dan adaptasinya terhadap lingkungan. 4. Indek Nilai Penting(importance value Indeks) Merupakan gambaran lengkap mengenai karakter sosiologi suatu spesies dalam komunitas(Contis dan Mc Intosh, 1951) dalam Shukla dan chandel (1977). Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk

menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada. Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode intersepsi titik (metode tanpa plot)

(Syafei, dalam Ali 2010). Metode Kuadrat adalah salah satu metode dengan bentuk sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran dengan luas tertentu. Hal ini tergantung pada bentuk vegetasi. Berdasarkan metode pantauan luas minimum akan dapat di tentukan luas kuadrat yang di perlukan untuk setiap bentuk vegetasi tadi. Untuk setiap plot yang di sebarkan di lakukan perhitungan terhadap variabel-variabel kerapatan, kerimbunan

dan frekuensi. Variabel kerimbunan dan kerapatan di tentukan berdasarkan luas kerapatan. Dari spesies yang di temukan dari sejumlah kuadrat yang di buat (Rahardjanto, 2001) Menurut Anonim (2010), Metode kuadran pada umumnya dilakukan jika hanya vegetasi tingkat pohon saja yang menjadi bahan penelitian. Metode ini mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi, dominansi pohon dan menaksir volumenya. Ada dua macam metode yang umum digunakan : a. Point-quarter Yaitu metode yang penentuan titik-titik terlebih dahulu ditentukan

disepanjanggaris transek. Jarak satu titik dengan lainnya dapat ditentukan secara acak atau sistematis. Masing-masing titik dianggap sebagai pusat dari arah kompas, sehingga setiap titik didapat empat buah kuadran. Pada masing-masing kuadran inilah dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan satu pohon yang terdekat dengan pusat titik kuadran. Selain itu diukur pula jarak antara pohon terdekat dengan titik pusat kuadran. b. Wandering-quarter Yaitu suatu metode dengan cara membuat suatu garis transek dan menetapkan titik sebagai titik awal pengukuran. Dengan menggunakan kompas ditentukan satu kuadran (sudut 90) yang berpusat pada titik awal tersebut dan membelah garis transek dengan dua sudut sama besar. Kemudian dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan danjarak satu pohon terdekat dengan titik pusat kuadran (Soegianto, 1994). Penarikan contoh sampling dengan metode-metode diatas umumnya digunakan pada penelitian-penelitian yang bersifat kuantitatif. Transek merupakan gris sampling yang ditarik menyilang pada sebuah bentukkan atau beberapa bentukan. Transek juga dapat dipakai dalam studialtituide dan mengetahui perubahan komunitas yang ada.Transek adalah jalur sempit meintang lahan yang akan dipelajari/ diselidiki. MetodeTransek bertujuan untuk mengetahui hubungan perubahan vegetasi dan perubahan lingkungan sertauntuk mengetahui

hubungan vegeterasi yang ada disuatu lahan secara cepat ( Oosting, dalam Anonim 2010).

Menurut Anonim,(2010), ada beberapa jenis transek yaitu : a. Line Transect (transek garis)Dalam metode ini garis garis merupakan petak contoh (plot). Tanaman yang beradatepat pada garis dicatat jenisnya dan beberapa kali terdapat/ dijumpai b. Belt transek (transek sabuk)Belt transek merupakan jalur vegetasi yang lebarnya sama dan sangat panjang. Lebar jalur ditentukan oleh sifat sifat vegetasinya untuk menunjukan bagan yang sebenarnya.Lebar jalur untuk hutan antara 1 10 m. Transek 1 m dugunakan jika semak dan tunasdibawah diikukan, tetapi bila hanya pohon pohonnya yang dewasa yang dipetakan,transek 10 m yang baik. Panjang transek tergantung tujuan penelitian. Setiap segmentdipelajari vegetasinya( Shukla et al 1985)

