Anda di halaman 1dari 187

Teruntuk Para Janda dan Wadam Juga yang tidak mengaku wadam Yang seolah-olah bukan Wadam

PYTM

Begundal Militia

Penerbit Liberation Jihad

BUKU SESAT Oleh: pengkhianatyangtelahmusnah No Copyright 2010 by PYTM

Penerbit Liberation Jihad Suporter Persib juga Al Qaeda www.facebook.com/pengkhianat pengkhianatyangtelahmusnah@yahoo.com

Desain Sampul: ImaGi Creative Desain Labs Lebih baik tidak dibaca oleh wanita hamil, anak-anak dibawah umur, orang tua yang matanya sudah rabun, penderita stroke, dan orang gila.

Diterbitkan melalui: www.nulisbuku.com

(Be.gun.dalBegundal Militia (Be.gun.dal-Mi.lit.ia) v.i & v.t, adj. Berandal yang anti feodal tapi pro vandal; Hobinya musik metal tapi sangat takut ajal; Biar badan sintal & berbadan gempal tapi suka beramal; Meski mental kayak ikan buntal tapi jiwa tetep sosial; Ngomong suka asal layaknya anak bengal tapi mental tidak amoral; Pengennya tiap hari minum minuman herbal di atas kapal yang beratnya berkwintal-kwintal bernama kapal Kadal Sundal dari Ranca Kendal; Suka berjalan diatas kanal dengan rambut digimbal pake sandal sambil garuk-garuk yang gatal; Mencari sebuah skandal tentang cewek bebal & binal bertangan kidal yang hobi pamer bujal dan bermental abal-abal; Penemu krtistal kebal anti koral yang tergeletak diatas bantal bergumpal bermerek horizontal yang bertulisan; Agar Awal Menjadi Bakal Yang Kental Maka Akal Harus Berpikir Frontal & Jiwa Bergerak Revolusional!!!

Dari Taliban hingga Ketiak Agnes Monica


Hanya sedikit yang memahami, mau mengetahui secara berimbang terjadinya sebuah kejadian. Media massa menjadi realita, dijadikan sebagai kacamata dalam memandang dunia, bahkan memandang peperangan yang saat ini hadir di depan mata. Saya pun duluseperti itu. saya pernah bermimpi menjadi Indiana Jones, mencintai ilmu arkeologi, tak heran ketika patung Budha Bamiyan di hancurkan saya tak habis pikir apa yang dilakukan Taliban. Itu gila! menghancurkan patung besar disamping tidak menghargai agama lain, adalah juga mengumandangkan perang pada pemeluk Budha diseluruh dunia. Masa sih Rasulullah melakukan hal itu? Pandangan kamu pasti sama dengan pandangan saya saat itu, tapi sudah jelaskah motif yang dilakukan Taliban ketika itu. Dalam sebuah terbitan yang saya baca kurang lebihtiga tahun lalu, jawaban mengenai di hancurkannya patung Budha Bamiyan, terjawab. Mullah Ummar, petinggi Taliban menjawabnya langsung, bahwa ketika kelaparan menjadi derita penduduk kami, ketika kami kesulitan mengakses minuman bersih, ketika hajat hidup orang banyak menjadi kepentingan yang krusial, tiba-tiba sekelompok arkeolog datang. Sebuah badan recovery world heritage
7

datang membawa milyaran dollar untuk memperbaiki patung Budha Bamiyan. Di Afghanistan, pemeluk Budha hampir bisa dikatakan punah. Disekeliling patung Budha yang mungkin terbesar didunia itu, adalah masyarakat suku yang memeluk Islam seperti umumnya orang Afghanistan. Disekeliling patung Budha itu adalah masyarakat yang tengah kelaparan dan tanggungan Mullah Umar selaku amirul mukminin di lingkup Afghanistan. Hanya pemimpin yang memiliki hati nurani saja yang tidak marah ketika mahluk hidup, manusia dipandang sebelah mata ketimbang rekonstruksi yang memakan biaya yang menakjubkan. Maka, saking kesalnya, patung Budha itupun Mullah Umar hancurkan. Ledakannya hingga saat ini masih terdengar, mencederai hati arkeolog, hati orang-orang yang menjadikan kemanusiaan sebagai agama. Pandangan saya tentang Taliban kini berubah. Taliban mungkin keras, tapi mereka keras karena kondisi memerlukan mereka untuk menjadi keras. Saya memahami sedikit demi sedikit apa yang mereka lakukan. Meski tidak sepenuhnya, tapi saya selalu berhati-hati ketika media macam Reuters, BBC, VOA memberitakan Taliban hanya dari sisinya. Setidaknya saya jadi hati-hati kan? Dan itu bagus untuk kesehatan mental saya. Membaca tulisan-tulisan penghianatyangtelahmusnah pun demikian. Bukan sih, bukan karena dia seperti mullah Umar, he he he, jauh itu mah. Maksud saya ketika seseorang mengirim sms berisi: minumlah kopi hitam kental di pagi hari, makanlah gorengan, pecel lele, merokok setiap hari, akan menjadikan kita bugar! Maka, ketika sms itu di sampaikan ketika kerabat, teman kerja, saudara kita banyak yang terkena radang tenggorokan, flu berat tentu sms itu bermakna sebaliknya. Ada yang mengatakan sms tersebut holy satire! Saya katakan holy shit satire! Dan seperti itulah nampaknya kita harus berhati-hati terhadap tulisan-tulisan
8

Pengkhianatyangtelahmusnah (PYTM) yang Anda pegang ini. Hati hati terhadap bahasa, hati-hati dalam memaknai. Saya sudah mengenal penulis buku ini (PYTM) hampir satu dekade. Bagaimana dia menggunakan bahasa yang janggal dalam pergaulan. Di lingkungan aktivis Islam maaf maka kita akan mendengar antum-antum-an, uktiukhti, atau akhi-akhi-an tapi kami biasa menggunakan ente, maneh, sia untuk menyapa satu sama lainnya. Kalaupun ngomong akhi yang keluar dari mulut malah jadi akhi uching atau akhi otock (mengerti?). Nah, yang sialnya, seekor PYTM ini menularkan bahasa bahasa bencong dalam pergaulan. Yey dan eike jadi biasa digunakan. Dipertemuan biasa memang tidak, tapi kalau sudah di YM, Mirc, milis keluarlah itu bahasa wadam. Mengapa jadi mengafa. Ada apa jadi ada afa dan lain sebagainya. Dan banyak sudah yang menjadi korbannya (termasuk saya, mungkin). Belum lagi kata-kata untuk mengata-ngatai teman-teman kami sendiri. Saya yakin haqqul yaqin, ainul yaqin PYTM lebih memilih untuk mengatai-ngatai seorang politisi sebagai homo atau maho ketimbang mengutuk atau menganjing-anjing, mem-babibabi mereka, karna pada faktanya-- dikutuk atau tidak politisi senayan itu kupingnya sudah terlalu rebing congean (keluar lendir ijo), hatinya sudah dijual ke Dajjal, sadarpun kalau nggak nunggu pensiun, ya hampir bisa dipastikan kalau sudah kena stroke atau modiar. Jadi yah mengata-ngatai mereka homoseks quiet more liberated for our mentality than were using fuck, shit, to condemn them. Dan ini bukan berarti, penggunaan kata homo itu untuk orang yang PYTM sebali. Tidak mutlak seperti itu. Tidak perlulah ada PYTMlogi untuk mengetahui metode dia, mengetahui apa maksud dia mengatakan bujur atau pantat nonggeng atau nungging. Bebaskeun we lah! Bebasin aja deh, kalau kata si Adieu.

Salah? Apa mau dikata? Itu memang salah kok. Saya bukan mau melipat sesuatu yang sudah kita ketahui, hanya yang jelas 10 tahun sudah banyak orang yang berubah, dulu beberapa teman yang kesannya sok-sok-an putih suci harum dan mewangi saya lihat banyak yang berguguran, hilang. Kalau sudah kerja ya kerjaan itu menjadi poros hidupnya. Yang bicara tentang ukhuwah, yang bicara hebat bahwa kita harus membela kaum muslimin, katanya begitu, eh boroboro ngurusin saudaranya. Ada yang begini ada yang begitu nah si PYTM yang saya bicarakan ini setau sayadari dulu tidak berubah. Omongannya tetep kacau sama kaya saya tapi dia tetep solider terhadap sahabat-sahabatnya, temantemannya, dia masih mikirin saudara-saudaranya yang entah dimana, masih perhatian, dia masih terus menerus mengkaji meski tertatih. Idealismenya bahkan semakin bertambah. Akbar, salah seorang kawan kami pernah mengatakan, kurang lebih begini, biar omongan ngaco yang penting terus bergerak, tidak mau diam, dan merasa berdosa kalau diam. Kemudian ada temannya yang menegur, harusnya bukan ambil pilihan yang bagus buruk, tapi yang bagus-bagus. Maksudnya tentu nggak ngaco dan terus bergerak. Yah, apa mau dikata kalau bicara begitu memang benar. Begini saja, kami berusaha merubah diri kami dengan ke-ngacoan itu, tapi mari waktulah yang akan membuktikan siapa yang berubah dan siapa yang stand still tetap di posisi semula dengan perubahan yang sedikit tetapi dijalani dalam keseharian. Mari sama-sama mendoakan diri. Buku ini, --di dalamnyaAnda tidak akan menemukan sapaan yeiy atau eike. Saya memulai tulisan ini untuk menjelaskan, menggambarkan seperti apa PYTM itu. Bagaimana logika-logika yang aneh tapi nyambung dengan realitas jika kita renungkan, bagaimana perumpamaanperumpamaan yang tiba-tiba berbelok dari perumpamaan umum. Mungkin PYTM salah satu pasien rumah sakit jiwa, akan tetapi gilanya itu tergantung dalam penempatan. Ia gila
10

di dalam langit kegilaan Islam. Bukan menjadikan Islam dibawah ketiak orang gila. Karna ketiak artis manapun bisa dipastikan bau. Madona saja, kata penari latarnya, bau. Mungkin baunya seperti mentega busuk, ikan jambal busuk, kaki cantengan, tak tahulah. Yang jelas, pasti bau. Bagaimana dengan ketiak Agnes Monica? Nah, kalau pada dasarnya ketiak Agnes Monica memang terbuka, eh maksud saya, kalau pada dasarnya Anda memang bersikap terbuka, menjadikan humor sebagai sebuah hal yang meski memang ada aturannyayang sehat untuk manusia, maka buku ini adalah salah satu alternatifnya.

Divan Semesta

11

12

Mungkin Pengantar
Saya bisa mendengar lagi malam ini. Mendengar gemericik air hujan dari balik jendela kamar, diiringi sayup penyiar radio menutup acara, sambil duduk menulis akhir dari kerjaan yang saya kejar 2 minggu terakhir ini. Ya inilah Begundal Militia, buku yang nyaris akan sama dengan adiknya Be4Man Militia, yang sudah pula saya bukukan tetapi belum saya kasih pengantar. Saya ingin memberinya nama Begundal Militia karena saya memang ingin memberikan nama Begundal Militia. Tidak usahlah mengkait-kaitkan dengan sebuah blog yang bernama sama. Sebab dia dan ini berbeda. Dia adalah mbahnya. Biar bagaimana pun, inilah Begundal Militia. Mudahmudahan saya suka. Meskipun saya sadar bakal banyak yang tidak suka, namun saya harap saya tetap suka dengan semua kekurangan yang ada. Biarlah orang lain berpandangan apa yang penting mereka setidaknya sempat bertanya-tanya, buku apakah ini gerangan. Dan kamu pasti tahu, saya tidak akan menjawab apa yang kamu tanya. Karena saya tahu pertanyaan yang akan datang adalah mempertanyakan apa yang ada didalam buku ini.

13

Jangan terlalu dipusingkan dengan banyaknya kesalahan dan ketidaksesuaian buku ini dengan pandanganmu. Sebab buku ini memang semata-mata saya buat untuk saya sendiri. Sebagaimana pun kamu anggap salah, saya tetap akan membenarkannya. Sebab buku ini dibuat memang untuk salah. Namun perlu juga menjadikan catatan, bahwa pandanganmu belum tentu benar. Setidak benarnya pandangan saya. Tapi pandangan saya bisa jadi benar, setidakbenarnya pandangan kamu. Jadi biar bagaimana pun saya ini adalah saya, dan kamu adalah kamu. Yang punya orang tua yang tidak sama dengan saya, yang sudah pasti banyak pula ketidaksamaannya. Tapi inilah Begundal Militia. Ia adalah sebuah rekam kehidupan yang didasari oleh asam pahitnya kesyahduan dunia. Dan hanya orang-orang yang mau menikmati kesyahduan dunialah yang akan mencapai frekuensi dari kisah-kisah di dalam buku ini. Bogor, satu hari sebelum mudik natalan ke Bandung Di tahun 2010 PYTM

14

Diisi Oleh:
Bendera - 19 Kurban - 27 Lekka Lekka Ka..Ka.. Kapitalis - 37 Densus 69 - 45 Blind Ovum - 52 Osama Bin laden - 57 Bye Bye Avisenna - 63 Tak Selamanya Doger itu Monyet - 71 Begundal Militia - 79 Democrazy - 91 Korupsi - 99 and the real bomber is - 106 Di Semarang - 141 Di Bandeng Juwana - 121 Snowie & Brownie R.I.P - 130 Rokok Tidak Haram??? - 136 Banyak Jalan Menuju Tangkuban - 142 Menyambut Obama - 151 Golput, Kentut & Teh Tikput - 161 2012 - 168 Lagu Anak Sesat - 179
15

16

17

18

Bendera
Panji (raayah) Nabi saw berwarna hitam, sedangkan liwanya berwarna putih. (Al Hadist)

Tok. Tok Tok Itu pintu diketok. Menyebabkan saya teringat lagu Cucu Deui-nya Darso. Seperti begini lagunya; Tok, ketok, ketok sora panto diketok. Torojol Cucu deui. Dan seterusnya. Tapi kayaknya tidak perlu dibahas. Saya yakin tidak ada yang mengerti lagu ini. Sial! (Padahal ini lagu nge-legend sekali) Saya buka pintu itu. Berharap-harap cemas. Menduga siapa diluar sana. Densus 88 kah? Atau orang mau kasih uang satu trilyun. Sejenak saya ragu membukanya. Tapi kenapa mesti ragu pikir saya. Saya tidak punya salah. Apa karena belum mandi maka saya berdosa kepada orang yang diluar? Saya rasa tidak. Dibalik pintu tersebutlah seorang laki-laki. Perawakannya sedang. Pakai peci dan baju koko. Tak lupa celana pathalon. Seuprit senyum dan ucap salam. Saya balas saja wasallam. Maaf ganggu, Mas. Saya ini RT disini. RT 11. Saya Asmin laki-laki tadi memperkenalkan dirinya. Oh, Pak RT. Wah... silakan masuk Pak, kata saya, Maaf belum beres-beres
19

Makasih Kami berdua pun akhirnya masuk ke dalam. Duduk di karpet merah yang ada di depan TV. Duduknya lesehan saja. Mirip di Malioboro. Hanya tidak ada pengamennya. Tidak juga dengan makanan Jawa-nya. Yang ada hanya keripik pisang, kue kering dan minuman kemasan gelas beberapa buah. Sengaja saya taruh disana. Jaga-jaga bila ada tamu datang. Ya seperti sekarang ini. Pak RT, maaf saya belum lapor. Kemarin saya coba ketemu Bapak tapi Bapaknya selalu pas tidak ada di tempat saya awali saja pembicaraan. Soalnya memang sudah 3 bulan ini saya belum melaporkan diri ke RT setempat. Oh iya. Panggil Bang aja, Mas, timpal dia, Iya memang itu salah satu maksud kedatangan saya kesini Maaf ya Bang. Jadinya Abang yang harus kesini. Bukan saya yang kesana Ga apa-apa, jawab beliau bijak Maaf dengan siapa ya? Oh iya, saya Begundal Militia, Bang saya coba kasih dia tahu nama saya yang menarik itu. Lantas saya jelaskan sekilas riwayat hidup pada dia. Tapi tidak seperti CV-CV yang dulu sering saya buat. Sebab kalau seperti itu, nanti saya dikira melamar menjadi sekretaris RT. Kertas yang saya bagikan ke warga sudah sampai, Mas? tanya Bang Asmin. Kertas isian biodata anggota keluarga itu? Iya Sudah, Bang Harap maklum ya Mas. Lagi musim teroris begini. Kita jadinya musti lebih hati-hati. Apalagi kan saya ini RT Saya ada tampang teroris tidak, Bang? Eh, saya bukan bermaksud menuduh, Mas Iya saya tahu, Bang. Saya cuma tanya saja. Kira-kira, saya ini ada tampang teroris tidak? tanya saya menegaskan, Soalnya kemarin di kereta ada yang mengira saya Noordin
20

M Top. Ini liat saja. Jenggot panjang. Celana ngatung. Jidat kebetulan juga sedang hitam Hehehe... Kayaknya sih nggak. Tapi saya jadi sedikit curiga. Hehehe... Wah. Saya mirip Noordin M Top ya? saya tanya lagi. Gak, Mas. Beda kok. Mukanya tidak sama Nah, Abang sendiri curiga darimananya kalau begitu? Itu, Mas, dia menunjukan keluar Kok pasang bendera Al Qaida di depan? Kan kami kemaren minta yang dikibarin bendera Merah Putih Hehehe... Sengaja, Bang. Saya akhirnya teringat kalau kemarin malah mengibarkan Ar Rayah di tiang bendera. Bukan Merah Putih. Lho kok sengaja, Mas? Bosan Bang. Habisnya dari dulu benderanya warnanya itu-itu saja. Kenapa sekali-kali tidak diganti. Biar fleksibel. Lagu sama buah-buahan saja ganti-ganti musim. Masa bendera itu terus Ya beda dong, Mas. Ini sudah diatur. Lagian ini demi memperingati perjuangan pejuang kita dulu Nah itu dia Bang. Alasan sebenarnya saya pasang berbeda itu juga untuk memperingati perjuangan pejuang kita dulu. Sekaligus mengingatkan kembali rakyat negeri ini pada bendera mereka yang sebenarnya Hah? Sejak kapan Indonesia benderanya jadi item begitu? Abang belum tahu kan?!, saya merasa diatas angin, Dulu, bendera para pejuang kita itu sebenarnya seperti begitu. Saya tunjukan telunjuk saya keluar. Ke itu tiang bendera. Imam Bonjol, Diponegoro, Fatahillah, dll, semua pakai bendera yang hitam itu, saya teruskan pembicaraan Warna bendera Merah Putih itu ada baru-baru sekarang ini saja. Klaim kalau Merah Putih sudah ada sejak jaman Majapahit

21

dan kerajaan-kerajaan dulu sebenarnya kontradiktif. Abang tahu kontradiktif? Alat buat KB? Itu mah kontrasepsi, Bang! Hehehe... Begini Bang. Kalau memang Merah Putih sudah diadopsi banyak kerajaan, kenapa Majapahit dan Pajajaran malah berperang di Bubat. Kenapa juga Mataram perang dengan Kediri. Logikanya kan, kalau benderanya sama maka tidak boleh perang. Benar tidak? Mhmmm Ada tidak ceritanya The Jak perang dengan The Jak? Tidak ada kan! Yang ada juga The Jak perang sama Viking. Bonek perang dengan Arema. Ya beda dong, Mas Betul memang beda Bang. Tapi harusnya kan itu dipikirkan lagi. Setidaknya kan kalau warna bendera sama. Minimal rasa satu kesatuannya pun sama, kata saya Lagian Bang, andai kita bicara teori konspirasi-konspirasian, warna bendera Indonesia itu lebih dekat ke warna bendera Jepang dan pasukan khusus Belanda. Hanya variasi dibentuknya saja. Kalau seperti begitu, biasanya, menurut teori konspirasi-konspirasian, ada udang dibalik bakwan diantara mereka Ah si Mas ada-ada saja Bang Asmin menimpal. Bukan ada-ada saja, Bang. Memang adanya begini Iya tapi bendera yang Mas Begundal pasang itu kan bendera teroris Memangnya bendera teroris seperti itu ya, Bang? Bukan gambar tengkorak Gambar tengkorak tuh bajak laut kali! Oh iya, kata saya Terus darimana terorisnya itu bendera? Kan itu tulisan Arab. Kalau mau juga bendera pesantren. Atau bendera pengajian. Hehehe...

22

Di TV, pas pemakaman jenazah yang bom bunuh diri, ada tuh pelayat yang bawa bendera seperti yang Mas Begundal pasang Kalau begitu Muhammad Toha dan Muhammad Ramdhan juga teroris dong kata saya. Kok bisa? Mereka kan pahlawan kata Bang Asmin. Lha Muhammad Toha dan Ramdhan kan pelaku aksi bunuh diri juga. Mereka ingin mengusir penjajah. Kalau Toha ingin mengusir Belanda, nah yang Abang anggap teroris kan ingin mengusir Amerika, jawab saya Lagian Bom Marriot itu belum seberapa kalau dibanding sama bom syahidnya Toha cs. Mereka mah satu kota mereka bakar. Bandung jadi lautan api. Yang Marriot, ada Jakarta Lautan Api? Ya kan mereka membela tanah air Apa karena mereka membawa bendera merah putih lantas mereka tidak pantas disebut teroris? Padahal saya yakin kalau mereka dulunya disebut teroris juga sama Belanda dan Sekutu Dulu belum ada teroris, Mas Ya kan teroris itu mah istilah yang diada-ada Bang. Tergantung siapa yang bilang. Kita tidak bisa melihat dari satu sisi saja. Coba Abang pikir. Kalau memang yang membawa bendera seperti yang saya pasang itu teroris, maka Imam Bonjol, Diponegoro, Fatahillah, Para Sunan, semuanya adalah teroris. Soalnya mereka kan bawa bendera itu Mhmm... Memang bener mereka bawa bendera seperti itu? Benar Bang. Mereka kan berjuang mencontoh Nabi. Nah, Rasulullah ketika berjuang bawanya bendera seperti yang saya pasang itu. Abang berani tidak bilang Rasulullah itu teroris? Ya tidaklah. Masa Rasulullah teroris

23

Tapi Rasul kan benderanya begitu juga. Maka secara tidak langsung, saya dan Abang pun sebenarnya teroris. Anak buah teroris Ya nggak lah, balas dia, Tapi bener ya itu memang bendera Rasulullah Benar, Bang. Suer dech Iya tapi kan ini Indonesia bukan negara Islam Itu dia. Tadi kan saya sudah bilang. Saya hanya ingin mengembalikan bendera sebenarnya rakyat negeri ini. Bukan masalah negara Islam atau tidak Islam Oh Tapi jujur saja nih, Bang. Sebenarnya saya tidak punya bendera Merah Putih. Jadi saya pasang saja bendera itu ungkap saya sambil tersenyum manis banget. Kenapa nggak bilang dari tadi. Tau gitu saya pinjami punya RT Ah tidak usah repot-repot Bang. Kalau pun punya, tetap tidak akan saya pasang. Saya pasang yang itu saja. Kan ceritanya menghormati para pejuang dulu. Hehehe... Ada-ada aja si Mas ini Sambil tersenyum-senyum simpul, saya persilahkan Bang Asmin meminum air yang sudah saya siapkan dari tadi. Biar suasana menjadi cooling down pikir saya. Biar usus banjir. Biar airnya tidak diserobot jin yang lewat.

Jakarta, 24 Agustus 2009

24

25

26

Kurban
Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah (108:2)

Jujur saya tidak tahu dimakah tempat itu, tetapi sejauh mata memandang hanyalah domba-domba yang sedang berputar pada patok-patok kayu. Saya yakin mereka bukan sedang tawaf karena tawaf hanya berlaku di Mekkah. Saya percaya mereka tidak sedang pusing tujuh keliling memikirkan bisnis sebab yang berbisnis adalah yang punya domba, mereka objek yang dibisniskan, entah mereka tahu atau tidak. Saya juga yakin, mereka tidak sedang mencoba kudeta pada pemiliknya, karena dengan diikatnya leher, batal sudah tamasya ke padang rumput disana. Itu suatu khayalan saya yang sepertinya nyata padahal sesungguhnya tidak, tetapi harus saya katakan begitu demi sebuah sensasi di awal paragraf. Semoga tidak dikatakan alay. Ya, saya sedang di tengah-tengah kaum domba. Mereka bukan domba-domba yang tersesat. Mereka hanya diikat oleh kawan saya. Dia, kawan saya, bukan penggembala. Dia hanya ketitipan Bos penggembala. Untungnya nanti dibagi rata, kamu jaga disini sampai hari Tasyrik. Begitu kata Bos penggembala. Kawan saya, Agus, mau, makanya saya datang melihat dia disana. Juga melihat domba, tak lupa kotoran domba. Mirip sukro.

27

Banyak orang yang sedang mencari domba. Itu sebab Qurban tinggal 3 hari lagi. Namun saya heran kenapa mereka disana hanya modar-mandir tidak jelas. Membolak-balik kepala domba, mengintip gigi domba, lalu memegang punggungnya, seolah-olah mereka fotografer yang akan memotret model, sumpah, domba tidak bakal ada yang seganteng Anjasmara. Mau kau bolak-balik, tetap saja jarang mandi. Bau. Domba, Pak! Saya beri dia domba. Maksud saya, salah satu dari yang mencari domba. Bukan saya adalah beri, lantas dia adalah domba. Bukan pula saya Beri Prima atau Beri-nya Obama. Mengerti maksud saya? Ya itu yang saya maksud. Dia mengambil domba lalu melihat kepala saya, lalu dia melihat kepala domba lagi. Please dech Pak, tak usah lah kau menyamakan saya dengan domba. Terlalu kentara cara Bapak membandingkan kami, eh saya dan domba. Tetapi saya yakin Bapak heran. Mana ada orang tiba-tiba memberi domba padahal jelas-jelas saya bukan pedagangnya. Akankah ini acara Domba Kaget? Mengerti kan maksud saya? Itu Uang Kaget. Ataukah saya memberi domba agar domba ini diikutkan dalam tanding adu domba. Seperti kompeni dahulu kala. Berapa? si Bapak bertanya tapi seolah-olah mengharap sesuatu. Bukan saya penjualnya, Pak jawab saya. Ini buat saya? Bapak mau?, tanya saya Sok ambil aja? Serius, Mas?, si Bapak bertanya lagi. Lalu lihat kiri kanan. Seolah-olah dia sedang mencari kamera tersembunyi disekitarnya. Wah jangan-jangan acara TV itu nih. Saya masuk TV dong. Istri saya harus lihat, anak saya pasti bangga, tetangga pada iri, teman kantor nanti pada ngomongin saya. Duh saya pakai baju apa ya? Keliatan ganteng nggak ya? Ya, cukupan deh, Pak. Masih ganteng Bapak dari pada domba, kata saya.
28

Jadi tidak mau nih, Pak? tanya saya lagi. Ya jelas mau dong, Mas, jawab dengan dengan yakin seyakin-yakinnya Rezeki kok ditolak. Matur nuwun sanget, yo Mas. Matur nuwun sanget artinya terima kasih sekali. Benarkah? Saya kurang yakin. Saya orang Sunda. Si Bapak orang Jawa. Saya hanya menebak-nebak. Nanti saya tanya teman yang orang Jawa. Sekonyong-konyong ada lagi bapak-bapak pakai peci yang ikut meramaikan suasana. Sabaraha, kang? tanya dia dengan wajah ramah. Kepalanya sedikit mengangguk ke bawah, tidak lupa senyum yang penuh persahabatan. Matanya menatap saya dengan syahdu. Oh kenapa dia begitu sekali pada saya. Mengucapkan kata-kata Sunda pada saya yang orang Sunda, seperti sengaja, karena ingin juga diterjemahkan artinya oleh saya. Tapi karena saya baik, tenang Pak, saya akan terjemahan. Sabaraha itu adalah berapa. 1 jawab saya. Sejuta? Bukan, Pak, kata saya lagi Ini mah domba dibeli Bapak ini. Cuma 1. Kalau Bapak mau, itu masih banyak domba Lha kok beli? si Bapak Jawa yang tadi terhenyak mendengar saya berkata beli. Terus mau digimana atuh Pak? Tadi kan ngasih Ih si Bapak. Siapa yang ngasih?, kata saya Saya tadi hanya menawarkan ke Bapak saja. Mau atau tidak. Soalnya dari tadi bolak-balik terus. Kasian Nu ngicalna mana? Bapak yang Sunda nanya lagi (Terjemah: Yang jualnya mana?) Itu yang pakai baju koko, jawab saya Saya kesini mau beli domba juga

29

Wah, Si Mas ini kirain saya tadi ngasih Bapak Jawa tersadar dari mimpinya masuk TV. Semua angan-angannya menjadi artis sesaat sirna sudah. Maaf Pak saya tidak bermaksud menodai niat Bapak untuk berqurban. Saya hanya kasihan pada Bapak. Sejak tadi melihat-lihat itu semua domba tanpa jelas mau pilih yang mana. Kasihanilah domba, Pak. Mereka capek sudah sebulan dibegitukan oleh orangorang. Kasihanilah juga kawan saya, Pak. Dia selalu berharap-harap cemas kalau ada orang datang. Beli atau tidak ya. Semoga beli ya Allah. Ini buat modal nikah. Begitu kata dia. Kedua Bapak tadi lalu berjalan menjauhi saya. Bukan berarti mereka membenci saya. Saya tidak mau suudzan pada mereka. Sebab mereka pasti sedang ber-khusnuzan kepada saya. Makanya saya pun memilih menjauhi mereka. Biar kami tidak saling berkhusnuzan. Takutnya karena kebanyakan ber-khusnuzan nanti mubazir. Padahal mubazir adalah berbuat yang dicela Rasul. Sambil berjalan saya merenung. Merenungi dengan mendalam nasib para domba. Sungguh kamu beruntung Domba. Ini saya tuliskan kata hati saya agar kalian pada tahu. Sebab ibumu melepasmu sebagai seorang syahid. Kamu rela mati mengorbankan lehermu digorok demi fisabilillah. Darah yang kamu berikan semata-mata agar manusia dapat melaksanakan ibadah, yang dengan itu mereka mendapat pahala tiada tara. Tetapi ironisnya manusia dengan kejinya, malah memutilasimu, bahkan menyantapmu, setelah kantong plastik datang ke rumah mereka. Kau berubah menjadi sate atau gulai. Kalaulah waktu dapat diputar ulang, saya yakin Malin Kundang lebih memilih dirinya menjadi domba ketimbang menjadi Malin Kundang yang mempunyai ibu temperamen, sehingga menyebabkan dia menjadi batu dan dengan begitu secara otomatis membuatnya kehilangan kesempatan

