Anda di halaman 1dari 15

KEBIJAKAN STABILISASI DALAM PEREKONOMIAN TERBUKA

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Makro

Di susun oleh : (1) (2) (3) Ayula Candra D.M.S Finta Elvira Niken Agustin

MAGISTER ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS DIPONEGORO 2011

Pada bab ini akan memperdalam analisis permintaan agregat dengan memasukkan perdagangan dan keuangan internasional. Model yang dikembangkan dalam bab ini adalah model Mundell-Fleming. Model ini dilukiskan sebagai model kebijakan dominan untuk mempelajari kebijakan moneter dan kebijakan fiskal pada perekonomian terbuka. Di dalam model Mundell-Fleming diasumsikan bahwa tingkat harga tetap, situasi ekonomi dalam jangka pendek, melukiskan perekonomian terbuka kecil dan mobilitas modal sempurna. Model ini menunjukkan bahwa perilaku perekonomian akan bergantung pada sistem kurs yang dipakai. Sistem kurs ada 2 yaitu: 1. Kurs mengambang (floating exchange rate) Banks sentral membiarkan kurs disesuaikan pada kondisi ekonomi yang sedang berubah. Pada kasus ini, kurs e menyesuaikan untuk mencapai keseimbangan simultan di pasar barang dan pasar uang. Ketika sesuatu terjadi pada keseimbangan tersebut, kurs memungkinkan untuk bergerak ke nilai keseimbangan baru. 2. Kurs tetap (fixed exchange rate) Bank sentral mengumumkan nilai kurs dan siap untuk membeli dan menjual mata uang domestik untuk mempertahankan kurs sesuai dengan tingkat yang diumumkan.

DERIVASI KURVA IS DALAM PEREKONOMIAN TERBUKA Persamaan kurva IS* Y = C (Y T) + I (r) + G + NX (e) Gambar (a) adalah kurva ekspor neto, menunjukkan hubungan antara kurs dan jumlah ekspor neto. Ketika kurs mengalami kenaikan dari e1 ke e2 maka jumlah ekspor neto akan berkurang dari NX (e1) ke NX (e2). Gambar (b) menunjukkan perpotongan keynesian : penurunan ekspor neto dari NX (e1) ke NX (e2) menggeser kurva pengeluaran yang direncanakan ke bawah dan menurunkan pendapatan dari Y1 ke Y2. Gambar (c) menunjukkan kurva IS* meringkas hubungan antara kurs dan pendapatan . semakin tinggi kurs makan akan semakin rendah pendapatan.

(b) Pengeluaran, E Pengeluaran aktual NX Pengeluaran yang direncanakan

0 Y2 Kurs, e (a) Kurs, e Y1

Pendapatan, Output, Y

e2

e2

(b)

e1 NX 0 NX(e2) NX(e1) Ekspor Neto, NX

e1

Y2

Y1

Pendapatan, Output, Y

DERIVASI KURVA LM DALAM PEREKONOMIAN TERBUKA Persamaan di pasar uang M / P = L(r,Y) Persamaan ini menyatakan bahwa penawaran keseimbangan uang riil, M/P, sama dengan permintaaan, L(r, Y). Permintaan terhadap keseimbangan uang riil bergantung secara negatif pada tingkat bunga, dan secara positif pada pendapatan Y. Jumlah uang beredar M adalah variabel eksogen yang dikendalikan oleh bank sentral, dan karena model mundell-fleming dirancang untuk menganalisis fluktuasi jangka pendek, maka tingkat harga P juga diasumsikan tetap secara eksogen. Gambar (a) menunjukkan kurva LM standar (yang menggambarkan persamaan M/P =L (r,Y)) dengan garis horisontal yang menunjukkan tingkat bunga dunia r*. Perpotongan dari kedua

kurva dibawah menentukan tingkat pendapatan, tanpa memperhitungkan kurs. Hal ini mengakibatkan kurva LM* menjadi vertikal (gambar b).
Tingkat Bunga, r LM

r = r*

(a)

0 LM* Kurs, e

Pendapatan, Output, Y

(b)