BAB III METODE PRAKTIKUM


A. Waktu dan Tempat Hari/Tanggal Waktu Tempat B. Alat dan Bahan 1. Alat yang digunakan: a. Parang b. Meteran c. Gunting d. Alat tulis e. Kamera digital 2. Bahan yang digunakan: a. Anakan Pohon b. Pohon C. Prosedur Kerja 1. Mengukur lahan sepanjang 1Ha sebagai transek. 2. Membuat plot ukuran 1x1 meter dengan menggunakan meteran dan tali rafia serta patok bambu sebagai tanda plot sebanyak 10 buah untuk satu transek. 3. Mengamati tumbuhan herba dan semak pada masing-masing plot. 4. Menghitung luas penutupan tajuk untuk masing-masing spesies tumbuhan herba. 5. Mengihtung diameter 1 dan diameter 2 untuk masung-masing spesies tumbuhan semak. : Sabtu, 7 Januari 2012 : Pukul 10.30 s.d. 13.00 Wita : Area Taman Nasional Bulusaraung Bantimurung

6. Mengambil foto spesies dengan menggunakan kamera digital untuk dokumen data spesies. 7. Mengolah data dalam microsoft exel 2007. D. Teknik Analisis Data 1. Densitas Mutlak (Kerapatan Mutlak/KM)

2. Densitas Relatif (Kerapatan Relatif/KR)

3. Dominansi Mutlak (DM)

4. Dominansi Relatif (DR)

5. Frekuensi Mutlak (FM)

6. Frekuensi Relatif (FR)

7. Indeks Nilai Penting (INP) INP = DR + FR + KR 1. Indeks Diversitas Shannon Wiener (H)= H = - pi ln pi

2. Indeks Kemerataan (e) E=

3. Indeks Kekayaan R=

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan 1. Transek 1

Dom.

Dom Mut 1.23 0.01 62.19 0.03 0.06 0.39 0.02 0.16 0.53 0.27 0.39

Dom Rel 1.09 0.01 54.90 0.03 0.06 0.35 0.02 0.14 0.46 0.24 0.34

Dens 3.00 1.00 29.00 1.00 1.00 2.00 1.00 3.00 3.00 1.00 1.00

Den Mut 0.00 0.00 0.03 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

Den Rel 3.80 1.27 36.71 1.27 1.27 2.53 1.27 3.80 3.80 1.27 1.27

Frek 1.00 1.00 6.00 1.00 1.00 2.00 1.00 2.00 2.00 1.00 1.00

Frek Mut 0.10 0.10 0.60 0.10 0.10 0.20 0.10 0.20 0.20 0.10 0.10

Frek Rel 2.70 2.70 16.22 2.70 2.70 5.41 2.70 5.41 5.41 2.70 2.70

INP 7.59 3.98 107.83 3.99 4.02 8.28 3.98 9.34 9.67 4.21 4.31 0.03 0.01 0.36 0.01 0.01 0.03 0.01 0.03 0.03 0.01 0.01 3.68 4.32 1.02 4.32 4.31 3.59 4.32 3.47 3.44 4.27 4.24

H 0.09 0.06 0.37 0.06 0.06 0.10 0.06 0.11 0.11 0.06 0.06

e 1.13

R 1.91

Artocarpus rigidus Bauhinia accuminate Coffea arabica Colona serratifolia Cycas sp Dilenia serrata Dracontomelan mangiferum Ficus sp Flacourtia sp. Pandanus tectorius Polyalthia glauca

1233.93 9.64 62192.37 28.76 63.62 392.58 17.92 157.78 525.88 268.80 390.33

Pterocarpus indicus Syzygium malaccense Tectona grandis Theobroma cacao villebrunea rubescens Vitex cofassus

