Anda di halaman 1dari 11

Obat generik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa

Artikel ini perlu diwikifikasi agar memenuhi standar kualitas Wikipedia. Anda dapat memberikan bantuan berupa penambahan pranala dalam, atau dengan merapikan tata letakdari artikel ini.
Untuk keterangan lebih lanjut, klik [tampilkan] di bagian kanan.[tampilkan]

Obat generik adalah obat yang telah habis masa patennya, sehingga dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa perlu membayar royalti. Ada dua jenis obat generik, yaitu obat generik bermerek dagang dan obat generik berlogo yang dipasarkan dengan merek kandungan zat aktifnya. Dalam obat generik bermerek, kandungan zat aktif itu diberi nama (merek). Zat aktif amoxicillin misalnya, oleh pabrik A diberi merek inemicillin, sedangkan pabrik B memberi nama gatoticilin dan seterusnya, sesuai keinginan pabrik obat. Dari berbagai merek tersebut, bahannya sama: amoxicillin.
Daftar isi
[sembunyikan]

1 Zat aktif 2 Mutu 3 Obat Generik Berlogo 4 Referensi

[sunting]Zat

aktif

Dari sisi zat aktifnya (komponen utama obat) , antara obat generik (baik berlogo maupun bermerek dagang), persis sama dengan obat paten. Namun Obat generik lebih murah dibanding obat yang dipatenkan.

[sunting]Mutu
Mutu obat generik tidak berbeda dengan obat paten karena bahan bakunya sama. Ibarat sebuah baju, fungsi dasarnya untuk melindungi tubuh dari sengatan matahari dan udara dingin. Hanya saja, modelnya beraneka ragam. Begitu pula dengan obat. Generik kemasannya dibuat biasa, karena yang terpenting bisa melindungi produk yang ada di dalamnya. Namun, yang bermerek dagang kemasannya dibuat lebih menarik dengan berbagai warna. Kemasan itulah yang membuat obat bermerek lebih mahal.

[sunting]Obat

Generik Berlogo

Obat Generik Berlogo (OGB) merupakan program Pemerintah Indonesia yang diluncurkan pada 1989 dengan tujuan memberikan alternatif obat bagi masyarakat, yang dengan kualitas terjamin, harga terjangkau, serta ketersediaan obat yang cukup. Tujuan OGB diluncurkan untuk memberikan alternatif obat yang terjangkau dan berkualitas kepada masyarakat. Soal mutu, sudah tentu sesuai standar yang telah ditetapkan karena diawasi secara ketat oleh Pemerintah. Hanya bedanya dengan obat bermerek lain adalah OGB ini tidak ada biaya promosi, sehingga harganya sangat terjangkau dan mudah didapatkan masyarakat. Awalnya, OGB diproduksi hanya oleh beberapa industri farmasi BUMN. Ketika OGB pertama kali diluncurkan, Departemen Kesehatan RI gencar melakukan sosialisasi OGB sampai ke desa-desa. Saat ini program sosialisasi ini masih berjalan walaupun tidak segencar seperti pada awal kelahiran OGB. Pada awalnya, produk OGB ini diproduksi untuk memenuhi kebutuhan obat institusi kesehatan pemerintah dan kemudian berkembang ke sektor swasta karena adanya permintaan dari masyarakat. OGB mudah dikenali dari logo lingkaran hijau bergaris-garis putih dengan tulisan "Generik" di bagian tengah lingkaran. Logo tersebut menunjukan bahwa OGB telah lulus uji kualitas, khasiat dan keamanan sedangkan garis-garis putih menunjukkan OGB dapat digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat.

