Anda di halaman 1dari 14

HANDOUT Mata Kuliah Kode Mata Kuliah SKS Dosen : Evaluasi Pembelajaran Geografi : GG501 : 2 SKS : Dr.

Sri Hayati, M.Pd. (1392) Drs. Mamat Ruhimat, M.Pd. (0658) Program Studi : Pendidikan Geografi Prasyarat : Telah lulus mata kuliah: (1) Perencanaan Pembelajaran Geografi dan (2) Strategi Pembelajaran Geografi. Waktu Perkuliahan : Semester Genap

Pertemuan ke-1 : Topik : Tujuan, ruang lingkup dan sistem perkuliahan Indikator : Setelah pertemuan pertama, para mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi : 1. Memahami tujuan mata kuliah evaluasi pembelajaran geografi 2. Memahami ruang lingkup perkuliahan 3. Memahami sistem perkuliahan evaluasi pembelajaran geografi Uraian Materi : Mata kuliah Evaluasi Pembelajaran Geografi, termasuk kepada rumpun mata kuliah proses belajar mengajar (MKPBM). Selain Evaluasi Pembelajaran, pada rumpun MKPBM masih ada mata kuliah lain, yaitu Perencanaan Pembelajaran, Strategi Belajar Mengajar dan Penelitian Pendidikan. Mata kuliah ini merupakan salah satu ciri khusus bahwa produk yang akan dihasilkan Jurusan Pendidikan Geografi adalah calon guru geografi di SMP dan SMA. Melalui mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan dapat memiliki pengetahuan yang memadai dalam melakukan perencanaan pengukuran, pembuatan alat ukur dan analisisnya, serta melakukan penilaian pembelajaran geografi. Sistem perkuliahan, sebagin besar terdiri atas tatap muka di ruang kelas. Selain tatap muka, ditunjang pula melalui penugasan membuat alat ukur, mengujicoba alat ukur ke lapangan serta merevisinya. Penentuan nilai akhir bagi mahasiswa, mengakomodasi UTS, UAS, dan tugas. Sumber : Awan Mutakin dkk. (1988). Penilaian Dalam Pendidikan, Bandung: IKIP Bandung Kegiatan Perkuliahan : 1. Dosen memperkenalkan mata kuliah, terutama tujuan, ruang lingkup dan sistem perkuliahan

2. Melalui diskusi, dosen memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk mengajukan sejumlah masalah yang berkaitan dengan topik yang telah dibahas Tugas dan Evaluasi : Kepada mahasiswa diberikan tugas terstruktur untuk mencari dan melengkapi sumber- sumber yang relevan Pertemuan ke-2 Topik : Hakikat evaluasi pembelajaran Geografi Indikator : Setelah pertemuan ini, para mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi tentang : 1. Pengertian antara measurement dan evaluation 2. Posisi pengukuran dan evaluasi dalam sistem kegiatan belajar mengajar 3. Tujuan evaluasi pembelajaran geografi Uraian Materi : Pengukuran (measurement) merupakan suatu usaha untuk mengetahui keadaan sesuatu sebagaimana adanya. Penilaian (evaluation) merupakan semua usaha membandingkan hasil pengukuran dengan bahan pembanding/patokan/standar tertentu. Pengukuran, hasilnya lebih bersifat quantitative judment, sedangkan penilian lebih bersifat qualitative judment. Hasil pengukuran terwujud dalam perolehan angka-angka, sedangkan hasil evaluasi berupa keputusan pendidikan (naik kelas, lulus, tuntas). Pengukuran dan evaluasi dalam PBM, merupakan salah satu komponen penting yang tak terabaikan. Pengukuran, dilakukan guna mengetahui sejauh mana penguasaan kompetensi yang telah dimiliki siswa serta mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya dapat tercapai. Pengukuran, merupakan salah satu langkah awal untuk dapat melakukan penilaian/evaluasi. Grounlund (1970) menyatakan bahwa pengukuran dan evaluasi bertujuan untuk determining pupils progress toward stated educational objectives and using the result of evaluation to improve learning instruction. Asmawi (2003), mengatakan bahwa karakteristik utama dari penilian adalah : (1) proses pengambilan keputusan, (2) bersifat kualitatif. Tes, pengukuran dan penilaian merupakan tiga aspek yang saling berhubungan dalam proses pembelajaran. Tes, merupakan alat ukur/instrument, pengukuran merupakan proses pengumpulan data/informasi dengan menggunakan alat yang sesuai dengan apa yang harus diukur dan hasilnya bersifat kuantitatif, sedangkan penilian merupakan proses pengambilan keputusan berdasarkan data hasil pengukuran. Pengukuran dalam bidang pendidikan sangatlah kompleks. Kemampuan dalam pengukuran membutuhkan keahlian tersendiri. Oleh karena itu, kemampuan dalam membuat alat ukur, melakukan justifikasi terhadap hasil pengukuran merupakan tuntutan professional dari seorang guru.