19166.41 2459.87 18506.21 1963.50 21.69 5880.86 113280.13

19.17 2.46 18.51 1.96 0.02 5.88 113.28

16.92 2.17 16.34 1.73 0.02 5.19 100.00

9.00 5.00 11.00 1.00 1.00 6.00 79.00

0.01 0.01 0.01 0.00 0.00 0.01 0.08

11.39 6.33 13.92 1.27 1.27 7.59 100.00

5.00 1.00 6.00 1.00 1.00 4.00 37.00

0.50 0.10 0.60 0.10 0.10 0.40 3.70

13.51 2.70 16.22 2.70 2.70 10.81 100.00

41.83 11.20 46.48 5.70 3.99 23.60 300.00

0.14 0.04 0.15 0.02 0.01 0.08 1.00

1.97 3.29 1.86 3.96 4.32 2.54

0.27 0.12 0.29 0.08 0.06 0.20 2.15

2. Transek 2
Den Mu t 0.00 0.00 0.00 0.01 0.00

Dom

Dom Mut 0.24 0.17 0.03 0.30 0.04

Dom Rel 1.14 0.79 0.14 1.42 0.18

Dens 1.00 3.00 1.00 9.00 1.00

Den Rel 1.02 3.06 1.02 9.18 1.02

Frek 1.00 1.00 1.00 2.00 1.00

Frek Mut 0.10 0.10 0.10 0.20 0.10

Frek Rel 2.86 2.86 2.86 5.71 2.86

INP 5.02 6.71 4.01 16.32 4.06 0.02 0.02 0.01 0.05 0.01 -4.09 -3.80 -4.31 -2.91 -4.30

H 0.07 0.08 0.06 0.16 0.06

e 1.3 9

R 2.1 2

Ardisia lanceolata Ardisia quinquegona Canarium vulgare Coffea arabica Colona sp

240.97 166.54 28.75 300.83 38.55

Desmodium heterophylus Dilenia serrata Diospyros celebica Dracontomelo n dao Duabanga molucana Ficus sp Guazuma ulmifolia Mangifera indica Nephelium lappaceum Psidium guajava Pterocarpus indicus Syzygium malaccense Tectona grandis

1004.5 7 765.86 854.97 1726.1 9 639.28 565.49 7023.6 8 378.66 207.14 2733.9 7 2200.8 7 1273.0 8 572.09