Kalbe siap penuhi kebutuhan obat generik


Jumat, 24 Februari 2012 00:03 WIB | 1888 Views

Ilustrasi obat generik (ANTARA/M Agung Rajasa)

Berita Terkait

38 jenis obat generik dijual melebihi HET Ekspor ke AS dapat ditingkatkan melalui GSP Total gelar uji seismik dan peremajaan pipa AEKI: ekspor kopi Indonesia terus turun HNSI: nelayan tetap terkena dampak kenaikan BBM

Video Terkait

Obat Generik Hepatitis B Cikarang (ANTARA News) - PT Kalbe Farma Tbk menyatakan kesiapannya untuk memenuhi kebutuhan obat generik atau obat bukan lisensi dengan membangun pabrik yang beroperasi di Cikarang, Jawa Barat, mulai Februari 2012. "Potensi pasar obat generik masih sangat luas di Indonesia menjadi strategi bagi Kalbe untuk membangun pabrik yang rencananya akan diresmikan Menteri Kesehatan," kata Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Vidjongtius di Cikarang, Kamis. Vidjongtius mengatakan, biaya pembangunan pabrik obat generik dengan harga terjangkau itu mencapai Rp200 miliar melalui kerja sama dengan mitra, serta telah dikerjakan sejak dua tahun lalu. "Kebutuhan obat generik masih sangat luas, Kalbe sendiri dalam empat tahun terakhir terus meningkatkan produksi dari semula 10 persen menjadi 11 dan 12 persen, dan tahun 2012 diharapkan 13 persen," ujar dia. Vidjongtius mengaku, marjin (keuntungan) untuk memproduksi obat generik memang lebih kecil dibanding obat paten, untuk itu volume harus diperbesar untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dia mengatakan, melalui distribusi dan aksebilitas yang kuat dengan didukung 65 kantor cabang yang tersebar di Indonesia dari Aceh sampai Papua produksi obat generik Kalbe akan memberikan kontribusi yang positif bagi perusahaan. Kebijakan pemerintah yang akan memberlakukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sehingga seluruh masyarakat di Indonesia mendapat perlindungan asuransi kesehatan membuat harga obat semakin murah, ujar Vidjongtius. Vidjongtius mengatakan, obat generik merupakan obat yang murah tetapi dari segi kualitas setara dengan obat lisensi, kehadirannya untuk membuat harga obat semakin terjangkau masyarakat. Sementara itu, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia, Darodjatun Sanusi mengatakan, pemerintah harus memberikan kelonggaran kepada perusahaan farmasi yang akan membangun pabrik obat generik. Dia mengatakan, selama ini untuk memenuhi persyaratan membangun industri farmasi masih sangat mahal, terutama untuk proses registrasinya sendiri membutuhkan waktu 3 tahun sebelum mendapatkan kepastian. Darodjatun mengatakan, obat generik sendiri merupakan obat yang masa patennya sudah berakhir sehingga lebih murah, harga obat paten lebih mahal karena harus melalui proses riset dan pengembangan terlebih dahulu. Dia menjelaskan, keberhasilan pemerintah melaksanakan program obat generik sejak diterbitkannya peraturan yang mewajibkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan pemerinmenggunakan obat generik. Sedangkan, Ketua Umum Ikatan apoteker Indonesia, M Dani Pratomo mengatakan, PP No.51 tahun 2009 secara jelas menginstruksikan apotek untuk menjual obat-obatan generik.

"Keberadaan apotek kedepan sebagai tempat pelayanan kesehatan, pendapatan diambil dari fee atas obat yang terjual, sehingga tidak terpengaruh dengan generik atau bukan generik," ujar dia. Pasien, kata Dani, berhak untuk meminta obat generik kepada apotek serta hal ini dilindungi pemerintah melalui kebijakan yang dikeluarkan. (G001/Z002) Editor: B Kunto Wibisono

Pemerintah Diharapkan Dukung Pembangunan Pabrik Obat Generik


Jumat, 24 Pebruari 2012 00:27 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, -- Pemerintah akan memberlakukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang akan membuat masyarakat di Indonesia mendapat perlindungan asuransi kesehatan. Harga obat pun akan semakin murah. Hal ini kemudian merangsang sejumlah perusahaan farmasi meningkatkan produksinya dalam membuat obat generik. Pemerintah pun diharapkan dapat memberi kelonggaran pada perusahaan farmasi yang akan membangun pabrik obat generik. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia, Darodjatun Sanusi mengatakan, selama ini untuk memenuhi persyaratan membangun industri farmasi masih sangat mahal, terutama untuk proses registrasinya sendiri membutuhkan waktu 3 tahun sebelum mendapatkan kepastian. Darodjatun mengatakan, obat generik sendiri merupakan obat yang masa patennya sudah berakhir sehingga lebih murah. Harga obat paten lebih mahal karena harus melalui proses riset dan pengembangan terlebih dahulu, jelasnya. Sementara Ketua Umum Ikatan apoteker Indonesia, M Dani Pratomo mengatakan, PP No.51 tahun 2009 secara jelas menginstruksikan apotek untuk menjual obat-obatan generik. "Keberadaan apotek kedepan sebagai tempat pelayanan kesehatan, pendapatan diambil dari fee atas obat yang terjual, sehingga tidak terpengaruh dengan generik atau bukan generik," ujar dia. Pasien, kata Dani, berhak untuk meminta obat generik kepada apotek serta hal ini dilindungi pemerintah melalui kebijakan yang dikeluarkan. Redaktur: Hazliansyah Sumber: Antara STMIK AMIKOM