Sumber : Awan Mutakin, 1998, Gronlund, 1970 Kegiatan Perkuliahan : 1. Dosen menyampaian materi pengukuran dan evaluasi pembelajaran geografi 2. Diskusi tentang pentingnya melakukan pengukuran dan evaluasi dalam sistem belajar dan mengajar Tugas dan Evaluasi : Kepada mahasiswa diberikan tugas terstruktur untuk mencari dan melengkapi sumber- sumber yang relevan, kemudian dosen memberikan sejumlah pertanyaan penguatan di akhir pertemuan secara lisan tentang pentingnya evaluasi pembelajaran geografi. Pertemuan ke-3 dan ke-4: Topik : Alat-alat Pengukuran dan Evaluasi, yang meliputi: (1) rasional/latar belakang penggunaan alat dalam evaluasi, (2) macammacam alat evaluasi/penilaian, serta (3) fungsi dan kebergunaan masingmasing jenis alat evaluasi. Indikator : Setelah pertemuan perkuliahan tatap muka, para mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi : (1) rasional penggunaan alat dalam evaluasi, (2) macam-macam alat evaluasi/penilaian, serta (3) fungsi dan kebergunaan masing-masing jenis alat evaluasi Uraian Materi Untuk melakukan pengukuran dan evaluasi diperlukan instrumen. Instrumen, tersebut berupa alat yang sengaja disiapkan untuk memperoleh informasi terkait dengan program pembelajaran. Instrumennya, dapat berupa tes dan nontes. Asmawi (2003) menyatakan bahwa Tes adalah suatu pertanyaan atau tugas dan atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk memproleh informasi tentang atribut pendidikan atau psikologik tertentu dan setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar, dan apabila tidak memenuhi ketentuan tersebut maka jawabannya dianggap salah. Kelemahan tes, diantaranya : 1)kadangkala hanya mengukur aspek yang sangat terbatas, 2)petunjuk pengisian yang tidak jelas, 3)hasil tes tidak ditindaklanjuti untuk kepentingan proses pembelajaran, 4)pelaksanaan tes tidak cerdas. Tes dan nontes memiliki keunggulan dan kelemahan. Menurut Cronbach (1970), test merupakan a systematic procedure for observing a person behaviour and describing it with the aid of a numerical scale or a category system. Webster Collegiate

menyatakan test is any series of quations or exercises or others measuring the skill, knowledge, intelegence, capacities of attitude or an individual or group. Aspek yang diukur : Aspek atau Komponenkomponen yang diukur dalam suatu tes menurut Bloom, meliputi pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (application), analisis (analysis), sisntesis (syntesis), evaluasi (evaluation). Keenam aspek tersebut di Indonesia populer dengan sebutan C1, C2 sampai dengan C6. Keenam aspek tersebut sifatnya kategorikal yaitu berurutan atau berjenjang. Artinya kategori yang awal membutuhkan kemampuan kemampuan yang lebih sederhana dari kategori berikutnya. Pengetahuan atau pengingatan (C1), meluputi pengetahuan tentang halhal yang khusus yang meliputi pengetahuan tentang istilah dan fakta khusus, pengetahuan tentang tata cara menangani hal khusus yang meliputi pengetahuan tentang aturan/perjanjina dan pengetahuan tentang hal umum. Dasar penysunan alat ukur : Adapun yang harus menjadi dasar penyusunan tes hasil belajar adalah sbb : (1) tes hasil belajar harus dapat mengukur hasil belajar yang diperoleh setelah proses belajar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, (2) butir item harus disusun sedemikian rupa sehingga perangkat tes yang terbentuk benarbenar mewakili keseluruhan bahan yang dipelajari, (3) hendaknya mengukur keseluruhan aspek kompetensi yang diharapkan, (4) diseusun berdasarkan bentuk dan tipe yang variatif, (5) menggunakan pendekatan yang objektif falam menginterpretasi hasil pengukuran, (6) hasil pengukuran hendaknya dapat dijadikan bahan penting untuk melakukan perbaikan pembelajaran di masa yang akan datang. Sumber : Awan Mutakin, 1998, Cronbach, 1970 Asmawi, 2003 Kegiatan Perkuliahan : (1) Dosen menjelaskan alat-alat evaluasi; karakteristik, kelemahan dan keunggulan dari masing-masing alat (2) Dosen menjelaskan fungsi, kebergunaan dan persyaratan dalam penggunanan masing-masing alat evaluasi Tugas dan Evaluasi : Kepada mahasiswa diberikan tugas terstruktur untuk membuat contoh alat-alat evaluasi pembelajaran geografi Media : Dosen mempertunjukkan satu contoh/model alat-alat evaluasi pembelajaran geografi yang telah dibuat pihak lain