Pendapatan, Output, Y

Menurut Mundell-Fleming, perekonomian terbuka kecil dengan mobilitas modal sempurna dapat dijelaskan dengan : Y = C (Y-T) + I (r*) + G + NX (e) M / P = L (r, Y)
Tingkat Bunga, r LM

IS* LM*

IS* 0 Pendapatan, Output, Y

Gambar Mundell-Fleming di atas menunjukkan kondisi ekuilibrium pasar barang IS* dan kondisi ekuilibrium pasar uang LM*. Kedua kurva mempertahankan tingkat bunga konstan pada tingkat bunga dunia. Perpotongan kedua kurva ini menunjukkan tingkat pendapatan dan kurs yang memenuhi ekuilibrium baik di pasar uang maupun di pasar barang.

PEREKONOMIAN TERBUKA KECIL DENGAN KURS MENGAMBANG Kebijakan Fiskal

Kurs, e

LM*

IS*2 IS*1 0 Pendapatan, Output, Y

Peningktan pengeluaran pemerintah dan penurunan pajak (fiskal ekspasnsi) akan menggeser kurva IS*1 ke IS*2. Hal ini mengakibatkan kurs menjadi naik sedangkan pendapatan tetap. Dalam perekonomian tebuka kecil, kenaikan tingkat bunga akan menyebabkan capital inflow dan meningkatkan permintaan mata uang domestik sehingga terjadi apresiasi. Apresiasi ini mengkibatkan harga produk domestik menjadi mahal di luar negeri sedangkan harga produk impor murah sehingga ekspor neto menurun. Penurunan ekspor neto mengurangi dampak kebijakan fiskal ekspansif terhadap pendapatan.

Kebijakan Moneter Kenaikan jumlah uang berdar (moneter ekspansif) mengakibatkan kurva LM* bergeser ke kanan. Kenaikan JUB akan menekan tingkat bunga sehingga terjadi capital outflow. Terjadinya aliran modal ke luar membuat penawaran mata uang

domestik meningkat sehingga kurs mengalami depresiasi. Penurunan kurs mengakibatkan harga barang domestik menjadi lebih murah daripada harga barang impor. Hal ini membuat ekspor neto menjadi meningkat. Jadi, dala perekonomian terbuka kecil, kebijakan moneter mempengaruhi pendapatan dengan mengubah kurs, bukan tingkat bunga.
Kurs, e LM*1 LM*2

IS*

Pendapatan, Output, Y

Kebijakan Perdagangan

Kurs, e

LM*1

IS*2 IS*1 0 Pendapatan, Output, Y

Hambatan perdagangan seperti pengenaan tarif impor dan kuota impor akan mengakibtakan ekspor neto meningkat. Peningkatan ekspor neto akan menggeser kurva IS*1 ke IS*2 sehingga kurs akan meningkat dan pendapatan tidak berubah. Meskipun ekspor neto meningkat namun kenaikan kurs menyebabkan penurunanan ekspor neto dengan jumlah yang sama.

PEREKONOMIAN TERBUKA KECIL DENGAN KURS TETAP Kebijakan Fiskal

Kurs, e

LM*1

LM*2

IS*1 0 Y1 Y2

IS*2 Pendapatan, Output, Y

Kebijakan fiskal ekspansif akan menggeser kurva IS*1 ke IS*2 sehingga pendapatan meningkat dari Y1 ke Y2. pada sistem kurs tetap, bank sentral harus

menjaga/mempertahankan kurs tetap sehingga bank sentral menambah jumlah uang beredar dan kurva LM*1 bergeser ke LM*2. Kebalikan dari kurs mengambang, kebijakan fiskal dapat membuat pendapatan meningkat.