1.00 0.77 0.85 1.73 0.64 0.57 7.02 0.38 0.21 2.73 2.20 1.27 0.57

4.75 3.62 4.04 8.16 3.02 2.67 33.22 1.79 0.98 12.93 10.41 6.02 2.71

2.00 13.0 0 4.00 15.0 0 6.00 2.00 10.0 0 3.00 1.00 1.00 9.00 6.00 6.00

0.00 0.01 0.00 0.02 0.01 0.00 0.01 0.00 0.00 0.00 0.01 0.01 0.01

2.04 13.27 4.08 15.31 6.12 2.04 10.20 3.06 1.02 1.02 9.18 6.12 6.12

1.00 3.00 1.00 3.00 2.00 1.00 3.00 2.00 1.00 1.00 3.00 2.00 2.00

0.10 0.30 0.10 0.30 0.20 0.10 0.30 0.20 0.10 0.10 0.30 0.20 0.20

2.86 8.57 2.86 8.57 5.71 2.86 8.57 5.71 2.86 2.86 8.57 5.71 5.71

9.65 25.46 10.98 32.04 14.86 7.57 51.99 10.57 4.86 16.81 28.16 17.86 14.54

0.03 0.08 0.04 0.11 0.05 0.03 0.17 0.04 0.02 0.06 0.09 0.06 0.05

-3.44 -2.47 -3.31 -2.24 -3.01 -3.68 -1.75 -3.35 -4.12 -2.88 -2.37 -2.82 -3.03

0.11 0.21 0.12 0.24 0.15 0.09 0.30 0.12 0.07 0.16 0.22 0.17 0.15

Terminalia catappa Theobroma cacao Vitex cofassus

25.81 199.06 197.15

0.03 0.20 0.20 21.1 4

0.12 0.94 0.93 100.0 0

1.00 1.00 3.00 98.0 0

0.00 0.00 0.00

1.02 1.02 3.06 100.0 0

1.00 1.00 2.00 35.0 0

0.10 0.10 0.20

2.86 2.86 5.71 100.0 0

4.00 4.82 9.71 300.0 0

0.01 0.02 0.03

-4.32 -4.13 -3.43 69.7 5

0.06 0.07 0.11

Total

0.10

3.50

1.00

2.77

3. Transek 3
Dom Dom Mut
0.21

Dom Rel
1.90

Den Dens Mut


3.00 0.00

Den Rel
3.61

Frek
1.00

Frek Mut
0.10

Frek Rel
3.45

INP
8.97 0.03 3.51 -

H
0.10

e
1.00

R
1.10

Anacardium occidentale Coffea arabica Hibiscus rosasinensis Katondong lento-lento Mangifera


671.47 0.67 6.00 28.00 0.03 33.73 5.00 0.50 17.24 56.97 0.19 2672.61 2.67 23.88 22.00 0.02 26.51 7.00 0.70 24.14 74.52 0.25 213.17

1.39 1.66 -

0.35

0.32

5108.42

5.11

45.64

9.00

0.01

10.84

5.00

0.50

17.24

73.72

0.25

1.40 -

0.34

144.10 981.47

0.14 0.98

1.29 8.77

4.00 1.00

0.00 0.00

4.82 1.20

3.00 1.00

0.30 0.10

10.34 3.45

16.45 13.42

0.05 0.04

2.90 -

0.16 0.14

indica Spondias dulcis Swietenia macrophylla Tectona grandis Terminalia kattapa Total 4. Transek 4
SPESIES Dom 451.02 990.07 261.28 4122.63 1440.54 Dom Mut 0.45 0.99 0.26 4.12 1.44 Dom Rel 1.46 3.21 0.85 13.38 4.68 Dens 3.00 2.00 2.00 5.00 3.00 Den Mut 0.00 0.00 0.00 0.01 0.00 Den Rel 3.45 2.30 2.30 5.75 3.45 Frek 9.00 9.00 9.00 8.00 8.00 Frek Mut 0.90 0.90 0.90 0.80 0.80 Frek Rel 5.88 5.88 5.88 5.23 5.23 INP 10.79 11.40 9.03 24.36 13.35 140.52 0.14 11.19 1.26 100.00 1.00 83.00 0.00 0.08 1.20 100.00 1.00 29.00 0.10 2.90 3.45 100.00 5.91 300.00 0.02 583.50 0.58 5.21 2.00 0.00 2.41 1.00 0.10 3.45 11.07 0.04 640.23 0.64 5.72 12.00 0.01 14.46 4.00 0.40 13.79 33.97 0.11 38.55 0.04 0.34 1.00 0.00 1.20 1.00 0.10 3.45 5.00 0.02

3.11 4.09 2.18 3.30 3.93 0.08 1.92 0.12 0.25 0.07

H 0.04 0.04 0.03 0.08 0.04 -3.32 -3.27 -3.50 -2.51 -3.11 0.12 0.12 0.11 0.20 0.14

Aghatis robusta Aleurites moluccana Ardisia lanceolata Ardisia quinquegona Bouea

e 1.41

R 2.03

oppositifolia Caryota mitis Citrus maxima Coffea arabica Eugenia cuminii Flacourtia inermis Guazuma ulmifolia Hibiscus rosasinensis Hibiscus tiliaceus Katondong Kendrang Nauclea orientalis Pangium edule Swietenia macrophylla Tectona grandis
JUMLAH

76.55 36.72 831.23 336.56 161.47 482.65 4498.70 20.39 31.86 5807.08 1539.08 3019.92 5050.73 1646.85 30805.35