Pertemuan ke-5 dan 6

Topik : Pengembangan alat penilaian tes tertulis bentuk objektif yang meliputi: (1) bentuk-bentuk soal, (2) keunggulan dan kelemahan masing-masing bentuk tes, serta (3) kaidah-kaidah penulisan butir soal tes objektif. Indikator : Setelah pertemuan perkuliahan, para mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi : (1) Menjelaskan bentuk-bentuk soal, (2) Mengidentifkasi keunggulan dan kelemahan masing-masing bentuk tes (3) Menjelaskan kaidah-kaidah penulisan butir soal tes objektif Uraian Materi : Soal yang digunakan untuk melakukan pengukuran relatif banyak. Masing-masing bentuk memiliki keunggulan dan kekurangan. Bentuk soal : Beberapa bentuk soal, seperti uraian (essay), benar salah (true-false), pilihan ganda (multiple), menjodohkan (matching) dan melengkapi. Baik buruknya butir soal bukan ditentukan oleh bentuk dan tipe tes. Keunggulan dan kelemahan : Tidak ada satu tipe atau bentuk tes yang lebih baik dari satu bentuk dan tipe tes lainnya. Setiap bentuk dan tipe tes memiliki keunggulan dan kelemahan. Secara garis besar bentu tes ada dua, yaitu tes uraian dan tes objektif. Tes urian memiliki dua tipe, yaitu tipe benar-salah, menjodohkan dan pilihan ganda. Penggunaan masingmasing tipe tes tergantung pada tujuan dari tes itu dilakukan. Baik buruknya soal akan sangat tergantung kepada pembuat soal itu sendiri. Karakteristik ujian obyektif (khusus pilihan ganda), diantaranya adalah : 1) yang diuji mengerjakan tugas-tugas yang telah distruktur secara sempurna, 2) tes dapat meliputi sejumlah item yang besar, 3) tidak dapat mengukur kemampuan mengorganisir jawaban sendiri, 4) yang diuji cukup mencari atau memilih jawaban-jawaban yang telah disediakan, 5) kemungkinan membuat terkaan cukup besar, tetapi dapat dikurangi dengan jumlah soal yang cukup besar, 6) soal dapat disebar untuk setiap topik, 7) setiap soal hanya mengandung satu jawaban yang benar, 8) pemeriksa dapat dilakukan oleh siapa saja, asalkan ada kuncinya, 9) waktu pemeriksaan lebih singkat. Karakteristik soal bentuk menjodohkan, dainatratanya : 1) masalah disajikan dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan yang belum selesai, 2) opsi jawaban, berupa jawaban pendek/isian singakt dan atau melengkapi. Untuk pelajaran dan atau materi-materi tertentu, masih ada pula bentuk tes yang secara khusus bertujuan untuk mengamati perubahan perilaku. Penggunaan dari bentukbentuk soal tersebut senantiasa harus disesuaikan dengan tujuan tes itu sendiri (diagnostik, sumatif, formatif, evaluatif dan seleksi), banyaknya populasi siswa/mahasiswa. Artinya soal yang bertujuan untuk seleksi harus dikonstruksi berbeda dengan ujian yang bertujuan evaluasi. Bentuk tes uraian mengandung pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan soal tersebut harus dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran peserta didik secara naratif. Ciri khas bentuk uraian adalah

