Anda di halaman 1dari 12

PENANGANAN FRAKTUR MAKSILA Penanganan Gawat Darurat 1.

Airway, menjaga kelancaran jalan nafas: Bersihkan bekuan darah, fragmen tulang dan gigi, benda asing Lakukan chin lift, headtilt , jaw trust Pasien dengan GCS < 8, dibutuhkan airway definitif (intubasi) Dalam keadaan kecurigaan fraktur servikal, harus dipakai alat imobilisasi (collar neck) 2. Breathing dan Ventilasi. Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru, dinding dada dan diafragma:

Periksa bentuk dan gerak daerah thoraks kiri dan kanan Auskultasi untuk memastikan masuknya udara ke dalam paru-paru, bunyi
nafas yang abnormal

Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara atau darah dalam rongga
pleura 3. Circulation dan kontrol perdarahan:

Temukan dan hentikan sumber perdarahan


Pemeriksaan hemodinamik: tekanan darah, nadi, Hb

Jika terdapat tanda tanda Hipovolemik syok segera lakukan resusitasi cairan
dan persiapan transfusi 4. Disability ( Neurologic Evaluation), dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis secara cepat dengan GCS (Glasgow Coma Scale)

Penurunan kesadaran dapat disebabkan penurunan oksigenasi atau/ dan


penurunan perfusi ke otak, atau disebabkan trauma langsung pada otak.

Penurunan kesadaran menuntut dilakukannya reevaluasi terhadap keadaan


oksigenasi, ventilasi dan perfusi. Bila diperlukan konsul ke ahli bedah syaraf. Penanganan Definitif Penanganan ini dilakukan setelah keadaan umum pasien lebih baik, terkontrol dan telah melewati masa kritis melalui perawatan gawat darurat. Tujuan dari perawatan fraktur maksilofasial adalah : merehabilitasi jaringan yang terlibat mengurangi rasa sakit penyembuhan tulang perbaikan oklusi gigi

Penanganan Fraktur Le Fort I Fraktur Le Fort I dapat mempengaruhi oklusi. Manipulasi tangan dapat digunakan untuk mereduksi fraktur yang imobile. Penanganan menggunakan arch

bar, fiksasi maksilomandibular, dan suspensi kraniomandibular yang didapatkan dari pengawatan sirkumzigomatik. Apabila segmen fraktur mengalami impaksi, maka dilakukan pengungkitan dengan menggunakan tang pengungkit seperti Rowes disimpaction forceps atau secara tidak langsung dengan menggunakan tekanan pada splint/arch bar. Terkadang, maksila yang secara kuat terimpaksi tidak dapat direduksi hanya dengan disimpaction forcep, seperti pada kasus garis fraktur yang harus diekspos lewat insisi pada sulkus bukalis dan digerakkan menggunakan osteotome sebelum penggunaan disimpaction forcep. Selain Rowe disimpaction forcep, juga dapat digunakan Hayton-William forcep. Rowes disimpaction forcep diaplikasikan pada bagian dasar nasal dan palatum keras, sedangkan Hayton-William forcep diletakkan dibagian belakang tuberositas maksila secara intraoral.

Setelah fiksasi selesai, komponen fiksasi intermaksila dilepas, dan dilakukan pengecekan oklusi. Penanganan Fraktur Le Fort II Penatalaksanaan fraktur le fort II atau piramida serupa dengan le fort I. Perbedaan yang mendasar adalah perlu dilakukan juga perawatan fraktur nasal dan

dasar orbita. Fraktur nasal biasanya direduksi dengan teknik tertutup (close reduction) menggunakan molding digital dan splinting Penanganan Fraktur Le Fort III Fraktur Le Fort III umumnya bersamaan dengan fraktur naso-ethmoidal, zygomatic, orbital, dan Le Fort tipe I. Ketika fraktur Le Fort III terjadi dan menyebabkan terjadinya displacement, reduksi dapat dilakukan dengan mengekspos sutura frontozygomatic General Methods of Immobilization of Mid-facial Fractures

1. Internal Fixation a. Direct osteosynthesis Fraktur kominusi yang tidak parah pada bagian sepertiga tengah Dapat direkonstruksi dengan bantuan fiksasi internal seperti kawat transosseus dan miniatur plat dan skrup Miniplates and Screw

Fiksasi monocortical semirigid pada fraktur maksila dengan miniplate atau skrup mengeliminasi pergerakkan tulang dan memungkinkan terjadinya primary healing.

Transosseus wiring Transosseus wiring atau intraosseus wiring murah, mudah digunakan, dan ditoleransi dengan baik oleh pasien.