30

bertobat, memperbaiki diri, dan berjihad agar di akhirat lolos surga tanpa hisab. Namun, saya juga dapat mengerti kenapa ibunya Malin Kundang begitu. Tentu dia pun ingin kalau anaknya berbakti padanya. Fisabilillah seperti domba. Tapi apa kata tetangga wahai Malin? Kalaulah Ibumu itu manusia, lantas kenapa anaknya malah domba. Sudah ada perjanjian setankah antara Ibumu dengan siluman domba? Oh, Malin, bersekutu dengan setan itu adalah syirik akbar. Jadi maklumi saja Ibumu berbuat temperamen. Mungkin dia mengutukmu menjadi batu sengaja semata-mata agar kamu menjadi terkenal. Agar seperti Ariel Peterpan. Agar dicatat di buku-buku sejarah. Lihatlah, sekarang banyak buku yang bercerita tentangmu, banyak sinetron yang memvisualkan dirimu, bahkan OVJ membuat parodi perjalanan hidupmu, belum lagi ribuan wisatawan yang datang melihat patung batumu di tepi pantai sana. Ingat Malin, objek wisata di Nusantara ini bukan hanya Bali, Yogya atau Bandung. Kampungmu juga bisa. Coba kalau kau menjadi seekor domba, kau tidak akan pernah terkenal. Nasibmu akan berujung di mulut manusia. Dan tragisnya, kau akan keluar dalam bentuk lain. Bentuk yang bau, menjijikan, tidak ada imut-imutnya. Yang ada amitamit. Dal, jadi beli? tiba-tiba seseorang membuyarkan perenungan saya. Ada apa Malin? jawab saya. Kok, Malin sih?, katanya Emangnya eike Malin Kundang Masyallah. Sori cuy. Lagi dapat wangsit Jadi beli ga? Nanti lihat-lihat dulu jawab saya Tuh ada yang beli Dibelakang ada seorang bapak yang nampaknya sangat tertarik untuk membeli. Sorot matanya haus akan domba. Bukan air. Perawakannya seperti saya, seperti juga Agus kawan saya, hanya penampilannya saja yang berbeda. Dia
31

sedikit kumal. Atau banyak malah. Atau jangan-jangan. Ah saya tidak mau bersuudzan kalau dia orang tua tidak waras. Domba, Pak? Agus si penggembala eh penjual domba menawarkan. Iya, jawabnya Berapaan? Macem-macem. Tergantung kualitas. Bapak, mau yang gimana? Saya masih terdiam memperhatikan. Yang paling murah berapa? Satu juta dua ratus, Agus bilang Ini. Seperti ini Kurus ya Ya sih. Tapi insyallah sudah dapat diqurbankan Tidak bisa kurang lagi? Sudah pas Si Bapak tua bimbang. Seperti menimbang-nimbang sesuatu. Lantas membuka amplop yang dari tadi dia pegang. Menghitung lembaran uang didalamnya, lalu merenung. Saya ambil satu. Tapi bisa tidak uangnya satu juta dulu? tanya dia Insyallah, dua hari lagi saya datang bawa sisanya Waduh!, Agus garuk-garuk kepala Bagaimana ya? Maaf ya, Pak, kata si Bapak memelas. Lalu memohon pada Agus. Agar memberi dia izin membayar sisanya 2 hari lagi. Domba tetep disini dulu. Hanya uangnya dia kasih sekarang ke Agus. Takut terpakai katanya. Soalnya dia juga dapat uang itu secara tak sengaja. Ada orang yang tiba-tiba memberinya tadi. Daripada dibawa pulang mending langsung dia belikan domba. Sebab seumur-umur, dia belum pernah berkurban. Kali ini ada kesempatan yang baik untuk mencoba berqurban. Kenapa harus ditunda. Uang memulung sampah tidak pernah cukup kalau harus dibelikan domba. Maaf, Pak, kata saya Bukan bermaksud mengecilkan niat Bapak Saya mengerti maksud, Adek, si Bapak memotong pembicaraan saya Untuk hidup, memang saya kekurangan.
32

Tapi bukan karena kekurangan maka saya tidak boleh berqurban. Sebaik-baiknya berqurban itu adalah ketika kita kekurangan. Disanalah Allah menguji pengorbanan kita Jeder!!!! Seperti petir di siang bolong. Saya dan Agus terhenyak mendengar ucapan Bapak tua itu. Seakan-akan ada yang menampar begitu keras pipi saya. Hari gini kamu masih mencari domba Qurban dibawah 1 juta?! Itu pun masih saja kau tawar-tawar. Lihat tuh orang tua renta ini! Hidup dia belumlah serba cukup seperti kamu. Setiap hari belum tentu dia dapatkan uang untuk anak istrinya. Tapi kamu, tidak punya uang saja langsung pusing tujuh keliling, hidup tidak tenang. Itu suara imajiner yang berbisik di telinga saya. Kalian tidak jauh lebih hebat dari orang tua ini. Tidak juga dengan para pemimpin kalian! Kalian dapat hidup penuh semangat oleh karena memang kalian memiliki apa-apa, yang ada selalu siap sedia pada saat kalian membutuhkan, tetapi dia, orang tua ini, dapat hidup tetap semangat, padahal tidak memiliki apa-apa yang dibutuhkan. Hey kalian berdua yang masih belum berpikir! Seorang kaya apabila dia mengaku dan menunjukan dirinya adalah seorang kaya itu sudahlah biasa. Yang menjadikannya miskin adalah pilihan-pilihan dalam hatinya. Seorang yang belum kaya tapi mengaku dan menunjukan dirinya adalah seorang yang kaya maka dia akan cemas lagi pula lelah karena kelak orang akan tahu bagaimana nyatanya dirinya. Namun bila dia miskin mengaku miskin. Tapi kemudian orang tahu dia kaya atau malah memang aslinya miskin. Apa yang perlu dikhawatirkan? Dia tetap miskin karena takdirnya. Akan tetapi dia kaya karena hatinya. Oh lihatlah saya menangis menceritakan ini semua.

Bogor, 8 November 2010

33

34

35

36

Lekka Lekka Ka Ka Kapitalis


Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruknya suara ialah suara keledai (31:19)

Syahdan lagu Indonesia Raya merupakan sebuah lagu jiplakan. Penciptanya, Wage Rudolf Supratman, diklaim Amir Pasaribu juga Remy Silado sebagai seorang penjiplak. W.R. Supratman dituduh telah merubah lagu jazz tahun 1600-an; Pinda-Pinda atau Lekka-Lekka (Belanda), menjadi lagu yang saat ini sering dibawakan di setiap upacara bendera. Dia dan band jazz-nya biasa membawakannya untuk menemani dansa dansi Tuan dan Noni Belanda. Tahu kah kamu dansa dansi? Itu istilah kuno. Tidak perlulah saya jelaskan disini. Nanti saja kalau ada pelajaran Bahasa Indonesia. Lagu Lekka Lekka memang sedang hot kala itu. Sekitar tahun 1927, dia bagai lagunya Kangen Band. Banyak meneer yang singalong apabila terdengar sayup-sayup. Sayup-sayup apa? Sayup-sayup itu. Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, sebab kamu tidak bakal tahu, yang tahu hanya para meneer dan inlander yang gaul. Apalagi setelah lagunya dirilis ulang dalam format piringan hitam dengan judul Indonees Indonees. Kamu pasti akan menyangka piring itu adalah hadiah hari Indomie karena membeli 3 sekaligus.
37

Kamu kenal Om Remy? Saya tidak. Itu dia akhirnya disanggah dan dicap kontroversi. Yang paling vocal grup menyanggahnya adalah Kaye A Solapung. Kaye bilang meskipun Indonesia Raya ada 8 beat sama dengan LekkaLekka, dia masih bisa dikatakan lagu orisinal. Sebab lagu itu diubah-ubah dari sejak jaman Kepala RRI Jusuf Ronodipuro, hingga Jozef Cleber dan Kusbini di tahun 60-an. Namun patut diakui, bahwa apa yang diharapkan Kusbini malah mendapat komentar. Hai, kamu seniman goblok! Kamu tidak punya kesadaran politik! Apa yang sudah diterima secara politik, tidak usah diperkarakan secara estetik! kata Bung Karno pada Kusbini. Saya tidak tahu Kusbini jawab apa. Saya belum lahir saat itu. Kalaulah saya dilahirkan sebagai ayah saya, saya juga tidak tahu Kusbini jawab apa. Pertama karena ayah sayah masih orok, kedua karena letaknya saling berjauhan. Ayah saya di Ciamis, Kusbini dan Bung Karno di Jakarta. Namun benar atau tidaknya informasi ini, jelas saya tidak tahu. Soalnya baik Om Remy ataupun Om Kaye, mereka mengambil data dari kitab-kitab yang tidak lazim. Keduanya mahir berbahasa asing dan juga mengerti partitur dan aransemen musik. Sedangkan saya? Bahasa Jawa saja yang serumpun dengan bahasa Sunda saya asing, tidak mengerti, apalagi dengan bahasa yang jauh dari Sunda. Lebih-lebih kalau masalah partitur. Kamu tahu sendiri saya seperti apa. Tiup suling saja sumbang. Diluar itu semua, bolehlah kiranya saya punya penilaian tentang lagu Indonesia ini. Boleh! Kenapa tidak. Oh saya yang nulis. Kamu yang baca diam saja. Izinkan saya menuliskan hasil komtemplasi murahan saya, setelah tadi melalui masa hibernasi di tempat yang sangat hiber; WC. Coba saja pikir bait ini! Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku. Disanalah aku berdiri, Jadi pandu ibuku.
38

Indonesia! Tanah yang mulia, Tanah kita yang kaya. Disanalah aku berada Untuk slama-lamanya. (Lirik lagu Indonesia Raya dari stanza yang lain) Indonesia! Tanah yang suci, Tanah kita yang sakti. Disanalah aku berdiri menjaga ibu sejati. (Lirik lagu Indonesia Raya dari stanza yang lain) Lalu bait ini! Hiduplah tanahku, Hiduplah negeriku. Bangsaku, Rakyatku, semuanya. Suburlah Tanahnya, Suburlah jiwanya. Bangsanya, Rakyatnya semuanya (Lirik lagu Indonesia Raya dari stanza yang lain) Lihat bait awal Disanalah aku berdiri. Kata Disanalah yang digunakan, ini berarti orang yang menyanyikan tidak sedang berada di wilayah Indonesia. Entah dimana dia berada. Bisa di Timbuktu, bisa juga di negeri jin, intinya di luar Indonesia. Maka kecil kemungkinan lagu ini diciptakan oleh orang Indonesia yang sedang di Indonesia, kemungkinan dia adalah orang luar negeri atau orang Indonesia yang sedang di luar negeri. Selain itu, karena katanya begitu, maka lagu ini hanya cocok dinyanyikan orang yang kabur karena alasan politis, orang yang sedang piknik atau bisa jadi seorang TKI. Kalaulah WR Supratman benar menciptakan lagu ini, seharusnya pilihan katanya adalah Disini bukan Disana. Kecuali seperti yang saya bilang tadi. Itu bait terakhir pun lihat coba, kata Bangsaku, Rakyatku atau Bangsanya, Rakyatnya, dia memiliki masalah yang tak beda dengan Disanalah. Bukankah yang pantas mengatakan Bangsaku, rakyatku adalah seorang pemimpin? Maka tertolaklah lagu ini untuk dinyanyikan oleh rakyat kecuali Presiden beserta jajarannya. Kalau misal mau dipaksa agar rakyat ikut menyanyi, katanya harus dirubah dulu menjadi Bangsa kami, Kami. Lebih parah lagi kalau kata Bangsanya, Rakyatnya dipertahankan. Ini yang nyanyi
39

jelas-jelas bukan rakyat atau pemimpin, tetapi orang diluar Bangsa Indonesia. Sangat mungkin orang ini punya kepentingan dengan Indonesia, atau seorang yang memiliki hubungan dengan pemimpin negeri bernama Indonesia. Ah itu kan reka-reka kamu saja, Dal! Iya ini memang reka-reka saya. Boleh kan kalau saya mereka-reka. Saat ini banyak sekali hal direka-reka, dengan alasan untuk gaya. Ya terserah kata saya. Itu hak kamu. Sebagaimana hak saya juga untuk bilang kalau sebenarnya Lagu Indonesia Raya tidak wajib dinyanyikan lagi secara resmi (tentunya dengan catatan) apalagi sambil diiringi isak tangis. Sebab dia bukan lagu pengiring kematian. Kalau mati lebih baik iringi dengan membaca Quran dan membaca doa untuk memaafkan dosa kedua orang tua kita. Kenapa saya bilang dengan catatan, sebab lagu ini masih bisa dinyanyikan di upacara kalau yang nyanyi adalah Presiden dan Kabinetnya, jadi hilangkan itu tim obade. Lalu bisa juga dinyanyikan kalau orang Indonesia sedang ada di luar negeri. Saya yang belum pernah menjadi TKI dan belum pernah ke luar negeri jelas tidak wajib menyanyikan lagu ini. Nah, kecuali mungkin kalau naik haji. Itu pun sebatas hanya mengenang masa-masa bengal di kampung halaman saja. Biar di Tanah Suci banyak beristigfar. Biar tidak banyak dijewer oleh Allah disana. Kalau orang asing, tak perlulah saya ceritakan. Dia mah jelas-jelas ada kepentingan dengan negeri ini. Hanya saja, terlepas dari semua khayalan saya itu benar atau tidak, ada sesuatu yang saya takutkan. Bukan takut sih, mungkin sekedar curigesen. Sebab kalau dipikir bisa saja lagu ini memang sejak awal di-setting demikian. Ia adalah lagu yang memang hanya diperuntukan bagi pemimpin atau orang yang berkuasa atas negeri ini saja. Wujudnya bisa bermacam-macam. Asalnya pun bisa beragam. Tergantung siapa yang butuh, dan siapa yang berkuasa. Jadi wajar kan kalau bait Bangsanya, Rakyatnya saya tuduh bahwa pemimpin dan penguasa itu asalnya dari luar. Apalagi kalau
40

kamu tahu bait lain pada stanza lagu Indonesia Raya yang full version. Disana dituliskan kata Suburlah Tanahnya, Suburlah jiwanya, Pulaunya, lautnya semuanya. Siapa sih yang tidak ngiler melihat kesuburan tanah, laut dan pulaupulau yang ada disini? Hanya orang yang ada maunyalah yang berharap dapat menghisap Indonesia. Siapa dia? Drakula? Saya kira bukan. Drakula tidak dapat menembus pertahanan bangsa setan di negeri ini. Kalau pun bisa, itu artinya dia sudah mendapat izin atau kongkalikong dengan penguasa setan disini. Kalau begitu, berarti sejak awal Indonesia dilahirkan adalah sebagai negara dedemit juga sasaran drakula dong? Saya tidak bisa menjawab iya atau tidak. Yang lebih kompeten menjawab hal seperti begitu adalah Ki Joko Bodo, Permadi atau Ki Gendeng Pamungkas. Ilmu saya belum sampai ketingkat seperti ini. Saya hanya bisa menghubunghubungkan saja. Menghubungkan lambang Garuda Pancasila yang menengok ke kanan, tidak ke kiri, tidak ke depan. Padahal kita tahu kiri identik dengan Sosialis, dan kanan identik dengan Kapitalis. Nah kalau misal maksud pencipta lambang bahwa kanan adalah kebaikan dan kiri adalah keburukan, kenapa tidak coba yang lebih netral saja, melihat lurus ke depan. Kan saat Republik ini berdiri sedang dimulai perang ideologi. Kalau memang beneran Non Blok, pilihlah melihat ke tengah. Kalau memilih ke tengah yang lurus dan benar tidak mampu, maka tunduklah, sebab hanya orangorang kalahlah yang tertunduk malu.

Jakarta, 01 Maret 2009

41

42

43

44

69* Densus 69*


kalau Allah menghendaki,tentu dia memberi kekuasaaan kepada mereka terhadap kamu, pastilah mereka memerangimu (4:90)

Entah malam. Entah siang. Entah sore. Entah subuh. Entahlah. Saya sudah lupa kapan saya mengisi shout box blog itu kawan saya (ket: sengaja tidak disebutkan. Teman saya minta royalti). Tentu saya tidak mengisinya dengan uang. Sebab saya tidak mau memberi kawan saya itu uang banyak-banyak. Saya beri saja dia seperangkat kata-kata mutiara. Harap saya, semoga ada manfaatnya buat kawan saya itu. Saya sendiri masih terbego-bego kenapa kemarin saya mengetikan kalimat seindah itu. Tidakkah saya khawatir kalau suatu saat dia jatuh cinta pada saya. Saya rasa dia tidak akan jatuh cinta pada saya. Karena dia mengklaim dirinya lelaki sejati. Dan saya tentu saja lelaki yang gagah perkasa. Sudah dari zaman batu, tidak pernah ada ceritanya lelaki sejati dan lelaki gagah perkasa saling jatuh cinta. Kalau Sodom & Gomoroh bagaimana? Ah saya belum kenalan dengan mereka. Jadi mending no comment saja. Itu kawan saya sebenarnya tidaklah pernah saya jumpai secara live. Kenal hanya sebatas di dunia maya saja. Lihat mukanya yang katanya ganteng pun saya belum pernah. Tapi meskipun begitu kami seperti kenalan ratusan tahun. Apa
45

mungkin kami hasil reinkarnasi 2 orang kawan dari jaman Majapahit. Saya yakin bukan. Sebab saya tidak percaya reinkarnasi. Dan begitu juga kawan saya. Lalu sejak kapan zaman kapan ya kami saling mengenal? Ah kalian tidak perlu tahu. Biarlah ini menjadi rahasia kami berdua. Hanya kami yang saling mengerti siapa kami dan untuk apa kami berteman. Yang lain boleh tahu sebatas apa yang saya perbuat pada dirinya dimulai dari shout box di blognya. Baik Tulisan ini akan saya rapatkan dengan petinggi Densus 69. Apakah menyangkut pencemaran nama baik atau tidak (Ka Densus 69 Pusat) lihat itu saya menulis begitu diblog kawan saya itu. Sengaja itu saya membuat kata-kata mutiara seperti itu. Setelah saya lihat blognya mengupas Densus 69; Rapor Merah Densus 69. Awalnya saya kira cukup sampai situ. Nyatanya tidak. Kata-kata mutiara itu bersambung-sambung terus seperti sinetron Manohara. Syahdan suatu ketika. Seminggu kemudian. Datang sms dari kawan saya; Divan Semesta. Itu yang nama purapuranya Divan Semesta memberikan saya sms kawannya. 31/07/09 07:34 Kata2 Densus kyak gne: Baik Tulisan ini akan saya rapatkan dengan petinggi Densus 88. Apakah menyangkut pencemaran nama baik atau tidakKa Densus 69 Pusat: Bikin saya ga bisa tidur & Juga 31/07/09 07:34 Tadi malam tidur jam 1an.. Tiap kali mau tidur, kebayang penjara, jadi tempat tidur kayak bui gitu Tapi ne Q Bru Nydar klo hidup tu ada ujianx N pilihan sy hny tangguh tau cenggeng 31/07/09 07:35 Dan sy jg bru nyadar klo yg sy triakan kmarin adalah kebenaran smakin q mngingat ancman, mk smakin cpat sy dlm menggunkan wktu dgn baik sy jd ingt Nitse.. klo qt hrus hdup dlm keadaan perang Uh No.... ternyata apa yang saya petuahkan berlanjut hingga hari ini. Eh hari itu. Hari dimana saya terima sms dari
46

Divan Semesta. Papanya Nyawa Rasul. Sekarang tinggal di Bogor. Berbeda dengan saya yang tinggal di Ragunan. Ga penting ah. Tidak usah dibahas. Datangnya sms berantai itu bikin saya makin terangsang menjadi anggota yang sebenarnya. Sayang disia-siakan momen seperti ini. Kapan lagi saya melakukan 86-86-an kalau tidak sekarang. Segera saya cari data-data tentang dia itu, sekaligus memantau blognya, agar semakin sempurna penyamaran saya. Hanya berselang 1 hari, ada permintaan maaf didalamnya. Membuat Lebaran menjadi datang lebih awal. Namun tak lama tulisan Rapor Merah Densus 69 menjadikan dirinya hantu. Iya lenyap begitu saja. Tanpa jejak. Persis Suzanna setelah makan sate satu gerobak. Sayang saya lupa kata-kata permintaan maafnya. Jadi tidak saya bilang disini. Saya langsung sms saja kawan saya itu menggunakan telepon saya sendiri. Tidak saya pakai telepon orang lain. Kalau pakai telepon orang lain saya harus pinjem dulu. Itu tidak mungkin. Karena saya sedang sendirian pas kasih sms padanya. Mencuri telepon pun juga tidak mungkin karena mencuri adalah dosa. Dan saya tidak mau mencuri. Namun yang jelas, selama ini saya dan dirinya belum pernah berhubungan menggunakan telepon. So pasti dia tidak tahu nomer telpon saya. 31/07/09 11:50 Terima kasih atas penghapusan tulisan tentang lembaga kami di blog anda (Rapor Merah Densus 69). Namun tetap untuk masalah ini (sesuai rapat) kami akan melakukan somasi terhadap anda. Sekaligus meminta pihak Fakultas Bahasa Unesa agar dapat menonaktifkan anda. Info ini pun sudah kami teruskan juga ke aparat Tulungagung. (KaBiro Hukmas Densus 69) Lalu datanglah amplop dari dalam hp saya. Diiringi bunyi-bunyi. Hebat kata saya. Sekarang Pak Pos sudah ada yang disimpan di dalam Hp. Jadi dia tidak usah capek-capek berkeliling naik kring-kring sepeda kumbang.

47

31/07/09 12:29 Tunggu dulu.. apa tulisan saya telah menghina atau menjelekan Densus 69? Maksud Anda mensomasi itu seperti apa? 31/07/09 12:34 Atas hak apa anda menonaktifkan saya di FBS Unesa? Secepat kilat saya balas. 31/07/09 12:45 Baiknya itu semua dibicarakan nanti di PN saja. Kami saat ini sedang mencoba menghilangkan citra negatif lembaga kami. Adapun pengnonaktifan Anda, biar kami proses dengan kampus Anda terlebih dahulu Setelah itu HP segera saya matikan. Sengaja. Biar terkesan tidak bisa dilacak. Kebetulan batre HP memang telah akan wafat. Mungkin dibunuh Pak Pos yang ada di dalam Hp. Entahlah. Semoga amal perbuatannya diterima. Terus yang membunuh dihukum qishash. Usai jumatan saya coba menjadi Tuhan bagi HP saya. Ternyata saya mampu. HP bisa saya hidupkan. Mungkin sedang sakaratul maut. Disela-sela sekaratnya itu, HP memberi lagi saya surat. Oh mungkin petunjuk siapa yang membunuh dia pikir saya. 31/07/09 12:53 Oh ya nanti sy tidak akan kabur Jadi tolong penangkapan saya diperlakukan dg baik dan sopan tidak dg apa yg sdh ktahui sperti di media.. Trima kasih Ternyata bukan. Itu sms dari kawan saya. Bukan petunjuk siapa yang mencoba membunuh HP saya. Sejak setelah itu, HP saya benar-benar mati. Dan saya jadikan diri saya Tuhan lagi setelah saya sendirian di kamar kontrakan saya. Lantas saya kirim balik sms yang datang dari kawan saya itu siang tadi. 31/07/09 20:15 Kami sudah menerima laporan dari Kahumas Densus 69 tentang anda. Ini sekedar pemberitahuan awal. Besok anda diminta klarifikasi atau kami jemput (Subditkap 69) Hening.

48

Setengah jam hening tanpa ada reaksi apapun. Saya berpikir, nampaknya saya harus mengakhiri semua ini. Apalagi saya melihat di shout box blog saya ada tertulis; 7/31/09 3:09 PM Kawan: "kang tau Tim pembela muslim gak?" 7/31/09 3:04 PM Kawan: "tapi kliatannya smsnya serius..klo di tangkap beneran ntar kasihan orang tuaku" 7/31/09 3:03 PM Kawan: "doain biar cepet terkenal...ha ha" 7/31/09 3:01 PM Kawan: "kang ne ku mau ditangkap ma Densus 69, serius kang..doain ya" Beberapa menit saya tertawa sendirian. Saya raih HP yang tadi sudah saya pakai. Saya berikan massage lagi pada tuts-tutsnya. Setelah itu saya baca berulang-ulang. Yakin dengan apa yang ada di layar, saya massage tanda bergambar telepon hijau.Terkirim katanya. 31/07/09 20:45 Nanti petugas kami akan datang. Atau sebelumnya anda dapat menghubungi 081799XXXXX (Kapten Begundal Militia) Itu adalah adalah nomer telepon saya. Sekaligus nomer yang saya pakai buat mengirim sms-sms tadi. Kamu pasti tahu kawan. Soalnya kamu langsung menelepon saya. Telepon yang penuh pesan kebebasan. Bebas dari terkaman harimau, bebas dari berteriak; Asu!

Jakarta, 06 Agustus 2009 Ket: *sengaja. Kalian pasti sudah tahu

49

50

51

Blind Ovum
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kamu dan anak-anak kamu melalaikan kamu dari mengingat Allah (63:9)

Blind Ovum. Begitu yang dia bilang. Dia itu saya lupa lagi namanya. Katanya sih dokter. Tapi saya belum pernah lihat dia diwisuda di fakultas kedokteran. Tahunya dia sekarang sudah pakai jas putih ala dokterdokter. Tepatnya dokter kandungan. Hobinya lihatin kandungan dan segenap perabotan disekitarnya. Mhmm... pekerjaan yang mungkin diminati oleh semua laki-laki di dunia. Kecuali saya. Tampangnya khas pengemudi Metro Mini 74 yang pernah saya tumpangi. Itu pengemudi bawa Metro Mini seperti banteng dalam Festival Sanfermines di kota Pamplona. Hanya saja nasib orang yang diseberang saya ini sedikit lebih baik. Atau malah jauh lebih baik? Ah bagi saya pekerjaan apapun sama baiknya. Asal jangan jadi George Bush aja. Sebab saya tidak suka dia. Boleh kan saya bilang sesuatu tidak baik karena saya tidak suka? Ya boleh dong! Kenapa juga tidak boleh. Mau protes ke saya juga tidak berpengaruh. Soalnya saya sudah ketik diatas. Kalau mau hapus coba saja sendiri hapus kalau bisa! Seperti juga ketidaksukaan saya dengan gaya bicara orang di depan saya ini. Sayang terhalang meja. Coba kalau
52

tidak. Pasti kita akan lebih intim bicaranya. Apalagi dengan menatap mukanya yang kotak. Eh, bukan maksud saya mencela fisik. Fisik orang tidak boleh dicela. Sebab Allah lah yang membuatnya begitu. Kalau saya protes, saya takut dikutuk jadi batu seperti Malin Kundang. Padahal kalau mau dikutuk, saya ikhlas dikutuk jadi ganteng. Kembali ke blind ovum. Saya sebenarnya tidak tahu apa maksudnya. Nulisnya pun saya tidak tahu bagaimana. Jadi kalau salah tulis jangan diprotes. Dulu waktu sekolah saya tidak mendalami secara khusus bahasa kedokteran. Lain kalau bahasa isyarat. Untuk yang satu ini insyallah saya cukup memahaminya dengan baik. Seperti garuk-garuk kepala, itu tanda untuk A. Batuk untuk B. Pegang telinga untuk C. Nguap sudah pasti D. Dan ngupil untuk E. Agh ga penting banget ya. Saya percaya diluar sana banyak yang lebih ahli dari saya untuk masalah ini. Tadinya sih saya pura-pura pintar. Mengangguk-angguk seakan-akan saya orang yang juga mengerti dengan istilah para ahli medis. Tapi lama-kelamaan saya jadi pusing sendiri. Terlalu banyak kosakata aneh. Blind Ovum itu apa, Dok? Itu istilah janin tidak berkembang jawab dokter. Mang janin bisa berkembang, Dok? "Bisa dong. Kalau ga berkembang nanti janinnya mati Kembang apa biasanya yang bisa bikin janin mati? Maksudnya? Kan kata Dokter kalau janin tidak berkembang nanti mati. Kembang apa yang bisa jadi penyebab janin mati? Saya masih belum mengerti Pasti kembang bangkai ya? Kembangnya aja sudah jadi bangkai. Apalagi nanti janinnya. Jadi pocong kali ya , Dok? Bah! Bapak ini aneh-aneh saja. Saya kira apa Dokter justru yang aneh. Janin kok berkembang. Sekalian saja berbunga, berbuah, berbiji, berakar serabut, monokotil, dikotil, musim duren
53

Hehehe.... Kami tertawa bersama. Saya bukan bermaksud untuk bego. Sengaja saya membego-begokan diri biar suasana yang tidak saya sukai ini menjadi lebih cair. Kok cair ya? Kayak air aja. Apa yah padanan kata yang lebih tepat? Ah yang penting setidaknya dengan tertawa saya harap aura sumpek ini menjadi tidak sumpek tentunya. Hasilnya lumayan terbukti. Muka kotak si dokter asal Medan ini sedikit melebar. Ada segurat garis bibir yang merekah disana. Sederet gigi rapih putih pun pamer seperti iklan pasta gigi di TV. Silau man! Kata saya dalam hati. Terus gimana Dok? harap-harap cemas saya bertanya begitu. Jawabannya sudah bisa saya tebak. Kuret! Kuret?! saya memastikan kembali. Benar dugaan saya. Beberapa detik setelah itu pikiran saya melayang. Terbang seperti Superman. Tapi sumpah saya tidak seporno Superman. Saya masih tahu meletakkan celana dalam yang benar itu dimana. Tidak seperti dia yang pakai CD diluar. Pamer! Kemudian saya melirik ke sebelah kanan. Nampak ekspresi Uum seakan menelan ludah. Sedangkan Revo sedang asyik melemari dokter dengan permen yang ada diatas meja. Kasihan Revo pikir saya. Dia belum saatnya bertemu dengan partner bermainnya si Andalus. Andalus, sudah dengar tadi yang dokter bilang? Iya, Kuret! Beugh! Kaget saya. Kok Andalus bisa jawab pertanyaan saya. Selidik punya selidik, ternyata yang menjawab tadi si Dokter bukan Andalus. Ia mengulangi pernyataannya agar terus mengiang di otak saya. Sebuah kata yang menakutkan; KURET!