jawaban terhadap soal tidak disediakan pihak yang mengkonstruksi soal. Keunggulan bentuk tes uraian, diantaranya adalah : (1) dapat mengukur hasil belajar yang kompelsk, (2) menekankan pada pengukuran kemampuan dan keterampilan mengintegrasikan berbagai buah pikiran secara tertulis, (3) dapat meningkatkan motivasi siswa untuk mengeksplor dan melahirkan kepribadian serta watak, (4) memudahkan guru untuk menyusun butir soal, (5) menekankan kemampuan menulis bagi siswa. Namun demikian, bentuk tes uraian menurut Frisbie (1986) memiliki reliabilitas yang rendah, penyebabnya : (1) keterbatasan sampel bahan, (2) batas-batas tugas yang harus dikerjakan siswa sangat longgar, (3) Kadangkala unsur subjektifitas pemeriksa sangat menonjol. Selain itu kelemahan lain dari bentuk soal uraian adalah waktu yang diperlukan oleh guru dan juga siswa untuk menyelsaikan soal relatif lama. Bentuk tes uraian masih dibedakan lagi atas : (1) extended response, (2) restricted response. Prinsip yang harus senantiasa diperhatikan dalam penulisan butir soal, diantaranya adalah : (1) inti permasalahan harus ditempatkan pada pokok soal, (2) hindarkan pengulangan katakata yang sama pada soal dengan pada opsi jawaban, (3) hindari rumusan kata-kata yang berlebihan, (4) hindari istilah-istilah yang baru dan aneh, (5) kalau bentuk soal pilihan ganda hendaknya opsi jawaban yang disediakan relatif homogen, (6) hindari kalimat semua jawaban di atas benar, kecuali satu jawaban yang salah, (7) diusahan pertanyaan atau pernyataan berupa kalimat positif, (8) hindari pilihan jawaban yang benar yang paling panjang. Sumber : Awan Mutakin (1998) Suharsimi (1987) Frisbie (1986) Kegiatan Perkuliahan : (1) Dosen menjelaskan dan memberi contoh bentuk-bentuk soal dalam pembelajaran geografi (2) Mendiskusikan keunggulan dan kelemahan masing-masing bentuk tes serta kaidah penulisan soal Tugas dan Evaluasi : Kepada mahasiswa diberikan tugas terstruktur untuk membuat contoh alat-alat evaluasi pembelajaran geografi di tingkat SMP dan SMA Media : Dosen mempertunjukkan satu contoh/model alat-alat evaluasi pembelajaran geografi yang telah dibuat pihak lain, kemudian didiskusikan dengan mahasiswa. Hasil diskusi, dijadikan dasar pertimbangan penting bagi para mahasiswa ketika akan membuat contoh soal. Pertemuan ke-7

Topik : Diskusi dan refleksi tugas yang telah dibuat mahasiswa tentang pembuatan contoh soal pembelajaran geografi SMP/SMA. Beberapa mahasiswa diberi kesempatan untuk menampilkan hasil karyanya, sementara mahasiswa lain menanggapinya. Dosen memberikan arahan jalannya diskusi, baik yang menyangkut konten maupun redaksional. Hasil diskusi, dijadikan bahan untuk diperbaiki oleh mahasiswa. Pertemuan ke-8 Ujian Tengah Semester (UTS) Bahan : materi yang telah diberikan pada tujuh pertemuan sebelumnya. Pertemuan ke-9 dan 10 Topik : Pengembangan alat penilaian tes perbuatan (praktik) pembelajaran Geografi, meliputi: (1) bentuk-bentuk penilaian untuk berbagai praktik seperti pemetaan, praktik lapangan, dan partisipasi di kelas, (2) jenis alat penilaian praktik, (3) cara penyusunan alat praktik, serta (4) validitas dan reliabilitas alat praktik Indikator : Setelah pertemuan/ perkuliahan/tatap muka, para mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi : (1) Pemahaman mengenai bentuk-bentuk penilaian untuk berbagai praktik seperti pemetaan, praktik lapangan, dan partisipasi di kelas, (2) Pemahaman mengenai jenis alat penilaian praktik, (3) cara penyusunan dan membuat contoh alat penilaian praktik dalam pembelajaran geografi, serta (4) validitas dan reliabilitas alat praktik Uraian Materi : Alat pengukuran pada dasarnya terdiri atas teknik tes dan nontes. Tehnik tes sudah biasa dilakukan dan sampai saat ini masih mendominasi pengukuran di tataran persekolahan. Ketika pengukuran diarahkan untuk mengetahui kegiatan praktek, sudah pasti diperlukan alat yang sesuai, yaitu tehnik nontes. Tehnik nontes yang diperkenalkan meliputi pedoman praktek, lembar pedoman observasi, pedoman pengamatan tingkat partisipasi. Tehnik nontes dipandang sebagai asesmen alternatif, karena dianggap sebagai pemanfaatan pendekatan nontradisional untuk membri penilaian kinerja atau hasil belajar siswa. Istilah tradisional ditujukan kepada bentuk paper and pencil test. Ada juga pihak yang menyatakan bahwa asesmen alternatif ini sebagai asesmen autentik, yaitu sebagai proses penilaian kinerja perilaku siswa secara multidimensional pada situasi nyata (Asmawi, 2003). Keunggulan asesmen alternatif ini, diantaranya adalah sbb : 1) dapat mengevaluasi hasil belajar yang kompleks, 2) menyajikan suatu evaluasi yang lebih hakiki, 3) dapat menjadi motivasi belajar yang tinggi bagi siswa, 4) mendorong kegiatan pembelajaran pada aplikasi nyata. Kelemahan asesmen alternatif, diantaranya : 1) membutuhkan waktu yang relatif panjang, 2) kadangnya