Kebijakan Moneter
LM*

Kurs, e

IS*

Pendapatan, Output, Y

Apabila bank sentral ingin meningkatkan jumlah uang beredar / moneter ekspansif (kurva LM* bergeser ke kanan) akan menurunkan kurs sehingga jumlah uang yang beredar akan berkurang dan kurva LM* bergeser ke kanan atau kembali ke tempat semula. Kebijakan Perdagangan
LM*1 LM*2

Kurs, e

IS*1 0 Y1 Y2

IS*2 Pendapatan, Output, Y

Kebijakan pemerintah untuk mengurangi impor atau memberlakukan kuota impor akan menggeser kurva ekspor neto ke kenan sehingga kurva IS akan ikut bergeser ke kanan dari IS*1 ke IS*2. Pergeseran IS* ini mengakibatkan kurs meningkat, dan untuk mempertahankan kurs tetap, maka bank sentral menambah jumlah uang beredar dan menggeser kurva LM* ke kanan. Hambatan perdagangan dalam kurs tetap akan mendorong ekspansi moneter, bukan apresiasi kurs sehingga pada akhirnya pendapatan akan meningkat, tabungan meningkat dan hal ini menunjukkan kenaikan ekspor neto.

PERBEDAAN TINGKAT BUNGA Salah satu asumsi awal dari model Mundell-Fleming adalah tingkat bunga perekonomian terbuka kecil yang sama dengan tingkat bunga dunia (r = r*), namun asumsi tersebut tidak selalu berjalan karena : Adanya risiko negara Risiko yang dimaksud dalam hal ini adalah risiko yang harus ditanggung oleh negara yang memberikan pinjaman pada negara yang terganggu pelunasan pinjamannya,

sehingga berkonsekuensi pada pembayaran tingkat bunga yang lebih tinggi bagi negara peminjam sebagai konsekuensi atas adanya risiko tersebut. Ekspektasi perubahan kurs Ekspektasi tehadap kurs domestik yang akan menguat membuat tingkat bunga domestik dibuat lebih tinggi dari tingkat bunga luar negeri Sehingga adanya perbedaan tingkat bunga tersebut dapat mempengaruhi model MundellFleming sebagai berikut : r = r*+ dimana tingkat bunga dalam perekonomian terbuka kecil ditentukan oleh tingkat bunga dunia ditambah dengan premi risiko.
Kurs, e LM*1 LM*2

IS*1

IS*2 0 Pendapatan, Output, Y

Adanya kemelut politik membuat premi risiko suatu negara naik sehingga tingkat bunga domestik (r) naik. Kenaikan tingkat bunga ini berdampak pada menurunnya investasi (sehingga IS turun dan bergeser ke kiri) dan menurunnya permintaan terhadap uang (sehingga LM bergeser ke kanan), sehingga kurs domestik terdepresiasi dan harga-harga dalam negeri menjadi reatif lebih murah. Ekspor netto meningkat dan meningkatkan pendapatan. Dalam kenyataannya kenaikan premi resiko yang terjadi tidak menaikan pendapatan (seperti yang telah dijelaskan dalam gambar di atas) dan pada akhirnya akan cenderung menggeser kurva LM ke kiri yang menyebabkan penurunan kurs dan penurunan pendapatan), hal dikarenakan :

Ketika terjadi depresiasi bank sentral akan mencegah depresiasi yang besar terhadap mata uang domestik sehingga bank sentral akan menurunkan jumlah uang beredar (JUB)

Depresiasi mata uang domestik bisa dengan tiba-tiba meningkatkan harga barangbarang impor yang menyebabkan kenaikan tingkat harga Penduduk negara itu mungkin akan menanggapi peristiwa itu dengan meningkatkan permintaan uang mereka

sehingga dalam jangka pendek, risiko negara akan mengalami depresiasi dan menurunkan pendapatan aggregat. Karena tingkat bunga yang lebih tinggi mengurangi investasi, implikasi pada jangka panjangnya adalah turunnya akumulasi modaldan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah.