Jakarta, 19 Juni 2009


54

55

56

Osama Bin laden


Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu (58:13)

Setelah 2 hari lalu seorang dokter memproklamir kuret di depan saya, saya tidak lantas mengkibarkan Sang Saka Merah Putih di Pegangsaan Timur. Coba untuk apa pentingnya saya kibarin bendera disana? Saya kan anti nasionalisme. Lagian kalau saya kibarin bendera, bendera bergambar apa yang pantas dikibarkan untuk proklamasi kuret. Masa bergambar serabi & pembalut wanita. Kesannya porno banget. Salah-salah saya dijerat UU Pornografi. Atau gambar bayi montok yang banyak stiker bertulisan No Problem. Ah tidak ah. Nanti malah disangka fedofili. Daripada saya pusing mikirin bendera, mending saya segera mencari rumah bersalin atau rumah sakit saja. Sepertinya ini lebih menyelesaikan masalah kuret ketimbang mencari gambar bendera. Tetapi yang jadi pertanyaanya, rumah bersalin mana? Soalnya di kota ini praktek-praktek persalinan banyak bertebaran hingga pojok gang sempit. Beruntung saya ingat seorang sahabat saya yang pernah sukses didzalimi rahimnya oleh dokter. Saya hubungi segera suaminya. Kebetulan suaminya ini sahabat saya juga. Namanya Bramantio. Dipanggil Bagus. Tapi ada juga yang

57

manggil dia Tio. Sebagian yang lain manggil Akang, Asoy. Kalau saya manggil dia Kampring. Saya tidak tahu sejarahnya kenapa dia dipanggil nama ini itu. Seperti tidak tahunya saya kenapa istrinya bernama Aulia. Sampai sekarang saya selalu bertanya-tanya kenapa orang tua mereka memberi nama seperti itu. Kenapa tidak Romeo dan atau Juliet. Atau Hitler dan atau Eva. Kenapa juga tidak diberi nama Muhammad bin Abdullah dan atau Khadijah. Kan kalau namanya seperti itu, setidaknya saya bisa masuk dalam kategori sahabat. Calon ahli surga yang semua pernyataan saya adalah ijtihad serta layak masuk kategori ijma. Senangnya kalau begitu. Ah, saya suruh si Kampring & Aul ganti nama jadi itu aja ah. Namun sayang. Saya lupa kasih saran itu pas bicara di telepon sama Aul. Saya terlalu fokus mendengar penjelasan rumah bersalin yang pernah Aul didzalimi sampai berdarahdarah didalamnya. Sampai akhirnya saya terhipnotis untuk memutuskan meng-freetransfer-kan Uum kesana. Biarlah didzalimi juga, yang penting sembuh dan berbiaya mahal. Sengaja saya cari yang mahal. Biar saya tidak tanggung mengeluarkan uang. Soalnya bawa uang milyaran itu bikin jalan pun harus diseret-seret. Rasanya menyiksa. Mana bikin lecet pula. Itu terbukti ketika saya sedang berusaha pergi ke rumah sakit bersalin mahal itu. Saking beratnya, saya sudah tidak bisa menanggung beban uang yang ada. Daripada ambeien pikir saya, lebih baik saya buang sebagian saja. Ya kalau tidak saya berikan saja pada seseorang. Seseorang yang sedang duduk di trotoar itu. Lagi ngapain, Pak? tanya saya. Kasihan Pak Siapa yang kasihan? Saya Pak. Saya belum makan dari pagi

58

Wah bapak hebat. Masih kuat di tengah panas begini tapi kerja. Saya kalau mau kerja tidak sarapan dulu pasti bisa pingsan Pak Pengennya gitu, Mas. Tapi saya tidak punya uang Ih nama saya bukan Mas, Pak Oh maaf, Pak Panggil saja saya DJ Wingki! Iya Saya mirip DJ Wingki ga Pak? DJ Wingki siapa Pak? Bapak mah ga gaul euy. Terkenal lagi DJ Wingki mah Saya ga tau, Mas Kok Mas lagi? Oh iya maaf DJ Wingki tu cakep Pak. Temannya Osama bin Laden waktu di Afghan. Malah pernah tidur sama Rambo Osama yang teroris? Hush! Osama bukan teroris! Dia itu mujahid. Pejuang Islam. Orang yang berjuang demi Islam! Gitu ya Pak. Kalau Rambo bukannya film? Rambo itu bener-bener ada. Buktinya dia tidur bareng DJ Wingki. Tapi otaknya jangan ngeres ya! Ya ga dong Pak angguk si Bapak Bapak butuh berapa duit sih? Seikhlasnya aja. Tapi 1000 perak juga boleh Katanya seikhlasnya. Gimana sih si Bapak ini Eh iya, silakan gimana Bapak aja Kalau 1000 perak emang cukup buat makan? Bukannya sekarang sekali makan saja paling murah 3000 perak?! Ga cukup sih Pak Kenapa mintanya cuman 1000 perak? Bapak punya anak? Punya rumah? Sekolah kan anaknya? Bayar listrik ga di rumah? Keluar ongkos ga ke tempat kerja? saya kasih pertanyaan bertubi-tubi agar si Bapak serasa menjadi public figure.
59

Banyak banget pertanyaanya si Bapak kebingungan. Sengaja Pak biar kayak SBY yang sedang diwawancara Jadi gimana Pak? tanya saya lagi Iya punya semua dan butuh semua si Bapak mesem. Ya sudah kalau begitu jangan minta 1000 perak. Nih saya kasih 1 milyar! Saya buka tas. Lalu keluarkan segepokan uang dari dalamnya. Saya berikan semua didepan tempat duduk si Bapak. Ini serius, Pak? Ya iyalah. Ambil saja semuanya. Ini bukan acara Kena Deh atau sejenisnya kok timpal saya. Bener Pak? Iya beneran. Eh, saya mau antar orang buat disiksa dulu di markas dokter-dokter ya Disiksa? si Bapak tersenyum kecut tapi bahagia. Oh iya sebelum pergi. Saya mau tanya lagi. Saya mirip DJ Wingki temannya Osama Bin Laden tidak? Ehhhh gimana ya Ya sudah jangan dipikirin. Sebagai salam perpisahan, panggil saja saya Osama Bin Laden Eh iya Osama Bin Laden Wah makasih kembali Pak. Ketemu lagi di Afghan ya! Btw, mau titip salam buat Rambo sekalian tidak? Eeee. Iya boleh Ya sudah kalau begitu nanti saya coba salamin. Assalamualaykum saya pamit meninggalkan bapak tua yang masih tampak bingung campur bahagia. Lega rasanya. Beban saya akhirnya sedikit berkurang. Sekarang tinggal jemput Uum & Revo yang sudah dari kemarin bolak-balik Avicena. Tunggu ya. Sebentar lagi sampai!

Jakarta, 19 Juni 2009


60

61

62

Bye Bye Avisenna


Bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah (12:88)

Sesampai di ruang penyiksaan, saya lihat Uum sedang menggendong Revo. Kelihatannya sesi penyiksaan sudah selesai. Buktinya si Uum sudah bisa tersenyum-senyum simpul hidup begitu. Ke bawah aja dulu! Bayar ongkosnya! kata Uum sambil menunjukan jari telunjuknya seperti seorang preman. Ekoy dech timpal saya sambil mengambil Revo dari gendongannya. Bergegas saya turun menujuk kasir sambil mencoba mendiamkan Revo yang mulai menangis dan menjerit-jerit karena dipisah dari Uum. Dengan muka cuek tapi tetap ganteng saya mendekati kasir yang berparas Arab dan berkerudung lebar itu. Yang baru dikuret tadi ya Pak? tanya si kasir ramah penuh senyum. Bukan Lho jadi ini siapa? Saya tidak dikuret. Yang dikuret Uum Iya maksud saya beliau Oh kalau begitu iya. Jadi total berapa? Biaya operasi dan lain-lain terus obat jadinya (sensor) rupiah jawab sang kasir dengan sangat lancar.
63

Oke, sebentar Saya buka resleting tas. Saya cari-cari uang disana. Masyallah. Yang ada hanya potongan kertas-kertas bekas tiket dan parkiran. Tiga lembar uang seribuan nyempil diantara kertas-kertas tadi. Ya Allah, uang saya habis. Ternyata yang tadi saya kasih ke bapak-bapak di trotoar itu adalah semua uang saya. Jujur wajah saya cukup pucat pasi di depan kasir berdarah Arab itu. Mana Revo nangis tidak mau berhenti. Gimana Pak? Bisa saya kasih cek tidak disini? ujar saya menenangkan diri. Lebih baik cash saja Pak Oh ya sudah. Sebentar saya hitung dulu Saya masukan kembali tangan ke dalam tas sambil purapura menghitung uang. Padahal aslinya hanya menghitung kertas-kertas parkiran. Berapa tahun si kecil Pak? tanya si kasir kembali Yang ini?! Baru 15 bulan Kalau anak masih kecil harusnya ga boleh punya adek, Pak! Kenapa tidak boleh? Kan KB, Pak! Lha justru saya ini KB, Mbak. KB, Keluarga Berencana kan? Iya Saya ini berencana punya anak 12 orang. Semua sudah saya set nantinya mereka akan dijadikan apa. Dari mulai ilmuwan sampai dokter, semua sudah saya rencanakan dari dulu. Setiap tahunnya sudah saya perhitungkan untung ruginya. Dan lagi menurut saya tidak akan ada kerugian dengan apa yang Allah titipkan pada saya. Dia Maha Berencana. Saya hanya pelaksana rencana Dia di lapangan Jadi darimana asalnya saya tidak disebut Keluarga Berencana? timpal saya lagi.
64

Ohhehehe Mbak kasir mesem-mesem tidak jelas. Sebentar ya Mbak saya mau cairkan cek dulu Saya berjalan menjauhi meja kasir. Menuju kearah ATM. Lantas mengirim SMS dan menelpon beberapa karib kerabat barangkali akan berinvestasi pada tender yang saya tawarkan. Alhamdulillah, tidak terlalu lama saya berhasil mendapatkan para investor. Hanya saja dana dari investor hanya cukup untuk membayar biaya yang tadi kasir katakan saja. Padahal besok hari saya harus berangkat kerja, makan dan pergi ke Bandung bareng Revo & Uum. Apa harus saya jalan kaki ke Bandung? Tapi mau gimana lagi. Ya sudah yang penting si mbak kasir Arab tidak nanya lagi masalah KB. Daripada nanti si Uum disiksa lagi karena tidak ikutan KB. Di tengah kegalauan yang teramat sangat. Berat banget kayaknya bahasanya. Saya terdiam di sebuah kursi kayu. Memandangi orang-orang yang berlalu-lalang. Tak lama kemudian, entah darimana datang seorang Bapak setengah abad. Lagi nunggu? tanyanya. Iya Pak. Uum habis dikuret Oh Silakan duduk Pak! Maaf saya sudah ditunggu. Duduknya nanti lagi aja. Harus segera pergi Oh silakan Pak Oh yah, ini buat kamu! si Bapak memberikan selembar amplop putih polos. Apa ini Pak? tanya saya keheranan. Meskipun jujur saya berharap dan melihat wujud amplop itu berubah menjadi gepokan uang. Udah ambil aja! Eh Pak, ini bukan acara Kena Dech kan?

65

Si Bapak hanya tersenyum dan menghilang di tengah kerumunan orang. Saya yang ditinggalkannya masih duduk terheran-heran. Memikirkan amplop apa gerangan yang ada di tangan saya ini. Surat cinta kah? Jangan-jangan si Bapak ingin menyatakan cinta pada saya. Yah hari gini pakai surat. Kan sudah ada email. Tapi daripada dibuat penasaran terus menerus, saya perkosa saja itu amplop. Subhanallah! Isinya uang. Totalnya cukup untuk bolak-balik ke Bandung bertiga pakai Prima Jasa dari Lebak Bulus. Alhamdulillah. Alhamdulillah pangkat tiga. *** Sekitar jam 2 yang sudah siang, saya berikut Uum dan Revo berjalan menuju pelataran parkir. Rencananya langsung pulang ke rumah. Tapi sebelum sampai sana, kami harus melewati ruangan kaca penuh bayi-bayi yang baru dilahirkan. Kalau saya menikah dengan ibu-ibu mereka bagaimana ya? tiba-tiba saya membuka pembicaraan. Mang kenapa? Jadi mau poligaminya? tanya Uum. Tidak juga sih. Cuman pengen tahu kalau saya nikah dengan ibunya mereka hasilnya bakal seperti apa. Apa seperti mereka? Huuuu parah! Parah apanya pikir saya. Namanya juga eksperimen. Lagian justru dengan menikahi ibu-ibu mereka dan melahirkan mereka tentunya bakalan memperbanyak rezeki. Rezeki yang tadinya hanya untuk saya saja. Sekarang malah bisa berkali lipat. Terbantu oleh rezeki si ibu-ibu dan bayibayi itu. Dengan adanya Uum dan Revo saja sudah ada 1 orang bapak tua yang memberi saya amplop. Bayangkan kalau 4 orang ibu dan anggap 1 ibu 1 anak, sudah pasti bakal ada 4
66

orang yang memberi saya amplop misterius. Syukur-syukur kalau dari 4 orang istri tadi ada yang semakmur dan sesholehah seperti Khadijah istri Rasulullah. Tidak bakal ada lagi cerita saya cari-cari investor kesana kemari. Semua sudah ditangani ma istri yang lain. Enak kan? Tapi kalau semuanya dikuret bareng dalam satu waktu? Mhmmmm Saya yakin Allah Maha Berencana. Sebagaimana terencananya Dia yang mentiadakan poliandri. Bayangkan saja, satu masalah poligami saja sudah diperdebatkan apalagi kalau ditambah boleh poliandri. Maha Benar Allah dengan Keberanan RencanaNya.

Jakarta, 19 Juni 2009

67

68

69

70

Tak Selamanya Doger itu Monyet


Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang (47:12)

Sudah sejak awal tahun ini, perempatan di Kota Bandung ramai dengan atraksi doger monyet. Tak kurang dari 11 perempatan, doger monyet hadir menemani pengemudi kendaraan. Termasuk saya. Entah siapa yang memulai, namun yang jelas, monyetmonyet yang beraksi disana memang pintar membuat orang tersenyum. Buat saya, kalau sekedar melihat Ongky pergi ke pasar atau Ongky maen bola sih kayaknya sudah basi. Maklum saya pengamat perdogeran monyet. Maksudnya sudah tau sejak kecil. Tapi kalau melihat si Ongky pake peci, sarung, gelar sajadah, dan lalu takbiratul ikhram, itu sesuatu yang baru buat saya. Hebatnya lagi, si Ongky ternyata bisa ruku hingga sujud. Ini orang apa monyet sih? Jelas monyet, Dal. Lihat itu ada ekornya. Oh iya. Masa saya lupa. Selain itu, si Ongky juga bisa gaya-gaya lain. Gaya Kurt Cobain juga dia bisa, itu lihatlah gitarnya dia bantingbanting. Gaya arek-arek Suroboyo juga bisa, itu dia sedang tiarap memegang bambu runcing. Wah itu gaya apa?

71

Pastinya gaya Valentino Rossi lagi naek motor pake helm ya, Nyet?! Bukan. Ini gaya kamu naik motor. Sialan lu Nyet! Tetapi ada gaya Ongky yang kata saya jauh menarik daripada gaya lainnya, yaitu gaya Ongky pakai topeng SBY, sambil pegang tongkat berposter Partai Demokrat. Mirip sekali seperti orang sedang demo. Terus itu poster dia acung-acungkan naik turun. Gila Monyet saja dukung SBY, pikir saya. Aksi Ongky sebenarnya tidak itu saja. Masih banyak gaya yang lain, tapi sengaja tidak saya bilang-bilang. Saya hanya ingin kasih kamu tahu bahwa Ongky memang bisa begitu, gurunya agamanya siapa saya tidak tahu, guru olahraganya siapa saya juga tidak tahu, apalagi ditanya alamat sekolahnya. Mending kamu tanya saja ke itu yang megang Ongky, sebab dia itu yang bilang ke saya kalau Ongky dilatih dan dikendalikan untuk seperti itu. Ongky secara instant dipinjamkan oleh yang punyanya buat siapa saja yang mau menyewa. Ya kayak saya ini, kata yang megang Ongky. Dia hanya menyewa sebesar Rp. 15.000 per hari. Kalau penghasilan sih sekitar Rp. 100.000 150.000/hari. Besar juga ya, Kang. Iya katanya. Jujur, sebenarnya saya kasihan pada monyet-monyet itu. Ini bukan karena monyet adalah nenek moyang manusia, seperti yang Charles Darwin bilang, tapi karena tidak berperikehewanan saja kalau saya rasa. Ongky hanya objek penderita yang digunakan manusia buat mendapatkan uang, tetapi timbal balik dari manusia ke Ongky tidaklah sebanding dengan apa yang Ongky terima. Saya tidak bermaksud menyalahkan mereka, para penyewa Ongky, sebab di alam kapitalis serta sistem rusak seperti sekarang ini, hidup bermotif sekedar mencari secuap nasi sungguh terasa begitu berat. Apalagi kalau sekedar secuap berlian. Saya jamin kalau dengan hanya mendogermonyetkan Ongky, sampai pensiun pun belum tentu akan terbeli berlian. Padahal kesehatan mereka benar72

benar terancam kalau terus menerus berada di jalanan seperti itu. Rusaknya organ tubuh tidak sebanding dengan uang yang didapat. *** Syahdan di suatu negeri antah berantah. Dari sejak awal tahun, perempatan di negeri mereka telah menjadi album foto dipenuhi dengan aneka baligo yang menampilkan wajah orang-orang yang tidak saya kenal. Tak kurang dari 48 macam bendera hadir pula di tengah pengemudi kendaraan. Entah siapa yang pertama kali memulai namun manusiamanusia itu sungguh rupawan. Photoshop berhasil dengan sukses menampilkan pesona mereka. Bahkan beberapa menambahkan tulisan tentang kebaikan diri mereka, katakata yang saling bertanding satu sama lainnya dengan menyatakan akan mengusahakan kesejahteraan rakyat, terutama sekali kesejahteraan dirinya. Ini tiada lain disebabkan mereka ingin memperoleh kursi, supaya mereka bisa duduk karena mereka sudah merasa lelah disana berdiri menjadi pandu ibunya. Buat yang terbiasa lihat foto, gaya portrait ala foto KTP sudahlah basi. Makanya itu disana gayanya sudah bermacammacam, ada yang bergaya seperti Superman, lengkap dengan kuncir S di jidatnya, lalu celana dalam salah pasangnya, dan tangan kanan yang mengepal maju ke depan mirip gambar superhero di coklat Superman. Selain itu, mereka juga ada yang bergaya lain. Gaya David Bechkam adalah gaya yang paling ngetren. Tetapi ada juga yang bergaya ala petani yang sedang macul, bahkan yang berlagak ala rockstar pun tidak sedikit. Tetapi ada gaya mereka yang kata saya jauh menarik daripada gaya lainnya, yaitu gaya menjadi artis. Mereka mirip sekali seperti artis karena memang aslinya mereka artis. Gila artis saja yang sudah terkenal begitu pasang aksi di jalanan! Kata saya.

73

Aksi mereka itu sebenarnya tidak itu saja. Masih banyak yang lainnya, tapi sengaja tidak saya bilang-bilang lagi. Kamu pasti menebak kalau saya tidak kenal guru agamanya kan? Kamu juga menebak kalau saya tidak kenal guru olahraganya kan? Kalau kamu begitu, maka kamu saya. Saya tidak kenal semua guru waktu mereka sekolah. Mending kalau kamu benar-benar ingin tahu, berpura-pura saja jadi wartawan terus bilang mau wawancara mereka. Saya jamin mereka dengan senang hati memberikan CV-nya. Namun inti yang ingin saya katakan bukanlah itu, saya hanya ingin bilang kalau mereka bisa begitu karena dilatih dan dikendalikan untuk seperti itu. Mereka secara instant diciptakan agar sesuai dengan apa yang dimau. Bahkan kalau misal ada yang menyewa pun hal itu bukan masalah bagi mereka. Kalau ada yang bilang mereka seperti boneka, ya itu sahsah saja, silakan kalau mereka ingin bilang begitu. Buat saya sih mereka tidak seperti boneka, mereka lebih mirip robot, yang digunakan sesuai kemauan dan untuk mencari duit di kemudian hari. Banyaknya duit yang didapat bisa sampai tak terhingga. Namun sebanyak-banyaknya duit yang mereka dapat tidaklah seimbang apabila dibanding dengan orangorang yang sebenarnya menguasai mereka. *** Beberapa hari yang lalu, saya sudah tidak melihat lagi doger monyet di perempatan. Katanya sih diciduk Satpol PP. Menurut kabar dari negeri yang antah berantah, aneka baligo yang menampilkan wajah orang-orang yang tidak saya kenal pun sekarang nyaris sudah tidak ada. Katanya sudah masuk masa reses Pemilu. Apakah orang-orang di negeri itu akan memberikan suara? Saya tidak tahu. Namun saya yakin selama mereka tidak serak, suara pasti akan mereka berikan. Pada siapa? Ya itu terserah mereka. Namun sesuai pengalaman saya, suara akan mereka berikan pada orang
74

yang kelak dengan sirene polisi biasanya akan menyuruh mereka minggir di jalan raya. Lalu yang menang? Tergantung jumlah penduduk disana. Kalau masyarakat dengan jumlah orang bodohnya lebih banyak, maka kemenangan ditentukan oleh mereka yang bodoh. Begitu sebaliknya, kalau masyakarat dengan jumlah orang cerdasnya lebih banyak maka itu kemenangan ditentukan oleh orang yang cerdas. Oh semoga saja masa reses disana bukan berarti memindahkan aneka baligo ke sini. Ke kota saya ini. Saya memang bukan orang yang punya kuasa menolak itu semua. Tapi sumpah! Di kota saya ini sudah terlalu perempatan dipenuhi orang yang mencari duit dengan doger monyet. Kecuali mereka sangat memaksa dan mau dianggap doger monyet, ya silakan!

Bandung, 1 Mei 2009

75

76

77

78

Begundal Militia
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya (3:54)

Akhirnya datang juga itu Arjuna Solo. Sengaja saya panggil Arjuna punya nama begitu. Meski aslinya memang tidak begitu. Bahcuy, itu emaknya kasih nama. Entah dapat wangsit dari siapa yang membuat namanya seperti itu. Yang jelas dia adalah teman yang tidak jelas bagaimana awal kenalnya. Sebab tahu-tahu dia memproklamirkan dirinya sebagai programmer IT yang juga businessman madu. Sebab istri-istrinya pada diberi madu. Itu pertanda dia punya banyak stok madu. Tapi sudahlah. Saya tidak akan bahas dia terlampau jauh, seperti jalan kaki Jakarta ke Surabaya, soalnya lihatlah dia sudah menghampiri saya dengan motor trail tuanya. Menggelinding mendekati saya, yang dari tadi asyik melihat anak-anak muda sedang berkumpul, sedang pada buat macet kendaraan, sedang asong-asongkan kardus, sedang menjadikan diri mereka seperti pengemis, sedang sedih karena kompor Merapi meleduk. Dan seperti biasa, Bahcuy meskipun kaya raya, ganteng, berkacamata, berjenggot, tetap saja tidak mau
79

menabrak saya. Walau satu kali pun. Dia malah berhenti tepat di bawah patung Slamet Riyadi. Malu kata dia. Masa orang yang lebih tua dia tabrak. Sialan. Kenapa bawa-bawa nasab. Padahal tua atau muda tidak menjadi ukuran seorang layak masuk neraka Jahanam atau tidak. Hanya yang bertaqwalah itu yang boleh dapat free pass ke surga. Tanpa basa basi yang bikin tidak enak makan, saya langsung ambil itu helm yang Bahcuy asongkan. Maklum kondisinya saat itu buru-buru. Sudah jam 3 sore. Sedangkan pesawat ke Jakarta akan take off jam 5 sore. Dan saya harus meninggalkan Solo. Kembali ke Jakarta. Mungkin bukan harus, karena kenapa juga harus harus? Wong saya tidak dipanggil Fauzi Bowo untuk bantu atasin banjir. Saya berani bertaruh, Fauzi Bowo tidak bakal memangdang saya istimewa. Pun begitu dengan walikota Solo. Saya yakin meskipun saya di Solo, saya tidak akan dicurigai sebagai teroris. Sebab saya memang bukan teroris. Tapi apa ya namanya untuk mengatakan hal itu? Untuk maksud bahwa akhirnya kerjaan kantor saya sudah beres, dan tidak selamanya bisa tinggal disana, sampai tua, karena gaji diambil di Jakarta, dan memang saya sudah kangen pengen ketemu Revo. Helmnya dah jelek, Kang. Ga apa-apa kan? Santai aja cuy. Biar jelek luarnya tapi yang penting yang makenya tidak begitu. Senyum kece saya berikan pada Bahcuy. Oh, ternyata dia memberikan senyuman manis pula. Menggoda. Sungguh romantis. Saya naik motor. Tentu dibelakang Bahcuy. Kalau di depan nanti dia tidak bisa membawa motor dengan baik. Helm saya pasang. Bahcuy juga tidak surut. Membuat kami keren sekeren-kerennya. Insyallah. Mas-mas, eike pulang dulu ya?! saya berseloroh manis manja grup ke pemuda-pemuda yang sedang pegang pegang kardus Merapi.

80

Monggo, Mas jawab seorang yang pakai jaket Juventus Mania Club chapter Solo, Mau kemana, Mas? Nyari rondo, Mas jawab saya. Rondo adalah janda kalau bahasa Jawa. Rondo??? Iya. Ini ketua Jamuro-nya jemput eike Apa? si Pemuda tidak paham. Jamaah Mujahidah Rondo Apa itu? Sudahlah. Tidak terlalu penting. Hehehe Hehehe Lalu kami jalan lagi. Lurus menyusuri Gladak, terus belok kiri memutari Benteng Vastenburg yang sudah tidak terlihat lagi bentengnya, yang ada malah rumput. Harusnya tempat itu saya ganti nama saja jadi Padang Gembala Vastenburg. Tapi tidak jadi saya ganti sebab itu wewenang walikota Solo, wewenang rakyat Solo. Nanti kalau itu saya berani macam-macam dengan menggantinya, bisa-bisa Solo minta referendum. Seperti Yogya. Dari situ motor melintasi perempatan, menerobos lampu hijau, menuju Jalan Ronggowarsito. Melewati banyak rumah dan toko. Ingin rasanya saya ikut numpang kencing di salah satu rumah yang ada logo keraton Solo-nya. Sekedar ingin tahu, seperti apa rasanya kencing di rumah bangsawan. Bedakah? Atau sama saja? Tapi itu tidak juga saya lakukan. Karena saya tidak punya darah biru, Bahcuy juga tidak. Tak lama dari situ, motor Bahcuy belokan ke arah kiri lalu belok lagi ke kanan, membuat kami bagaikan Valentino Rossi. Masuk ke Jalan Kalitan. Dan membuat saya bertanya seakan saya sering mendengar nama itu. Itu Bahcuy saya buat tanya. Kenapa saya sering sekali mendengar nama ini, tapi lupa apakah gerangan yang menempel pada nama itu. Bahcuy memberhentikan motornya. Persis di depan rumah yang berbenteng besar, plus mesjid di depannya.