terjadi penskoran yang subyektif, 3) kerja personal lebih dominan. Tes Tindakan, atau performance test sangat baik dilakukan bila hasil belajar yang diukur berbentuk keterampilan. Tes tindakan, merupakan jenis tes yang menuntut siswa untuk dapat menunjukkan hasil belajarnya dalam tindakan atau tingkah laku yang teramati. Kelebihan tes tindakan, diantaranya adalah : (1) dapat memverifikasi hasil belajar yang diinternalisasikan oleh siswa, tidak hanya yang ada dalam kawasan ingatan dan pemahaman, (2) siswa dapat mewujudkan hasil belajarnya dalam tindakan yang teramati, (3) membatasi siswa untuk tidak melakukan tindakan yang tidak terpuji, (4) pada umumnya bersifat komprehensif, tidak parsial. Kelemahan tes tindkan, diantaranya adalah : (1) tidak semua bahan dapat dipraktekkan, (2) bila praktek tidak dilakukan dengan sesungguhnya, siswa cenderung akan main-main serta tidak teruji easlian tindakannya. Kegiatan Perkuliahan : (1) Dosen menginformasikan hasil UTS, (2) Dosen menjelaskan bentuk dan jenis penilaian praktik dalam pembelajaran geografi, (3) Dosen menunjukkan contoh pembuatan alat penilaian praktik dalam pembelajaran geografi, (4) Menjelaskan dan memberi contoh perhitungan validitas dan reliabilitas, (5) Mendiskusikan bentuk dan jenis alat penilaian praktik dalam pembelajaran geografi Tugas dan Evaluasi : Mahasiswa diberi tuhas membuat salah satu contoh alat penilaian prakteik dalam pembelajaran geografi Sumber : Awan Mutakin (1998) Suharsimi (1987) Asmawi (2003) Pertemuan ke-11 Topik : Pengembangan alat penilaian tes bentuk essay, meliputi: (1) keunggulan dan kelemahan penilaian essay, (2) cara mengantisipasi kelemahan penilaian bentuk essay, serta (3) cara penyusunan tes bentuk essay. Indikator Setelah pertemuan/ perkuliahan/tatap muka, para mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi : (1) Memahami keunggulan dan kelemahan penilaian essay, (2) Terampil mengantisipasi kelemahan penilaian bentuk essay, serta (3) Membuat/ penyusunan tes bentuk essay untuk pembelajaran geografi Uraian Materi : Karakteristik : (1) berupa soal yang mengandung permasalahan dan menuntut penguraian sebagai jawabannya, (2) rumusan soal atau permasalahan hendaknya jelas, sehingga yang diuji dapat menangkap