KURS MENGAMBANG ATAU KURS TETAP Sistem kurs mengambang dan sistem kurs tetap, masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Pada sistem kurs mengambang memiliki kelebihan yaitu membolehkan kebijakan moneter digunakan untuk tujuan lain, seperti : menstabilkan kesempatan kerja dan menstabilkan tingkat harga. Kelebihan lain dari kurs mengambang adalah adanya peningkatan jumlah perdagangan dunia. Namun, kurs mengambang memiliki kelemahan yaitu adanya ketidakpastian kurs. Sedangkan pada sistem kurs tetap memiliki kelebihan yaitu menurunkan sebagian dari ketidakpastian dalam transaksi bisnis internasional. Namun, pada sistem kurs tetap bank sentral hanya mengarah pada satu tujuan tunggal yaitu mempertahankan kurs pada tingkat yang telah diumumkannya. Namun, faktanya tidak ada sistem kurs di dunia ini yang seutuhnya tetap atau seutuhnya mengambang. Apalagi di bawah kedua sistem tersebut, stabilitas kurs merupakan salah satu dari banyak tujuan yang dimiliki oleh bank sentral. Selain itu ketika pembuat kebijakan telah memutuskan rezim kurs apa yang akan digunakan, pembuat kebijakan dibatasi oleh kenyataan bahwa mustahil bagi suatu negara untuk menerapkan sekaligus aliran modal bebas, kurs tetap dan kebijakan moneter independen.

DARI JANGKA PENDEK KE JANGKA PANJANG : MODEL MUNDELLFLEMING DENGAN PERUBAHAN TINGKAT HARGA Pada perubahan-perubahan tingkat harga, kurs nominal dan kurs riil tidak lagi bergerak bersamaan. Kurs nominal adalah e, sedangkan kurs riil adalah atau Mundell-Fleming menjadi : Y = C (Y-T) + I (r*) + G + NX () = L (r*, Y)
Kurs, e LM*(P1) LM*(P2)

sehingga model

IS* LM*

1 2 IS*

0 Tingkat Harga, P

Y1

Y2

Pendapatan, Output, Y

P1 P2

Pendapatan, Output, Y 0 Y1 Y2

Penurunan tingkat harga menggeser kurva LM ke kanan, pada keseimbangan yang baru kurs riil mengalami penurunan (depresiasi) dan tingkat pendapatan ekuilibrium naik. Pada gambar (b) menunujukan hubungan antara P dan Y diringkas oleh kurva AD

Ekuilibrium Jangka Pendek dan Jangka Panjang dalam Perekonomian Terbuka Kecil
Kurs, e

K 1 2 C IS*

0 Tingkat Harga, P

Y1

Y2 LRAS K

Pendapatan, Output, Y

P1 P2 C

SRAS 1 SRAS 2

Pendapatan, Output, Y 0 Y1 Y2

Dalam kedua bagian gambar titik k menunjukan ekuilibrium jangka pendek dan jangka panjang dengan asumsi tingkat harga tetap, dimana permintaan terlalu rendah untuk mepertahankan perekonomian berproduksi pada kondisi full employment. Permintaan yang rendah menyebabkan harga turun dan keseimbangan uang riil meningkat, akibatnya kurva LM bergeser ke kanan. Kurs riil terdepresiasi sehingga ekspor netto naik, dan pada kahirnya keseimbangan jangka panjang berada pada titik C.

Contoh Kasus

PENGUATAN RUPIAH TERHADAP DOLAR AS


Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penguatan atau apresiasi. Pada awal krisis keuangan global yang dipicu oleh krisis keuangan global sempat mencapai Rp 12.000 per dolar AS dan terus menguat hingga mencapai Rp 8.500,00 per dolar AS pada pertengahan tahun 2011. Ada beberapa penyebab apresiasi rupiah terhadap dolar AS tersebut. Pertama, terus mengalirnya valuta asing ke Indonesia akibat sentimen positif tentang Indonesia. Kedua, sebab datang dari AS sendiri. Salah satunya adalah kebijakan defisit APBN yang dilakukan oleh Presiden Barrack Obama yang meneruskan kebijakan Presiden Bush. Yang menjadi persoalan adalah defisit tersebut ditutup dengan pencetakan uang baru yang menyebabkan tingkat inflasi di AS meningkat. Bertambahnya jumlah dolar AS - sementara banyak mata uang negara-negara lain jumlahnya konstan telah menyebabkan penurunan nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang termasuk rupiah.