81

Ini mungkin Kang maksudnya Bahcuy coba memberi saya jawaban. Saya lihat. Saya turun. Saya benerin celana. Oh, kalau yang kayak begini sih tidak penting kata saya pada Bahcuy. Lebih baik pergi lagi. Tapi oh tidak. Dua kardus besar dan ransel yang saya pakai membuat saya tidak nyaman. Membuat seakan-akan saya seperti perempuan yang lagi bocor. Gerak ke kiri salah, ke kanan juga salah. Berat ya Kang? Bahcuy perhatian. Iya, Cuy. Kayak mengendong traktor kata saya. Hehehe buang aja, timpal dia Daripada buat repot Buang dimana? Sono! tunjuk Bahcuy ke arah bangunan besar berbenteng kokoh itu. Ogah! Tar eike dikira nyimpen bom. Tar eike diapaapain. Tar tidak jadi pulang Sekali-kali lah, Kang Sekali-kali gundulmu Gundul pacul kali. Hehehe tawa Bahcuy Mending kalau beneran isinya bom. Lah, ini isinya roti kecik sama batik ibu-ibu. Teroris macam apa eike? Tar malah disomasi teroris gara-gara melecehkan mereka Hahaha Teroris yang menteror janda-janda, Kang! Hahaha saya ikutan tertawa. Meskipun sebenarnya tidak nyambung. Nantinya, setelah habis itu tertawa, kami melanjutkan perjalanan lagi. Belok kanan ke Jalan Muwardi untuk kemudian belok kiri ke Jalan Adi Sucipto. Melewati patung Srikandi lagi megang panah. Membuat saya berkata pada Bahcuy bahwa Solo itu memang kota yang tepat untuk berpoligami. Karena eh karena istri kedua Arjuna saja sampai dipatungkan. Itu sama artinya bahwa masyarakat Solo sudah terbiasa dengan poligami. Tidak ada yang risih dengan pernikahan seperti itu. Kalau istri kedua saja dibuat patung,
82

istri pertama saya yakin dijadikan berhala bahkan disembah bak dewata. Tak usah saya ceritakan apa reaksi Bahcuy. Sudah pasti bisa kamu ditebak. Tapi itu tidak membuat Bahcuy menjadi lupa diri lantas tabrakan. Justru dia semakin menancap gas menyusuri jalanan Adi Sucipto yang besar dan lenggang ini. Bukan karena dia jelek dan malu. Tapi karena buru-buru. Orang biasanya kalau malu di jalan, takut mukanya kelihatan, jalanin motornya dengan kecang. Tapi yang percaya diri, jalanin motornya pelan, biar mukanya dinikmati orang-orang. Itu bertemu pertigaan lalu bikin motor belok ke kanan. Dari kejauhan nampak area kosong terbuka. Seolah-olah itu bandara. Tapi memang itu bandara tidak pakai seolah-olah. Begitu juga dengan aparat yang sejak dari Solo banyak sekali. Hampir di sepanjang jalan, hampir di setiap gang, hampir di setiap belokan. Mereka tidak seolah-olah seperti aparat tapi mereka memang aparat. Ada yang loreng, ada yang coklat, ada yang biru, ada yang tulisan satpol pp, ada satgas tulisan partai, ada yang tulisan perhubungan, ada tulisan pemda, ada band ga ada. Persis setelah belok kanan, beberapa puluh meter setelahnya, di sebuah plang besar bertuliskan bandara Adi Sucipto, saya dan Bahcuy diteriaki oleh aparat yang jumlahnya tak karuan itu. Beberapa orang berseragam loreng berlari mengejar kami. Di depan sudah ada aparat berbaju coklat siap menghadang. Bahcuy buat itu motor berhenti. Ckitttt Sejujurnya kami tidak mau berhenti. Kami anggap ini adalah halusinasi. Cobaan dari Allah untuk menguji keimanan seseorang. Tapi apa daya. Itu mereka pegangpegang laras panjang. Belum laras pendek. Belum laras yang menggantung. Jadi, tidak ada pilihan bagi kami selain berhenti. Lebih-lebih dengan kondisi motor trail Bahcuy,

83

yang kalau diajak sprint sepertinya yang menang adalah yang ngajak sprint. Hey, mau kemana Mas! itu bapak pakai loreng, bersepatu lars, berikat beceng bertanya. Kontan kami menjawab. Tapi kenapa kontan ya? Kan dia dan kami tidak dalam sedang akad mengucapkan ijab kabul di depan penghulu. Lagian masa langsung 2 orang yang menjawab kontannya. Pernikahan apa pula ini. Adakah pernikahan seperti ini. Saya rasa tidak ada. Tapi di Solo kota poligami bisa jadi itu ada. Mungkin. Bandara, Pak! jawab Bahcuy dan saya beriringan. Mau apa?, tanya Bapak loreng, Ini area sedang disterilkan, Mas Bahcuy dan saya saling berpandangan. Kalau saja ini film India. Pasti adegan saling pandang ini buat romantis sekali. Tapi tidak usahlah berpikir begitu. Nanti saya dikira maho lagi. Nanti Bahcuy digugat oleh isteri-isterinya. Padahal pandangan ini hanya pandangan untuk saling bertukar isi hati. Dari hati turun ke mata. Dan Alhamdulillah nampaknya koneksinya lancar. Bahcuy mengerti hati saya, saya mengerti hati dia. RI 1 atau RI 2 jadinya, Pak? sok tahu Bahcuy tibatiba. Saya memilih diam. Melihat suasana dulu. Sebab ternyata kami sudah dikelilingi orang-orang kekar berseragam. RI 2, Mas, masih oleh Bapak loreng yang tadi,Mas, mau kemana? Coba turun dulu Wah, sial pakai acara turun pula. Nampaknya ada hawa tak sedap itu di mata mereka melihat kami. Padahal apa salah kami. Handsome its not crime, Man! Begitu dalam hati saya. Sayang si Bapak loreng tidak bisa membaca hati saya. Kalau dia bisa, seperti Bahcuy, pasti dia akan mengiyakan, Yoi, bo! Sekonyong-konyong,Komandan saya mana ya? Bahcuy lirik kanan kiri.
84

Komandan apa, Mas? Gories, Pak timpal saya. Membuat Bahcuy melirik. Begitu juga Bapak loreng. Begitu juga teman-temannya. Bapak siapa? mendadak Bapak loreng mengganti sapaannya pada kami. Sesamalah Pak. Maaf tidak boleh terlalu mencolok jawab saya sambil berkata sesama manusia dalam hati. Anti teror? Saya dan Bahcuy saling lirik. Pasang senyum. Ini senyum bukan berarti iya. Ini senyum yang entah apa artinya. Silakan tafsirkan sendiri. Si Bapak loreng dan temannya pun pasti saling menafsirkan. Saya yakin mereka punya tafsir berbeda-beda. Bukan hanya tafsir Ibnu Katsir. Bisa jadi tafsir Sayyid Quthub. Atau tafsir Quraisy Shihab. Sebentar ya Pak Bapak Loreng meminta kami menunggu lalu dia pergi. Mendekati pria baju coklat. Sepertinya dia bos di acara ini. Yang lain, yang mengkerubuti kami, mencoba PDKT. Ya itu pendekatan. Seperti orang mau pacaran begitu. Ada operasi lagi disini? tanya yang satu. Perasaan di daftar yang datang tidak ada Pak Gories tuh satu lagi ikutan tidak mau kalah. Namanya juga operasi begini Pak, jawab Bahcuy Tuh, kita bawa bahan-bahan di kardus. Tunjuk Bahcuy ke arah 2 kardus yang saya pegang di kanan kiri. Itu bukan handak kan? ada satu lagi yang bertanya. Berapa yang tertangkap sekarang? Bapak yang pertama tanya bertanya lagi. Seolah-olah mereka sedang balapan. Saling mendahului untuk menjadi penanya nomor satu. Harus langsung ke komandan, Bos jawab saya seperti menjawab ke Bos di kantor. Atau mungkin lebih enak kalau seperti menjawab ke teman sederajat. Oh iya, saya akhiri dengan senyum, agar terkesan akrab. Agar terkesan kita kawan lama.
85

Tidak berselang lama, sebelum semua pertanyaan dijawab, Bapak baju coklat yang dipanggil Bapak loreng datang menghampiri. Menyebabkan dirinya seperti Jelangkung. Datang tak diundang, pulang tidak bakal saya antar. Lantas dengan spontan, saya kasih dia hormat seperti Rambo ketemu komandannya yang datang mau ajak pengajian. Tangganya saya pegang. Tentu saja bukan maksud melecehkan. Hanya sekedar salaman saja. Bahcuy juga ikutan itu tangannya. Kok tidak ada koordinasi ke kami kalau beliau ikut di rombongan RI 2? kata Bapak baju coklat seakan-akan menyalahkan kinerja anak-buahnya yang ada di lapangan. Kami juga diberitahu mendadak, Dan jawab saya. Bukan saya sok tahu kalau nama Bapak itu bukan Dani. Sebab nama dia memang bukan Dani. Bukan juga Dadan. Bukan juga Wildan. Bukan juga Danti. Ah sudahlah. Dia itu saya anggap komandan. Kira-kira rombongan posisinya masih dimana, Dan? Bahcuy coba bertanya. Tadi sih masih di Solo, jawab Komandan Baru beres acaranya Oh, mungkin sekitar setengah jam lagi kalau begitu Ya Kalau begitu, kami izin untuk menghubungi komandan saya, Dan, kata saya Biar lebih jelas lagi Oh ya silakan jawab Komandan yang tiba-tiba terdengar suara dari balik saku celananya. Lalu tangan dia merogoh ke saku. Masyallah, ada benda kotak plastik bisa bicara. Punya nyawakah dia? Ah, kamyu suka lebay dech. Itu kan HP! Oh iya itu HP. Maaf saja saya kan grogi. Lalu itu saya dan Bahcuy coba memberi jarak dengan Komandan. Agar dia leluasa. Khawatir itu dari istrinya yang minta jatah uang belanja. Sambil masih berdiri disana, dengan masih juga dikelilingi orang-orang yang bertanya tadi, Bahcuy coba berbasa-basi menggunakan bahasa Jawa.
86

Sayang saya tidak mengerti. Jadi tidak bisa saya tulisankan disini. Lagian kalau pun dituliskan, saya tidak bisa menuliskannya. Saya tidak belajar huruf Jawa waktu SD. Kok pesawatnya jauh disana ya, Pak kata saya ikut memecah obrolan yang bagi saya sungguh rasis. Itu saya sambil lihat pesawat-pesawat komersil ada di ujung seberang sana. Bandaranya kan disana! jawab Bapak Loreng. Oh disana. Saya kira disini Disini pangkalan militer saja, kata Bapak Loreng Baru dinas disini ya? Iya saya tersenyum. Kalau begitu kami izin dulu mau lihat kondisi bandara. Mumpung rombongan belum datang, saya coba mengajak Bahcuy dengan tatapan mata lagi. Untuk turun ke hati Kebetulan ada informasi disana yang harus dicek Oh, baik, kata Bapak Loreng Nanti ikuti saja jalan aspal ini. Disana nanti ada petunjuk jalan masuk Bandara Lihatlah itu, lihatlah kami, menyalami Bapak-Bapak yang ada disitu. Lalu kasih hormat lagi ke Komandan yang asyik di telepon istrinya, mungkin. Saya segera naik motor setelah Bahcuy menyuruh saya naik. Dan tidak lupa bilang terima kasih pada mereka. Kami pergi. Pergi meninggalkan mereka yang berseragam disana. Menyusuri jalanan aspal lagi. Cuy, kok salah mampir sih? Saya juga ga tahu, Kang, jawab Bahcuy Saya juga baru kesini. Kirain yang tadi bandaranya Parah kamu mah, euy! Hahaha Tapi asyik kan, kang?! Kayaknya jawabanmu itu tidaklah perlu saya jawab. Kamu pasti tahu apa yang saya suka. Seperti sukanya saya ketika motor yang kita naiki sampai di gerbang Departure. Lantas saya dengan suka cita memberikan uang 25 juta untuk kamu sampaikan pada para janda. Dan kamu bilang insyallah
87

saya sampaikan sambil kemudian kita berpelukan seperti Telletubbies. Lalu tak lupa kamu ucapkan salam. Assalamualaykum. Wasallam kata saya. Motormu lantas melaju. Tapi kemudian balik lagi. Kamu minta uang 2000 buat bayar parkir. Sebab bayar parkir 25 juta terlalu berlebihan katamu. Islam mengajarkan kita agar jangan berlebihan. Betul apa yang kamu kata Cuy. Kamu memang selalu menasihati saya. Kapan kamu menasihati saya lagi di Solo? Ah kayaknya tidak perlu di Solo ya Cuy? Di Jakarta saja. Kan kamu sudah di Jakarta. Ikut pesantren tidak kilat. Tapi, bisa tidak suatu saat kamu izin pada para ustadz untuk membesuk saya. Tentu saja tidak dengan motor trailmu itu. Sebab dia sudah kau tinggalkan begitu saja di kantor Pos Solo. Dan saya memang tidak rindu dia, tapi rindu kamu.

Bogor, 15 Desember 2010

88

89

90

Democrazy
Barang siapa tidak berhukum kepada apa yang diturunkan Allah (syariat Islam), maka mereka termasuk orang-orang kafir. (5: 44 )

Sudah dari sejak jam 7 pagi tadi, suara TOA dari masjid dekat rumah saya terus berkoar-koar. Bukan lantunan suara orang yang sedang tilawah, bukan juga khatib yang sedang khutbah, tapi ajakan Pak RT agar warga segera hadir ke TPS. Bagi yang belum terdaftar segera lapor. Saya sudah terdaftar di DPT belum ya? Semoga tidak. Kasian kalau nanti saya menambah beban panitia. Mending saya tidak daftar saja. Lagi pula, kalau saya terdaftar, maka rencana piknik saya dengan Revo akan berantakan. Tetapi kalau benar-benar terdaftar, mau datang? Oh tentu saja, Tidak. Lebih baik saya keliling Bandung, sudah beberapa waktu terakhir ini saya tidak pernah lihat indahnya Bandung. Tentunya bukan keindahan moleknya wadam-wadam Jl. Tera. Da itu mah bukan indah namanya, yang ada juga garila (terj; menjijikan). Tetapi keindahan karena Bandung kembali lenglang. Itu bahasa Sundanya untuk bersih tidak carut marut. Sudah 6 bulanan kota Bandung yang saya cintai ini pabalatak (terj: berantakan) oleh baligo-baligo caleg dan bendera partai. Hampir tiap sudut jalan, gang hingga WC umum tak urung terkotori oleh itu. Perlu diingat, WC
91

memang tempat membuang kotoran, tetapi itu yang saya maksud bukan kotoran. Lalu apa? Ah, kamu pasti sudah tahu bukan? Namun mau gimana lagi, namanya juga bulan Pemilu. Kalau yang dimana-mananya janur kuning nanti malah sedang dikira bulan Rayagung, bulan musim nikah. Masih untung dikira musim kawin. Kawin itu enak dan menyenangkan. Bagaimana kalau yang dimana-mana itu karangan bunga kematian. Bisa jadi populasi pocong di Bandung bertambah dengan drastis. Berbicara pemilu, saya teringat dengan pemilu yang pernah saya ikuti dulu. Berapa kalinya saya sendiri lupa, bukan bermaksud saya tua, sumpah saya masih musa, tapi wajarkan kalau lupa, namanya juga manusia. Seingat saya, saya pernah datang 2 kali ke TPS. Kalau tidak salah itu pemilu di masa akhir Soeharto, satu lagi pemilu setelahnya. Sebenarnya seru sih datang ke TPS. Apalagi buat pemilih pemula seperti saya. Itu tahun sedang 1997. Beruntung kala itu partai masih 3 biji; PPP, Golkar, PDI. Jadi saya tidak pusing-pusing harus memilih apa. Tinggal coblos salah satu beres deh. Dan itu juga yang saya lakukan. Saya coblos 3 lembar kertas suara itu. Setiap lambang partai saya coblos semua. Jadi total saya mencoblos 9 kali. Gak boleh, Dal! Mencoloknya harus satu kali. Ah kamu sok tahu, kata saya. Ye, saya kan panitia TPS. Oh Panitia ya, sudah tanggung ah. Lagian saya ingin adil. Kalau saya coblos satu gambar saja, nanti yang lain sirik. Begitu juga ketika di tahun menjadi 1999. Ketika sampai TPS, saya tidak langsung masuk bilik suara, tapi belok ke kotak suara. Sontak itu bapak-bapak panitia, yang juga tetangga saya, yang juga guru ngaji saya, yang juga pernah nyuapin saya makan, itu pada protes. Itu pada ramai-ramai teriak. Pada ramai juga yang datang menghampiri saya. Mereka suruh saya masuk bilik suara dulu. Namun saya tidak mau ikut saran mereka.
92

Kalau masuk sana, harus sudah ijab Kabul kata saya. Ijab kabul gimana? jawab tetangga yang rumahnya persis sebelah rumah orang tua saya. Soalnya kita kesana kan mau menusuk siapa yang kita suka, sehingga dengan itu nanti dia bisa membesar Ah dasar mesum kamu mah! Bilang aja golput. Pakai banyak alesan segala! Ya memang saya memilih golput. Itu sengaja saya tidak bilang-bilang golput, agar yang menyimpulkan bapak-bapak semua. Saya takut riya kalau saya mengaku golput. Sebab golongan putih biasanya adalah orang-orang yang baik, dan golongan hitam adalah penjahat. Entah malas atau bingung, panitia mengijinkan saya memasukan surat suara langsung ke kotaknya, dan membiarkan saya pergi begitu saja tanpa menodai jari saya dengan tinta pemilu. Ya sudah, dengan senyum bahagia saya melangkah balik lagi ke rumah. Sejak saat itu, saya mulai dikenal tetangga sebagai pemuda golput (golongan putih). Maklum di lingkungan saya tidak ada yang golput secara terang-terangan seperti ini. Tapi mereka memaklumi. Mungkin karena dulu status saya masih mahasiswa. Kamu pasti tahu bagaimana lagak mahasiswa kan? Namun sumpah, saya sebenarnya tidak mau dibilang golput, sebab kulit saya hitam. Menyebut saya golongan putih, kesannya malah menghina warna kulit saya. Bukankah biasanya orang yang kulitnya hitam suka dibilang Hey, putih mau kemana kau? Mulai dari situlah, orang-orang kemudian tidak peduli saya hitam atau putih, mau milih atau tidak, yang jelas bagi mereka, saya ini tukang mengedarkan tulisan. Ya sejenis mengedarkan ganja begitulah cara-caranya. Tetapi yang ini tidak pakai sembunyi-sembunyi. Ini dilakukan terbuka, dan memang buka-bukaan kalau pemilu itu dilakukan dalam sistem democrazy, seperti sekarang ini. Syukurlah, saya bilang, ini memang yang saya harapkan.
93

Sekali waktu, pernah di Pemilu 2004, saya ditawari seorang middle class genit yang katanya buruh, idealis temporer, dan elitis untuk membentuk partai yang berbasis mahasiswa. Sebuah partai yang akan mengobrak-abrik kekacauan parlemen saat ini. Itu lantas saya berpikir, katanya oposan abadi, kok malah main di politik formal sih? Saya pikir, ketika mereka melakukan itu, maka sejatinya mereka telah menggadaikan idealismenya. Sebab memang begitulah biasanya watak democrazy, ia hanyalah sebuah panggung komedi tempat orang mengorbankan harga diri orangnya. Dal, sikap kamu itu menghambat pembangunan dan kemajuan tau! Ah pernyataan yang sangat-sangat basi, sebasi umur demokrasi itu sendiri. Bagaimana tidak basi kalau democrazy sendiri ditentang oleh tokoh-tokoh di jaman sistem itu diciptakan. Dalam buku karangan Dave Robinson dan Chris Garratt, Etika for Beginners, halaman 34 & 35, Plato yang punya guru Socrates, tidak pernah memaafkan kaum demokrat yang telah membunuh gurunya, lantaran Socrates menentang democrazy. Democrazy menurut Plato berarti kericuhan, berkuasanya mafia ganas berdarah dingin yang mudah memperalat para politikus. Buktinya Dal? Itu kamu bertanya lagi pada saya. Lihatlah pemilu-pemilu yang ada sekarang, hanya orangorang kaya saja yang bisa bermain dalam permainan democrazy ini. Rakyat hanyalah tumbal dan pelengkap penderita. Sekalipun ada segelintir rakyat yang ikut bermain, posisinya hanya sebagai pelengkap, bukan penentu kebijakan. Kebutuhan terhadap uang yang besar saat kampanye membuat munculnya orang-orang kaya yang seolah-olah mafia politik. Atau malah sebaliknya, atau memang dua kepribadian? Maka jangan salahkan kalau bandar-bandar judi dan semacamnya ada dibelakang para politis. Sumpah saya tidak bohong. Saya dapat info ini dari pengakuan mantan anggota DPR.
94

Namun meskipun begitu negatif kesannya partai politik, buat saya partai-partai itu masih ada sisi baiknya. Sisi baiknya adalah, kalau mereka mau berubah menjadi partai yang baik dan benar, yaitu dengan memisahkan tiga huruf terakhir lalu mengganti huruf ketiga dari tiga huruf pertama dengan huruf N, dari PARTAI menjadi PAR TAI lalu diganti jadi PAN TAI, kamu pasti tidak mengerti. Sebab itu adalah bahasa Sunda. Pan sama artinya dengan Kan . Atau daripada repot-repot harus merubah sampai berkali-kali, hilangkan saja semua tiga huruf awalnya, maka akan kamu dapatkan sesuatu yang asasi, yang tanpa adanya itu maka kamu mati.

Bandung, 08 April 2009

95

96

97

98

Korupsi
Dan janganlah sebagian dari kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil (2:188)

Andai saya perempuan, mungkin saya tidak akan ditertawakan Anton kala itu. Ya memang kenapa sih kalau laki-laki menangis? Sudahkah menangis itu dimonopoli kaum perempuan? Seperti dimonopolinya jabatan ketua marketing untuk pensi, yang kalau saya memang beneran perempuan, maka saya akan mudah menerobos satpam untuk nodong bos-bos perusahaan, lalu bos-bos itu tanpa merasa ditodong menandatanganinya, sehingga sepulang dari sana, saya dielu-elukan para cowok di lapangan basket, mungkin pakai diantar-jemput segala, pakai sisingaan, lalu tiba-tiba ada cowok memberi bunga dan langsung menyatakan cinta. Ah, sungguh romantisnya kalau itu semua terjadi. Tetapi saya bukan bermaksud mau menjadi perempuan. Sebab saya masih bangga dilahirkan sebagai laki-laki. Maaf bukan masih, hilangkan saja kata masih, saya tidak mau ada intrepestasi lain. Sebab dengan menjadi laki-laki, saya tidak perlu pusing kalau mau pipis. Dimana saja jadi. Di pinggir jalan pun oke kalau memang terpaksa, kalau memang merasa tidak beradab. Dengan badan laki-laki, saya tidak terlalu bermasalah dengan perut yang membuncit, turun dan melebar pasca-persalinan. Saya juga tidak harus perlu takut
99

jerawatan. Tak perlu cemas dengan keriput di sekitar bibir dan mata. Sungguh laki-laki memang laki-laki sekali. Dan saya seharusnya memang tidak malu untuk menangis. Karena lihatlah itu banyak juga laki-laki yang menangis. Sebelah kanan saya menangis, di depan saya juga, di belakang, saya tidak tahu karena saya tidak punya mata di belakang. Sebelah kiri saya tidak menangis. Ya itulah dia si Anton. Teman kantor saya yang juga dikirim mengikuti acara motivasi anti korupsi di hotel yang super mewah ini. Entah darimana uangnya. Semoga bukan dari uang korupsi. Soalnya itu saya masih saja bertanya-tanya sampai acara ini dilangsungkan. Bertanya-tanya atas nama dari acara yang diadakan; Pelatihan WBK, Wilayah Bebas Korupsi. Kalau bebas korupsi, bukannya artinya bebas korupsi dimana saja. Ah cemen, gitu aja nangis! ledek Anton. Eike bukan menangis karena denger motivatornya, bo Lalu menangis kenapa? tanya Anton Ngaku saja lah! Karena gatel pantat. Kalau garuk-garuk disini. Malu diliatin yang belakang Jujur sebenarnya bukan itu alasan saya menangis, Ton. Bukan menangis karena Ballroom Grand Melia ini akan runtuh, bukan juga sedih karena diajak berkelahi narasumber diatas podium, sebab dengan peserta 1300 orang, narasumber bisa jadi perkedel dengan mudah kalau dia berani menantang. Bukan juga menangis karena terlalu lama duduk sehingga membuat ambeien saya kambuh. Begitu saya bilang di dalam hati. Sengaja saya tidak bilang-bilang dia apa yang saya katakan dalam hati tadi. Kalau saya bilang-bilang nanti dikira bohong, dianggap tukang bohong. Tapi kenyataanya, memang saya telah berbohong pada dia. Demi gengsi, sudahlah tidak usah itu terlalu dipermasalahkan. Kalau saja kamu tahu, Ton, kita ini juga adalah koruptor kelas kakap. Memang benar di kantor kita sudah tak ada yang begitu, kecuali yang nekad dan tidak tahu malu, tapi kenyataannya kita tetap seorang koruptor. Coba bayangkan
100

berapa banyak hukum syariat Allah yang kita korupsi hingga detik ini. Alih-alih mengaku muslim sejati tapi banyak aturan Allah tidak kita lakukan. Syariat hanya sekedar jargon di jalanan, di pengeras-pengeras suara aksi demontrasi. Kita yang baru sebegini saja sudah koruptor. Apalagi dengan para pemimpin negeri ini. Yang tadi pagi saja, kamu lihat sendiri kan Ton, betapa karena ingin pergi ngantor saja, maka kita rakyat dibuat macet hingga setengah jam lebih. Para penguasa itu merasa jalan adalah milik mereka sendiri. Padahal jalan itu adalah milik umum. Makanya dinamakan jalan umum. Bukan jalan presiden, bukan jalan Susilo, bukan jalan Yudhoyono, bukan jalan Ani. Lain kalau yang melintas adalah Gajahmada, Rasuna Said, Husni Thamrin, T.B Simatupang, Teuku Umar, Panglima Polim, mereka berhak bikin macet jalan. Sebab ada jalan yang dinisbatkan atas nama mereka. Tapi tentu untuk jalan yang ada nama mereka saja. Selain itu haram hukumnya bagi mereka. Namun kau tahu kan, Ton. Mereka semua sudah mati. Maka mereka sudah tidak bisa lagi menikmati kemudahan bertransportasi di ibukota. Begitu juga ahli warisnya. Sebab kemudahan ini tidak diwariskan. Dan hanyalah harta yang diwariskan dalam syariat bukan jalan umum. Maka beruntunglah mereka yang memiliki nama Sudirman, Kartini, Harsono. Setidaknya mereka masih punya kesempatan untuk menikmati secara privat jalan-jalan yang ada di ibukota. Karena nama seperti itu masih banyak tercantum di Yellow Pages. Hanya saja itu pun dengan catatan, nama mereka harus persis sama dengan orang-orang yang dimaksud itu, baik gelarnya maupun titik koma namanya. Kalau Jenderal, maka dia harus jenderal. Kalau Raden Ajeng, maka dia pun harus raden ajeng. Diluar semua itu, ketakutan saya yang paling sangat adalah pada perempuan. Sebab sampai detik ini saya masih berkeyakinan kalau perempuanlah yang menjadi inspirator tindak korupsi yang dilakukan anak dan suami mereka.
101

Ini bukan berarti saya menyalahkan perempuan karena isu bias jender. Bukan itu. Bukan pula karena rasa kesuperioritasan saya sebagai laki-laki. Semua hanya saya coba dudukan dalam posisi yang sejajar. Bukankah itu yang selalu diminta kaum feminis? Kalau laki-laki banyak yang korupsi, maka bisa jadi, atau malah sangat mungkin, banyak juga perempuan yang korupsi. Adil kan? Contohnya begini, jika perempuan itu seorang ibu, dia seharusnya tidak mendongengkan lagi kalau si Kancil itu licik, suka mencuri, dan selalu lolos dari kepungan Pak Tani. Dongengnya boleh tetap sama, dengan bahasa dan simbolsimbol anak, namun dongeng tersebut diberi spirit lain. Sebab selama ini yang saya tahu, spirit yang ditangkap adalah spirit Liciklah atau licinlah bagai belut, maka kamu akan selamat mengarungi hidup. Bukankah akan lebih baik para ibu menekankan bahwa Dengan licik dan licin kita bisa hidup, tetapi pada akhirnya siapa yang salah akan ketahuan. Tidak ada salahnya mengubah tradisi dongeng, karena tidak semua tradisi itu baik dan bisa dipertahankan. Kalau para perempuan mau mempertahankan tradisi, kaum perempuan di Jakarta tak ada yang pakai bra. Karena kutang itu berasal dari Barat. Saya tidak berani membayangkan bagaimana para perempuan berjalan tanpa penutup dada. Lantas dada-dada itu bergandul melenggang di trotoar jalan, di busway, di. Ah saya tidak mau melukiskannya. Nanti kamu kira saya cabul, Ton. Nanti kamu kira saya pornoaksi. Yang jelas kalau perempuan bisa berubah dari buka dada ke nutup dada, Alhamdulillah kalau sampai menggunakan jilbab dan kerudung, kenapa pula dongeng tradisi tidak dirubah sekalian. Minimal spiritnya yang diubah. Tapi kalau begitu kan bagus, kata Anton Bisa lihat gratisan tiap hari. Sumpah Anton tidak berkata begitu. Itu hanya tebakan saya manakala kalau saya sampaikan itu tadi pada Anton. Soalnya saya tahu sekali apa yang akan dia bilang. Dan kalau
102

pun dia beneran mengatakan seperti itu, saya akan katakan lagi padanya, maka gratis pulalah saya melihat dada istri kamu, ibu kamu, anak kamu, dan bahkan nenek kamu yang sudah renta itu. Jangan marah kalau saya ngacay! Sekarang jika kebetulan perempuan itu sebagai istri, sudah pasti tidak harus mencuci kaki suaminya lalu mengajaknya bobo dan mendongenginya. Seperti ke anakanak mereka. Para suami terbiasa didongengi ibunya dahulu. Sudah bosan. Sudah hapal. Kata mereka. Dengan posisi susah buat mendongengi suami seperti itu, maka para ibu sebenarnya bisa mencegah suaminya untuk menempuh jalan Kancil di lapangan pekerjaannya. Sepertinya memang mudah tapi mungkin susah. Karena arena persaingan antara perempuan wa bil khusus istri, misalnya soal dandan dan penampilan, ujung-ujungnya dapat mendorong suami membabi-buta memburu uang. Contoh; Calon suami yang hampir dinikahinya direbut perempuan lain. Perempuan korban ini sakit hati. Dia juga kawin pada akhirnya. Dia picu suaminya kini untuk berprestasi agar perempuan yang dulu merebut calon suaminya tahu rasa. Berprestasinya tentu yang penting asal prestasi tanpa melihat benar atau salah jalan yang suaminya ambil. Tidak gampang menghapus persaingan antar-perempuan. Karena berbagai abad mengajarkan bahwa persaingan itu selalu ada. Namun sungguh sangat elok kalau persaingan para ibu itu dirubah menjadi persaingan cantik-cantikan alami. Persaingan sederhana-sederhanaan tetapi bikin happy. Saya ga bakal korupsi, Dal! tiba-tiba Anton berbicara di tengah sibuknya saya melamun. Sumpah itu beneran Anton yang bicara. Bukan saya yang mengkhayal. Kan tadi saya sudah bilang, saya tidak mau disebut pembohong. Saya catat ya omongan kamu itu! ancam saya. Sok aja catat! Nanti tidak bisa kaya lo!

103

Gampang. Saya mau berdoa saja pada Allah agar saya diberi rizki yang besar. Agar dilindungi. Agar disayangi. Banyak zikir banyak rezeki. Hahaha... Wah tumben ngomongnya lurus, Ton kata saya, yang lalu berpikir, kalau kamu berkata begitu, maka seharusnya kamu juga menilai sudah seberapa besar rezeki yang kau terima dari Allah untuk kau berikan menjadi rezeki orang lain. Sudah seberapa besar rasa sayang dari Allah yang kau transferkan pada orang lain. Sudah seberapa besar perlindungan dari Allah yang kau kasihkan pada orang lain. Ton, banyaknya zikir tidak ada pengaruh apa-apa bagi-Nya. Kerajaan Allah besar. Dia tidaklah butuh pujian. Dia hanya ingin kamu tahu bahwa sejatinya pujian yang kamu ucapkan itu adalah hikmah untukmu. Agar kamu tahu dan sadar bahwa kamu jangan merasa lebih suci karena ada yang lebih suci daripada kamu. Tiba-tiba ada seorang menepuk pundak saya. Oh itu Zaenul. Ternyata dia dikirim juga untuk acara ini. Sholat yu!, ajak dia Sudah adzan Ayo jawab saya. Ton, tidak ikut? tanya Zaenul ke Tono. Gak ah. Lagi M. Hehehe Males lu mah! cibir Zaenul. Biarin aja dia mah. Dia sudah dapat kompensasi sebagai muslim yang boleh tidak shalat kok kata saya. Kok bisa? Zaenul heran. Anton pun mendadak heran. Meski dia muslim, dia sudah dijadikan wakil oleh keluarga besarnya sebagai duta mereka di neraka. Bener tidak, Ton? Sialan, lo!