permasalahan tersebut secara tepat seperti yang dimaksud oleh pembuat soal, (3) jika diperlukan harus diperinci kedalam anak-anak soal sehingga terjamin validitas dan reliabilitasnya. Kebaikan dari soal uraian, diantaranya adalah : (1) siswa diharapkan mampu mengorganisasikan sendiri jawaban, sehingga siswa dituntut tidak sekadar mengenal tetapi harus mampu pula memilih dan menghubungkan fakta-fakta serta pengertian konsep kedalam suatu kesatuan jawaban yang mantap, (2) jawaban didasarkan pada kata-kata atau tulisan sendiri, siswa dituntut untuk dapat mengekspresikan ide-idenya secara efektif. Kecenderungan pemakaian soal uraian, diantaranya : (1) akan efektif untuk kelas yang kecil, (2) waktu untuk mempersiapkan soal sangat pendek, (3) kurang memerlukan kecakapan khusus bagi penguji, (4) bila yang akan diukur kemampuan memilih dan mengorganisasikan jawab. Kelemahan : (1) ujian akan terbatas pada sejumlah pertanyaan, sehingga tidak mengungkap keseluruhan bahan yang harus dikuasai siswa, (2) kemungkinan yang paling jelek adalah terjadinya penilian yang subjektif, sehingga ujian tidak mengukur apa yang seharusnya harus diukur. Variasi Ujian Uraian : (1) memberikan ujian dengan sistem open book, (2) waktu ujian tidak terbatas, (3) pertanyaan fokus pada topik-topik atau subtopik yang lebih kecil. Memeriksa hasil ujian uraian, langakha-langkahnya : (1) tetapkan dulu faktor apa yang akan diukur (fakta, informasi, pengorganisasian fakta, mekanisme bahasa), (2) sediakan contoh jawaban sebagai acuan atau rambu-rambu bagi pemeriksa, (3)membaca setiap jawaban dari seluruh siswa, (4) memeriksa tanpa harus mengingat siapa nama orang yang sedang diperiksa, (5) jangan terpukau oleh jawaban yang panjang, (6) reliabilitas penilai akan meningkat bila nilai itu merupakan rata-rata dari beberapa orang penilai yang bekerja secara terpisah. Kegiatan Perkuliahan : (1) Dosen menjelaskan keunggulan dan kelemahan penilaian essay, (2) Dosen menjelaskan berbagai upaya memgatasi keunggulan dan kelemahan penialaian essay dalam pembelajaran geografi, (3) Dosen menunjukkan contoh pembuatan alat penilaian essay dalam pembelajaran geografi, (4) Menjelaskan dan memberi contoh pembuatan bentuk penialain uraian dalam pembelajaran geografi, (5) Mendiskusikan contoh bentuk penialaian uraian dalam pembelajaran geografi Sumber : Awan Mutakin (1998) Suharsimi (1987) Tugas dan Evaluasi : Mahasiswa diberi tugas membuat contoh pembuatan soal bentuk uraian pembelajaran geografi di SMP dan SMA Pertemuan ke-12 Topik : Pengembangan penilaian non tes, meliputi: (1) wawancara, (2) observasi, (3) sikap dan minat, serta (4) penilaian portofolio

Indikator Setelah pertemuan/ perkuliahan/tatap muka, para mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi : (1) Pemahaman pentingnya pengembangan alat ukur nontes dalam pembelajaran geografi, (2) Menjelaskan jenis-jenis alat penilaian nontes dalam pembelajaran geografi, (3) Membuat contoh pengembangan alat ukur nontes Uraian Materi : Untuk mengukur pencapaian kompetensi, tidak hanya melalui tenik tes, tetapi juga nontes. Jenis alat ukur yang dikembangkan, diantaranya : (1) wawancara, (2) observasi, (3) sikap dan minat, serta (4) penilaian portofolio. Fortofolio, merupakan kumpulan dokumen fisik dari hasil kerja siswa yang relevan dengan topik yang dibahas. Fortofolio dapat berperan sebagai suatu proses dan tempat. Tempat, yang dimasudkan dapat berupa koleksi materi fisik atau data yang disimpan dalam suatu folder tertentu. Sedangkan proses, melibatkan berbagai sumber dan metode pada periode tertentu. Hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan fortofolio : (1) hendaknya memiliki kriteria penilaian yang jelas dan terukur, (2) hasil karya yang didokumentasikan dapat berasal dari semua orang, (3) dapat terdiri atas karangan, hasillukisan/gambar yang relevan, foto, (4) kualitas fortofolio harus selalu ditingkatkan, (5)terbuka bagi orang-orang yang secara langsung bekepentingan dengan hasil karya. Kekuatan fortofolio : (1) kemajuan belajar setiap saat dapat dilihat dengan jelas, (2) fokus pada pengembangan hasil karya terbaik dan berkesinambungan, (3) memberikan motivasi tinggi pada siswa untuk terus meningkatkan hasil karyanya, (4) menyajikan penilaian terhadap perbedaan individu, (5) menjalin komunikasi yang kondusif dengan orang tua dan masyarakat. Pengukuran kompetensi siswa melalui teknik nontes, harus disediakan rubrik yang memuat aspek-aspek yang akan diukur (misalnya ketepatan waktu, relevansi dengan geografi, keakuratan data) serta sekaligus dengan pedoman pensekorannya. Kegiatan Perkuliahan : (1) Mendiskusikan pentingnya pengembangan alat ukur nontes, (2) Menginventarisasi jenis-jenis alat ukur nontes, (3) Menunjukkan contoh pembuatan contoh alat ukur nontes dalam pembelajaran geografi Tugas dan Evaluasi : Mahasiswa diberi tugas untuk membuat salah satu contoh/model alat ukur nontes untuk pembelajaran geografi Sumber : Awan Mutakin (1998) Suharsimi (1987) Asmawi Zainul (2007) Pertemuan ke-13