0.08 0.04 0.83 0.34 0.16 0.48 4.50 0.02 0.03 5.81 1.54 3.02 5.05 1.65 30.81

0.25 0.12 2.70 1.09 0.52 1.57 14.60 0.07 0.10 18.85 5.00 9.80 16.40 5.35 100.00

1.00 2.00 6.00 1.00 3.00 3.00 32.00 1.00 1.00 1.00 1.00 9.00 8.00 3.00 87.00

0.00 0.00 0.01 0.00 0.00 0.00 0.03 0.00 0.00 0.00 0.00 0.01 0.01 0.00 0.09

1.15 2.30 6.90 1.15 3.45 3.45 36.78 1.15 1.15 1.15 1.15 10.34 9.20 3.45 100.00

9.00 8.00 7.00 9.00 7.00 8.00 5.00 9.00 9.00 9.00 9.00 6.00 7.00 8.00 153.00

0.90 0.80 0.70 0.90 0.70 0.80 0.50 0.90 0.90 0.90 0.90 0.60 0.70 0.80 15.30

5.88 5.23 4.58 5.88 4.58 5.23 3.27 5.88 5.88 5.88 5.88 3.92 4.58 5.23 100.00

7.28 7.65 14.17 8.12 8.55 10.24 54.65 7.10 7.14 25.88 12.03 24.07 30.17 14.02 300.00

0.02 0.03 0.05 0.03 0.03 0.03 0.18 0.02 0.02 0.09 0.04 0.08 0.10 0.05 1.00

-3.72 -3.67 -3.05 -3.61 -3.56 -3.38 -1.70 -3.74 -3.74 -2.45 -3.22 -2.52 -2.30 -3.06 59.44

0.09 0.09 0.14 0.10 0.10 0.12 0.31 0.09 0.09 0.21 0.13 0.20 0.23 0.14 2.74

5. Transek 5
Dom Dom Mut Dom Rel Dens Den Mu t 0.01 0.01 0.02 0.00 0.03 0.01 0.00 0.02 Den Rel Frek Fre k Mut 0.50 0.30 0.50 0.10 0.70 0.20 0.10 0.90 Frek Rel INP H e R

Aleurites moluccana Citrus sp Hibiscus sp Mangifera indica Pterocarpus indicus Spatode campanulata Syzygium aqueum Tectona Grandis Total

4983.90 495.63 1017.87 19.28 13087.8 5 5480.96 920.21 12737.1 1 38742.8 1

4.98 0.50 1.02 0.02 13.0 9 5.48 0.92 12.7 4 38.7 4

12.86 1.28 2.63 0.05 33.78 14.15 2.38 32.88 100.0 0

7.00 6.00 22.0 0 1.00 25.0 0 7.00 1.00 15.0 0 84.0 0

8.33 7.14 26.19 1.19 29.76 8.33 1.19 17.86 100.0 0

5.00 3.00 5.00 1.00 7.00 2.00 1.00 9.00 33.0 0

15.15 9.09 15.15 3.03 21.21 6.06 3.03 27.27 100.0 0

36.35 17.51 43.97 4.27 84.76 28.54 6.60 78.01 300.0 0

0.12 0.06 0.15 0.01 0.28 0.10 0.02 0.26

-2.11 -2.84 -1.92 -4.25 -1.26 -2.35 -3.82 -1.35 19.9 0

0.26 0.17 0.28 0.06 0.36 0.22 0.08 0.35

0.92

0.87

0.08

3.30

1.00

1.78

6. Transek 6
Dom Mut 4.28 0.38 0.45 0.10 7.98 Dom Rel 22.54 1.98 2.38 0.50 42.05 Den Mut 0.01 0.01 0.02 0.00 0.02 Den Rel 7.41 12.35 18.52 3.70 29.63 Frek Mut 0.30 0.40 0.50 0.10 0.60 Frek Rel 11.54 15.38 19.23 3.85 23.08