Jakarta, 1 Desember 2009

104

105

and the real bomber is


Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (24:11)

Itu hari mendadak Jumat. Entah kenapa saya tidak Jumatan. Mungkin karena saat itu jam masih menunjukan 7 pagi. Atau mungkin karena khatibnya belum datang. Ah biarlah. Itu urusan dia. Saya kan tidak akan sholat Jumatan di deket kontrakan. Saya sholat di kantor saja yang Jumatannya jam 12 siang. Bagi saya jumatan di kantor lebih menarik. Sebab banyak orang jualan. Jualan apa saja. Dari bibit toge sampe moge. Semua ada. Menyebabkan mesjid seperti pasar yang kaget. Meski tidak ada orang-orang yang kaget karena hal tersebut. Mungkin sudah terbiasa. Mungkin. Namun sebelum saya pergi ke pasar eh ke masjid. Tentunya saya harus ke kantor dulu. Sebelum ke kantor pasti saya harus mandi dulu. Kalau tidak mandi saya suka kasihan dengan sabun dan shampo di kamar mandi. Mereka jarang saya pakai. Bukan saya jorok atau tidak suka mandi tapi hal ini sebenarnya dilematis. Sebab bila saya sering memakai mereka, saya laksana seorang pembunuh berdarah dingin yang pelan-pelan membunuh mereka. Seperti halnya pagi tadi. Saya menyengajakan diri menjadi pembunuh lagi. Itu saya lakukan ketika menjadikan
106

diri saya seperti Inem si Pelayan Seksi. Obral pantat kesana kemari, sambil tak lupa mengepel lantai. Namun sebelum menjadi pembunuh. Saya jadikan diri saya Tuhan. Saya hidupkan TV. Berhasil. TV-nya hidup. Dia berbicara bahasa manusia. Katanya ada bom di sebuah tempat di pusat Jakarta sana. Busyet! Saya bunuh itu TV. Tapi tak lama saya hidupkan. Penasaran ceritanya. Awalnya saya mengira apa yang TV bincangkan pada saya adalah sebuah adegan sinetron. Baik juga ini TV memberi saya kisah menarik di pagi hari. Mentang-mentang saya Tuhan baginya. Padahal buat Tuhan seperti saya, tidak usahlah membalas budi seperti itu kalau hanya mau mencuri hati Tuhannya. Saya cukup tahu diri kok sebagai Tuhannya TV saya. Saya Tuhan yang Maha Tidak Arogan. Selang beberapa menit sejak saya hidupkan TV, saya buat diri saya bagai arca Buto Cakil akibat gambar-gambar dan berita yang TV berikan pada saya. Lama saya berpikir. Antara sadar dan tidak. Saya kebingungan antara meneruskan mengepel lantai atau duduk dengan tekun melihat TV. Sebab di waktu yang akan datang, tidak lama lagi, saya harus pergi bekerja. Ah biarlah kata saya. Sekali-kali telat tidaklah mengapa. Apalagi tempat dimana yang mana TV katakan itu sangat dekat dengan keseharian saya. Kuningan itu bersebelahan dengan Ciamis dan Mak Erot, dia legenda segala jaman dari Tatar Sunda. Dan kebetulan sekali saya terlahir dari orang tua yang berasal dari Ciamis serta bersuku Sunda. Tapi bukan Mak Erot tentunya. Sebab Mak Erot dari Sukabumi. Namun sayang, saya salah dengar. Ternyata yang dimaksud Kuningan bukanlah Kuningan yang dekat dengan kampung orang tua saya, dia adalah Kuningan yang dekat dengan gedung-gedung itu. Ya itu yang tinggi-tinggi disana. Kelihatan kalau dari kantor saya. Tidak tahu kalau dari situ. Begitu juga dengan Mak Erot. Ternyata yang benar Marriot, bukan Mak Erot. Pantas saja saya kebingungan dari tadi.
107

Setahu saya kan Mak Erot sudah meninggal dunia. Kenapa kok tiba-tiba muncul di TV lagi. Arwah penasaran kah? Sembilan orang tewas. Belasan luka-luka. Begitu yang si TV bilang. Korban yang is dead kebanyakan dari luar negeri. Luar negerinya bukan Timor Leste. Luar negeri sana. Kampungnya orang-orang seperti Rambo & James Bond. Lihat saja nama 15 top executive yang terciprat bom kemarin; Patrick Foo, Edward Thiessen, Pedro Sole, David Potter, Andy Cobham, Timothy Mackay, Garth Mcevoy, Mariko Yoshihara, Noke Kiroyan, Natan Verity, James Castle, Max Boon, dan Kevin Moore. Hampir semua namanya khas tipikal negerinya James Bond dan sejenisnya. Atau mungkin jangan-jangan mereka masih saudara dengan James Bond. Apalagi kalau dilihat 3 nama terakhir, sekilas saya bisa menangkap kalau mereka ada hubungan dengan James Bond. Bisa James Bond yang sedang menyamar atau bisa juga mereka sedang reunian sesama mantan James Bond. Lihatlah ada nama James. Kalau Bond-nya dipakai kan jadi James Bond. Terus ada Max Boon yang kalau O-nya dibaca panjang 2 harakat hasilnya sama seperti baca Bond. Terakhir ada nama Moore. Nama ini sangat identik dengan pemeran klasik agen 007 yaitu Roger Moore. Sayangnya analisa ini tidak digunakan oleh media elektronik disini. Entah kenapa. Saya tidak tahu alasannya. Seperti tidak tahunya saya kenapa analisa Dr Carl Ungerer (Australia) dan Noor Huda Ismail (direktur sebuah LSM) yang justru lebih media terima ketimbang analisa saya. Padahal analisa mereka tentang para alumni Afghan yang terlibat belumlah kuat adanya. Apa ini dikarenakan saya bukan doktor atau direktur sebuah LSM. Ah kalau alasannya karena itu saya bakalan protes dengan media-media itu. Cantik-cantik begini saya ini lulusan bimbingan belajar sampai tiga tahun berturut-turut. Belum lagi kuliah 7 tahun di dua kampus yang berbeda. Jadi kalau ditotal saya ini sudah 30 tahun menuntut ilmu. Coba
108

saja hitung; SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, Bimbel 3 tahun, S1 7 tahun, S1 yang lain 8 tahun, total kan 30. Tentunya kalau saja saya mau riya, dengan pengalaman menuntut ilmu sebanyak itu, tingkatan saya sudahlah selevel dengan profesor. Kalau doktor seperti Carl Ungerer itu mah masih ecek-ecek namanya. Dia masih doctor. Belum professor. Pun begitu kalau alasannya gara-gara saya bukan direktur seperti Noor Huda Ismail. Saya memang bukan direktur LSM tapi saya direktur sebuah CV di Bandung. CV beneran. Bukan fiktif. Dan bukan Curiculum Vitae. Jujur, saya merasa jealous dengan pilih kasihnya media yang tidak mewawancara saya. What da hell it is??? Pekik saya sok kebarat-baratan. Tentunya dengan logat Sunda yang kental. Saya selaku pengamat, yang dari dulu memang bisanya hanya mengamati, jadinya curigeseun dengan pilihan media ini. Saya merasa media sengaja memilih opini yang memang mengarahkan agar masyarakat semakin antipati terhadap kelompok tertentu. Khususnya kelompok aktivis Muslim yang konsern terhadap perjuangan Islam. Dugaan saya makin kuat setelah mendengar pidato SBY yang tetap mengarahkan tuduhannya pada aksi teror yang dia tanda kutipi; telah kita kenal sebelumnya. Siapa coba? Jujur saya heran dengan komentar SBY ini, sebab selama ini saya belum berkenalan dengan orang yang SBY maksud. Lantas kenapa dia bilang kita, kamu kali kata saya. Namun saya yakin SBY pun belum kenalan. Dia hanya sok-sok kenal? Biar dikatakan gaul. Tetapi apa SBY tidak malu soksok kenal dengan orang, bagaimana kalau ditanya oleh orang tersebut Siape elu?, apa yang mau dijawab. Tapi biarlah itu kan resiko SBY yang sok akrab. Kalau saya ditanya begitu, saya akan jawab semau saya. Tidak akan saya publikasikan. Takut dicontek jawabannya. Sebab kata ibu guru mencontek dan memberikan contekan itu dosa. Balik lagi ke tuduhan diatas. Saya rasa, kalaulah mau melihat realita di lapangan dan meja pengadilan, sebenarnya
109

para aktivis Islam saat ini sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Jangankan untuk memiliki sarana-sarana militer, pergi berdakwah saja sekarang sulitnya minta ampun. BBM mahal. Belum ongkos-ongkos lainnya yang ikutan melonjak. Kawan saya, Pendekarpemetikbunga, sempat membuktikn kalau ternyata untuk pergi berdakwah saja saat ini memang tidaklah mudah. Kebetulan beberapa waktu lalu dia menjadi panitia keberangkatan para ulama Bandung untuk pergi ke Muktamar Ulama Nasional di Jakarta. Lagi kosong nih. Kas tidak ada sedikit pun jelas dia. Lantas butuhnya berapa? kata saya seolah-olah Bos. Maklum namanya juga direktur. Satu milyar euy! jawabnya Alhamdulillah! Satu milyar? Tidak kurang banyak tuh. Ini untuk memberangkatkan 1.000 ulama Oh. Memang kurangnya berapa? Ya segitu! Kapan terakhir harus tersedia dana? Satu jam lagi. Soalnya DP naik pesawat harus masuk. Ya sudah ini saya ada 1 trilyun. Kira-kira cukup tidak? Gimana kalau dua belas setengah saja? Nanti dapat setengah lusin?! ??? saya heran. Kawan saya yang satu ini memang aneh. Diberi satu trilyun malah ingin dua belas setengah. Memangnya ini sedang jual beli celana kolor. Tapi ya memang begitulah. Saking susahnya cari dana untuk pergi dakwah, segala cara dicoba. Meskipun kadang tidak menyambung. Itulah kenapa saya bilang kalau tuduhan yang dilakukan orang-orang yang ada di paragraph 12 & 15 rasanya masih jauh panggang daripada api. Seharusnya tuduhan itu justru lebih tepat ditujukan pada pihak-pihak yang memiliki keuntungan atas kejadian ini. Bukan pada orang yang ujungujungnya malah mereka sendiri yang jadinya merugi.

110

Tanpa mengecilkan orang-orang yang telah melakukan analisa tentang siapa saja yang diuntungkan dan tidak, saya mencoba membuat analisa seoerti itu juga. Benar atau tidak, namanya juga analisa. Setiap analisa kemungkinannya hanya dua. Namun kalau ditanya kredibel atau tidak, jelas analisa saya tidaklah kredibel. Meskipun begitu, maunya saya, itu analisa saya dipercaya dan menjadi mitos dimana-mana. Sesuai dengan apa yang saya indera, James Bond sebenarnya layak untuk dijadikan tersangka dari salah satu/kedua pengebom. Ini dikaitkan dengan nama daftar 15 orang top executive yang terkena bom. Yang tadi itu sudah saya sebut-sebut. Yang kata saya itu mereka memiliki hubungan dengan James Bond. Sangat mungkin motif aksi ini adalah untuk menaikan rating film James Bond terbaru. Ini dikarenakan salah satu dari James Bond yang ada benar-benar terkena bom. Sehingga dengan matinya salah satu James Bond, diharapkan ada simpati serta dukungan yang lebih dari penonton. Mematikan satu Bond wajarlah. Namanya juga buat wadal (ket: kurban) , yang penting nanti manglaris (ket: laris manis). Namanya juga Bond di Indonesia. Mau tidak mau, sedikit demi sedikit, mereka harus menyesuaikan diri dengan budaya nyeleneh negeri ini. Mungkin Bond mencoba mengaplikasikan petuah Dimana langit dijunjung, disitu bumi dipijak. Wabondalam. Sedangkan tersangka pengebom lainnya yang menurut saya bisa dijadikan tersangka adalah Manajemen MU. Sangat mungkin mereka adalah orang-orang suruhan manajemen MU. Motifnya tentu saja uang. Manajemen MU ingin uang tanpa harus keluar keringat. Saat ini, dengan tidak bermain saja, MU mendapatkan 1,9 juta dolar AS atau Rp 19,1 miliar. Itu mereka dapat hanya dari panitia lokal Indonesia. Belum dari sponsor-sponsor swasta. Makanya tidak aneh kalau mereka ikhlas memberikan kemenangan bagi Indonesia dengan skor 3:0. Lagi pula saya
111

yakin mereka pasti ogah bermain di lapangan rusak bekas kampanye Pilpres. Bagi mereka, kesehatan pemainnya, yang harganya trilyunan rupiah itu, lebih penting daripada harus bermain bola di Indonesia. Satu saja pemainnya cedera, ongkos ke tukang urut dan mantri kesehatan jauh lebih mahal ketimbang dibayar oleh Indonesia. Tapi dibalik dua pihak tadi, sebenarnya masih ada pihak lain yang patut dicurigai menjadi tersangka. Mereka adalah para bobotoh MU yang kecewa tidak mendapatkan tiket nonton MU. Bagi mereka, yang benar-benar setia pada MU, kalaulah ada yang tidak menonton satu orang saja, maka semua pun tidak boleh menonton. One For All. All For One. Hanya saja kemungkinan itu sangat kecil. Sebab untuk mendapatkan semua peralatan dan ilmu tentang bom saat ini bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi bobotoh MU kebanyakan orang sipil. Sejago-jagonya mereka merakit bom, paling hanya bom karbit yang memekakan telinga saja. Dengan bisa meledakan pun sebenarnya sudah patut diacungi jempol, sebab dengan begitu maka karbit yang dipakai memang karbit beneran. Harap dimaklum, Indonesia negeri manipulasi. Segala sesuatu bisa dibuat tiruannya. Karbit yang tidak mahal pun, kalau demi kepentingan ekonomis bisa diracik agar murah. Ya seperti cerita tentang sosis, baso, dll yang serba palsu di TV itu. Kalau begitu, jadi siapa yang sebenarnya melakukan pengeboman? Silakan saja kamu cari tahu sendiri. Mau percaya dengan yang saya terserah, mau tidak juga tidak apaapa. Yang jelas jangan pernah berharap kalau pelaku pengebom ini bakal seperti di penghargaan piala Oscar kan. Iya itu seperti begitu. Sepertiand the real bomber is

Jakarta, 25 Juli 2009

112

113

Di Semarang
Jika mereka bertaubat,mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama (9:11)

Andai saja pagi itu saya ada di Afghanistan ikut berjuang dengan Syekh Osama bin Laden, mungkin saya tidak akan termenung di pos jaga Lawang Sewu ini. Sialnya tidak, sehingga itu saya hanya bisa duduk di sebuah kursi rotan di bawah pohon mangga yang sedang berbuah ranum dengan membolak-balik foto hasil jepretan saya tadi. Sehingga pagi itu saya bisa mendapati seorang pengemudi becak sedang indehoy di becaknya. Duduk atau tiduran di kendaraan penghasil emas baginya, di depan gerbang Gedung Lawang Sewu. Sehingga hari itu, saya bisa mendekati seorang pengemudi becak itu dan berbicara dengannya, dan menawarkannya agar mau bercapek ria mengayuh becaknya dengan saya diatasnya. Dan terbersit saya punya pikiran, jangan-jangan orang ini adalah intel yang sedang menyamar untuk memata-matai mahasiswamahasiswa KAMMI yang itu sedang demo. Sehingga kalau saya malah menghardiknya, karena mengganggu saya sedang lihat akhwat-akhwat KAMMI, maka besok-besok hari ketika saya ditangkap intel dia tidak akan membantu melepaskan saya. Justru malah yang paling sadis menyiksa saya. Tapi, bukan karena itu yang membuat saya menawarinya uang, atas keikhlasannya membiarkan saya yang duduk disitu
114

dan dia di belakang. Karena saya tidak peduli saya akan ditangkap intel atau tidak. Seingat saya, saya ini adalah orang baik-baik. Manis, ramah, bersosialisasi dengan tetangga dan begitu hangat menyenangkan terhadap sesama. Lain halnya dengan kawan-kawan saya seperti Tupai, Bahcuy, Pepi, Divan, Mang Umen, Chireng, Dudung, Dimas, Tio Asoy, dll. Mereka pemuda-pemuda yang nakal. Yang kemungkinan esok atau lusa bakal segera dirumahprodeokan. Saya ajak bicara Bapak yang entah siapa namanya itu, yang katanya kelahiran tahun 40-an, yang katanya asli dari Kudus, yang katanya pernah merantau ke Jakarta pada saat Ibu Tien membangun TMII, yang katanya dulu kerja di gudang-gudang tentara dan berlimpah uang karenanya, yang katanya punya anak perempuan yang menjadi guru SD, yang katanya dilarang anaknya pakai baju Korpri pas sedang menarik becak, yang katanya tahu makanan yang halal dan haram di seantero Semarang, yang katanya bisa mengantar saya ke tempat esek-esek kalau saya mau, yang kegirangan setelah saya minta dia mengantar saya pulang ke hotel tapi mampir dulu ke Toko Bandeng Juwana untuk ambil pesanan. Serta merta si Bapak mempersilahkan saya naik ke becaknya. Pak, kalau ada PM tanya, tolong bilang saya sudah tidak ada di Semarang, ya! kata saya pada penjaga Gedung Lawang Sewu yang sedang berjalan ke arah pintu gerbang. Polisi Militer? Lha, Mas ini tentara juga ya? tanya Bapak penjaga yang memang pensiunan Korps Kavaleri. Itu tadi saya lihat dari tato Yon Kav di lengan kanannya. Pokoknya bilang begitu saja, Pak! Mang kenapa, Mas? Ada masalah apa? Dulu saya sempat menginap lama di sel PM tapi lupa belum bayar billing kamarnya Maksudnya? Saya lagi tidak punya uang Pak. Jadi saya dulu izin menumpang hidup di sel PM. Tapi setelah puas, saya lupa bayar ke PM
115

Kenapa tidak bilang dari tadi kalau tidak punya uang. Ini Mas, pakai saja lagi uang yang tadi Mas kasih ke saya Bapak penjaga mengembalikan uang yang saya berikan padanya atas jasa memperbolehkan dan menemani saya keliling Lawang Sewu. Ambil saja, Pak! Itu rezeki Bapak, kata saya Saya tidak punya uang itu dulu, bukan sekarang. Sekarang sih saya sudah jadi milyuner. Lihat nih buktinya saya naik becak Yuk, Pak! saya pinta Bapak pengemudi becak segera menunaikan tugas mulianya. Dia pun naik, saya juga ikut naik, menyebabkan becak segera melaju. Eh, Mas gimana nih? teriak Bapak penjaga gerbang. Sudah bilang saja begitu kalau PM datang. Uang dari saya mah pakai saja buat sunatan Bapak jawab saya sambil berteriak. Si Bapak penjaga gerbang melongo. Entah paham atau tidak dengan perkataan saya. Yang jelas saya dan Bapak pengemudi becak tertawa cengengesan. Becak melaju. Belok kiri ke jalan Pandanaran. Melewati Toko Bandeng Juwana yang kata si Bapak pengemudi becak adalah toko yang asli, sedangkan yang saya akan tuju adalah yang palsu. Saya tidak mengerti kenapa dia bilang begitu. Padahal setahu saya Toko Bandeng Juwana yang saya tuju adalah cabang resmi Toko Bandeng Juwana yang tadi si Bapak tunjuk. Saya lihat itu di brosur. Dan brosurnya ini sedang saya pegang erat-erat. Takut meletus lagi sebab tinggal empat. Meskipun si Bapak begitu, tidak membuat saya membencinya. Justru semakin saya ajak mengobrol. Mengobrol apa saja. Seperti apakah Bapak masih punya ibu. Sudah tidak punya, Mas katanya. Pernah tidak suatu saat Bapak rindu? Rindu apa? Rindu ingin berkata-kata kasar kepada ibunya Bapak

116

Ditanya begitu si Bapak malah tertawa. Aneh kata saya. Harusnya ia bersyukur sudah tidak mungkin berbuat durhaka. Sudah tidak mungkin menjadi batu seperti Malin Kundang. Tak terasa, perjalanan kami berdua hinggap pada tujuan. Lihatlah, disana sepi. Tidak seperti di Toko Bandeng Juwana yang asli menurut si Bapak. Sambil turun dari becak saya meminta si Bapak menunggu sebentar. Karenanya saya akan mengambil pesanan terlebih dahulu. Tapi tidak lama itu, saya kembali lagi ke luar. Karena pesanan saya belum siap seperti kata si Mbak yang ada di balik pintu kaca itu. Pak, sudah sarapan belum? itu saya sengaja mengagetkan si Bapak dari belakang. Membuat dirinya terkejut. Belum katanya. Lantas saya ajak saja dia makan ke dalam. Kebetulan ada caf di toko itu. Ayo Pak pilih mau makan apa! Ah gimana Mas aja kata si Bapak setengah berbisik. Duduknya mirip tentara ketika diberi aba-aba Duduk Siap Grak. Matanya lirik kanan kiri. Mencermati beberapa pasang mata pegawai toko yang dari tadi melihat kegiatan romantis kami berdua Ya susah kalau begitu kata saya, Samakan saja dengan saya ya?! Iya Mas Saya panggil pelayan untuk segera mendekat. Saya pesan Tenderloin Double Steak Combo with Black Peppers Sausage dan Banana and Raisin Sundae. Dengan sedikit dikeraskan, saya ulangi pesanan saya itu agar terdengar oleh si Bapak. Sama kan Pak dengan saya? tanya saya. Eughhh. Iya jawab dia ragu-ragu tapi mau. Mau ditambah pakai Beer atau Intisari tidak? tanya saya lagi. Ih gak ah Mas!
117

Mbak, Memangnya ada oseng-oseng Kuskus Australia disini tanya saya pada pelayan. Hehehe. Ndak ada, Mas Tuh Pak, tidak ada menu begitu disini. Adanya di Australia tempat dulu Bapak tinggal, kata saya membuat bingung, Sama saja seperti saya?. Si Bapak mengangguk. Ada lagi? tanya pelayan. Pak, mau Sate Jamu tidak? Sate Jamu? Iya itu loh. RW RW!!! saya mengingatkan si Bapak. Oh itu. Nggak, Mas! Sudah itu saja Mbak pesanannya saya bilang pada pelayan. Saya baca lagi pesanannya kata pelayan. Tidak usah, Mbak. Sudah tahu kok tolak saya, Pak, baca lagi jangan? Bapak penarik becak menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanda penolakan yang halus tapi kentara. Hehehe takut saya salah pesanan kata pelayan. Lha kok takut sama pesanan? kata saya, Takut itu hanya kepada Allah. Kalau pun mau takut selain ke Allah, takutlah berbuat dosa. Sebab itu juga sebenarnya wujud dari takut kepada Allah Pelayan terdiam. Lantas tersenyum. Lantas meminta izin membaca ulang. Lantas saya mengangguk menginyakan. Lantas selesai membaca, dia yang balik mengangguk pada saya. Lantas dia pergi meninggalkan kami berdua. Lantas dia tidak terlihat. Menyebabkan dirinya seperti Suzzana dalam film Sundel Bolong. Menghilang.

Jumat, 30 Oktober 2009

118

119

120

Di Bandeng Juwana
Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (5:2)

Pak, Bapak suka masakan Sunda tidak? tanya saya ditengah keheningan. Suka-suka saja, Mas timpal si Bapak, Emang kenapa? Syukurlah. Soalnya tadi saya pesan masakan Sunda Iya ya? Tapi bukannya tadi pesan makanan Londo (terj: bule)? Bukan Pak! Yang tadi saya pesan itu masakan asli Sunda Gitu ya? Iya. Tadi kan saya bilang Banana Split and Raisin Sundae. Nah itu lihat Sunda kan? Oh iya ya Ya iyalah. Masa ya iya dong. Mulan aja Jamilah bukan Jamidong Gimana Mas? Sudah. Lupakan saja, Pak. Itu sudah datang pesanannya! Pelayan datang membawa 2 cangkir sundae dan 2 steak dalam hotplate yang masih bergemericik. Tanda masih panas.
121

Ayo Pak dimakan! Mumpung masih hangat Saya makan diluar saja, Mas Si Bapak mah gimana sih. Kalau makan diluar mah buat apa saya ajak Bapak ke dalam kata saya, Sudah makan saja! Malu Mas. Masa kayak gini? sambil malu-malu si Bapak memperlihatkan baju usang dan celana kotornya. Sudah santai saja. Rasululah juga bajunya lebih parah dari Bapak tapi dia tidak malu. Yang penting itu hati dan imannya. Baju mah tidak jadi ukuran seseorang itu masuk surga atau tidak. Kecuali kalau Bapak tidak menutup aurat, jelas saya Bapak auratnya nongol tidak? "Ndak, Mas. Resletingnya nutup kok jawab si Bapak dengan tersenyum. Akhirnya kami pun makan dengan mahsyuknya. Seperti apa makannya, tidaklah perlu saya bahas. Yang jelas si Bapak nampaknya kesulitan ketika makan pakai garpu dan pisau. Tanpa sendok pastinya. Mungkin dia saat ini sedang berpikir, di tangan sebelah mana saya harus letakan kedua benda ini. Nah begitu, Pak. Dimakan. Kalau kurang bilang saja Kalau mau sama pelayannya sekalian juga boleh kata saya membuka pembicaraan lagi. Tanpa begini saya yakin si Bapak merasa bahwa ini neraka baginya. Mau Pak sama si Mbak tadi? itu senyum saya menjadi nakal. Mas, ini tau aja. Saya ini sering nikah loh, Mas Hah??? Serius Pak? tanya saya terkaget-kaget, Poligami dong?! Ndak poligami. Saya nikah 7 kali. Tapi setiap nikah dengan yang baru, saya ceraikan dulu yang lama. Cerainya juga baik-baik Subhanallah. Hebat banget sampai 7 kali. Enak dong. Hehehe, canda saya Kalau di Wiro Sableng sudah punya ilmu kedigjayaan tingkat tinggi tuh
122

Namanya juga cerai, Mas. Ndak enak. Apalagi ini cerai karena ndak punya keturunan Kok bisa Pak? Saya ini dibilang laki-laki mandul oleh dokter Glek. Saya menelan ludah. Mau berkomentar tapi khawatir salah. Tapi bukannya Bapak punya anak yang menjadi guru SD? Iya itu setelah saya berobat ke Sensei. Orang Cina sini Tokcer? Iya tokcer, jawab si Bapak Pakai ramuan Cina Hebat euy, kata saya Kalau obat biar bisa menambah istri, ada tidak Pak di Sensei itu? Saya mau lah. Mau poligami. Hehehe Argh si Mas ini Si Bapak terlihat manis-manis manja. Kulitnya yang tadinya coklat legam sedikit merona. Tapi tidak mengkilat seperti ketika baru datang tadi. Mungkin ini efek sundae yang sedang dia makan sekarang. Sambil memotong daging steak yang tinggal setengah lagi, saya lantas bertanya lagi pada si Bapak perihal jumlah anaknya. Dia jawab tiga orang. Bukan dua seperti yang dia katakan sewaktu masih di Lawang Sewu. Satu lagi itu anak angkat, Mas, jelas si Bapak Saya ambil dari Stasiun Tawang. Kasihan soalnya terlantar begitu Orang tuanya kemana? Kok bisa anak 7 tahun keliaran di stasiun? Ini anak tersesat. Sudah begitu tidak bisa menyebutkan alamat rumahnya. Tadinya dia ikut orang tuanya tapi ketika di stasiun Surabaya salah naik kereta. Orang tuanya naik yang satu, dia naik yang lain Kayak Home Alone saja, Pak Apa itu , Mas? Lanjut terus, Pak! Tadi mah bukan apa-apa Akibat perintah saya itu, menyebabkan si Bapak menceritakan tentang anak angkatnya itu lagi, yang katanya cuma bermodal celana dekil, yang katanya sudah seminggu
123

tiduran di emperan stasiun, yang katanya kalau celananya basah itu biasa dijemur di lokomotif lalu dia duduk rapat menutupi kemaluannya, yang katanya korban keluarga brokenhome, yang katanya punya codet di mukanya karena dituduh maling jemuran, yang katanya baru bisa bertemu orang tua aslinya setelah ia menikah, yang akhirnya si Bapak bawa ke rumahnya lalu syukuran sederhana mengundang pihak PT KA, warga, dan keluarga untuk mengenalkan anak itu. Kasihan, Mas. Masa sih kita tega melihat anak kecil begitu! jawab si Bapak ketika saya tanya alasan mau menolong anak itu. Si Bapak lalu melanjutkan perbincangan lagi. Menurut si Bapak, hanya orang jahatlah yang tega melihat si anak terlantar di pelataran stasiun yang kotor. Bagi dia, kaya atau miskin keadaan seseorang bukan alasan untuk tidak menolong bocah tadi. Rizki itu sudah ada yang mengatur, Mas! tegasnya, Biar saya narik becak begini, saya yakin ini anak punya rizkinya sendiri Tuh lihat sekarang dia sudah jadi sopir bus AC eksekutif jurusan Semarang-Surabaya, kata si Bapak lagi Dulu mikir sekolahin dia sampai SMA saja kayaknya tidak mungkin. Tapi nyatanya? Dia tamat SMA. Dia sudah nikah sekarang. Punya rumah dan tanah. Itulah rizki Subhanallah si Bapak ini luar biasa. Salut saya Si Bapak mesem-mesem saja. Bapak ini cocoknya jadi Menteri, Pak, kata saya Kalau calon Menteri-menteri yang sekarang sedang ramai di TV mah tidak ada yang pantas. Termasuk Presidennya. Masih lebih pantas Bapak Ndak segitunya lah, Mas Eh benar ini, Pak, kata saya Coba saja Bapak lihat. Mana ada pemimpin negeri ini yang seperti Bapak? Ada pengungsi Afghanistan, yang butuh tinggal malah diusir,