Ketiga, sejak krisis finansial di AS tahun 2008 dan 2009 yang sampai sekarang belum pulih benar telah menyebabkan para pencari rente atau spekulan dalam valuta asing memindahkan investasinya dari dolar AS ke mata uang lain misalnya ke Euro. Akibatnya banyak dolar AS yang dijual ke pasaran sehingga nilai tukar dolar AS terhadap mata uang lain mengalami penurunan atau terdepresiasi atau nilai tukar mata uang lain terhadap dolar AS mengalami kenaikan atau terapresiasi. Keempat, adanya tambahan pasokan Special Drawing Right (SDR) dari IMF sebesar SDR 1,74 atau setara dengan 2,7 milyar dolar AS.

Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011*

Kurs rata rata/tahun 9.200 9142 9772 10356 9078 8731

10500 10000 9500 9000 8500 8000 7500 2006 2007 2008 2009 2010 2011*

Sumber : Kemendag, data diolah

Pada tahun 2006 hingga tahun 2007 rata rata kurs rupiah terhadap dolar AS menguat. Kemudian, pada tahun 2008 terjadi krisis global mengakibatkan rupiah kembali melemah ke level Rp 9.772,- per dolar AS dan mencapai Rp 10.365,- per dolar AS pada tahun 2009. Namun pada tahun 2010, nilai tukar rupiah terhadap dolar mulai menguat pada level Rp 9.078,- per dolar AS. Pada bulan november 2011, rata rata kurs rupiah terhadap dolar AS semakin menguat di level Rp 8.731,- per dolar AS. Apresiasi rupiah terhadap dolar ini memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif dari menguatnya rupiah terhadap dolar AS adalah berkurangnya pembayaran cicilan dan bunga utang luar negeri milik pemerintah maupun swasta serta apresiasi ini akan sangat menguntungkan importir karena harga barang menjadi lebih murah. Namun, apresiasi yang terjadi ini perlu diwaspadai karena apabila dibiarkan dalam jangka panjang justru akan menurunkan ekspor dalam negeri. Apresiasi ini membuat harga produk Indonesia menjadi lebih mahal di luar negeri sehingga akan menurunkan daya saing dan mengurangi ekspor. Selain itu, harga barang impor yang menjadi murah membuat permintaan barang impor meningkat dan permintaan produk dalam negeri semakin berkurang. Penurunan permintaan terhadap barang lokal akan menekan produsen sehingga mengurangi outputnya dan pada akhirnya akan memaksa ia untuk mengurangi faktor produksinya. Maka muncullah masalah pengangguran dan kemiskinan.

URAIAN EKSPOR I M P O R **)

2006 100.798,60 61.065,50

2007 114.100,90 74.473,40

2008 2009 137.020,40 116.510,00 129.197,30 96.829,20

2010 2011 157.779,10 169.029,90 135.663,30 145.684,40

Dalam juta US$


350,000.00 300,000.00 250,000.00 200,000.00 I M P O R **) 150,000.00 100,000.00 50,000.00 0.00 2006 2007 2008 2009 2010 2011 EKSPOR

Sumber : BPS, data diolah

Tabel di atas merupakan data ekspor dan impor Indonesia pada tahun 2006 hingga 2011. Terlihat bahwa pada tahun 2009, ketika nilai tukar rupiah melemah hingga Rp 10.356,per dolar AS, ekspor dan impor ikut mengalami penurunan akibat dampak krisis. Kemudian pada tahun 2010 hingga 2011 rupiah kembali menguat hingga Rp 8.731,- per dolar AS dan ekspor pun mengalami peningkatan. Pada tahun 2011, terjadi peningkatan ekspor. Namun peningkatan tersebut tidak cukup signifikan dari tahun sebelumnya. Apabila kita lihat pada tabel ekspor impor di atas, pada tahun 2011 terdapat jarak yang cukup jauh antara jumlah impor dan jumlah ekspor yang terjadi pada saat rupiah mengalami apresiasi. Jumlah impor pada tahun 2011 jauh lebih besar dari ekspor dan lebih tinggi dari impor di tahun sebelumnya. Oleh karena itu, Bank Indoensia sebagai pemegang otoritas moneter sebaiknya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar dan mencari nilai tukar Rp/dolar AS yang wajar tetapi juga bagaimana mendorong sektor riil yang langsung bersinggungan dengan masyarakat banyak.