Topik : Validitas dan reliabilitas alat, meliputi: (1) pentingnya validitas dan reliabilitas alat evaluasi, (2) jenis validitas dan reliabilitas, (3) cara-cara perhitungan validitas dan reliabilitas alat evaluasi Indikator Setelah pertemuan/ perkuliahan/tatap muka, para mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi : (1) Pemahaman pentingnya validitas dan reliabilitas alat evaluasi, (2) Mengidentifikasi jenis-jenis validitas dan reliabilitas, (3) Menghitung cara mencari validitas dan reliabilitas tes Uraian Materi : Pengertian : Suatu alat ukur dikatakan valid ketika benar-benar cocok untuk mengukur apa yang seharusnya harus diukur. Taraf validitas suatu tes dapat dilihat dari dua pertimbangan, yaitu rasional dan empiris. Validitas rasional didasarkan pada konten, sedangkan validitas empiris terdiri atas congruent, congcurent dan predictive. Reliabilitas menurut Anderson (1975) adalah a reliable measure in one that provides consistent and stable indication of the characteristic being investigated. Cara untuk melihat alat ukur dikatakan reliabel, yaitu : pengulangan pengukuran yang sama, pengujian dua alat yang setara, membagi alat pengukur kedalam dua atau lebih yang seimbang. Reliabilitas tes harusdapat : (1) reliability refers to the result obtained with an evalutaion instrument and not to the instrument itself, (2) a closely related point is that an estimate of reliability always refers to a particular type of consistency, (3) reliability is a necessary but not a sfficient condition for validity, (4) unlike validity, reliabilty is stricly a statistical sonsept. Jenis validitas : Secara umum validitas dibedakan atas dua, yaitu validitas konsep atau isi dan validitas empiris. Validitas isi didsarkan kepada proses yang sesuai dengan konsep tertentu yang menjadi isi ujian. Validitas isi, ditelaah sampai sejauh mana isi ujian mencerminkan hal-hal yang telah diajarkan. Validitas empiris, didasarkan dengan cara menghubungkan atau membandingkan alat pengukur yang sedang dipelajari dengan kenyataankenyataan hasil pengukuran yang telah ada dan setara. Validitas pengukuran serentak, ditelaah dengan jalan mengkorelasikan hasil ujian yang sedang dipelajari dengan hasil suatu ukuran lain yang pengukurannya dilaksanaan bersamaan. Validitas pengukuran setara, ditelaah dengan jalan mengkorelasikan hasil suatu tes, misalnya intelegensi yang baru dengan hasil intelegansi yang telah ada. Validitas ramalan, ditelaah dengan jalan hasil ujian yang bersangkutan dikorelasikan dengan kriteria-kriteria hasil karya atau kecenderungan keberhasilan di masa yang akan datang. Sekaitan dengan validitas, Gronlund (1970), mengatakan : (1) validity pertains to the result of the test, or evaluation instrumens, and not to the instrument itself, (2) validity is a matter of degree, (3) validity is always spesific to some particular use. Faktor yang mempengaruhi validitas : (1) unclear directions, (2) reading