124

digebukin. Padahal mereka sama-sama muslim. Sama-sama manusia pula Saya yakin, tidak ada satu pun pemimpin negeri ini yang mau mengadopsi anak anak terlantar. yang ada di Stasiun Gambir sana. Padahal mereka itu kerjanya bolakbalik di sekitar situ ujar saya lagi. Mereka kan sibuk mengurusi Negara, Mas Lha, anak terlantar juga kan urusan mereka. Mengurus mereka sama dengan mengurus Negara juga. Bukannya ada di Undang-Undang?. timpal saya Kalau yang Bapak maksud mengurusi Negara itu adalah membuat kurus negara, nah itu baru saya setuju Hehehe si Bapak tertawa. Tapi benar loh, Pak. Kalau Bapak itu lebih cocok jadi Menteri ketimbang penarik becak. Saya usulkan Bapak menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan saja. Dan saya Menteri Pariwisatanya. Kok Menteri Menteri Pertahanan dan Keamanan, Mas? Soalnya Bapak mampu bertahan hidup membiayai keluarga meskipun hanya sekedar menjadi penarik becak. Sudah begitu malah angkat anak pula dan semuanya berhasil menjadi orang. Padahal logikanya kan, mana mungkin Bapak dengan keadaan seperti itu dapat membuat anak-anak Bapak berhasil seperti sekarang ini Hehehe, si Bapak tertawa lagi Lha Mas sendiri kok kenapa pilih jadi Menteri Pariwisata? Kan saya hobinya keliling-keliling. Berkelana kalau Rhoma Irama bilang. Ya kayak sekarang ini itu saya buat bibir saya menjadi tersenyum. Hehehe lagi-lagi si Bapak tertawa tanpa logat Jawa tentunya. Soalnya tertawa tidak bisa pakai logat. Tapi, Pak! Kita jangan mau kalau ditawarin menjadi Menteri di Negara Indonesia! Kenapa Mas?
125

Indonesia mah sebentar lagi juga hancur. Sudah tidak benar. Lagian sistemnya juga amburadul, jawab saya Mending nanti kita menjadi menteri di Negara Khilafah Islamiyah saja Khilafah itu apa? Kebetulan sekali pikir saya. Ini pertanyaan yang menjadi sasaran empuk buat saya. Dan mungkin sangat diharapharapkan oleh banyak orang yang juga punya pemikiran sama seperti saya. Khilafah itu Negara untuk seluruh ummat Islam di dunia. Ia Belum sempat saya meneruskan definisi Khilafah, sekonyong-konyong, muncullah itu pelayan, yang tadi menghilang, memotong pembicaraan, tanpa alat-alat seperti gunting atau pisau. Maaf Mas, pesanannya sudah siap Oh ya. Terima kasih, kata saya Ayo ah Pak kita pulang Kami pun lekas pergi dari meja caf. Si Bapak keluar, saya ke kasir. Saya bayar lalu angkat satu kardus pesanan yang sudah ditunggu-tunggu dari tadi. Setelah saling mengucapkan selamat jalan antara saya dan kasir, saya langsung keluar menuju si Bapak pengemudi becak. Ini Pak, ongkos naik becaknya, kata saya sambil menyerahkan uang sebesar perjalanan dari Lawang Sewu ke Hotel tempat saya menginap. Sudah sampai sini saja Lha kan ke hotelnya belum, Mas? Sudah tidak apa-apa. Saya mau jalan kaki saja Jauh loh, Mas Namanya juga calon Menteri Pariwisata. Harus rajin jalan-jalan dong. Kan wisata! Duh gimana nih Santai saja, kata saya Sebagai tanda perpisahan, saya tanda tangan becak Bapak saja ya?, Saya keluarkan spidol dari tas kecil. Saya bubuhkan tanda tangan saya di bagian samping kanan becak si Bapak dengan ditambahi tulisan:
126

CALON MENTERI PARIWISATA NEGARA KHILAFAH ISLAM WAS HERE. Sudah ya, Pak ujar saya. Iya, Mas. Makasi Bapak hapal kan pulangnya? Yang harusnya nanya gitu itu saya, Mas! Oh iya ya, kata saya Tapi sebagai calon Menteri Pariwisata saya harus hapal dong. Kalau belum hapal, ya inilah saat yang tepat untuk menghapal Hehehe Saya ajak salaman itu si Bapak. Lalu saya pergi berjalan kaki lagi. Meninggalkannya di parkiran Toko Bandeng Juwana. Pak, mudah-mudahan obrolan dan khayalan kita tadi menjadi doa dan kenyataan. Itu tanda tangan saya tolong jangan dihapus. Biarkanlah itu menjadi prasasti yang akan bercerita bahwa dalam kehidupan ini kita pernah bertemu sebelumnya. Apabila suatu saat nanti kita berdua menjadi menteri di Negara Khilafah Islam, tentunya kita bisa berkata pada dunia, bahwa doa kita beberapa tahun lalu ternyata terkabul. Pun kalau misalnya hanya salah satu dari kita yang menjadi Menteri, anggap saja saya, bukti tanda tangan itu tadi bisa menjadi suatu kebanggaan bagi Bapak, keluarga Bapak, dan anak angkat Bapak, sebab Ayahanda mereka, yaitu Bapak, pernah menarik becak orang yang kemudian menjadi Menteri Pariwisata Negara Khilafah Islam dan makan masakan Sunda bersamanya di sebuah caf di Semarang.

Jumat, 30 Oktober 2009

127

128

129

Snowie & Brownie R.I.P


Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati (3:185)

Snowie & Brownie yang baik, tadi pagi saya baru selesai menjalankan ibadah boker. Itu saya lalu melintas ke ruang depan. Menyalakan TV seolah-olah api. Tapi karena tidak ada yang menarik, saya lantas mematikannya, menyebabkan saya seakan-akan seorang pembunuh berhati baja. Snowie & Brownie, ya itu saya tadi pagi. Hatinya masih membaja seperti Clark Kent si manusia baja. Tapi tidak sekarang. Tidak setelah saya melihat meja makan yang tidak penuh oleh makanan. Sumpah bukan karena meja makanan yang kosong kemudian hati saya tidak lagi membaja. Bukan. Bukan karena itu. Dari dulu memang itu meja mau saya ganti namanya menjadi meja kosong. Soalnya dia tidak pantas disebut meja makan karena diatasnya tidak pernah ada makanan. Yang ada malah kosong. Entah kosong itu makanan atau bukan. Yang jelas kosong. Snowie yang seputih salju, luluh lantaknya hati baja ini adalah setelah itu saya melihat rumah kayu tropis kalian. Rumah yang menjadi tempat kalian indehoy ternyata tidak dapat membuat kalian asoy. Buktinya, kau malah terbujur kaku dan Brownie diam membisu. Hingga akhirnya menyusul kau meninggalkan pilu. Brownie yang bukan Brownies Amanda, disaat-saat seperti ini entah apa yang saya rasakan. Perasaan sedih
130

bingung tercampur baur menjadi satu. Haruskah saya meratapi kepergian kalian seperti kaum Syiah meratapi kematian Imam Hasan dan Husein dengan memukuli badannya hingga berdarah-darah? Bukannya tidak mau, disuntik saja saya takut. Apalagi lihat darah. Atau haruskah saya masuk ke dalam kamar, kemudian menyetel lagu Too much love will kill younya Queen? Atau malah bersurut dalam sujud panjang, menguraikan airmata yang pastinya panjang-panjang juga? Apa yang harus saya lakukan? Membaca Al Quran seraya menengadahkan tangan, dan mengeluarkan endapan kesakitan saya yang paling dalam: airmata? Snowie & Brownie yang caem, sesungguhnya, kalian tak salah mengenai hal ini, sebab jodoh itu sudah digariskan oleh Allah. Mengapa saya bilang jodoh? Karena setiap pertemuan sudah diatur dan dipasang-pasangkan oleh Allah. Jadi jika kalian bukan rizki menjadi sahabat saya, maka tak ada gunanya saya memaksa kalian agar dapat bangkit dari kubur seperti halnya Suzzana dalam film Arwah Penasaran. Snowie & Brownie yang sholeh dan sholehah, jika saya mempercayai bahwa Allah mendaraskan takdir pada mahluknya maka rasanya tidak perlu saya untuk mengulang kembali menggunakan doa yang isinya mungkin pernah kalian lihat di komputer saya. Masih ingat tidak kalian dengan email itu? Email buat seorang yang sekarang damai disisi-Nya. Ah rasanya tidak perlu saya tulis. Soalnya tidak nyambung. Snowie & Brownie yang imut-imut, sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih karena kalian telah menghiasi hari-hari saya. Jujur saja, kehadiran kalian kemarin itu membuat saya seperti terbang entah ke langit yang ke berapa. Kalaulah langit itu bertingkat seribu, maka saya terbang ke langit yang ke seribu satu. Bahkan menembus batas-batas horizon waktu yang terbentang dalam alam raya ini.
131

Brownie yang imut kayak kue bolu, saya tidak akan menggenapi Asmaul Husna menjadi seratus dengan menamakan Dia: Allah Yang Maha Kejam, karena kejadian ini. Saya sudah menyadari sejak dulu, bahwa ketentuan Allah kadang-kadang memang aneh, seaneh manusia itu sendiri. Terkadang umur bukanlah suatu penentu sebab terjadinya kematian. Logika matematis tidak bisa dipergunakan dalam masalah ini. Snowie yang bulunya halus, karena bukan masalah matematislah. makanya tadi saya minta izin Uum membuat tahlilan tepat di hari ke-3 kematian kalian nanti. Sengaja saya bikin hari ke-3 bukan ke-7 sebab setelah angka 2 adalah 3 bukan 7. Namun itu urung saya lakukan. Padahal saya sudah membuat undangan tahlilan untuk disebar ke tetangga. Gantinya saya kasih saja mereka kue brownies kukus Amanda dari Bandung. Sambil tak lupa saya selipi tulisan mengenang wafatnya Snownie & Brownie. Ketika tetangga tanya siapa kedua nama tersebut, saya jawab kelinci. Snowie & Brownie yang saya yakin cerdas, tahu tidak kalau acara tahlilan kalian banyak dipertanyakan? Mereka mengatakan kalau acara untuk kalian ini adalah mengadaada. Aneh. Lantas saya jawab demikian; kalaulah acara tujuh bulanan itu bukan mengada-ngada. Begitu juga acara 7 hari, 40 hari, dan 100 hari juga bukan acara yang tidak ada salahnya untuk dilakukan, lantas apa salahnya saya mengumpulkan tetangga untuk silahturahmi? Toh sama-sama baiknya. Sama-sama saling menjalin ukhuwah. Lagian kan mereka belum sempat kenalan dengan kalian. Bener ga? Snownie & Brownie yang kalem tapi centil, beruntung undangan saya direspon tetangga. Sehingga prosesi pemakamanmu tidaklah jauh berbeda dengan pemakamanpemakaman seperti yang ada di film-film Barat itu. Meski tidak sebanyak yang dikira, namun Revo, Mumu, dan Arya senantiasa hadir mengiringi kepergian kalian. Tak peduli mereka masih kecil dan sedang disuapi nasi oleh ibunya
132

masing-masing, namun mereka dengan khusyuk mengikuti perjalanan akhir kalian yang hening. Syahdu. Snowie yang putih seperti kue putri salju, sampai sekarang Revo selalu memanggil-manggil kalian. Entah apa yang harus saya katakan padanya. Karena kalau pun saya beri tahu dia tidak akan mengerti. Yang ada malah dia terus mencoba untuk menggali kubur kalian, seperti halnya Sumanto. Tak lama berselang, saya berikan Revo foto Cici Paramida. Kenapa saya berikan itu? Karena dia selalu manggil-manggil kalian dengan Ci..Ci Barangkali saja dengan foto Cici Paramida tertabrak mobil akan berhasil meredakan kehilangannya akan kalian. Sayang usaha saya tidak berhasil. Brownie yang coklat seperti baju Pramuka, ketidakberhasilan ini sama halnya dengan ketidakberhasilan saya menyelamatkan kalian dari dijadikan sate kelinci oleh Asep Rabbit di Lembang sana. Sumpah padahal saya sudah mencoba untuk total mengurusi kalian. Meskipun saya sadar ini kali pertama saya memelihara hewan. Tapi saya tidak main-main dalam mencukupi nafkah lahir dan batin kalian. Snowie & Brownie yang menggemaskan, ratusan situs bergambar kelinci sudah saya kunjungi dan saya ambil ilmunya. Bahkan sudah saya praktekkan sebagian pada kalian. Hanya saja sampai sekarang saya masih belum bisa menarik hubungan antara kalian dengan situs berlogo kepala kelinci. Dilihat dari gambar, tidak ada kesamaan antara mereka dengan kalian. Begitu pun dengan namanya. Kalian kelinci, mereka Playboy. Aneh kan? Kok bisa playboy jadi kelinci? Kok bisa kelinci jadi playboy. Padahal, meskipun Brownie jantan , ia tidak pernah iseng ma kelinci betina lain. Begitu juga dengan Snownie. Meskipun betina, dia tidak pernah pamer aurat seperti di situs Playboy. Snowie & Brownie yang baik, cukup rumit bagi saya untuk menetralisir keadaan ini. Kejadian ini datangnya terlalu tiba-tiba, setelah semuanya terasa sesuai dengan
133

harapan saya. Tetapi saya yakinkan dalam diri ini, bahwa saya bukan penguasa masa depan. Saya tak tahu rencana Allah dalam masalah ini. Namun meskipun begitu saya harus tetap melangkah kembali. Memegang kontrol penuh atas diri serta tetap menggunakan pikiran yang sehat. Snownie & Brownie yang imut-imut, kalaulah ini adalah yang terbaik menurut-Nya, Insyallah semoga itu menjadi yang terbaik bagi kita. Hanya saja. saya sampai sekarang masih bertanya-tanya. Entah kalian mempercayai hadits ahad atau tidak. Apa yang kau rasakan di dalam kubur sana? Terkukung dalam sebidang tanah seukuran tubuh. Apa juga yang kalian rasakan ketika Malaikat Maut kemarin memisahkan ruh dari jasad kalian yang mungil itu? Benarkah seperti diiris pedang? Lalu, apakah kalian disana ditanya malaikat dengan pertanyaan Man rabbuka? Semoga kalian bisa menjawabnya. Saya yakin kalian bisa menjawabnya dengan benar. Soalnya kalian bukan Abu Jahal, Firaun apalagi George Bush. Sebab kalau kalian tidak sampai bisa menjawabnya, kemaluan kalian bisa dicolok, badan kalian dipecut, dan disetrika berulang-ulang. Snownie & Brownie, ini galian terakhir kubur kalian sudah saya selesaikan. Jasad mungil nan lucu kalian sudah saya pegang erat. Saya bawa kalian menuju tanah berlubang itu. Sebersit ingatan menghentikan laju saya; KAPAN SAYA SEPERTI INI? Ps: Dari, seorang lelaki yang berpura-pura tegar, Dari seorang lelaki yang selalu mengharap dan mendoakan, agar kalian menjadi golongan kelinci yang syahid yang akan memberikan syafaat pada pemiliknya.

Jakarta, 27 Juni 2009


134

135

Rokok Tidak Haram???


...padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu (6:119)

Sejak dulu saya tidak suka yang namanya rokok. Nggak tahu kenapa kok saya tidak suka rokok. Padahal sejak SMP, teman-teman saya telah menjadi pecandu rokok. SMA malah lebih parah. Rokoknya diimpor langsung dari Aceh. Meskipun itu rokok baunya seperti sate tapi tetap saja saya tidak pernah mau. Bukan berarti saya tidak suka wangi sate, saya suka wangi sate, tetapi saya lebih suka satenya. Apalagi kalau satenya, sate kambing, terus dicampur kuah gulai iga kambing. Kamu juga pasti suka. Seperti juga Bapak saya. Tapi dia tidak bisa makan itu lagi. Bukan tidak bisa. Terpaksa. Pernah sih saya beberapa kali merokok, cuma apakah hal tersebut bisa dibilang merokok? Saya sendiri tidak tahu. Sebab cara merokok seperti itu tidak pernah teman-teman saya lakukan selama saya bersama mereka. Entah kalau mereka sembunyi-sembunyi. Saya biasa minta satu atau dua batang rokok ke teman. Kalau kebetulan teman saya baik, saya dikasih dua. Kalau teman saya jahat, saya tidak mau berteman. Saya takut dijadikan korban, seperti yang Ryan Jombang buat itu ke teman-temannya. Kebetulan teman-teman saya baik-baik. Saya langsung bakar itu rokok. Kalau saya punya dua, saya
136

sambung dulu itu rokok menjadi panjang lantas saya tiup. Tiup Bos! Bukan hisap. Kalau hisap mah teman-teman saya, saya cukup tiup saja sampai habis. Sampai teman-teman saya senang karena saya solider. Sebenarnya saya mau saja jadi perokok tapi saya punya bengek (terj. ashma). Uang saya berlebih kalau untuk membeli sebungkus rokok, tetapi nafas saya berkurang kalau si bengek datang. Karenanya maka saya putuskan tidak jadi perokok. Selain itu, saya memang tidak suka bau rokok. Bagaimana akan mencintai sesuatu kalau mencium saja kita tidak suka. Coba saja kalau kamu punya istri yang tidak membuat kamu ingin menciumnya, pasti kamu tidak menikahinya. Tapi kenapa ia jadi istri kamu. Ah kamu dijodohkan ya. Dinikahkan jarak jauh kan. Satu lagi alasan saya kenapa saya tidak jadi perokok, karena itu saya ingin bikin beda dengan teman-teman saya. Biarlah mereka merokok, saya tidak. Tidak seragam juga tidak akan dipanggil ke Guru BP. Ini saya bilang bukan berarti saya kampanye mendukung fatwa haram rokok, bukan juga saya menentang itu fatwa. Buat saya, haram atau tidak haram itu adalah masalah lain. Sebab masalah rokok yang paling besar karena adanya sistem serta distribusi yang tidak berimbang. Perihal kampanye-kampanyean agar merokok jadi tidak sembarang, agar rokok dibatasi, agar ibu-ibu hamil tidak kasih racun ke janinnya, agar laki-laki tidak lemah syahwat, agar yang kanker tidak kanker, yang jantungan tidak jantungan, saya mah dukung-dukung saja. Namun dengan catatan bukan berarti saya haramkan rokok dan hisap rokok. Gimana sih kamu ini Dal?! Rokok itu secara medis banyak sebabkan banyak penyakit. Malah bisa mati! itu kawan kantor saya seolah-olah saya ini perokok berat. Saya tahu. Saya pernah lihat posternya. Yang bahannya ada buat pesawat terbang kan? Itu sudah tahu! Jadi kenapa masih kamu bolehkan
137

Sebenarnya saya males menjawabnya. Ya kamu tahu kan saya bukan perokok. Rasanya tidak afdol menjawab pertanyaan itu kalau bukan perokok. Antara mau dan tidak, saya bilang saja, kalau masalah mati tidak bisa ditetapkan seenaknya. Ajal sudah ada yang atur. Klaim dengan merokok satu batang maka berkuranglah umur sekian hari, buat saya itu begitu alay. Kalau memang waktunya mati, ya mati saja. Banyak tuh orang yang umur panjang tapi dia perokok berat. Baginya, merokok menjadikan dia lebih bersemangat dan sehat. Lagian kalau rokok haram karena sebabkan penyakit, harusnya banyak juga yang diharamkan kata saya. Memang apalagi? Pernah lihat TV yang cerita jajanan SD yang ada zat berbahaya kan?, tanya saya Kayak baso, nugget, es, sirup yang pada pakai borax dan yang kayak gitu? Iya pernah Itu kan sebabkan penyakit juga. Harusnya haram juga dong Tapi itu kan kita tidak tahu. Ga semua kayak gitu kali Kalau gitu, gimana dengan junk food atau McD? Mang McDkenapa? Pernah liat film Supersize Me? Belum. Kenapa gitu? Di film itu, McD dijelaskan dengan detail bagaimana merusaknya buat kesehatan manusia Masa sih? Sumpah! Ga jauh beda ma rokok Gitu ya? MSG juga sama. Pemanis-pemanis buatan juga Benar gitu juga? Entahlah. Saya juga tidak tahu. Saya hanya baca. Namun kalau mencari efek-efekan, semuanya juga ada efeknya. Yang jelas, orang yang sudah menjadi tua tapi masih saja merokok memang lebih baik tidak ditiru. Hindari saja kalau kamu tidak suka. Pukuli kalau dia maling.
138

Kuburkan kalau dia meninggal jangan dibuat sate. Sesungguhnya bangkai itu baunya tidak sedap. Dan tidak pernah ada yang jualan sate manusia. Namun kalau dia memilih merokok di tempat sempit, sendirian disana, tidak ajak-ajak orang banyak, tidak ajakajak tempat umum, tidak sebabkan kebakaran, maka itu adalah pilihan dia. Tak perlu lah kita pukul. Sebab pukul adalah menunjukan waktu. Hampir mirip dengan jam. Memukul jam sama dengan merusak jam. Nanti kalau telat kamu tidak boleh masuk kelas. Sebenarnya kalau sadar merokok pada tempatnya itu sudah ada, tak perlu lah fatwa menfatwa itu ada. Adanya fatwa justru menyebabkan banyak hal yang tidak adil. Tidak fair apanya? Kalau memang rokok berdampak buruk pada anak, harusnya TV dan PS juga ikut diharamkan. Banyak penelitian yang bilang kalau TV dan PS lebih banyak buruknya daripada baiknya. Mirip rokok yang juga banyak buruknya. Jadi, kalau si pemberi fatwa itu mau konsisten dan adil dengan alasan karena mengandung mudharat yang lebih besar serta menzalimi diri sendiri, seharusnya TV, PS, McD, MSG, juga jajanan SD ikut diharamkan. Tapi rokok kan efeknya ada yang ke orang lain. Perokok pasif orang biasa bilang. Mereka itu justru orang yang paling dirugikan. Itu kata teman saya. Dan saya jawab memang benar. Sekali lagi, kalau pemberi fatwa mau konsisten dan adil, melihat kasus perokok pasif, maka dia juga harus mau memfatwa asap knalpot, knalpot, mengemudi kendaraan, dan asap-asap cerobong pabrik. Coba bayangkan saja, rokok yang sekecil itu haram karena menyebabkan orang lain merugi. Lalu gimana dengan asap kendaraan bermotor di Jakarta, yang knalpotnya saja, besarnya lebih dari 5 batang rokok? Belum asapnya. Coba saja hitung dengan skala statistik; besar mana jumlah asap rokok dari para perokok dalam satu hari di Jakarta dengan jumlah asap kendaraan bermotor di Jakarta dalam satu hari? Pasti asap
139

kendaraan bermotor kan? Pertanyaanya, kenapa kendaraan bermotor yang bikin asap beracun tidak diharamkan juga. Padahal antara asap rokok dan asap kendaraan bermotor sama-sama tidak baik buat manusia. Malah kerusakan lingkungan, seperti ozon bolong dan efek rumah kaca, penyebabnya dikarenakan asap kendaraan dan asap cerobong pabrik. Agrhh kan kendaran bermotor mah banyak manfaatnya, Dal. Bisa jadi alat transportasi. Kamu ke kantor juga kan pakai bis jemputan. Ya jangan bawa-bawa itu lah. Saya kan jadi tidak bisa jawabnya. Tapi kalau saja, ada fatwa tentang harus pakai sepeda, kayak program Bike To Work, ada fatwa pakai kendaraan hybrid, tenaga surya, tenaga batre, tentu itu akan lebih baik daripada mempertahankan tidak mau mengeluarkan fatwa karena alasan banyak manfaat. Semua memang serba kalau. Semua punya dalih untuk memperkuat alasannya masing-masing. Termasuk saya. Hanya saja yang saya masih punya tanya hingga paragraf terakhir ini, kenapa hal-hal remeh seperti ini yang diurus oleh MUI. Padahal masalah besar sedang terjadi di negeri kacau balau ini. Banyak dan begitu jelas di pelupuk mata. Kenapa tuan-tuan di MUI sana tidak memberikan fatwa atas masalah yang sudah begitu parah hingga mengetuk pintu-pintu rumah mereka sendiri. Apa itu? Oh, suara pintu diketuk. Pasti ada tamu.

Jakarta, 01 Februari 2009

140

141

Banyak Jalan Menuju Tangkuban


Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu (16:72)

Entah kenapa di tengah malam yang menjadi Minggu, saya berpikiran untuk memberi kejutan buat Revo. Padahal jujur ini bukan hari ulang tahun dia. Memangnya kalau bukan ulang tahun tidak boleh kasih kejutan? Setahu saya sih kejutan itu boleh kapan saja. Lagi sekarat pun kalau memang dibutuhkan, ya lebih baik diberi kejutan. Biar wafatnya penuh kebahagiaan. Atau biar tidak jadi wafatnya. Itu, dokter suka kasih kejutan di dada pasien pakai setrikaan. Saya tidak tahu maksud dokter apa. Tapi bisa jadi, barangkali, pihak rumah sakit sengaja begitu karena ingin memberikan doorprize bagi pasien-pasien yang memiliki nomer pendaftaran unik. Makanya mereka kejutkan pasien-pasien itu. Bener gitu? Entahlah. Tanya saja Rumah Sakit Omni Internasional. Mumpung belum ditutup. *** Tidak singkat cerita. Sampai juga saya dan seisi mobil di pintu gerbang utama Tangkuban Perahu. Tapi tidak tahu kenapa ternyata sudah banyak orang, bus, dan mobil yang ngantri disana. Dari yang AB, D, A, hingga B juga ada. Tapi
142

O tidak ada, sebab ini golongan darah. Atau mungkin itu lambang golongan darah mobil. Agh, ga penting! Jangan-jangan mereka mau menyambut kedatangan Revo. Begitu GR-nya saya. Wah bisa kecentilan nih si Revo kalau tahu dia sudah banyak yang nungguin. Untungnya dia masih tertidur pulas sejak dari di rumah. Namun biar tidak salah, saya paksakan untuk orang bertanya kepada saya. Eh, tidak bisa ternyata. Ya sudah saya saja yang bertanya. Lagi latihan baris berbaris De? saya bertanya. Eeee.. Nggak. manusia yang lebih kecil dari saya garuk-garuk keheranan Lagi ngapain atuh kalau bukan baris berbaris? Siapa yang lagi baris berbaris? Tuh liat, bus ama mobilnya rapih gitu berjajar. Kirain lagi latihan baris tunjuk saya ke kerumuman kendaraan segede alaihim gambreng. Hehehe, nggak Mas. Lagi nunggu masuk Masuk kok ditunggu? Iya. Mang harusnya gimana? Kalau mau nunggu mah mending nunggu Revo Revo siapa? Pahlawan masa depan Indonesia Ih ngaco dech Terus lagi apa disini? Mau masuk tapi kuncinya belum ada Lha belum tahu ya? Mang kenapa, Mas? tanya orang yang lebih kecil dari saya. Plus beberapa temannya yang ikutan memperhatikan saya dari tadi. Entah apa yang ada dipikiran mereka. Kaget mungkin ada pangeran subuh-subuh menyapa mereka. Sekarang kan Siaga Merah Yang bener Mas? Mang kalau gak bener gimana? Yahhhh, serempak mereka. Koor kayak paduan suara mahasiswa.
143

Udah ya saya mau kasih tahu itu saja Jadi bener nih Mas Siaga Merah??? tanya mereka lagi. Salah satu diantaranya. Bener!!! Kata penjaganya juga gitu Setelah menjawab pertanyaan mereka, saya berjalan kembali ke arah mobil. Lalu duduk di belakang setir yang bulat. Tidak di belakang ban meskipun ban sama-sama bulat. Soalnya saya masih belum mau jadi bulan-bulanan ban. Digiles maksudnya. Saya masih ingin memperlihatkan pada Revo kalau di Tangkuban Perahu tidak ada perahu terbalik. Adek saya tanya, Kok balik lagi? Payah ah. Panjang banget antriannya! Ga jelas juga kapan dibukanya Terus tadi ngobrol apa ma ABG-ABG itu? Iya tuh jadi heboh gitu. Orang-orang tua juga jadi heboh gitu! Si Uum ikutan nimbrung sambil tunjuk kerumuman orang yang mulai kebingungan. Tadi bilang lagi Siaga Merah jawab saya singkat. Emang bener Siaga Merah? Tergantung apanya dulu! Tergantung apa? Cau (terjemah. Pisang) yang digantung mah! Adek saya bertanya lagi. Kan tadi sebelum sampai sini sudah ketemu ma penjaga pintunya Tadi emangnya dia bilang apa? Dia bilang mulas. Mau ke rumahnya dulu di Lembang Hehehe Terus hubungannya Siaga Merah? Buat si penjaga kan itu Siaga Merah. Kalau tidak segera, bisa-bisa meletus ditempat yang tidak diinginkan. Lagian siapa juga yang bilang Tangkuban Siaga Merah! Jawab saya penuh kemenangan. Tanpa ba bi bu lagi saya putar 180 derajat mobil yang katanya berwarna biru Persib ini. Saya arahkan ke bawah bukan ke atas. Sebab mobilnya saya bukan mobil Knight Rider yang bisa terbang. Ini hanya mobil carry yang sama
144

sekali tidak istimewa. Kalau dibilang sedikit beda sih iya. Berbeda di plat nomernya yang berwarna merah gincu. Mau kemana nih? Tenang! Mau cari jalan tembus kata saya. Saya memang tidak mau menunggu antrian. Saya sedang buru-buru. Ingin melihat sunrise. Itulah kenapa tadi sengaja pergi dari rumah pun tepat setelah shalat subuh. Sampai-sampai si Revo yang lagi tidur pun langsung diangkut aja ke mobil. Tanpa dibangunkan terlebih dahulu. Saya belokan mobil. Masuk dalam hutan pinus. Seingat saya, jalan ini nyambung sampai ke kawah. Semoga saja masih ada jalannya, tidak ikut ditebangi oleh pencuri kayu. Eh, kalau jalan bukan ditebang ya. Diapain ya? Ya pokoknya semacam dikorupsi gitu dech. Dirampok. Sedang enak-enaknya melaju, dari arah depan nampak 2 siluet manusia menghadang di jalan. Mirip siluet Batman & Robin. Ternyata penjaga Tangkuban Perahu pakai kupluk dan sarung. Ceritanya menghadang, mirip begal . Pagi Pak Pagi tersenyum saya lihatin gigi yang belum digosok. Berapa orang? Banyak! kata saya Banyak kok cuma 4 orang? Dibawah akan segera menyusul Pak Memang dari dinas mana Pak? Penjaga tadi melihat plat nomer mobil yang merah. Departemen Pertanian, Pak Wah, maaf Pak. Banyak yang mau datangnya? tibatiba si penjaga senyum-senyum centil kayak Agnes Monica. Menteri juga sedang menuju kesini. Masih dibawah Oh kalau begitu silakan masuk Pak! Nuhun, Pak. Si Bapak mani baik euy Ga papa Pak. Sesama aparat Oh iyah ini buat rokok, Pak Aduh ga usah Pak
145

Biar aja Pak. Ini 30 ribu, itung-itung seorang 1 bungkus Malboro lah. Tapi Revo jangan diitung ya Pak. Revo siapa, Pak? Ini nih yang lagi tidur! telunjuk saya arahkan ke Revo yang sedang pulas digendongan. Oh itu mah santai aja, Pak Iya, dia kan lagi tidur. Jadi ga lihat Bapak. Kalau lihat lain cerita Pak Bisa aja si Bapak mah Harus bisa dong, Pak! Hehehe Iya Pak Nuhun nya Pak Sawangsulna, Pak. Ati-ati jalan banyak berlubang! Sip! Asal jangan berduit aja Pak! Kok berduit? Kalau berduit nanti saya ga sampai ke puncak. Dibawah aja mungutin duit Ah si Bapak mah ada-ada aja Tak lama setelah itu, saya langsung geber mobil masuk ke jalan berbatu yang sangat bagus. Saking bagusnya, batu terlihat seperti batu apa adanya. Bulat-bulat dan menonjol ke luar. Membuat perjalanan laksana digendong penyanyi dangdut yang goyangnya paling dahsyat seantero dunia. Emang bener ada Menteri Pertanian dibawah? tibatiba Uum bertanya Ada! Bohong ya?! Nggak. Bener kok Masa sih? Tadi liat ga di Lembang ada mobil rombongan BPPT tur ke Tangkuban Perahu? Iyah lihat Nah Menteri ada di dalamnya Masa Menteri ikut rombongan di mobil kayak gitu?