Kerugian dari transosseus wiring adalah tidak menyediakan stabilitas tiga dimensi dan adanya pergerakan kecil pada tempat fraktur sehingga menyebabkan penyembuhan yang tertunda. b. Suspension wires : Rahang bawah dihubungkan ke skeleton facial diatas garis fraktur dengan kawat stainless steel diameter 0,5mm, sehingga

mengapit bagian fraktur dan bagian yang tidak fraktur pada facial skeleton. Keuntungannya, metode ini hanya memerlukan minimum armanmetarium.

Frontal Suspension Lateral : prosesus zygomaticum pada tulang frontal diekspos dengan insisi yang dibuat pada bagian lateral alis dibawah sutura frontozyomatic. Central : teknik ini dikenalkan oleh Kufner

Circumzygomatic incision jarum penusuk dimasukkan ekstraoral pada perbatasan tulang zygomatic dan temporal di bagian medial dari arkus zygomatic dengan arah ke bawah dan ke atas sehingga memasuki sulkus bukal secara intraoral pada bagian molar kedua. Kawat stainless steel dengan diameter 0,5mm dikaitkan pada ujung jarum penusuk, dan instrumen ditarik dan

terletak di atas arkus zygomatic tanpa menembus keluar kulit. Dan instrumen dilewatkan pada bagian lateral arkus zygomatic dengan arah yang sama seperti sebelumnya.

Zygomatic suspension Insisi sebesar 3cm dibuat pada regio premolar dan molar pada kedalaman sulkus vestibular. Dengan menggunakan bor, sebuang lubang dibor pada arkus zygomatic dan kawat stainless steel dengan diameter 0,5mm dilewatkan pada lubang tersebut Infraorbital Insisi 3cm pada bagian vestibular dibuat pada bagian kaninus dan dipotong dari subperiosteal untuk mengekspos bagian margin inferior orbital pada bagian lateral dari foramen infraorbital. Sebuah lubang dibuat dengan menggunakan bor. Stainless steel dengan diameter 0,5mm dilewatkan pada lubang ini,

ditarik ke mulut dan secara tepat menempel pada bagian loop arch bar.

Pyriform Aperture Insisi transversal sebesar 2cm dibuat pada bagian sulkus labial atas diatas gigi insisivus laeral dan pyriform aperture pada bagian hidung diekspos dengan mengangkat

periosteum. Sebuah lubang dibor sekitar 1cm dari free margin pada pyriform aperture dari sisi medial ke lateral. Kawat stainless steel dengan diameter 0,5mm dilewatkan pada lubang ini; kedua akhir ditarik dan ditari ke loop yang sesuai pada IMF.

Prealveolar Suspension Gunning splint digunakan dan posisi lubang pada aspek palatal dari splin ditandai pada bagian mukosa palatal. Jarum penusuk peralveolar dilewatkan melewati alveolus pada sulkus bukalis, melubangi patalum pada posisi yang ditandai. Dengan menggunakan jarum penusuk, stainless steel lunak dengan diameter 0,5mm dilewatkan pada lubang di permukaan palatal dan ditarik melewati sulkus bukalis. Kedua akhiran dikaitkan pada Gunning splint. 2. External Fixation a. Craniomandibular fixation Mandibula difiksasi ke kranial vault dan bagian fraktur pada sepertiga tengah diapit diantaranya. Box Frame Box frame merupakan bentuk yang rigid dari fiksasi

craniomandibular.

Dua pin diselipkan di supraorbital dan dua pin diselipkan pada bagian mandibula dibawah regio kaninus.

b. Craniomaxillary fixation Setelah membentuk oklusi, maksila ditempelkan ke cranial vault. Metode ini sangat berguna karena fraktur dapat direduksi sehingga dapat tetap terimpaksi, sehingga terjadi displacement yang minimal. Pin Fixation Imobilisasi pada fraktur maksila atau fraktur bagian tengah wajah dengan cara fiksasi pin dikembangkan sebagai alternatif dari plaster of Paris head cap dan disebabkan oleh munculnya kecocokkan skrup pin secara biologis. Fiksasi pin umum digunakan untuk imobilisasi bagian sepertiga tengah fraktur. Haloframe Haloframe digunakan untuk fraktur supraorbital dimana dibutuhkan fiksasi dengan poin yang lebih tinggi terhadap kranium

Plaster of Paris Head Cap Penggunaan alat ini telah digantikan oleh beberapa teknik. Alat ini berguna apabila ditemukan adanya perluasan fraktur pada bagian cranial vault yang tidak dapat ditangani oleh haloframe atau pin. Konstruksi dari head cap ini harus akurat dan nyaman dipakai.

Komplikasi Gangguan jalan nafas Aspirasi Jaringan parut Kelainan bentuk wajah yang permanen karena perawatan tidak sesuai Kerusakan syaraf menghasilkan hilangnya sensai, pergerakan wajah, bau, rasa, atau penglihatan Sinusitis kronis

Infeksi Kekurangan gizi Kehilangan berat badan Fraktur non union atau malunion Maloklusi Perdarahan