vocabulary and sentence structure too difficult, (3) inappropriate level of difficulty of the test items, (4) poorly sonstructed test items. Kegiatan Perkuliahan : (1) Mendiskusikan pentingnya validitas dan reliabilitas tes, (2) Menginventarisasi jenis-jenis valisitas dan reliabilitas, (3) Menunjukkan contoh perhitungan validitas dan reliabilitas tes dalam pembelajaran geografi Tugas dan Evaluasi : Mahasiswa diberi tugas untuk melakukan ujicoba alat evaluasi yang telah dibuat ke lapangan (SMP dan SMA), kemudian hasil ujicoba dicari tingkat validitas dan reliabilitasnya Sumber : Awan Mutakin (1998) Suharsimi (1987) Asmawi Zainul (2007) Gronlund (1970) Pertemuan ke-14 Topik : Sistem penilaian, meliputi: (1) Penilaian Acuan Normatif (PAN) dan Patokan (PAP), (2) fungsi PAN dan PAP, serta (3) Penggunaan PAN dan PAP Indikator Setelah pertemuan/ perkuliahan/tatap muka, para mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi : (1) Pemahaman pentingnya pendekatan dalam penilaian, (2) Mengidentifilasi jenis-jenis pendekatan penilaian, (3) Mempraktekkan contoh penggunaan pendekatan penilaian dalam pembelajaran geografi. Uraian Materi Jenis pendekatan : Pendekatan dalam penilian secara umum terdiri atas dua macam, yaitu : penilaian acuan norma (norm referenced evaluation) atau disingkat PAN/NRE. PAN ; hasil pengukuran seorang siswa dibandingkan dengan hasil pengukuran yang diperoleh siswa lain dalam kelompoknya. Sedangkan pendekatan yang kedua adalah penilaian acuan patokan (criterion referenced evaluation), sering ditulis PAP/CRE. PAP ; hasil pengukuran seorang siswa dibandingkan dengan batokan batas lulus (passing grade) yang telah ditetapkan sebelumnya. Contoh PAP adalah Ujian Nasional (UN) untuk SMP dan SMA. Contoh PAN, adalah seleksi masuk perguruan tinggi negeri (SPMB). Penentuan nilai akhir : Penentuan nilai akhir merupakan suatu hal yang sangat penting, sebab akan memberikan gambaran keberhasilan belajar dalam periode dan ruang tertentu. Secara umum nilai akhir akan memiliki dimensi : (1) fungsi instruksional (umpan balik bagi penentuan perlakuan pembelajaran berikutnya), informatif (komunikasi dengan orangtua/wali), bimbingan

(pengarahan minat, bakat dan kreatifitas) dan administratif (rekaman kemajuan perkembangan akademik). Kegiatan Perkuliahan : (1) Mendiskusikan pentingnya pendekatan dalam penilaian, (2) Menginventarisasi jenis-jenis pendekatan dalam penilaian, (3) Menunjukkan contoh penggunaan pendekatan penilaian dalam pembelajaran geografi Tugas dan Evaluasi : Mahasiswa diberi tugas untuk menentukan nilai akhir dengan menggunakan pendekatan penilaian dari data hasil ujicoba ke lapangan (SMP dan SMA) Pertemuan ke-15 Topik : Praktik validitas dan reliabilitas alat penilaian dengan menggunakan program komputer Excel, SPSS, dan Iteman Indikator Setelah pertemuan/ perkuliahan/tatap muka, para mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi : (1) Pemahaman pentingnya penggunaan alat bantu komputer dalam menentukan validitas dan reliabilitas item, (2) Menggunakan komputer dalam menentukan validitas dan reliabilitas item dalam pembelajaran geografi Kegiatan Perkuliahan : Mahasiswa dibimbing di laboratorium komputer untuk menghitung tingkat validitas dan reliabilitas melalui komputer dari data hasil ujicoba item di lapangan (SMP dan SMA). Pertemuan ke-16 Ujian Akhir Semester (UAS) Sumber Rujukan : Awan Mutakin dkk. (1988). Penilaian Dalam Pendidikan, Bandung: IKIP Bandung. Gable K, Robert. (1966). Instrument Development in Affective Domain, Boston: Kluwer-Nijhoff Pub. Gronlund, Norman E. (1970). Measurement and Evaluation in Teaching, N.Y.: MacMillan Pub. Co. Popham, James. (1981). Modern Educational Measurement. London: Prentice-Hall Inc. Subino. (1987). Konstruksi dan Analisis Tes: Suatu Pengantar Kepada Teori Tes dan Pengukuran, Jakarta Depdikbud. Suharsimi. (1987). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Yogyakarta: Bumi Aksara.