146

Memangnya mereka pergi atas nama siapa? Coba lihat surat tugasnya. Pasti atas nama Menteri. Menterinya kan ikut tuh. Malah diperlihatkan ke orang-orang yang baca surat tugas. Dia pasti ada disana. Selalu ada kemana pun Hehehe Sampai di kawah yang wangi kentut, Revo tiba-tiba bangun. Kayaknya dia tahu ada sesuatu yang tidak tidak sedap. Untungnya dia suka. Karena suka, langsung saja kami hirup bareng-bareng. Sedap. Beruntung puncak masih kosong. Hanya kami berempat saja pengunjung yang baru datang. Ini saatnya untuk berfotofoto tanpa terganggu oleh view-view yang mengganggu. Lepas 2 jam semenjak mobil kami was here bus-bus dan mobil mulai berdatangan. Orang-orang turun dari sananya. Menyemut menuju pinggiran kawah. Termasuk orang-orang yang tadi ngantri di depan pintu gerbang utama. Seperti yang sudah diramalkan Mama Loren, akhirnya saya dipertemukan kembali dengan mereka. Katanya Siaga Merah Mas? Kok sudah ada disini duluan? Kan bus kita yang pertama masuk Iya lagi penelitian dari Deptan jawaban saya tidak nyambung dengan apa yang ditanya. Mang meneliti apa Mas? Vulkanologi Mang Departemen Pertanian ngurusin vulkanologi? salah seorang cerdik pandai ada diantara mereka. Ya iya dong!, jawab saya bersemangat Efek dari gunung berapi ini berpengaruh terhadap tanaman. Di daerah sini kan banyak Balai-Balai Tanaman milik Deptan Gitu ya? Efeknya kayak gimana? Iya. Efeknya, salah satunya, kalau seledri itu untuk menyuburkan pertumbuhan rambut. Nah kalau terkena lava dari gunung berapi efeknya rambut bisa rontok. Ih seremmmm kata salah satu dari mereka. Serem apanya pikir saya. Dimana-mana juga kalau rambut
147

terkana lava panas mah pasti rontok. Bukan cuma rambutnya aja, tengkoraknya pun ikut rontok. Berhubung conference press mulai menghangat. Banyak dari mereka mulai mengerumuni saya. Termasuk guru-guru mereka yang berjalan ke arah saya, guru-guru SMA yang saya yakin pintar bermain kata, guru-guru yang akan membuat perbincangan antara saya dan muridmuridnya menjadi tidak kondusif, maka akan sangat berbahaya kalau saya teruskan. Saya ambil si Revo dari gendongan Uum sambil menutup hidung saya pakai jari. Maaf ya, ini anak kecil ee Ihhhhh. Si mereka pun ikut-ikutan tutup hidung penuh mimik jijik. Setengah berlari saya menuju mobil. Masuk mobil nyalain mesin. Brummm Mobil melaju menuruni puncak Tangkuban Perahu. Bebas juga akhirnya. Ini semua berkat si Revo. Makasih ya Revo. Kamu telah menyelamatkan hidupku yang tiada tara ini. Sebagai balas jasanya, nanti kita beli kelinci, plus kandangnya ya di Asep Rabbit. Revo mau Kelinci, Macan, Gajah? saya ngetes Revo. Gajah! Kelinci atau gajah? Gajah! Kelinci aja ya. Ga usah gajah Gajah! Dasar anak kecil. Bisanya ikut kata yang belakang saja. Pikir saya. Ya udah kita beli kelinci aja. Nanti kasih nama gajah juga tidak apa-apa. Ekoy?! Ecoyyy! jawab Revo.

Bandung, 17 Juni 2009


148

149

150

Menyambut Obama
dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (28:87)

Ini jam 8 pagi di Lenteng Agung. Saya ada berbincangbincang dengan beberapa orang yang dekat dengan saya, tentu dengan bahasa manusia karena saya tahu mereka sebenarnya bukan kucing, terlebih anjing. Berbicara santai seperti sedang duduk di tepi pantai, sampai mendekati bosan, sampai saya permisi untuk pergi kesana. Pergi untuk mencari tahu sedang apa polisi dan tentara itu duduk disana, berjalan melawan arah kendaraan. Semoga tidak ditabrak, itu doa saya. Oh, mereka sedang menunggu orang. Orang yang mau berdemonstrasi. Orang yang belum pernah mereka kenal atau salaman sehingga tidak jelas apakah jenis kelamin mereka. Dan sialnya mereka tidak tahu kalau saya salah seorang dari yang mereka sedang tunggu-tunggu. Padahal kalau mau salaman dan kenalan sekarang saja. Tetapi tidak mereka lakukan. Itu seolah-olah menyindir saya, yang kebetulan suka cuek juga kalau ada tamu masuk ruangan kantor, bahwa sesungguhnya, hai Begundal, kami melakukan begini biar sama seperti yang selalu kamu lakukan di kantor. Ini adalah hukum karma bagimu. Bukan untuk sekertaris Bosmu. Karena dia suka menyanya tamu.

151

Andai saya berjalan menyeberangi rel, saya akan menemukan sekelompok polisi dan tentara yang sepertinya ditakuti oleh polisi dan tentara yang lain. Sebab mereka selalu dikasih hormat dan dikasih anggukan kepala duluan kalau yang lain lewat mereka. Dan saya memang berjalan kesana sehingga saya menemukan sekelompok tadi. Itu kelompok sedang dipenuhi obrolan manusia. Bukan obrolan kucing atau anjing. Soalnya saya mengerti bahasa mereka. Berbagai manusia berjenis bapak-bapak. Bapak yang satu sedang berbicara dengan handphone, seolah-olah ada orang di dalam handphone yang mengatakan demonstran sudah sampai Pancasila. Sedangkan Bapak-bapak lain sedang berbicara penjagaan manakala demonstan datang tetapi tidak mengganggu mobil Obama. Menarik kata saya, membuat saya ingin ikutan, tapi tidak bisa. Kata siapa? Kata saya sendiri. Saya cukup tahu dirilah. Tadi saja oleh anak buah mereka saya sudah dikasih hukum karma, apalagi oleh Bos mereka. Tetapi itu tidak membuat saya patah arang. Saya kuping terus obrolan mereka tanpa memberanikan diri karena sekedar menguping, saya kira tidak perlulah keberanian. Saya duduk di trotoar itu, sambil sedikit ada lirik kanan kiri, agar terlihat seperti orang tidak jelas sedang apa. Saya kira mereka tidak tahu saya sedang apa, seperti halnya mereka tidak tahu juga banyak ibu-ibu, anak-anak, dan tukang ojeg yang ada di sekeliling mereka. Mereka mungkin anggap saya sebagai pengangguran karena ini adalah jam kerja. Hanya pengangguran tidak jelas yang duduk-duduk tidak jelas juga. Anda salah Bos, saya sudah berkerja, tapi tadi izin dulu ke Bos saya di kantor. Ini lihatlah baju kantor saya lipat di tas. Biar tidak ketahuan saya kerja dimana. Namun saya bosan. Sudah satu jam lebih saya disana, demonstran tidak kunjung datang, Obama pun demikian. Lalu saya berjalan itu kesana, ke arah polisi yang sedang sendirian, mungkin dia kesepian. Dengan sedikit senyum dan sekedar basa-basi saya mulai obrolan dengan dia.
152

Belum datang Obama nya ya, Pak? Belum. Masih baru mulai jalan Oh Bapak kenapa mau jadi polisi sih? Kan capek harus kerja seperti ini? saya tanya lagi si Bapak polisi. Namanya tugas, Mas, jawabnya bijak Capek juga ini kan buat tanah air Bapak cinta tanah air? Ya iya lah! Kalau saya tidak, Pak Kok tidak? Bapak polisi melirik dengan tajam kearah saya, seolah-olah saya alien yang tidak tahu diuntung sudah bisa duduk dengannya saat itu. Padahal dapat duduk dengannya adalah sebuah anugerah yang terbesar, begitu mungkin kata dia. Saya mah tidak hanya cinta tanah air saja. Saya cinta batubaranya juga, cinta emasnya, cinta minyaknya, cinta timahnya, cinta sawitnya, cinta wanitanya. Banyaklah pokoknya, jawab saya Cinta tanah dan air saja belum cukup. Belum maksimal Hahaha bisa saja Tapi rasa cinta saya masih kalah sama konglomerat, Pak! Nah, kenapa tu? Mereka mah kalau sudah cinta, seriusan cintanya Beneran bagaimana? Mereka beli banyak tanah di desa-desa, mereka beli banyak tanah di daerah resapan air, mereka ambil banyak mata air pegunungan buat dijadiin air kemasan, jawab saya lagi Sedangkan kita? Tanah saja saya belum punya. Apalagi air. Yang ada malah ngencingin tanah air kita Hahaha. Tapi ada lagi yang lebih cinta, Pak? Siapalagi tu? si Bapak sudah cengengesan dahulu padahal saya belum bilang apa-apa.
153

Orang asing Orang asing? Iya, kata saya Mereka bukan hanya membeli tanah dan air saja. Tapi gunung emas pun mereka bawa ke negerinya. Minyak juga mereka sedot sampai habis. Pokoknya, saking cintanya, mereka buat diri mereka maniak cinta Maniak Cinta beda dengan Republik Cinta. Republik Cinta itu kerjaannya Ahmad Dhani, Maniak Cinta buatan mereka. Hahaha kami dibuat tertawa bersama-sama. Mentertawai satirnya negeri ini, mentertawai diri kami sendiri, yang bukan pelawak, tetapi dapat membuat manusia tertawa. Makanya orang asing selalu ingin kita menjadi negara berkembang terus, ujar saya lagi Berkembang itu kesannya indah dan cantik. Tetapi bukan itu yang mereka maksudnya, Pak Lalu? Mereka ingin merekalah yang menjadi kumbang dan kita selamanya jadi kembang, kata saya Biar bisa dimadu Si Bapak tersenyum, tetapi tidak sempat tertawa, sebab handy talky-nya hidup. Seolah-olah ada yang memberinya nyawa sehingga itu handy talky bisa berbicara. Yu, Mas. Saya tugas dulu. Demonstran sudah datang di depan Oh, Bapak kenapa tidak bilang kalau kamu sedang menunggu demonstran. Padahal yang sedang berbicara dengan kamu tadi adalah seorang demonstran juga. Coba saja kamu bilang dari tadi, tentu kamu tidak usah capai-capai menunggu. Saya dengan ikhlas dan terbuka akan memperkenalkan diri, kalau saya bagian dari orang-orang yang teriak-teriak di jalan itu. Namun semua berlangsung cepat. Si Bapak polisi berlalu. Saya juga begitu. Saya percepat langkah untuk mendekati mobil itu. Mobil yang menjadi depan orang154

orang, mobil yang diatasnya orang berbicara keras-keras, mobil yang di depannya ada tulisan GO BACK OBAMA. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Suara itu dibalas takbir massa demonstran, Allahu Akbar. Dan disambut aparat yang berbaris rapi memegang tameng. Tak lupa, ibu-ibu, anak-anak, dan tukang ojek pun menyambut mereka. Dengan terpana. Seakan ada tayangan sinetron laga di depan mereka. Sedangkan saya tidak menyambut, meskipun saya ada disitu. Saya cari beberapa kawan untuk sekedar melepas kangen. Sebab lebaran kemarin saya tidak sempat maaf-maafan dengan mereka. Saya lebaran di Bandung. Demonstran lalu izin maju terus ke depan, hingga flyover dekat kampus UI, aparat tidak kasih izin. Mereka menahan laju pawai di ruas jalan tengah, jalan yang sebelah kiri dan kanannya ada jalan. Namun polisi memberi izin kalau ada yang mau ke belakang dahulu. Tidak perlulah unjuk jari seperti di kelas. Cukup pisahkan diri saja, terus carilah WC terdekat. Dan itu ternyata tidak membuat pemimpin demo Tolak Obama ini berhenti untuk maju, meski sudah ada izin ke belakang. Saudara-saudara sekalian! Kita sudah mencoba berbicara baik-baik dengan pihak keamanan. Kita sudah berjanji tidak akan melakukan kekerasan. Tapi aparat ternyata tidak memberi kita izin. Aparat lebih memikirkan Obama penjajah daripada rakyatnya sendiri. Oleh karena itu, kita harus tetap maju. Semuanya maju! Susuri rel kereta hingga ke depan sana! Allahu Akbar! seru pemimpin aksi yang tentu membuat suasana semakin panas. Ini baru mantap! Kata saya. Tapi saya tidak mau ikut. Saya tidak mau tertabrak kereta Pakuan Express. Saya ingin ketemu Obama. Saya ambil poster dari salah seorang peserta aksi. Kau kira itu poster film. Bukanlah. Itu poster yang bertulisan SAY NO TO OBAMA. Memang sekilas seperti SAY NO TO SMOKING. Tapi digambar itu Obama tidak sedang
155

merokok. Jadi kurang pas kalau kau tuduh itu poster dilarang merokok. Lagipula sekarang ada larangan merokok di muka umum. Pemda Jakarta kasih denda yang besar. Sebesar keinginan saya untuk masuk ke gang sempit, yang menghubungkan jalan tengah dengan jalan kiri. Sebab saya rasa, rombongan Obama akan lewat jalan itu. Tidak mungkin aparat keamanan mau membiarkan demonstran bertemu muka dengan Obama. Meski Obama sudah sering didemo di negaranya, tetapi didemo di negeri ini ceritanya bisa lain. Bagaimana kalau sampai demonstran demo memasak, apa jadinya kalau mereka pakai gas yang 3 kg. Yang kita tahu ledakannya lebih dahsyat dari ledakan IED di Irak sana. Oh lihat! Itu mobil Obama sudah terlihat dari sini. Di depannya ada 2 orang pakai motor. Bukan dari klub motor, bukan juga dari geng motor Bandung. Kamu tahu sendirilah siapa yang pakai itu motor. Meskipun tidak perlu kenalan, tidak perlu salaman, tidak perlu tanya nama. Tetapi kamu pasti belum tahu apa yang akan saya lakukan. Ya benar, saya buka poster yang sedari tadi saya gulung. Biar itu Obama bisa baca, biar nanti dia punya cerita ke anaknya di Amerika sana, kalau Bapaknya manakala di Indonesia tidak pernah sekalipun mengalami macetnya Jakarta, tidak juga mengalami didemo orang, kecuali hanya satu orang, yaitu orang yang bawa poster SAY NO TO OSAMA. Itu Obama cerita sambil tertawa ke anaknya. Becanda katanya. Membawa-bawa nama Syekh Osama sebagai guyonan sebab nama dirinya ada di poster yang saya pegang. Belum sempat semua terbuka, entah jin atau makhluk apa, tiba-tiba dia memegang kedua tangan saya. Astagfirullah, apa ini. Kenapa siang-siang begini ada hantu. Dasar hantu gak punya kerjaan! Kata saya itu. Lantas saya lirik itu kepala ke belakang. Oh, ternyata itu polisi yang tadi ngobrol dengan saya. Dia pun sepertinya terkejut, tidak tahu kalau itu adalah saya. Lah kok kamu? tanya dia Mau apa?
156

Menyambut Obama, Pak! Sini-sini, Mas! Dia lantas menarik saya. Di belakangnya ada seorang mempunyai senjata panjang. Tapi dia bukan seorang kapiten. Saya dibawa masuk ke warung nasi yang kebetulan dekat situ. Lalu diminta duduk. Terima kasih, Pak. Saya sudah sarapan. Nanti saja kalau mau traktir makan siang. Sayang, bukan itu yang dibilang. Terjadilah sedikit diskusi yang membahas kelakuan saya tadi. Tetapi tidak lantas itu membuat kami berkelahi. Saya tanya kenapa saya tidak boleh memperlihatkan poster, apakah itu benar-benar bersumber dari hati nurani Bapak. Atau karena bapak ingin nampang di depan Obama tanpa mau saya turut serta. Biar nanti Obama kenal Bapak sehingga bisa kasih ketebelece kalau anak Bapak mau jadi PNS di Gedung Putih. Bapak polisi itu kasih jawaban yang menurut saya bagus dan bijak, saya kira dia memang polisi asli karena saya pikir dia begitu. Dia bilang tidak pantas seorang warga Negara Indonesia yang baik menyambut tamu seperti itu, tunjukan kita tuan rumah yang baik dan santun. Dan saya meresponnya dengan hanya bersenyum, sebagai ungkapan bahwa saya mengerti walaupun sesungguhnya lebih tepat dikatakan bahwa saya pengertian. Pak, apa ciri warga negara yang baik itu harus begitu? kata saya. Iya memang harus begitu Tapi Pak, kalau kata saya, kewarganegaraan itu semata-mata urusan administrasi Maksudnya? Lihat kasus naturalisasi pemain bola. Darah Indonesia yang mengalir, bukan jaminan bisa bahasa Indonesia, papar saya Apa itu seorang warga negara yang baik? Itu mah beda, Mas Jadi kalau saya mengaku WNI tapi tidak bisa bahasa Indonesia, terus tidak tahu budaya Indonesia, tidak tahu letak Indonesia. Apa bisa saya dikatakan WNI yang baik?
157

Masa WNI kayak gitu Oleh karena itu. Bisa jadi kan, mereka mengaku-ngaku WNI tapi mereka tidak mengerti Pancasila, tidak ikutan P4. Atau mereka malah komunis Saya tambahkan lagi bagaimana kalau dengan penjahat, pengedar, perampok yang jelas-jelas pernah ikut Pancasila dan sempat dapat penghargaan P4, apakah mereka warga negara yang baik, apakah mereka tidak pantas menjadi WNI, kalau tidak pantas kenapa malah ditahan, kenapa tidak dideportasi sekalian. Dan saya merasa saya adalah warga negara yang baik. Saya tahu Pancasila, saya pernah ikutan P4, saya tidak merampok juga tidak membuat kekerasan, kata saya Saya hanya ingin memberi pesan kalau Obama itu adalah tidak diterima disini karena dia adalah penjajah. Dan penjajahan di dalam konsitusi negara itu sangat ditentang. Bapak pasti lebih tahu itu Saya mengerti itu, Mas. Tapi kan posisinya saya sedang tugas. Saya harus mentaati atasan Saya juga mengerti, Pak. Sebenarnya kesalahan tidak sepenuhnya karena Bapak. Bapak hanya orang kecil yang terjebak dalam sistem. Lagian Pak, itu mobil Obama sudah lewat. Percuma kalau saya terus disini. Ya sudah sekarang Mas bisa pulang. Apa coba yang bisa kami berikan kepada negara kalau tidak seperti ini? Begitu Bapak mengakhiri obrolan kami. Sambil berlalu di dalam hati saya berkata, seharusnya bukan itu yang kau tanya, Pak, katakanlah, jangan tanya apa yang sudah negara berikan kepadamu tetapi tanyalah apa yang sudah negara rampas darimu!

Bogor, 11 November 2010

158

159

160

Golput, Kentut & Teh Tikput


Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin (5:50)

Sumpah! Saya jengah pas kemaren malam lihat TV. Saking jengahnya, TV sampai saya maki-maki, menyebabkan TV menjadi tentara Amerika. Untung tidak sampai saya pukul dengan stik baseball. Sebab saya memang tidak punya stik baseball, yang ada disini stik sapu. Sebelumnya saya kepikiran buat memperkosa itu TV, namun setelah saya pikir-pikir, apa enaknya memperkosa TV. Meskipun itu TV bernama Sony, saya tidak terangsang sedikit pun. Sebab saya paham Sony itu laki-laki. Kalau perempuan Sany. Saya marah bukan pada TV, tapi pada seorang alim. Dia buat dirinya atas nama lembaga agama agar bisa bilang pada saya kalau golput itu haram. Baginya, golput adalah freepass menuju kolam renang di Neraka Jahanam. Beginilah mungkin orang yang sudah punya kavling di neraka. Sempatsempatnya dia survey kesana. Balas saya tidak mau kalah. Bukan maksud saya ingin kontraproduktif atau nyeleneh atau apalah namanya. Namun saya kurang sependapat dengan banyak apa-apa yang dia bilang. Hanya satu yang
161

saya paham dengannya, bahwa ummat itu membutuhkan pemimpin untuk mengurus mereka. Entah lupa atau tidak, disengaja atau tidak, seharusnya, sebelum berbicara, ada baiknya didefinisikan ulang dulu tentang siapakah pemimpin itu, lalu apa negara itu, serta apa fungsi dari pemimpin dan negara itu sebenarnya. Kalau saja langkah awal ini sudah dibahas sebelumnya, saya yakin, keinginan saya untuk mencabuli TV ga bakal pernah ada. Saya sih coba berpikir sederhana saja. Apakah pantas memilih pemimpin yang melegalkan pabrik minuman keras? Yang dengannya pula maka lokalisasi pelacuran terdata dan terkondisikan? Lalu apakah mau memilih pemimpin yang menyulitkan rakyat kecil? Yang dengannya maka BBM naik, sekolah mahal akibat duitnya diberikan buat para koruptor? Rasanya sulit nurani saya untuk memilih pemimpin yang seperti itu. Membenarkan tindakannya pun nauzubillahhimin dalik!!! Dasar kokolot begog! saya memaki orang tua di TV itu. Kokolot begog teh apa? Uum yang sedang nyuapin Revo tanya. Iya itu tuh! Yang di TV! Iya, apa artinya? Kolot itu tua, begog itu monyet! Terus maksudnya? Iya itu orang tua teh mbahnya monyet Emang iya ya? si Uum berpura-pura butuh bodoh atau memang bodoh. Ah saya tidak berani mengatakan dia bodoh. Soalnya dia S1. Memang kenapa kalau S1? Si kakek tua itu malah S3. Ya itu mah pengecualian. Kan dia dari dunia monyet, S3 nya juga pasti di perguruan tinggi monyet. Coba dia dulu transfer kuliahnya ke perguruan tinggi manusia, pasti terakreditasi manusia.

162

Meskipun pilihan kita buruk, tapi kewajiban memilih itu tetaplah wajib adanya. Lebih baik memilih yang baik dari yang buruk, memilih yang buruk dari yang terburuk Hey, siapa itu yang berbicara? Si Uum kah? Oh bukan. Dia sedang ke dapur ambil itu piring kotor bekas Revo. Oh ternyata kakek tua itu lagi yang seakan-akan terus menantang saya untuk berani memperkosa TV. Sudahlah Kek! Saya tidak akan terpancing olehmu. Saya tidak akan merusak TV saya hanya sekedar melampiaskan kekesalan saya. Kalau TV saya rusak, pasti kamu tertawa. Sebab dengan begitu kamu tidak saya maki-maki. Kek, sebenarnya kalau kau bilang seperti itu di negara ini, sebenarnya tidaklah tepat. Salah malah. Orang ini negara sekuler, kenapa juga kau memaksakan dalil agama ke tangah rakyat. Lain kalau negeri ini berideologi agama. Perkataanmu itu semakin menyadarkan rakyat, kalau ayat-ayat yang kau gunakan itu hanya sebagai alat untuk mempermainkan kepentingan sebagian pihak. Dan sialnya Kek, secara dasar agama pun, apa yang kau lakukan juga salah. Sebab atas dasar apa kita harus memilih pemimpin tapi pemimpinnya tidak mau menerapkan ajaran agama. Mungkin Kakek lebih tahu, ada kan dalil yang menyatakan; andai satu orang saja penduduk suatu negeri kelaparan maka yang dihantam palu godam malaikat penjaga neraka adalah pemimpin orang tersebut. Betul tidak Kek? Kalau kurang tepat sedikit, wajarkan saja. Itu tugas Kakek yang ada di lembaga agama untuk membenarkannya. Nah sekarang mari kita berandai-andai lagi. Kalau ada satu pasang manusia berzina bukankah empatpuluh keluarga di sekitarnya dilaknat Allah kan, Kek? Jangan tanya masalah pemimpinnya. Dia mah sudah pasti kena. Anggaplah 100 juta warga di Indonesia melakukan dosa. Coba hitung, berapa milyar kali palu godam yang bakal dikentungkan ke jidat pemimpin yang kau suruh kami agar memilih mereka?

163

Kek, saya ini orang yang tidak tegaan. Selain itu, saya juga orang yang tidak suka kekerasan. Jadi maklumi dan dukunglah saya kalau saya tidak memilih salah satu dari calon pemimpin negeri ini. Sungguh saya tidak tega melihat nanti mereka dipukuli palu godam sementara saya ongkangongkang kaki tiduran ma bidadari. Nanti mereka protes ke Allah, lalu demo di hadapan saya, minta agar saya masuk neraka juga. Alasannya, dulu saya dibuatkan KTP tanpa harus nyogok. Tapi lantas saya buru-buru bilang ke Allah, bukan salah Bunda mengandung, tapi salah ayah yang punya burung. Terjemahannya, saya tidak pernah berharap lahir di Indonesia. Semua itu bagimana Allah. Salah sendiri dulu tidak mempersulit KTP saya. Jadi kita berdosa ya Bi kalau tidak memilih? si Uum sudah balik dari dapur. Biarlah kalau dianggap berdosa juga. Toh dosa ini paling buat kita sendiri. Bukan dosa hasil kelipatan yang akan diterima mereka, kalau ternyata mereka salah dalil Justru harusnya kalau golput semua itu bagus kata saya lagi. Bakal banyak hal positif yang didapat. Artinya para golput dapat memilih pemimpin yang mereka inginkan sendiri. Pemimpin ini nantinya bakal mempunyai legitimasi yang sangat kuat. Kalau misal itu tidak terjadi, sudah pasti Indonesia akan terhindar dari hutang luar negeri. Juga dari keterikatan dengan korporasi-korporasi asing. Kenapa? Ya kalau semua golput, itu artinya rakyat sudah tidak sepakat lagi dengan adanya Indonesia. Indonesia bubarkan saja. Bikin lagi negara baru, negara golput, yang kalau ditagih hutang Indonesia tinggal bilang, tagih sana ke Indonesia. Kami bukan Indonesia. Enak kan?? Ya enaklah! Akhirnya kita bisa kentut dengan nyaman lagi. Secara selama ini mau kentut saja di negeri ini susahnya minta ampun. Emang iya?? Ga juga. Kemarin saya kentut di depan Bos bisa. Dia tidak marah. Sebab kentut saya memang

164

tidak keras. Lalu kenapa bilang susah kentut di negeri ini. Ini sih akal-akalna saya saja biar nyambung sama judul diatas Kenapa membahas kentut? Saya sendiri heran kenapa memilih kentut. Yang jelas saya menganggap omongan Kakek kokolot begog tidak ubahnya mirip kentut. Berbunyi dan berbau tapi tidak bermakna apa-apa. Berguna sih ada. Tapi berguna buat dirinya sendiri. Berguna buat kesehatannya. Sebab kalau tidak kentut berarti dia tidak normal. Keinginan untuk kentut itu adalah wajar. Sebab dia adalah kebutuhan asasi manusia. Apalagi bagi Kakek kokolot begog yang butuh eksis di tengah masyarakat. Semua orang yang merasa hidup pasti ingin eksis. Termasuk juga saya. Akan tetapi kentut bisa menjadi kurang ajar manakala melepaskan kentut tidak pada tempatnya. Misal di tengah keramaian pasar. Beruntung kalau disana ada yang suka dengan bau kentut. Maka kesalahan kita akan termaafkan ketika dia dengan nikmatnya menyedot bau kentut kita. Namun apa jadinya kalau di pasar itu tidak ada seorang pun yang suka dengan bau kentut? Mau disembunyikan kemana kentut kita? Akankah kamu masukan lagi ke dalam? Atau kamu hirup lagi dengan dalam? Lalu ada hubungan apakah Teh Tikput dengan kentut? Teh Tikput sama sekali tidak ada hubungannya dengan kekisruhan pikiran saya. Doski hanyalah seorang cewek yang saya gandrungi sekarang. Ups! Semoga Uum tidaklah mendengar ini. Tapi biarlah, dia sudah tahu kalau saya suka Tikput. Nama itu sengaja saya ciptakan sendiri sebagai panggilan sayang buat perempuan yang aslinya bernama Tika Putri. Jangan kau anggap saya ini selingkuh dengannya. Sebab memang tidak ada keinginan seperti begitu dalam benak saya. Kalau pun ada, hanyalah keinginan menikahinya kalau saya dihadapkan kepada dua pilihan; menikahi Tikput atau menikahi Kakek kokolot begog. Ya iyalah! Emangnya eike
165

bences! Rumpie dech yey! Jelek-jelek gini juga eike kan masih suka ma kecebong. Namun kalau kamu terus memaksa agar saya bisa manarik hubungan antara 3 hal ini, maka saya akan bilang kalau ketiga hal ini memiliki tiga kesamaan. Kesamaan mereka adalah bahwa saya sangat menyukai golput, menyukai mengeluarkan kentut, dan sangat-sangat menyukai menikahi seorang Teh Tikput, kalau dia ikhlas.