Dom

Dens 6.00 10.00 15.00 3.00 24.00

Frek 3.00 4.00 5.00 1.00 6.00

INP 41.49 29.71 40.13 8.05 94.76 0.14 0.10 0.13 0.03 0.32 -1.98 -2.31 -2.01 -3.62 -1.15

H 0.27 0.23 0.27 0.10 0.36

e 0.94

R 0.89

Aleurites moluccana 4278.84 Citrus sp 375.91 Hibiscus sp 452.46 Mangifera indica 95.75 Pterocarpus indicus 7981.75 Spatode campanula ta 247.42 Syzygium aqueum 47.00 Tectona Grandis 5502.71
Grand Total

0.25 0.05 5.50 18.98

1.30 0.25 28.99 100.00

5.00 3.00 15.00 81.00

0.01 0.00 0.02 0.08

6.17 3.70 18.52 100.00

1.00 1.00 5.00 26.00

0.10 0.10 0.50 2.60

3.85 3.85 19.23 100.00

11.32 7.80 66.74 300.00

0.04 0.03 0.22 1.00

-3.28 -3.65 -1.50 19.50

0.12 0.09 0.33 1.79

B. Pembahasan Praktikum kali ini adalah melakukan pengamatan di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dengan luas 43750 ha. Sementara yang diamati hanya sekitar 6 Ha.Pengamatan yang dilakukan ini bertujuan untuk mengmpulkan data menyangkut keanekaragaman meliputi kekayaan dan kemerataan, serta bagaimana kelas diameternya. Data yang diperoleh meliputi : 1. Tegakan 1 Hasil data yang diperoleh menunjukan nilai indeks nilai penting(INP) yang berbeda-beda pada setiap spesies. Nilai INP yang paling tinggi terdapat pada spesies Coffea Arabica 107.83. sementara yang paling rendah terdapat pada spesies Dracontomelan mangiferum. Berbagai perubahan dan perbedaan INP pada tingkat pohon ini disebabkan karena adanya kerusakan yang disebabkan karena penebangan pohon, sehingga merubah jumlah, dan kerapatan. Indeks Nilai Penting (INP) merupakan besaran yang menunjukan kedudukan (dominansi)suatu jenis terhadap jenis lain dalam suatu komunitas. Makin besar INP suatu jenis, maka peranannya dalam komunitas tersebut semakin penting. Akan tetapi makin tinggi nilai INP menyebabkan

keanekaragaman menjadi kecil. Hal ini disebabkan berkurangnya populasi jenis tertentu yang menyebabkan jenis tertentu mendominansi.
60 Jumlah Individu Spesies 50 40 30 20 10 0 a b c d e 8 5 3 1 f 1 g 5 1 h 55

Kelas Diameter

Tabel di atas menunjukan hubungan antara kelas diameter dengan jumlah individu spesies. Kelas diameter a menunjukan diameter 20 , kelas diameter b menunjukan diameter 20, kelas diameter c menunjukan diameter 30, kelas diameter d menunjukan diameter 40, kelas diameter e menunjukan diameter 50, kelas diameter f menunjukan diameter 60, dst. Dari data tersebut, jelas terlihat grafik yang menunjukan nilai kelas diameter terbanyak terdapat pada kelas diameter a yang menunjukan diameter 20, dengan jumlah spesies 55, sementara yang paling sedikit terdapat pada kelas diameter F, G, H, masing-masing menunjukan diameter 60, 70, 80, dengan jumlah spesies hanya 1. Sementara Data tersebut menunjukan bahwa rata-rata spesies yang terdapat pada transek 1 adalah anakan pohon dengan melihat diameternya yaitu 20. Hal ini dipengaruhi oleh pertumbuhan pohonnya. Menurut teori, Pertumbuhan pohon sangat ditentukan oleh tiga faktor yaitu genetik, lingkungan, dan teknik budidaya (silvikultur). Faktor-faktor tersebut dapat 8 dikelompokkan sebagai faktor eksternal (tanah, iklim, api, pencemaran dan faktor biotik), dan faktor internal (hormon, keseimbangan air, dan genetik). Diantara komponen iklim, yang berpengaruh terhadap pertumbuhan pohon adalah suhu, cahaya, angin dan hujan (Lambers dan Pons 1998). 2. Tegakan 2 Hasil data yang diperoleh menunjukan nilai indeks nilai penting(INP) yang berbeda-beda pada setiap spesies. Nilai INP yang paling tinggi terdapat pada spesies Guazuma ulmifolia 51.99. sementara yang paling rendah terdapat pada spesies Terminalia catappa 4.00. Berbagai perubahan dan perbedaan INP pada tingkat pohon ini disebabkan karena adanya kerusakan yang disebabkan karena penebangan pohon, sehingga merubah jumlah, dan kerapatan.