Daftar Obat Generik


NAMA GOLONGAN/ KELAS NO TERAPI
Analgesik, Antipiretik, Antiinflamasi nonsteroid, Antipirai 1 2 3 4 5 6 7

OBAT GENERIK
Acetosal Allopurinol As. Mefenamat Fentanil Ibuprofen Ketoprofen Ketorolak

8 9 10 11 12 13 14 15 Anastetik Antialergi dan Obat untuk Anafilaksis 16 17 18 19 20 21 Antidot dan Obat lain untuk Keracunan 22 23 24 25 26 Antiepilepsi Antikonvulsi 27 28 29 30 31 Anti Infeksi 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Kolkisin Meloksikam Morfin Na Diklofenak Parasetamol Pethidin Piroksikam Tramadol

Cetrizin Deksametason Dipenhidramin Epinefrin Klorpheniramin Loratadin Kalsium Glukonat Mg Sulfat Na Bikarbonat Nalokson Protamin Sulfat As. Valproat Diazepam Fenitoin Karbamazepin Phenobarbital Asiklovir Amikasin Amoksisilin Ampisilin Benzipenisilin Ciprofloksasin Dapson Dikloksasilin Doksisiklin Efavirens Eritromisin Ethambutol Fenoksimetilpenisilin Flukonazol Gentamisin Griseofulvin INH Ketokonazol Klindamisin Kloramfenikol (Thiampenikol) Klorokuin

53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 Antimigrain Antineoplastik, Imunosupresan dan obat untuk terapi paliatik 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 Antiparkinson Obat yang mempengaruhi darah 92 93 94 95 96 97 98 Produk Darah

Kotrimoksazol Kuinin Lamivudin Levofloksasin Metronidazol Nevirapine Nistatin Pirantel Pirazinamid Primakuin Rifampisin Sefadroksil Sefiksim Sefotaksim Seftazidim Seftriakson Stavudin Streptomisin Sulfasalazin Tetrasiklin Ergotamin Asparaginase Azatrioprin Bleomisin Cisplatin Dakarbasin Doksorubisin Etoposid Fluoro urasil Hidroksil urea Medroksiprogesteronasetat Metotreksat Siklofosfamid Siklosforin Sitarabin Tamoksifen Testosteron Vinblastin Vinkristin Levodopa + Karbidopa Triheksifenidil Fe Sulfat Fitomenadion Heparin Warfarin Traneksamat

Diagnostik Disinfektan & Antiseptik Gigi & Mulut Diuretik 99 100 101 102 103 Hormon, Obat endokrin lain dan Kontraseptik Kardiovaskuler Kulit, Obat Topikal Larutan Dialisis Peritoneal Larutan Elektrolit Obat Mata Oksitoksik dan Relaksan Uterus Psikofarmaka 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 Povidon iodin Furosemida HCT Manitol Spironolakton Acarbose Etinil Estradiol Glibenklamid Gliklazid Glikuidon Glimepirid Glipizid Hidrokortison Insulin Levonorgestrel Metformin Metil Prednisolon Pioglitazon Prednison Repaglinid Rosiglitazon Amlodipin Atropin Carvedilol Digoksin Dobutamin Dopamin ISDN KCL Klonidin Lisinopril Metildopa Nifedipin Nitrogliserin Propanolol Ramipril Simvastatin Streptokinase Terazosin Valsartan Verapamil Asam Retinoat Basitrasin Polimiksin B Betametason Mikonazol