Jakarta, 29 Januari 2009

166

167

2012
harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan (29:36)

Ketika itu hujan turun, saya terpaksa berteduh di dalam mall itu. Pantas tadi panas sekali Bandung. Sejak tol Cipularang jadi, Bandung memang menjadi lebih panas. Mungkin ini karena tol Cipularang yang membuat Bandung menjadi dekat dengan Jakarta. Tapi kalau karena itu, kenapa bukan yang Jakarta yang jadi dingin. Oh iya, Jakarta kan ibukota. Jadi wajar kalau Bandung menjadi panas. Sebab seorang anak yang baik harus menurut pada ibunya. Ketika saya terpaksa berteduh di dalam mall, saya lalu mencari tempat duduk tapi semua sudah penuh oleh orang. Haruskah saya marah dan sakit hati pada mereka? Tidak usah begitu dong. Saya kan pemaaf dan hatinya tidak sakit. Ketika saya tidak jadi marah dan sakit hati, saya pergi masuk ke dalam mall. Ketika saya memutuskan masuk ke dalam mall, saya pergi ke area bioskop. Ketika saya pergi ke area bioskop maka itu adalah sebuah area yang dipenuhi poster-poster film di kanan kiri. Ketika saya pergi ke area yang dipenuhi poster-poster film di kanan kiri, maka saya harus melewati kafe-kafe yang wanginya membuat saya lapar, tapi karena tidak punya uang, saya bikin perut tetap lapar. Ketika saya memutuskan pergi ke area yang dipenuhi poster-poster film di kanan kiri maka
168

itu saya boleh ajak siapa saja untuk ikut sebab itu tempat gratis. Itu pun kalau saya mau. Ketika saya sudah sampai di area yang dipenuhi posterposter film di kanan kiri, maka saya mencari tempat duduk. Oh itu ada yang kosong. Kursi merah marun melingkar di sebuah pilar. Lihat, ada dua orang sedang pula duduk diatasnya. Kalau demikian adanya, saya harus pula dapat duduk disana. Biar afdol. Biar sesuai dengan kemauan arsitek yang sudah merancang ruangan ini dengan susah payah. Sebab kalau tidak duduk disana, nanti kamu dianggap tidak menghormati budaya di sekitar situ. Bukankah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung? Namun saya tahu, kalau saya tidak boleh meminta lebih dari sekedar itu. Mentang-mentang merasa diri tamu, lalu berkata Tamu itu ibarat raja, oleh karena itu apapun yang saya minta maka harus ada. Tidak. Saya tidaklah seperti itu. Sedikitpun saya tidak akan berani meminta pengelola bioskop untuk memberi saya minuman bersoda plus pop corn. Sebab mereka pasti tidak bakal kasih. Sudahlah, jangan manja. Alhamdulillah saya tidak. Lalu saya merebahkan pantat disitu. Dimana? Di bagian yang itu, yang di depannya ada poster film. Sengaja saya tidak duduk diantara mereka karena kalau saya duduk diantara mereka, nanti satu dari mereka bertanya-tanya. Yang satu lagi mungkin terpana. Ini siapa kok berani-beraninya memisahkan kami. Sumpah saya tidak senekat itu dan memang tidak mau dianggap wasit tinju, yang karenanya maka dua orang menjadi terpisah. Lebih baik menjadi wasit senam. Cukup melihat dari jauh tapi tidak dianggap melecehkan. Sengaja saya duduk dekat-dekat mereka. Biar setiap kali saya melirik ke kanan, maka akan saya dapati mereka asyik mengobrolkan film 2012 yang akan mereka tonton. Film yang saat itu sedang menjadi heboh, sedang menjadi sebagian orang marah, sedang menjadi gosip di TV, sedang
169

banyak bajakannya di Kota Kembang. Sedangkan saya belum sempat membeli film itu. Sebab sudah melihatnya dari DVD bajakan punya teman. Loket karcis 2012 sudah dibuka? saya coba bersikap sopan pada senior yang menguasai kursi itu terlebih dahulu. Itu adalah kebiasaan yang suka diajarkan kalau kamu masuk sekolah baru. Agar takut pada senior. Belum Masih lama? Sebentar lagi. Paling setengah jam lagi Oh Setelah berkata Oh, tidak membuat saya lantas berhenti mengajak mereka mengobrol. Saya mencoba membagi tahu, tapi bukan tahu Sumedang. Ini sekedar membagi tahu, kalau film yang dibintangi John Cusack ini difatwa sesat oleh Majelis Ulama Indonesia cabang Malang. Pun begitu dengan Rektor UIN. Bagi mereka, 2012 lebih bahaya dari Miyabi. Wow, hebat sekali Rektor tahu Miyabi. Apakah dia pernah melihatnya? Atau jangan-jangan terpesona juga seperti saya ketika melihat Miyabi. Ini bukan berarti saya suka melihat Miyabi. Saya lihat Miyabi sekedar ingin tahu. Maklumlah namanya juga anak muda. Mereka kan butuh banyak informasi untuk mendewasakan hidup mereka. Ah, alasan saja kau! Ya memang ini alasan. Agar tidak dikira maniak. Ternyata kedua pemuda itu sudah tahu apa yang itu saya bilang. Bahkan kata mereka, film berbiaya USD200 juta itu berhasil mendapat untung lebih dari modalnya. Malah, masih kata mereka, film ini masuk 10 film box office yang paling laku di seluruh dunia. Memang sih film itu bisa mempengaruhi pemikiran orang. Tapi itu kan film fiksi. Lagian saya yakin kok orangorang tidak sebodoh itu untuk percaya sama film jelas salah seorang pemuda yang ada persis di samping saya.

170

Orang-orang tuh suka menilai tapi dianya belum melihat film itu, tambah seseorang yang ada disebelah orang disebelah saya Aku rasa tidak fair kalau menetapkan sesuatu itu A atau B sebelum dilihat dulu aslinya bagaimana Saya manggut-manggut. Larangan itu tidak perlu, kata yang disebelah saya lagi Melarang itu malah tidak mendidik. Karena itu membatasi hak asasi Saya manggut-manggut. Lagi. Ingin saya ikutan bicara, tapi tidak usahlah. Mereka sekolahnya sudah tinggi-tinggi. Jadi pasti tahu kalau di ajaran agama samawi, ketika kiamat terjadi, tidak ada satu pun makhluk yang selamat, semua hancur bersama hancurnya alam semesta. Jadi tidak perlu juga saya kasih jelas kalau film 2012 ini secara tersirat bilang kalau kiamat boleh saja terjadi, jika samapi terjadi, maka ikutlah gerbong buatan Amerika Serikat cs, kalau kamu ingin selamat. Jadi tidak juga perlu saya kasih jelas, kalau film ini seakan-akan kirim pesan bahwa keselamatan bukan ada di agama-agama, sebab Tuhan telah gagal binasakan orang Amerika Serikat cs. Ah sudahlah. Kalau saya kasih jelas, nanti mereka marah, sebab saya kasih tahu akhir film yang belum mereka tonton. Lalu saya berkata, masih dalam hati, kalau di dunia nyata, gerbong yang dibangun Amerika Serikat cs itu tak lain adalah jalan neoliberal. Suatu konsep ekonomi-politik yang melarang negara ikut campur dalam soal ekonomi. Hanya pasarlah yang berwenang atas itu. Jika ada yang rugi atau miskin karenanya, anggap saja sebuah seleksi alam. Negara baru boleh campur tangan, dengan catatan, untuk menjamin mekanisme pasar berjalan. Oh tidak. Bahasa apa yang saya buat ini. Begitu lebaynya. Masyarakat kita memang aneh, itu saya berkata-kata Semakin dilarang, malah semakin dicari dan laku. Larangan malah membuat penasaran. Sayangnya masyarakat kita

171

sebagian masih gampang percaya sama sesuatu yang sensasional Iya bener. Dilarang malah makin tenar. Jadinya kontraproduktif sama harapan pemerintah si pemuda yang di ujung menambahkan. Jujur saya katakan. Efek di film ini bagus banget kata saya. Sudah nongton? tanya yang disebelah saya. Sudah saya jawab. Lalu saya bilang juga kalau film itu tidak jauh beda dengan film-film seperti The Day After Tomorrow dan Knowing, kebetulan 2012 punya spesial efeknya yang lebih canggih. Sedangkan alur cerita dan plot tidaklah ada yang baru. Kadang kita ini suka lebay dengan tangan yang entah kenapa bergaya lebay, itu pemuda yang diujung ikut bicara. Lebay gimana? tanya saya. Sudah tahu itu film Hollywood, yang jelas-jelas bukan bikinan orang Islam. Pasarnya juga bukan untuk orang Islam, tapi kenapa itu orang-orang ingin film yang dibuat orang non muslim agar mengandung nilai Islam, paparnya berapi-api Kan orang Hollywood bisa bilang, bikin aja film sendiri kalau bisa. Bukan mencela kami Sepersekian detik, dia kemudian berkata lagi, Harusnya kalau mau menyalahkan, salahkan itu aparat Negara ini. Mereka kan yang bertanggungjawab atas peredaran film itu di Indonesia Betul juga apa yang dia katakan, pikir saya. Kalau saja semua orang di negeri ini berpikir seperti itu, maka tidak perlu risau untuk film bertema apapun. Kan mereka bisa memilah-milah dengan baik. Namun sayangnya tidak semua orang seperti itu. Kebanyakan orang-orang di negeri ini lebih mudah percaya apa yang ada di dalam film daripada tidak percayainya. Tahu tidak kenapa tidak ada yang bercita-cita menjadi Tuhan? tiba-tiba saya alihkan pembicaraan.
172

Hah? kedua pemuda itu melongo, lalu tersenyum, tapi tidak menjawab, malah balik tanya, Kenapa memang? Sebab itu tidak sopan!, jawab saya. Yang menyatakan dunia ini kiamat atau tidak, itu kan semata-mata kehendak Tuhan. Itu sudah SOPnya Tuhan selaku pencipta kiamat. Kalau sekarang, tiba-tiba, ada segolongan ilmuwan, paranormal, atau apalah yang merasa tahu kalau kiamat itu tahun 2012, maka sesungguhnya dia telah bersikap tidak sopan pada Tuhan. Dia sok tahu atas perkerjaan yang sudah jadi tugas abadi Tuhan. Padahal saya yakin, Tuhan tidak akan pernah membocorkan SOP-nya sekalipun mereka kuliah mengambil jurusan Teknologi Tuhan, agar nantinya menjadi Sarjana Tuhan. Hehehe mereka tertawa. Tidak seekstrim begitulah, yang sebelah saya coba menjelaskan sesuatu Para pakar menentukan hal tersebut sesuai dengan sains. Bukan berarti memang kiamat. Tapi bakal ada sesuatu yang terjadi Ramalan suku Maya tidak mengatakan kalau dunia kiamat tahun 2012. Mereka hanya bilang pada tahun segitu akan terjadi suatu bencana. Begitu katanya lagi. Itu diamini juga oleh kitab suci bangsa China I-Ching. Bahkan majalah Nature menyatakan bahwa paling tidak tigaperempat spesies di Bumi akan musnah setiap 62 sampai 65 juta tahun. Dan itu tepat di tahun 2012. Bukan hanya itu, tambah dia NASA sudah memprediksi, ada 5 kemungkinan terjadinya kiamat. Busyet kata saya. Ini anak sepertinya dapat A terus di kampusnya. Yang pertama akibat tubrukan asteroid besar. Kedua, bencana iklim akibat pemanasan global. Terus ketiga, perang nuklir. Keempatnya, wabah penyakit akibat eksperimen senjata biologis. Kelima hal-hal lain yang secara statistik kemungkinannya berada dibawah 4 hal pertama Sumpah! Dia menjelaskan itu dengan sangat detail. Sayang saya lupa. Tapi biarlah lupa juga. Nanti tinggal cari
173

di internet. Bisa jadi, dia juga dapat itu dari Kaskus. Atau jangan-jangan malah dia yang menulis; Pertamax, Gan! Segala sesuatu kalau dicari-cari dari sisi ilmiahnya pasti akan kita dapat, kata saya Tapi sebenarnya di dunia ini tidaklah sepasti seperti itu Kenapa tidak pasti? Sains kan ilmu pasti Itu kan klaim tegas saya. Klaim gimana? Buat saya sains itu adalah seperti kesenian Kesenian? Iya, jawab saya Matematika ilmu pasti bukan? Ya Kalau kata saya, bukan. Justru matematika adalah salah satu ilmu yang banyak tidak pastinya. Matematika hanya melatih kita buat taat pada kesepakatan Maksudnya??? Satu tambah satu belum pasti dua. Mereka hanya boleh jadi 2 kalau kita sepakat sedang bicara dalam sistem bilangan persepuluhan. Kalau kita setuju mengubah kesepakatan dari bilangan persepuluhan menjadi bilangan biner yang cuma kenal 0 dan 1, maka 1+1=0. Betul tidak? jelas saya. Hehehe.. iya juga ya? jawab yang disebelah saya. Alhamdulillah dia mengerti. Dia pintar. Tapi yang diujung sepertinya tidak mengerti. Kayaknya dulu dia sering bolos waktu pelajaran berhitung. Semoga hasil ulangannya tidak jelek. Sekarang saya tanya lagi, kata saya Kenapa coba pocong bewarna putih? Hahaha Kok jadi pocong? Jangan ketawa dulu. Coba jawab kenapa? Mereka berpikir sejenak. Si yang pintar lantas menjawab Kan kain kafan itu putih. Harus putih sesuai aturan agama

174

Nah, ini nih kalau mikirnya secara ilmu pasti terus, ujar saya Pocong berwarna putih itu sengaja, biar kelihatan di malam yang gelap Hahaha. Dalam kurun waktu kurang dari lima menit, setelah kami tertawa bersama-sama, lihatlah hujan sudah benarbenar reda. Nampaknya, bukan nampaknya, karena memang harus, saya harus segera pulang, sebab obat yang saya pegang ini ditunggu untuk dimakan. Akhirnya itu saya pamit pada kedua pemuda tadi. Tidak perlu diiringi lagu Kemesraan segala. Ini bukan perpisahan pejabat. Ini hanya berpisahnya 3 orang pemuda yang sama-sama memikirkan masa depan. Yang peduli akan kedatangan Imam Mahdi. Kamu percaya Imam Mahdi? Iyalah? jawab kedua pemuda itu. Berharap segera turun ga? Iya Kalau begitu, perbanyaklah membuat kerusakan di muka bumi. Sebab Imam Mahdi hanya akan turun menyelamatkan dunia ketika kemaksiatan dan kejahatan semakin merajalela Hahaha... Oh, bertapa sulit sekali saya merangkai kalimat ini. Sehingga harus dua hari merombaknya menjadi seperti ini.

Jakarta, 25 November 2009

175

176

177

178

Lagu Anak Sesat


Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu) (64:15)

Apa tanda-tandanya anak sudah bisa diajarkan menyanyi? Disini, di kontrakan Gandaria, Jagakarsa, tandanya adalah ketika itu anak memanjat teralis jendela. Itu versi kontrakan sini. Entah versi kontrakan Pak Haji Umar atau kontrakannya Bang Asmin yang Ketua RT. Yang jelas anak sini, Revo, mulai bisa diajari nyanyi ketika dia memanjat teralis jendela. Saya tidak tahu kenapa sejak itu dia mulai bisa diajarkan menyanyi. Apakah karena ia merasa dirinya Sir Edmund Hillary yang sedang memanjat Everest, yang butuh nyanyi agar semangat, ataukah dia merasa dirinya bagian Easy Company, yang sedang latihan menaiki bukit? Agrh kenapa saya sampai sejauh itu memikirkannya. Toh saya yakin Revo belum pernah lihat Edmund Hillary atau Band of Brothers. Lihatlah dia, itu Revo, memanjat naik terus ke atas. Bersemangat dengan nyanyian karangannya. Ke itu ujung gorden. Sengaja saya tidak suruh dia turun. Biarkan saja pikir saya. Toh kalau jatuh pun pasti bawah. Tidak bakal ke atas. Lagian kasihan nampaknya dia sedang begitu konsentrasi dengan lagu gubahan dan usaha mendakinya.
179

Satu lagu beres, nampaknya. Tak selang 5 detik dia buat nada-nada pentatonik yang tidak beraturan lagi. Beradu dengan suara hujan yang memang sedang lebatnya. Sekonyong-konyong, sebuah guntur yang tidak memakai M Romli belakangnya ikut memeriahkan suasana. Revo kaget dibuatnya. Hampir saja dia free fall. Namun dengan sigap tangannya dia pegangkan lagi ke teralis besi. Mukanya memucat melihat kiri kanan seperti orang mau menyebrang. Saya lihat kiri kanan juga. Tidak ada mobil, tidak ada truk gandengan. Bebas untuk menyebrang. Saya bilang ke Revo supaya terus menyebrang tapi dia malah tetap celingak celinguk. Lantas memanggil itu nama alias saya sambil menangis keras. Ah, ada apakah gerangan? Kenapa dia tidak memanggil nama asli saya saja? Kan kita sudah saling kenal. Apa karena tidak sopan? Sebab budaya Timur melarang seperti begitu. Oh, ternyata dia hanya ingin turun dari teralis besi itu. Sebab ternyata dia tidak tahu cara turunnya. Aha! Ini saat yang tepat buat saya untuk ikut menyanyi meramaikan suasana. Tentu saja dengan nada-nada yang tidak beraturan juga. Tidak mau kalah dengan Revo. Ayo teu tiasa turunnnn. Ayo teu tiasa turunnn Ayo teu tiasa turunnn (Ayo tidak bisa turun) itu saya berkoceh sambil menepukkan tangan dengan tepuk yang jelas bukan tepuk Pramuka. Tahu dibegitukan oleh saya, tangis Revo sekarang disertai jerit metalnya. Jerit yang bisa terdengar sampai ke mimbar masjid, yang terhalang kebun sepanjang lima puluh meter itu. Suara dia memang keras begitu. Kalau sudah menjerit seperti itu, tak kalah lah dengan Sammy Hagar-nya Van Hallen. Sumpah demi metal! Demi mengakhiri konser metal dadakan, saya mendekati Revo. Saya pegang badannya dari belakang. Kalau mau jadi vokalis metal tidak usah naik-naik teralis segala. Naik teralis mah cocoknya jadi wallclimber. Mengerti tidak, begitu saya
180

bilang dan tanya padanya. Alhamdulillah dia tidak mengerti. Ya sudah akhirnya saya turunkan dia dari teralis yang menjadi neraka baginya. Sok ayeuna mah amengna dihandap we! (Ayo sekarang mainnya dibawah saja) kata saya. Revo sesegukan. Tangisnya masih belum habis. Namun berangsur mereda seketika si Uum yang pengusaha pabrik susu datang. Eneng, nyanyi Naek Kereta Api kumaha? si Uum membuka keramaian. Apitutttt. tutttt. tuttttt Revo menyanyi-nyanyi sambil kepalanya goyang kiri kanan mirip orang lagi dugem. Oh mungkin begini ya kalau bayi dugem. Pikir saya. Naik kereta api tut.. tut.. tut.. siapa hendak turut.. ke Bandung.. Surabaya.. bolehlah naik dengan percuma.. ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama.. itu Uum melanjutkan nada-nada Doel Sumbang nya. Eh Um, lagunya ganti ah! larang saya, Jangan lagu itu! Kok diganti? Uum bertanya-tanya. Itu mah lagu yang mengajarkan yang tidak benar Tidak benar apanya? Masa mengajarkan anak biar nanti naik kereta gratisan. Pantesan saja PT KAI suka berkeluh kesah rugi terus Kok gratisan??? Oh iya. Hehehe Uum tersadar tapi kemudian malah nyengir kuda. Yeee malah nyengir deui, timpal saya, Mau tidak nanti si Revo kalau besar naik keretanya ke atas gerbong terus? Ya nggak lah jawab dia, Trus nyanyi apa atuh? Seterah. Yang penting yang ararekoy Neng, nyanyi balonku yu Neng! Uum mengajak Revo mengganti lagu. Dengan serta merta Revo lalu teriak Dollllllllllllllllllll Mungkin maksudnya balonnya meletus.
181

Eh, tapi lagu Balonku juga jangan larang saya lagi. Kok jangan lagi? Itu lagu yang mengajarkan anak tidak pandai berhitung. Masa balonnya cuma 5? Kan seharusnya balonnya ada 6. Sok geura itung! (Coba saja hitung) Balonku ada 5 ruparupa warnanya merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru meletus balon hijau, dorrrr!!! Dolllllllllllll Revo ikut-ikutan ngedorrr. Coba hitung berapa warnanya tuh? Ada 6 kan?!" Eh iya ya. Kok baru tahu ya? Hehehe, kata Uum Trus lagu apa lagi yang tidak boleh? Sebentar mikir dulu nih sengaja saya mengulur-ngulur waktu agar banyak lagu yang tidak boleh dinyanyikan. Bukan apa-apa, soalnya suara si Uum fals. Tapi sebenarnya bukan itu kok alasannya. Saya sengaja saja mencari-cari alasan biar si Revo lebih pintar mengaji daripada menyanyi. Sepertinya alasannya tidak menyambung ya. Tapi biarlah. Lalu saya katakan pada Uum kalau lagu Taman Yang Paling Indah (Taman yang paling indah hanya taman kami, taman yang paling indah hanya taman kami, Tempat bermain, Berteman banyak), adalah lagu yang bertentangan dengan akidah Islam, atau bisa jadi karena penciptanya tidak gaul. Kok bisa? Uum tanya. Yakin ga kalau lagu itu keluar dari nurani anak-anak TK? Ga tau Dimana-mana juga pasti yang indah menurut mereka mah Dufan, TMMI atau Jungle Hehehe.. Iya, iya. Terus hubungannya dengan akidah dan pencipta nya tidak gaul? Saya lalu bikin jelas itu ke Uum kalau dalam Islam taman yang paling indah itu hanya ada di surga, yaitu Taman Firdaus. Bukan di dunia kita di surga. Mengatakan taman yang paling indah adalah taman kanak-kanak itu artinya
182

mengajarkan tidak percaya surga. Lalu saya bilang lagi, kenapa itu pencipta tidak gaul, lagu itu bukti pendapat sepihak dari si pencipta yang mungkin tidak pernah main ke banyak tempat lain yang indah, sehingga hanya taman kanakkanaklah yang dia anggap paling indah. Hehehe. Si Uum tertawa Lagu Bangun Tidur (Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..) juga tidak boleh. Itu saya bilang ke Uum Sebab lagu ini mendidik anak tidak disiplin, selalu buru-buru, dan mengajarkan nudism. Masa setelah mandi lalu membereskan tempat tidur. Kan badannya masih basah. Bahkan telanjang pula. Harusnya yang benar kan pakai baju dulu. Lagu Burung Kutilang, Ibu Kita Kartini, dan Bintang Kecil juga tidak boleh! Hah? Kok bisa? Ya bisa dong. Kenapa juga tidak bisa? jawab saya. Lagu-lagu tadi mengajarkan anak untuk pintar berbohong dan memanipulasi realita. Begitu kata saya. Suatu hari nanti kalau mereka, anak-anak, terus diajarkan lagu-lagu seperti ini, maka jangan heran ketika dewasa nanti mereka menjadi koruptor. Coba saja resapi lagu Burung Kutilang (Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiulsiul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu.. menganggukngangguk sambil bernyanyi tri li..li..li..li..li..li..). Sejak kapan suara Kutilang jadi tri li li li li. Bukannya yang benar adalah cuitcuitcit. Yang tri li li li li itu mungkin suara Agnes Monica yang sedang menyanyi di Tra la la tri li li, acara dia di TV. Mendengar itu, Uum cengengesan lagi. Sialan pikir saya. Kenapa dia cengengesan. Padahal saya sedang membahas dengan ilmiah begini. Demi membuktikan keilmiahan saya, saya buktikan lagi dengan lagu-lagu lainnya. Lagu Ibu Kita Kartini (Ibu kita Kartiniputri
183

sejati.. putri Indonesia.. harum namanya) adalah lagu pembodohan begitu saya bilang padanya kemudian. Masa sudah tahu namanya Harum eh masih dibilang Kartini. Bukannya itu pembohongan yang begitu jelas. Begitu juga dengan lagu Bintang Kecil (Bintang kecil dilangit yg biru). Saya suruh saja Uum melihat keluar jendela. Lalu bertanya apakah warna langit diatas itu biru. Saya ulang sampai tiga kali pertanyaan itu. Dan saya yakin semua orang termasuk Uum akan menyangkal penyataan di lagu itu. Sebab langit diluar sana berwarna gelap bukan biru. Hehehe. Iya ya? Iya.. Iya terus ah dari tadi kata saya. Padahal maksud saya, ayo dong pikir lagi lagu apa lagi yang dilarang. Sudah cukup semaput nih mencari alasan-alasan biar masuk akal Naik Delman juga tidak boleh ujar saya lagi. Kenapa? Itu lagu mengajarkan anak tidak sopan kepada orang lain, jawab saya Pada hari minggu ku turut ayah ke kota.. naik delman istimewa ku duduk di muka.. Nah muka siapa tuh yang diduduki? Muka ayahnya atau kusir delman? Hahaha Nina Bobo juga sama Nina Bobo kenapa? Nina Bobo mengajarkan anak hidup penuh ancaman. Hidup dalam naungan teror. Hidup untuk memusuhi ciptaan Allah Hah? Dengarkan nih! Nina bobo.. ooh nina bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk, saya berdendang Nyamuk dicap teroris setiap hari. Padahal Allah menciptakannya tentu ada gunanya. Bukan semata-mata menjadi teroris buat manusia setiap malamnya Hehehe Ah ada-ada aja Ya harus diada-adain atuh! Apalagi?
184

Lagu Cakul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung di kebun kita Itu kenapa? Itu lagu yang mengajarkan anak agar menjadi orang yang lebay, bodoh, dan tidak efektif juga tidak efisien. Lha wong mau menanam jagung kok mencangkulnya dalamdalam. Memangnya mau bikin sumur. Kuburan juga paling satu meter tidak perlu dalam-dalam sekali? Hehehe Hehehe Revo ikutan ketawa melihat Uum cengengesan dari tadi. Eh, si Eneng siga nu ngartos wae (Ih si Eneng seperti yang mengerti saja) kata saya,Eneng ngartos? (Eneng mengerti?) Manyunmanyun muachhh Revo malah memajukan bibirnya, lalu mencium si Cobo, boneka beruangnya yang segede alaihim gambreng itu. Nih ada lagi!, kata saya Lagu Aku seorang kapiten! Memangnya kenapa lagu itu? Lagu ini mendidik anak menjadi penjajah yang tidak konsisten. Sekaligus mengajarkan Revo menjadi tomboy Alasannya? Lagu itu kan lagunya anak laki-laki. Nah klo si Eneng diajarkan lagu itu. Nanti dia malah main pedang-pedangan. Bukan boneka atau masak-masakan. Tomboy lah sudah dirinya. Beruntung kalau cuma tomboy saja. Kalau jadi aktivis kesetaraan gender yang feminis bagaimana coba? Hehehe Terusterus??? Lagu ini juga tidak konsisten. Kalau misal ingin cerita tentang sepatunya seharusnya menyanyi beginiAku seorang kapiten mempunyai sepatu baja, bukan pedang panjang.. kalau berjalan prok..prok.. prok.. Tapi kalau ingin cerita tentang pedangnya, harusnya menyanyinya seperti begini mempunyai pedang panjang kalo berjalan srek.. srek.. srek Benar tidak???
185

Iya hehehe Kalau yang menjadi penjajahnya gimana? Uum membuat dirinya bagai investigator polisi. Ah itu mah gampang. Kapiten kan khas istilah jaman Kompeni begitu. Benar tidak? Pertanyaanya sekarang, kenapa harus Kapiten? Kenapa tidak Mujahid atau Mujahidah? Coba dengarkan kalau lagunya digubah menjadi seperti ini Aku seorang Mujahidah mempunyai pedang panjang kalau berjalan sretsretsret. Aku Seorang Mujahidah! Lebih pas dan syari kan? Hehehe... Bener-bener Uum mengiyakan saja. Soalnya kalau tidak mengiyakan percuma baginya. Biasanya kalau tidak mengiyakan selalu akan saya arahkan agar menjadi iya dengan apa kata saya. Jawab iya atau tidak iya menjadi sekedar formalitas baginya sebab jawabannya sudah ada; Iya. Begitulah saya yang telah menjadikan saya bagai penjajah baginya. Tapi tentunya saya bukan penjajah yang semena-mena seperti Tuan Daendels. Terus lagu apa atuh kalau begitu yang cocok buat Eneng? tanya Uum. Sudah dengarkan saja ini! saya perlihatkan CD Murrotal yang kemudian saya santapkan ke mulut DVD player. Lalu saya seolah-olah menjadi Tuhan dengan menghidupkannya. Murotal pun mulai mengalun dengan indahnya. Aohhhhhhh Revo mengangkat kedua tangannya lalu melipatkannya di perut. Hampir mirip dengan orang yang sedang takbiratul ikhram. Setelah itu lalu dia sujud dengan pantat yang ditunggingkan dengan lebaynya. Begitu berulang-ulang. Berulang-ulang. Dan berulang-ulang.

Jakarta, 07 Desember 2009

186

Kalau tidak ada kebenaran maka sudah pasti saya salah, dan kalaulah tidak ada kesalahan sudah jelas tidak perlu ralat.

187