Indeks Nilai Penting (INP) merupakan besaran yang menunjukan kedudukan (dominansi)suatu jenis terhadap jenis lain dalam suatu komunitas. Makin besar INP suatu jenis, maka peranannya dalam komunitas tersebut semakin penting. Akan tetapi makin tinggi nilai INP menyebabkan

keanekaragaman menjadi kecil. Hal ini disebabkan berkurangnya populasi jenis tertentu yang menyebabkan jenis tertentu mendominansi.

90 80 Jumlah Individu Spesies 70 60 50 40 30 20 10 0 A

85

8 B C

1 D

1 E

1 F

0 G

0 H

Kelas Diameter

Tabel di atas menunjukan hubungan antara kelas diameter dengan jumlah individu spesies. Kelas diameter a menunjukan diameter 20 , kelas diameter b menunjukan diameter 20, kelas diameter c menunjukan diameter 30, kelas diameter d menunjukan diameter 40, kelas diameter e menunjukan diameter 50, kelas diameter f menunjukan diameter 60, dst. Dari data tersebut, jelas terlihat grafik yang menunjukan nilai kelas diameter terbanyak terdapat pada kelas diameter a yang menunjukan diameter 20, dengan jumlah spesies 55, sementara yang paling sedikit terdapat pada kelas diameter F, G, H, masing-masing menunjukan diameter 60, 70, 80, dengan jumlah spesies hanya 1. Sementara

Data tersebut menunjukan bahwa rata-rata spesies yang terdapat pada transek 1 adalah anakan pohon dengan melihat diameternya yaitu 20. Hal ini dipengaruhi oleh pertumbuhan pohonnya. Menurut teori, Pertumbuhan pohon sangat ditentukan oleh tiga faktor yaitu genetik, lingkungan, dan teknik budidaya (silvikultur). Faktor-faktor tersebut dapat 8 dikelompokkan sebagai faktor eksternal (tanah, iklim, api, pencemaran dan faktor biotik), dan faktor internal (hormon, keseimbangan air, dan genetik). Diantara komponen iklim, yang berpengaruh terhadap pertumbuhan pohon adalah suhu, cahaya, angin dan hujan (Lambers dan Pons 1998).

3. Tegakan
80 70 Jumlah Individu Spesies 60 50 40 30 20 10 0 A B C D E 4 6 1 0 F 0 G 0 H 0 72

Kelas Diameter

4. Tegakan 4

70 60 Jumlah Individu Spesies 50 40 30 20 10 0 A B C D E 10 6 5 0 F 1 G 0 H 1 64

Kelas Diameter

5. Tegakan 5
70 JUMLAH INDIVIDU SPECIES 60 50 40 30 20 10 0 -10 0 2 4 6 KELAS DIAMETER 8 10

6. Tegakan 6

70 60 Jumlah Individu Spesies 50 40 30 20 10 5 0 A B C 1 D 0 E 0 F 0 G 0 H 17 58

Kelas Diameter