144

Na Fusidat

145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 Relaksan Otot Perifer dan Penghambat Kolinesterase 160 161 162 163 164 Saluran Cerna 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 Saluran Napas 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187

Asetazolamid Pilokarpin Sulfacetamid Timolol Isoksuprin Metil Ergometrin Oksitosin Alprazolam Amitriptilin CPZ Flufenasin Fluoksetin Haloperidol Quetiapin Risperidon Pankuronium Neostigmin Piridostigmin Suksametonium Vekuronium Antasida Bisakodil Cimetidin Dimenhidrinat Domperidon Lansoprazol Loperamid Metoklopramid Neomisin Omeprazol Ranitidin Sukralfat Ambroksol Aminophilin Asetil Sistein Bromheksin Budesonid DMP GG Ipatropium Ketotifen Salbutamol Terbutalin

Obat yang mempengaruhi sistim imun

188 189 190 191 192 193 194 195 196 197

Hepatitis B rekombinan Serum Antibisa ular Serum Antidifteri Serum Antirabies Serum Antitetanus Serum Imunoglobulin Vaksin BCG Vaksin Campak Vaksin DTP Vaksin jerap difteri tetanus

198 Vaksin meningokokus polisakarida A +C 199 200 Telinga, Hidung dan Tenggorokan Vitamin dan Mineral 201 202 203 Vaksin polio Vaksin Rabies Oksimetazolin Vitamin B6 Vitamin C

ndia Tuding AS Sengaja Hambat Perdagangan Obat Generik


Minggu, 04 Maret 2012 10:10 WIB
Komentar: 0 0 0

NEW DELHI--MICOM: India menentang keras perjanjian perdagangan anti-pemalsuan oleh sekelompok kecil negara termasuk Amerika Serikat, Swiss, Kanada dan Jepang baru-baru ini, yang rasanya akan digunakan untuk menghentikan ekspor obat generik di negara itu. New Delhi mengatakan, perjanjian tersebut adalah atas perintah perusahaan multinasional yang takut akan persaingan dari obat yang lebih murah diproduksi di India. China, Brazil, Bangladesh, Thailand dan Equador juga mendukung kekhawatiran India bahwa perjanjian perdagangan anti-pemalsuan, atau ACTA, melampaui Trips - perjanjian multilateral tentang kekayaan intelektual. ACTA ditandatangani oleh sepuluh negara WTO termasuk Australia, Kanada, Korea, Meksiko, Selandia Baru, Jepang, Maroko, Singapura, Amerika Serikat dan Swiss pada Oktober tahun lalu untuk memeriksa perdagangan global barang palsu dan bajakan serta bajakan karya cipta yang dilindungi melalui penegakan ketat undang-undang. Uni Eropa, dan 22 negara anggotanya, menandatangani perjanjian plurilateral pada Januari tahun ini, tetapi negara-negara kunci termasuk Jerman, Polandia dan Belanda telah menolak untuk bergabung dengan perjanjian dengan alasan bahwa itu melanggar kebebasan berbicara dan privasi. Uni Eropa bisa meratifikasi perjanjian hanya jika semua negara penyusunnya berada di kesepakatan itu. Perjanjian, yang bermaksud untuk meningkatkan penegakan hak kekayaan intelektual di negara-negara

yang berpartisipasi dengan menetapkan standar internasional atas bagaimana pelanggaran hak cipta ditangani, juga telah dikritik karena memberikan untuk penegakan kriminal dan penangkapanpenangkapan. India mengatakan ACTA dapat merusak Perjanjian Trips, yang memiliki perlindungan untuk memastikan bahwa perdagangan yang sah pada obat generik antara dua negara tidak dapat dihambat, bahkan jika melewati negara ketiga yang memiliki rezim ketat properti domestik intelektual. Mengutip kasus penangkapan oleh pabean di pelabuhan Eropa atas obat-obat generik yang diekspor oleh India ke negara-negara berkembang lainnya, India mengatakan ACTA akan melegitimasi tindakan seperti itu.(Ant/X-12)

Potensi Obat Generik di Indonesia Sangat Luas


Jumat, 24 Pebruari 2012 00:16 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, CIKARANG -- Kebijakan pemerintah yang akan memberlakukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial akan membuat masyarakat di Indonesia mendapat perlindungan asuransi kesehatan. Harga obat pun akan semakin murah. Di sisi ini, obat generik akan memainkan peranan penting sebagai obat yang murah namun dari segia kualitas tetap setara dengan obat berlisensi. Kehadiran obat generic akan semakin membuat harga obat semakin terjangkau bagi masyarakat. Melihat peluang ini, PT Kalbe Farma Tbk sebagai salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia menyatakan kesiapannya memenuhi kebutuhan obat generik atau obat bukan lisensi dengan membangun pabrik yang beroperasi di Cikarang, Jawa Barat, mulai Februari 2012. "Potensi pasar obat generik masih sangat luas di Indonesia, menjadi strategi bagi Kalbe untuk membangun pabrik yang rencananya akan diresmikan Menteri Kesehatan," kata Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Vidjongtius di Cikarang, Kamis. Vidjongtius mengatakan, biaya pembangunan pabrik obat generik dengan harga terjangkau itu mencapai Rp200 miliar melalui kerja sama dengan mitra, serta telah dikerjakan sejak dua tahun lalu. "Kebutuhan obat generik masih sangat luas, Kalbe sendiri dalam empat tahun terakhir terus meningkatkan produksi dari semula 10 persen menjadi 11 dan 12 persen, dan tahun 2012 diharapkan 13 persen," ujar dia. Vidjongtius mengaku, marjin (keuntungan) untuk memproduksi obat generik memang lebih kecil dibanding obat paten, untuk itu volume harus diperbesar untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dia mengatakan, melalui distribusi dan aksebilitas yang kuat dengan didukung 65 kantor cabang yang tersebar di Indonesia dari Aceh sampai Papua produksi obat generik Kalbe akan memberikan kontribusi yang positif bagi perusahaan. Redaktur: Hazliansyah Sumber: Antara

Harga Obat Generik Bakal Disesuaikan

Kamis, 31 Maret 2011 18:18 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI - Pemerintah akan melakukan rasionalisasi atau penyesuaian terhadap harga obat generik pada 2011. Penyesuaian tersebut dilaksanakan dengan penerbitan dua Surat Keputusan Menteri Kesehatan. Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Sri Indrawaty menjelaskan ada dua surat keputusan yang akan dikeuarkan. Pertama mengenai harga obat generik untuk pengadaan pemerintah seperti di puskesmas dan rumah sakit pemilik pemerintah. Kedua tentang pengadaan obat generik untuk ritel yang reguler dijual di apotik. "Obat generik pemerintah lebih murah dan perbedaan harganya dengan obat ritel sangat variatif karena obat ritel sangat beragam," tutur dia saat temu media di Kantor Indofarma, Kamis (31/3). Sri mengatakan secara umum obat generik ritel nanti hanya satu harga dan berlaku di seluruh Indonesia.Ketersediaan obat itu nantinya harus menjangkau seluruh daerah termasuk Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Dikatakan bahwa margin antara harga obat generik ritel dan obat generik memang agak besar. "Sekitar 40 persen karena untuk biaya distribusi obat ke seluruh wilayah Indonesia," tutur sri. Sementara Presiden Direktur PT Indofarma Tbk Subagyo mengatakan bahwa dengan kenaikan bahan baku obat bisa mempengaruhi harga obat. "Tentu saja akan mempengaruhi harga obat jika ongkos produksi meningkat," tutur dia. Jika kondisi lainnya sama (tidak kenaikan di pos lain), margin keuntungan akan berkurang atau habis. Untuk obat generik, harga memang sudah ditentukan oleh pemerintah. Namun Subagyo berharap agar kebijakan kenaikan bea masuk obat tidak lagi dilaksanakan. Karena hampir 90 persen dari bahan baku membuat obat adalah impor. Karena margin harga dari penjualan obat untuk pengembangan obat. PT Indofarma yang sudah 20 tahun berdiri sejak awal memask kebutuhan obat untuk seluruh Indonesia. Sekitar 80 persen dari penjualan obat Indofarma berasal dari obat generik. Redaktur: Djibril Muhammad Reporter: Prima Restri Ludfiani